3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kabul dan Lebah

Wayan Jengki Sunarta by Wayan Jengki Sunarta
December 27, 2025
in Ulas Rupa
Kabul dan Lebah

I Ketut Suasana alias Kabul dan karya-karya yang dipamerkan di Kelir Art Gallery, The Kayon Jungle Resort, Payangan, Gianyar, Bali

DUNIA seni rupa tidak hanya unjuk keterampilan teknis, melainkan juga pergulatan ide, pemikiran atau wacana, untuk mencoba melahirkan berbagai terobosan baru. Namun  pada kenyataannya, dunia seni rupa dipersempit dengan maraknya trend atau selera pasar dimana banyak perupa muda hanya menjadi epigon, tanpa memiliki pendirian jelas.        

Di Bali, ratusan pelukis muda bermunculan, berebut posisi dengan berbagai cara. Ada yang datang, ada yang hilang. Seperti kata pepatah: mati satu, tumbuh seribu. Tentu hukum seleksi alam sangat ketat dalam rimba belantara seni rupa mutakhir. Yang kuat dari segi gagasan, keterampilan teknis, memiliki ketekunan, punya peluang terus bertahan. Yang lemah dan plintat-plintut dipastikan akan tergerus zaman.

Karya-karya I Ketut Suasana alias Kabul yang dipamerkan di Kelir Art Gallery, The Kayon Jungle Resort, Payangan, Gianyar, Bali

I Ketut Suasana alias Kabul termasuk salah satu perupa yang gigih berebut posisi. Ada keinginan kuat dan berbagai percikan impian dalam dirinya, untuk terus melangkah dengan mantap menjadi perupa yang diperhitungkan. Energi kreatifnya terus meletup-letup. Dalam upaya merebut posisi, tentu saja dia tidak mau ikut-ikutan trend pasar seni rupa terkini. Dia bukan tipe perupa yang mudah didikte oleh selera pasar.

Kabul lahir di Apuan, Tabanan, 30 Desember 1978. Dia menamatkan pendidikan seni rupa di ISI Denpasar. Sejak 2003, dia rajin terlibat dalam banyak pameran bersama, baik di dalam maupun luar negeri. Pameran tunggalnya antara lain “Suasana Lebah” di  Sudana Gallery, Ubud, Bali (2009) dan “Suhu Lebah” di Maha Art Gallery, Renon, Bali (2010).

Di zaman mutakhir ini, Kabul merupakan salah satu contoh seniman yang masih hidup dalam dua kutub besar yang tarik menarik, antara tradisi dan modern. Namun hal itu tidaklah menjadi persoalan baginya. Misalnya, dia ikut ngayah (kerja sukarela) membuat barong di Pura Natar Sari, Apuan, Tabanan, untuk memenuhi panggilan tradisi dan relegi.

Atau pada waktu lain dia menyibukkan diri menjelajahi berbagai kemungkinan yang ditawarkan seni rupa modern, melalui pergulatan dalam penguasaan keterampilan teknis, pemikiran dan perenungan mendalam dari letupan-letupan gagasan. Bias-bias seni tradisi dan modern seringkali muncul saling melengkapi dalam lukisan-lukisan awalnya. Bagaimana pun juga manusia tidak bisa sepenuhnya lari dari “ibu tradisi”.

I Ketut Suasana alias Kabul memberi sambutran pada pameran tunggalnya di Kelir Art Gallery, The Kayon Jungle Resort, Payangan, Gianyar, Bali

Dalam melukis, Kabul cenderung mengikuti selera dan naluri jiwanya. Letupan-letupan gagasan seringkali menari-nari di kepalanya yang kemudian muncul melalui karya-karyanya. Selain berbekal ketrampilan teknis yang memadai, Kabul berupaya menggali gagasan dari banyak membaca dan menggerakkan seluruh inderanya.

Hal itu bisa dilihat pada lukisan-lukisan terkininya yang dipamerkan di Kelir Art Gallery, The Kayon Jungle Resort, Payangan, Gianyar, Bali. Pameran bertajuk “Suasana Lebah” itu digelar dari tanggal 1 Desember 2025 hingga 1 Januari 2026, menampilkan lebah sebagai simbol dan metafora untuk melihat kondisi zaman.

Kabul telah lama tertarik pada keindahan lebah, terlebih lagi kehidupan lebah yang sarat semangat kebersamaan. Secara serius Kabul mempelajari filosofi kehidupan lebah, serangga yang mengalami metamorfosis sempurna, yakni dari telur, larva, kepompong (pupa) dan lebah.

Menurut Kabul, lebah termasuk serangga yang sangat unik. Umumnya lebah hidup berkelompok, meski ada juga jenis lebah yang suka hidup menyendiri (soliter). Lebah tidak akan menyerang jika tidak diganggu. Masyarakat lebah mengenal pembagian kerja. Lebah ratu yang hanya satu ekor dalam setiap koloni bertugas mengatur semua kegiatan lebah betina dan pejantan. Lebah ratu mampu hidup hingga tiga tahun, tugas utamanya kawin dan bertelur.

Karya-karya I Ketut Suasana alias Kabul yang dipamerkan di Kelir Art Gallery, The Kayon Jungle Resort, Payangan, Gianyar, Bali

Lebah betina atau lebah pekerja bertugas mengumpulkan serbuk sari dan nektar untuk diolah menjadi madu yang disimpan dalam sarangnya. Lebah betina yang lain bertugas membersihkan sarang dan menjaga anak-anak lebah. Masa hidup lebah pekerja sekitar tiga bulan. Lebah betina terbentuk tanpa melalui perkawinan dan mandul. Lebah jantan bertugas mengawini lebah ratu dan mati setelah kawin.

Dunia lebah memang sangat mengagumkan. Misalnya, lebah mampu membuat sarang yang sangat rumit dan artistik. Itulah salah satu keahlian yang diberkati semesta kepada lebah. Meski bertubuh kecil, lebah mampu bekerjasama dan menyelesaikan tugas-tugas besar untuk suatu tujuan bersama. Manusia belum tentu mampu menyaingi koloni lebah dalam urusan kerjasama atau kehidupan sosial. Karena manusia masih diselimuti ego individu. Bagi lebah, hidup adalah bekerja, tanpa kenal istirahat, demi kepentingan dan kebaikan bersama. Mungkin, begitu juga bagi Kabul.

Seluruh lukisan Kabul berkisah tentang dunia dan suasana lebah. Secara umum kecenderungan visual lukisan Kabul bisa dipilah menjadi bentuk-bentuk abstraksi dan deformatif. Kecenderungan abstraksi terlihat pada upaya-upaya Kabul menciptakan efek-efek stilisasi atau pengayaan formasi-formasi kerumunan lebah. Irama yang cenderung repetitif berpadu dengan komposisi warna, garis, bidang sehingga melahirkan kedinamisan. Terkadang sapuan-sapuan warna yang membentuk latar dibuat secara acak sesuai naluri arus bawah sadarnya. Pilihan warna-warna tertentu  mewakili perasaan Kabul pada setiap sesion lukisannya.

Hal itu, misalnya, bisa dilihat pada lukisan berjudul “Populasi Lebah 1” (150 x 200 cm, akrilik di kanvas, 2023) yang mengisahkan kerumunan lebah sedang terbang melintasi langit biru. Atau, kecenderungan abstraksi pada komposisi lukisan bisa dinikmati pada karya berjudul “Abstraksi Alam Lebah 1” (140 x 200 cm, akrilik di kanvas, 2025). Dalam lukisan ini, Kabul memainkan komposisi kerumunan lebah yang sedang terbang dipadukan dengan garis-garis warna-warni yang menyerupai sulur-sulur halus.

Karya-karya I Ketut Suasana alias Kabul yang dipamerkan di Kelir Art Gallery, The Kayon Jungle Resort, Payangan, Gianyar, Bali

Hal senada juga tampak pada lukisan “Abstraksi Alam Lebah II” (120 x 200 cm, akrilik di kanvas, 2025) dan “Abstraksi Alam Lebah III” (150 x 120 cm, akrilik di kanvas, 2025). Permainan komposisi yang menarik juga terlihat pada lukisan “Planet Lebah” (150 x 200 cm, akrilik di kanvas, 2025). Begitulah. Melalui lukisan-lukisan dengan subjek matter lebah, Kabul mengajak apresian untuk kembali merenungi kehidupan lebah. Terlebih dalam zaman yang serba individualis ini. [T]

Penulis: Wayan Jengki Sunarta
Editor: Adnyana Ole

Tags: Kelir Art GalleryKetut Suasana KabulPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

Next Post

‘Incomudro’: Mercusuar di Samudera Malam

Wayan Jengki Sunarta

Wayan Jengki Sunarta

Penulis puisi, cerpen, novel, esai/artikel/ulasan seni. Penyuka seni, batu akik & barang antik.

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
‘Incomudro’: Mercusuar di Samudera Malam

'Incomudro': Mercusuar di Samudera Malam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co