2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Budaya Ikut-Ikutan

Angga Wijaya by Angga Wijaya
January 30, 2026
in Esai
Menjadi Diri Sendiri di Tengah Budaya Ikut-Ikutan

Ilustrasi tatkala.co | Canva

ADA satu ungkapan Bali yang bunyinya sederhana, tetapi getirnya bisa bertahan lama di kepala, milu-milu tuwung. Ia tidak sekadar menunjuk pada kebiasaan ikut-ikutan, latah, meniru apa yang sedang ramai. Ia seperti teguran yang disampaikan dengan suara pelan, namun mengandung malu yang panjang. Sebab di dalamnya terselip pertanyaan yang jarang kita ajukan kepada diri sendiri, apakah yang kita kerjakan ini benar-benar lahir dari dalam diri, atau hanya gema dari pekerjaan orang lain.

Di zaman ketika segalanya bisa dipelajari lewat tutorial, disalin lewat satu klik, dan diproduksi ulang dengan cepat, milu-milu tuwung terasa seperti penyakit yang menemukan habitat paling suburnya. Ia tumbuh di linimasa media sosial, di ruang diskusi, di dunia seni, bahkan di wilayah yang dulu kita anggap paling pribadi, pikiran. Kita hidup di era ketika orisinalitas sering dipuji, tetapi diam-diam ditinggalkan.

Dalam percakapan sehari-hari, milu-milu tuwung dipakai untuk menyindir orang yang melakukan sesuatu hanya karena orang lain lebih dulu melakukannya. Tidak peduli paham atau tidak, cocok atau tidak, perlu atau tidak. Pokoknya ikut. Seperti tanaman liar yang tumbuh di sekitar pohon terung, bukan karena ia tahu ke mana hendak mengarah, tetapi karena kebetulan ada ruang kosong.

Ungkapan ini bukan sekadar soal kebiasaan sosial. Ia adalah penilaian moral. Ia membawa pesan agar manusia tidak kehilangan pusat dirinya sendiri. Agar tidak menjadikan hidup sebagai daftar tiruan. Agar tidak menjelma makhluk yang seluruh geraknya ditentukan oleh arah kerumunan. Namun justru itulah yang kini kita rayakan. Kita menyebutnya adaptasi. Kita menamainya relevansi. Kita memolesnya dengan istilah profesionalisme.

Padahal, barangkali, itu hanya cara baru untuk menghindari keberanian menjadi diri sendiri. Hari ini, milu-milu tuwung tidak lagi tampil sebagai kebiasaan kampung yang lugu. Ia hadir dengan wajah canggih. Seorang teman mulai rajin membuat komposisi musik dengan bantuan kecerdasan buatan. Beberapa hari kemudian, kita tergoda mencoba hal serupa. Bukan karena ada keresahan musikal yang mendesak dari dalam diri, melainkan karena takut ketinggalan percakapan. Takut terlihat usang. Takut dianggap tidak mengikuti zaman.

Seorang penulis menulis satu paragraf pendek di media sosial tentang keresahan hidup, tentang kota, tentang cinta yang letih. Kita membacanya, mengangguk pelan, lalu beberapa hari kemudian menulis esai panjang dengan gagasan serupa. Diksi boleh berbeda. Struktur boleh diubah. Tetapi denyutnya sama. Dan kita lupa, atau pura-pura lupa, untuk menyebut dari mana api kecil itu pertama kali menyala.

Tidak ada hukum yang dilanggar. Tidak ada polisi literasi yang akan datang mengetuk pintu. Tetapi ada sesuatu yang pelan-pelan tanggal, etika yang tak tertulis, dan martabat yang seharusnya dijaga oleh seorang penulis. Bagi orang yang hidup dari kata-kata, ide bukan sekadar bahan mentah. Ia adalah jejak batin. Ia adalah riwayat luka, kegembiraan, ketakutan, dan keberanian seseorang. Menggunakannya tanpa menyebut asalnya, betapapun halus caranya, tetaplah sebuah penghilangan.

Ironisnya, banyak dari kita menganggap hal itu wajar. Bahkan cerdas. Bahkan strategis. Di sinilah milu-milu tuwung menemukan bentuknya yang paling licin, ia tidak lagi terasa memalukan, melainkan praktis.

Osho (1931-1990), filsuf spiritual asal India, dalam berbagai ceramah dan bukunya, menyebut bahwa masyarakat modern lebih senang melahirkan peniru daripada individu. Sistem pendidikan, norma sosial, bahkan agama, menurutnya, bekerja seperti mesin fotokopi raksasa. Ia memproduksi manusia-manusia yang rapi, patuh, dan mudah diprediksi.

Dalam buku The Courage to Be Yourself, ia mengatakan bahwa menjadi diri sendiri adalah bentuk pemberontakan yang paling sunyi. Tidak ada teriakan. Tidak ada spanduk. Tidak ada kerumunan. Hanya seseorang yang berdiri sendirian, menolak untuk menjadi versi kedua dari siapa pun. Dalam Creativity: Unleashing the Forces Within, ia menyebut bahwa saat seseorang mulai meniru, di situlah pertumbuhan batinnya berhenti. Tubuhnya boleh bergerak. Kariernya boleh menanjak. Tetapi jiwanya stagnan.

Osho tidak sedang berbicara tentang seni semata. Ia berbicara tentang cara hidup. Manusia, katanya, bisa sangat sukses sebagai tiruan, tetapi tetap gagal sebagai keberadaan. Kalimat itu tidak selalu ia ucapkan dengan redaksi yang sama, tetapi maknanya berulang, hidup yang dibangun dari peniruan adalah hidup yang kehilangan pusat.

Di titik ini, milu-milu tuwung dan pemikiran Osho bertemu. Yang satu lahir dari kearifan lokal Bali. Yang lain dari tradisi filsafat Timur modern. Keduanya sama-sama mengingatkan, menjadi salinan adalah bentuk kemiskinan eksistensial.

Di dunia tulis-menulis, ada etika yang jarang dibicarakan dalam seminar, tetapi diam-diam dipahami oleh mereka yang masih menghargai martabat profesi ini. Jika sebuah ide datang dari percakapan dengan teman, sebutkan. Jika sebuah tulisan lahir dari kegelisahan orang lain yang ia unggah di media sosial, akui. Jika sebuah pemikiran tumbuh dari buku yang dibaca, tuliskan sumbernya.

Tindakan ini tidak membuat seorang penulis terlihat kecil. Justru sebaliknya. Ia menunjukkan bahwa ia tidak takut berdiri sebagai dirinya sendiri, tanpa perlu mencuri bayangan orang lain. Di tengah budaya milu-milu tuwung, kejujuran seperti ini terasa kuno. Terlalu lambat. Tidak kompetitif. Padahal, di situlah letak keberaniannya.

Mengakui bahwa kita tidak selalu menemukan segalanya sendiri adalah bentuk kedewasaan. Tetapi mengklaim apa yang bukan milik kita sebagai seolah-olah lahir dari rahim pikiran sendiri, adalah bentuk ketakutan yang disamarkan.

Orang Bali masa lalu, terutama para penyair, penulis lontar, dan seniman, memahami bahwa karya bukan sekadar produk. Ia adalah laku spiritual. Ia adalah perjumpaan antara manusia dan sunyi. Keaslian tidak diukur dari seberapa ramai tepuk tangan, tetapi dari seberapa jujur seseorang berdiri di hadapan dirinya sendiri.

Dalam dunia kakawin dan kidung, meniru tanpa pengolahan batin dianggap sebagai kemalasan rohani. Sebuah karya boleh terinspirasi, tetapi ia harus melewati dapur sunyi penulisnya sendiri. Ia harus matang sebagai pengalaman, bukan sekadar tiruan bentuk. Di titik inilah milu-milu tuwung menjadi larangan yang halus. Bukan larangan hukum, tetapi larangan nurani.

Sayangnya, larangan seperti ini tidak kompatibel dengan zaman serba cepat. Menjadi orisinal hampir selalu berarti siap sepi. Siap ditertawakan. Siap tidak dipahami. Siap dicurigai. Keramaian menyukai yang familiar. Pasar menyukai yang bisa diprediksi. Media sosial menyukai pola. Orisinalitas tidak selalu cocok dengan semua itu. Maka banyak orang memilih aman, menjadi bagian dari barisan. Menjadi gema. Menjadi lanjutan kalimat orang lain.

Osho menyebut bahwa masyarakat takut pada individu yang otentik karena ia tidak bisa dikendalikan. Ia tidak bergerak berdasarkan pola yang sudah ada. Ia seperti variabel liar dalam rumus sosial. Di hadapan ketakutan itu, milu-milu tuwung terasa seperti tempat berlindung.

Teknologi kecerdasan buatan membuka kemungkinan baru dalam seni. Ia bisa membantu, mempercepat, memperluas imajinasi. Tetapi ia juga memperbesar godaan lama, meniru. Ketika sebuah lagu bisa dibuat dalam hitungan menit, ketika sebuah puisi bisa dirangkai oleh mesin, ketika sebuah esai bisa disusun oleh algoritma, pertanyaan tentang orisinalitas menjadi semakin mendesak.

Apakah kita sedang mencipta, atau sekadar memilih dari menu yang disediakan. Apakah kita sedang menulis, atau hanya mengedit bayangan. Di sinilah milu-milu tuwung menemukan pakaian barunya, bukan lagi sarung lusuh, tetapi antarmuka digital. Menulis bahwa sebuah gagasan terinspirasi dari seorang teman tidak akan membuat pembaca pergi.

Mengakui bahwa sebuah pemikiran lahir dari percakapan tidak akan menurunkan kualitas tulisan. Justru di sanalah martabat kecil itu hidup, di kejujuran yang tidak dipublikasikan dengan megafon, tetapi dijalani dengan tenang. Seorang penulis boleh miskin materi. Boleh tidak terkenal. Boleh gagal di pasar. Tetapi jika ia kehilangan kejujuran pada sumber pikirannya sendiri, ia telah kehilangan sesuatu yang lebih mahal dari honorarium.

Milu-milu tuwung mengajarkan kita satu hal, jangan tumbuh hanya karena ada ruang di samping orang lain. Tumbuhlah karena ada benih di dalam diri. Mungkin lambat. Mungkin tidak serempak. Mungkin tidak ramai. Tetapi setidaknya, ia milik kita. Di dunia yang semakin dipenuhi salinan, keberanian untuk menjadi satu-satunya diri sendiri adalah kemewahan yang jarang. Dan barangkali, justru karena jarang itulah ia menjadi penting.

Milu-milu tuwung menawarkan keamanan sosial. Orisinalitas menawarkan risiko eksistensial. Yang pertama membuat kita diterima. Yang kedua membuat kita hidup. Di antara keduanya, setiap orang memilih sendiri. Sebagian memilih nyaman menjadi gema. Sebagian lain memilih sunyi menjadi suara.

Para leluhur di Bali, dengan ungkapan sederhana itu, seolah berbisik lintas zaman, jangan kehilangan dirimu hanya demi tidak sendirian. Sebab hidup yang ramai tetapi tidak jujur, pada akhirnya, hanya akan menyisakan kelelahan. Dan hidup yang sepi tetapi otentik, meskipun sering menyakitkan, setidaknya tidak membuat kita asing di hadapan bayangan sendiri. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: baligaya hidup
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Yudha, Made Jaya, dan Dewa Dwipayana Mengajak Pulang ke Alam lewat ‘Tetaman’ ─ Dari Gelar Karya Kreativitas Mahasiswa UPMI Bali 2026

Next Post

Puisi-puisi Yoga Wismantara | Selamat jalan, senja akan turun

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Yoga Wismantara | Selamat jalan, senja akan turun

Puisi-puisi Yoga Wismantara | Selamat jalan, senja akan turun

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co