24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menguatkan Sekaligus Meleburkan Identitas dalam Seni Pertunjukan Kontemporer – Dari Penutupan B-Part

Son Lomri by Son Lomri
December 3, 2024
in Khas
Menguatkan Sekaligus Meleburkan Identitas dalam Seni Pertunjukan Kontemporer – Dari Penutupan B-Part

Pertunjukan “Sejak Padi Mengakar” dari Bang Dance | Foto: tatkala.co/Son

SETELAH berlangsung tiga hari, B-Part berakhir, Minggu 1 Desember 2024. Malam terakhir BALI Performing Arts Meeting (B-PART), di Masa Masa Bali, kawasan Ketewel, Gianyar, itu dipenuhi penuh suasana akrab, intim, dan guyub. Orang-orang makan malam. Minum bir. Minum kopi, saling berbincang banyak hal, terutama materi-materi penting di B-Part. Enjoy.

Menonton seni pertunjukkan di hari terakhir B-Part itu, seperti buncah emosional yang dituntaskan, jadi lebih padat, mendalam. Tentu, karena dua hari sebelumnya B-Part telah diisi dengan berbagai macam suguhan pengetahuan yang segar, dalam hal ini terkait seni pertunjukan dan bagaimana wacana kesenian ke depan di Bali, atau di dunia global.

Di sebuah geladak—Rusdi Ulu (24), pergi ke sebuah beranda Masa Masa, sebuah tempat dengan paduan galeri dan resto itu. Ia duduk di beranda itu, tak jauh dari ruang Pithecantropus—tempat di mana kain tenun dijajakan di resto itu. Ia duduk di salah satu kursi, dan menyalami beberapa temannya di sana. Menyalakan rokok, lalu mengobrol.

Kesan pertama yang ia hirup, adalah obrolan dan bagaimana seni terpacak sebagai wacana di kepalanya.  

“Kita seperti di tempat penuh percobaan. Maksudnya, orang-orang mempertunjukkan karya eksperimental dan aku pasti tak paham, tapi terus mencoba untuk paham, haha…” kata Rusdi.

Ia adalah teman saya dari Komunitas Mahima dan kami berangkat dengan mobil yang sama, dan baru sampai ketika sore.

“Tapi aku menikmati. Ini seperti meneguk banyak pengetahuan yang tidak aku tahu,” katanya lanjut.

Di lantai dua, di Ruang Minor, ada diskusi “Merawat Pengetahuan Dalam Riset Artistik Pertunjukan”. Diskusi berlangsung sedang berlanjut oleh Kadek Sonia Piscayanti, Dewa Gede Edi Praditha, Jacko Kaneko dan Iqbal Samudra. Orang-orang sudah berkumpul di sana dan beberapa orang mengeluarkan buku catatannya. Mencatat.

Menaiki anak tangga, Rusdi Ulu, lelaki asal Bima itu, pergi ke ruang diskusi dan duduk tenggelam menyimak obrolan tentang bagaimana merawat kesadaran kepada perempuan, dalam hal ini melalui teater yang dibawakan pemateri pertama, Sonia Piscayanti.

Diskusi “Merawat Pengetahuan Dalam Riset Artistik Pertunjukan” di B-Part | Foto: tatkala.co/Amri

Sebagai seorang sutradara teater yang pernah memestaskan 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah itu, Sonia Piscayanti membawakan hasil pengamatannya tentang teater bukan lagi sekadar sebuah penampilan. Akademisi sekaligus penyair itu menyampaikannya dengan begitu emosional.

“Teater adalah sebuah perjuangan, dan akan terus begitu dan dibahas, tak ada ujungnya!” kata Sonia saat membawakan materi Perawatan Perempuan : Mindfulness-Based Theater.

Transit di B Part: Menenggak Pengetahuan, Tenggelam pada Seni Pertunjukan

Setelah acara diskusi selesai, malam ditutup dengan pertunjukan tari dari Bang Dance—sebagai penutup B-Part. Garapan tari itu berjudul “Sejak Padi Mengakar” dengan koregrafer I Putu Bagus Bang Sada Graha Saputra atau biasa dipanggil dengan nama Gus Bang Sada.

Orang-orang tenggelam menonton para penari menggerakkan tubuh mereka sebagai percakapan, atau sebagai persembahan kepada penonton. Seperti sedang ekstakse, para penari begitu tenggelam pada tubuhnya sendiri. Panggung, tempat mereka tampil, nyaris menyatu dengan space penonton, yang duduk atau berdiri, dan itu membuat suasana makin intim. Penonton pun ikut tenggelam menyaksikan gerak tubuh dan barangkali ikut merasakannya.

Penuh simbolik. Tarian tubuh para penari dari Bang Dance itu bisa dipandang sekadar sebagai tontonan, bisa lebih serius dipandang sebagai peringatan pada sesuatu. Sesuatu yang tak baik-baik saja. Di Bali. Semisal prahara tanah dan fenomena sosial lainnya.

Pertunjukan “Sejak Padi Mengakar” dari Bang Dance | Foto: tatkala.co/Amri

Pertunjukan “Sejak Padi Mengakar” adalah hasil dari riset yang panjang seorang Gus Bang. Konon ia melihat perubahan di sekitar Desa Singapadu, Gianyar. Adanya jalur perlintasan pariwisata menjadi salah satu penyebab desa itu mengalami alih fungsi lahan pertanian secara massif.

Sebab itulah barangkali, para pemain tenggelam dan begitu menyatu pada hayat tarian. Saya menyebutnya ekstaksi tarian. Tentu, dalam hal ini, bukan hanya terbitnya gedung setelah sawah yang mereka bayangkan saat menari, tetapi juga bagaimana alihfungsi itu diikuti dengan sikap saling acuh sesama warga. Itu menjadi bahan pikiran yang kompleks, sehingga tercipta garapan itu  sebagai sebuah “masalah” yang ditarikan dengan penuh imajinasi.

Sementara secara artistik, Gus Bang menawarkan sikap duduk yang dipinjam dari salah satu sikap tari tradisi Bali, yakni Tari Kebyar Duduk, untuk menyatakan sikap kepemilikan atas lahan tersebut sekaligus bentuk adaptasi tubuh itu sendiri atas ruang yang mulai berubah.

Sebagai forum tukar tangkap pengetahuan bagi para seniman dan peneliti seni pertunjukan bersama penonton,  B-Part memang dibangun untuk melihat sejauh mana proses kreatif dari hasil temuan serta pertunjukan work in progress yang sedang dikembangkan para seniman seni pertunjukan.

B-Part akan terus melakukan evaluasi paling radikal sebagai sebuah transit pengetahuan tentang kesenian kontemporer, dalam hal ini seni pertunjukan dengan pelaku seni lainnya. Sebagaimana B-Part sendiri memiliki tujuan menjadikan ruang festival ini sebagai temu seni bagi jejaring platform, seniman, dan kelompok multidisiplin pertunjukan.

“B-Part sebagai festival tergolong masih sangat muda. Ini merupakkan B-Part tahun kedua, Dimana kita juga mesti menyadari saya sendiri sebagai bagian dari kepanitiaan, bahwa ada banyak hal itu yang perlu ditambal dan ada banyak hal yang mesti dibenahi,” kata Agus Wiratama, Manager Program B-Part.

Dua Observer di Selasar Panggung: Tentang B-Part

Ada dua observer di acara B-Part, dan dua-duanya sangat ekspert di bidangngnya masing-masing. Pertama, Galuh Pangestri, seorang kerografer dari Tarang Taruna. Kedua, Arif Wibowo, seorang arsitek dan penulis kebudayaan penerima Arts Equator Fellowship 2024. Di sana, mereka sebagai pengamat B-Part.

Selama kegiatan berlangsung, Arif Wibowo, secara personal—dari kaca mata keilmuannya tentang arsitektur dan budaya tentu saja, ia menjelaskan bagaimana kehadiran Mulawali Institute dan B-Part menghadirkan seni pertunjukan kontemporer yang terkurasi sangat membantu perluasan cakrawalanya, terutama tentang kelindan wacana yang berkembang pada disiplin seni yang termutakhir. 

“Sebagai individu yang mengalami urbanisasi dari desa ke kota, kehadiran B-Part seakan menjadi penghubung pengalaman saya menikmati seni pertunjukan yang memiliki keberakaran tradisi namun sangat terbuka dengan gagasan-gagasan global,” kata Arif Wibowo saat memberikan kesan personal pada malam penutupan B-Part.

Workshop tari pada hari terakhir B-Part | Foto: tatkala.co/Amri

Lebih lanjut, ia juga memaparkan yang lain dalam konteks seni dan hubungannya dengan wacana kota. Tentu, kata dia, kehadiran ruang alternatif pertukaran gagasan dan produksi pengetahuan seperti ini menjadi nafas kehidupan warga yang harus dirawat, dijaga untuk selalu tumbuh memberikan wacana alternatif kewargaan di tengah Bali yang berkembang sedemikian pesat, mobilitas kebudayaan yang dinamis, baik di tingkat lokal maupun global.

“Kemajuan sebuah kota tidak hanya bisa dilihat dari aspek perkembangan fisiknya semata, lebih dari itu bagaimana produk seni budayanya juga berkembang tumbuh memberikan kesadaran kritis bagi warganya,” kata Arif.

Sejauh Arif memandang secara personal, Galuh Pangestri juga menyampaikan hal yang menurutnya sama berarti.

Buat seorang Galuh Pangestri, tari Bali itu salah satu yang sulit karena logika geraknya sangat berbeda dengan latar belakang tari tradisi yang ia pelajari. Keberjarakannya dengan Bali sempat membuatnya geumpeur alias gugup. “Akan tetapi keterlibatan aktif dalam percakapan, joget, bahkan makan membuat kami bisa merasakan fluiditas,” katanya.

“Ada banyak identitas keluar masuk, kemelayuan dan kemaduraan karya Ayu dan Ridho misalnya, memunculkan rasa yang akrab. Teman-teman yang hadir di sini semuanya datang dengan basis identitas yang kuat, tapi juga bisa memiuh melebur dan menghadirkan universalitas yang sehat untuk dicerna,” kata Galuh Pangestri.

Arif dan Galuh, pengamat di B-Part, saat memberikan pandangannya | Foto: tatkala.co/Amri

Galuh melanjutkan, bila ditarik ke arah hadap yang mengglobal misalnya, posisi kita saat ini rasanya serba tidak mudah. Kita akan didorong untuk terus memeriksa praktik yang kita lakukan, terus membenturkan diri. “It’s good, tapi alih-alih terbentur dan terbentuk, bisa-bisa malah mentok dan suntuk,” katanya.

Oleh karena itu, kata Galuh, kesadaran B-Part untuk tetap menjadi hajatan kecil yang efektif sangat perlu diapresiasi. Kesadaran ini mengingatkannya pada sebuah buku, buku bisnis berjudul Company of One, oleh Paul Jarvis. Berbicara tentang apa itu bertumbuh, berkembang, dan membesar.

Apakah kita harus membesar untuk menjadi sukses? Di buku itu pertanyaannya dalam kerangka mengelola bisnis, dalam hal ini di sini mengelola festival. Bagaimana kalau skala tetap kecil, karena saat kita berambisi untuk membesar, memiliki lebih dan lebih, itu artinya akan makin banyak kompleksitas yang perlu dikelola, pendanaan misalnya, juga orang. Positioning B-Part sebagai terminal atau ruang transit untuk pelaku seni dan budaya berjejaring juga rasanya memberikan rasa aman.

“Gotong royongnya terasa meski tak digembar-gemborkan. Bli Suma (Wayan Sumahardikan, Direktur B-Part) malah memakai diksi culik menculik. Culik menculik yang asyik,” ungkap Galuh Pangestri dengan cair.

Kemudian, lanjut Galuh, bagaimana peranan di B-Part ini setidaknya telah membuat jadi reflektif juga, memantik untuk memeriksa terus konteks tempat kita hidup dan bagaimana bisa berperan, entah menjadi jembatan, jadi orator dengan toa-nya, atau apapun baik di atas panggung, di balik layar, dan pasca pertunjukan.

“Terima kasih tularan semangatnya, terima kasih sudah menculik saya untuk hadir di sini,” tutup Galuh. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

B-Part: Raga Ruang Ragam
Festival The (Famous) Squatting Dance: Merayakan Marya—Usaha Merawat Ingatan tentang sang Maestro
Membaca, Mengenal, dan Memahami I Ketut Marya dalam Lokakarya Koreografi “Dari Igel Jongkok Menuju Kebyar Duduk”
Tags: B-PartMulawali Instituteseni kontemporerseni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ayu Restia Putri, Gen Z dari Desa Les: Teruskan Hidup dengan Melatih Tari untuk Anak-anak Desa

Next Post

Mengapa Mahasiswa HI Masa Kini ‘Blank’ Saat Menulis Skripsi?

Son Lomri

Son Lomri

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails

Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

by Helmi Y Haska
March 31, 2026
0
Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret...

Read moreDetails

Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

by Dian Suryantini
March 24, 2026
0
Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di...

Read moreDetails

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
March 24, 2026
0
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Sabtu 21 Maret. Tepat pukul lima sore, saya tiba di SMA Negeri 1 Singaraja—dua belas jam sebelum Alumni Smansa Charity...

Read moreDetails

Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

by Agus Suardiana Putra
March 20, 2026
0
Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

SANG surya mulai turun mengistirahatkan diri setelah seharian bersinar, dan kegelapan perlahan menyelimuti bumi. Tibalah kita pada sandikala, waktu yang...

Read moreDetails
Next Post
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

Mengapa Mahasiswa HI Masa Kini 'Blank' Saat Menulis Skripsi?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co