2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pranalaya | Cerpen Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
September 9, 2023
in Cerpen
Pranalaya | Cerpen Mas Ruscitadewi

Ilustrasi tatkala.co

PANGGUNG Ksirarnawa makin seru. Pertempuran demi pertempuran menderu. Serupa satu episode cerita Dyah Tantri yang meluluhkan keegoan raja. Satu babak yang panjang, dalam, merembet, melekat, mengisap dan menyebar cepat kemana-mana. Serupa kanker, bakteri dan virus dalam tubuh, yang dihidupkan, diharmoniskan, dibenturkan dan dimusnahkan dengan nafas. Ya, prana, nafas penanda hidup.

Ya, akupun bernafas. Nafas seorang wanita, seperti halnya raja yang ksatria , pendeta yang brahmana, waisya, sudra atau variasi dan tiruan-tiruan bakat dan kemampuan manusia. Nafas binatang yang kadang panas dan bergejolak atau nafas tanaman yang dominan lembut mendayu. Boleh sebut aku Dyah atau Tantri, hanya sebagai penanda wanita, tapi bukan permata  persembahan untuk raja. Bukan pula sari, daksina pendeta sakti. Aku bukan orang penting, bukan siapa-siapa, karenanya aku bisa kemana-mana dan di mana-mana. Hanya debu, yang menyimpan pilu.

“Mari ke sini, lihatlah, perhatikan baik-baik, lihatlah ayam hitam di bawah pohon itu.” 

Pendeta itu memanggil Nengah, lelaki yang mengantarkan koran setiap pagi. Nengah mendekat penuh hormat. Dengan jari kirinya pendeta kembali menunjuk ke arah ayam hitam di bawah pohon jambu itu. Nengah tercekat, Ayam hitam yang ditunjuk pendeta tiba-tiba terkapar, rebah tak berdaya. Nengah gemetar.

“Kamu mau kuajarkan ilmu seperti itu, ayo ajaklah teman dan saudaramu kemari, aku akan ajarkan ilmu-ilmu hebat dengan gratis, ” kata Pendeta.

Mata Nengah berbinar-binar, sungguh menyenangkan bila bisa punya ilmu seperti itu, ia pasti tak perlu khawatir lagi jika malam-malam berhadapan dengan para preman. Nengah merasa mendapat durian runtuh. Nengah yang polos tiba-tiba menjadi orang penting. Menjadi juru warta pendeta sakti, juga menjadi kunci penerima yang mau belajar. Nama Nengah menyebar kemana-mana juga kesaktian pendeta. Nengah dicari-cari, pendeta menari-nari.

Raja Keling tak terima, Nengah adalah abdi setia. Tak boleh dirampas begitu saja. Raja merasa terhina. Nengah dipanggil diberi hadiah dan diminta cerita. Nengah seperti menjadi makin penting, dalam situasi yang makin genting.

Nafas-nafas api menyebar di mana-mana. Kadang membuat ledakan besar saat bersentuhan dengan yang berseberangan. Pemantik-pemantiknya terpasang di mana-mana, pada persimpangan-persimpangan, pada tikungan-tikungan, pada pohon-pohon angker, pada sungai dan jurang, pada tempat-tempat lapang dan kosong di ujung dan batas-batas wilayah kerajaan Keling.

Sesungguhnya raja dan pendeta masih ada hubungan darah. Yang menjadi raja di kerajaan Keling adalah keturunan dari Ida Suci salah satu selir raja yang berdarah brahmana  yang biasanya menjadi pendeta. Awalnya raja dan pendeta seia sekata. Permintaan raja dipenuhi oleh pendeta, nasehat pendeta diikuti oleh raja. Semuanya jadi renggang, karena uang. Semuanya makin tajam, karena tekanan, satu ingin menerkam, yang lain merasa ditikam.

“Sudah saatnya baginda membuat upacara pengukuhan sebagai raja yang besar. Semakin besar semakin menunjukan kewibawaan, pengaruh dan kekuasaan baginda. Raja secara material dan spiritual. Sudah saatnya kerajaan Keling menjadi kerajaan besar, menjadi pusat perhatian kerajaan-kerajaan lain,” Pendeta tersenyum.

“Ya, kita harus segera rancang dan tetapkan hari baik. Baginda sudah sangat terkenal dan disegani, dengan upacara pengukuhan raja, secara otomatis baginda juga menjadi penguasa alam spirit, penguasa mahluk dan kekuatan halus, hahahaha, ” kata seorang lelaki yang selalu berada diantara raja dan pendeta.

Raja tercenung, istrinya melintas dan memperlihatkan senyum kecutnya, sambil dengan keras menggoyangkan pinggulnya.

“Janji beli mobil terbaru belum terlaksana, untuk apa jadi raja, menghabiskan biaya saja.” 

Istri raja ngomel-ngomel tak setuju. Raja menoleh istrinya, dalam pikirannya berkelebatan jumlah dana yang harus dikeluarkan jika harus membuat upacara penobatan besar. Biaya besar berarti ia harus menjual tanah warisan lagi, sementara selama ini ia seringkali melarang warganya untuk menjual tanah warisan.

“Saya ingin menjadi raja yang biasa-biasa saja. Gelar raja itu tak perlu diada-adakah, penghormatan itu biarlah berjalan secara alamiah. Lebih baik tanpa upacara penobatan tapi dihormati sebagai raja, dari pada dinobatkan sebagai raja dan disebut sebagai raja hutang, atau raja pembunuh, ” kata raja tegas. Raja merasa menang, dalam hatinya ia senang, bisa mengalahkan akal para pengeruk uang.

Pertemuan hari itu berlangsung singkat, tapi padat. Menjadi awal cerita memikat, yang laknat. Seperti api dalam sekam, menunggu angin menghantam. Ya, sejak itu, raja dan pendeta saling intip, dalam kelihaaian berusaha saling salip. Keduanya memang cerdik dan licik, seperti seekor kancil. Anehnya keduanya memainkan peran yang berbeda dan bertolak belakang. Raja kancil menjadi Harimau penguasa. Pendeta kancil menjadi sapi suci. Yang di tengah-tengah tetap menjadi srigala, mencari celah, menunggu keduanya lengah.

Korban berjatuhan. Raja menjaga benteng-benteng kekuasaan raja, pendeta mempertahankan konsep-konsep keyakinan berupacara.

Masing- masing kecolongan, masing kebobolan. Raja mensomasi sistem kependetaan, pendeta mengugat keabsaan raja.

Gada-gada api memukul membabi buta. Anak panah-panah api melesat, bersliweran, mengejar daftar nama-nama.

Cakra-cakra api berputar-putar di langit, mengusir mendung, meniadakan hujan. Suasana panas makin panas. Panas api bersenyawa dalam mantra dan genta, menyebar di udara, menyusup dalam  telinga, memukul dan menyesakkan dada.

“Keluarga kerajaan Keling harus enyah, harus musnah.” Perkutut bersahutan mengingatkan, bercengkrama di atap rumah.

Aku Tantri, hanyalah debu, merasakan hatiku pilu. Hanya ibu, kupanggil selalu, untuk melindungi yang perlu.

Sebagai debu, aku bisa menempel di tongkat pendeta, atau bersembunyi di kursi empuk sang raja. Aku tak ingin keduanya beradu, tapi caranya aku tak tahu. Sedang bisikkan diangapnya angin lalu.

Ini perang panjang melelahkan, penuh intrik dan taktik. Ada penonton bertepuk tangan, kadang membantu memberi ilmu yang jitu.

Kekesatriaan raja, kesucian pendeta diuji. Ternyata keduanya bukan berjiwa sesungguhnya. Tak ada ketangguhan membela warga, tak ada kesungguhan menegakkan kebenaran. Raja dan pendeta sama, gila arta dan kuasa. Korban berjatuhan tak apa, yang penting bukan keluarga.

Permainan masih seru, walau tubuh keduanya makin kuyu dan layu. Tapi alam punya cara, tak ada yang bisa menduga. Juga raja dan pendeta. Dua cucu kesayangan raja, anak dan istri pendeta, menghadap Hyang Kuasa. Lalu besok siapa?

Kekuatan kancil adalah akal pikirannya. Perang antara raja dan pendeta kancil memporak porandakan segalanya. Pikiran adalah api, nafas api membakar wilayah-wilayah kekuasaan materail, memanaskan konsep-konsep kesucian spiritual. Perang antara raja dan pendeta kancil adalah perang nafas yang memusnahkan. Kesucian prana pun laya, meniada. [T]

  • Baca cerpen lain
Titisan | Cerpen Mas Ruscitadewi
Mahkota Cinta | Cerpen Mas Ruscitadewi
Gosip Apsara-Apsari | Cerpen Mas Ruscitadewi
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wili | Cerpen Firda SofiaZu

Next Post

Menengok Putu Oka Sukanta: Mengenang GONG Kronik di Denpasar 1964

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Menengok Putu Oka Sukanta: Mengenang GONG Kronik di Denpasar 1964

Menengok Putu Oka Sukanta: Mengenang GONG Kronik di Denpasar 1964

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co