2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Refleksi Kemerdekaan dan Warisan Diplomasi Indonesia untuk Dunia

Elpeni Fitrah by Elpeni Fitrah
August 16, 2024
in Esai
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

TERKADANG, memandang Merah-Putih berkibar megah di cakrawala Agustus, membangkitkan perasaan sentimentil. Barangkali karena bulan ini dipenuhi oleh kilatan sejarah, resonansi perjuangan, dan gema harapan yang menggelora.

Dua tahun terakhir, setelah sebelumnya sempat dibegal pandemi, kita menyaksikan lagi semarak perayaan hari kemerdekaan; pengecatan ulang jalan-jalan, pemasangan umbul-umbul, serta penyelenggaraan berbagai lomba dan pertunjukan tradisional. Ada pula panggung malam tasyakuran yang tak kalah heboh itu.

Selain itu, kalau boleh sedikit menyinggung, lebih-lebih bagi kami pekerja kampus, Agustus tiada lain merupakan bulan yang sangat sibuk, terutama bertepatan dengan masa penerimaan mahasiswa baru, yang artinya bertambah-tambah pula pekerjaan, mulai dari pelaksanaan orientasi mahasiswa hingga persiapan akademis jelang pergantian tahun ajaran.

Kelak dalam hitungan hari, seluruh mahasiswa itu, (mungkin) sepanjang masa studinya, akan familiar dengan kata yang umumnya kita pekikkan dalam semangat agustusan; Merdeka! Ya, mereka akan bersitungkin dengan program Kementerian yang masyhur itu, bernama Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM).

Program MBKM ini sebenarnya mencerminkan semangat kemerdekaan dalam konteks pendidikan tinggi. Ia memberikan kebebasan kepada mahasiswa untuk mengeksplorasi minat mereka di luar program studi, mengasah kemampuan praktis melalui magang, dan mengembangkan perspektif global melalui pertukaran pelajar. Namun, seperti halnya kemerdekaan bangsa yang harus diisi dengan kerja keras dan tanggung jawab, kebebasan dalam MBKM juga menuntut kedewasaan dan komitmen dari seluruh operatornya.

Agustus tahun ini kiranya esensial pula dalam politik nasional. Saat ini, masyarakat di berbagai daerah, mungkin sedang gelisah menanti, siapa gerangan Calon Gubernur, Bupati, atau Wali Kota, yang akan berlaga dalam kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Balihonya berserakan dimana-mana. Tapi siapa yang resmi didaftarkan ke Komisi Pemilihan Umum, sejauh ini, masih rahasia Ilahi, tersimpan rapi di kantong celana Para Ketua Umum partai.

 Saya terus terang penasaran, siapa yang bakal diusung di Pilkada Jawa Tengah dan Jakarta. Bukan hanya karena kedua daerah itu memiliki nilai historis bagi saya, namun faktanya mereka adalah barometer politik nasional. Seru sekali pastinya melihat pesta rakyat berjalin kelindan dengan pesta demokrasi.

Warisan Diplomasi Indonesia

Dalam pada itu, di luar segala mukadimah diatas, patut pula kita renungkan, dengan peristiwa kemerdekaan ini, adakah warisan diplomasi Indonesia dalam hubungan internasional modern? Tentulah ada. Bahkan kontribusinya tak dapat disepelekan.

Perjuangan kemerdekaan Indonesia bukan sekadar usaha memerdekakan diri dari penjajahan, tetapi juga manifestasi idealisme yang mendalam tentang keadilan, kemandirian, dan solidaritas. Prinsip-prinsip ini tidak hanya menjadi fondasi bagi negara yang baru merdeka, tetapi juga menjadi panduan dalam menghadapi tantangan global.

Kenanglah kembali Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung, katalisator utama terbentuknya Gerakan Non-blok, sebuah jalan tengah, di bawah bayang-bayang Perang Dingin yang mencekam. Itulah tonggak dalam sejarah diplomasi Indonesia sekaligus jati diri kita di hadapan dunia. Konferensi ini tidak hanya mengukuhkan solidaritas di antara negara-negara berkembang, tetapi juga memicu gerakan yang memperjuangkan keadilan global dan menantang hegemoni kekuatan besar dunia.

Dari rahim Konferensi Bandung, lahirlah Dasasila Bandung, sepuluh prinsip emas yang menjadi kompas dalam navigasi hubungan internasional. Prinsip-prinsip ini, laksana bintang-bintang di langit diplomasi, menjadi penunjuk arah bagi lebih dari seratus negara dalam merumuskan kebijakan luar negeri mereka. Menghormati kedaulatan, menolak intervensi, dan mengutamakan jalan damai. Inilah warisan Indonesia untuk dunia.

Prinsip-prinsip Bandung, meski telah berusia lebih dari setengah abad, masih berdenyut relevan dalam nadi zaman. Di era di mana globalisasi menjanjikan kemakmuran bersama, ketimpangan justru menganga semakin lebar.

Sistem perdagangan internasional masih condong pada yang kuat. Teknologi, yang seharusnya menjadi jembatan kemajuan, malah menjadi tembok pemisah antara yang berpunya dan tidak. Lembaga-lembaga internasional, alih-alih menjadi wadah kesetaraan, masih saja menjadi panggung bagi peragaan kekuatan.

Inilah wajah kolonialisme modern yang harus kita tantang dengan keberanian yang sama seperti para pendahulu kita. Namun, tantangan ini tidak bisa dihadapi dengan cara-cara tradisional. Diperlukan pendekatan yang lebih canggih, yang memadukan idealisme dengan pragmatisme, ketegasan dengan fleksibilitas.

Tantangan

Seiring dengan berputarnya roda zaman, tantangan yang kita hadapi semakin kompleks. Munculnya kekuatan-kekuatan baru seperti China dan India mengubah peta kekuatan dunia. Pusat gravitasi politik dan ekonomi perlahan bergeser dari Barat ke Timur. Di tengah pergolakan ini, Indonesia berdiri dengan potensi yang menjanjikan. Sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia dan ekonomi yang terus bertumbuh, kita memiliki modal untuk memainkan peran yang lebih besar di panggung global.

Pada masa kini, mewarisi gagasan non-blok terdahulu, sebagai respon terhadap perubahan geopolitik global, Indonesia kembali menampilkan mahakarya diplomasi melalui konsep “Indo-Pasifik yang Inklusif“. Gagasan ini menawarkan pendekatan yang lebih kooperatif dan menghindari konfrontasi di kawasan yang semakin bergejolak. Konsep ini mendapat dukungan dari ASEAN dan menjadi alternatif dari strategi “Free and Open Indo-Pacific” yang dipromosikan AS dan sekutunya. Ini menunjukkan bahwa Indonesia masih mampu menghasilkan gagasan cemerlang yang memengaruhi dinamika geopolitik regional.

Terakhir, pesan bagi kita semua, sebagaimana yang disampaikan Bung Karno, “Perjuangan kita belum selesai. Bahkan perjuangan tidak akan pernah selesai.” Tantangan ke depan menuntut lebih dari sekedar melanggengkan warisan. Indonesia perlu mengadaptasi prinsip-prinsip historisnya dalam konteks isu-isu kontemporer seperti perubahan iklim, ketimpangan ekonomi global, dan revolusi teknologi.

Dengan kekayaan pengalaman diplomatik dan posisinya yang strategis, Indonesia akan selamanya terpanggil untuk bangkit sebagai mercusuar harapan, pembawa pesan perdamaian dan keadilan global. [T]

Baca artikel lain dari penulis ELPENI FITRAH

Pesan untuk Pak Presiden Baru: Jangan Hanya Berusaha Mencegah Perang, Kita Harus Bersiap untuk Berperang
Pengunduran Biden dan Tantangan Berat Harris Menuju AS-1
‘Adat Dunia Balas Berbalas, Adat Hidup Tolong Menolong’ dalam konteks Geopolitik Kontemporer
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional
“Putin-Kim Summit”: Manuver Geopolitik Rusia Mengimbangi AS
Hijab vs Identitas Nasional: Pertaruhan Besar Tajikistan
Tags: HUT Kemerdekaan RIkemerdekaan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Milpil Arsip: Catatan GURATGURIT 2024

Next Post

Relasi Ekosistem Kesenian dan Festival

Elpeni Fitrah

Elpeni Fitrah

Ketua Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Relasi Ekosistem Kesenian dan Festival

Relasi Ekosistem Kesenian dan Festival

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co