25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kabul dan Lebah

Wayan Jengki Sunarta by Wayan Jengki Sunarta
December 27, 2025
in Ulas Rupa
Kabul dan Lebah

I Ketut Suasana alias Kabul dan karya-karya yang dipamerkan di Kelir Art Gallery, The Kayon Jungle Resort, Payangan, Gianyar, Bali

DUNIA seni rupa tidak hanya unjuk keterampilan teknis, melainkan juga pergulatan ide, pemikiran atau wacana, untuk mencoba melahirkan berbagai terobosan baru. Namun  pada kenyataannya, dunia seni rupa dipersempit dengan maraknya trend atau selera pasar dimana banyak perupa muda hanya menjadi epigon, tanpa memiliki pendirian jelas.        

Di Bali, ratusan pelukis muda bermunculan, berebut posisi dengan berbagai cara. Ada yang datang, ada yang hilang. Seperti kata pepatah: mati satu, tumbuh seribu. Tentu hukum seleksi alam sangat ketat dalam rimba belantara seni rupa mutakhir. Yang kuat dari segi gagasan, keterampilan teknis, memiliki ketekunan, punya peluang terus bertahan. Yang lemah dan plintat-plintut dipastikan akan tergerus zaman.

Karya-karya I Ketut Suasana alias Kabul yang dipamerkan di Kelir Art Gallery, The Kayon Jungle Resort, Payangan, Gianyar, Bali

I Ketut Suasana alias Kabul termasuk salah satu perupa yang gigih berebut posisi. Ada keinginan kuat dan berbagai percikan impian dalam dirinya, untuk terus melangkah dengan mantap menjadi perupa yang diperhitungkan. Energi kreatifnya terus meletup-letup. Dalam upaya merebut posisi, tentu saja dia tidak mau ikut-ikutan trend pasar seni rupa terkini. Dia bukan tipe perupa yang mudah didikte oleh selera pasar.

Kabul lahir di Apuan, Tabanan, 30 Desember 1978. Dia menamatkan pendidikan seni rupa di ISI Denpasar. Sejak 2003, dia rajin terlibat dalam banyak pameran bersama, baik di dalam maupun luar negeri. Pameran tunggalnya antara lain “Suasana Lebah” di  Sudana Gallery, Ubud, Bali (2009) dan “Suhu Lebah” di Maha Art Gallery, Renon, Bali (2010).

Di zaman mutakhir ini, Kabul merupakan salah satu contoh seniman yang masih hidup dalam dua kutub besar yang tarik menarik, antara tradisi dan modern. Namun hal itu tidaklah menjadi persoalan baginya. Misalnya, dia ikut ngayah (kerja sukarela) membuat barong di Pura Natar Sari, Apuan, Tabanan, untuk memenuhi panggilan tradisi dan relegi.

Atau pada waktu lain dia menyibukkan diri menjelajahi berbagai kemungkinan yang ditawarkan seni rupa modern, melalui pergulatan dalam penguasaan keterampilan teknis, pemikiran dan perenungan mendalam dari letupan-letupan gagasan. Bias-bias seni tradisi dan modern seringkali muncul saling melengkapi dalam lukisan-lukisan awalnya. Bagaimana pun juga manusia tidak bisa sepenuhnya lari dari “ibu tradisi”.

I Ketut Suasana alias Kabul memberi sambutran pada pameran tunggalnya di Kelir Art Gallery, The Kayon Jungle Resort, Payangan, Gianyar, Bali

Dalam melukis, Kabul cenderung mengikuti selera dan naluri jiwanya. Letupan-letupan gagasan seringkali menari-nari di kepalanya yang kemudian muncul melalui karya-karyanya. Selain berbekal ketrampilan teknis yang memadai, Kabul berupaya menggali gagasan dari banyak membaca dan menggerakkan seluruh inderanya.

Hal itu bisa dilihat pada lukisan-lukisan terkininya yang dipamerkan di Kelir Art Gallery, The Kayon Jungle Resort, Payangan, Gianyar, Bali. Pameran bertajuk “Suasana Lebah” itu digelar dari tanggal 1 Desember 2025 hingga 1 Januari 2026, menampilkan lebah sebagai simbol dan metafora untuk melihat kondisi zaman.

Kabul telah lama tertarik pada keindahan lebah, terlebih lagi kehidupan lebah yang sarat semangat kebersamaan. Secara serius Kabul mempelajari filosofi kehidupan lebah, serangga yang mengalami metamorfosis sempurna, yakni dari telur, larva, kepompong (pupa) dan lebah.

Menurut Kabul, lebah termasuk serangga yang sangat unik. Umumnya lebah hidup berkelompok, meski ada juga jenis lebah yang suka hidup menyendiri (soliter). Lebah tidak akan menyerang jika tidak diganggu. Masyarakat lebah mengenal pembagian kerja. Lebah ratu yang hanya satu ekor dalam setiap koloni bertugas mengatur semua kegiatan lebah betina dan pejantan. Lebah ratu mampu hidup hingga tiga tahun, tugas utamanya kawin dan bertelur.

Karya-karya I Ketut Suasana alias Kabul yang dipamerkan di Kelir Art Gallery, The Kayon Jungle Resort, Payangan, Gianyar, Bali

Lebah betina atau lebah pekerja bertugas mengumpulkan serbuk sari dan nektar untuk diolah menjadi madu yang disimpan dalam sarangnya. Lebah betina yang lain bertugas membersihkan sarang dan menjaga anak-anak lebah. Masa hidup lebah pekerja sekitar tiga bulan. Lebah betina terbentuk tanpa melalui perkawinan dan mandul. Lebah jantan bertugas mengawini lebah ratu dan mati setelah kawin.

Dunia lebah memang sangat mengagumkan. Misalnya, lebah mampu membuat sarang yang sangat rumit dan artistik. Itulah salah satu keahlian yang diberkati semesta kepada lebah. Meski bertubuh kecil, lebah mampu bekerjasama dan menyelesaikan tugas-tugas besar untuk suatu tujuan bersama. Manusia belum tentu mampu menyaingi koloni lebah dalam urusan kerjasama atau kehidupan sosial. Karena manusia masih diselimuti ego individu. Bagi lebah, hidup adalah bekerja, tanpa kenal istirahat, demi kepentingan dan kebaikan bersama. Mungkin, begitu juga bagi Kabul.

Seluruh lukisan Kabul berkisah tentang dunia dan suasana lebah. Secara umum kecenderungan visual lukisan Kabul bisa dipilah menjadi bentuk-bentuk abstraksi dan deformatif. Kecenderungan abstraksi terlihat pada upaya-upaya Kabul menciptakan efek-efek stilisasi atau pengayaan formasi-formasi kerumunan lebah. Irama yang cenderung repetitif berpadu dengan komposisi warna, garis, bidang sehingga melahirkan kedinamisan. Terkadang sapuan-sapuan warna yang membentuk latar dibuat secara acak sesuai naluri arus bawah sadarnya. Pilihan warna-warna tertentu  mewakili perasaan Kabul pada setiap sesion lukisannya.

Hal itu, misalnya, bisa dilihat pada lukisan berjudul “Populasi Lebah 1” (150 x 200 cm, akrilik di kanvas, 2023) yang mengisahkan kerumunan lebah sedang terbang melintasi langit biru. Atau, kecenderungan abstraksi pada komposisi lukisan bisa dinikmati pada karya berjudul “Abstraksi Alam Lebah 1” (140 x 200 cm, akrilik di kanvas, 2025). Dalam lukisan ini, Kabul memainkan komposisi kerumunan lebah yang sedang terbang dipadukan dengan garis-garis warna-warni yang menyerupai sulur-sulur halus.

Karya-karya I Ketut Suasana alias Kabul yang dipamerkan di Kelir Art Gallery, The Kayon Jungle Resort, Payangan, Gianyar, Bali

Hal senada juga tampak pada lukisan “Abstraksi Alam Lebah II” (120 x 200 cm, akrilik di kanvas, 2025) dan “Abstraksi Alam Lebah III” (150 x 120 cm, akrilik di kanvas, 2025). Permainan komposisi yang menarik juga terlihat pada lukisan “Planet Lebah” (150 x 200 cm, akrilik di kanvas, 2025). Begitulah. Melalui lukisan-lukisan dengan subjek matter lebah, Kabul mengajak apresian untuk kembali merenungi kehidupan lebah. Terlebih dalam zaman yang serba individualis ini. [T]

Penulis: Wayan Jengki Sunarta
Editor: Adnyana Ole

Tags: Kelir Art GalleryKetut Suasana KabulPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

Next Post

‘Incomudro’: Mercusuar di Samudera Malam

Wayan Jengki Sunarta

Wayan Jengki Sunarta

Penulis puisi, cerpen, novel, esai/artikel/ulasan seni. Penyuka seni, batu akik & barang antik.

Related Posts

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails
Next Post
‘Incomudro’: Mercusuar di Samudera Malam

'Incomudro': Mercusuar di Samudera Malam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co