22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Timbul Suheri, Cerita Tentang Lapak dan Pasar Loak di Kreneng

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
February 6, 2025
in Persona
Timbul Suheri, Cerita Tentang Lapak dan Pasar Loak di Kreneng

Timbul Suheri | Foto: tatkala.co/Dede

“Ya, beginilah hidup yang sesungguhnya, De, harus berjuang demi bisa makan dan menghidupi keluarga. Apapun pekerjaannya, gak boleh pilih-pilih, yang penting halal.”

Begitulah ucap Timbul Suheri, akrab disapa Pak Timbul. Ia merupakan salah satu pedagang di pasar loak Kreneng, berjualan sejak tahun 1983 sampai sekarang.

Pasar loak adalah surganya para pemburu barang unik dan antik. Di pasar loak Kreneng, berbagai macam barang masa lampau bisa ditemukan di sana. Tentunya, dengan harga yang terjangkau. Akan tetapi, tak semua barang di pasar loak itu berfungsi dengan baik. Ya, namanya saja barang bekas, jadi sudah pasti tidak seratus persen berkualitas. Kalaupun ada barang yang bagus, itu adalah keberuntungan.

Sebagian orang memaklumi hal tersebut, tak sedikit juga orang mencari barang loak hanya untuk memuaskan diri saja. Entah dijadikan barang pajangan, koleksi, ataupun hanya bernostalgia.

Suasana pasar loak Kreneng | Foto: tatkala.co/Dede

Itulah yang terjadi di pasar loak Kreneng. Para pelapak di sana hanya berjualan setengah hari, karena memang pasar loak itu beroperasi dari pagi sampai jam 12 siang saja. Pasar loak Kreneng tidak pernah sepi, setiap hari selalu ramai, dan kebanyakan pembeli adalah laki-laki. Mereka membeli pakaian, elektronik, dan barang-barang lainnya. Di sanalah transaksi terjadi dan tawar-menawar berlangsung.

Timbul Suheri | Foto: tatkala.co/Dede

Pasar loak ini terletak di Jalan Rampai, kawasan pasar Kreneng, Denpasar. Di sanalah perjumpaan pertama saya dengan Pak Timbul. Sebelum sampai di lapaknya, dari kejauhan terdengar sayup-sayup suara keyboard (mirip seperti organ). karena penasaran, saya pun mencari sumber suara tersebut. Ternyata, itu berasal dari lapak Pak Timbul, ia asyik sendiri bermain keyboard sembari menanti pembeli.

Timbul Suheri saat bermain keyboard | Foto: tatkala.co

Pria kelahiran tahun 1963, asal Banyuwangi ini memang gemar bermain keyboard. Selain gemar bermain musik, ia juga suka bercerita. Kala itu saya datang untuk membeli kaset pita, kebetulan di lapaknya ada banyak kaset pita dan beberapa CD. Sembari memilah dan memilih, kami pun saling berbagi cerita. Sepertinya Pak Timbul memang jarang dapat teman cerita. Jadi ketika diajak mengobrol, ceritanya langsung mengalir cair.

Ia mengaku merantau ke Bali pada tahun 1979, kemudian mulai berjualan loak sejak tahun 1983. Selain itu, ia juga nyambi bekerja sebagai kuli paruh waktu dan kerja serabutan. Ia bisa menyervis barang elektronik, mengurus kelistrikan, dan masih banyak lagi. Pak Timbul adalah orang yang serba bisa.

Diusianya yang tidak muda lagi, kini ia hanya berkutat dengan lapak loaknya yang buka hanya setengah hari. Setelah melapak, kesibukannya adalah mengurusi rumah tangga dan mengasuh satu cucu yang tinggal bersamanya.

Pak Timbul memiliki dua anak, satu kerja menjadi TKW di luar negeri, dan satu lagi kerja di salah satu perusahaan di Kuta. Ia memiliki dua cucu, tapi ia mengasuh satu cucunya saja. Ia menceritakan itu hanya selintas, sepertinya ia tidak mau cerita terlalu dalam tentang hal tersebut.

Timbul Suheri melayani pembeli | Foto: tatkala.co/Dede

Berbagai barang loak yang ada dilapaknya datang dari berbagai agen dan beberapa temannya. Selain barang loak, ia juga menjual barang baru, seperti obeng, tang, kunci pas, dan segala macam perkakas bangunan dan listrik.

“Gak semuanya barang loak De, yang di depan ini barang baru semua. Saya ngambil di salah satu Toko di Jalan Buluh Indah, Denpasar. Saya sudah langganan sejak 2004 di sana,” ucapnya sembari menunjuk perkakas yang dijualnya.

Ia juga mengatakan, hasil dari jualan loak biasanya tidak menentu. Bahkan kadang kala minus, bisa melebihi pajak yang wajib ia bayar setiap harinya. Tetapi baginya, hasil jualan sejauh ini masih mencukupi kebutuhan hidupnya dan keluarga, meski harus berhemat

Waktu terus bergulir dan cerita pun kian mengalir. Pak Timbul menceritakan, sebelum melapak di tempat yang sekarang, dahulu ia berjualan di tempat yang berbeda, dan dianggap liar oleh aparat, karena memakan bahu jalan. Kemudian pada tahun 2006, barulah pindah ke tempat yang sekarang.

“Dulu karena di pinggir jalan, kerjaan saya tiap hari bertengkar dengan tibum (Satpol PP). Tiada hari tanpa bertengkar, tapi sengotot apapun, tetap saja barang dagangan kita disita,” ungkapnya.

Beberapa CD dan Kaset Pita di lapak Timbul Suheri | Foto: tatkala.co/Dede

Ketika lapaknya sedang sepi, Pak Timbul menunjukkan beberapa koleksi uang logam yang dibawanya. Kata Pak Timbul, zaman dulu uang 100 Rupiah itu bisa beli apa saja, nominal segitu sudah lumayan besar pada masa silam.

“Saya bukan kolektor, tapi memang dari dulu saya simpan uang-uang ini. Kalau ada kolektor yang mau meminang, ya silakan,” ujarnya sembari menunjukkan logam 100 Rupiah edisi tahun 1978.

“Zaman dulu ya De, naik bemo atau Chevrolet (taksi) dari Kreneng ke Sanur, hanya bayar 10 Rupiah saja. Kalau sekarang, mungkin naik taksi bisa 60 ribuan ke atas,” jelasnya meyakinkan.

Beberapa koleksi uang logam milik Timbul Suheri | Foto: tatkala.co/Dede

Sebelum saya beranjak pergi dari lapaknya, ia memberikan berbagai tips dan trik menawar yang jitu.

“Kalau di pasar loak seperti ini, kita harus jago menawar, De. Sini saya kasih tahu,” katanya mengernyitkan dahi.

Saya pun mendekat, ia berbicara berbisik. Barangkali agar pelapak lain tidak mendengar.

Ini salah satu tips darinya, “kalau kamu dikasi harga tinggi, tawarlah seperempatnya De. Kalau gak dikasih, tinggal saja, nanti juga kamu dipanggil lagi, seperti ibu-ibu menawar baju, hahaha,” ujar Pak Timbul sembari tertawa.

Semua trik yang Pak Timbul berikan, saya coba terapkan di lapak yang lain. Alhasil, saya mendapatkan dua walkman hanya seharga 50 ribu Rupiah.

Ketika hendak pergi dari lapak Pak Timbul, saya mengambil kaset-kaset yang sudah saya beli. Tetapi dengan baik hati, ia memberikan saya bonus dua kaset. Ini bawa saja De, nanti kalau ada kaset lagi akan saya kabari,” ucapnya sembari menyodorkan kaset itu. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Kembali ke Toko Kharisma Music, Bersama Made Sujaya Memutar Nostalgia dengan Kaset Pita
Tags: denpasarPasar Kreneng Denpasarpasar loak
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Book Café Halaman Belakang di Singaraja — Cocok untuk Baca Buku, juga Main Game di Toilet

Next Post

SMAN Bali Mandara dan Tantangan Lomba Debat Bahasa Bali: “Debat Bisa, Berbahasa Belum Tentu!”

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
0
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

Read moreDetails

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
0
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

Read moreDetails

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails
Next Post
SMAN Bali Mandara dan Tantangan Lomba Debat Bahasa Bali: “Debat Bisa, Berbahasa Belum Tentu!”

SMAN Bali Mandara dan Tantangan Lomba Debat Bahasa Bali: “Debat Bisa, Berbahasa Belum Tentu!”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co