12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

Agus Yulianto by Agus Yulianto
December 27, 2025
in Cerpen
Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

Ilustrasi tatkala.co | Canva

CERMIN itu retak di sisi kanan atas, seperti hatiku yang dulu. Tiap pagi aku menatap pantulanku, mencari bagian dari diriku yang bisa kusukai, tetapi yang kutemukan hanyalah mata sayu, kulit gelap, tubuh kurus, dan rambut keriting yang tumbuh tak teratur. Kata-kata dari masa lalu menggema di dalam kepalaku—”jelek”, “aneh”, “nggak laku”, “malu-maluin”.

“Aku ingin jadi seperti mereka,” bisikku setiap pagi. Mereka yang kulitnya cerah, rambutnya lurus, tubuhnya ideal, dan senyumnya seperti selebgram yang selalu tampak bahagia. Aku, sebaliknya, hidup dalam bayang ketidakcukupan. Sekolah bagai panggung siksaan: tatapan sinis, ejekan diam-diam, dan komentar yang menyayat dari teman sebaya. Bahkan diamku sering dianggap aneh.

Hari itu aku menemukan selembar kertas kusut di rak buku perpustakaan sekolah. Tulisan tangan itu tertulis miring dengan tinta biru:

Mereka hanya melihatmu dari luar. Tapi kau, hanya kau yang tahu bagaimana dunia di dalammu menyala.

Aku tidak tahu siapa penulisnya. Tapi entah kenapa, kalimat itu menancap di benakku. Rasanya seperti disiram air setelah terbakar bertahun-tahun.

Sejak hari itu, aku mulai menulis. Tentang kesedihanku. Tentang tubuhku. Tentang kulitku. Tentang bagaimana aku selalu merasa asing di dunia sendiri. Ternyata, kata-kata bisa memeluk. Setiap tulisan menjadi cahaya kecil yang menyala dalam gelapku.

–**–

Dua tahun kemudian, aku berdiri di depan cermin yang sama—yang kini retaknya kian menyebar, tapi aku tak ingin menggantinya. Cermin itu saksi. Cermin itu tahu semua luka dan air mata yang pernah kutumpahkan. Tapi cermin itu juga menyaksikan prosesku tumbuh.

 Kini, saat aku tersenyum, senyuman itu tidak dibuat-buat. Saat aku memakai baju sederhana, aku tidak lagi sibuk membandingkan diriku dengan siapa pun. Aku mulai menyukai warna kulitku, rambutku, bentuk tubuhku, dan cara bicaraku yang lambat tapi jujur.

 Aku bukan mereka. Dan ternyata… aku tidak perlu jadi mereka.

 Suatu hari, aku bertemu seorang anak kelas 7 yang duduk sendiri di taman sekolah. Rambutnya keriting seperti punyaku dulu. Kulitnya gelap. Tatapannya penuh cemas.

 “Kamu cantik,” kataku padanya. Ia menoleh dengan ragu. “Cantik itu bukan tentang putih atau langsing, tapi tentang berani menerima diri sendiri.”

  Matanya mulai berkaca-kaca. Aku mengangguk dan tersenyum.

  Mungkin… mungkin aku telah menyembuhkan luka lama, bukan hanya untuk diriku, tapi untuk orang lain juga.

   “Luka tidak selalu harus hilang. Kadang ia hanya perlu diterima. Karena dari sanalah cahaya bisa menyusup masuk.”

  Cermin yang retak itu kini bukan hanya saksi, tapi guru yang membimbingku memahami bahwa setiap rendahan, setiap retakan, adalah bagian dari diriku yang utuh. Setiap pagi aku tetap berdiri di depannya—namun kali ini bukan untuk menyiksa diri, melainkan untuk menyemangati.

 Suatu siang di ruang kelas, guru Bahasa Indonesia membacakan puisi tentang keberanian. Selesai mendengarkan, hatiku bergetar. Mengapa aku harus selalu bersembunyi? Aku angkat tangan, suara di dada bergetar saat kuhamburkan:

 “Aku ingin menjadi pembaca puisi hari ini.”

Ruangan hening. Semua mata menatapku—beberapa dengan penasaran, yang lain dengan keheranan. Suaraku gemetar saat kubaca puisi tentang luka lama yang berubah menjadi cahaya:

“Kulitku gelap, tapi hatiku terang.

 Keriting rambutku bukanlah jerat dari penjara penilaian, melainkan mahkota ukir alami yang layak dipuja.”

 Usai baca, tepuk tangan mengalir. Kupandangi kawan di depanku—ia yang dulu menyipitkan mata padaku—matanya kini berkaca, dan ia tersenyum. “Kamu hebat,” bisiknya.

 Malam itu aku termenung di kamarku. Kubuka lembaran-lembaran puisi yang kusiapkan malam demi malam sejak temuan kertas biru di perpustakaan. Aku lihat semuanya. Aku lihat diriku waktu itu—rapuh, kesepian, penuh keraguan. Tapi juga aku lihat keberanian yang muncul, sedikit demi sedikit, hari ke hari.

 Aku tuliskan biodata singkatku di halaman belakang:

 Dia adalah seseorang yang pernah kebal terhadap bayang-bayang kebencian diri.

Kini dia belajar menerima, menyembuhkan, dan menyinari.

Aku menyisipkannya di ujung cerpen, seperti selembar bunga kecil di antara halaman-halaman luka.

–**–

Beberapa pekan kemudian, sekolah mengadakan perlombaan literasi. Tanpa ragu—kali ini dengan penuh percaya diri—aku mendaftar. Di hari H, di atas panggung kecil dengan mikrofon di tangan, aku berkisah bukan hanya dengan kata, tetapi dengan hatiku. Tentang perjalanan cinta pada diri sendiri. Tentang suara cermin retak dan anak keriting yang takut menatap dunia.

Di akhir sesi, seorang guru pendamping menghampiriku. “Ayu, puisi dan ceritamu luar biasa. Kami ingin kamu jadi duta literasi sekolah.” Aku menahan air mata haru. Cermin retak di kamarku terasa ikut bahagia.

Hari demi hari, aku berjalan semakin tegak. Aku sadar, mencintai diri sendiri bukan sekadar mengatakan “aku hebat.” Tapi merangkul setiap bagian—gelap, terang, rapuh, dan kuat—dan berjalan maju dengan batin yang tenang.

Kini aku berdiri bukan hanya untuk diriku, tapi juga untuk orang-orang yang pernah merasa kecil, asing, tidak layak. Setiap kata “kamu cantik” yang kuucap tulus dari jiwaku, bukan hanya sekadar frasa, tetapi jembatan menuju keberanian. [T]

Penulis: Agus Yulianto
Editor:Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Bencana Ekologis

Next Post

Kabul dan Lebah

Agus Yulianto

Agus Yulianto

Suka menulis cerpen, cernak, puisi dan esai. Seorang guru swasta di SMK Wikarya Karanganyar, lahir di Karanganyar, 27 Juli 1987. Debutnya dalam kancah sastra dimulai pada tahun 2009. Ia mulai secara serius menekuni dunia kepenulisan dengan aktif di beberapa komunitas maupun organisasi kepenulisan. S

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Kabul dan Lebah

Kabul dan Lebah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co