14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wili | Cerpen Firda SofiaZu

Firda SofiaZu by Firda SofiaZu
September 9, 2023
in Cerpen
Wili | Cerpen Firda SofiaZu

Ilustrasi tatkala.co

PERAHU itu tidak bisa bergerak. Pemia kecewa. Perahu yang ia buat dengan susah-payah itu hanya mengapung di sebuah kubangan air, sebuah kubangan air yang memang sengaja ia buat untuk bermain-main.

Terpaksa Pemia mendorong perahu itu dengan ujung telunjuk sehingga air di kubangan itu bergerak. Gerakan itu membuat warna air yang  kecokelatan oleh lumpur menjadi tampak lebih pekat. Hujan baru saja reda.

Baru saja Pemia mengembangkan senyum saat perahu kertas putih itu bergerak perlahan, tiba-tiba perahu itu langsung ambruk, terbenam dalam kubangan air lumpur. Cipratan air juga mengotori roknya. Pemia berteriak kesal, sampai hampir menangis. Ia tahu siapa yang sudah membuat perahunya terbenam dan roknya terciprat lumpur.

Dari tawa yang didengarnya, ia tahu siapa yang sedang mengganggu kesenangannya.

Pemia bangkit, mengusap wajahnya, dan menatap nyalang ke arah bocah lelaki yang sedang cekikikan di atas sepeda. Bocah itu baru saja melemparkan batu, tepat mengenai perahunya.

“Aku minta maaf, sebenarnya … Ah, sini, sini, biar aku bersihkan wajahmu!” Bocah lelaki itu menjatuhkan sepedanya tepat di dekat Pemia berdiri.

Namun Pemia tidak mudah dibujuk kalau sedang ngambek. Gadis itu berjalan ke arah rumah. Bocah lelaki itu mengikuti dan berusaha menyamai langkah Pemia.

Gerbang rumah berderit, terbuka, ketika langkah-langkah lebar Pemia membuatnya tiba lebih cepat di depan pintu. Ia berhenti, namun seketika ia merasakan bocah lelaki itu menubruk punggungnya.

“Wili!” Pemia geram. Ia mengepalkan kedua tangannya. Ia berbalik dan mendapati Wili mengangkat sebelah alisnya.

“Apa?” tanya Wili. Ia menggaruk-garuk pelipisnya. “Aku sebenarnya lapar,” kata Wili. “Kamu pasti sudah hapal, kalau lapar mendadak aku akan pulang ke sini. Masakan Ima ….”

Bocah lelaki itu berhenti berbicara karena Pemia memandangnya sambil melotot. “Masakan Ima sangat enak. Membuatku ingin terus menyuap-menyuap sampai tak mau berhenti. Begitukah?”

Wili mengangguk.

“Yah, bahkan aku sudah hapal soal itu!” Pemia berkata tajam sambil menekankan telunjuknya di bahu Wili sampai-sampai bocah itu terdorong ke belakang.

“Dan satu lagi …, jangan panggil-panggil ibuku dengan sebutan khususmu itu?” kata Pemia.

“Ima?” tanya Wili.

Pemia enggan menanggapi Wili.

“Ima itu kan singkatan dari Ibu Pemia. Lagian kamu saja yang tidak bisa memastikan ibumu yang terbaik,” kata Wili.

Pemia memutar bola matanya. Ia tiba-tiba menguap. Cuaca dingin sehabis hujan membuatnya mengantuk.

Wili berusaha melewatinya dengan menjangkau tuas pintu gerbang. Namun, Pemia berusaha mencegah.

“Tidak bisa. Tidak ada makanan hari ini. Pulang saja kamu. Nenek pasti memasak. Jangan aneh-aneh, ibuku masih tidur,” sergah Pemia.

“Bohong! Ima …, maksudku Tante, pasti sudah memasak jam segini. Aku yakin. Ah, kamu memang tidak mengenal ibumu, kalah sama aku,” ujar Wili.

Pemia lebih geram lagi. “Maksudmu apa?”

“Aku mau masuk!”

“Aku bilang tidak! Dasar, tidak punya ibu!”

Wili tampak kaget mendengar kalimat terakhir Pemia. Ia pun melengos. Dan sejak kalimat terakhir itu meluncur dari mulut Pemia, Wili tidak kelihatan lagi di sekitar rumah Pemia.

Bahkan saat Pemia berkunjung ke rumah neneknya yang tidak jauh dari rumahnya,  bocah lelaki itu tidak ada. Lalu ia pikir Wili memang bersembunyi karena sakit hati.

Wili adalah sepupu Pemia. Sepupunya itu memilih tinggal bersama nenek. Ia memang tidak memiliki sosok ibu. Sebelumnya ia hanya tinggal pamannya seorang.

Sejak kepindahan Wili yang memilih tinggal bersama nenek, ia dipaksa terbiasa dekat dengan bocah lelaki itu meski ia enggan.

Tidak ada yang bisa ia sukai dari Wili. Tubuhnya gendut karena suka makan. Suka menyita perhatian ibunya karena gemas dan lahap ketika makan, beda dengan dirinya yang selalu makan tanpa gairah. Neneknya juga amat sayang dengan menyebut-nyebut nasib Wili tidak beruntung karena ibunya sudah tiada.

Belum lama ini, kakek menghadiahi Wili sepeda karena menang olimpiade di sekolah. Pemia memang jauh lebih pintar, cuma ia tak mau menunjukkannya karena ia tidak mendapat perhatian lebih dari kakek dan neneknya.

Baginya, hadiah dari kedua orang tuanya terlanjur biasa saja. Agak berbeda ketika dia melihat Wili.

Nenek menyalahkan Pemia setelah berkata jujur bahwa ia telah bertengkar dengan Wili. Ia pulang dengan perasaan dongkol lalu saat membuka pintu, kedua orang tuanya sedang bertengkar.

Keduanya saling berteriak tetapi tidak tahu kalau Pemia sudah pulang. Pemia bersembunyi di balik pintu sambil terus mendengarkan teriak-teriakan mareka soal kata perpisahan yang disebut berulang. Pemia menggigit bibir bawahnya menyambungkan kemungkinan yang bakal terjadi. Ia menangis tanpa suara sambil memeluk diri sendiri.

Pemia berlari ke belakang rumah dan menemukan Wili sedang makan roti. Saat mengunyah roti, pipinya tampak lebih bulat dari aslinya. Pipi itulah yang membuat ibunya gemas. Mengingat itu, Pemia makin cemburu. “Mau roti?” Wili menyodorkan roti kepada Pemia.

Pemia menggeleng, ia memunggungi Wili dan menangis. Lalu Wili mendekat. Suaranya bisa ia rasakan lewat lengan Wili yang bersentuhan dengan lengannya.

“Ibumu yang memberikan ini,” kata Wili.

“Makan saja. Aku tidak laparan sepertimu.”

Wili bergumam sambil mengunyah. “Kau tahu, mereka bertengkar setelah aku keluar rumahmu dengan membawa roti ini.”

Wili mengunyah potongan terakhir lantas bersendawa. Pemia bergidik ketika mendengarnya.

“Orang dewasa memang suka bertengkar melebihi anak-anak seperti kita. Namun, mereka seperti tidak mudah melupakan permasalahan. Maka dari itu, Mia, jangan seperti orang dewasa dan menghadaplah ke arahku. Aku sedang bicara.”

Pemia sungguh tidak mau bertengkar, jadi dia menurut.

“Dulu orang tuaku juga sering bertengkar,” kata Wili.

Pemia tidak benar-benar mendengarkan. Ia hanya mencabuti rumput dengan raut kesal.

“Ibuku akan berhenti bertengkar ketika sibuk memasak dan ada teman-temanku di rumah. Dia juga tidak akan marah-marah begitu pun Ayah.”

Pemia mengangkat kepalanya yang ditumpu lutut. Lalu menatap Wili dengan kening mengerut. “Jadi, apakah itu solusi?”

“Kata orang dewasa, ini pemecahan masalah!” Wili berlagak percaya diri dengan mengangkat kerah bajunya.

Pemia akhirnya mencoba solusi yang diberikan Wili. Ia berteman dengan sepupu yang awalnya dirasa sangat menyebalkan itu, dan keadaannya tidak seburuk pikiran Pemia. Wili sering berkunjung dan ibunya lebih sering memasak dengan beraneka ragam.

Ibunya juga sudah jarang kelihatan berdebat dengan sang ayah. Sang ayah, ketika pulang kerja, lebih sering menemui Pemia dan Wili yang sedang belajar di ruang tengah. Bahkan ayah sering bergabung menonton televisi ketimbang berkutat dengan laptop dan pekerjaannya.

Pemandangan tidak biasa juga terlihat ketika ayahnya membantu memperbaiki sepeda Wili yang putus rantainya. Sepertinya ayahnya kini sudah punya waktu luang di hari Minggu dan Pemia tidak merasa cemburu akan hal itu.

“Ternyata resepmu benar. Mereka sudah kelihatan betah di rumah,” kata Pemia.

Wili menyedot jus jambunya sambil memperhatikan Pemia yang melipat kertas menjadi perahu. Mereka berencana akan bermain perahu bersama dalam kubangan air. [T]

  • BACA cerpen lain
Sebuah Kabar Pada Larut Malam | Cerpen Agus Wiratama
Aku Bersumpah Mencintaimu | Cerpen Depri Ajopan
Perpustakaan Sekolah dan Kekasihmu Sebelumnya | Cerpen Yoga Yolanda
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Arif Billah | Elegi Dewi Lanjar

Next Post

Pranalaya | Cerpen Mas Ruscitadewi

Firda SofiaZu

Firda SofiaZu

Lahir dan tumbuh di Desa Kerang, Kecamatan Sukosari, Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur. Belajar menulis sejak mengenal huruf. Telah membukukan: Ada Abu-Abu Di Antara Hitam dan Putih (kumpulan puisi, 2020) dan Hilang Sepetang (novel, 2021). Instagram: @rhrumahramah & 3kakdaa____.

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Pranalaya | Cerpen Mas Ruscitadewi

Pranalaya | Cerpen Mas Ruscitadewi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co