22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ramadan, Jalan Jeruk, dan Wajah Pluralisme di Bali

Oktavian Aditya by Oktavian Aditya
March 7, 2024
in Esai
Ramadan, Jalan Jeruk, dan Wajah Pluralisme di Bali

Suasana Jalan Jeruk saat Ramadan | Gambar diolah dari internet

TIDAK terasa Ramadan tahun 2024 sudah di depan mata. Rasanya tinggal menghitung hari, seperti melihat matahari yang mulai muncul dari timur, perlahan-perlahan namun berlalu. Tidak sedikit orang yang merasakan hal ini. “Perasaan baru kemarin, ini kok sudah Ramadan lagi.” Begitu celotehan seorang kawan seusai mengisap rokoknya.

Memang benar. Barangkali kita terlalu sibuk dengan dunia yang fana ini. Sampai-sampai kita sering kali luput dengan hal yang penting bagi umat Islam diseluruh dunia ini. Bulan Ramadan adalah bulan penuh ampunan—bahkan doa orang yang penuh dosa seperti saya ringan saja diampuni.

Ramadan merupakan bulan suci yang selalu ditunggu-tunggu oleh umat Islam—walaupun mungkin tidak semua. Di mana bulan yang penuh dengan rahmat dan ampunan Allah ini, seringkali menjadikan diri kita merasa dekat dengan kebaikan-kebaikan dan pantang melakukan kemaksiatan.

Beberapa tahun belakangan ini, saya menjalankan ibadah puasa Ramadan di tempat yang istimewa, yakni di Bali—tempat eksotik yang memanjakan mata para turis. Selain eksotis, Bali juga terkenal dengan pluralismenya. Barangkali ini juga termasuk salah satu keistimewaan Pulau Seribu Pura ini.

Kalau membahas soal ini, sering sekali saya teringat kata-kata Gus Dur bahwa Bali memang tempat paling pluralis di Indonesia. Kelima agama—yang resmi diakui pemerintah—hidup damai dan saling toleran satu sama lain, dan nyaris tanpa ada perpecahan, meski kadang ada sedikit riak-riak itu.

Tapi, selama enam tahun hidup di Bali, tepatnya di Buleleng, alih-alih menemukan pertikaian, justru malah lebih banyak mendapati keharmonisan.

Contoh paling sederhana, hampir setiap bulan Puasa di Buleleng, tentu juga di tempat lain, saat menjelang berbuka, banyak sekali warung atau pasar kaget yang menjajakan sembarang kudapan.

Saat Ramadan, di beberapa tempat di Buleleng sangatlah ramai, apalagi saat sore hari. Banyak orang menghabiskan waktu untuk sekadar jalan-jalan atau mencari makanan dan minuman untuk menu berbuka puasa. Kita sering menyebut kegiatan itu “ngabuburit”.

Orang ngabuburit bisa tersebar di mana-mana, tapi biasanya paling banyak di tempat-tempat permukiman umat Islam, seperti misalnya di Jalan Jeruk Kampung Anyar—yang sering saya kunjungi.

Di Jalan Jeruk Kampung Anyar banyak kuliner yang tersaji. Mulai dari jajanan kue basah, kolak buah, aneka es, gorengan, serta menu berbuka lainnya, yang tak bisa saya sebutkan satu per satu.

Semua kudapan sangat terjangkau—bahkan beli 2000 perak pun dilayani sama penjualnya. Hal ini tentu sangat membantu mahasiswa perantau seperti saya di tengah harga sembako yang makin hari makin melambung.

Sebagai mahasiswa yang minim buget, tentu saja saya senang menghabiskan waktu sore di sana. Bahkan, kadang, saya ke sana bukan untuk membeli makanan buka puasa, tapi sekadar jalan-jalan saja—karena bagi saya, kalau tidak bisa belanja, jalan-jalan saja sudah cukup.

Dan ini yang indah, pembeli bukan hanya dari kalangan Muslim saja, tapi juga orang Hindu dan umat beragama lainnya. Banyak rekan kampus saya yang non Muslim tak jarang ikut memborong jajanan di sana. Sebuah wajah pluralisme yang harmonis.

Sampai sini saya berpikir bahwa kesenangan, keceriaan, kegembiraan Ramadan sepertinya memang bukan hanya untuk orang Islam saja, tapi untuk semua yang hidup di muka bumi.

Tapi tampaknya wajah harmonisasi antarumat beragama di Buleleng, saat puasa, tidak hanya muncul di pasar kaget di dalam gang, seperti Jalan Jeruk saja. Wajah itu juga tampak pada saat salat Tarawih—salah satu ibadah di bulan Puasa yang hukumnya sunah yang biasanya dikerjakan saat sehabis salat Isya.

Pasalnya, saat salat Tarawih di Bali, banyak Pecalang—semacam petugas keamanan adat yang notabene mayoritas Hindu—yang membantu Banser atau Kokam dalam mengamankan dan menjaga umat Islam saat beribadah di masjid dari gangguan-gangguan yang mungkin tak terduga. Meski terkenal dengan kota yang toleran, tidak ada salahnya juga melakukan pengamanan, ibarat sedia payung sebelum hujan.

Hal tak biasa itu, setidaknya bagi saya yang dari Jawa, saat pertama kali menginjakan kaki di Bali, saat baru masuk kuliah, sempat membuat saya bertanya-tanya. “Kenapa di masjid ada Pecalang?” Belakangan saya tahu bahwa mereka sedang membantu, memastikan, dan menjaga ketertiban, keamanan, kenyamanan umat Islam saat beribadah.

Pada akhirnya saya paham bahwa Bali tidak hanya sekadar yang saya bayangkan sebelumnya—atau bayangan masyarakat Indonesia pada umumnya—yang menganggap Bali hanya memiliki keindahan alam saja, tapi lebih dari itu, selain banyak keunikan kultur budaya yang menarik, juga memiliki sesuatu seperti yang saya jelaskan di atas.

Sampai di sini, saya berharap, bulan Ramadan tahun ini bisa menjadi tonggak awal perdamaian seluruh umat yang ada di dunia. Karena, di bulan suci—yang penuh berkah—tahun ini, umat Hindu juga akan merayakan Hari Raya Nyepi. Ini sesuatu yang baik, yang saya percaya bukan sebuah kebetulan belaka, yang perlu kita renungi bersama.[T]

Tags: balibulan puasabulelengJalan Jeruk Kampung AnyarpecalangRamadantoleransi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ngurit Padi Bali, Usaha Perbaikan Genetik Padi Merah di Buleleng

Next Post

Membaca Puisi Penyair Kupu-Kupu : Ulasan Kumpulan Puisi I Made Suantha “Kukubur Hidup Hidup Puisiku Dalam Hidupku”

Oktavian Aditya

Oktavian Aditya

Seorang pria asal Blitar, Jawa Timur, yang lahir pada 11 Oktober 1998. Sekarang aktif sebagai kader HMI Cabang Singaraja dan senang menggeluti dunia pendakian dan olahraga.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Puisi Penyair Kupu-Kupu : Ulasan  Kumpulan Puisi I Made Suantha “Kukubur Hidup Hidup Puisiku Dalam Hidupku”

Membaca Puisi Penyair Kupu-Kupu : Ulasan Kumpulan Puisi I Made Suantha “Kukubur Hidup Hidup Puisiku Dalam Hidupku”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co