2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kebencian yang Diciptakan

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
January 29, 2026
in Esai
Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

Khairul A. El Maliky

Abstrak

Tulisan ini menganalisis asal-usul dan perkembangan sentimen negatif terhadap Islam dan Nabi Muhammad dalam konteks global dengan pendekatan historis-kritis dan sosiologis. Bertolak dari anggapan populer bahwa kebencian tersebut bersumber dari konflik teologis yang inheren antara Islam dan Kristen, esai ini menunjukkan bahwa sentimen negatif tersebut merupakan konstruksi sejarah yang terbentuk secara bertahap. Proses ini dipengaruhi oleh dinamika kekuasaan politik, kolonialisme, polemik keagamaan, serta produksi wacana sosial dan media modern. Selain menelusuri relasi Islam–Kristen sejak masa Nabi Muhammad hingga era modern Barat, tulisan ini juga mengkaji akar kebencian terhadap Islam dan Nabi Muhammad di Indonesia dan sejumlah negara lain. Kesimpulan utama tulisan ini adalah bahwa kebencian terhadap Islam dan Nabi Muhammad tidak bersifat teologis-esensial, melainkan kontekstual, historis, dan dapat dijelaskan melalui faktor sosial, politik, dan kultural.

Pendahuluan

Dalam diskursus keagamaan dan politik kontemporer, Islam dan Nabi Muhammad kerap menjadi objek kecurigaan, penolakan, bahkan kebencian terbuka. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Barat, tetapi juga muncul di berbagai negara dengan latar sejarah, politik, dan sosial yang berbeda, termasuk Indonesia. Kebencian tersebut sering dipersepsikan sebagai sesuatu yang alami dan tak terhindarkan, seolah-olah Islam sejak awal merupakan agama yang berada dalam konflik abadi dengan dunia non-Muslim.

Namun, pendekatan sejarah menunjukkan bahwa asumsi tersebut tidak berdasar secara empiris. Hubungan antara Islam dan komunitas agama lain—khususnya Kristen—pada fase awal tidak ditandai oleh permusuhan sistematis. Persepsi negatif terhadap Islam dan Nabi Muhammad justru berkembang secara gradual, dipengaruhi oleh perubahan konteks kekuasaan, konflik geopolitik, serta produksi narasi ideologis yang berulang dari satu zaman ke zaman lain.

Tulisan ini bertujuan untuk menelusuri akar-akar kebencian tersebut secara kronologis dan lintas wilayah, dengan fokus utama pada faktor-faktor non-teologis yang membentuk persepsi negatif terhadap Islam dan Nabi Muhammad.

Relasi Islam dan Kristen pada Masa Nabi Muhammad

Pada abad ke-7 Masehi, komunitas Kristen di Timur Tengah dan Jazirah Arabia bersifat plural dan terfragmentasi. Kekristenan tidak berada di bawah satu otoritas tunggal, melainkan terdiri dari berbagai kelompok teologis dan politik yang kerap berselisih satu sama lain. Dalam konteks ini, Nabi Muhammad menyampaikan risalah Islam di lingkungan yang telah mengenal tradisi monoteisme.

Sumber-sumber sejarah Islam menunjukkan bahwa relasi Nabi Muhammad dengan komunitas Kristen bersifat dialogis. Peristiwa kedatangan delegasi Kristen Najran ke Madinah merupakan contoh penting. Dialog teologis berlangsung tanpa kekerasan, dan delegasi tersebut dilaporkan diberi kebebasan menjalankan ibadah mereka. Fakta ini menunjukkan bahwa perbedaan teologis tidak secara otomatis melahirkan permusuhan.

Selain itu, sejumlah perjanjian perlindungan terhadap komunitas Kristen—meskipun masih diperdebatkan secara filologis—menunjukkan adanya kerangka normatif Islam awal yang mengakui hak-hak komunitas non-Muslim. Al-Qur’an sendiri menampilkan sikap yang beragam terhadap umat Kristen: kritik teologis disertai pengakuan atas kesalehan sebagian dari mereka.

Dengan demikian, tidak terdapat bukti historis tentang kebencian kolektif umat Kristen terhadap Nabi Muhammad pada masa hidupnya.

Transformasi Islam dan Perubahan Persepsi Kristen

Perubahan signifikan terjadi setelah wafatnya Nabi Muhammad, ketika Islam berkembang menjadi kekuatan politik dan militer. Ekspansi wilayah Muslim ke daerah-daerah Bizantium mengubah relasi Islam–Kristen dari hubungan antar-komunitas iman menjadi persaingan geopolitik.

Dalam konteks ini, Islam mulai dipersepsikan sebagai ancaman terhadap stabilitas politik dan religius Kekaisaran Bizantium. Nabi Muhammad, sebagai figur sentral Islam, dikonstruksi dalam wacana Kristen sebagai simbol kekuatan pesaing. Kritik terhadap Islam pada fase ini tidak dapat dilepaskan dari kepentingan mempertahankan kekuasaan dan legitimasi religius.

Bahasa teologi digunakan untuk menjelaskan konflik politik, sehingga persepsi keagamaan dan kepentingan kekuasaan saling berkelindan.

Polemik Abad Pertengahan dan Produksi Imajinasi Negatif

Abad pertengahan Eropa menjadi fase krusial dalam pembentukan citra negatif Nabi Muhammad. Keterbatasan akses terhadap sumber-sumber Islam membuat pemahaman tentang Islam dibangun melalui karya polemik, khotbah, dan literatur sekunder yang bias. Nabi Muhammad sering digambarkan secara karikatural, dilepaskan dari konteks sejarahnya, dan diposisikan sebagai antitesis iman Kristen.

Terjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa Latin pada abad ke-12, seperti oleh Robert of Ketton, lebih bersifat apologetik daripada akademik. Islam dipelajari untuk dibantah, bukan untuk dipahami. Proses ini memperkuat stereotip yang telah terbentuk dan diwariskan lintas generasi.

Perang Salib dan Legitimasi Kekerasan

Perang Salib mempercepat institusionalisasi kebencian terhadap Islam dan Nabi Muhammad di Eropa Barat. Narasi religius digunakan untuk memobilisasi massa dan memberikan legitimasi moral terhadap kekerasan. Nabi Muhammad dijadikan simbol musuh iman, bukan figur sejarah yang kompleks.

Namun, sikap ini tidak bersifat universal. Umat Kristen Timur yang hidup di bawah pemerintahan Muslim sering kali tidak memiliki sentimen serupa dan bahkan menjadi korban konflik tersebut. Fakta ini menunjukkan bahwa kebencian tersebut bersifat kontekstual, bukan teologis universal.

Akar Kebencian terhadap Islam dan Nabi Muhammad di Era Modern Global

Di era modern, kebencian terhadap Islam dan Nabi Muhammad berkembang melalui jalur baru, seperti kolonialisme, orientalisme, nasionalisme, dan media massa. Dalam konteks kolonial, Islam sering dipandang sebagai ancaman terhadap kontrol politik Barat, sehingga citra negatif Islam diproduksi secara sistematis.

Di sejumlah negara Barat kontemporer, sentimen anti-Islam dipengaruhi oleh faktor seperti terorisme global, politik identitas, dan ketakutan terhadap imigrasi. Dalam banyak kasus, Nabi Muhammad dijadikan simbol yang disederhanakan untuk mewakili berbagai kecemasan sosial, meskipun realitas Islam sangat beragam.

Akar Kebencian terhadap Islam dan Nabi Muhammad di Indonesia

Di Indonesia, kebencian terhadap Islam dan Nabi Muhammad tidak dapat dilepaskan dari sejarah kolonial dan dinamika politik modern. Pada masa kolonial Belanda, Islam kerap dipandang sebagai kekuatan potensial perlawanan, sehingga diawasi dan dikontrol melalui kebijakan politik etis dan orientalisme administratif.

Pasca kemerdekaan, sentimen negatif terhadap Islam dan simbol-simbol keislaman muncul dalam konteks konflik ideologis, seperti ketegangan antara nasionalisme sekuler, komunisme, dan Islam politik. Pada era Orde Baru, ekspresi Islam tertentu sering dicurigai sebagai ancaman stabilitas negara.

Di era reformasi, kebencian terhadap Islam dan Nabi Muhammad di Indonesia lebih sering muncul dalam bentuk islamofobia kultural, stereotip media, serta reaksi terhadap tindakan kelompok ekstrem yang kemudian digeneralisasi terhadap Islam secara keseluruhan. Dalam konteks ini, Nabi Muhammad kerap diseret ke dalam polemik simbolik yang tidak mencerminkan ajaran Islam secara historis.

Perkembangan Modern dan Revisi Pandangan

Seiring berkembangnya studi akademik dan dialog antaragama, sejumlah gereja dan institusi keagamaan merevisi sikap lama mereka terhadap Islam. Konsili Vatikan II melalui Nostra Aetate (1965) menandai perubahan penting dalam sikap resmi Gereja Katolik terhadap Islam dan umat Muslim.

Di ranah akademik, kajian sejarah-kritis menghasilkan gambaran Nabi Muhammad yang lebih berimbang dan kontekstual. Meskipun perbedaan teologis tetap ada, demonisasi personal semakin dipertanyakan.

Kesimpulan

Kajian historis menunjukkan bahwa kebencian terhadap Islam dan Nabi Muhammad bukanlah produk ajaran agama semata, melainkan hasil konstruksi sejarah yang dipengaruhi oleh konflik kekuasaan, kolonialisme, produksi wacana ideologis, dan dinamika sosial modern. Fenomena ini muncul dalam konteks yang berbeda-beda di Barat, Timur Tengah, dan Indonesia, namun memiliki pola yang serupa: penyederhanaan, generalisasi, dan simbolisasi.

Memahami akar kebencian ini secara historis membuka ruang bagi dialog yang lebih rasional dan berbasis fakta, serta memungkinkan peninjauan ulang terhadap warisan persepsi yang selama berabad-abad membentuk hubungan antaragama.

Referensi:

  • Al-Qur’an al-Karim.
  • Armstrong, Karen. Muhammad: A Prophet for Our Time.
  • Watt, W. Montgomery. Muhammad at Mecca; Muhammad at Medina.
  • Southern, R. W. Western Views of Islam in the Middle Ages.
  • Donner, Fred M. Muhammad and the Believers.
  • Said, Edward W. Orientalism.
  • Vatikan II. Nostra Aetate (1965).
Tags: agamaIslamKristen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mark Knopfler: Denting Gitar yang Melampaui Kata-kata

Next Post

Prasasti, Tahta, dan Ingatan Kolektif

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Jangan Retak Perahu Negeriku, Jatuh ke Penguasa Tidak Amanah

Prasasti, Tahta, dan Ingatan Kolektif

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co