13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengurai Ke-Aku-An Seorang Wayan Suja : Catatan pinggir dari kacamata Gen-z dalam membaca relasi otonom-heteronom seorang seniman Gen-X

Made Chandra by Made Chandra
February 2, 2026
in Ulas Rupa
Mengurai Ke-Aku-An Seorang Wayan Suja : Catatan pinggir dari kacamata Gen-z dalam membaca relasi otonom-heteronom seorang seniman Gen-X

Mengurai Ke-Aku-An Seorang Wayan Suja

MENDENGAR adalah kegiatan tersulit yang sanggup untuk dilakoni oleh seorang seniman. Gurauan tentang bagaimana seniman adalah kegilaan yang diciptakan oleh dirinya sendiri, kerap menjadi passport bagi ego seorang seniman untuk merasa terus ingin didengarkan. Karyanya, pemikirannya, atau sekelumit pengalaman yang pernah ia lewati.

Sebagai seorang Gen-z saya kadang merasa kenyang, mungkin kadang bebal ketika melihat seniman paruh baya yang selalu ingin diberi ruang untuk menjadi pusat pembicaraan. Jarang sekali saya merasakan bagaimana perbincangan antara junior dan senior terasa cair dan setara, dalam artian bagaimana dialog yang berpantul menjadi dua arus pembicaraan yang saling mengisi antara dua generasi seniman yang terpaut jauh. Sering kali perbincangan tersebut hanya bermuara pada kisah-kisah romantika belaka. “Dulu zaman saya mah lebih keras..bla bla bla..”

Tapi lain halnya ketika mendengar nama seorang Wayan Suja, seorang seniman yang boleh dikatakan veteran dalam percaturan seni rupa, terutama dalam konteks Balin itu sendiri. Ia menjadi anomali di antara banyak seniman sebayanya yang kerap kali ingin didengar, namun justru ia bisa duduk dan hadir sebagai seorang bapak yang siap mendengar tapi selalu punya jawaban untuk Gen-z yang selalu bertanya padanya.

Arsip Hidup dunia per-kolektif-an

Kiprahnya dalam mengarungi berbagai era pasang surut seni rupa dari awal 2000-an hingga hari ini, tidak perlu diragukan lagi, ia seakan menjadi arsip hidup yang menyimpan berbagai cerita balik layar dari berbagai skena yang pernah ia alami dan hidup di sekelilingnya.

Sebagai lulusan STSI Denpasar di tahun 2001, pergolakan kesenimanannya diwarnai berbagai persoalan yang hadir dan terus berevolusi seiring berjalannya waktu. Sebagai seniman yang lahir dari rahim reformasi, Wayan Suja menjelma spons yang menyerap berbagai problematika yang muncul setelah rezim orde baru runtuh. Karya-karya nya kerap menyoal identitas yang melekat pada tubuh orang Bali, bagaimana residu-residu yang tersisa tentang politik identitas orde baru ternyata masih sangat mengakar pada orang Bali dan kebaliannya itu sendiri.  Apa yang terlihat menawan di luar ternyata rapuh dan mudah sekali hancur di dalamnya, persis tergambar dalam berbagai titik-titik estetik seorang Wayan Suja.

Karya awal Wayan Suja di tahun 2001

Selain sebagai seorang seniman otonom yang bebas sebagai individu personal atas karya-karyanya, nama Suja seakan sangat lekat dengan berbagai ruang sosial antar seniman baik itu kelompok, atau kini beken disebut dengan kata Kolektif. Ia menjadi saksi perubahan yang melihat bagaimana dunia seni yang dulu sangat dekat dengan kata kelompok, atau komunitas , hingga kini menjelma sistem sosial kolektif dalam perkembangan ekosistem seni rupa.

Saat masih menjadi mahasiswa di tahun 1999 ia pernah membentuk kelompok bernama Catur Muka, yang menjadi ruang sosial pertama yang mempertemukannya dengan ke tiga teman seangkatannya, kelompok tersebut menjadi awal dari keterlibatannya sebagai seorang seniman dan pengelolaan kesenian berbasis perkumpulan.

Titik-titik estetik pada kekaryaan Wayan Suja

Berangkat dari pengalaman tersebut ia juga menjadi eksponen penting dalama perjalanan sebuah kelompok bernama Klinik Seni Taxu. Satu kelompok penting di awal 2000-an yang menjadi penanda berubahnya arah wacana dan estetika seni rupa Bali pada saat itu. Kelompok ini lahir dari kekisruhan yang pernah disebut sebagai Februari Kelabu Seni Lukis Bali, yaitu Mendobrak Hegemoni yang dilancarkan pada Februari tahun 2001. Sebuah pergolakan yang diwarnai adu kritik yang meramaikan seni rupa Bali yang sudah lama tertidur.

Klinik Seni Taxu menjadi pelabuhan yang cukup lama bagi Wayan Suja untuk menjadi ruang berkarya dan serius dalam membangun satu kelompok dengan ideologi sosialisnya pada waktu itu. Titik ini menjadi vital karna di sinilah Wayan Suja yang kita kenal hari ini, lahir sebagai seorang seniman yang punya pendekatan kritis terhadap kondisi sosial dan lingkungannya.

Dalam era tersebut, persoalan identitas seorang Suja mulai dipupuk dan turut dipertanyakan, terutama pada salah satu karya ikoniknya berjudul “Identitas Bali..?” sebuah karya yang coba bermain-main di wilayah intim tentang identitas kebalian yang menjadi polemik, terutama pasca peristiwa yang dikenal sebagai Bom Bali 1 pada Oktober 2002. Karya-karyanya berevolusi seiring waktu meninggalkan entitas hegemoni yang melekat pada seniman Bali dan Ikonografi kebalian yang terkesan latah dan tempelan.

Karya “identitas Bali…?”

Peristiwa berkeseniannya merupakan bentuk kesadaran kritis yang dibentuk oleh kondisi sosial, baik lingkungan maupun kelompok Klinik Seni Taxu itu sendiri. Beberapa karyanya tak cukup mewujud hanya pada kanvas 2 dimensi. Pada pameran yang ia dan Taxu lakukan ia juga beberapa kali membuat karya instalatif 3 dimensi yang menjadi perpanjangan bahasa estetik seorang Wayan Suja. Evolusi tersebut berlangsung hingga sampai pada waktu terpecahnya Taxu pada tahun 2009 yang menyisakan ia dan 3 eksponen yang masih tersisa.

Peralihan dari kontekstualisme menjadi formalisme, memberikan ruang untuk Suja memilih jalannya sendiri dan pada akhirnya berjalan kembali sebagai seniman individu. Tentu sebagai seorang seniman yang gemar bergaul dengan seniman berlintas generasi, membawanya untuk sekali lagi bergabung dalam sebuah komunitas bergaya kolektif bernama Gurat Institute. Kali ini tidak hanya sebagai anggota namun sebagai seseorang yang memberikan ruangnya untuk dijadikan sebagai markas kolektif ini, yaitu yang kita kenal sebagai Ruang Antara Studio Gurat yang terbentuk pasca pertemuan antara Seriyoga Parta, Dewa Purwita, Susanta Dwitanaya, dan Wayan Nuriarta dalam perhelatan Bali Act pada akhir 2013, menjadi pelabuhan sosial berikutnya bagi Suja. Di sana, ia melihat semangat kebersamaan yang dahulu melekat pada Klinik Seni Taxu, kini hadir kembali dengan wajah yang berbeda, sekaligus tujuan yang berbeda pula.

Wayan Suja dan teman kolektifnya di Gurat Institute (sumber fb: Wayan Suja)

Fokus Gurat Institute sebagai sebuah model kolektif researcher yang berfokus pada Visual-culture, memberi warna baru bagi Suja dalam melangkahkan kaki dalam dunia seni rupa. Seiring waktu Gurat tak hanya mengakomodir dirkursus akademik saja, namun menjelma melting pot yang mempertemukan berbagai individu kreatif, tak terlepas dari lahirnya generasi-generasi baru yang meramaikan riak kolektif ini. Di linimasa inilah saya, seorang Gen-z yang punya segudang pertanyaan dikepala, mulai mengenal lebih dekat siapa seorang Wayan Suja dari balik layar kesenimannya.

Terlepas di antara beberapa kelompok tersebut Suja juga bergabung dengan sebuah komunitas seniman bernama Militant Arts, sebuah kelompok yang diisi rupa-rupa lintas seniman yang berawal dari sebuah grup di sosial media, yang kini masih aktif walau kadang kala mewujud berbagai peristiwa seremonial teman-teman seniman sebayanya.

Suja sebagai seniman otonom-heteronom

Konsep otonom-heteronom dalam konteks seni rupa pertama kali saya dengar dari seorang kurator yaitu Asmudjo j Irinto, yang mengemukakan bagaimana realitas seorang seniman dipengaruhi oleh dua konteks yang saling berkelindan. Yaitu konteks otonom dimana seorang seniman merdeka dan bebas dalam karya-karyanya, namun juga berada dalam konteks heteronom dimana ia sebagai mahluk sosial yang berada pada ruang dan waktu dimana seniman tersebut berada.

Hal tersebut saya lihat dalam konteks yang lebih khusus pada praktik berkesenian seorang Wayan Suja. Kita semua mengakui bagaimana saktinya daya artistik yang dimiliki oleh Suja, sampai-sampai apapun yang dicipratkan olehnya akan terasa estetis dengan sendirinya. Namun diluar hal tersebut, Suja juga tak menampik bahwa ia hadir sebagai seorang bapak dengan anak-anaknya, warga dengan konteks adatnya, pun dengan aktivismenya soal krisis lingkungan terutama persoalan plastik yang tertuang dalam karya-karyanya hari ini.

Ia adalah seorang manusia yang tak terlepas dari kondisi sosialnya, karyanya adalah ruang pantul dari apa yang menjadi kegelisahannya sebagai seorang ayah, warga dan aktivis. Ia tak mencoba untuk memberi jawaban atas sebuah persoalan namun ia memberikan ruang dimana perubahan tersebut dapat muncul atas dasar kesadaran yang tumbuh organik.

Wayan Suja dan Ibu-ibu PKK sedang membuat eco enzim (fb: Wayan Suja)

Sangat jarang saya melihat bagaimana seorang seniman mampu untuk beradaptasi diluar bubble keseniannya. Sering kali seniman terasa sangat kaku, karna selalu berkubang pada tempat yang itu-itu saja. Namun Suja menjawab semua itu dengan Laku-nya. Iya tak mencoba hadir dengan segala gembar-gembor aktivismenya, namun ia hadir dalam kesehariannya sebagai seorang bapak yang tiap hari mengecek gelembung Eco Enzim yang telah ia buat beberapa hari sebelumnya, atau sekedar memperhatikan jumlah sampah yang telah terpilah untuk kemudian ia olah ke esokan harinya.

Kembali pada bagaimana kacamata saya melihat Wayan Suja atau yang kerap saya sapa sebagai Pak Yan. Bagi saya kehadiran sorang pak yan menjadi gambaran ideal tentang bagaimana menjadi asik di usia yang tak lagi muda, tanpa harus merasa ingin menjadi puncak yang  ingin digapai, namun menjadi ranting-ranting kecil yang selalu ada untuk menjadi pegangan generasi di bawahnya.

Satu harapan saya ketika nanti sudah berusia seperti Pak Yan, “aku ingin menjadi bapak-bapak yang asik, tanpa memusingkan apakah aku ingin dikenang atau tidak”

Selamat pameran tunggal di usia setengah abadnya Pak Yan!!!

Panjang Umur Seni rupa!!! [T]

Tags: lukisanSeni RupaWayan Suja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bulan Bahasa Bali: Merawat Kebalian Masyarakat Bali

Next Post

‘Japatuan ka Suargan’, Dari Geguritan ke Seni Pertunjukan di Bulan Bahasa Bali VIII: Kreatif, Komunikatif, Sarat Pesan

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

by Angga Wijaya
July 8, 2026
0
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

DI Bale Daja Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, aroma tanah bakar seperti masih tertinggal di antara puluhan karya...

Read moreDetails

BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 7, 2026
0
BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

“Ring wwang haywa nirāśrayeka gawayen tekeng mahānaśraya” – Niti Sastra SENI rupa kontemporer tidak lagi menekankan pada aspek pemaknaan sebuah...

Read moreDetails

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

by Mahesa Putra
July 6, 2026
0
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

Read moreDetails

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

by Hartanto
July 4, 2026
0
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

Read moreDetails

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

by Mahesa Putra
June 30, 2026
0
Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana,...

Read moreDetails

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

by Hartanto
June 29, 2026
0
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

Read moreDetails

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

by Mahesa Putra
June 18, 2026
0
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini...

Read moreDetails

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

by Oka Rusmini
June 15, 2026
0
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

Read moreDetails

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
0
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

Read moreDetails

Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

by Made Chandra
June 8, 2026
0
Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan,...

Read moreDetails
Next Post
‘Japatuan ka Suargan’, Dari Geguritan ke Seni Pertunjukan di Bulan Bahasa Bali VIII:  Kreatif, Komunikatif, Sarat Pesan

'Japatuan ka Suargan', Dari Geguritan ke Seni Pertunjukan di Bulan Bahasa Bali VIII: Kreatif, Komunikatif, Sarat Pesan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co