3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Prasasti, Tahta, dan Ingatan Kolektif

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
January 30, 2026
in Esai
Jangan Retak Perahu Negeriku, Jatuh ke Penguasa Tidak Amanah

Ahmad Sihabudin

INGATAN tidak pernah netral di setiap kerajaan tua. Ia memilih apa yang dikenang, apa yang dilupakan, dan apa yang sengaja diperdebatkan. Alkisah,  di tanah yang konon kemudian disebut Nagara Kaula Kolot, ingatan kolektif itu menjelma menjadi kisah-kisah yang beredar dari pendapa ke pasar, dari serambi ke balai desa.

Pada suatu masa, selembar prasasti ilmu, dokumen yang semestinya sunyi, berubah menjadi sumber gaduh, mengguncang bukan hanya nama seorang raja, melainkan juga kewarasan takhta dan persatuan negeri.

Beberapa musim terakhir, pasar kabar kerajaan dipenuhi bisik-bisik. Bukan tentang paceklik atau perbatasan, melainkan tentang prasasti ilmu, dokumen yang konon menandai laku belajar seorang raja terdahulu.

Ada yang menuduh prasasti itu palsu, ada pula yang menuding bahwa kegaduhan ini digerakkan oleh tangan-tangan besar: dua raja sepuh yang  telah lama turun tahta, disebut-sebut sebagai Raja Darmaraga dan Ratu Cikawarni Abang. Keduanya pernah memerintah di masa berbeda, sama-sama mewariskan jejak panjang dalam sejarah negeri Nagara Kaula Kolot.

Anehnya, tudingan tak berhenti di situ. Ada cerita bahwa mereka bersekongkol dengan Saudagar Gantarantang, pemilik pelabuhan dan lembaran kabar paling berpengaruh di kerajaan, untuk membuka jalan bagi putra-putri mahkota mereka, agar kelak menduduki singgasana raja, wakil raja, patih, atau wakil patih.

Kabar-kabar itu mengalir deras seperti banjir bandang, menghantam logika, menyisakan lumpur prasangka. Namun kabar, sebagaimana air bah, tak pernah mengalir satu arah.

Raja yang Difitnah dan Putra Mahkota yang Diangkat

Syahdan, di masa lampau Nagara Kaula Kolot, hiduplah sosok yang dipanggil Raja Purna Angkat, seorang raja yang kini menjadi pusat tuduhan. Pada masa pemerintahannya, ia mengangkat seorang bangsawan muda, Pangeran Baroskatana, putra salah satu raja sepuh, untuk mengemban jabatan penting di kementerian kerajaan. Pengangkatan itu dicatat rapi dalam kronik istana, disaksikan para sesepuh adat, dan dirayakan sebagai tanda kesinambungan antargenerasi.

Waktu berputar. Takhta berpindah. Raja baru, Maska Panimbangan, naik bersama wakilnya Adipati Barepakala, yang tak lain adalah putra dari raja terdahulu. Anehnya, atau barangkali wajar dalam politik kebudayaan Nagara Kaula Kolot, PangeranBaroskatana tetap dipercaya mengemban jabatan yang sama. Jika prasasti ilmu Raja Purna Angkat benar-benar cacat, mengapa kebijakan dan pengangkatannya dulu diterima tanpa cela? Mengapa pula kesinambungan jabatan itu tetap berlangsung di bawah raja yang berbeda darah dan warna istana?

Pertanyaan-pertanyaan itu menggantung di udara pendapa, tak selalu dijawab, tetapi terasa oleh rakyat yang terbiasa membaca tanda-tanda.

Saudagar, Lembar Kabar, dan Bayang-Bayang Kuasa

Di setiap zaman, kerajaan membutuhkan penyambung lidah. Dahulu peran itu dilakukan oleh para pujangga, juga oleh lembaran kabar. Saudagar Gantarantang menguasai percetakan dan jaringan kabar dari pesisir hingga pedalaman. Ia tak pernah duduk di singgasana, tetapi kata-katanya menempati ruang-ruang warung, serambi masjid, dan balai desa.

Apakah ia bersekongkol? Saudagar selalu berada di wilayah abu-abu: antara kepentingan niaga dan hasrat memengaruhi arah angin. Namun, menuduh semua kegaduhan sebagai hasil satu komplotan raksasa sering kali mengabaikan kenyataan lain: bahwa kabar tumbuh subur karena hasrat rakyat untuk percaya, karena luka lama yang belum sembuh, dan karena politik ingatan yang mudah dipelintir.

Lembar kabar tidak menciptakan api; ia mempercepat rambatan nyala. Api itu sendiri sering lahir dari kecemasan kolektif.

Prasasti Ilmu dan Martabat Negeri

Di  Nagara Kaula Kolot, ilmu bukan sekadar gelar, melainkan laku. Prasasti hanyalah tanda; martabat lahir dari tindak. Para pujangga istana sejak lama mengingatkan nasihat dalam Serat Wedhatama, yang menyebutkan: Ngelmu iku kalakone kanthi laku, Lekase lawan kas, Tegese kas nyantosani.

Ilmu, menurut petuah itu, hanya bermakna bila dijalani dengan kesungguhan batin dan keutamaan perilaku, bukan sekadar dibuktikan oleh lembaran atau cap istana. Ketika prasasti dijadikan senjata, yang terluka bukan hanya seorang raja, melainkan kepercayaan rakyat pada tatanan bersama.

Kisah atau alegori ini hendak mengingatkan, bila  dua raja sepuh benar-benar ingin memuluskan jalan bagi darah mereka, adakah cara yang lebih senyap dan beradab daripada menciptakan kegaduhan yang merobek persatuan? Berbagai kisah masa lampau mengajarkan bahwa para pemangku adat yang matang lebih memilih menata laku daripada mengobarkan isu. Mereka paham, takhta yang berdiri di atas prasangka akan goyah oleh angin kecil.

Politik Ingatan dan Ujian Kebijaksanaan

Kerajaan yang besar diuji bukan oleh ketiadaan konflik, melainkan oleh cara mengelolanya. Tuduhan, bila tak disertai kebijaksanaan, berubah menjadi fitnah; pembelaan, bila tak disertai keterbukaan, berubah menjadi kultus. Untuk permasalahan yang terjadi di Nagara Kaula Kolot perlu kiranya menyimak nasihat Paku Buwana dalam Serat Wulangreh, mengingatkan para pemegang kuasa: Aja gumunan, aja kagetan, Aja dumeh.

Petuah singkat itu menegaskan etika kepemimpinan: tidak mudah terpukau oleh kabar, tidak reaktif oleh hasutan, dan tidak pongah oleh kedudukan. Di titik inilah peran para sesepuh adat, pujangga, dan cendekiawan diuji: mengembalikan perdebatan pada nalar, bukan amarah.

Rakyat Nagara Kaula Kolotsesungguhnya hafal petuah leluhur: ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana. Harga diri ditentukan oleh kata, kehormatan negeri oleh cara ia menjaga perbedaan. Ketika kata-kata menjadi kasar, negeri kehilangan busananya.

Menjaga Singgasana Bersama

Hikayat ini tidak bermaksud menghakimi tokoh-tokoh yang telah menjadi bayang-bayang sejarah, kisah ini hanya mengajak pembaca melihat kejanggalan dengan kepala dingin. Bahwa dalam kisruh prasasti ilmu, terdapat paradoks-paradoks yang patut direnungkan; bahwa kontinuitas jabatan dan kebijakan sering kali lebih jujur daripada tudingan sensasional.

Para leluhur kita telah lama berpesan, sebagaimana termaktub dalam piwulang raja: Ratu adil iku dudu sing tanpa cacat, Nanging sing gelem ngrumati bebener lan rukuning kawula.

Singgasana sejati bukanlah kursi emas di pendapa agung, melainkan kepercayaan rakyat. Dan kepercayaan itu hanya dapat dijaga dengan kejernihan nalar, kesantunan bahasa, serta kesediaan menempatkan sejarah sebagai guru, bukan alat.

Di Nagara Kaula Kolot, seperti di negeri mana pun, persatuan tidak diwariskan oleh darah semata, melainkan oleh kebijaksanaan merawat kebenaran. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: demokrasinegaraPolitikprasasti
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kebencian yang Diciptakan

Next Post

Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

Print-Mapping: Decolonial Axis --- a Solo exhibition by Agung Pramana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co