2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wili | Cerpen Firda SofiaZu

Firda SofiaZu by Firda SofiaZu
September 9, 2023
in Cerpen
Wili | Cerpen Firda SofiaZu

Ilustrasi tatkala.co

PERAHU itu tidak bisa bergerak. Pemia kecewa. Perahu yang ia buat dengan susah-payah itu hanya mengapung di sebuah kubangan air, sebuah kubangan air yang memang sengaja ia buat untuk bermain-main.

Terpaksa Pemia mendorong perahu itu dengan ujung telunjuk sehingga air di kubangan itu bergerak. Gerakan itu membuat warna air yang  kecokelatan oleh lumpur menjadi tampak lebih pekat. Hujan baru saja reda.

Baru saja Pemia mengembangkan senyum saat perahu kertas putih itu bergerak perlahan, tiba-tiba perahu itu langsung ambruk, terbenam dalam kubangan air lumpur. Cipratan air juga mengotori roknya. Pemia berteriak kesal, sampai hampir menangis. Ia tahu siapa yang sudah membuat perahunya terbenam dan roknya terciprat lumpur.

Dari tawa yang didengarnya, ia tahu siapa yang sedang mengganggu kesenangannya.

Pemia bangkit, mengusap wajahnya, dan menatap nyalang ke arah bocah lelaki yang sedang cekikikan di atas sepeda. Bocah itu baru saja melemparkan batu, tepat mengenai perahunya.

“Aku minta maaf, sebenarnya … Ah, sini, sini, biar aku bersihkan wajahmu!” Bocah lelaki itu menjatuhkan sepedanya tepat di dekat Pemia berdiri.

Namun Pemia tidak mudah dibujuk kalau sedang ngambek. Gadis itu berjalan ke arah rumah. Bocah lelaki itu mengikuti dan berusaha menyamai langkah Pemia.

Gerbang rumah berderit, terbuka, ketika langkah-langkah lebar Pemia membuatnya tiba lebih cepat di depan pintu. Ia berhenti, namun seketika ia merasakan bocah lelaki itu menubruk punggungnya.

“Wili!” Pemia geram. Ia mengepalkan kedua tangannya. Ia berbalik dan mendapati Wili mengangkat sebelah alisnya.

“Apa?” tanya Wili. Ia menggaruk-garuk pelipisnya. “Aku sebenarnya lapar,” kata Wili. “Kamu pasti sudah hapal, kalau lapar mendadak aku akan pulang ke sini. Masakan Ima ….”

Bocah lelaki itu berhenti berbicara karena Pemia memandangnya sambil melotot. “Masakan Ima sangat enak. Membuatku ingin terus menyuap-menyuap sampai tak mau berhenti. Begitukah?”

Wili mengangguk.

“Yah, bahkan aku sudah hapal soal itu!” Pemia berkata tajam sambil menekankan telunjuknya di bahu Wili sampai-sampai bocah itu terdorong ke belakang.

“Dan satu lagi …, jangan panggil-panggil ibuku dengan sebutan khususmu itu?” kata Pemia.

“Ima?” tanya Wili.

Pemia enggan menanggapi Wili.

“Ima itu kan singkatan dari Ibu Pemia. Lagian kamu saja yang tidak bisa memastikan ibumu yang terbaik,” kata Wili.

Pemia memutar bola matanya. Ia tiba-tiba menguap. Cuaca dingin sehabis hujan membuatnya mengantuk.

Wili berusaha melewatinya dengan menjangkau tuas pintu gerbang. Namun, Pemia berusaha mencegah.

“Tidak bisa. Tidak ada makanan hari ini. Pulang saja kamu. Nenek pasti memasak. Jangan aneh-aneh, ibuku masih tidur,” sergah Pemia.

“Bohong! Ima …, maksudku Tante, pasti sudah memasak jam segini. Aku yakin. Ah, kamu memang tidak mengenal ibumu, kalah sama aku,” ujar Wili.

Pemia lebih geram lagi. “Maksudmu apa?”

“Aku mau masuk!”

“Aku bilang tidak! Dasar, tidak punya ibu!”

Wili tampak kaget mendengar kalimat terakhir Pemia. Ia pun melengos. Dan sejak kalimat terakhir itu meluncur dari mulut Pemia, Wili tidak kelihatan lagi di sekitar rumah Pemia.

Bahkan saat Pemia berkunjung ke rumah neneknya yang tidak jauh dari rumahnya,  bocah lelaki itu tidak ada. Lalu ia pikir Wili memang bersembunyi karena sakit hati.

Wili adalah sepupu Pemia. Sepupunya itu memilih tinggal bersama nenek. Ia memang tidak memiliki sosok ibu. Sebelumnya ia hanya tinggal pamannya seorang.

Sejak kepindahan Wili yang memilih tinggal bersama nenek, ia dipaksa terbiasa dekat dengan bocah lelaki itu meski ia enggan.

Tidak ada yang bisa ia sukai dari Wili. Tubuhnya gendut karena suka makan. Suka menyita perhatian ibunya karena gemas dan lahap ketika makan, beda dengan dirinya yang selalu makan tanpa gairah. Neneknya juga amat sayang dengan menyebut-nyebut nasib Wili tidak beruntung karena ibunya sudah tiada.

Belum lama ini, kakek menghadiahi Wili sepeda karena menang olimpiade di sekolah. Pemia memang jauh lebih pintar, cuma ia tak mau menunjukkannya karena ia tidak mendapat perhatian lebih dari kakek dan neneknya.

Baginya, hadiah dari kedua orang tuanya terlanjur biasa saja. Agak berbeda ketika dia melihat Wili.

Nenek menyalahkan Pemia setelah berkata jujur bahwa ia telah bertengkar dengan Wili. Ia pulang dengan perasaan dongkol lalu saat membuka pintu, kedua orang tuanya sedang bertengkar.

Keduanya saling berteriak tetapi tidak tahu kalau Pemia sudah pulang. Pemia bersembunyi di balik pintu sambil terus mendengarkan teriak-teriakan mareka soal kata perpisahan yang disebut berulang. Pemia menggigit bibir bawahnya menyambungkan kemungkinan yang bakal terjadi. Ia menangis tanpa suara sambil memeluk diri sendiri.

Pemia berlari ke belakang rumah dan menemukan Wili sedang makan roti. Saat mengunyah roti, pipinya tampak lebih bulat dari aslinya. Pipi itulah yang membuat ibunya gemas. Mengingat itu, Pemia makin cemburu. “Mau roti?” Wili menyodorkan roti kepada Pemia.

Pemia menggeleng, ia memunggungi Wili dan menangis. Lalu Wili mendekat. Suaranya bisa ia rasakan lewat lengan Wili yang bersentuhan dengan lengannya.

“Ibumu yang memberikan ini,” kata Wili.

“Makan saja. Aku tidak laparan sepertimu.”

Wili bergumam sambil mengunyah. “Kau tahu, mereka bertengkar setelah aku keluar rumahmu dengan membawa roti ini.”

Wili mengunyah potongan terakhir lantas bersendawa. Pemia bergidik ketika mendengarnya.

“Orang dewasa memang suka bertengkar melebihi anak-anak seperti kita. Namun, mereka seperti tidak mudah melupakan permasalahan. Maka dari itu, Mia, jangan seperti orang dewasa dan menghadaplah ke arahku. Aku sedang bicara.”

Pemia sungguh tidak mau bertengkar, jadi dia menurut.

“Dulu orang tuaku juga sering bertengkar,” kata Wili.

Pemia tidak benar-benar mendengarkan. Ia hanya mencabuti rumput dengan raut kesal.

“Ibuku akan berhenti bertengkar ketika sibuk memasak dan ada teman-temanku di rumah. Dia juga tidak akan marah-marah begitu pun Ayah.”

Pemia mengangkat kepalanya yang ditumpu lutut. Lalu menatap Wili dengan kening mengerut. “Jadi, apakah itu solusi?”

“Kata orang dewasa, ini pemecahan masalah!” Wili berlagak percaya diri dengan mengangkat kerah bajunya.

Pemia akhirnya mencoba solusi yang diberikan Wili. Ia berteman dengan sepupu yang awalnya dirasa sangat menyebalkan itu, dan keadaannya tidak seburuk pikiran Pemia. Wili sering berkunjung dan ibunya lebih sering memasak dengan beraneka ragam.

Ibunya juga sudah jarang kelihatan berdebat dengan sang ayah. Sang ayah, ketika pulang kerja, lebih sering menemui Pemia dan Wili yang sedang belajar di ruang tengah. Bahkan ayah sering bergabung menonton televisi ketimbang berkutat dengan laptop dan pekerjaannya.

Pemandangan tidak biasa juga terlihat ketika ayahnya membantu memperbaiki sepeda Wili yang putus rantainya. Sepertinya ayahnya kini sudah punya waktu luang di hari Minggu dan Pemia tidak merasa cemburu akan hal itu.

“Ternyata resepmu benar. Mereka sudah kelihatan betah di rumah,” kata Pemia.

Wili menyedot jus jambunya sambil memperhatikan Pemia yang melipat kertas menjadi perahu. Mereka berencana akan bermain perahu bersama dalam kubangan air. [T]

  • BACA cerpen lain
Sebuah Kabar Pada Larut Malam | Cerpen Agus Wiratama
Aku Bersumpah Mencintaimu | Cerpen Depri Ajopan
Perpustakaan Sekolah dan Kekasihmu Sebelumnya | Cerpen Yoga Yolanda
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Arif Billah | Elegi Dewi Lanjar

Next Post

Pranalaya | Cerpen Mas Ruscitadewi

Firda SofiaZu

Firda SofiaZu

Lahir dan tumbuh di Desa Kerang, Kecamatan Sukosari, Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur. Belajar menulis sejak mengenal huruf. Telah membukukan: Ada Abu-Abu Di Antara Hitam dan Putih (kumpulan puisi, 2020) dan Hilang Sepetang (novel, 2021). Instagram: @rhrumahramah & 3kakdaa____.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Pranalaya | Cerpen Mas Ruscitadewi

Pranalaya | Cerpen Mas Ruscitadewi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co