2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ramadan, Jalan Jeruk, dan Wajah Pluralisme di Bali

Oktavian Aditya by Oktavian Aditya
March 7, 2024
in Esai
Ramadan, Jalan Jeruk, dan Wajah Pluralisme di Bali

Suasana Jalan Jeruk saat Ramadan | Gambar diolah dari internet

TIDAK terasa Ramadan tahun 2024 sudah di depan mata. Rasanya tinggal menghitung hari, seperti melihat matahari yang mulai muncul dari timur, perlahan-perlahan namun berlalu. Tidak sedikit orang yang merasakan hal ini. “Perasaan baru kemarin, ini kok sudah Ramadan lagi.” Begitu celotehan seorang kawan seusai mengisap rokoknya.

Memang benar. Barangkali kita terlalu sibuk dengan dunia yang fana ini. Sampai-sampai kita sering kali luput dengan hal yang penting bagi umat Islam diseluruh dunia ini. Bulan Ramadan adalah bulan penuh ampunan—bahkan doa orang yang penuh dosa seperti saya ringan saja diampuni.

Ramadan merupakan bulan suci yang selalu ditunggu-tunggu oleh umat Islam—walaupun mungkin tidak semua. Di mana bulan yang penuh dengan rahmat dan ampunan Allah ini, seringkali menjadikan diri kita merasa dekat dengan kebaikan-kebaikan dan pantang melakukan kemaksiatan.

Beberapa tahun belakangan ini, saya menjalankan ibadah puasa Ramadan di tempat yang istimewa, yakni di Bali—tempat eksotik yang memanjakan mata para turis. Selain eksotis, Bali juga terkenal dengan pluralismenya. Barangkali ini juga termasuk salah satu keistimewaan Pulau Seribu Pura ini.

Kalau membahas soal ini, sering sekali saya teringat kata-kata Gus Dur bahwa Bali memang tempat paling pluralis di Indonesia. Kelima agama—yang resmi diakui pemerintah—hidup damai dan saling toleran satu sama lain, dan nyaris tanpa ada perpecahan, meski kadang ada sedikit riak-riak itu.

Tapi, selama enam tahun hidup di Bali, tepatnya di Buleleng, alih-alih menemukan pertikaian, justru malah lebih banyak mendapati keharmonisan.

Contoh paling sederhana, hampir setiap bulan Puasa di Buleleng, tentu juga di tempat lain, saat menjelang berbuka, banyak sekali warung atau pasar kaget yang menjajakan sembarang kudapan.

Saat Ramadan, di beberapa tempat di Buleleng sangatlah ramai, apalagi saat sore hari. Banyak orang menghabiskan waktu untuk sekadar jalan-jalan atau mencari makanan dan minuman untuk menu berbuka puasa. Kita sering menyebut kegiatan itu “ngabuburit”.

Orang ngabuburit bisa tersebar di mana-mana, tapi biasanya paling banyak di tempat-tempat permukiman umat Islam, seperti misalnya di Jalan Jeruk Kampung Anyar—yang sering saya kunjungi.

Di Jalan Jeruk Kampung Anyar banyak kuliner yang tersaji. Mulai dari jajanan kue basah, kolak buah, aneka es, gorengan, serta menu berbuka lainnya, yang tak bisa saya sebutkan satu per satu.

Semua kudapan sangat terjangkau—bahkan beli 2000 perak pun dilayani sama penjualnya. Hal ini tentu sangat membantu mahasiswa perantau seperti saya di tengah harga sembako yang makin hari makin melambung.

Sebagai mahasiswa yang minim buget, tentu saja saya senang menghabiskan waktu sore di sana. Bahkan, kadang, saya ke sana bukan untuk membeli makanan buka puasa, tapi sekadar jalan-jalan saja—karena bagi saya, kalau tidak bisa belanja, jalan-jalan saja sudah cukup.

Dan ini yang indah, pembeli bukan hanya dari kalangan Muslim saja, tapi juga orang Hindu dan umat beragama lainnya. Banyak rekan kampus saya yang non Muslim tak jarang ikut memborong jajanan di sana. Sebuah wajah pluralisme yang harmonis.

Sampai sini saya berpikir bahwa kesenangan, keceriaan, kegembiraan Ramadan sepertinya memang bukan hanya untuk orang Islam saja, tapi untuk semua yang hidup di muka bumi.

Tapi tampaknya wajah harmonisasi antarumat beragama di Buleleng, saat puasa, tidak hanya muncul di pasar kaget di dalam gang, seperti Jalan Jeruk saja. Wajah itu juga tampak pada saat salat Tarawih—salah satu ibadah di bulan Puasa yang hukumnya sunah yang biasanya dikerjakan saat sehabis salat Isya.

Pasalnya, saat salat Tarawih di Bali, banyak Pecalang—semacam petugas keamanan adat yang notabene mayoritas Hindu—yang membantu Banser atau Kokam dalam mengamankan dan menjaga umat Islam saat beribadah di masjid dari gangguan-gangguan yang mungkin tak terduga. Meski terkenal dengan kota yang toleran, tidak ada salahnya juga melakukan pengamanan, ibarat sedia payung sebelum hujan.

Hal tak biasa itu, setidaknya bagi saya yang dari Jawa, saat pertama kali menginjakan kaki di Bali, saat baru masuk kuliah, sempat membuat saya bertanya-tanya. “Kenapa di masjid ada Pecalang?” Belakangan saya tahu bahwa mereka sedang membantu, memastikan, dan menjaga ketertiban, keamanan, kenyamanan umat Islam saat beribadah.

Pada akhirnya saya paham bahwa Bali tidak hanya sekadar yang saya bayangkan sebelumnya—atau bayangan masyarakat Indonesia pada umumnya—yang menganggap Bali hanya memiliki keindahan alam saja, tapi lebih dari itu, selain banyak keunikan kultur budaya yang menarik, juga memiliki sesuatu seperti yang saya jelaskan di atas.

Sampai di sini, saya berharap, bulan Ramadan tahun ini bisa menjadi tonggak awal perdamaian seluruh umat yang ada di dunia. Karena, di bulan suci—yang penuh berkah—tahun ini, umat Hindu juga akan merayakan Hari Raya Nyepi. Ini sesuatu yang baik, yang saya percaya bukan sebuah kebetulan belaka, yang perlu kita renungi bersama.[T]

Tags: balibulan puasabulelengJalan Jeruk Kampung AnyarpecalangRamadantoleransi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ngurit Padi Bali, Usaha Perbaikan Genetik Padi Merah di Buleleng

Next Post

Membaca Puisi Penyair Kupu-Kupu : Ulasan Kumpulan Puisi I Made Suantha “Kukubur Hidup Hidup Puisiku Dalam Hidupku”

Oktavian Aditya

Oktavian Aditya

Seorang pria asal Blitar, Jawa Timur, yang lahir pada 11 Oktober 1998. Sekarang aktif sebagai kader HMI Cabang Singaraja dan senang menggeluti dunia pendakian dan olahraga.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Puisi Penyair Kupu-Kupu : Ulasan  Kumpulan Puisi I Made Suantha “Kukubur Hidup Hidup Puisiku Dalam Hidupku”

Membaca Puisi Penyair Kupu-Kupu : Ulasan Kumpulan Puisi I Made Suantha “Kukubur Hidup Hidup Puisiku Dalam Hidupku”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co