2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Prasasti, Tahta, dan Ingatan Kolektif

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
January 30, 2026
in Esai
Jangan Retak Perahu Negeriku, Jatuh ke Penguasa Tidak Amanah

Ahmad Sihabudin

INGATAN tidak pernah netral di setiap kerajaan tua. Ia memilih apa yang dikenang, apa yang dilupakan, dan apa yang sengaja diperdebatkan. Alkisah,  di tanah yang konon kemudian disebut Nagara Kaula Kolot, ingatan kolektif itu menjelma menjadi kisah-kisah yang beredar dari pendapa ke pasar, dari serambi ke balai desa.

Pada suatu masa, selembar prasasti ilmu, dokumen yang semestinya sunyi, berubah menjadi sumber gaduh, mengguncang bukan hanya nama seorang raja, melainkan juga kewarasan takhta dan persatuan negeri.

Beberapa musim terakhir, pasar kabar kerajaan dipenuhi bisik-bisik. Bukan tentang paceklik atau perbatasan, melainkan tentang prasasti ilmu, dokumen yang konon menandai laku belajar seorang raja terdahulu.

Ada yang menuduh prasasti itu palsu, ada pula yang menuding bahwa kegaduhan ini digerakkan oleh tangan-tangan besar: dua raja sepuh yang  telah lama turun tahta, disebut-sebut sebagai Raja Darmaraga dan Ratu Cikawarni Abang. Keduanya pernah memerintah di masa berbeda, sama-sama mewariskan jejak panjang dalam sejarah negeri Nagara Kaula Kolot.

Anehnya, tudingan tak berhenti di situ. Ada cerita bahwa mereka bersekongkol dengan Saudagar Gantarantang, pemilik pelabuhan dan lembaran kabar paling berpengaruh di kerajaan, untuk membuka jalan bagi putra-putri mahkota mereka, agar kelak menduduki singgasana raja, wakil raja, patih, atau wakil patih.

Kabar-kabar itu mengalir deras seperti banjir bandang, menghantam logika, menyisakan lumpur prasangka. Namun kabar, sebagaimana air bah, tak pernah mengalir satu arah.

Raja yang Difitnah dan Putra Mahkota yang Diangkat

Syahdan, di masa lampau Nagara Kaula Kolot, hiduplah sosok yang dipanggil Raja Purna Angkat, seorang raja yang kini menjadi pusat tuduhan. Pada masa pemerintahannya, ia mengangkat seorang bangsawan muda, Pangeran Baroskatana, putra salah satu raja sepuh, untuk mengemban jabatan penting di kementerian kerajaan. Pengangkatan itu dicatat rapi dalam kronik istana, disaksikan para sesepuh adat, dan dirayakan sebagai tanda kesinambungan antargenerasi.

Waktu berputar. Takhta berpindah. Raja baru, Maska Panimbangan, naik bersama wakilnya Adipati Barepakala, yang tak lain adalah putra dari raja terdahulu. Anehnya, atau barangkali wajar dalam politik kebudayaan Nagara Kaula Kolot, PangeranBaroskatana tetap dipercaya mengemban jabatan yang sama. Jika prasasti ilmu Raja Purna Angkat benar-benar cacat, mengapa kebijakan dan pengangkatannya dulu diterima tanpa cela? Mengapa pula kesinambungan jabatan itu tetap berlangsung di bawah raja yang berbeda darah dan warna istana?

Pertanyaan-pertanyaan itu menggantung di udara pendapa, tak selalu dijawab, tetapi terasa oleh rakyat yang terbiasa membaca tanda-tanda.

Saudagar, Lembar Kabar, dan Bayang-Bayang Kuasa

Di setiap zaman, kerajaan membutuhkan penyambung lidah. Dahulu peran itu dilakukan oleh para pujangga, juga oleh lembaran kabar. Saudagar Gantarantang menguasai percetakan dan jaringan kabar dari pesisir hingga pedalaman. Ia tak pernah duduk di singgasana, tetapi kata-katanya menempati ruang-ruang warung, serambi masjid, dan balai desa.

Apakah ia bersekongkol? Saudagar selalu berada di wilayah abu-abu: antara kepentingan niaga dan hasrat memengaruhi arah angin. Namun, menuduh semua kegaduhan sebagai hasil satu komplotan raksasa sering kali mengabaikan kenyataan lain: bahwa kabar tumbuh subur karena hasrat rakyat untuk percaya, karena luka lama yang belum sembuh, dan karena politik ingatan yang mudah dipelintir.

Lembar kabar tidak menciptakan api; ia mempercepat rambatan nyala. Api itu sendiri sering lahir dari kecemasan kolektif.

Prasasti Ilmu dan Martabat Negeri

Di  Nagara Kaula Kolot, ilmu bukan sekadar gelar, melainkan laku. Prasasti hanyalah tanda; martabat lahir dari tindak. Para pujangga istana sejak lama mengingatkan nasihat dalam Serat Wedhatama, yang menyebutkan: Ngelmu iku kalakone kanthi laku, Lekase lawan kas, Tegese kas nyantosani.

Ilmu, menurut petuah itu, hanya bermakna bila dijalani dengan kesungguhan batin dan keutamaan perilaku, bukan sekadar dibuktikan oleh lembaran atau cap istana. Ketika prasasti dijadikan senjata, yang terluka bukan hanya seorang raja, melainkan kepercayaan rakyat pada tatanan bersama.

Kisah atau alegori ini hendak mengingatkan, bila  dua raja sepuh benar-benar ingin memuluskan jalan bagi darah mereka, adakah cara yang lebih senyap dan beradab daripada menciptakan kegaduhan yang merobek persatuan? Berbagai kisah masa lampau mengajarkan bahwa para pemangku adat yang matang lebih memilih menata laku daripada mengobarkan isu. Mereka paham, takhta yang berdiri di atas prasangka akan goyah oleh angin kecil.

Politik Ingatan dan Ujian Kebijaksanaan

Kerajaan yang besar diuji bukan oleh ketiadaan konflik, melainkan oleh cara mengelolanya. Tuduhan, bila tak disertai kebijaksanaan, berubah menjadi fitnah; pembelaan, bila tak disertai keterbukaan, berubah menjadi kultus. Untuk permasalahan yang terjadi di Nagara Kaula Kolot perlu kiranya menyimak nasihat Paku Buwana dalam Serat Wulangreh, mengingatkan para pemegang kuasa: Aja gumunan, aja kagetan, Aja dumeh.

Petuah singkat itu menegaskan etika kepemimpinan: tidak mudah terpukau oleh kabar, tidak reaktif oleh hasutan, dan tidak pongah oleh kedudukan. Di titik inilah peran para sesepuh adat, pujangga, dan cendekiawan diuji: mengembalikan perdebatan pada nalar, bukan amarah.

Rakyat Nagara Kaula Kolotsesungguhnya hafal petuah leluhur: ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana. Harga diri ditentukan oleh kata, kehormatan negeri oleh cara ia menjaga perbedaan. Ketika kata-kata menjadi kasar, negeri kehilangan busananya.

Menjaga Singgasana Bersama

Hikayat ini tidak bermaksud menghakimi tokoh-tokoh yang telah menjadi bayang-bayang sejarah, kisah ini hanya mengajak pembaca melihat kejanggalan dengan kepala dingin. Bahwa dalam kisruh prasasti ilmu, terdapat paradoks-paradoks yang patut direnungkan; bahwa kontinuitas jabatan dan kebijakan sering kali lebih jujur daripada tudingan sensasional.

Para leluhur kita telah lama berpesan, sebagaimana termaktub dalam piwulang raja: Ratu adil iku dudu sing tanpa cacat, Nanging sing gelem ngrumati bebener lan rukuning kawula.

Singgasana sejati bukanlah kursi emas di pendapa agung, melainkan kepercayaan rakyat. Dan kepercayaan itu hanya dapat dijaga dengan kejernihan nalar, kesantunan bahasa, serta kesediaan menempatkan sejarah sebagai guru, bukan alat.

Di Nagara Kaula Kolot, seperti di negeri mana pun, persatuan tidak diwariskan oleh darah semata, melainkan oleh kebijaksanaan merawat kebenaran. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: demokrasinegaraPolitikprasasti
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kebencian yang Diciptakan

Next Post

Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

Print-Mapping: Decolonial Axis --- a Solo exhibition by Agung Pramana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co