23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pranalaya | Cerpen Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
September 9, 2023
in Cerpen
Pranalaya | Cerpen Mas Ruscitadewi

Ilustrasi tatkala.co

PANGGUNG Ksirarnawa makin seru. Pertempuran demi pertempuran menderu. Serupa satu episode cerita Dyah Tantri yang meluluhkan keegoan raja. Satu babak yang panjang, dalam, merembet, melekat, mengisap dan menyebar cepat kemana-mana. Serupa kanker, bakteri dan virus dalam tubuh, yang dihidupkan, diharmoniskan, dibenturkan dan dimusnahkan dengan nafas. Ya, prana, nafas penanda hidup.

Ya, akupun bernafas. Nafas seorang wanita, seperti halnya raja yang ksatria , pendeta yang brahmana, waisya, sudra atau variasi dan tiruan-tiruan bakat dan kemampuan manusia. Nafas binatang yang kadang panas dan bergejolak atau nafas tanaman yang dominan lembut mendayu. Boleh sebut aku Dyah atau Tantri, hanya sebagai penanda wanita, tapi bukan permata  persembahan untuk raja. Bukan pula sari, daksina pendeta sakti. Aku bukan orang penting, bukan siapa-siapa, karenanya aku bisa kemana-mana dan di mana-mana. Hanya debu, yang menyimpan pilu.

“Mari ke sini, lihatlah, perhatikan baik-baik, lihatlah ayam hitam di bawah pohon itu.” 

Pendeta itu memanggil Nengah, lelaki yang mengantarkan koran setiap pagi. Nengah mendekat penuh hormat. Dengan jari kirinya pendeta kembali menunjuk ke arah ayam hitam di bawah pohon jambu itu. Nengah tercekat, Ayam hitam yang ditunjuk pendeta tiba-tiba terkapar, rebah tak berdaya. Nengah gemetar.

“Kamu mau kuajarkan ilmu seperti itu, ayo ajaklah teman dan saudaramu kemari, aku akan ajarkan ilmu-ilmu hebat dengan gratis, ” kata Pendeta.

Mata Nengah berbinar-binar, sungguh menyenangkan bila bisa punya ilmu seperti itu, ia pasti tak perlu khawatir lagi jika malam-malam berhadapan dengan para preman. Nengah merasa mendapat durian runtuh. Nengah yang polos tiba-tiba menjadi orang penting. Menjadi juru warta pendeta sakti, juga menjadi kunci penerima yang mau belajar. Nama Nengah menyebar kemana-mana juga kesaktian pendeta. Nengah dicari-cari, pendeta menari-nari.

Raja Keling tak terima, Nengah adalah abdi setia. Tak boleh dirampas begitu saja. Raja merasa terhina. Nengah dipanggil diberi hadiah dan diminta cerita. Nengah seperti menjadi makin penting, dalam situasi yang makin genting.

Nafas-nafas api menyebar di mana-mana. Kadang membuat ledakan besar saat bersentuhan dengan yang berseberangan. Pemantik-pemantiknya terpasang di mana-mana, pada persimpangan-persimpangan, pada tikungan-tikungan, pada pohon-pohon angker, pada sungai dan jurang, pada tempat-tempat lapang dan kosong di ujung dan batas-batas wilayah kerajaan Keling.

Sesungguhnya raja dan pendeta masih ada hubungan darah. Yang menjadi raja di kerajaan Keling adalah keturunan dari Ida Suci salah satu selir raja yang berdarah brahmana  yang biasanya menjadi pendeta. Awalnya raja dan pendeta seia sekata. Permintaan raja dipenuhi oleh pendeta, nasehat pendeta diikuti oleh raja. Semuanya jadi renggang, karena uang. Semuanya makin tajam, karena tekanan, satu ingin menerkam, yang lain merasa ditikam.

“Sudah saatnya baginda membuat upacara pengukuhan sebagai raja yang besar. Semakin besar semakin menunjukan kewibawaan, pengaruh dan kekuasaan baginda. Raja secara material dan spiritual. Sudah saatnya kerajaan Keling menjadi kerajaan besar, menjadi pusat perhatian kerajaan-kerajaan lain,” Pendeta tersenyum.

“Ya, kita harus segera rancang dan tetapkan hari baik. Baginda sudah sangat terkenal dan disegani, dengan upacara pengukuhan raja, secara otomatis baginda juga menjadi penguasa alam spirit, penguasa mahluk dan kekuatan halus, hahahaha, ” kata seorang lelaki yang selalu berada diantara raja dan pendeta.

Raja tercenung, istrinya melintas dan memperlihatkan senyum kecutnya, sambil dengan keras menggoyangkan pinggulnya.

“Janji beli mobil terbaru belum terlaksana, untuk apa jadi raja, menghabiskan biaya saja.” 

Istri raja ngomel-ngomel tak setuju. Raja menoleh istrinya, dalam pikirannya berkelebatan jumlah dana yang harus dikeluarkan jika harus membuat upacara penobatan besar. Biaya besar berarti ia harus menjual tanah warisan lagi, sementara selama ini ia seringkali melarang warganya untuk menjual tanah warisan.

“Saya ingin menjadi raja yang biasa-biasa saja. Gelar raja itu tak perlu diada-adakah, penghormatan itu biarlah berjalan secara alamiah. Lebih baik tanpa upacara penobatan tapi dihormati sebagai raja, dari pada dinobatkan sebagai raja dan disebut sebagai raja hutang, atau raja pembunuh, ” kata raja tegas. Raja merasa menang, dalam hatinya ia senang, bisa mengalahkan akal para pengeruk uang.

Pertemuan hari itu berlangsung singkat, tapi padat. Menjadi awal cerita memikat, yang laknat. Seperti api dalam sekam, menunggu angin menghantam. Ya, sejak itu, raja dan pendeta saling intip, dalam kelihaaian berusaha saling salip. Keduanya memang cerdik dan licik, seperti seekor kancil. Anehnya keduanya memainkan peran yang berbeda dan bertolak belakang. Raja kancil menjadi Harimau penguasa. Pendeta kancil menjadi sapi suci. Yang di tengah-tengah tetap menjadi srigala, mencari celah, menunggu keduanya lengah.

Korban berjatuhan. Raja menjaga benteng-benteng kekuasaan raja, pendeta mempertahankan konsep-konsep keyakinan berupacara.

Masing- masing kecolongan, masing kebobolan. Raja mensomasi sistem kependetaan, pendeta mengugat keabsaan raja.

Gada-gada api memukul membabi buta. Anak panah-panah api melesat, bersliweran, mengejar daftar nama-nama.

Cakra-cakra api berputar-putar di langit, mengusir mendung, meniadakan hujan. Suasana panas makin panas. Panas api bersenyawa dalam mantra dan genta, menyebar di udara, menyusup dalam  telinga, memukul dan menyesakkan dada.

“Keluarga kerajaan Keling harus enyah, harus musnah.” Perkutut bersahutan mengingatkan, bercengkrama di atap rumah.

Aku Tantri, hanyalah debu, merasakan hatiku pilu. Hanya ibu, kupanggil selalu, untuk melindungi yang perlu.

Sebagai debu, aku bisa menempel di tongkat pendeta, atau bersembunyi di kursi empuk sang raja. Aku tak ingin keduanya beradu, tapi caranya aku tak tahu. Sedang bisikkan diangapnya angin lalu.

Ini perang panjang melelahkan, penuh intrik dan taktik. Ada penonton bertepuk tangan, kadang membantu memberi ilmu yang jitu.

Kekesatriaan raja, kesucian pendeta diuji. Ternyata keduanya bukan berjiwa sesungguhnya. Tak ada ketangguhan membela warga, tak ada kesungguhan menegakkan kebenaran. Raja dan pendeta sama, gila arta dan kuasa. Korban berjatuhan tak apa, yang penting bukan keluarga.

Permainan masih seru, walau tubuh keduanya makin kuyu dan layu. Tapi alam punya cara, tak ada yang bisa menduga. Juga raja dan pendeta. Dua cucu kesayangan raja, anak dan istri pendeta, menghadap Hyang Kuasa. Lalu besok siapa?

Kekuatan kancil adalah akal pikirannya. Perang antara raja dan pendeta kancil memporak porandakan segalanya. Pikiran adalah api, nafas api membakar wilayah-wilayah kekuasaan materail, memanaskan konsep-konsep kesucian spiritual. Perang antara raja dan pendeta kancil adalah perang nafas yang memusnahkan. Kesucian prana pun laya, meniada. [T]

  • Baca cerpen lain
Titisan | Cerpen Mas Ruscitadewi
Mahkota Cinta | Cerpen Mas Ruscitadewi
Gosip Apsara-Apsari | Cerpen Mas Ruscitadewi
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wili | Cerpen Firda SofiaZu

Next Post

Menengok Putu Oka Sukanta: Mengenang GONG Kronik di Denpasar 1964

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Menengok Putu Oka Sukanta: Mengenang GONG Kronik di Denpasar 1964

Menengok Putu Oka Sukanta: Mengenang GONG Kronik di Denpasar 1964

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co