14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kebencian yang Diciptakan

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
January 29, 2026
in Esai
Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

Khairul A. El Maliky

Abstrak

Tulisan ini menganalisis asal-usul dan perkembangan sentimen negatif terhadap Islam dan Nabi Muhammad dalam konteks global dengan pendekatan historis-kritis dan sosiologis. Bertolak dari anggapan populer bahwa kebencian tersebut bersumber dari konflik teologis yang inheren antara Islam dan Kristen, esai ini menunjukkan bahwa sentimen negatif tersebut merupakan konstruksi sejarah yang terbentuk secara bertahap. Proses ini dipengaruhi oleh dinamika kekuasaan politik, kolonialisme, polemik keagamaan, serta produksi wacana sosial dan media modern. Selain menelusuri relasi Islam–Kristen sejak masa Nabi Muhammad hingga era modern Barat, tulisan ini juga mengkaji akar kebencian terhadap Islam dan Nabi Muhammad di Indonesia dan sejumlah negara lain. Kesimpulan utama tulisan ini adalah bahwa kebencian terhadap Islam dan Nabi Muhammad tidak bersifat teologis-esensial, melainkan kontekstual, historis, dan dapat dijelaskan melalui faktor sosial, politik, dan kultural.

Pendahuluan

Dalam diskursus keagamaan dan politik kontemporer, Islam dan Nabi Muhammad kerap menjadi objek kecurigaan, penolakan, bahkan kebencian terbuka. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Barat, tetapi juga muncul di berbagai negara dengan latar sejarah, politik, dan sosial yang berbeda, termasuk Indonesia. Kebencian tersebut sering dipersepsikan sebagai sesuatu yang alami dan tak terhindarkan, seolah-olah Islam sejak awal merupakan agama yang berada dalam konflik abadi dengan dunia non-Muslim.

Namun, pendekatan sejarah menunjukkan bahwa asumsi tersebut tidak berdasar secara empiris. Hubungan antara Islam dan komunitas agama lain—khususnya Kristen—pada fase awal tidak ditandai oleh permusuhan sistematis. Persepsi negatif terhadap Islam dan Nabi Muhammad justru berkembang secara gradual, dipengaruhi oleh perubahan konteks kekuasaan, konflik geopolitik, serta produksi narasi ideologis yang berulang dari satu zaman ke zaman lain.

Tulisan ini bertujuan untuk menelusuri akar-akar kebencian tersebut secara kronologis dan lintas wilayah, dengan fokus utama pada faktor-faktor non-teologis yang membentuk persepsi negatif terhadap Islam dan Nabi Muhammad.

Relasi Islam dan Kristen pada Masa Nabi Muhammad

Pada abad ke-7 Masehi, komunitas Kristen di Timur Tengah dan Jazirah Arabia bersifat plural dan terfragmentasi. Kekristenan tidak berada di bawah satu otoritas tunggal, melainkan terdiri dari berbagai kelompok teologis dan politik yang kerap berselisih satu sama lain. Dalam konteks ini, Nabi Muhammad menyampaikan risalah Islam di lingkungan yang telah mengenal tradisi monoteisme.

Sumber-sumber sejarah Islam menunjukkan bahwa relasi Nabi Muhammad dengan komunitas Kristen bersifat dialogis. Peristiwa kedatangan delegasi Kristen Najran ke Madinah merupakan contoh penting. Dialog teologis berlangsung tanpa kekerasan, dan delegasi tersebut dilaporkan diberi kebebasan menjalankan ibadah mereka. Fakta ini menunjukkan bahwa perbedaan teologis tidak secara otomatis melahirkan permusuhan.

Selain itu, sejumlah perjanjian perlindungan terhadap komunitas Kristen—meskipun masih diperdebatkan secara filologis—menunjukkan adanya kerangka normatif Islam awal yang mengakui hak-hak komunitas non-Muslim. Al-Qur’an sendiri menampilkan sikap yang beragam terhadap umat Kristen: kritik teologis disertai pengakuan atas kesalehan sebagian dari mereka.

Dengan demikian, tidak terdapat bukti historis tentang kebencian kolektif umat Kristen terhadap Nabi Muhammad pada masa hidupnya.

Transformasi Islam dan Perubahan Persepsi Kristen

Perubahan signifikan terjadi setelah wafatnya Nabi Muhammad, ketika Islam berkembang menjadi kekuatan politik dan militer. Ekspansi wilayah Muslim ke daerah-daerah Bizantium mengubah relasi Islam–Kristen dari hubungan antar-komunitas iman menjadi persaingan geopolitik.

Dalam konteks ini, Islam mulai dipersepsikan sebagai ancaman terhadap stabilitas politik dan religius Kekaisaran Bizantium. Nabi Muhammad, sebagai figur sentral Islam, dikonstruksi dalam wacana Kristen sebagai simbol kekuatan pesaing. Kritik terhadap Islam pada fase ini tidak dapat dilepaskan dari kepentingan mempertahankan kekuasaan dan legitimasi religius.

Bahasa teologi digunakan untuk menjelaskan konflik politik, sehingga persepsi keagamaan dan kepentingan kekuasaan saling berkelindan.

Polemik Abad Pertengahan dan Produksi Imajinasi Negatif

Abad pertengahan Eropa menjadi fase krusial dalam pembentukan citra negatif Nabi Muhammad. Keterbatasan akses terhadap sumber-sumber Islam membuat pemahaman tentang Islam dibangun melalui karya polemik, khotbah, dan literatur sekunder yang bias. Nabi Muhammad sering digambarkan secara karikatural, dilepaskan dari konteks sejarahnya, dan diposisikan sebagai antitesis iman Kristen.

Terjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa Latin pada abad ke-12, seperti oleh Robert of Ketton, lebih bersifat apologetik daripada akademik. Islam dipelajari untuk dibantah, bukan untuk dipahami. Proses ini memperkuat stereotip yang telah terbentuk dan diwariskan lintas generasi.

Perang Salib dan Legitimasi Kekerasan

Perang Salib mempercepat institusionalisasi kebencian terhadap Islam dan Nabi Muhammad di Eropa Barat. Narasi religius digunakan untuk memobilisasi massa dan memberikan legitimasi moral terhadap kekerasan. Nabi Muhammad dijadikan simbol musuh iman, bukan figur sejarah yang kompleks.

Namun, sikap ini tidak bersifat universal. Umat Kristen Timur yang hidup di bawah pemerintahan Muslim sering kali tidak memiliki sentimen serupa dan bahkan menjadi korban konflik tersebut. Fakta ini menunjukkan bahwa kebencian tersebut bersifat kontekstual, bukan teologis universal.

Akar Kebencian terhadap Islam dan Nabi Muhammad di Era Modern Global

Di era modern, kebencian terhadap Islam dan Nabi Muhammad berkembang melalui jalur baru, seperti kolonialisme, orientalisme, nasionalisme, dan media massa. Dalam konteks kolonial, Islam sering dipandang sebagai ancaman terhadap kontrol politik Barat, sehingga citra negatif Islam diproduksi secara sistematis.

Di sejumlah negara Barat kontemporer, sentimen anti-Islam dipengaruhi oleh faktor seperti terorisme global, politik identitas, dan ketakutan terhadap imigrasi. Dalam banyak kasus, Nabi Muhammad dijadikan simbol yang disederhanakan untuk mewakili berbagai kecemasan sosial, meskipun realitas Islam sangat beragam.

Akar Kebencian terhadap Islam dan Nabi Muhammad di Indonesia

Di Indonesia, kebencian terhadap Islam dan Nabi Muhammad tidak dapat dilepaskan dari sejarah kolonial dan dinamika politik modern. Pada masa kolonial Belanda, Islam kerap dipandang sebagai kekuatan potensial perlawanan, sehingga diawasi dan dikontrol melalui kebijakan politik etis dan orientalisme administratif.

Pasca kemerdekaan, sentimen negatif terhadap Islam dan simbol-simbol keislaman muncul dalam konteks konflik ideologis, seperti ketegangan antara nasionalisme sekuler, komunisme, dan Islam politik. Pada era Orde Baru, ekspresi Islam tertentu sering dicurigai sebagai ancaman stabilitas negara.

Di era reformasi, kebencian terhadap Islam dan Nabi Muhammad di Indonesia lebih sering muncul dalam bentuk islamofobia kultural, stereotip media, serta reaksi terhadap tindakan kelompok ekstrem yang kemudian digeneralisasi terhadap Islam secara keseluruhan. Dalam konteks ini, Nabi Muhammad kerap diseret ke dalam polemik simbolik yang tidak mencerminkan ajaran Islam secara historis.

Perkembangan Modern dan Revisi Pandangan

Seiring berkembangnya studi akademik dan dialog antaragama, sejumlah gereja dan institusi keagamaan merevisi sikap lama mereka terhadap Islam. Konsili Vatikan II melalui Nostra Aetate (1965) menandai perubahan penting dalam sikap resmi Gereja Katolik terhadap Islam dan umat Muslim.

Di ranah akademik, kajian sejarah-kritis menghasilkan gambaran Nabi Muhammad yang lebih berimbang dan kontekstual. Meskipun perbedaan teologis tetap ada, demonisasi personal semakin dipertanyakan.

Kesimpulan

Kajian historis menunjukkan bahwa kebencian terhadap Islam dan Nabi Muhammad bukanlah produk ajaran agama semata, melainkan hasil konstruksi sejarah yang dipengaruhi oleh konflik kekuasaan, kolonialisme, produksi wacana ideologis, dan dinamika sosial modern. Fenomena ini muncul dalam konteks yang berbeda-beda di Barat, Timur Tengah, dan Indonesia, namun memiliki pola yang serupa: penyederhanaan, generalisasi, dan simbolisasi.

Memahami akar kebencian ini secara historis membuka ruang bagi dialog yang lebih rasional dan berbasis fakta, serta memungkinkan peninjauan ulang terhadap warisan persepsi yang selama berabad-abad membentuk hubungan antaragama.

Referensi:

  • Al-Qur’an al-Karim.
  • Armstrong, Karen. Muhammad: A Prophet for Our Time.
  • Watt, W. Montgomery. Muhammad at Mecca; Muhammad at Medina.
  • Southern, R. W. Western Views of Islam in the Middle Ages.
  • Donner, Fred M. Muhammad and the Believers.
  • Said, Edward W. Orientalism.
  • Vatikan II. Nostra Aetate (1965).
Tags: agamaIslamKristen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mark Knopfler: Denting Gitar yang Melampaui Kata-kata

Next Post

Prasasti, Tahta, dan Ingatan Kolektif

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Jangan Retak Perahu Negeriku, Jatuh ke Penguasa Tidak Amanah

Prasasti, Tahta, dan Ingatan Kolektif

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co