12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Refleksi Kemerdekaan dan Warisan Diplomasi Indonesia untuk Dunia

Elpeni Fitrah by Elpeni Fitrah
August 16, 2024
in Esai
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

TERKADANG, memandang Merah-Putih berkibar megah di cakrawala Agustus, membangkitkan perasaan sentimentil. Barangkali karena bulan ini dipenuhi oleh kilatan sejarah, resonansi perjuangan, dan gema harapan yang menggelora.

Dua tahun terakhir, setelah sebelumnya sempat dibegal pandemi, kita menyaksikan lagi semarak perayaan hari kemerdekaan; pengecatan ulang jalan-jalan, pemasangan umbul-umbul, serta penyelenggaraan berbagai lomba dan pertunjukan tradisional. Ada pula panggung malam tasyakuran yang tak kalah heboh itu.

Selain itu, kalau boleh sedikit menyinggung, lebih-lebih bagi kami pekerja kampus, Agustus tiada lain merupakan bulan yang sangat sibuk, terutama bertepatan dengan masa penerimaan mahasiswa baru, yang artinya bertambah-tambah pula pekerjaan, mulai dari pelaksanaan orientasi mahasiswa hingga persiapan akademis jelang pergantian tahun ajaran.

Kelak dalam hitungan hari, seluruh mahasiswa itu, (mungkin) sepanjang masa studinya, akan familiar dengan kata yang umumnya kita pekikkan dalam semangat agustusan; Merdeka! Ya, mereka akan bersitungkin dengan program Kementerian yang masyhur itu, bernama Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM).

Program MBKM ini sebenarnya mencerminkan semangat kemerdekaan dalam konteks pendidikan tinggi. Ia memberikan kebebasan kepada mahasiswa untuk mengeksplorasi minat mereka di luar program studi, mengasah kemampuan praktis melalui magang, dan mengembangkan perspektif global melalui pertukaran pelajar. Namun, seperti halnya kemerdekaan bangsa yang harus diisi dengan kerja keras dan tanggung jawab, kebebasan dalam MBKM juga menuntut kedewasaan dan komitmen dari seluruh operatornya.

Agustus tahun ini kiranya esensial pula dalam politik nasional. Saat ini, masyarakat di berbagai daerah, mungkin sedang gelisah menanti, siapa gerangan Calon Gubernur, Bupati, atau Wali Kota, yang akan berlaga dalam kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Balihonya berserakan dimana-mana. Tapi siapa yang resmi didaftarkan ke Komisi Pemilihan Umum, sejauh ini, masih rahasia Ilahi, tersimpan rapi di kantong celana Para Ketua Umum partai.

 Saya terus terang penasaran, siapa yang bakal diusung di Pilkada Jawa Tengah dan Jakarta. Bukan hanya karena kedua daerah itu memiliki nilai historis bagi saya, namun faktanya mereka adalah barometer politik nasional. Seru sekali pastinya melihat pesta rakyat berjalin kelindan dengan pesta demokrasi.

Warisan Diplomasi Indonesia

Dalam pada itu, di luar segala mukadimah diatas, patut pula kita renungkan, dengan peristiwa kemerdekaan ini, adakah warisan diplomasi Indonesia dalam hubungan internasional modern? Tentulah ada. Bahkan kontribusinya tak dapat disepelekan.

Perjuangan kemerdekaan Indonesia bukan sekadar usaha memerdekakan diri dari penjajahan, tetapi juga manifestasi idealisme yang mendalam tentang keadilan, kemandirian, dan solidaritas. Prinsip-prinsip ini tidak hanya menjadi fondasi bagi negara yang baru merdeka, tetapi juga menjadi panduan dalam menghadapi tantangan global.

Kenanglah kembali Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung, katalisator utama terbentuknya Gerakan Non-blok, sebuah jalan tengah, di bawah bayang-bayang Perang Dingin yang mencekam. Itulah tonggak dalam sejarah diplomasi Indonesia sekaligus jati diri kita di hadapan dunia. Konferensi ini tidak hanya mengukuhkan solidaritas di antara negara-negara berkembang, tetapi juga memicu gerakan yang memperjuangkan keadilan global dan menantang hegemoni kekuatan besar dunia.

Dari rahim Konferensi Bandung, lahirlah Dasasila Bandung, sepuluh prinsip emas yang menjadi kompas dalam navigasi hubungan internasional. Prinsip-prinsip ini, laksana bintang-bintang di langit diplomasi, menjadi penunjuk arah bagi lebih dari seratus negara dalam merumuskan kebijakan luar negeri mereka. Menghormati kedaulatan, menolak intervensi, dan mengutamakan jalan damai. Inilah warisan Indonesia untuk dunia.

Prinsip-prinsip Bandung, meski telah berusia lebih dari setengah abad, masih berdenyut relevan dalam nadi zaman. Di era di mana globalisasi menjanjikan kemakmuran bersama, ketimpangan justru menganga semakin lebar.

Sistem perdagangan internasional masih condong pada yang kuat. Teknologi, yang seharusnya menjadi jembatan kemajuan, malah menjadi tembok pemisah antara yang berpunya dan tidak. Lembaga-lembaga internasional, alih-alih menjadi wadah kesetaraan, masih saja menjadi panggung bagi peragaan kekuatan.

Inilah wajah kolonialisme modern yang harus kita tantang dengan keberanian yang sama seperti para pendahulu kita. Namun, tantangan ini tidak bisa dihadapi dengan cara-cara tradisional. Diperlukan pendekatan yang lebih canggih, yang memadukan idealisme dengan pragmatisme, ketegasan dengan fleksibilitas.

Tantangan

Seiring dengan berputarnya roda zaman, tantangan yang kita hadapi semakin kompleks. Munculnya kekuatan-kekuatan baru seperti China dan India mengubah peta kekuatan dunia. Pusat gravitasi politik dan ekonomi perlahan bergeser dari Barat ke Timur. Di tengah pergolakan ini, Indonesia berdiri dengan potensi yang menjanjikan. Sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia dan ekonomi yang terus bertumbuh, kita memiliki modal untuk memainkan peran yang lebih besar di panggung global.

Pada masa kini, mewarisi gagasan non-blok terdahulu, sebagai respon terhadap perubahan geopolitik global, Indonesia kembali menampilkan mahakarya diplomasi melalui konsep “Indo-Pasifik yang Inklusif“. Gagasan ini menawarkan pendekatan yang lebih kooperatif dan menghindari konfrontasi di kawasan yang semakin bergejolak. Konsep ini mendapat dukungan dari ASEAN dan menjadi alternatif dari strategi “Free and Open Indo-Pacific” yang dipromosikan AS dan sekutunya. Ini menunjukkan bahwa Indonesia masih mampu menghasilkan gagasan cemerlang yang memengaruhi dinamika geopolitik regional.

Terakhir, pesan bagi kita semua, sebagaimana yang disampaikan Bung Karno, “Perjuangan kita belum selesai. Bahkan perjuangan tidak akan pernah selesai.” Tantangan ke depan menuntut lebih dari sekedar melanggengkan warisan. Indonesia perlu mengadaptasi prinsip-prinsip historisnya dalam konteks isu-isu kontemporer seperti perubahan iklim, ketimpangan ekonomi global, dan revolusi teknologi.

Dengan kekayaan pengalaman diplomatik dan posisinya yang strategis, Indonesia akan selamanya terpanggil untuk bangkit sebagai mercusuar harapan, pembawa pesan perdamaian dan keadilan global. [T]

Baca artikel lain dari penulis ELPENI FITRAH

Pesan untuk Pak Presiden Baru: Jangan Hanya Berusaha Mencegah Perang, Kita Harus Bersiap untuk Berperang
Pengunduran Biden dan Tantangan Berat Harris Menuju AS-1
‘Adat Dunia Balas Berbalas, Adat Hidup Tolong Menolong’ dalam konteks Geopolitik Kontemporer
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional
“Putin-Kim Summit”: Manuver Geopolitik Rusia Mengimbangi AS
Hijab vs Identitas Nasional: Pertaruhan Besar Tajikistan
Tags: HUT Kemerdekaan RIkemerdekaan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Milpil Arsip: Catatan GURATGURIT 2024

Next Post

Relasi Ekosistem Kesenian dan Festival

Elpeni Fitrah

Elpeni Fitrah

Ketua Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Relasi Ekosistem Kesenian dan Festival

Relasi Ekosistem Kesenian dan Festival

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co