3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengurai Ke-Aku-An Seorang Wayan Suja : Catatan pinggir dari kacamata Gen-z dalam membaca relasi otonom-heteronom seorang seniman Gen-X

Made Chandra by Made Chandra
February 2, 2026
in Ulas Rupa
Mengurai Ke-Aku-An Seorang Wayan Suja : Catatan pinggir dari kacamata Gen-z dalam membaca relasi otonom-heteronom seorang seniman Gen-X

Mengurai Ke-Aku-An Seorang Wayan Suja

MENDENGAR adalah kegiatan tersulit yang sanggup untuk dilakoni oleh seorang seniman. Gurauan tentang bagaimana seniman adalah kegilaan yang diciptakan oleh dirinya sendiri, kerap menjadi passport bagi ego seorang seniman untuk merasa terus ingin didengarkan. Karyanya, pemikirannya, atau sekelumit pengalaman yang pernah ia lewati.

Sebagai seorang Gen-z saya kadang merasa kenyang, mungkin kadang bebal ketika melihat seniman paruh baya yang selalu ingin diberi ruang untuk menjadi pusat pembicaraan. Jarang sekali saya merasakan bagaimana perbincangan antara junior dan senior terasa cair dan setara, dalam artian bagaimana dialog yang berpantul menjadi dua arus pembicaraan yang saling mengisi antara dua generasi seniman yang terpaut jauh. Sering kali perbincangan tersebut hanya bermuara pada kisah-kisah romantika belaka. “Dulu zaman saya mah lebih keras..bla bla bla..”

Tapi lain halnya ketika mendengar nama seorang Wayan Suja, seorang seniman yang boleh dikatakan veteran dalam percaturan seni rupa, terutama dalam konteks Balin itu sendiri. Ia menjadi anomali di antara banyak seniman sebayanya yang kerap kali ingin didengar, namun justru ia bisa duduk dan hadir sebagai seorang bapak yang siap mendengar tapi selalu punya jawaban untuk Gen-z yang selalu bertanya padanya.

Arsip Hidup dunia per-kolektif-an

Kiprahnya dalam mengarungi berbagai era pasang surut seni rupa dari awal 2000-an hingga hari ini, tidak perlu diragukan lagi, ia seakan menjadi arsip hidup yang menyimpan berbagai cerita balik layar dari berbagai skena yang pernah ia alami dan hidup di sekelilingnya.

Sebagai lulusan STSI Denpasar di tahun 2001, pergolakan kesenimanannya diwarnai berbagai persoalan yang hadir dan terus berevolusi seiring berjalannya waktu. Sebagai seniman yang lahir dari rahim reformasi, Wayan Suja menjelma spons yang menyerap berbagai problematika yang muncul setelah rezim orde baru runtuh. Karya-karya nya kerap menyoal identitas yang melekat pada tubuh orang Bali, bagaimana residu-residu yang tersisa tentang politik identitas orde baru ternyata masih sangat mengakar pada orang Bali dan kebaliannya itu sendiri.  Apa yang terlihat menawan di luar ternyata rapuh dan mudah sekali hancur di dalamnya, persis tergambar dalam berbagai titik-titik estetik seorang Wayan Suja.

Karya awal Wayan Suja di tahun 2001

Selain sebagai seorang seniman otonom yang bebas sebagai individu personal atas karya-karyanya, nama Suja seakan sangat lekat dengan berbagai ruang sosial antar seniman baik itu kelompok, atau kini beken disebut dengan kata Kolektif. Ia menjadi saksi perubahan yang melihat bagaimana dunia seni yang dulu sangat dekat dengan kata kelompok, atau komunitas , hingga kini menjelma sistem sosial kolektif dalam perkembangan ekosistem seni rupa.

Saat masih menjadi mahasiswa di tahun 1999 ia pernah membentuk kelompok bernama Catur Muka, yang menjadi ruang sosial pertama yang mempertemukannya dengan ke tiga teman seangkatannya, kelompok tersebut menjadi awal dari keterlibatannya sebagai seorang seniman dan pengelolaan kesenian berbasis perkumpulan.

Titik-titik estetik pada kekaryaan Wayan Suja

Berangkat dari pengalaman tersebut ia juga menjadi eksponen penting dalama perjalanan sebuah kelompok bernama Klinik Seni Taxu. Satu kelompok penting di awal 2000-an yang menjadi penanda berubahnya arah wacana dan estetika seni rupa Bali pada saat itu. Kelompok ini lahir dari kekisruhan yang pernah disebut sebagai Februari Kelabu Seni Lukis Bali, yaitu Mendobrak Hegemoni yang dilancarkan pada Februari tahun 2001. Sebuah pergolakan yang diwarnai adu kritik yang meramaikan seni rupa Bali yang sudah lama tertidur.

Klinik Seni Taxu menjadi pelabuhan yang cukup lama bagi Wayan Suja untuk menjadi ruang berkarya dan serius dalam membangun satu kelompok dengan ideologi sosialisnya pada waktu itu. Titik ini menjadi vital karna di sinilah Wayan Suja yang kita kenal hari ini, lahir sebagai seorang seniman yang punya pendekatan kritis terhadap kondisi sosial dan lingkungannya.

Dalam era tersebut, persoalan identitas seorang Suja mulai dipupuk dan turut dipertanyakan, terutama pada salah satu karya ikoniknya berjudul “Identitas Bali..?” sebuah karya yang coba bermain-main di wilayah intim tentang identitas kebalian yang menjadi polemik, terutama pasca peristiwa yang dikenal sebagai Bom Bali 1 pada Oktober 2002. Karya-karyanya berevolusi seiring waktu meninggalkan entitas hegemoni yang melekat pada seniman Bali dan Ikonografi kebalian yang terkesan latah dan tempelan.

Karya “identitas Bali…?”

Peristiwa berkeseniannya merupakan bentuk kesadaran kritis yang dibentuk oleh kondisi sosial, baik lingkungan maupun kelompok Klinik Seni Taxu itu sendiri. Beberapa karyanya tak cukup mewujud hanya pada kanvas 2 dimensi. Pada pameran yang ia dan Taxu lakukan ia juga beberapa kali membuat karya instalatif 3 dimensi yang menjadi perpanjangan bahasa estetik seorang Wayan Suja. Evolusi tersebut berlangsung hingga sampai pada waktu terpecahnya Taxu pada tahun 2009 yang menyisakan ia dan 3 eksponen yang masih tersisa.

Peralihan dari kontekstualisme menjadi formalisme, memberikan ruang untuk Suja memilih jalannya sendiri dan pada akhirnya berjalan kembali sebagai seniman individu. Tentu sebagai seorang seniman yang gemar bergaul dengan seniman berlintas generasi, membawanya untuk sekali lagi bergabung dalam sebuah komunitas bergaya kolektif bernama Gurat Institute. Kali ini tidak hanya sebagai anggota namun sebagai seseorang yang memberikan ruangnya untuk dijadikan sebagai markas kolektif ini, yaitu yang kita kenal sebagai Ruang Antara Studio Gurat yang terbentuk pasca pertemuan antara Seriyoga Parta, Dewa Purwita, Susanta Dwitanaya, dan Wayan Nuriarta dalam perhelatan Bali Act pada akhir 2013, menjadi pelabuhan sosial berikutnya bagi Suja. Di sana, ia melihat semangat kebersamaan yang dahulu melekat pada Klinik Seni Taxu, kini hadir kembali dengan wajah yang berbeda, sekaligus tujuan yang berbeda pula.

Wayan Suja dan teman kolektifnya di Gurat Institute (sumber fb: Wayan Suja)

Fokus Gurat Institute sebagai sebuah model kolektif researcher yang berfokus pada Visual-culture, memberi warna baru bagi Suja dalam melangkahkan kaki dalam dunia seni rupa. Seiring waktu Gurat tak hanya mengakomodir dirkursus akademik saja, namun menjelma melting pot yang mempertemukan berbagai individu kreatif, tak terlepas dari lahirnya generasi-generasi baru yang meramaikan riak kolektif ini. Di linimasa inilah saya, seorang Gen-z yang punya segudang pertanyaan dikepala, mulai mengenal lebih dekat siapa seorang Wayan Suja dari balik layar kesenimannya.

Terlepas di antara beberapa kelompok tersebut Suja juga bergabung dengan sebuah komunitas seniman bernama Militant Arts, sebuah kelompok yang diisi rupa-rupa lintas seniman yang berawal dari sebuah grup di sosial media, yang kini masih aktif walau kadang kala mewujud berbagai peristiwa seremonial teman-teman seniman sebayanya.

Suja sebagai seniman otonom-heteronom

Konsep otonom-heteronom dalam konteks seni rupa pertama kali saya dengar dari seorang kurator yaitu Asmudjo j Irinto, yang mengemukakan bagaimana realitas seorang seniman dipengaruhi oleh dua konteks yang saling berkelindan. Yaitu konteks otonom dimana seorang seniman merdeka dan bebas dalam karya-karyanya, namun juga berada dalam konteks heteronom dimana ia sebagai mahluk sosial yang berada pada ruang dan waktu dimana seniman tersebut berada.

Hal tersebut saya lihat dalam konteks yang lebih khusus pada praktik berkesenian seorang Wayan Suja. Kita semua mengakui bagaimana saktinya daya artistik yang dimiliki oleh Suja, sampai-sampai apapun yang dicipratkan olehnya akan terasa estetis dengan sendirinya. Namun diluar hal tersebut, Suja juga tak menampik bahwa ia hadir sebagai seorang bapak dengan anak-anaknya, warga dengan konteks adatnya, pun dengan aktivismenya soal krisis lingkungan terutama persoalan plastik yang tertuang dalam karya-karyanya hari ini.

Ia adalah seorang manusia yang tak terlepas dari kondisi sosialnya, karyanya adalah ruang pantul dari apa yang menjadi kegelisahannya sebagai seorang ayah, warga dan aktivis. Ia tak mencoba untuk memberi jawaban atas sebuah persoalan namun ia memberikan ruang dimana perubahan tersebut dapat muncul atas dasar kesadaran yang tumbuh organik.

Wayan Suja dan Ibu-ibu PKK sedang membuat eco enzim (fb: Wayan Suja)

Sangat jarang saya melihat bagaimana seorang seniman mampu untuk beradaptasi diluar bubble keseniannya. Sering kali seniman terasa sangat kaku, karna selalu berkubang pada tempat yang itu-itu saja. Namun Suja menjawab semua itu dengan Laku-nya. Iya tak mencoba hadir dengan segala gembar-gembor aktivismenya, namun ia hadir dalam kesehariannya sebagai seorang bapak yang tiap hari mengecek gelembung Eco Enzim yang telah ia buat beberapa hari sebelumnya, atau sekedar memperhatikan jumlah sampah yang telah terpilah untuk kemudian ia olah ke esokan harinya.

Kembali pada bagaimana kacamata saya melihat Wayan Suja atau yang kerap saya sapa sebagai Pak Yan. Bagi saya kehadiran sorang pak yan menjadi gambaran ideal tentang bagaimana menjadi asik di usia yang tak lagi muda, tanpa harus merasa ingin menjadi puncak yang  ingin digapai, namun menjadi ranting-ranting kecil yang selalu ada untuk menjadi pegangan generasi di bawahnya.

Satu harapan saya ketika nanti sudah berusia seperti Pak Yan, “aku ingin menjadi bapak-bapak yang asik, tanpa memusingkan apakah aku ingin dikenang atau tidak”

Selamat pameran tunggal di usia setengah abadnya Pak Yan!!!

Panjang Umur Seni rupa!!! [T]

Tags: lukisanSeni RupaWayan Suja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bulan Bahasa Bali: Merawat Kebalian Masyarakat Bali

Next Post

‘Japatuan ka Suargan’, Dari Geguritan ke Seni Pertunjukan di Bulan Bahasa Bali VIII: Kreatif, Komunikatif, Sarat Pesan

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

by Made Chandra
June 2, 2026
0
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

Read moreDetails

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
0
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

Read moreDetails

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

by Made Chandra
May 4, 2026
0
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

Read moreDetails

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails

Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

by Agung Bawantara
March 23, 2026
0
Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Di tengah hiruk-pikuk malam pengerupukan, sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Çaka 1948, ketika ogoh-ogoh diarak dalam gegap gempita, sosok...

Read moreDetails

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

by Agung Bawantara
March 17, 2026
0
Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Karya ogoh-ogoh berjudul “Tugu Mayang” dari ST. Pandawa Banjar Tarukan, Desa Adat Mas, Ubud, Gianyar, menguatkan sebuah kecenderungan estetika yang...

Read moreDetails

Gerabah dan Manusia yang Berubah

by Mas Ruscitadewi
March 7, 2026
0
Gerabah dan Manusia yang Berubah

Dalam pameran Bali Bhuwana Rupa oleh ISI Denpasar di ARMA Museum Ubud, yang bertajuk ' Adhi Jnana Astam (Mastery-Mind-Marvel), banyak...

Read moreDetails

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails
Next Post
‘Japatuan ka Suargan’, Dari Geguritan ke Seni Pertunjukan di Bulan Bahasa Bali VIII:  Kreatif, Komunikatif, Sarat Pesan

'Japatuan ka Suargan', Dari Geguritan ke Seni Pertunjukan di Bulan Bahasa Bali VIII: Kreatif, Komunikatif, Sarat Pesan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co