12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kebencian yang Diciptakan

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
January 29, 2026
in Esai
Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

Khairul A. El Maliky

Abstrak

Tulisan ini menganalisis asal-usul dan perkembangan sentimen negatif terhadap Islam dan Nabi Muhammad dalam konteks global dengan pendekatan historis-kritis dan sosiologis. Bertolak dari anggapan populer bahwa kebencian tersebut bersumber dari konflik teologis yang inheren antara Islam dan Kristen, esai ini menunjukkan bahwa sentimen negatif tersebut merupakan konstruksi sejarah yang terbentuk secara bertahap. Proses ini dipengaruhi oleh dinamika kekuasaan politik, kolonialisme, polemik keagamaan, serta produksi wacana sosial dan media modern. Selain menelusuri relasi Islam–Kristen sejak masa Nabi Muhammad hingga era modern Barat, tulisan ini juga mengkaji akar kebencian terhadap Islam dan Nabi Muhammad di Indonesia dan sejumlah negara lain. Kesimpulan utama tulisan ini adalah bahwa kebencian terhadap Islam dan Nabi Muhammad tidak bersifat teologis-esensial, melainkan kontekstual, historis, dan dapat dijelaskan melalui faktor sosial, politik, dan kultural.

Pendahuluan

Dalam diskursus keagamaan dan politik kontemporer, Islam dan Nabi Muhammad kerap menjadi objek kecurigaan, penolakan, bahkan kebencian terbuka. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Barat, tetapi juga muncul di berbagai negara dengan latar sejarah, politik, dan sosial yang berbeda, termasuk Indonesia. Kebencian tersebut sering dipersepsikan sebagai sesuatu yang alami dan tak terhindarkan, seolah-olah Islam sejak awal merupakan agama yang berada dalam konflik abadi dengan dunia non-Muslim.

Namun, pendekatan sejarah menunjukkan bahwa asumsi tersebut tidak berdasar secara empiris. Hubungan antara Islam dan komunitas agama lain—khususnya Kristen—pada fase awal tidak ditandai oleh permusuhan sistematis. Persepsi negatif terhadap Islam dan Nabi Muhammad justru berkembang secara gradual, dipengaruhi oleh perubahan konteks kekuasaan, konflik geopolitik, serta produksi narasi ideologis yang berulang dari satu zaman ke zaman lain.

Tulisan ini bertujuan untuk menelusuri akar-akar kebencian tersebut secara kronologis dan lintas wilayah, dengan fokus utama pada faktor-faktor non-teologis yang membentuk persepsi negatif terhadap Islam dan Nabi Muhammad.

Relasi Islam dan Kristen pada Masa Nabi Muhammad

Pada abad ke-7 Masehi, komunitas Kristen di Timur Tengah dan Jazirah Arabia bersifat plural dan terfragmentasi. Kekristenan tidak berada di bawah satu otoritas tunggal, melainkan terdiri dari berbagai kelompok teologis dan politik yang kerap berselisih satu sama lain. Dalam konteks ini, Nabi Muhammad menyampaikan risalah Islam di lingkungan yang telah mengenal tradisi monoteisme.

Sumber-sumber sejarah Islam menunjukkan bahwa relasi Nabi Muhammad dengan komunitas Kristen bersifat dialogis. Peristiwa kedatangan delegasi Kristen Najran ke Madinah merupakan contoh penting. Dialog teologis berlangsung tanpa kekerasan, dan delegasi tersebut dilaporkan diberi kebebasan menjalankan ibadah mereka. Fakta ini menunjukkan bahwa perbedaan teologis tidak secara otomatis melahirkan permusuhan.

Selain itu, sejumlah perjanjian perlindungan terhadap komunitas Kristen—meskipun masih diperdebatkan secara filologis—menunjukkan adanya kerangka normatif Islam awal yang mengakui hak-hak komunitas non-Muslim. Al-Qur’an sendiri menampilkan sikap yang beragam terhadap umat Kristen: kritik teologis disertai pengakuan atas kesalehan sebagian dari mereka.

Dengan demikian, tidak terdapat bukti historis tentang kebencian kolektif umat Kristen terhadap Nabi Muhammad pada masa hidupnya.

Transformasi Islam dan Perubahan Persepsi Kristen

Perubahan signifikan terjadi setelah wafatnya Nabi Muhammad, ketika Islam berkembang menjadi kekuatan politik dan militer. Ekspansi wilayah Muslim ke daerah-daerah Bizantium mengubah relasi Islam–Kristen dari hubungan antar-komunitas iman menjadi persaingan geopolitik.

Dalam konteks ini, Islam mulai dipersepsikan sebagai ancaman terhadap stabilitas politik dan religius Kekaisaran Bizantium. Nabi Muhammad, sebagai figur sentral Islam, dikonstruksi dalam wacana Kristen sebagai simbol kekuatan pesaing. Kritik terhadap Islam pada fase ini tidak dapat dilepaskan dari kepentingan mempertahankan kekuasaan dan legitimasi religius.

Bahasa teologi digunakan untuk menjelaskan konflik politik, sehingga persepsi keagamaan dan kepentingan kekuasaan saling berkelindan.

Polemik Abad Pertengahan dan Produksi Imajinasi Negatif

Abad pertengahan Eropa menjadi fase krusial dalam pembentukan citra negatif Nabi Muhammad. Keterbatasan akses terhadap sumber-sumber Islam membuat pemahaman tentang Islam dibangun melalui karya polemik, khotbah, dan literatur sekunder yang bias. Nabi Muhammad sering digambarkan secara karikatural, dilepaskan dari konteks sejarahnya, dan diposisikan sebagai antitesis iman Kristen.

Terjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa Latin pada abad ke-12, seperti oleh Robert of Ketton, lebih bersifat apologetik daripada akademik. Islam dipelajari untuk dibantah, bukan untuk dipahami. Proses ini memperkuat stereotip yang telah terbentuk dan diwariskan lintas generasi.

Perang Salib dan Legitimasi Kekerasan

Perang Salib mempercepat institusionalisasi kebencian terhadap Islam dan Nabi Muhammad di Eropa Barat. Narasi religius digunakan untuk memobilisasi massa dan memberikan legitimasi moral terhadap kekerasan. Nabi Muhammad dijadikan simbol musuh iman, bukan figur sejarah yang kompleks.

Namun, sikap ini tidak bersifat universal. Umat Kristen Timur yang hidup di bawah pemerintahan Muslim sering kali tidak memiliki sentimen serupa dan bahkan menjadi korban konflik tersebut. Fakta ini menunjukkan bahwa kebencian tersebut bersifat kontekstual, bukan teologis universal.

Akar Kebencian terhadap Islam dan Nabi Muhammad di Era Modern Global

Di era modern, kebencian terhadap Islam dan Nabi Muhammad berkembang melalui jalur baru, seperti kolonialisme, orientalisme, nasionalisme, dan media massa. Dalam konteks kolonial, Islam sering dipandang sebagai ancaman terhadap kontrol politik Barat, sehingga citra negatif Islam diproduksi secara sistematis.

Di sejumlah negara Barat kontemporer, sentimen anti-Islam dipengaruhi oleh faktor seperti terorisme global, politik identitas, dan ketakutan terhadap imigrasi. Dalam banyak kasus, Nabi Muhammad dijadikan simbol yang disederhanakan untuk mewakili berbagai kecemasan sosial, meskipun realitas Islam sangat beragam.

Akar Kebencian terhadap Islam dan Nabi Muhammad di Indonesia

Di Indonesia, kebencian terhadap Islam dan Nabi Muhammad tidak dapat dilepaskan dari sejarah kolonial dan dinamika politik modern. Pada masa kolonial Belanda, Islam kerap dipandang sebagai kekuatan potensial perlawanan, sehingga diawasi dan dikontrol melalui kebijakan politik etis dan orientalisme administratif.

Pasca kemerdekaan, sentimen negatif terhadap Islam dan simbol-simbol keislaman muncul dalam konteks konflik ideologis, seperti ketegangan antara nasionalisme sekuler, komunisme, dan Islam politik. Pada era Orde Baru, ekspresi Islam tertentu sering dicurigai sebagai ancaman stabilitas negara.

Di era reformasi, kebencian terhadap Islam dan Nabi Muhammad di Indonesia lebih sering muncul dalam bentuk islamofobia kultural, stereotip media, serta reaksi terhadap tindakan kelompok ekstrem yang kemudian digeneralisasi terhadap Islam secara keseluruhan. Dalam konteks ini, Nabi Muhammad kerap diseret ke dalam polemik simbolik yang tidak mencerminkan ajaran Islam secara historis.

Perkembangan Modern dan Revisi Pandangan

Seiring berkembangnya studi akademik dan dialog antaragama, sejumlah gereja dan institusi keagamaan merevisi sikap lama mereka terhadap Islam. Konsili Vatikan II melalui Nostra Aetate (1965) menandai perubahan penting dalam sikap resmi Gereja Katolik terhadap Islam dan umat Muslim.

Di ranah akademik, kajian sejarah-kritis menghasilkan gambaran Nabi Muhammad yang lebih berimbang dan kontekstual. Meskipun perbedaan teologis tetap ada, demonisasi personal semakin dipertanyakan.

Kesimpulan

Kajian historis menunjukkan bahwa kebencian terhadap Islam dan Nabi Muhammad bukanlah produk ajaran agama semata, melainkan hasil konstruksi sejarah yang dipengaruhi oleh konflik kekuasaan, kolonialisme, produksi wacana ideologis, dan dinamika sosial modern. Fenomena ini muncul dalam konteks yang berbeda-beda di Barat, Timur Tengah, dan Indonesia, namun memiliki pola yang serupa: penyederhanaan, generalisasi, dan simbolisasi.

Memahami akar kebencian ini secara historis membuka ruang bagi dialog yang lebih rasional dan berbasis fakta, serta memungkinkan peninjauan ulang terhadap warisan persepsi yang selama berabad-abad membentuk hubungan antaragama.

Referensi:

  • Al-Qur’an al-Karim.
  • Armstrong, Karen. Muhammad: A Prophet for Our Time.
  • Watt, W. Montgomery. Muhammad at Mecca; Muhammad at Medina.
  • Southern, R. W. Western Views of Islam in the Middle Ages.
  • Donner, Fred M. Muhammad and the Believers.
  • Said, Edward W. Orientalism.
  • Vatikan II. Nostra Aetate (1965).
Tags: agamaIslamKristen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mark Knopfler: Denting Gitar yang Melampaui Kata-kata

Next Post

Prasasti, Tahta, dan Ingatan Kolektif

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Jangan Retak Perahu Negeriku, Jatuh ke Penguasa Tidak Amanah

Prasasti, Tahta, dan Ingatan Kolektif

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co