25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Adat Dunia Balas Berbalas, Adat Hidup Tolong Menolong’ dalam konteks Geopolitik Kontemporer

Elpeni Fitrah by Elpeni Fitrah
July 22, 2024
in Esai
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

PERIBAHASA “Adat Dunia Balas Berbalas, Adat Hidup Tolong Menolong” seolah menjadi cermin yang memantulkan kompleksitas hubungan internasional saat ini. Konsep ini mewakili interaksi antar negara yang kerap kali dilatari oleh prinsip timbal balik, baik dalam bentuk kerjasama maupun konfrontasi.

Dalam arena geopolitik global, kita mendapati bagaimana prinsip “balas berbalas” menjadi pola dominan, terutama dalam situasi konflik atau persaingan. Meski demikian, “tolong menolong” tetap penting dalam diplomasi dan upaya menjaga stabilitas global. Fenomena ini terlihat jelas dalam berbagai kasus, mulai dari krisis Rusia-Ukraina hingga ketegangan di Laut China Selatan, menunjukkan bahwa kearifan lokal ini memiliki resonansi universal dalam hubungan internasional.

Konsep “balas berbalas” dalam hubungan internasional seringkali dipahami melalui lensa teori Realisme, yang menekankan pada kepentingan nasional dan keseimbangan kekuatan. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa negara akan merespons tindakan negara lain dengan cara yang setara atau lebih keras untuk mempertahankan posisi dan kepentingannya.

Teori Permainan (Game Theory) dalam hubungan internasional juga menjelaskan bagaimana negara-negara berinteraksi dalam situasi yang membutuhkan strategi. Hasil akhirnya bergantung pada tindakan semua pihak yang terlibat.

Manifestasi ‘Balas Berbalas’

Perang Rusia-Ukraina merupakan contoh kontemporer yang jelas dari dinamika “balas berbalas”. Invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022 memicu respons keras dari komunitas internasional, terutama negara-negara Barat. Sebagai balasan atas tindakan Rusia, Amerika Serikat dan sekutunya memberlakukan serangkaian sanksi ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sanksi-sanksi ini mencakup pembekuan aset, larangan transaksi dengan bank-bank Rusia utama, dan pembatasan ekspor teknologi.

Data dari DetikNews (03/2024) menunjukkan bahwa hingga Maret 2024, lebih dari 16.500 sanksi telah dijatuhkan terhadap Rusia, menjadikannya negara paling banyak terkena sanksi di dunia. Sebagai respons, Rusia membalas dengan membatasi ekspor gas ke Eropa dan meningkatkan kerjasama ekonomi dengan negara-negara seperti China dan India, mengilustrasikan bagaimana pola “balas berbalas” dapat mengubah lanskap geopolitik global.

Sementara itu, ketegangan di Laut China Selatan menyajikan contoh lain dari dinamika “balas berbalas” yang lebih kompleks dan multi-aktor. Klaim tumpang tindih atas wilayah maritim antara China dan beberapa negara Asia Tenggara telah menciptakan siklus aksi-reaksi yang terus-menerus. China, bahkan, telah membangun dan memilitarisasi pulau-pulau buatan di wilayah yang disengketakan.

Laporan Asia Maritime Transparency Initiative menunjukkan bahwa China telah membangun fasilitas militer (termasuk lapangan udara dan pos terdepan lainnya) setidaknya di tujuh fitur di Kepulauan Spratly. Sebagai respons, Amerika Serikat dan sekutunya telah meningkatkan operasi kebebasan navigasi (Freedom of Navigation Operations, FONOP) di wilayah tersebut yang menggambarkan eskalasi “balas berbalas” dalam bentuk demonstrasi kekuatan militer.

Perbandingan kedua kasus ini mengungkapkan pola “balas berbalas” yang berbeda namun saling terkait dalam dinamika geopolitik global. Di Ukraina, kita melihat konfrontasi langsung yang melibatkan tindakan militer dan sanksi ekonomi, sementara di Laut China Selatan, konflik lebih banyak bermanifestasi dalam bentuk postur militer dan klaim teritorial.

Namun, kedua kasus ini sama-sama menunjukkan bagaimana prinsip “balas berbalas” dapat mengakibatkan eskalasi ketegangan dan mempersulit resolusi konflik. Analisis dari International Crisis Group menunjukkan bahwa dalam kedua kasus, siklus aksi-reaksi telah menciptakan lingkungan yang semakin tidak stabil dan meningkatkan risiko konflik yang lebih luas.

Mencari Keseimbangan

Meski “balas berbalas” sering dominan, “tolong menolong” tetap berperan dalam menjaga stabilitas global. Pada krisis Ukraina, PBB terus mengupayakan resolusi damai, dengan dukungan mayoritas negara anggota mengecam invasi Rusia. Di Laut China Selatan, ASEAN berusaha menjadi mediator melalui negosiasi Code of Conduct. Inisiatif-inisiatif ini menunjukkan bahwa dalam konflik, komunitas internasional masih berupaya menerapkan prinsip “tolong menolong” untuk kepentingan bersama.

Dinamika “balas berbalas” dan “tolong menolong” dalam konflik-konflik ini memiliki implikasi signifikan bagi tatanan dunia. Kita menyaksikan pergeseran keseimbangan kekuatan global, dengan munculnya blok-blok baru dan realignment strategis. Sebagai contoh, laporan dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengeluaran militer global, mencapai USD 2,24 triliun pada 2022, dengan AS, China, dan Rusia sebagai tiga negara teratas.

Tren ini mengindikasikan bahwa prinsip “balas berbalas” sedang mendorong perlombaan senjata baru. Di sisi lain, krisis-krisis ini juga telah menguji efektivitas institusi multilateral seperti PBB dan ASEAN, menunjukkan perlunya reformasi dan penguatan mekanisme kerjasama internasional untuk lebih efektif dalam menangani konflik modern.

Refleksi atas relevansi peribahasa “Adat Dunia Balas Berbalas, Adat Hidup Tolong Menolong” dalam konteks geopolitik modern mengungkapkan baik kekuatan maupun keterbatasannya. Di satu sisi, peribahasa ini dengan akurat menangkap esensi interaksi antar negara yang sering didasari oleh prinsip timbal balik. Namun, penerapan yang terlalu kaku dari prinsip “balas berbalas” dapat mengakibatkan eskalasi konflik yang berbahaya.

 Sebuah studi dari Harvard Belfer Center menunjukkan bahwa dalam 31% kasus krisis internasional sejak 1918 terjadi karena salah perhitungan atau reaksi berlebihan terhadap tindakan pihak lawan. Ini menunjukkan perlunya keseimbangan yang lebih baik antara “balas berbalas” dan “tolong menolong” dalam diplomasi modern.

Oleh sebab itu, kompleksitas geopolitik saat ini menuntut penerapan prinsip “balas berbalas” dan “tolong menolong” secara lebih bijak. Pembuat kebijakan perlu mempertimbangkan dampak jangka panjang tindakan mereka dan mencari peluang kerjasama bahkan saat konflik.

Bagi akademisi dan peneliti, ada kebutuhan untuk mengembangkan kerangka teoretis yang lebih komprehensif yang dapat menjelaskan interaksi kompleks antara kompetisi dan kerjasama dalam hubungan internasional. Sementara itu, masyarakat umum perlu memahami bahwa dinamika global tidak selalu hitam-putih; solusi konflik sering membutuhkan keseimbangan antara ketegasan dan kompromi. [T]

Baca artikel lain dari penulis ELPENI FITRAH

Refleksi di Hari Media Sosial Nasional
“Putin-Kim Summit”: Manuver Geopolitik Rusia Mengimbangi AS
Hijab vs Identitas Nasional: Pertaruhan Besar Tajikistan
Dari Retorika ke Peluru: Warisan Kekerasan Politik Amerika dari Lincoln hingga Trump
Tags: politik luar negeri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Anak Kecil” Bicara Eksistensi: Proses Kreatif Yuni Lestari

Next Post

Inveigh Rilis Debut Single “Nyala” untuk DSP: Menjaga Api Semangat di Tengah Krisis Paruh Baya

Elpeni Fitrah

Elpeni Fitrah

Ketua Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

Related Posts

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
0
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

Read moreDetails

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
0
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

Read moreDetails

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails
Next Post
Inveigh Rilis Debut Single “Nyala” untuk DSP: Menjaga Api Semangat di Tengah Krisis Paruh Baya

Inveigh Rilis Debut Single "Nyala" untuk DSP: Menjaga Api Semangat di Tengah Krisis Paruh Baya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co