24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wili | Cerpen Firda SofiaZu

Firda SofiaZu by Firda SofiaZu
September 9, 2023
in Cerpen
Wili | Cerpen Firda SofiaZu

Ilustrasi tatkala.co

PERAHU itu tidak bisa bergerak. Pemia kecewa. Perahu yang ia buat dengan susah-payah itu hanya mengapung di sebuah kubangan air, sebuah kubangan air yang memang sengaja ia buat untuk bermain-main.

Terpaksa Pemia mendorong perahu itu dengan ujung telunjuk sehingga air di kubangan itu bergerak. Gerakan itu membuat warna air yang  kecokelatan oleh lumpur menjadi tampak lebih pekat. Hujan baru saja reda.

Baru saja Pemia mengembangkan senyum saat perahu kertas putih itu bergerak perlahan, tiba-tiba perahu itu langsung ambruk, terbenam dalam kubangan air lumpur. Cipratan air juga mengotori roknya. Pemia berteriak kesal, sampai hampir menangis. Ia tahu siapa yang sudah membuat perahunya terbenam dan roknya terciprat lumpur.

Dari tawa yang didengarnya, ia tahu siapa yang sedang mengganggu kesenangannya.

Pemia bangkit, mengusap wajahnya, dan menatap nyalang ke arah bocah lelaki yang sedang cekikikan di atas sepeda. Bocah itu baru saja melemparkan batu, tepat mengenai perahunya.

“Aku minta maaf, sebenarnya … Ah, sini, sini, biar aku bersihkan wajahmu!” Bocah lelaki itu menjatuhkan sepedanya tepat di dekat Pemia berdiri.

Namun Pemia tidak mudah dibujuk kalau sedang ngambek. Gadis itu berjalan ke arah rumah. Bocah lelaki itu mengikuti dan berusaha menyamai langkah Pemia.

Gerbang rumah berderit, terbuka, ketika langkah-langkah lebar Pemia membuatnya tiba lebih cepat di depan pintu. Ia berhenti, namun seketika ia merasakan bocah lelaki itu menubruk punggungnya.

“Wili!” Pemia geram. Ia mengepalkan kedua tangannya. Ia berbalik dan mendapati Wili mengangkat sebelah alisnya.

“Apa?” tanya Wili. Ia menggaruk-garuk pelipisnya. “Aku sebenarnya lapar,” kata Wili. “Kamu pasti sudah hapal, kalau lapar mendadak aku akan pulang ke sini. Masakan Ima ….”

Bocah lelaki itu berhenti berbicara karena Pemia memandangnya sambil melotot. “Masakan Ima sangat enak. Membuatku ingin terus menyuap-menyuap sampai tak mau berhenti. Begitukah?”

Wili mengangguk.

“Yah, bahkan aku sudah hapal soal itu!” Pemia berkata tajam sambil menekankan telunjuknya di bahu Wili sampai-sampai bocah itu terdorong ke belakang.

“Dan satu lagi …, jangan panggil-panggil ibuku dengan sebutan khususmu itu?” kata Pemia.

“Ima?” tanya Wili.

Pemia enggan menanggapi Wili.

“Ima itu kan singkatan dari Ibu Pemia. Lagian kamu saja yang tidak bisa memastikan ibumu yang terbaik,” kata Wili.

Pemia memutar bola matanya. Ia tiba-tiba menguap. Cuaca dingin sehabis hujan membuatnya mengantuk.

Wili berusaha melewatinya dengan menjangkau tuas pintu gerbang. Namun, Pemia berusaha mencegah.

“Tidak bisa. Tidak ada makanan hari ini. Pulang saja kamu. Nenek pasti memasak. Jangan aneh-aneh, ibuku masih tidur,” sergah Pemia.

“Bohong! Ima …, maksudku Tante, pasti sudah memasak jam segini. Aku yakin. Ah, kamu memang tidak mengenal ibumu, kalah sama aku,” ujar Wili.

Pemia lebih geram lagi. “Maksudmu apa?”

“Aku mau masuk!”

“Aku bilang tidak! Dasar, tidak punya ibu!”

Wili tampak kaget mendengar kalimat terakhir Pemia. Ia pun melengos. Dan sejak kalimat terakhir itu meluncur dari mulut Pemia, Wili tidak kelihatan lagi di sekitar rumah Pemia.

Bahkan saat Pemia berkunjung ke rumah neneknya yang tidak jauh dari rumahnya,  bocah lelaki itu tidak ada. Lalu ia pikir Wili memang bersembunyi karena sakit hati.

Wili adalah sepupu Pemia. Sepupunya itu memilih tinggal bersama nenek. Ia memang tidak memiliki sosok ibu. Sebelumnya ia hanya tinggal pamannya seorang.

Sejak kepindahan Wili yang memilih tinggal bersama nenek, ia dipaksa terbiasa dekat dengan bocah lelaki itu meski ia enggan.

Tidak ada yang bisa ia sukai dari Wili. Tubuhnya gendut karena suka makan. Suka menyita perhatian ibunya karena gemas dan lahap ketika makan, beda dengan dirinya yang selalu makan tanpa gairah. Neneknya juga amat sayang dengan menyebut-nyebut nasib Wili tidak beruntung karena ibunya sudah tiada.

Belum lama ini, kakek menghadiahi Wili sepeda karena menang olimpiade di sekolah. Pemia memang jauh lebih pintar, cuma ia tak mau menunjukkannya karena ia tidak mendapat perhatian lebih dari kakek dan neneknya.

Baginya, hadiah dari kedua orang tuanya terlanjur biasa saja. Agak berbeda ketika dia melihat Wili.

Nenek menyalahkan Pemia setelah berkata jujur bahwa ia telah bertengkar dengan Wili. Ia pulang dengan perasaan dongkol lalu saat membuka pintu, kedua orang tuanya sedang bertengkar.

Keduanya saling berteriak tetapi tidak tahu kalau Pemia sudah pulang. Pemia bersembunyi di balik pintu sambil terus mendengarkan teriak-teriakan mareka soal kata perpisahan yang disebut berulang. Pemia menggigit bibir bawahnya menyambungkan kemungkinan yang bakal terjadi. Ia menangis tanpa suara sambil memeluk diri sendiri.

Pemia berlari ke belakang rumah dan menemukan Wili sedang makan roti. Saat mengunyah roti, pipinya tampak lebih bulat dari aslinya. Pipi itulah yang membuat ibunya gemas. Mengingat itu, Pemia makin cemburu. “Mau roti?” Wili menyodorkan roti kepada Pemia.

Pemia menggeleng, ia memunggungi Wili dan menangis. Lalu Wili mendekat. Suaranya bisa ia rasakan lewat lengan Wili yang bersentuhan dengan lengannya.

“Ibumu yang memberikan ini,” kata Wili.

“Makan saja. Aku tidak laparan sepertimu.”

Wili bergumam sambil mengunyah. “Kau tahu, mereka bertengkar setelah aku keluar rumahmu dengan membawa roti ini.”

Wili mengunyah potongan terakhir lantas bersendawa. Pemia bergidik ketika mendengarnya.

“Orang dewasa memang suka bertengkar melebihi anak-anak seperti kita. Namun, mereka seperti tidak mudah melupakan permasalahan. Maka dari itu, Mia, jangan seperti orang dewasa dan menghadaplah ke arahku. Aku sedang bicara.”

Pemia sungguh tidak mau bertengkar, jadi dia menurut.

“Dulu orang tuaku juga sering bertengkar,” kata Wili.

Pemia tidak benar-benar mendengarkan. Ia hanya mencabuti rumput dengan raut kesal.

“Ibuku akan berhenti bertengkar ketika sibuk memasak dan ada teman-temanku di rumah. Dia juga tidak akan marah-marah begitu pun Ayah.”

Pemia mengangkat kepalanya yang ditumpu lutut. Lalu menatap Wili dengan kening mengerut. “Jadi, apakah itu solusi?”

“Kata orang dewasa, ini pemecahan masalah!” Wili berlagak percaya diri dengan mengangkat kerah bajunya.

Pemia akhirnya mencoba solusi yang diberikan Wili. Ia berteman dengan sepupu yang awalnya dirasa sangat menyebalkan itu, dan keadaannya tidak seburuk pikiran Pemia. Wili sering berkunjung dan ibunya lebih sering memasak dengan beraneka ragam.

Ibunya juga sudah jarang kelihatan berdebat dengan sang ayah. Sang ayah, ketika pulang kerja, lebih sering menemui Pemia dan Wili yang sedang belajar di ruang tengah. Bahkan ayah sering bergabung menonton televisi ketimbang berkutat dengan laptop dan pekerjaannya.

Pemandangan tidak biasa juga terlihat ketika ayahnya membantu memperbaiki sepeda Wili yang putus rantainya. Sepertinya ayahnya kini sudah punya waktu luang di hari Minggu dan Pemia tidak merasa cemburu akan hal itu.

“Ternyata resepmu benar. Mereka sudah kelihatan betah di rumah,” kata Pemia.

Wili menyedot jus jambunya sambil memperhatikan Pemia yang melipat kertas menjadi perahu. Mereka berencana akan bermain perahu bersama dalam kubangan air. [T]

  • BACA cerpen lain
Sebuah Kabar Pada Larut Malam | Cerpen Agus Wiratama
Aku Bersumpah Mencintaimu | Cerpen Depri Ajopan
Perpustakaan Sekolah dan Kekasihmu Sebelumnya | Cerpen Yoga Yolanda
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Arif Billah | Elegi Dewi Lanjar

Next Post

Pranalaya | Cerpen Mas Ruscitadewi

Firda SofiaZu

Firda SofiaZu

Lahir dan tumbuh di Desa Kerang, Kecamatan Sukosari, Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur. Belajar menulis sejak mengenal huruf. Telah membukukan: Ada Abu-Abu Di Antara Hitam dan Putih (kumpulan puisi, 2020) dan Hilang Sepetang (novel, 2021). Instagram: @rhrumahramah & 3kakdaa____.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Pranalaya | Cerpen Mas Ruscitadewi

Pranalaya | Cerpen Mas Ruscitadewi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co