7 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Yudha, Made Jaya, dan Dewa Dwipayana Mengajak Pulang ke Alam lewat ‘Tetaman’ ─ Dari Gelar Karya Kreativitas Mahasiswa UPMI Bali 2026

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
January 30, 2026
in Panggung
Ketika Yudha, Made Jaya, dan Dewa Dwipayana Mengajak Pulang ke Alam lewat ‘Tetaman’ ─ Dari Gelar Karya Kreativitas Mahasiswa UPMI Bali 2026

Garapan ‘Tetaman’ pada Gelar Karya Kreativitas Mahasiswa UPMI Bali 2026│Foto: tatkala.co/Dede

ALUNAN suling mengalun lebih dulu, lirih dan mendayu, seperti embusan angin yang menyusup di sela dedaunan. Nada-nada itu kemudian disambut denting gong pulu yang tenang, membangun ruang dengar yang sejuk. Dalam beberapa tarikan napas, Gedung Ksirarnawa, Art Centre, Denpasar, Sabtu malam, 24 Januari 2026 berubah menjadi taman imajiner ─ tempat bunyi tumbuh perlahan, menuntun penonton masuk ke suasana alam yang asri dan damai.

Itulah yang terjadi saat garapan karawitan berjudul ‘Tetaman’ dipentaskan. Karya ini merupakan salah satu bagian dari rangkaian Gelar Karya Kreativitas Mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni, Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik), Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali. Disajikan dalam format gong suling yang lembut dan digambarkan sebagai ruang hidup penuh keindahan ─ sebuah ajakan untuk merenung, menjaga, serta mencintai lingkungan sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan.

‘Tetaman’ digarap oleh tiga mahasiswa semester lima: I Komang Agus Yudha Prawira, I Made Jaya Kusuma, dan Dewa Made Satria Dwipayana Putra. Yudha bercerita, ide karya ini lahir dari pengalaman paling dekat, yaitu desa masing-masing ─ lanskap alam asri yang tumbuh bersama keseharian mereka.

“Konsepnya alam. Kami berkaca dari keindahan alam di desa kami masing-masing, makanya kami memberi judul ‘Tetaman’ yang berarti ‘taman’. Inspirasi kami tidak rumit, kami hanya berusaha merangkai suasana alam itu agar terwujud dan terasa dalam garapan karawitan,” ujar Yudha.

Garapan ‘Tetaman’ pada Gelar Karya Kreativitas Mahasiswa UPMI Bali 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Kesederhanaan konsep itu justru menjadi kekuatan. Alur musikal disusun mengalun, memberi ruang bagi suling untuk bercerita, sementara perangkat gamelan lainnya menghadirkan fondasi yang menenangkan.

Garapan ini juga menarik karena dibagi menjadi tiga bagian, sesuai dengan pembagian peran kreatif ketiganya. Dewa Dwipayana menata bagian pembuka, menekankan pengenalan karakter gending dan suasana awal. Made Jaya mengolah bagian tengah, memperkaya motif serta dinamika sebagai pengembangan rasa musikal. Yudha kemudian menutup keseluruhan rangkaian, menyatukan ide menjadi satu tubuh karya yang utuh. Pembagian ini bukan sekadar teknis, melainkan pernyataan sikap bahwa keberagaman gagasan bisa bertemu dalam satu komposisi yang saling menguatkan.

Pilihan gong suling sendiri bukan tanpa pertimbangan. Menurut mereka, instrumen ini memiliki karakter bunyi yang lembut dan halus, bernafaskan estetika klasik Bali, namun tetap memberi ruang luas untuk eksplorasi rasa. Mereka ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda dari garapan lain. Selain itu, juga lebih sederhana secara perangkat, namun kaya secara pengalaman dengar.

Garapan ‘Tetaman’ pada Gelar Karya Kreativitas Mahasiswa UPMI Bali 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Di balik ketenangan yang sampai ke telinga penonton, proses menuju panggung ternyata penuh negosiasi waktu. Ketiganya melibatkan Sanggar Dhanan Jaya, Cemagi ─ tempat mereka magang selama tiga bulan, dengan para pendukung karya yang sebagian besar merupakan remaja SMA hingga yang sudah bekerja.

“Kendala paling berat itu mengatur waktu latihan. Seminggu kami hanya bisa bertemu dua kali, dan seluruh proses tidak sampai sebulan. Walaupun begitu, kemampuan para pendukung karya sangat bisa diandalkan. Keterbatasan waktu justru menempa kekompakan, memadatkan fokus, dan memurnikan tujuan kami,” kata Yudha.

Ada pula dimensi janji yang mengikat proses ini. Jauh sebelum magang dimulai, mereka sudah merencanakan konsep ‘Tetaman’, bahkan berkomitmen kepada ketua Sanggar Dhanan Jaya untuk mempersembahkan sebuah karya gong suling yang melibatkan teman-teman serta anak-anak sanggar. Janji itu akhirnya terbayar di Ksirarnawa.

Ketika pementasan usai dan tepuk tangan mengalir, kebanggaan tak bisa disembunyikan. Bagi mereka, bisa menampilkan karya di gedung semegah Ksirarnawa adalah pengalaman yang menggetarkan. Terlebih, mereka merasa membawa warna berbeda. Dari segi instrumen dan kelengkapan yang relatif sederhana, tanpa membebani penyaji maupun pendukung karya, tetapi tetap mampu menyampaikan pesan secara apik.

Garapan ‘Tetaman’ pada Gelar Karya Kreativitas Mahasiswa UPMI Bali 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Jika ditarik ke dalam kearifan lokal Bali, garapan ‘Tetaman’ juga selaras dengan konsep Tri Hita Karana, terutama aspek Palemahan ─ hubungan harmonis manusia dengan alam. Melalui alunan gong suling yang tenang dan komposisi yang mengalir alami, karya ini menghadirkan refleksi tentang pentingnya menjaga keseimbangan ruang hidup. Alam tidak ditempatkan sebagai latar semata, melainkan sebagai subjek yang diajak berdialog lewat bunyi. Dalam konteks ini, ‘Tetaman’ seolah menerjemahkan prinsip Palemahan ke dalam bahasa karawitan. Menjadi pengingat bahwa manusia tumbuh bersama alam, dan karenanya manusia memiliki tanggung jawab untuk merawat, bukan hanya menikmati.

Secara tematik, ‘Tetaman’ sejalan dengan tema utama gelar karya, ‘Citta Nirbhana’ ─ ruang pembebasan batin, tempat pikiran yang merdeka melahirkan ekspresi yang jujur, reflektif, dan transformatif. Dalam konteks itu, ‘Tetaman’ hadir sebagai jeda kontemplatif. Ia tidak berteriak tentang krisis ekologis, melainkan mengajak pulang secara perlahan ke ingatan tentang sejuknya alam, tentang relasi manusia dengan alam yang semestinya dirawat.

Ketua Program Studi Pendidikan Sendratasik, I Gede Gusman Adhi Gunawan, S.Sn., M.Sn., menjelaskan bahwa gelar karya ini merupakan hasil kolaborasi lintas mata kuliah: Teknik Tata Pentas di semester tiga, magang di semester lima, dan Tari Nusantara di semester tujuh. Sebanyak 136 mahasiswa terlibat, didukung Himpunan Mahasiswa Program Studi serta mahasiswa semester satu sebagai wujud solidaritas. Gusman menambahkan, mata kuliah magang merupakan implementasi kurikulum Outcome-Based Education (OBE) di UPMI Bali, dengan muara berbasis produk. Proses kreatif mahasiswa selama magang bersama berbagai mitra, termasuk Sanggar Dhanan Jaya, dipresentasikan kepada publik dalam format gelar karya.

Di titik inilah ‘Tetaman’ menemukan konteksnya. Bukan sekadar tugas akademik, melainkan pertemuan antara pembelajaran, pengabdian pada komunitas, dan keberanian mengekspresikan gagasan. Gong suling yang mengalun malam itu menjadi jembatan penghubung kampus dengan sanggar, teori dengan praktik, serta manusia dengan alam. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: karawitan balimahasiswaUniversitas PGRI Mahadewa IndonesiaUPMI Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

Next Post

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Budaya Ikut-Ikutan

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails
Next Post
Menjadi Diri Sendiri di Tengah Budaya Ikut-Ikutan

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Budaya Ikut-Ikutan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co