2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Geblek Pari, Wisata Kuliner Rasa Alam Pedesaan di Kulon Progo

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
October 13, 2024
in Kuliner
Geblek Pari, Wisata Kuliner Rasa Alam Pedesaan di Kulon Progo

Rumah Makan Geblek Pari di Kulon Progo, ogyakarta | Foto: Nyoman Tingkat

SEBELUM meninggalkan Yogyakarta pada Kamis, 3 Oktober 2024, setelah menginap semalam di Embe 6 Kelurahan Condong Catur kami mengunjungi Candi Borobudur. Kawasan luar candi sampai area parkir sedang bersolek. Penataan  sudah berlangsung sejak Mei 2024. Sekarang stand kuliner dan art shop sudah terpusat bersebelahan dengan area parkir sehingga tidak semrawut lagi.

Sebagai kawasan wisata kelas dunia dan salah satu dari tujuh keajaiban dunia berstatus cagar budaya sejak 1991, Candi Borobudur tampak  makin elegan menyambut kedatangan wisatawan dengan sejuta kenangan sesuai dengan nilai-nilai Sapta Pesona (aman, tertib,bersih,sejuk, indah, ramah, dan kenangan).

Setelah berfoto-foto dari berbagai sisi candi, kami berkeliling berjalan kaki sambil menyaksikan bunga terompet (tabebuya) dari Brasilia berwarna merah kuning yang bermekaran sangat menarik menyambut Purnama Kartika. Tiba-tiba saja saya teringat kidung Warga Sari  menyambut Purnama Sasih Kapat, saat desa-desa adat di Bali melaksanakan karya Ngusaba Desa. “Kartika panedenging sari…”. Purnama Sasih Kapat (Kartika) diyakini sebagaiPurnama terindah oleh para Kawi Wiku Bali selain Purnama Sasih Kedasa.

Seusai berziarah, kami meninggalkan Candi Borobudur  menuju Rumah Makan Geblek Pari sebelum ke Bandara Yogyakarta Internasional Airport (YIA) di Kapenewon  Temon  Kulon Progo. Kami diantar Mas Mamad sebagai sopir sekaligus pemandu.

Menurutnya,  Rumah Makan Geblek Pari terletak di Kampung Pronosutan Kelurahan Kembang Kecamatan Nanggulan Kabupaten Kulon Progo. Jarak dari Borobudur ke rumah makan ini sekitar 24,5 km dengan waktu tempuh sekitar 35 menit melewati suasana alam pedesaan dengan udara segar. Kanan kiri terlihat  persawahan hijau memukau dengan pepohonan besar dan kecil. Namun, jarang tampak petani.

Di rumah makan Geblek Pari | Foto: Dok. Nyoman Tingkat

Sampai di Rumah Makan Geblek Pari yang mulai buka.  kami disambut pemandangan alam pedesaan dengan Bukit Manoreh yang membentang bikin hati senang. Rumah Makan Geblek Pari ini dibuka pukul 08.00 – 20.00 WIB pada Senin-Jumat, sedangkan Sabtu – Minggu, buka mulai pk.07.00 – 20.00 WIB. Dibuka  sejak 2017 oleh pasangan  Popo Yuda dan Mericia Putri dari Sleman. Sejak itu, Geblek Pari langsung booming sebagai tujuan wisata kuliner yang terkenal.

Sesuai dengan namanya, Geblek Pari, menawarkan kuliner utama  geblek makanan khas Kulon Progo yang terbuat dari singkong dengan bumbu bawang rasanya gurih dan kenyal. Langsung nendang di lidah, membuat ketagihan. Inilah kekayaan gastronomi Indonesia yang hanya ada di Kulon Progo Yogyakarta. Rugi rasanya ke Yogyakarta tanpa merasakan gurihnya geblek.

Rumah Makan Geblek Pari sebagai bagian dari wisata kuliner memiliki keistimewaan dan keunikan tersendiri. Pertama, makanan yang disajikan masih fresh dari bahan segar yang dipetik dari alam sekitar.

Menu makanan terdiri atas sayur labu, brongkos tahu, oseng-oseng labu, ikan nila, lele, tahu goreng, tempe, dan ayam. Menu itu  dapat diambil sendiri sesuai dengan keinginan masing-masing pembeli. Harga perporsi mulai dari Rp 12.000,00. Harga bergerak sesuai dengan pilihan lauk yang diambil menyesuaikan dengan isi dompet.

Kedua, semua bahan makanan dimasak secara tradisional dengan kayu bakar di atas  tungku api oleh juru masak dari kampung setempat. Jumlah karyawan memasak di sini ada 5 orang dengan Mbah Katinah sebagai juru masak senior. Pengunjung  dapat ikut merasakan sensasi memasak secara tradisional ala Geblek Pari. Ke depan, tidak tertutup kemungkinan, Geblek Pari  dapat dikembangkan menjadi kelas kuliner. Pengunjung dapat merasakan sensasi memasak sendiri  di sini.

Ketiga, tempat makannya terbuka di Balai-balai klasik berbentuk joglo khas Yogyakarta dengan pemandangan alam persawahan di Kawasan Bukit Manoreh. Terlihat petani sedang bekerja di sawah sangat alami memenuhi citra alam pedesaan. Sangat cocok untuk tempat makan dengan kopi penutup bertimpal pisang goreng hangat. Duh, sungguh mengundang liur tergiur.

Proses pembuatan kuliner Geblek Pari | Foto: Dok. Nyoman Tingkat

Keempat, tidak hanya menawarkan makanan, Geblek Pari juga menyediakan lapak membatik di sela-sela Balai-Balai Joglo tempat makan. Pengunjung dapat merasakan serunya membatik sekaligus juga dapat membeli hasil karya pengrajin ini sebagai oleh-oleh. Ini tidak terlepas dari Kota Yogyakarta dengan ikon batik yang terkenal. Wisata kuliner dengan citarasa budaya membatik yang menarik simpatik menggugah empati wisatawan.

Kelima, pengelola Geblek Pari memadukan kuliner dengan petualangan keliling kampung melewati Bukit Manoreh dengan penyewaan sekuter, ATV, dan Jip. Harga sewa sekuter Rp 40.000,00, harga sewa  ATV Rp 45.000,00, dan harga sewa Jip Terbuka Rp 450.000,00 untuk 3-4 orang.  

Begitulah Geblek Pari sebagai tempat wisata kuliner yang baru 7 tahun dibuka mampu mempekerjakan 13 karyawan dari kampung setempat. Walaupun karyawannya orang kampung, pelayanannya tidak kampungan. Para karyawan ini juga sempat dimanjakan berlibur ke Bali sebagai wisatawan, seperti dituturkan Mbah Katinah.

Menurut Mbah Katinah, Geblek Pari dapat melayani rombongan sampai 400 orang sehari. Resiko pelayanan dalam jumlah banyak, Geblek Pari juga menerima tenaga Daily Worker (DW) yang disebut pocokan dalam Bahasa Jawa. Begitulah pariwisata bila dikelola dengan baik dan professional, dapat dilakukan intensifikasi dan diversifikasi sebagai diterapkan dalam budaya agraris.

Berfoto di tepi sawah di kawasan Rumah Makan Geblek Pari | Foto: Dok. Nyoman Tingkat

Dengan intensifikasi, pariwisata dikemas secara intensif akibat keterbatasan daya dukung sehingga tidak dapat divariasikan. Namun, yang dipasarkan adalah sektor jasa melalui pelayanan prima. Dengan diversifikasi, pariwisata dapat menawarkan kolaborasi dan sinergi dengan daya dukung yang tersedia. 

Geblek Pari adalah contoh nyata yang menawarkan kuliner sebagai daya tarik utama, didukung  bentang alam persawahan dan bukit Manoreh yang menyediakan arena petualangan. Maka penyewaan sekuter, ATV, dan Jip pun dapat dinikmati pengunjung untuk bertualang, selain bertualang menikmati kuliner memanjakan lidah. [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Heha Sky View, Taman Langitnya Yogyakarta
Berguru ke Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Shopping Puisi di Malioboro 
Yang Tercecer dari Borobudur dan Prambanan
Tags: kulinerkuliner geblek pariKulon ProgoYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Isbedy Stiawan ZS | Gemuruh, Hilang

Next Post

Museum Nasional Indonesia Kembali Dibuka, Apakah Publik Masih Butuh Museum?

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
0
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

Read moreDetails

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
0
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

Read moreDetails

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
0
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

Read moreDetails

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
0
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

Read moreDetails

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
0
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

Read moreDetails

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails
Next Post
Museum Nasional Indonesia Kembali Dibuka, Apakah Publik Masih Butuh Museum?

Museum Nasional Indonesia Kembali Dibuka, Apakah Publik Masih Butuh Museum?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co