24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menguatkan Sekaligus Meleburkan Identitas dalam Seni Pertunjukan Kontemporer – Dari Penutupan B-Part

Son Lomri by Son Lomri
December 3, 2024
in Khas
Menguatkan Sekaligus Meleburkan Identitas dalam Seni Pertunjukan Kontemporer – Dari Penutupan B-Part

Pertunjukan “Sejak Padi Mengakar” dari Bang Dance | Foto: tatkala.co/Son

SETELAH berlangsung tiga hari, B-Part berakhir, Minggu 1 Desember 2024. Malam terakhir BALI Performing Arts Meeting (B-PART), di Masa Masa Bali, kawasan Ketewel, Gianyar, itu dipenuhi penuh suasana akrab, intim, dan guyub. Orang-orang makan malam. Minum bir. Minum kopi, saling berbincang banyak hal, terutama materi-materi penting di B-Part. Enjoy.

Menonton seni pertunjukkan di hari terakhir B-Part itu, seperti buncah emosional yang dituntaskan, jadi lebih padat, mendalam. Tentu, karena dua hari sebelumnya B-Part telah diisi dengan berbagai macam suguhan pengetahuan yang segar, dalam hal ini terkait seni pertunjukan dan bagaimana wacana kesenian ke depan di Bali, atau di dunia global.

Di sebuah geladak—Rusdi Ulu (24), pergi ke sebuah beranda Masa Masa, sebuah tempat dengan paduan galeri dan resto itu. Ia duduk di beranda itu, tak jauh dari ruang Pithecantropus—tempat di mana kain tenun dijajakan di resto itu. Ia duduk di salah satu kursi, dan menyalami beberapa temannya di sana. Menyalakan rokok, lalu mengobrol.

Kesan pertama yang ia hirup, adalah obrolan dan bagaimana seni terpacak sebagai wacana di kepalanya.  

“Kita seperti di tempat penuh percobaan. Maksudnya, orang-orang mempertunjukkan karya eksperimental dan aku pasti tak paham, tapi terus mencoba untuk paham, haha…” kata Rusdi.

Ia adalah teman saya dari Komunitas Mahima dan kami berangkat dengan mobil yang sama, dan baru sampai ketika sore.

“Tapi aku menikmati. Ini seperti meneguk banyak pengetahuan yang tidak aku tahu,” katanya lanjut.

Di lantai dua, di Ruang Minor, ada diskusi “Merawat Pengetahuan Dalam Riset Artistik Pertunjukan”. Diskusi berlangsung sedang berlanjut oleh Kadek Sonia Piscayanti, Dewa Gede Edi Praditha, Jacko Kaneko dan Iqbal Samudra. Orang-orang sudah berkumpul di sana dan beberapa orang mengeluarkan buku catatannya. Mencatat.

Menaiki anak tangga, Rusdi Ulu, lelaki asal Bima itu, pergi ke ruang diskusi dan duduk tenggelam menyimak obrolan tentang bagaimana merawat kesadaran kepada perempuan, dalam hal ini melalui teater yang dibawakan pemateri pertama, Sonia Piscayanti.

Diskusi “Merawat Pengetahuan Dalam Riset Artistik Pertunjukan” di B-Part | Foto: tatkala.co/Amri

Sebagai seorang sutradara teater yang pernah memestaskan 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah itu, Sonia Piscayanti membawakan hasil pengamatannya tentang teater bukan lagi sekadar sebuah penampilan. Akademisi sekaligus penyair itu menyampaikannya dengan begitu emosional.

“Teater adalah sebuah perjuangan, dan akan terus begitu dan dibahas, tak ada ujungnya!” kata Sonia saat membawakan materi Perawatan Perempuan : Mindfulness-Based Theater.

Transit di B Part: Menenggak Pengetahuan, Tenggelam pada Seni Pertunjukan

Setelah acara diskusi selesai, malam ditutup dengan pertunjukan tari dari Bang Dance—sebagai penutup B-Part. Garapan tari itu berjudul “Sejak Padi Mengakar” dengan koregrafer I Putu Bagus Bang Sada Graha Saputra atau biasa dipanggil dengan nama Gus Bang Sada.

Orang-orang tenggelam menonton para penari menggerakkan tubuh mereka sebagai percakapan, atau sebagai persembahan kepada penonton. Seperti sedang ekstakse, para penari begitu tenggelam pada tubuhnya sendiri. Panggung, tempat mereka tampil, nyaris menyatu dengan space penonton, yang duduk atau berdiri, dan itu membuat suasana makin intim. Penonton pun ikut tenggelam menyaksikan gerak tubuh dan barangkali ikut merasakannya.

Penuh simbolik. Tarian tubuh para penari dari Bang Dance itu bisa dipandang sekadar sebagai tontonan, bisa lebih serius dipandang sebagai peringatan pada sesuatu. Sesuatu yang tak baik-baik saja. Di Bali. Semisal prahara tanah dan fenomena sosial lainnya.

Pertunjukan “Sejak Padi Mengakar” dari Bang Dance | Foto: tatkala.co/Amri

Pertunjukan “Sejak Padi Mengakar” adalah hasil dari riset yang panjang seorang Gus Bang. Konon ia melihat perubahan di sekitar Desa Singapadu, Gianyar. Adanya jalur perlintasan pariwisata menjadi salah satu penyebab desa itu mengalami alih fungsi lahan pertanian secara massif.

Sebab itulah barangkali, para pemain tenggelam dan begitu menyatu pada hayat tarian. Saya menyebutnya ekstaksi tarian. Tentu, dalam hal ini, bukan hanya terbitnya gedung setelah sawah yang mereka bayangkan saat menari, tetapi juga bagaimana alihfungsi itu diikuti dengan sikap saling acuh sesama warga. Itu menjadi bahan pikiran yang kompleks, sehingga tercipta garapan itu  sebagai sebuah “masalah” yang ditarikan dengan penuh imajinasi.

Sementara secara artistik, Gus Bang menawarkan sikap duduk yang dipinjam dari salah satu sikap tari tradisi Bali, yakni Tari Kebyar Duduk, untuk menyatakan sikap kepemilikan atas lahan tersebut sekaligus bentuk adaptasi tubuh itu sendiri atas ruang yang mulai berubah.

Sebagai forum tukar tangkap pengetahuan bagi para seniman dan peneliti seni pertunjukan bersama penonton,  B-Part memang dibangun untuk melihat sejauh mana proses kreatif dari hasil temuan serta pertunjukan work in progress yang sedang dikembangkan para seniman seni pertunjukan.

B-Part akan terus melakukan evaluasi paling radikal sebagai sebuah transit pengetahuan tentang kesenian kontemporer, dalam hal ini seni pertunjukan dengan pelaku seni lainnya. Sebagaimana B-Part sendiri memiliki tujuan menjadikan ruang festival ini sebagai temu seni bagi jejaring platform, seniman, dan kelompok multidisiplin pertunjukan.

“B-Part sebagai festival tergolong masih sangat muda. Ini merupakkan B-Part tahun kedua, Dimana kita juga mesti menyadari saya sendiri sebagai bagian dari kepanitiaan, bahwa ada banyak hal itu yang perlu ditambal dan ada banyak hal yang mesti dibenahi,” kata Agus Wiratama, Manager Program B-Part.

Dua Observer di Selasar Panggung: Tentang B-Part

Ada dua observer di acara B-Part, dan dua-duanya sangat ekspert di bidangngnya masing-masing. Pertama, Galuh Pangestri, seorang kerografer dari Tarang Taruna. Kedua, Arif Wibowo, seorang arsitek dan penulis kebudayaan penerima Arts Equator Fellowship 2024. Di sana, mereka sebagai pengamat B-Part.

Selama kegiatan berlangsung, Arif Wibowo, secara personal—dari kaca mata keilmuannya tentang arsitektur dan budaya tentu saja, ia menjelaskan bagaimana kehadiran Mulawali Institute dan B-Part menghadirkan seni pertunjukan kontemporer yang terkurasi sangat membantu perluasan cakrawalanya, terutama tentang kelindan wacana yang berkembang pada disiplin seni yang termutakhir. 

“Sebagai individu yang mengalami urbanisasi dari desa ke kota, kehadiran B-Part seakan menjadi penghubung pengalaman saya menikmati seni pertunjukan yang memiliki keberakaran tradisi namun sangat terbuka dengan gagasan-gagasan global,” kata Arif Wibowo saat memberikan kesan personal pada malam penutupan B-Part.

Workshop tari pada hari terakhir B-Part | Foto: tatkala.co/Amri

Lebih lanjut, ia juga memaparkan yang lain dalam konteks seni dan hubungannya dengan wacana kota. Tentu, kata dia, kehadiran ruang alternatif pertukaran gagasan dan produksi pengetahuan seperti ini menjadi nafas kehidupan warga yang harus dirawat, dijaga untuk selalu tumbuh memberikan wacana alternatif kewargaan di tengah Bali yang berkembang sedemikian pesat, mobilitas kebudayaan yang dinamis, baik di tingkat lokal maupun global.

“Kemajuan sebuah kota tidak hanya bisa dilihat dari aspek perkembangan fisiknya semata, lebih dari itu bagaimana produk seni budayanya juga berkembang tumbuh memberikan kesadaran kritis bagi warganya,” kata Arif.

Sejauh Arif memandang secara personal, Galuh Pangestri juga menyampaikan hal yang menurutnya sama berarti.

Buat seorang Galuh Pangestri, tari Bali itu salah satu yang sulit karena logika geraknya sangat berbeda dengan latar belakang tari tradisi yang ia pelajari. Keberjarakannya dengan Bali sempat membuatnya geumpeur alias gugup. “Akan tetapi keterlibatan aktif dalam percakapan, joget, bahkan makan membuat kami bisa merasakan fluiditas,” katanya.

“Ada banyak identitas keluar masuk, kemelayuan dan kemaduraan karya Ayu dan Ridho misalnya, memunculkan rasa yang akrab. Teman-teman yang hadir di sini semuanya datang dengan basis identitas yang kuat, tapi juga bisa memiuh melebur dan menghadirkan universalitas yang sehat untuk dicerna,” kata Galuh Pangestri.

Arif dan Galuh, pengamat di B-Part, saat memberikan pandangannya | Foto: tatkala.co/Amri

Galuh melanjutkan, bila ditarik ke arah hadap yang mengglobal misalnya, posisi kita saat ini rasanya serba tidak mudah. Kita akan didorong untuk terus memeriksa praktik yang kita lakukan, terus membenturkan diri. “It’s good, tapi alih-alih terbentur dan terbentuk, bisa-bisa malah mentok dan suntuk,” katanya.

Oleh karena itu, kata Galuh, kesadaran B-Part untuk tetap menjadi hajatan kecil yang efektif sangat perlu diapresiasi. Kesadaran ini mengingatkannya pada sebuah buku, buku bisnis berjudul Company of One, oleh Paul Jarvis. Berbicara tentang apa itu bertumbuh, berkembang, dan membesar.

Apakah kita harus membesar untuk menjadi sukses? Di buku itu pertanyaannya dalam kerangka mengelola bisnis, dalam hal ini di sini mengelola festival. Bagaimana kalau skala tetap kecil, karena saat kita berambisi untuk membesar, memiliki lebih dan lebih, itu artinya akan makin banyak kompleksitas yang perlu dikelola, pendanaan misalnya, juga orang. Positioning B-Part sebagai terminal atau ruang transit untuk pelaku seni dan budaya berjejaring juga rasanya memberikan rasa aman.

“Gotong royongnya terasa meski tak digembar-gemborkan. Bli Suma (Wayan Sumahardikan, Direktur B-Part) malah memakai diksi culik menculik. Culik menculik yang asyik,” ungkap Galuh Pangestri dengan cair.

Kemudian, lanjut Galuh, bagaimana peranan di B-Part ini setidaknya telah membuat jadi reflektif juga, memantik untuk memeriksa terus konteks tempat kita hidup dan bagaimana bisa berperan, entah menjadi jembatan, jadi orator dengan toa-nya, atau apapun baik di atas panggung, di balik layar, dan pasca pertunjukan.

“Terima kasih tularan semangatnya, terima kasih sudah menculik saya untuk hadir di sini,” tutup Galuh. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

B-Part: Raga Ruang Ragam
Festival The (Famous) Squatting Dance: Merayakan Marya—Usaha Merawat Ingatan tentang sang Maestro
Membaca, Mengenal, dan Memahami I Ketut Marya dalam Lokakarya Koreografi “Dari Igel Jongkok Menuju Kebyar Duduk”
Tags: B-PartMulawali Instituteseni kontemporerseni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ayu Restia Putri, Gen Z dari Desa Les: Teruskan Hidup dengan Melatih Tari untuk Anak-anak Desa

Next Post

Mengapa Mahasiswa HI Masa Kini ‘Blank’ Saat Menulis Skripsi?

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

Mengapa Mahasiswa HI Masa Kini 'Blank' Saat Menulis Skripsi?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 23, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co