23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Timbul Suheri, Cerita Tentang Lapak dan Pasar Loak di Kreneng

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
February 6, 2025
in Persona
Timbul Suheri, Cerita Tentang Lapak dan Pasar Loak di Kreneng

Timbul Suheri | Foto: tatkala.co/Dede

“Ya, beginilah hidup yang sesungguhnya, De, harus berjuang demi bisa makan dan menghidupi keluarga. Apapun pekerjaannya, gak boleh pilih-pilih, yang penting halal.”

Begitulah ucap Timbul Suheri, akrab disapa Pak Timbul. Ia merupakan salah satu pedagang di pasar loak Kreneng, berjualan sejak tahun 1983 sampai sekarang.

Pasar loak adalah surganya para pemburu barang unik dan antik. Di pasar loak Kreneng, berbagai macam barang masa lampau bisa ditemukan di sana. Tentunya, dengan harga yang terjangkau. Akan tetapi, tak semua barang di pasar loak itu berfungsi dengan baik. Ya, namanya saja barang bekas, jadi sudah pasti tidak seratus persen berkualitas. Kalaupun ada barang yang bagus, itu adalah keberuntungan.

Sebagian orang memaklumi hal tersebut, tak sedikit juga orang mencari barang loak hanya untuk memuaskan diri saja. Entah dijadikan barang pajangan, koleksi, ataupun hanya bernostalgia.

Suasana pasar loak Kreneng | Foto: tatkala.co/Dede

Itulah yang terjadi di pasar loak Kreneng. Para pelapak di sana hanya berjualan setengah hari, karena memang pasar loak itu beroperasi dari pagi sampai jam 12 siang saja. Pasar loak Kreneng tidak pernah sepi, setiap hari selalu ramai, dan kebanyakan pembeli adalah laki-laki. Mereka membeli pakaian, elektronik, dan barang-barang lainnya. Di sanalah transaksi terjadi dan tawar-menawar berlangsung.

Timbul Suheri | Foto: tatkala.co/Dede

Pasar loak ini terletak di Jalan Rampai, kawasan pasar Kreneng, Denpasar. Di sanalah perjumpaan pertama saya dengan Pak Timbul. Sebelum sampai di lapaknya, dari kejauhan terdengar sayup-sayup suara keyboard (mirip seperti organ). karena penasaran, saya pun mencari sumber suara tersebut. Ternyata, itu berasal dari lapak Pak Timbul, ia asyik sendiri bermain keyboard sembari menanti pembeli.

Timbul Suheri saat bermain keyboard | Foto: tatkala.co

Pria kelahiran tahun 1963, asal Banyuwangi ini memang gemar bermain keyboard. Selain gemar bermain musik, ia juga suka bercerita. Kala itu saya datang untuk membeli kaset pita, kebetulan di lapaknya ada banyak kaset pita dan beberapa CD. Sembari memilah dan memilih, kami pun saling berbagi cerita. Sepertinya Pak Timbul memang jarang dapat teman cerita. Jadi ketika diajak mengobrol, ceritanya langsung mengalir cair.

Ia mengaku merantau ke Bali pada tahun 1979, kemudian mulai berjualan loak sejak tahun 1983. Selain itu, ia juga nyambi bekerja sebagai kuli paruh waktu dan kerja serabutan. Ia bisa menyervis barang elektronik, mengurus kelistrikan, dan masih banyak lagi. Pak Timbul adalah orang yang serba bisa.

Diusianya yang tidak muda lagi, kini ia hanya berkutat dengan lapak loaknya yang buka hanya setengah hari. Setelah melapak, kesibukannya adalah mengurusi rumah tangga dan mengasuh satu cucu yang tinggal bersamanya.

Pak Timbul memiliki dua anak, satu kerja menjadi TKW di luar negeri, dan satu lagi kerja di salah satu perusahaan di Kuta. Ia memiliki dua cucu, tapi ia mengasuh satu cucunya saja. Ia menceritakan itu hanya selintas, sepertinya ia tidak mau cerita terlalu dalam tentang hal tersebut.

Timbul Suheri melayani pembeli | Foto: tatkala.co/Dede

Berbagai barang loak yang ada dilapaknya datang dari berbagai agen dan beberapa temannya. Selain barang loak, ia juga menjual barang baru, seperti obeng, tang, kunci pas, dan segala macam perkakas bangunan dan listrik.

“Gak semuanya barang loak De, yang di depan ini barang baru semua. Saya ngambil di salah satu Toko di Jalan Buluh Indah, Denpasar. Saya sudah langganan sejak 2004 di sana,” ucapnya sembari menunjuk perkakas yang dijualnya.

Ia juga mengatakan, hasil dari jualan loak biasanya tidak menentu. Bahkan kadang kala minus, bisa melebihi pajak yang wajib ia bayar setiap harinya. Tetapi baginya, hasil jualan sejauh ini masih mencukupi kebutuhan hidupnya dan keluarga, meski harus berhemat

Waktu terus bergulir dan cerita pun kian mengalir. Pak Timbul menceritakan, sebelum melapak di tempat yang sekarang, dahulu ia berjualan di tempat yang berbeda, dan dianggap liar oleh aparat, karena memakan bahu jalan. Kemudian pada tahun 2006, barulah pindah ke tempat yang sekarang.

“Dulu karena di pinggir jalan, kerjaan saya tiap hari bertengkar dengan tibum (Satpol PP). Tiada hari tanpa bertengkar, tapi sengotot apapun, tetap saja barang dagangan kita disita,” ungkapnya.

Beberapa CD dan Kaset Pita di lapak Timbul Suheri | Foto: tatkala.co/Dede

Ketika lapaknya sedang sepi, Pak Timbul menunjukkan beberapa koleksi uang logam yang dibawanya. Kata Pak Timbul, zaman dulu uang 100 Rupiah itu bisa beli apa saja, nominal segitu sudah lumayan besar pada masa silam.

“Saya bukan kolektor, tapi memang dari dulu saya simpan uang-uang ini. Kalau ada kolektor yang mau meminang, ya silakan,” ujarnya sembari menunjukkan logam 100 Rupiah edisi tahun 1978.

“Zaman dulu ya De, naik bemo atau Chevrolet (taksi) dari Kreneng ke Sanur, hanya bayar 10 Rupiah saja. Kalau sekarang, mungkin naik taksi bisa 60 ribuan ke atas,” jelasnya meyakinkan.

Beberapa koleksi uang logam milik Timbul Suheri | Foto: tatkala.co/Dede

Sebelum saya beranjak pergi dari lapaknya, ia memberikan berbagai tips dan trik menawar yang jitu.

“Kalau di pasar loak seperti ini, kita harus jago menawar, De. Sini saya kasih tahu,” katanya mengernyitkan dahi.

Saya pun mendekat, ia berbicara berbisik. Barangkali agar pelapak lain tidak mendengar.

Ini salah satu tips darinya, “kalau kamu dikasi harga tinggi, tawarlah seperempatnya De. Kalau gak dikasih, tinggal saja, nanti juga kamu dipanggil lagi, seperti ibu-ibu menawar baju, hahaha,” ujar Pak Timbul sembari tertawa.

Semua trik yang Pak Timbul berikan, saya coba terapkan di lapak yang lain. Alhasil, saya mendapatkan dua walkman hanya seharga 50 ribu Rupiah.

Ketika hendak pergi dari lapak Pak Timbul, saya mengambil kaset-kaset yang sudah saya beli. Tetapi dengan baik hati, ia memberikan saya bonus dua kaset. Ini bawa saja De, nanti kalau ada kaset lagi akan saya kabari,” ucapnya sembari menyodorkan kaset itu. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Kembali ke Toko Kharisma Music, Bersama Made Sujaya Memutar Nostalgia dengan Kaset Pita
Tags: denpasarPasar Kreneng Denpasarpasar loak
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Book Café Halaman Belakang di Singaraja — Cocok untuk Baca Buku, juga Main Game di Toilet

Next Post

SMAN Bali Mandara dan Tantangan Lomba Debat Bahasa Bali: “Debat Bisa, Berbahasa Belum Tentu!”

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails
Next Post
SMAN Bali Mandara dan Tantangan Lomba Debat Bahasa Bali: “Debat Bisa, Berbahasa Belum Tentu!”

SMAN Bali Mandara dan Tantangan Lomba Debat Bahasa Bali: “Debat Bisa, Berbahasa Belum Tentu!”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co