24 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Adat Dunia Balas Berbalas, Adat Hidup Tolong Menolong’ dalam konteks Geopolitik Kontemporer

Elpeni Fitrah by Elpeni Fitrah
July 22, 2024
in Esai
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

PERIBAHASA “Adat Dunia Balas Berbalas, Adat Hidup Tolong Menolong” seolah menjadi cermin yang memantulkan kompleksitas hubungan internasional saat ini. Konsep ini mewakili interaksi antar negara yang kerap kali dilatari oleh prinsip timbal balik, baik dalam bentuk kerjasama maupun konfrontasi.

Dalam arena geopolitik global, kita mendapati bagaimana prinsip “balas berbalas” menjadi pola dominan, terutama dalam situasi konflik atau persaingan. Meski demikian, “tolong menolong” tetap penting dalam diplomasi dan upaya menjaga stabilitas global. Fenomena ini terlihat jelas dalam berbagai kasus, mulai dari krisis Rusia-Ukraina hingga ketegangan di Laut China Selatan, menunjukkan bahwa kearifan lokal ini memiliki resonansi universal dalam hubungan internasional.

Konsep “balas berbalas” dalam hubungan internasional seringkali dipahami melalui lensa teori Realisme, yang menekankan pada kepentingan nasional dan keseimbangan kekuatan. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa negara akan merespons tindakan negara lain dengan cara yang setara atau lebih keras untuk mempertahankan posisi dan kepentingannya.

Teori Permainan (Game Theory) dalam hubungan internasional juga menjelaskan bagaimana negara-negara berinteraksi dalam situasi yang membutuhkan strategi. Hasil akhirnya bergantung pada tindakan semua pihak yang terlibat.

Manifestasi ‘Balas Berbalas’

Perang Rusia-Ukraina merupakan contoh kontemporer yang jelas dari dinamika “balas berbalas”. Invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022 memicu respons keras dari komunitas internasional, terutama negara-negara Barat. Sebagai balasan atas tindakan Rusia, Amerika Serikat dan sekutunya memberlakukan serangkaian sanksi ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sanksi-sanksi ini mencakup pembekuan aset, larangan transaksi dengan bank-bank Rusia utama, dan pembatasan ekspor teknologi.

Data dari DetikNews (03/2024) menunjukkan bahwa hingga Maret 2024, lebih dari 16.500 sanksi telah dijatuhkan terhadap Rusia, menjadikannya negara paling banyak terkena sanksi di dunia. Sebagai respons, Rusia membalas dengan membatasi ekspor gas ke Eropa dan meningkatkan kerjasama ekonomi dengan negara-negara seperti China dan India, mengilustrasikan bagaimana pola “balas berbalas” dapat mengubah lanskap geopolitik global.

Sementara itu, ketegangan di Laut China Selatan menyajikan contoh lain dari dinamika “balas berbalas” yang lebih kompleks dan multi-aktor. Klaim tumpang tindih atas wilayah maritim antara China dan beberapa negara Asia Tenggara telah menciptakan siklus aksi-reaksi yang terus-menerus. China, bahkan, telah membangun dan memilitarisasi pulau-pulau buatan di wilayah yang disengketakan.

Laporan Asia Maritime Transparency Initiative menunjukkan bahwa China telah membangun fasilitas militer (termasuk lapangan udara dan pos terdepan lainnya) setidaknya di tujuh fitur di Kepulauan Spratly. Sebagai respons, Amerika Serikat dan sekutunya telah meningkatkan operasi kebebasan navigasi (Freedom of Navigation Operations, FONOP) di wilayah tersebut yang menggambarkan eskalasi “balas berbalas” dalam bentuk demonstrasi kekuatan militer.

Perbandingan kedua kasus ini mengungkapkan pola “balas berbalas” yang berbeda namun saling terkait dalam dinamika geopolitik global. Di Ukraina, kita melihat konfrontasi langsung yang melibatkan tindakan militer dan sanksi ekonomi, sementara di Laut China Selatan, konflik lebih banyak bermanifestasi dalam bentuk postur militer dan klaim teritorial.

Namun, kedua kasus ini sama-sama menunjukkan bagaimana prinsip “balas berbalas” dapat mengakibatkan eskalasi ketegangan dan mempersulit resolusi konflik. Analisis dari International Crisis Group menunjukkan bahwa dalam kedua kasus, siklus aksi-reaksi telah menciptakan lingkungan yang semakin tidak stabil dan meningkatkan risiko konflik yang lebih luas.

Mencari Keseimbangan

Meski “balas berbalas” sering dominan, “tolong menolong” tetap berperan dalam menjaga stabilitas global. Pada krisis Ukraina, PBB terus mengupayakan resolusi damai, dengan dukungan mayoritas negara anggota mengecam invasi Rusia. Di Laut China Selatan, ASEAN berusaha menjadi mediator melalui negosiasi Code of Conduct. Inisiatif-inisiatif ini menunjukkan bahwa dalam konflik, komunitas internasional masih berupaya menerapkan prinsip “tolong menolong” untuk kepentingan bersama.

Dinamika “balas berbalas” dan “tolong menolong” dalam konflik-konflik ini memiliki implikasi signifikan bagi tatanan dunia. Kita menyaksikan pergeseran keseimbangan kekuatan global, dengan munculnya blok-blok baru dan realignment strategis. Sebagai contoh, laporan dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengeluaran militer global, mencapai USD 2,24 triliun pada 2022, dengan AS, China, dan Rusia sebagai tiga negara teratas.

Tren ini mengindikasikan bahwa prinsip “balas berbalas” sedang mendorong perlombaan senjata baru. Di sisi lain, krisis-krisis ini juga telah menguji efektivitas institusi multilateral seperti PBB dan ASEAN, menunjukkan perlunya reformasi dan penguatan mekanisme kerjasama internasional untuk lebih efektif dalam menangani konflik modern.

Refleksi atas relevansi peribahasa “Adat Dunia Balas Berbalas, Adat Hidup Tolong Menolong” dalam konteks geopolitik modern mengungkapkan baik kekuatan maupun keterbatasannya. Di satu sisi, peribahasa ini dengan akurat menangkap esensi interaksi antar negara yang sering didasari oleh prinsip timbal balik. Namun, penerapan yang terlalu kaku dari prinsip “balas berbalas” dapat mengakibatkan eskalasi konflik yang berbahaya.

 Sebuah studi dari Harvard Belfer Center menunjukkan bahwa dalam 31% kasus krisis internasional sejak 1918 terjadi karena salah perhitungan atau reaksi berlebihan terhadap tindakan pihak lawan. Ini menunjukkan perlunya keseimbangan yang lebih baik antara “balas berbalas” dan “tolong menolong” dalam diplomasi modern.

Oleh sebab itu, kompleksitas geopolitik saat ini menuntut penerapan prinsip “balas berbalas” dan “tolong menolong” secara lebih bijak. Pembuat kebijakan perlu mempertimbangkan dampak jangka panjang tindakan mereka dan mencari peluang kerjasama bahkan saat konflik.

Bagi akademisi dan peneliti, ada kebutuhan untuk mengembangkan kerangka teoretis yang lebih komprehensif yang dapat menjelaskan interaksi kompleks antara kompetisi dan kerjasama dalam hubungan internasional. Sementara itu, masyarakat umum perlu memahami bahwa dinamika global tidak selalu hitam-putih; solusi konflik sering membutuhkan keseimbangan antara ketegasan dan kompromi. [T]

Baca artikel lain dari penulis ELPENI FITRAH

Refleksi di Hari Media Sosial Nasional
“Putin-Kim Summit”: Manuver Geopolitik Rusia Mengimbangi AS
Hijab vs Identitas Nasional: Pertaruhan Besar Tajikistan
Dari Retorika ke Peluru: Warisan Kekerasan Politik Amerika dari Lincoln hingga Trump
Tags: politik luar negeri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Anak Kecil” Bicara Eksistensi: Proses Kreatif Yuni Lestari

Next Post

Inveigh Rilis Debut Single “Nyala” untuk DSP: Menjaga Api Semangat di Tengah Krisis Paruh Baya

Elpeni Fitrah

Elpeni Fitrah

Ketua Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

Related Posts

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails
Next Post
Inveigh Rilis Debut Single “Nyala” untuk DSP: Menjaga Api Semangat di Tengah Krisis Paruh Baya

Inveigh Rilis Debut Single "Nyala" untuk DSP: Menjaga Api Semangat di Tengah Krisis Paruh Baya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif
Ulas Rupa

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

by Emi Suy
September 23, 2026
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga
Esai

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati
Esai

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

by Angga Wijaya
September 22, 2026
Guci Nasib di Titik Nol Kota
Ulas Rupa

Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

by I Wayan Westa
September 22, 2026
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co