2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bulan Merdeka Belajar di Tengah Tragedi  Pendidikan 

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
May 12, 2024
in Opini
Bulan Merdeka Belajar di Tengah Tragedi  Pendidikan 

TIGA Mei 2024 dalam suasana  Hari Pendidikan Nasional, dunia pendidikan Indonesia berduka cita. Seorang taruna  Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta Putu Satria Ananta Rustika (19) mahasiswa Tingkat I asal Klungkung meninggal dunia. Berdasar berita di media Putu Satria diduga jadi korban kekerasan dari seniornya, Tegar Rafi Sanjaya. Menurut catatan media, kekerasan di STIP sudah berlangsung sejak 2008 dengan korban Agung Bastian Gultom, pada 2014 dengan korban Dimas Dikita Handoko,   dan  pada 2017 dengan korban  Amirullah Adityas Putra.

Dari informasi media,  Putu Satria Ananta Rustika adalah taruna berprestasi yang dikabarkan lolos seleksi beasiswa ke Cina sebagai mayoret. Jika informasi itu benar, ada dugaan persaingan yang tidak sehat antara senior dan yunior. Senior tidak terima yuniornya berprestasi dan merasa kalah saing. Kecemburuan yang membabi buta telah membutakan mata hati para senior. Hal yang amat bertentangan dengan hakikat pendidikan, yang menekankan kesadaran diri dan ketulusan perhatian dengan cinta kasih. Berulangnya kasus kekerasan di kampus kedinasan berasrama itu dalam 10 tahun terakhir, menandakan kampus tidak aman dan tidak nyaman, bertentangan dengan semangat Merdeka Kampus yang menyenangkan dan menenangkan. 

STIP Jakarta berada di bawah naungan Kementerian Perhubungan dengan kampus berasrama. Dalam banyak kasus, kekerasan lebih sering terjadi di sekolah berasrama padahal mereka diawasi oleh pamong belajar selama 24 jam. Ada apa dengan sekolah berasrama?

Pertama, kasus kekerasan yang terjadi STIP ini makin meyakinkan pendapat bahwa kekerasan di lingkungan mana pun tak terkecuali di dunia pendidikan  dilakukan oleh orang dekat. Mereka yang seharusnya mengampu, mengasuh,  mengamong, dan melindungi malah menghabisi. Hal demikian justru terjadi di sekolah berasrama yang secara institusional berada di dalam pantauan selama 24 jam. Penyelenggara sekolah berasrama perlu merefleksikan diri sebagaimana disyaratkan dalam Kurikulum Merdeka yang dilaksanakan oleh sekolah reguler setiap akhir kegiatan.

Kedua,perlu dipastikan  pola asuh pamong yang  humanis berbasis teknologi   (teknohumanis) memperhatikan karakteristik peserta didik yang unik dan hebat. Disiplin perlu ditegakkan dengan penyadaran dari dalam, bukan dengan gaya militer , “pukul dulu urusan belakang”. Jika di ujung urusannya penjara karena menghilangkan nyawa sesama anggota perguruan, penyesalanlah muaranya. Reputasi sekolah tercoreng, orang tua merasa gagal, ketakutan menghantui. Dunia pendidikan dalam kegelapan. Padahal, hakikat sekolah adalah menerangi kegelapan. Kata Kartini, “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Ketiga, tata tertib dan struktur organisasi  di sekolah perlu dibedah tuntas melibatkan stakeholder terkait (pejabat kampus dengan dosen,orang tua, tokoh pendidikan, dan para  taruna) yang diasuh. Struktur organisasi yang membangun relasi kuasa taruna senior-yunior ditiadakan, karena mereka berstatus sama : sama-sama peserta didik. Jangan sampai ada kecemburuan sosial bila prestasi yunior melampaui seniornya karena kehebatan itu beragam adanya. Itulah sebabnya pembelajaran berdiferensiasi diperlukan.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyesalkan kejadian itu, bahkan menonaktifkan Direktur STIP Ahmad Wahid dan beberapa pejabat di kampus tersebut. Selanjutnya  tidak akan  menerima calon taruna tahun 2024 untuk memutus mata rantai   senior-yunior yang merugikan. Selain itu, asrama hanya diperuntukkan bagi taruna tingkat I sedangkan taruna senior mengontrak di seputar kampus dan berbaur dengan masyarakat.  Hal itu disampaikan saat melayat ke rumah duka bertemu orang tua Putu Satria Ananta Rustika di Klungkung.  Rasa empati pun ditunjukkan  Budi Karya Sumadi  seraya berjanji akan memberikan beasiswa kepada adik korban. Janji ini harus ada yang mengawal untuk memastikan keterlaksanaannya.

 Janji Menteri Perhubungan itu dapat menghibur sesaat untuk mengobati luka batin keluarga korban. Dalam jangka panjang, sekolah kedinasan tampaknya perlu diintegrasikan ke Perguruan Tinggi pada umumnya (Universitas) dengan membuka sekolah vokasi sehingga penerimaan mahasiswanya pun melalui jalur sebagai mana mahasiswa pada umumnya. Selain tidak diskriminatif, pembiayaannya pun lebih hemat, inklusif, dan demokratis. Rekrutmen juga dapat melalui jalur prestasi sesuai dengan kekhususan yang dikembangkan. Saat ini ada likuran sekolah kedinasan yang tampak gagah dan ekskusif  dengan  pembiayaan pendidikan melalui APBN dan berada di luar Kemendikbud Ristek. Jangan-jangan  20% APBN untuk pendidikan tersedot lebih banyak ke sekolah kedinasan daripada Universitas Negeri Reguler yang biaya UKT-nya kian melambung.

Rumitnya dunia pendidikan Indonesia tidak berada dalam satu kementerian memerlukan sinkronisasi dan koordinasi dengan tetap berpegang teguh pada tujuan fundamentalnya mencerdaskan kehidupan bangsa. Bangsa yang cerdas tidak melaksanakan pendidikan dengan membangun ketakutan dan trauma berkepanjangan. Janji kemerdekaan harus dilunasi dengan pendidikan yang humanis, bijaksana dan berdaya saing. ‘’Menang tanpa ngasorake’’, kata bijak Jawa.  Peran terpenting pendidikan adalah menumbuhkan kesadaran di tengah perbedaan untuk saling menguatkan dalam mencapai puncak segitiga emas. Puncak itu tidak dapat dicapai dengan santai tetapi harus diperjuangkan dengan berakhlak mulia sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila.

Kekerasan yang menewaskan taruna  beberapa kali di STIP Jakarta pada bulan Merdeka Belajar menunjukkan dirampasnya kemerdekaan para taruna muda yang berjuang untuk keluar dari kegelapan. Kekerasan ini melengkapi tragedi pendidikan yang sudah lama berlangsung dengan berbagai varian yang disebut tiga dosa pendidikan.  Bahkan kata Mochtar Buchari kini telah terjadi arogansi intelektual di lingkungan pendidikan. Bersamaan dengan itu, kepalsuan demi kepalsuan dipertontonkan : plagiarisme dan wisuda abal-abal dengan ijazah palsu. Tiba-tiba saya, teringat “Sajak Palsu” karya Agus R. Sarjono.

 Mendung gelap dunia pendidikan mudah-mudahan tidak menimbulkan fobia sekolah bagi anak muda meraih cita-cita dan harapan. Renungan di Bulan Merdeka Belajar di tengah tragedi pendidikan. [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

 Guru Penggerak Sebagai “Balian Ketakson”
Kurikulum Merdeka Berkiblat ke Taman Siswa
Kurikulum  Dengan Pendekatan “Desa, Kala, Patra”
Tags: kekerasankekerasan dalam pendidikanPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menanti Kamu di Kartika Masa | Prosa Meisa Wulandari

Next Post

Dua Jam Bersama Luh Menek

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
Dua Jam Bersama Luh Menek

Dua Jam Bersama Luh Menek

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co