2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Geblek Pari, Wisata Kuliner Rasa Alam Pedesaan di Kulon Progo

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
October 13, 2024
in Kuliner
Geblek Pari, Wisata Kuliner Rasa Alam Pedesaan di Kulon Progo

Rumah Makan Geblek Pari di Kulon Progo, ogyakarta | Foto: Nyoman Tingkat

SEBELUM meninggalkan Yogyakarta pada Kamis, 3 Oktober 2024, setelah menginap semalam di Embe 6 Kelurahan Condong Catur kami mengunjungi Candi Borobudur. Kawasan luar candi sampai area parkir sedang bersolek. Penataan  sudah berlangsung sejak Mei 2024. Sekarang stand kuliner dan art shop sudah terpusat bersebelahan dengan area parkir sehingga tidak semrawut lagi.

Sebagai kawasan wisata kelas dunia dan salah satu dari tujuh keajaiban dunia berstatus cagar budaya sejak 1991, Candi Borobudur tampak  makin elegan menyambut kedatangan wisatawan dengan sejuta kenangan sesuai dengan nilai-nilai Sapta Pesona (aman, tertib,bersih,sejuk, indah, ramah, dan kenangan).

Setelah berfoto-foto dari berbagai sisi candi, kami berkeliling berjalan kaki sambil menyaksikan bunga terompet (tabebuya) dari Brasilia berwarna merah kuning yang bermekaran sangat menarik menyambut Purnama Kartika. Tiba-tiba saja saya teringat kidung Warga Sari  menyambut Purnama Sasih Kapat, saat desa-desa adat di Bali melaksanakan karya Ngusaba Desa. “Kartika panedenging sari…”. Purnama Sasih Kapat (Kartika) diyakini sebagaiPurnama terindah oleh para Kawi Wiku Bali selain Purnama Sasih Kedasa.

Seusai berziarah, kami meninggalkan Candi Borobudur  menuju Rumah Makan Geblek Pari sebelum ke Bandara Yogyakarta Internasional Airport (YIA) di Kapenewon  Temon  Kulon Progo. Kami diantar Mas Mamad sebagai sopir sekaligus pemandu.

Menurutnya,  Rumah Makan Geblek Pari terletak di Kampung Pronosutan Kelurahan Kembang Kecamatan Nanggulan Kabupaten Kulon Progo. Jarak dari Borobudur ke rumah makan ini sekitar 24,5 km dengan waktu tempuh sekitar 35 menit melewati suasana alam pedesaan dengan udara segar. Kanan kiri terlihat  persawahan hijau memukau dengan pepohonan besar dan kecil. Namun, jarang tampak petani.

Di rumah makan Geblek Pari | Foto: Dok. Nyoman Tingkat

Sampai di Rumah Makan Geblek Pari yang mulai buka.  kami disambut pemandangan alam pedesaan dengan Bukit Manoreh yang membentang bikin hati senang. Rumah Makan Geblek Pari ini dibuka pukul 08.00 – 20.00 WIB pada Senin-Jumat, sedangkan Sabtu – Minggu, buka mulai pk.07.00 – 20.00 WIB. Dibuka  sejak 2017 oleh pasangan  Popo Yuda dan Mericia Putri dari Sleman. Sejak itu, Geblek Pari langsung booming sebagai tujuan wisata kuliner yang terkenal.

Sesuai dengan namanya, Geblek Pari, menawarkan kuliner utama  geblek makanan khas Kulon Progo yang terbuat dari singkong dengan bumbu bawang rasanya gurih dan kenyal. Langsung nendang di lidah, membuat ketagihan. Inilah kekayaan gastronomi Indonesia yang hanya ada di Kulon Progo Yogyakarta. Rugi rasanya ke Yogyakarta tanpa merasakan gurihnya geblek.

Rumah Makan Geblek Pari sebagai bagian dari wisata kuliner memiliki keistimewaan dan keunikan tersendiri. Pertama, makanan yang disajikan masih fresh dari bahan segar yang dipetik dari alam sekitar.

Menu makanan terdiri atas sayur labu, brongkos tahu, oseng-oseng labu, ikan nila, lele, tahu goreng, tempe, dan ayam. Menu itu  dapat diambil sendiri sesuai dengan keinginan masing-masing pembeli. Harga perporsi mulai dari Rp 12.000,00. Harga bergerak sesuai dengan pilihan lauk yang diambil menyesuaikan dengan isi dompet.

Kedua, semua bahan makanan dimasak secara tradisional dengan kayu bakar di atas  tungku api oleh juru masak dari kampung setempat. Jumlah karyawan memasak di sini ada 5 orang dengan Mbah Katinah sebagai juru masak senior. Pengunjung  dapat ikut merasakan sensasi memasak secara tradisional ala Geblek Pari. Ke depan, tidak tertutup kemungkinan, Geblek Pari  dapat dikembangkan menjadi kelas kuliner. Pengunjung dapat merasakan sensasi memasak sendiri  di sini.

Ketiga, tempat makannya terbuka di Balai-balai klasik berbentuk joglo khas Yogyakarta dengan pemandangan alam persawahan di Kawasan Bukit Manoreh. Terlihat petani sedang bekerja di sawah sangat alami memenuhi citra alam pedesaan. Sangat cocok untuk tempat makan dengan kopi penutup bertimpal pisang goreng hangat. Duh, sungguh mengundang liur tergiur.

Proses pembuatan kuliner Geblek Pari | Foto: Dok. Nyoman Tingkat

Keempat, tidak hanya menawarkan makanan, Geblek Pari juga menyediakan lapak membatik di sela-sela Balai-Balai Joglo tempat makan. Pengunjung dapat merasakan serunya membatik sekaligus juga dapat membeli hasil karya pengrajin ini sebagai oleh-oleh. Ini tidak terlepas dari Kota Yogyakarta dengan ikon batik yang terkenal. Wisata kuliner dengan citarasa budaya membatik yang menarik simpatik menggugah empati wisatawan.

Kelima, pengelola Geblek Pari memadukan kuliner dengan petualangan keliling kampung melewati Bukit Manoreh dengan penyewaan sekuter, ATV, dan Jip. Harga sewa sekuter Rp 40.000,00, harga sewa  ATV Rp 45.000,00, dan harga sewa Jip Terbuka Rp 450.000,00 untuk 3-4 orang.  

Begitulah Geblek Pari sebagai tempat wisata kuliner yang baru 7 tahun dibuka mampu mempekerjakan 13 karyawan dari kampung setempat. Walaupun karyawannya orang kampung, pelayanannya tidak kampungan. Para karyawan ini juga sempat dimanjakan berlibur ke Bali sebagai wisatawan, seperti dituturkan Mbah Katinah.

Menurut Mbah Katinah, Geblek Pari dapat melayani rombongan sampai 400 orang sehari. Resiko pelayanan dalam jumlah banyak, Geblek Pari juga menerima tenaga Daily Worker (DW) yang disebut pocokan dalam Bahasa Jawa. Begitulah pariwisata bila dikelola dengan baik dan professional, dapat dilakukan intensifikasi dan diversifikasi sebagai diterapkan dalam budaya agraris.

Berfoto di tepi sawah di kawasan Rumah Makan Geblek Pari | Foto: Dok. Nyoman Tingkat

Dengan intensifikasi, pariwisata dikemas secara intensif akibat keterbatasan daya dukung sehingga tidak dapat divariasikan. Namun, yang dipasarkan adalah sektor jasa melalui pelayanan prima. Dengan diversifikasi, pariwisata dapat menawarkan kolaborasi dan sinergi dengan daya dukung yang tersedia. 

Geblek Pari adalah contoh nyata yang menawarkan kuliner sebagai daya tarik utama, didukung  bentang alam persawahan dan bukit Manoreh yang menyediakan arena petualangan. Maka penyewaan sekuter, ATV, dan Jip pun dapat dinikmati pengunjung untuk bertualang, selain bertualang menikmati kuliner memanjakan lidah. [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Heha Sky View, Taman Langitnya Yogyakarta
Berguru ke Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Shopping Puisi di Malioboro 
Yang Tercecer dari Borobudur dan Prambanan
Tags: kulinerkuliner geblek pariKulon ProgoYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Isbedy Stiawan ZS | Gemuruh, Hilang

Next Post

Museum Nasional Indonesia Kembali Dibuka, Apakah Publik Masih Butuh Museum?

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
0
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

Read moreDetails

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails

Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

by Dede Putra Wiguna
January 11, 2026
0
Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

LANGIT masih gelap ketika aroma kayu bakar mulai menyelinap dari sebuah dapur sederhana di Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar. Matahari belum...

Read moreDetails

Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

by Ni Putu Vira Astri Agustini
December 21, 2025
0
Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

PAGI di Pasar Blahkiuh selalu dimulai dengan suara yang sama sejak puluhan tahun lalu. Bukan teriakan pedagang, bukan pula deru...

Read moreDetails

Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

by Dede Putra Wiguna
November 22, 2025
0
Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

“Mbok, nasi lawarnya tiga porsi, ekstra sate, minumnya temulawak ya!” ucap seorang pemuda saat memesan makanan, lalu tergesa masuk ke...

Read moreDetails

Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

by I Gede Teddy Setiadi
November 11, 2025
0
Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

KESAN friendly langsung terasa saat bertemu dengan Muhamad Faisal. Ia pemuda asal Pekanbaru, Riau, tapi kami bertemu di di Jalan...

Read moreDetails
Next Post
Museum Nasional Indonesia Kembali Dibuka, Apakah Publik Masih Butuh Museum?

Museum Nasional Indonesia Kembali Dibuka, Apakah Publik Masih Butuh Museum?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co