14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sisi Gelap Demokrasi: Mengapa Kita Tidak Boleh Terlalu Percaya pada Demokrasi

Elpeni Fitrah by Elpeni Fitrah
September 3, 2024
in Esai
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

MINDSET saya tentang politik cuma satu: BUSUK! Sebab itu saya tak pernah terperangkap pada penghormatan secara berlebihan terhadap tokoh atau kelompok tertentu, apalagi partai politik.

Banyak orang merasa terpukul, jengkel, sebal, kesal, emosi, atau segala bahasa serupa untuk menyebut marah pada situasi politik nasional akhir-akhir ini. Saya tidak. Untunglah saya terselamatkan dari rupa-rupa perasaan yang mencekik mental itu.

Saya hanya sedih jika praktik politik kita lebih banyak mendakwahkan intoleransi dan menyebarluaskan kebencian. Tak heran, seiring dengan sedang berlangsungnya tahapan Pilkada di Indonesia, kita jadi akrab dengan banyak kata-kata ajaib, semacam: Mulyono and the gang, Raja Jawa, Kotak Kosong, dan bahkan Dinasti Politik. 

Apa mau dikata, demokrasi rupanya menyimpan begitu banyak sisi gelap. Dia selama ini sering dipuja sebagai sistem pemerintahan ideal, namun kadang kita lupa untuk bersikap kritis terhadapnya. Dan, inilah maksud disajikannya tulisan ini, mereflesikan sisi lain dari demokrasi yang sering kali luput dari perhatian. Semoga ini bisa menjadi bahan diskusi, lebih mendorong kita untuk berpikir kritis, dan tidak menerima demokrasi begitu saja sebagai sistem yang sempurna.  

Penting bagi kita untuk memahami sisi gelap demokrasi agar dapat memperkuat sistem ini dan mencegah penyalahgunaannya.

Peringatan dari Tokoh Klasik

Tokoh-tokoh klasik telah lama memperingatkan kita tentang bahaya demokrasi. Plato, dalam karyanya “Republik”, mengkritik demokrasi sebagai sistem yang rentan terhadap manipulasi oleh para demagog. Ia berpendapat bahwa masyarakat awam tidak selalu memiliki pengetahuan atau kebijaksanaan untuk membuat keputusan politik yang tepat.

Bukti historis menunjukkan bahwa kekhawatiran Plato tidak tak berdasar, seperti terlihat dalam kasus naiknya Hitler ke kekuasaan melalui proses demokratis di Jerman. Dengan demikian, kita perlu menyadari bahwa suara mayoritas tidak selalu menghasilkan keputusan terbaik untuk masyarakat.

Aristoteles juga menyoroti kelemahan demokrasi dalam konsepnya tentang “tirani mayoritas”. Ia berpendapat bahwa dalam sistem demokrasi, kepentingan mayoritas dapat menindas hak-hak minoritas. Alasannya, ketika suara terbanyak menjadi satu-satunya legitimasi kekuasaan, kelompok minoritas berisiko kehilangan suara dan perlindungan.

Kita dapat melihat contoh nyata dari fenomena ini dalam kasus diskriminasi terhadap minoritas etnis atau agama di berbagai negara demokratis. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memastikan bahwa demokrasi tidak hanya tentang aturan mayoritas, tetapi juga tentang perlindungan hak-hak minoritas.

Alexis de Tocqueville, dalam karyanya “De la démocratie en Amérique (Democracy in America)”, memperingatkan tentang bahaya konformitas dalam masyarakat demokratis. Dia berpendapat bahwa tekanan sosial dalam demokrasi dapat menciptakan “tirani opini publik” yang membatasi kebebasan individu dan keragaman pemikiran. Kita dapat melihat manifestasi dari peringatan ini dalam fenomena cancel culture dan polarisasi politik yang semakin tajam di era media sosial.

Akibatnya, ruang untuk dialog dan kompromi yang seharusnya menjadi inti dari proses demokratis justru semakin menyempit, mengancam fondasi demokrasi itu sendiri.

Kelemahan Demokrasi Modern

Populisme dan demagoguery merupakan ancaman serius bagi demokrasi modern. Para pemimpin populis sering mengeksploitasi ketakutan dan kemarahan publik untuk mendapatkan kekuasaan, sambil menawarkan solusi sederhana untuk masalah kompleks. Contoh nyata dari fenomena ini dapat dilihat dalam kasus Venezuela di bawah kepemimpinan Hugo Chavez.

Chavez naik ke kekuasaan melalui proses demokratis dengan janji-janji populis, namun pemerintahannya justru berujung pada erosi institusi demokratis dan krisis ekonomi berkepanjangan. Kasus ini menunjukkan bahwa demokrasi tanpa checks and balances yang kuat dapat dengan mudah dimanipulasi oleh pemimpin yang kharismatik namun otoriter.

Ketidakstabilan dan ketidakefisienan dalam pengambilan keputusan juga menjadi kelemahan sistem demokrasi. Proses konsensus yang panjang dan sering kali berlarut-larut dapat menghambat implementasi kebijakan yang diperlukan dengan cepat.

Kita dapat melihat contoh ini dalam kasus krisis ekonomi Yunani pada tahun 2009, di mana perdebatan politik yang berkepanjangan dan ketidakmampuan untuk mencapai konsensus memperlambat respons terhadap krisis, memperparah dampaknya terhadap masyarakat. Oleh karena itu, kita perlu menemukan keseimbangan antara partisipasi demokratis dan efisiensi dalam pengambilan keputusan.

Konteks Indonesia

Dalam konteks Indonesia, tantangan demokrasi terlihat semakin kompleks. Polarisasi politik yang tajam, terutama yang terlihat dalam Pemilu 2019 dan 2024, menunjukkan bahwa demokrasi kita masih rentan terhadap manipulasi elit dan sentimen primordial. Alasan di balik fenomena ini adalah masih lemahnya budaya politik dan pendidikan kewarganegaraan di masyarakat.

Kita dapat melihat buktinya dari maraknya politik identitas dan berita palsu yang sering kali mendominasi wacana publik. Akibatnya, kualitas demokrasi Indonesia terancam mengalami kemunduran jika tidak ada upaya serius untuk mengatasi tantangan-tantangan ini.

Dinasti politik merupakan fenomena yang sering muncul dalam sistem demokrasi, menunjukkan sisi gelap lain dari sistem ini. Dalam dinasti politik, kekuasaan cenderung terkonsentrasi pada satu keluarga atau kelompok kecil yang saling berhubungan, yang dapat bertahan selama beberapa generasi.

Alasan di balik munculnya dinasti politik adalah kombinasi dari nama besar keluarga, jaringan politik yang kuat, dan akses terhadap sumber daya kampanye yang besar. Kita dapat melihat contoh nyata dari fenomena ini di berbagai negara demokratis, termasuk Amerika Serikat dengan keluarga Kennedy dan Bush, Filipina dengan keluarga Marcos dan Aquino, serta di Indonesia sendiri dengan munculnya berbagai dinasti politik di tingkat pusat dan daerah.

Akibatnya, dinasti politik dapat mengancam prinsip meritokrasi dalam demokrasi, membatasi kesempatan bagi individu berbakat di luar lingkaran kekuasaan, dan berpotensi menciptakan oligarki yang bertentangan dengan semangat demokrasi itu sendiri.

Untuk memperkuat sistem demokrasi di Indonesia, kita perlu mengambil langkah-langkah konkret. Pertama, penguatan pendidikan politik dan literasi media bagi masyarakat harus menjadi prioritas. Alasannya, warga negara yang kritis dan well-informed adalah fondasi bagi demokrasi yang sehat. Kedua, penguatan institusi checks and balances, seperti peradilan yang independen dan pers yang bebas, sangat penting untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan.

Bukti dari negara-negara dengan demokrasi yang mapan menunjukkan bahwa institusi-institusi ini berperan krusial dalam menjaga keseimbangan kekuasaan. Dengan langkah-langkah ini, kita dapat berharap untuk membangun sistem demokrasi yang lebih tangguh dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Meskipun demokrasi tetap menjadi sistem pemerintahan yang paling menjanjikan, kita tidak boleh buta terhadap kelemahannya. Pemahaman kritis terhadap sisi gelap demokrasi justru akan membantu kita memperkuat dan menyempurnakan sistem ini. Bukti dari berbagai kasus di dunia dan pengalaman Indonesia sendiri menunjukkan bahwa demokrasi bukanlah sistem yang sempurna dan selalu membutuhkan perbaikan terus-menerus.

Oleh karena itu, tugas kita sebagai warga negara adalah untuk terus bersikap kritis, partisipatif, dan bertanggung jawab dalam proses demokrasi, sambil terus berupaya memperkuat institusi dan budaya demokrasi di negeri ini. [T]

Baca artikel lain dari penulis ELPENI FITRAH

Refleksi Kemerdekaan dan Warisan Diplomasi Indonesia untuk Dunia
Pesan untuk Pak Presiden Baru: Jangan Hanya Berusaha Mencegah Perang, Kita Harus Bersiap untuk Berperang
Pengunduran Biden dan Tantangan Berat Harris Menuju AS-1
‘Adat Dunia Balas Berbalas, Adat Hidup Tolong Menolong’ dalam konteks Geopolitik Kontemporer
Tags: demokrasiPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Singaraja Literary Festival, Sebuah Reuni dan Pertemuan yang Hangat — Catatan Volunteer

Next Post

Di Puncak Tegeh Kaman 

Elpeni Fitrah

Elpeni Fitrah

Ketua Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Di Puncak Tegeh Kaman 

Di Puncak Tegeh Kaman 

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co