2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ngurit Padi Bali, Usaha Perbaikan Genetik Padi Merah di Buleleng

Jaswanto by Jaswanto
March 7, 2024
in Khas
Ngurit Padi Bali, Usaha Perbaikan Genetik Padi Merah di Buleleng

Petugas Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng sedang menyemai padi merah di lahan Subak Sambangan | Foto: Jaswanto

DI TENGAH lahan becek dan berlumpur, sekelompok petugas dari Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng dan dua orang petani sedang bersiap menebar benih padi merah (padi bali) di sepetak lahan Subak Sambangan, Banjar Babakan, Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Kamis (7/3/2024) pagi. Di atas bedengan-bedengan yang sebelumnya sudah diberi garis dan patok penanda benih, mereka menyusun bulir-bulir padi itu secara merata.

“Bibit ini sebelumnya sudah direndam di air selama dua hari,” ujar Made Suadyana sambil menyuguhkan kopi hitam yang baru saja diseduh. Pagi itu gerimis memang turun. Meski tak sampai membuat kuyup, tapi cukup melunakkan tanah dan membuat alas kaki bernoda lumpur. “Setelah direndam, ditiriskan sehari, baru disemai,” sambung petani pemilik lahan yang dijadikan Dinas Pertanian sebagai uji penanaman itu.

Di tengah gerimis, Suadyana memimpin orang-orang dari Dinas Pertanian itu untuk mulai menebar benih. Mereka melepas alas kaki. Membenamkan kaki yang telanjang itu ke dalam lumpur berair di sela-sela bedengan. Gabah-gabah padi merah yang terbungkus plastik dibedah dan ditebar secara merata. Sementara mereka menyemai sambil bersenda gurau, seorang petani lainnya asyik dan fokus memotong ilalang. “Untuk dijadikan penutup benih yang sudah ditebar,” terang Suadyana sebelum terjun ke petak penyemaian.

I Gusti Ayu Maya Kurnia, Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Buleleng, dan jajaran sedang menyemai bibit padi merah | Foto: Jaswanto

Ilalang-ilalang yang panjang itu dipotong seukuran bedengan, sekitar setengah meter. Pemakaian rumput belukar ini bukan tanpa alasan. Tapi sungguh sangat beralasan. Bisa saja sebenarnya menggunakan jerami sebagai penutup benih yang telah disebar, tapi itu sangat berisiko. “Kalau pakai jerami, biasanya masih ada satu atau dua padi tersisa di sana. Nanti itu ikut tumbuh, campur jadinya,” kata Suadyana.

Padi merah yang disemai di lahan Suadyana, merupakan bibit yang diambil dari Desa Munduk. Di Buleleng, daerah Munduk, Gobleg, dan Gesing memang masih menanam dan melestarikan varietas padi bali—jenis padi yang hari ini mulai digantikan dengan padi hibrida. Banyak petani menilai, meski harganya lebih mahal, rentang waktu semai, tanam, sampai panen padi bali terlalu panjang. Petani hari ini tak cukup sabar akan hal itu. Tapi mau bagaimana lagi, zaman telah berubah.

“Bibit awalnya memang dari Munduk. Tapi yang kami tanam saat ini merupakan hasil panen tahun lalu—yang ditanam di Subak Babakan,” ujar petani pensiunan POPT Dinas Pertanian Buleleng itu. Sebagai seorang yang pernah mengabdikan diri di Dinas Pertanian Buleleng, Suadyana merelakan beberapa petak sawahnya untuk dijadikan lahan persemaian, percobaan pengembangan varietas padi merah di Buleleng.

Sebelum hari penyemaian dilakukan, katanya, ia dan pihak dinas sudah melakukan koordinasi dengan pengurus Subak Sambangan untuk memastikan suplai air ke lahan percobaan itu cukup. “Sehingga dapat mendukung pertumbuhan dan kualitas padi yang dihasilkan bisa lebih bagus dari tahun-tahun sebelumnya,” sambungnya.

Proses pemotongan ilalang sebagai penutup bibit padi yang sudah ditebar di persemaian | Foto: Jaswanto

Secara teknis, program ini tidak jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pihak Dinas Pertanian masih mencoba menerapkan SOP yang sama. Meski begitu, pertimbangan dalam pemilihan lahan, pemeliharaan, usaha pencegahan hama, akan dan sudah dilakukan berdasarkan kondisi di lapangan, tidak monoton harus mengikuti purwarupa setahun atau dua tahun yang lalu.

“Setelah bibit ditanam, maksudnya dipindah ke lahan yang lebih luas, seperti tahun-tahun sebelumnya, kami akan melakukan pengamatan seminggu sekali,” kata Suadyana.

Pengamatan itu dilakukan sebagai bentuk lanjutan proses percobaan dan kontrol apakah tanaman membutuhkan penanganan—Suadyana menyebutnya penyemprotan—pestisida atau tidak. Dan mengenai pemupukan akan digunakan pupuk organik. “Tapi, kalau diperlukan kimia, itu pun harus sesuai rekomendasi dinas—karena mereka yang tahu takarannya,” tutur Suadyana tegas.

Uji Mutu Pengendalian OPT

Sebagaimana yang tertuang dalam judul, kegiatan yang diinisiasi Dinas Pertanian Buleleng ini bertujuan untuk memperbaiki genetik padi merah Desa Munduk. Hal ini dilakukan sebagai sebuah usaha untuk, setidaknya, sebagaimana telah disinggung di atas, dapat memangkas masa semai, tanam, dan panen.

Di Munduk, padi jenis ini ditanam di ketinggian 500 meter di atas permukaan laut. Tapi di tangan orang-orang Dinas Pertanian, varietas ini dicoba ditanam di dataran yang lebih rendah. Dan ini bukan percobaan yang pertama.

Penyemaian di lahan milik Suadyana di Subak Sambangan itu merupakan yang ketujuh—G7 mereka menyebut. Pada tahun sebelumnya, setidaknya dua tahun belakangan, mereka mencoba menyemai dan menanam di wilayah Subak Babakan Sambangan, tidak jauh dari tempat percobaan tahun ini.

Program perbaikan genetik padi merah ini sudah dikerjakan sejak tahun 2019. Perlu diketahui, dari awal penanaman sampai hari ini, fokus Dinas Pertanian memang bukan berorientasi pada jumlah produksi. Tapi lebih kepada, sekali lagi, pemangkasan masa semai dan panen. Toh, percobaan ini juga dilakukan di lahan yang terbatas. Bahkan, di Munduk, di Gobleg, atau di Gesing, pada umumnya padi merah juga ditanam tidak lebih luas dari padi hibrida.

“Jadi, untuk saat ini, fokus kami bukan peningkatan produksi dulu, tapi mempersingkat masa semai dan panen, baru produksi,” I Gusti Ayu Maya Kurnia, Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Buleleng, menerangkan. Perempuan yang akrab dipanggil Bunda itu ikut serta menebar benih padi merah di Subak Sambangan pagi itu.

Sampai sejauh ini, menurut Bunda Maya, percobaan yang dilakukan cukup membanggakan. Padi merah yang biasanya membutuhkan masa semai sampai sebulan bisa dipangkas menjadi dua puluh sampai dua puluh lima hari. Ini sebuah pencapaian. Sebab, di tanah asalnya, di Munduk, misalnya, petani membutuhkan waktu semai sampai sebulan lebih. Mempersingkat masa semai adalah salah satu tujuan Dinas Pertanian.

Made Suadyana sedang menata ilalang di atas bibit padi yang sudah disemai | Foto: Jaswanto

Tak hanya masa semai, masa panen juga berusaha dipangkas. Pada percobaan terakhir, setahun lalu, sejak winih padi merah ditanam di Subak Babakan, sekitar 137 hari sudah dapat dipanen. Padahal, biasanya, padi merah baru bisa dipanen setelah berumur 160-an hari. Ini menjadi kabar baik bagi petani yang “tak sabaran” —walaupun kenyataannya masih kalah cepat dengan masa panen padi hibrida.

Selain melakukan percobaan untuk memangkas masa semai dan panen, program ini juga bertujuan untuk menguji mutu pengendalian hama—atau organisme pengganggu tumbuhan (OPT)—padi merah yang berasal dari Munduk. Untuk melakukan itu, rencananya Dinas Pertanian Buleleng akan bekerja sama dengan  Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) setelah padi dipanen.

“Ini merupakan usaha untuk menciptakan varietas padi merah Buleleng. Selama ini kita belum punya varietas sendiri,” ujar Maya.  Ia terlihat sangat serius saat mengutarakan hal tersebut. Setelah berhasil dengan percobaan uji mutu pengendalian OPT, Dinas Pertanian baru akan fokus memikirkan produktivitas padi merah.

Sampai hari ini, dalam konteks masalah dan tantangan yang dihadapi, iklim adalah anomali—dan ini sangat berpengaruh terhadap hasil panen dan proses pelaksanaan program. “Itu hal yang tidak bisa diprediksi. BMKG memberi informasi bahwa hari ini akan hujan, pada kenyataannya malah terik. Kita tidak bisa mengendalikan itu,” ujar Kabid Tanaman Pangan itu sembari tersenyum dan menyeka keringat di dahinya.

Sedangkan dalam hal uji mutu pengendalian OPT, untuk tahun-tahun yang lalu, bisa dikatakan tidak cukup menyenangkan. Tapi ini bukan karena ketidakseriusan atau kelalaian petugas, hanya saja lahan yang dipilih ternyata sudah terpapar hama wereng dan kawan-kawan—yang mengharuskan petugas melakukan penanganan menggunakan pengawahama kimia. Untuk itu, berkaca dari tahun-tahun sebelumnya, kali ini petugas lebih selektif dalam menentukan lahan yang dijadikan tempat uji coba dan serius perihal perlakuan terhadap hama.

“Panen di tahun-tahun yang lalu sampai tidak kami kirimkan untuk diuji. Tapi untuk tahun ini, kami berharap bisa diuji. Kami melibatkan petugas OPT yang sudah pengalaman dalam menangani padi merah di desa-desa di Banjar. Setidaknya ada lima orang POPT yang kami libatkan secara intensif—karena ini sangat penting,” terang Maya serius. Petugas POPT (Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan) tersebut sudah terlibat sejak pemilihan benih, perendaman, penyemaian, hingga penanaman, perawatan, dan panen nantinya.[T]

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tabanan dan Elegi Padi Bali
Padi, “Guremisasi Petani”, dan Mengembalikan Pertanian kepada Paradigma Budaya
Berdamai Dengan Perubahan di Bali (dan dari Bali)
Tags: Desa GoblegDesa MundukDinas Pertanian Kabupaten Bulelengpadi balipadi merahSubak Sambangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Strategi Pengembangan Pasar Wisata

Next Post

Ramadan, Jalan Jeruk, dan Wajah Pluralisme di Bali

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Ramadan, Jalan Jeruk, dan Wajah Pluralisme di Bali

Ramadan, Jalan Jeruk, dan Wajah Pluralisme di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co