23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Refleksi Kemerdekaan dan Warisan Diplomasi Indonesia untuk Dunia

Elpeni Fitrah by Elpeni Fitrah
August 16, 2024
in Esai
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

TERKADANG, memandang Merah-Putih berkibar megah di cakrawala Agustus, membangkitkan perasaan sentimentil. Barangkali karena bulan ini dipenuhi oleh kilatan sejarah, resonansi perjuangan, dan gema harapan yang menggelora.

Dua tahun terakhir, setelah sebelumnya sempat dibegal pandemi, kita menyaksikan lagi semarak perayaan hari kemerdekaan; pengecatan ulang jalan-jalan, pemasangan umbul-umbul, serta penyelenggaraan berbagai lomba dan pertunjukan tradisional. Ada pula panggung malam tasyakuran yang tak kalah heboh itu.

Selain itu, kalau boleh sedikit menyinggung, lebih-lebih bagi kami pekerja kampus, Agustus tiada lain merupakan bulan yang sangat sibuk, terutama bertepatan dengan masa penerimaan mahasiswa baru, yang artinya bertambah-tambah pula pekerjaan, mulai dari pelaksanaan orientasi mahasiswa hingga persiapan akademis jelang pergantian tahun ajaran.

Kelak dalam hitungan hari, seluruh mahasiswa itu, (mungkin) sepanjang masa studinya, akan familiar dengan kata yang umumnya kita pekikkan dalam semangat agustusan; Merdeka! Ya, mereka akan bersitungkin dengan program Kementerian yang masyhur itu, bernama Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM).

Program MBKM ini sebenarnya mencerminkan semangat kemerdekaan dalam konteks pendidikan tinggi. Ia memberikan kebebasan kepada mahasiswa untuk mengeksplorasi minat mereka di luar program studi, mengasah kemampuan praktis melalui magang, dan mengembangkan perspektif global melalui pertukaran pelajar. Namun, seperti halnya kemerdekaan bangsa yang harus diisi dengan kerja keras dan tanggung jawab, kebebasan dalam MBKM juga menuntut kedewasaan dan komitmen dari seluruh operatornya.

Agustus tahun ini kiranya esensial pula dalam politik nasional. Saat ini, masyarakat di berbagai daerah, mungkin sedang gelisah menanti, siapa gerangan Calon Gubernur, Bupati, atau Wali Kota, yang akan berlaga dalam kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Balihonya berserakan dimana-mana. Tapi siapa yang resmi didaftarkan ke Komisi Pemilihan Umum, sejauh ini, masih rahasia Ilahi, tersimpan rapi di kantong celana Para Ketua Umum partai.

 Saya terus terang penasaran, siapa yang bakal diusung di Pilkada Jawa Tengah dan Jakarta. Bukan hanya karena kedua daerah itu memiliki nilai historis bagi saya, namun faktanya mereka adalah barometer politik nasional. Seru sekali pastinya melihat pesta rakyat berjalin kelindan dengan pesta demokrasi.

Warisan Diplomasi Indonesia

Dalam pada itu, di luar segala mukadimah diatas, patut pula kita renungkan, dengan peristiwa kemerdekaan ini, adakah warisan diplomasi Indonesia dalam hubungan internasional modern? Tentulah ada. Bahkan kontribusinya tak dapat disepelekan.

Perjuangan kemerdekaan Indonesia bukan sekadar usaha memerdekakan diri dari penjajahan, tetapi juga manifestasi idealisme yang mendalam tentang keadilan, kemandirian, dan solidaritas. Prinsip-prinsip ini tidak hanya menjadi fondasi bagi negara yang baru merdeka, tetapi juga menjadi panduan dalam menghadapi tantangan global.

Kenanglah kembali Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung, katalisator utama terbentuknya Gerakan Non-blok, sebuah jalan tengah, di bawah bayang-bayang Perang Dingin yang mencekam. Itulah tonggak dalam sejarah diplomasi Indonesia sekaligus jati diri kita di hadapan dunia. Konferensi ini tidak hanya mengukuhkan solidaritas di antara negara-negara berkembang, tetapi juga memicu gerakan yang memperjuangkan keadilan global dan menantang hegemoni kekuatan besar dunia.

Dari rahim Konferensi Bandung, lahirlah Dasasila Bandung, sepuluh prinsip emas yang menjadi kompas dalam navigasi hubungan internasional. Prinsip-prinsip ini, laksana bintang-bintang di langit diplomasi, menjadi penunjuk arah bagi lebih dari seratus negara dalam merumuskan kebijakan luar negeri mereka. Menghormati kedaulatan, menolak intervensi, dan mengutamakan jalan damai. Inilah warisan Indonesia untuk dunia.

Prinsip-prinsip Bandung, meski telah berusia lebih dari setengah abad, masih berdenyut relevan dalam nadi zaman. Di era di mana globalisasi menjanjikan kemakmuran bersama, ketimpangan justru menganga semakin lebar.

Sistem perdagangan internasional masih condong pada yang kuat. Teknologi, yang seharusnya menjadi jembatan kemajuan, malah menjadi tembok pemisah antara yang berpunya dan tidak. Lembaga-lembaga internasional, alih-alih menjadi wadah kesetaraan, masih saja menjadi panggung bagi peragaan kekuatan.

Inilah wajah kolonialisme modern yang harus kita tantang dengan keberanian yang sama seperti para pendahulu kita. Namun, tantangan ini tidak bisa dihadapi dengan cara-cara tradisional. Diperlukan pendekatan yang lebih canggih, yang memadukan idealisme dengan pragmatisme, ketegasan dengan fleksibilitas.

Tantangan

Seiring dengan berputarnya roda zaman, tantangan yang kita hadapi semakin kompleks. Munculnya kekuatan-kekuatan baru seperti China dan India mengubah peta kekuatan dunia. Pusat gravitasi politik dan ekonomi perlahan bergeser dari Barat ke Timur. Di tengah pergolakan ini, Indonesia berdiri dengan potensi yang menjanjikan. Sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia dan ekonomi yang terus bertumbuh, kita memiliki modal untuk memainkan peran yang lebih besar di panggung global.

Pada masa kini, mewarisi gagasan non-blok terdahulu, sebagai respon terhadap perubahan geopolitik global, Indonesia kembali menampilkan mahakarya diplomasi melalui konsep “Indo-Pasifik yang Inklusif“. Gagasan ini menawarkan pendekatan yang lebih kooperatif dan menghindari konfrontasi di kawasan yang semakin bergejolak. Konsep ini mendapat dukungan dari ASEAN dan menjadi alternatif dari strategi “Free and Open Indo-Pacific” yang dipromosikan AS dan sekutunya. Ini menunjukkan bahwa Indonesia masih mampu menghasilkan gagasan cemerlang yang memengaruhi dinamika geopolitik regional.

Terakhir, pesan bagi kita semua, sebagaimana yang disampaikan Bung Karno, “Perjuangan kita belum selesai. Bahkan perjuangan tidak akan pernah selesai.” Tantangan ke depan menuntut lebih dari sekedar melanggengkan warisan. Indonesia perlu mengadaptasi prinsip-prinsip historisnya dalam konteks isu-isu kontemporer seperti perubahan iklim, ketimpangan ekonomi global, dan revolusi teknologi.

Dengan kekayaan pengalaman diplomatik dan posisinya yang strategis, Indonesia akan selamanya terpanggil untuk bangkit sebagai mercusuar harapan, pembawa pesan perdamaian dan keadilan global. [T]

Baca artikel lain dari penulis ELPENI FITRAH

Pesan untuk Pak Presiden Baru: Jangan Hanya Berusaha Mencegah Perang, Kita Harus Bersiap untuk Berperang
Pengunduran Biden dan Tantangan Berat Harris Menuju AS-1
‘Adat Dunia Balas Berbalas, Adat Hidup Tolong Menolong’ dalam konteks Geopolitik Kontemporer
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional
“Putin-Kim Summit”: Manuver Geopolitik Rusia Mengimbangi AS
Hijab vs Identitas Nasional: Pertaruhan Besar Tajikistan
Tags: HUT Kemerdekaan RIkemerdekaan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Milpil Arsip: Catatan GURATGURIT 2024

Next Post

Relasi Ekosistem Kesenian dan Festival

Elpeni Fitrah

Elpeni Fitrah

Ketua Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Relasi Ekosistem Kesenian dan Festival

Relasi Ekosistem Kesenian dan Festival

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co