2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Prasasti, Tahta, dan Ingatan Kolektif

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
January 30, 2026
in Esai
Jangan Retak Perahu Negeriku, Jatuh ke Penguasa Tidak Amanah

Ahmad Sihabudin

INGATAN tidak pernah netral di setiap kerajaan tua. Ia memilih apa yang dikenang, apa yang dilupakan, dan apa yang sengaja diperdebatkan. Alkisah,  di tanah yang konon kemudian disebut Nagara Kaula Kolot, ingatan kolektif itu menjelma menjadi kisah-kisah yang beredar dari pendapa ke pasar, dari serambi ke balai desa.

Pada suatu masa, selembar prasasti ilmu, dokumen yang semestinya sunyi, berubah menjadi sumber gaduh, mengguncang bukan hanya nama seorang raja, melainkan juga kewarasan takhta dan persatuan negeri.

Beberapa musim terakhir, pasar kabar kerajaan dipenuhi bisik-bisik. Bukan tentang paceklik atau perbatasan, melainkan tentang prasasti ilmu, dokumen yang konon menandai laku belajar seorang raja terdahulu.

Ada yang menuduh prasasti itu palsu, ada pula yang menuding bahwa kegaduhan ini digerakkan oleh tangan-tangan besar: dua raja sepuh yang  telah lama turun tahta, disebut-sebut sebagai Raja Darmaraga dan Ratu Cikawarni Abang. Keduanya pernah memerintah di masa berbeda, sama-sama mewariskan jejak panjang dalam sejarah negeri Nagara Kaula Kolot.

Anehnya, tudingan tak berhenti di situ. Ada cerita bahwa mereka bersekongkol dengan Saudagar Gantarantang, pemilik pelabuhan dan lembaran kabar paling berpengaruh di kerajaan, untuk membuka jalan bagi putra-putri mahkota mereka, agar kelak menduduki singgasana raja, wakil raja, patih, atau wakil patih.

Kabar-kabar itu mengalir deras seperti banjir bandang, menghantam logika, menyisakan lumpur prasangka. Namun kabar, sebagaimana air bah, tak pernah mengalir satu arah.

Raja yang Difitnah dan Putra Mahkota yang Diangkat

Syahdan, di masa lampau Nagara Kaula Kolot, hiduplah sosok yang dipanggil Raja Purna Angkat, seorang raja yang kini menjadi pusat tuduhan. Pada masa pemerintahannya, ia mengangkat seorang bangsawan muda, Pangeran Baroskatana, putra salah satu raja sepuh, untuk mengemban jabatan penting di kementerian kerajaan. Pengangkatan itu dicatat rapi dalam kronik istana, disaksikan para sesepuh adat, dan dirayakan sebagai tanda kesinambungan antargenerasi.

Waktu berputar. Takhta berpindah. Raja baru, Maska Panimbangan, naik bersama wakilnya Adipati Barepakala, yang tak lain adalah putra dari raja terdahulu. Anehnya, atau barangkali wajar dalam politik kebudayaan Nagara Kaula Kolot, PangeranBaroskatana tetap dipercaya mengemban jabatan yang sama. Jika prasasti ilmu Raja Purna Angkat benar-benar cacat, mengapa kebijakan dan pengangkatannya dulu diterima tanpa cela? Mengapa pula kesinambungan jabatan itu tetap berlangsung di bawah raja yang berbeda darah dan warna istana?

Pertanyaan-pertanyaan itu menggantung di udara pendapa, tak selalu dijawab, tetapi terasa oleh rakyat yang terbiasa membaca tanda-tanda.

Saudagar, Lembar Kabar, dan Bayang-Bayang Kuasa

Di setiap zaman, kerajaan membutuhkan penyambung lidah. Dahulu peran itu dilakukan oleh para pujangga, juga oleh lembaran kabar. Saudagar Gantarantang menguasai percetakan dan jaringan kabar dari pesisir hingga pedalaman. Ia tak pernah duduk di singgasana, tetapi kata-katanya menempati ruang-ruang warung, serambi masjid, dan balai desa.

Apakah ia bersekongkol? Saudagar selalu berada di wilayah abu-abu: antara kepentingan niaga dan hasrat memengaruhi arah angin. Namun, menuduh semua kegaduhan sebagai hasil satu komplotan raksasa sering kali mengabaikan kenyataan lain: bahwa kabar tumbuh subur karena hasrat rakyat untuk percaya, karena luka lama yang belum sembuh, dan karena politik ingatan yang mudah dipelintir.

Lembar kabar tidak menciptakan api; ia mempercepat rambatan nyala. Api itu sendiri sering lahir dari kecemasan kolektif.

Prasasti Ilmu dan Martabat Negeri

Di  Nagara Kaula Kolot, ilmu bukan sekadar gelar, melainkan laku. Prasasti hanyalah tanda; martabat lahir dari tindak. Para pujangga istana sejak lama mengingatkan nasihat dalam Serat Wedhatama, yang menyebutkan: Ngelmu iku kalakone kanthi laku, Lekase lawan kas, Tegese kas nyantosani.

Ilmu, menurut petuah itu, hanya bermakna bila dijalani dengan kesungguhan batin dan keutamaan perilaku, bukan sekadar dibuktikan oleh lembaran atau cap istana. Ketika prasasti dijadikan senjata, yang terluka bukan hanya seorang raja, melainkan kepercayaan rakyat pada tatanan bersama.

Kisah atau alegori ini hendak mengingatkan, bila  dua raja sepuh benar-benar ingin memuluskan jalan bagi darah mereka, adakah cara yang lebih senyap dan beradab daripada menciptakan kegaduhan yang merobek persatuan? Berbagai kisah masa lampau mengajarkan bahwa para pemangku adat yang matang lebih memilih menata laku daripada mengobarkan isu. Mereka paham, takhta yang berdiri di atas prasangka akan goyah oleh angin kecil.

Politik Ingatan dan Ujian Kebijaksanaan

Kerajaan yang besar diuji bukan oleh ketiadaan konflik, melainkan oleh cara mengelolanya. Tuduhan, bila tak disertai kebijaksanaan, berubah menjadi fitnah; pembelaan, bila tak disertai keterbukaan, berubah menjadi kultus. Untuk permasalahan yang terjadi di Nagara Kaula Kolot perlu kiranya menyimak nasihat Paku Buwana dalam Serat Wulangreh, mengingatkan para pemegang kuasa: Aja gumunan, aja kagetan, Aja dumeh.

Petuah singkat itu menegaskan etika kepemimpinan: tidak mudah terpukau oleh kabar, tidak reaktif oleh hasutan, dan tidak pongah oleh kedudukan. Di titik inilah peran para sesepuh adat, pujangga, dan cendekiawan diuji: mengembalikan perdebatan pada nalar, bukan amarah.

Rakyat Nagara Kaula Kolotsesungguhnya hafal petuah leluhur: ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana. Harga diri ditentukan oleh kata, kehormatan negeri oleh cara ia menjaga perbedaan. Ketika kata-kata menjadi kasar, negeri kehilangan busananya.

Menjaga Singgasana Bersama

Hikayat ini tidak bermaksud menghakimi tokoh-tokoh yang telah menjadi bayang-bayang sejarah, kisah ini hanya mengajak pembaca melihat kejanggalan dengan kepala dingin. Bahwa dalam kisruh prasasti ilmu, terdapat paradoks-paradoks yang patut direnungkan; bahwa kontinuitas jabatan dan kebijakan sering kali lebih jujur daripada tudingan sensasional.

Para leluhur kita telah lama berpesan, sebagaimana termaktub dalam piwulang raja: Ratu adil iku dudu sing tanpa cacat, Nanging sing gelem ngrumati bebener lan rukuning kawula.

Singgasana sejati bukanlah kursi emas di pendapa agung, melainkan kepercayaan rakyat. Dan kepercayaan itu hanya dapat dijaga dengan kejernihan nalar, kesantunan bahasa, serta kesediaan menempatkan sejarah sebagai guru, bukan alat.

Di Nagara Kaula Kolot, seperti di negeri mana pun, persatuan tidak diwariskan oleh darah semata, melainkan oleh kebijaksanaan merawat kebenaran. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: demokrasinegaraPolitikprasasti
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kebencian yang Diciptakan

Next Post

Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

Print-Mapping: Decolonial Axis --- a Solo exhibition by Agung Pramana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co