Saat tabuh pengawit dimainkan, beberapa penonton masih ada yang mengurus tempat duduk. Maklum, orang yang hadir pagi itu melebihi kapasitas gedung pertunjukan tergolong modern itu. Sinar lampu pun mulai berubah sedikit gelap, berbeda dengan di atas stage cahayanya yang semakin terang. Seorang penari laki-laki kemudian menari penuh rasa cinta. Sedang di belakang panggung, di layar besar, penari wanita menebar gerak cinta yang memikat.
Itulah awal sasolahan (pergelaran/pertunjukan) berjudul “Japatuan ka Suargan” yang disajikan Sanggar Seni KOKAR Bali SMKN 3 Sukawati pada Pembukaan Bulan Bahasa Bali VIII di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu 1 Pebruari 2026. Garapan sendratari ini berlangsung setelah Gubernur Bali Wayan Koster membuka festival bahasa, aksara dan sastra Bali yang ditandai dengan menarik tali, sehingga kepompong terbelah menjadi kupu-kupu.
Geguritan Japatuan diangkat sebagai lakon dari sasolahan itu. Menariknya, sendratari yang didukung sekitar 90 seniman muda dari sekolah seni itu memang tampil pada saat pembukaan Bulan Bahasa Bali itu dikemas luwes, tidak terlalu formal. Garapan itu lebih kreatif dan komunikatif, sehingga seakan tak ada batas. Kisah ini dibeber dengan ekpresi jiwa yang kuat, sehingga mampu menarik emosi penonton untuk masuk ke dalam setiap adegan.
Garapan seni kolosal ini memadukan teknologi (elidi) untuk dapat menciptakan pengalaman yang lebih imersif, dan pesan bisa disampaikan dengan lebih mudah dipahami dan diingat. Memang dua panggung itu memiliki sifat yang berbeda, tetapi antara satu dengan lainnya saling mendukung. Kisah mula-mula dibeber di panggung, lalu berlanjut di dalam layar. Demikian sebaliknya, yang sangat membantu penonton dalam menikmati pesan dalam sajian itu.


Sasolahan ini bermula dari Japatuan tidak mau berpisah dengan Ratnaningrat, istrinya yang sudah meninggal. Semenjak kematian istrinya, Japatuan bahkan ingin mengakhiri hidupnya, namun niat buruknya dihalangi oleh kakaknya Gagak Turas. I Gagakturas menasihati adiknya bahwa perbuatan bunuh diri adalah tidak baik. I Japatuan sadar atas nasihat yang diberikan oleh kakak- nya, sehingga ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri
Dengan rasa duka yang begitu mendalam Japatuan tidak mau pisah dari mayat istrinya, dia memeluk mayat itu erat entah berapa hari lamanya sehingga tetangga dan masyarakat tidak tahan dengan bau busuk yang begitu menyengat. Atas kejadian ini Mekel (Kepala Desa) minta nasehat kepada Pendeta untuk mencari jalan keluar dan atas seizin Raja, balai dan mayat Ratnaningrat diangkut ke kuburan. Sesampai di kuburan Japatuan masih dalam posisi memeluk mayat istrinya, seketika itu terdengar suara gaib agar mayat istrinya dikubur dengan baik.
Setelah suara gaib itu menghilang tiba-tiba kuburan meledak dan keluarlah Sang Hyang Tunggal memberi tau Japatuan bahwa istrinya menjadi penari legong di sorga. Sanghyang Tunggal juga menyarankan, jika hendak mencari ruh (atma) istrinya agar datang saja ke sorga, tetapi sebelumnya harus minta izin dari Dewa Wisnu yang bersemayam di sungai Serayu. Japatuan dan Gagak Turas segera berangkat ke Sorga mencari arwah istrinya Ratnaningrat.

Di tengah jalan mereka dihadang oleh para penghuni sorga berupa raksasa. Godaan itu, ujian dari Sang Suratmalah yang paling menakutkan. Para pengjaga itu mengizinkan masuk dengan selamat sampai di tempat Dewa Indra bersemayam. Japatuan menuturkan kedatangannya ke sorga adalah untuk mencari istrinya Ni Ratnaningrat. Dewa Indra menyuruh I Japatuan untuk memilih di antaranya bidadari itu adalah istrinya, namun tidak ditemukan. Di antara Dewata yang datang, ada yang membawa seekor babi yang terikat lehernya, I Japatuan segera mengambilnya dan mengatakan bahwa babi itulah istrinya yang sejati.
Dewa Indra yang menyatakan Japatuan sebagai orang utama, kemudian disuruh kembali ke dunia untuk menjadi raja di Kerajaan Daha. Mereka bertiga kembali ke dunia, lalu disambut rasa gembira oleh raja dan rakyat Daha dengan suka cita. Atas perkenan raja dan rakyatnya, Japatuan selanjutnya menggantikan tahta kerajaan Daha.
Sajian seni yang atraktif
Penonton kemudian diajak merasakan kerinduan Japatuan terhadap istrinya tersayang. Ia menari dengan gelisah, selalu ingin dekat dengan istrinya. Wujud kerinduannya itu digambarkan dalam layar, dimana istrinya menari lembut menggambarkan rasa cinta. Padahal, istrinya sudah berbaring dan membusuk di bale dangin. Saking cintanya, ia tak hanya mengekpresikan gerak rindu, tetapi seperti orang gila.
Japatuan kemudian memastikan apakah istrinya ada diantara penonton, khususnya wanita. Barisan penonton kemudian pecah, sebab kedatangannya ke area penonton membuat beberapa orang merasa degdegan, takut diperiksa Japatuan. Keterlibatan penonton secara emosi itu membuat garapan tersebut menjadi lebih hidup. Kekuatan ekpresi penari dipadu dengan dialog-gialog duka sang Dalang yang mampu menyulap suasana menjadi sedih.

Suasana sedih itu berlanjut ketika mayat Ratnaningrat yang terus membusuk hingga mengeluarkan bau tak sedap. Suasana itu, ditunjukan dengan penari laki-laki dan perempuan yang menarikan parfum atau minyak wangi. Penari itu memerankan warga desa yang tidak kuat menghirup bau busuk. Parfum itu ditarikan dengan pola-pola yang estetik, sehingga bukan menjadi property yang sekadar tempelan saja.
Warga desa mendatangi Kelian Desa Mekel untuk menyampaikan keberadaan riuh desa akibat ulah Japatuan. Seijin Mekel, warga kemudian melaksanakan upacara penguburan secara paksa.
Warga menyiapkan segala sarana dan prasarana upacara itu. Adegan ini kembali lahir dari sebuah kreativitas. Berbagai property bambu ditarikan oleh para penari, tiba-tiba berubah menjadi tandu mayat yang digotong warga ke kuburan.
Japatuan bersedia dan tetap berada di samping istrinya. melodi iringan berubah menjadi lebih cepat. Warga bersorak menuju kuburan. Ratnaningrat dikubur, bersamaan dengan bale tempat mayat itu berada. Warga kemudian pulang bersama-sama. Tetapi, Japatuan dalam kondisi sedih mendekati kuburan dan ikut masuk ke dalam lobang tanah bersama mayat istrinya. Seseorang yang berperan sebagai tokoh sekaligus dalang kedua menegaskan kisah itu kepada penonton.
Tiba-tiba, seorang penonton protes. Ia tidak setuju dengan cerita Japatuan yang masuk ke dalam kuburan. Itu mirip kisah Sampik Ingtai, bukan kisah Japatuan. Dalang itu, kemudian meminta maaf, dan meminta kepada penabuh dan penari untuk mengulangnya. Pengulangan adegan ini seperti mengembalikan film di vedio. Semua penari bergerak cepat dan patah-patah, dan musiknya dipikul tanpa melodi, juga patah-patah. Adegan itu mendapat apresiai penonton. Tepuk tangan dan tawa penonton berpadu membuat gedung pertunjukan itu lebih meriah.
Japatuan didampingi oleh Gagakturas tetap memeluk mayat istrinya sambil menangis sejadi-jadinya. Malam harinya, mereka mendengar suara gaib dari angkasa, mereka disuruh mengubur mayat Ni Ratnaningrat dengan baik. Suara gaib itu lenyap, tiba-tiba tanah kuburan itu meledak, keluar Sanghyang Tunggal (Tuhan) memberitahukan bahwa Ni Ratnaningrat telah dijadikan penari legong di sorga Dewa Indra.
Dua bersaudara itu pergi menuju sungai Serayu untuk melaksanakan semadi dan memohon anugerah dari Dewa Wisnu agar mengabulkan permohonannya pergi ke sorga. Perjalanan menuju sorga, mereka dihadang oleh para penghuni sorga yang berupa raksasa. Dalam adegan ini kental nilai-nilai, ajaran kehidupan dan pesan moral.

Setelah sampai di sorga, Japatuan diterima Dewa Indra. Ia menuturkan bahwa kedatangan- nya ke sorga adalah untuk mencari istrinya Ni Ratnaningrat. Japatuan diberikan memilih bidadari di antaranya adalah istrinya, namun tiada ditemukan. Dewa Indra mengundang para dewata agar segera datang ke tempat Dewa Indra. Di antara Dewata itu ada yang membawa seekor babi yang terikat lehernya.
Melihat babi itu, Japatuan segera mengambilnya dan mengatakan bahwa babi itulah istrinya yang sejati. Dewa Indra mengangap Japatuan orang utama karena mengetahui istrinya, walau dalam wujud lain. Adegan ini mula-mula diatas panggung, kemudian Japatuan muncul di layar menyayangi babi itu yang tidak lain adalah istrinya. Dewa Indra kemudian menyuruh Japatuan kembali ke dunia untuk menjadi raja di kerajaan Daha. [T]
Reporter/Penulis: Budarsana
Editor: Adnyana Ole





























