2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menguatkan Sekaligus Meleburkan Identitas dalam Seni Pertunjukan Kontemporer – Dari Penutupan B-Part

Son Lomri by Son Lomri
December 3, 2024
in Khas
Menguatkan Sekaligus Meleburkan Identitas dalam Seni Pertunjukan Kontemporer – Dari Penutupan B-Part

Pertunjukan “Sejak Padi Mengakar” dari Bang Dance | Foto: tatkala.co/Son

SETELAH berlangsung tiga hari, B-Part berakhir, Minggu 1 Desember 2024. Malam terakhir BALI Performing Arts Meeting (B-PART), di Masa Masa Bali, kawasan Ketewel, Gianyar, itu dipenuhi penuh suasana akrab, intim, dan guyub. Orang-orang makan malam. Minum bir. Minum kopi, saling berbincang banyak hal, terutama materi-materi penting di B-Part. Enjoy.

Menonton seni pertunjukkan di hari terakhir B-Part itu, seperti buncah emosional yang dituntaskan, jadi lebih padat, mendalam. Tentu, karena dua hari sebelumnya B-Part telah diisi dengan berbagai macam suguhan pengetahuan yang segar, dalam hal ini terkait seni pertunjukan dan bagaimana wacana kesenian ke depan di Bali, atau di dunia global.

Di sebuah geladak—Rusdi Ulu (24), pergi ke sebuah beranda Masa Masa, sebuah tempat dengan paduan galeri dan resto itu. Ia duduk di beranda itu, tak jauh dari ruang Pithecantropus—tempat di mana kain tenun dijajakan di resto itu. Ia duduk di salah satu kursi, dan menyalami beberapa temannya di sana. Menyalakan rokok, lalu mengobrol.

Kesan pertama yang ia hirup, adalah obrolan dan bagaimana seni terpacak sebagai wacana di kepalanya.  

“Kita seperti di tempat penuh percobaan. Maksudnya, orang-orang mempertunjukkan karya eksperimental dan aku pasti tak paham, tapi terus mencoba untuk paham, haha…” kata Rusdi.

Ia adalah teman saya dari Komunitas Mahima dan kami berangkat dengan mobil yang sama, dan baru sampai ketika sore.

“Tapi aku menikmati. Ini seperti meneguk banyak pengetahuan yang tidak aku tahu,” katanya lanjut.

Di lantai dua, di Ruang Minor, ada diskusi “Merawat Pengetahuan Dalam Riset Artistik Pertunjukan”. Diskusi berlangsung sedang berlanjut oleh Kadek Sonia Piscayanti, Dewa Gede Edi Praditha, Jacko Kaneko dan Iqbal Samudra. Orang-orang sudah berkumpul di sana dan beberapa orang mengeluarkan buku catatannya. Mencatat.

Menaiki anak tangga, Rusdi Ulu, lelaki asal Bima itu, pergi ke ruang diskusi dan duduk tenggelam menyimak obrolan tentang bagaimana merawat kesadaran kepada perempuan, dalam hal ini melalui teater yang dibawakan pemateri pertama, Sonia Piscayanti.

Diskusi “Merawat Pengetahuan Dalam Riset Artistik Pertunjukan” di B-Part | Foto: tatkala.co/Amri

Sebagai seorang sutradara teater yang pernah memestaskan 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah itu, Sonia Piscayanti membawakan hasil pengamatannya tentang teater bukan lagi sekadar sebuah penampilan. Akademisi sekaligus penyair itu menyampaikannya dengan begitu emosional.

“Teater adalah sebuah perjuangan, dan akan terus begitu dan dibahas, tak ada ujungnya!” kata Sonia saat membawakan materi Perawatan Perempuan : Mindfulness-Based Theater.

Transit di B Part: Menenggak Pengetahuan, Tenggelam pada Seni Pertunjukan

Setelah acara diskusi selesai, malam ditutup dengan pertunjukan tari dari Bang Dance—sebagai penutup B-Part. Garapan tari itu berjudul “Sejak Padi Mengakar” dengan koregrafer I Putu Bagus Bang Sada Graha Saputra atau biasa dipanggil dengan nama Gus Bang Sada.

Orang-orang tenggelam menonton para penari menggerakkan tubuh mereka sebagai percakapan, atau sebagai persembahan kepada penonton. Seperti sedang ekstakse, para penari begitu tenggelam pada tubuhnya sendiri. Panggung, tempat mereka tampil, nyaris menyatu dengan space penonton, yang duduk atau berdiri, dan itu membuat suasana makin intim. Penonton pun ikut tenggelam menyaksikan gerak tubuh dan barangkali ikut merasakannya.

Penuh simbolik. Tarian tubuh para penari dari Bang Dance itu bisa dipandang sekadar sebagai tontonan, bisa lebih serius dipandang sebagai peringatan pada sesuatu. Sesuatu yang tak baik-baik saja. Di Bali. Semisal prahara tanah dan fenomena sosial lainnya.

Pertunjukan “Sejak Padi Mengakar” dari Bang Dance | Foto: tatkala.co/Amri

Pertunjukan “Sejak Padi Mengakar” adalah hasil dari riset yang panjang seorang Gus Bang. Konon ia melihat perubahan di sekitar Desa Singapadu, Gianyar. Adanya jalur perlintasan pariwisata menjadi salah satu penyebab desa itu mengalami alih fungsi lahan pertanian secara massif.

Sebab itulah barangkali, para pemain tenggelam dan begitu menyatu pada hayat tarian. Saya menyebutnya ekstaksi tarian. Tentu, dalam hal ini, bukan hanya terbitnya gedung setelah sawah yang mereka bayangkan saat menari, tetapi juga bagaimana alihfungsi itu diikuti dengan sikap saling acuh sesama warga. Itu menjadi bahan pikiran yang kompleks, sehingga tercipta garapan itu  sebagai sebuah “masalah” yang ditarikan dengan penuh imajinasi.

Sementara secara artistik, Gus Bang menawarkan sikap duduk yang dipinjam dari salah satu sikap tari tradisi Bali, yakni Tari Kebyar Duduk, untuk menyatakan sikap kepemilikan atas lahan tersebut sekaligus bentuk adaptasi tubuh itu sendiri atas ruang yang mulai berubah.

Sebagai forum tukar tangkap pengetahuan bagi para seniman dan peneliti seni pertunjukan bersama penonton,  B-Part memang dibangun untuk melihat sejauh mana proses kreatif dari hasil temuan serta pertunjukan work in progress yang sedang dikembangkan para seniman seni pertunjukan.

B-Part akan terus melakukan evaluasi paling radikal sebagai sebuah transit pengetahuan tentang kesenian kontemporer, dalam hal ini seni pertunjukan dengan pelaku seni lainnya. Sebagaimana B-Part sendiri memiliki tujuan menjadikan ruang festival ini sebagai temu seni bagi jejaring platform, seniman, dan kelompok multidisiplin pertunjukan.

“B-Part sebagai festival tergolong masih sangat muda. Ini merupakkan B-Part tahun kedua, Dimana kita juga mesti menyadari saya sendiri sebagai bagian dari kepanitiaan, bahwa ada banyak hal itu yang perlu ditambal dan ada banyak hal yang mesti dibenahi,” kata Agus Wiratama, Manager Program B-Part.

Dua Observer di Selasar Panggung: Tentang B-Part

Ada dua observer di acara B-Part, dan dua-duanya sangat ekspert di bidangngnya masing-masing. Pertama, Galuh Pangestri, seorang kerografer dari Tarang Taruna. Kedua, Arif Wibowo, seorang arsitek dan penulis kebudayaan penerima Arts Equator Fellowship 2024. Di sana, mereka sebagai pengamat B-Part.

Selama kegiatan berlangsung, Arif Wibowo, secara personal—dari kaca mata keilmuannya tentang arsitektur dan budaya tentu saja, ia menjelaskan bagaimana kehadiran Mulawali Institute dan B-Part menghadirkan seni pertunjukan kontemporer yang terkurasi sangat membantu perluasan cakrawalanya, terutama tentang kelindan wacana yang berkembang pada disiplin seni yang termutakhir. 

“Sebagai individu yang mengalami urbanisasi dari desa ke kota, kehadiran B-Part seakan menjadi penghubung pengalaman saya menikmati seni pertunjukan yang memiliki keberakaran tradisi namun sangat terbuka dengan gagasan-gagasan global,” kata Arif Wibowo saat memberikan kesan personal pada malam penutupan B-Part.

Workshop tari pada hari terakhir B-Part | Foto: tatkala.co/Amri

Lebih lanjut, ia juga memaparkan yang lain dalam konteks seni dan hubungannya dengan wacana kota. Tentu, kata dia, kehadiran ruang alternatif pertukaran gagasan dan produksi pengetahuan seperti ini menjadi nafas kehidupan warga yang harus dirawat, dijaga untuk selalu tumbuh memberikan wacana alternatif kewargaan di tengah Bali yang berkembang sedemikian pesat, mobilitas kebudayaan yang dinamis, baik di tingkat lokal maupun global.

“Kemajuan sebuah kota tidak hanya bisa dilihat dari aspek perkembangan fisiknya semata, lebih dari itu bagaimana produk seni budayanya juga berkembang tumbuh memberikan kesadaran kritis bagi warganya,” kata Arif.

Sejauh Arif memandang secara personal, Galuh Pangestri juga menyampaikan hal yang menurutnya sama berarti.

Buat seorang Galuh Pangestri, tari Bali itu salah satu yang sulit karena logika geraknya sangat berbeda dengan latar belakang tari tradisi yang ia pelajari. Keberjarakannya dengan Bali sempat membuatnya geumpeur alias gugup. “Akan tetapi keterlibatan aktif dalam percakapan, joget, bahkan makan membuat kami bisa merasakan fluiditas,” katanya.

“Ada banyak identitas keluar masuk, kemelayuan dan kemaduraan karya Ayu dan Ridho misalnya, memunculkan rasa yang akrab. Teman-teman yang hadir di sini semuanya datang dengan basis identitas yang kuat, tapi juga bisa memiuh melebur dan menghadirkan universalitas yang sehat untuk dicerna,” kata Galuh Pangestri.

Arif dan Galuh, pengamat di B-Part, saat memberikan pandangannya | Foto: tatkala.co/Amri

Galuh melanjutkan, bila ditarik ke arah hadap yang mengglobal misalnya, posisi kita saat ini rasanya serba tidak mudah. Kita akan didorong untuk terus memeriksa praktik yang kita lakukan, terus membenturkan diri. “It’s good, tapi alih-alih terbentur dan terbentuk, bisa-bisa malah mentok dan suntuk,” katanya.

Oleh karena itu, kata Galuh, kesadaran B-Part untuk tetap menjadi hajatan kecil yang efektif sangat perlu diapresiasi. Kesadaran ini mengingatkannya pada sebuah buku, buku bisnis berjudul Company of One, oleh Paul Jarvis. Berbicara tentang apa itu bertumbuh, berkembang, dan membesar.

Apakah kita harus membesar untuk menjadi sukses? Di buku itu pertanyaannya dalam kerangka mengelola bisnis, dalam hal ini di sini mengelola festival. Bagaimana kalau skala tetap kecil, karena saat kita berambisi untuk membesar, memiliki lebih dan lebih, itu artinya akan makin banyak kompleksitas yang perlu dikelola, pendanaan misalnya, juga orang. Positioning B-Part sebagai terminal atau ruang transit untuk pelaku seni dan budaya berjejaring juga rasanya memberikan rasa aman.

“Gotong royongnya terasa meski tak digembar-gemborkan. Bli Suma (Wayan Sumahardikan, Direktur B-Part) malah memakai diksi culik menculik. Culik menculik yang asyik,” ungkap Galuh Pangestri dengan cair.

Kemudian, lanjut Galuh, bagaimana peranan di B-Part ini setidaknya telah membuat jadi reflektif juga, memantik untuk memeriksa terus konteks tempat kita hidup dan bagaimana bisa berperan, entah menjadi jembatan, jadi orator dengan toa-nya, atau apapun baik di atas panggung, di balik layar, dan pasca pertunjukan.

“Terima kasih tularan semangatnya, terima kasih sudah menculik saya untuk hadir di sini,” tutup Galuh. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

B-Part: Raga Ruang Ragam
Festival The (Famous) Squatting Dance: Merayakan Marya—Usaha Merawat Ingatan tentang sang Maestro
Membaca, Mengenal, dan Memahami I Ketut Marya dalam Lokakarya Koreografi “Dari Igel Jongkok Menuju Kebyar Duduk”
Tags: B-PartMulawali Instituteseni kontemporerseni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ayu Restia Putri, Gen Z dari Desa Les: Teruskan Hidup dengan Melatih Tari untuk Anak-anak Desa

Next Post

Mengapa Mahasiswa HI Masa Kini ‘Blank’ Saat Menulis Skripsi?

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

Mengapa Mahasiswa HI Masa Kini 'Blank' Saat Menulis Skripsi?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co