12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengapa Mahasiswa HI Masa Kini ‘Blank’ Saat Menulis Skripsi?

Elpeni Fitrah by Elpeni Fitrah
December 3, 2024
in Esai
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

BEYOND stereotype bahwa Jurusan Hubungan Internasional (HI) itu ‘Elit’ tapi prospek kerja ‘Syulit’, sebagaimana narasi viral di Tiktok, ada satu realitas menarik yang kiranya jarang terekspos: pergulatan mahasiswa Gen-Z dengan riset akademik mereka. Saya ceritakan disini pengalaman personal saya, dari sudut pandang saya, yang mungkin saja berbeda dengan dosen lainnya.

Ruang kerja saya di kampus, hampir setiap hari, menjadi saksi bisu dari berbagai cerita mahasiswa yang sedang berjuang menyelesaikan skripsi. Sejak beberapa waktu belakangan ini, saya mencoba menerapkan sistem konsultasi terbuka – mahasiswa bisa datang kapan saja tanpa perlu membuat janji terlebih dahulu.

Harapannya, sistem ini bisa memudahkan mereka mendapat bimbingan ketika dibutuhkan. Masalahnya, setelah beberapa bulan berjalan, saya menemukan sebuah pola yang menggelisahkan: mayoritas mahasiswa datang dengan kebingungan yang sama, seolah mengalami mental block ketika harus menuangkan ide penelitian mereka.

Sebagai pengajar, saya sering menemui kenyataan bahwa mahasiswa yang telah menyelesaikan mata kuliah metodologi penelitian termasuk metode penelitian HI, teori-teori HI, dan berbagai mata kuliah substansial lainnya tetap mengalami kebuntuan saat mulai menulis skripsi.

Fenomena ini bukan hanya terjadi pada mahasiswa dengan kemampuan akademik rata-rata, tetapi juga pada mereka yang selama ini menunjukkan performa cemerlang di kelas. Ini menunjukkan adanya kesenjangan fundamental antara pemahaman teoretis dan kemampuan aplikatif dalam penelitian.

Yang menarik, saya sering menjumpai mahasiswa dengan ide-ide penelitian yang cukup brilian dan inovatif. Misalnya, beberapa mahasiswa bimbingan saya pernah mengajukan ide penelitian tentang Cartographic Propaganda China di Laut China Selatan, dampak krisis energi akibat konflik Rusia-Ukraina terhadap transisi energi hijau di Jerman, dan ada juga yang hendak membahas implementasi standar internasional keamanan laut (SOLAS) di sebuah Pelabuhan di Jawa Tengah.

Menurut saya, ide tersebut sangat menarik dan relevan, namun mereka kesulitan mengartikulasikan kerangka penelitiannya dengan jelas. Ketika ditanya lebih lanjut tentang metodologi dan pendekatan yang akan digunakan, mereka tampak kehilangan arah. Ini adalah contoh klasik betapa potensi ide yang bagus terhalang oleh keterbatasan dalam mengkomunikasikan dan mengorganisir pemikiran.

Tantangan penelitian HI dan minimnya pengalaman empirik

Kompleksitas ini semakin bertambah dengan karakteristik unik dari penelitian Hubungan Internasional kontemporer. Di era digital yang sangat dinamis ini, peristiwa-peristiwa internasional bergerak dengan kecepatan yang luar biasa. Sebuah krisis yang terjadi di satu belahan dunia dapat dengan cepat memberikan efek domino ke berbagai kawasan lain. Akibatnya, mahasiswa sering merasa kewalahan dalam membatasi cakupan penelitian mereka dan menentukan titik fokus yang tepat.

Tantangan lain yang tidak kalah pelik adalah kesulitan dalam mengakses dan memverifikasi data primer. Ambil contoh usulan penelitian mahasiswa di atas mengenai Propaganda Kartografi China di Laut China Selatan. Mahasiswa yang meneliti topik ini kemungkinan harus berhadapan dengan barrier bahasa, keterbatasan akses ke dokumen resmi, dan kompleksitas dalam memilah informasi yang valid di tengah minimnya liputan media mainstream. Situasi ini bisa saja membuat mereka frustrasi dan kehilangan arah dalam proses penelitian.

Karakteristik Gen-Z sebagai digital natives sebenarnya memiliki potensi besar dalam mendukung proses penelitian. Mereka terbiasa dengan multitasking dan memiliki kemampuan yang baik dalam mengakses informasi digital. Namun, paradoksnya, kemampuan ini tidak selalu berkorelasi positif dengan kemampuan analitis mereka. Seringkali, mereka tenggelam dalam lautan informasi tanpa mampu membangun argumentasi yang koheren dan sistematis.

Problem ini juga berkaitan erat dengan pola pembelajaran yang telah mereka lalui. Sistem pendidikan kita, meski telah mengadopsi berbagai metode pembelajaran modern, masih cenderung menekankan pada penguasaan teori dibanding praktik penelitian. Akibatnya, ketika mahasiswa dihadapkan pada tugas untuk merancang dan melaksanakan penelitian mandiri, mereka seperti menghadapi jurang yang terlalu lebar antara pengetahuan teoretis dan implementasi praktis.

Otokritik

Ini mungkin refleksi bagi diri sendiri. Pertama, menyikapi realitas ini, perlu kiranya ada pendekatan yang lebih integratif dalam pembelajaran. Mata kuliah metodologi penelitian, misalnya, seharusnya tidak hanya fokus pada aspek teoretis tetapi juga memberikan pengalaman yang cukup pada praktik penelitian nyata. Mahasiswa perlu dilatih sejak awal untuk mengidentifikasi masalah, membangun argumentasi, dan mengoperasionalisasikan teori dalam konteks yang konkret. Apakah kemudian mata kuliah ini perlu diajarkan sejak awal semester?

Kedua, ada urgensi untuk mengintegrasikan contoh-contoh penelitian dalam setiap mata kuliah. Sebagai contoh, ketika membahas isu krisis pengungsi di Eropa, dosen bisa mengajak mahasiswa menganalisis bagaimana berbagai pendekatan teoretis digunakan untuk memahami fenomena ini, mulai dari perspektif keamanan manusia hingga pendekatan ekonomi politik internasional.

Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya memahami teori secara konseptual tetapi juga melihat bagaimana teori tersebut diaplikasikan dalam analisis kasus nyata. Jangan lupakan pula aspek pemanfaatan teknologi. Penggunaan software analisis data, platform kolaborasi online, dan database penelitian digital dapat membantu mahasiswa dalam proses penelitian mereka.

Ketiga, mengajarkan mahasiswa keterampilan presentasi yang efektif, termasuk kemampuan untuk mengartikulasikan ide penelitian secara terstruktur dan meyakinkan. Ini penting mengingat banyak ide brilian yang tidak bisa berkembang karena keterbatasan dalam mengkomunikasikannya.

Bagi mahasiswa sendiri, penting untuk membangun kerangka berpikir yang sistematis sejak awal perkuliahan. Ini bisa dimulai dengan hal-hal sederhana seperti membuat catatan kritis saat membaca artikel ilmiah, berlatih menulis literature review, atau terlibat dalam diskusi akademik yang konstruktif. Kebiasaan ini akan membantu Anda ketika harus menghadapi tugas penelitian yang lebih kompleks.

Selain itu, saya jadi sedikit bertanya, kira-kira apakah lembaga pendidikan tinggi kita perlu untuk mengevaluasi ulang kurikulumnya dengan memasukkan komponen riset yang berkesinambungan? Pendekatan ini mensyaratkan adanya mentoring intensif sejak mahasiswa mengawali perkuliahan, bukan hanya saat mereka mulai menulis skripsi.

Di tengah semua tantangan ini, yang tidak boleh dilupakan adalah aspek psikologis mahasiswa. Tekanan untuk menghasilkan penelitian yang berkualitas seringkali membuat mereka stress dan kehilangan kepercayaan diri. Karenanya, sistem pembimbingan yang lebih humanis dan adaptif terhadap karakteristik individual mahasiswa menjadi sangat penting.

Melihat kompleksitas tantangan diatas, menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik dalam penelitian HI jelas membutuhkan komitmen dari semua pihak. Dosen perlu terus mengembangkan metode pembelajaran yang lebih efektif, institusi perlu menyediakan infrastruktur dan sistem pendukung yang memadai, dan mahasiswa sendiri perlu mengambil peran aktif dalam proses pembelajaran mereka. Semoga dengan sinergi yang luar biasa diantara semua elemen ini dapat berkontribusi terhadap peningkatan kualitas penelitian mahasiswa HI di masa depan. [T]

Baca artikel lain dari penulis ELPENI FITRAH

Bersiaplah Menghadapi 5 Pergeseran Diplomasi Global di Era Trump 2.0
Dua Minggu Pasca IAF 2024: Menimbang Hasil, Tantangan, dan Prospek
Sisi Gelap Demokrasi: Mengapa Kita Tidak Boleh Terlalu Percaya pada Demokrasi
Refleksi Kemerdekaan dan Warisan Diplomasi Indonesia untuk Dunia
Tags: hubungan internasionalkuliahmahasiswaSkripsi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menguatkan Sekaligus Meleburkan Identitas dalam Seni Pertunjukan Kontemporer – Dari Penutupan B-Part

Next Post

In Memoriam Gede Tarmada : Tetaplah Rawat Dongeng Itu Dari Surga

Elpeni Fitrah

Elpeni Fitrah

Ketua Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
In Memoriam Gede Tarmada : Tetaplah Rawat Dongeng Itu Dari Surga

In Memoriam Gede Tarmada : Tetaplah Rawat Dongeng Itu Dari Surga

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co