23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Empat Hari Pertama yang Penuh Kejutan | Catatan dari Philadelphia [2]

Luh Putu Anggreny by Luh Putu Anggreny
June 28, 2023
in Tualang
Empat Hari Pertama yang Penuh Kejutan | Catatan dari Philadelphia [2]

Berpose bersama teman-teman dari negara lain yang ikut program di Temple University, Philadelphia | Foto: Dok Anggreny

HARI PERTAMA hingga hari keempat, hari singkat yang sangat melekat di hati. Sejak pertama menginjakkan kaki di Philadelphia, kami (Indonesian cohort) masih merasa ini mimpi.

Sejak kapan kami sampai di benua yang berbeda dengan benua tempat kami lahir dan besar? Kami seakan tiba-tiba saja berada pada waktu dan suasana sangat jauh berbeda dari yang kami alami seperti biasanya.

Hari pertama kami hanya melakukan makan malam bersama, sembari menunggu delegasi negara yang belum sampai. Itulah hari pertama kami mencoba makanan dengan menu baru yang bukan menu Indonesia. Terkejut. Itulah hal pertama yang saya dan teman-teman Indonesia rasakan.

“Kok gini rasanya,” ucap Yusuf.

“Aneh,” sambung Farah.

Ya, kurang lebih itulah ekspresi kami ketika pertama kali mencoba makanan di luar ekspektasi kami.

Terasa banyak merica, asin, sangat aneh di lidah kami. Tapi mau bagaimana lagi, hanya itu makanan yang tersedia untuk makan malam perdana.

Bersama teman-teman yang ikut program di Temple University | Foto: Dok Anggreny

Pengalaman yang benar-benar luar biasa. Ternyata hari pertama saja kami sudah mendapatkan culture shock.  Makanan yang berbeda, cuaca yang seharusnya panas namun dingin bahkan hujan.

Yang paling membuat kami terkejut adalah: Jam 8 malam matahari, di langit masih bersinar terang. Dan fenomena matahari tenggelam, sunset baru kami temukan pukul 9 malam.

***

Menuju pagi hari besoknya saya terbangun pukul 4 pagi. Dan benar saja. Matahari sudah mulai bersinar terang.  Benar-benar malam yang sangat singkat. 

Di samping itu, bangun pagi bersama beberapa teman kamar kami yang berasal dari timur tengah pun membuat kami merasakan culture shock lainnya. Mereka terbiasa bangun pukul 8 atau pukul 9 pagi.

Sementara sangat berbeda dengan budaya di Indonesia yang kebanyakan akan bangun pada pukul 6 atau pukul 7 pagi. Contoh saja di keluarga saya sendiri, ibu saya bangun pada pukul 5 pagi dan langsung siap-siap untuk memasak.

Ternyata begitu banyak perbedaan yang kami rasakan.

Namun ada hal sungguh berkesan yang kami temukan. Warga setempat di sekitaran universitas sangat taat lalu lintas. Mereka akan tetap membiarkan pejalan kaki menyeberang terlebih dulu walaupun lampu lalu-lintas untuk pengendara sudah menyaloa hijau.

Selain itu teknologi mereka yang benar-benar canggih membuat saya kagum. Kereta api bawah tanah, pengairan tanaman dari bawah sedemikian rupa, dan masih banyak lagi  Dengan hanya menggunakan satu kartu saja sudah bisa mengakses sebagian besar transportasi di sini. Jadi, sangat modern.

Bangunan-bangunan kampus pun beberapa bagian terlihat sangat unik. Seperti kastil-kastil di kerajaan, megah dan terlihat mewah. Orang di sini pun terlihat tidak peduli, mereka cenderung cuek dan bekerja sendiri. Namun bahayanya, karena daerah ini melegalkan senjata, jadi harus tetap waspada dan tidak merespon orang yang tidak dikenal.

***

Berlanjut pada pembelajaran hari pertama. Kami mendapatkan orientasi kampus mengenai Temple University, tempat kami belajar. Di mana titik titik amannya dan ternyata banyak sekali telepon darurat yang tersedia di sekitaran kampus. Mereka benar-benar menjamin keselamatan dan kenyamanan mahasiswanya.

Kemudian pembelajaran hari kedua, kami mengunjungi museum. Di sana kami mendapat penjelasan mengenai sosok William Penn. Yang ternyata merupakan pendiri dari Pennsylvania.

Kami belajar | Foto: Dok Anggreny

Disamping itu kami juga mempelajari tentang George Fox, yang merupakan pendiri dari Kaum Quaker. Ah, saya jadi ingat dengan Quaker oatmeal yang terkenal itu, mungkin saja sama pendirinya sehingga namanya pun sama, Hahaha.

Kami juga diajak mengunjungi gereja, dimana merupakan gereja bersejarah yang ada di Philadelphia.

Berlanjut hari ketiga dan keempat, aktivitas kami disibukkan dengan workshop pluralisme dan leadership, juga action plan yang akan kami rencanakan ke depannya setelah program yang kami ikuti ini selesai.

Aktivitas pembelajaran yang singkat, namun melekat. Dan banyak waktu kosong untuk kami eksplor lebih jauh mengenai tempat kami berada.

Sore hari kami diajak wisata ke City Hall. Tempat itu bisa dibilang alun-alun kota, dimana ada banyak tempat bersejarah disana. Terutamanya saja, patung William Penn yang berada di atas gedung yang sangat tinggi.

Pertama kalinya juga saya merasakan sensasi naik kereta di bawah tanah. Kemudian berkeliling menuju Chinatown. Mencoba Hot Pot, bersama teman-teman seharga 330$ yang kalau di Indonesia bisa untuk membeli satu buah ponsel keluaran terbaru.

Luar biasa sekali pengalaman ini.

Hari Sabtu dan Minggu kami libur. Namun kami isi dengan aktivitas olahraga atau sekedar berkeliling untuk melihat kampus dan tempat berfoto ria. Ternyata waktu berjalan, tidak terasa kami sudah menghabiskan satu minggu di tempat ini.

Pernah suatu malam saya dan teman saya merindukan rumah. Rindu masakan Indonesia, dan orang-orang nya yang ramah. Hingga kami sampai pada pemikiran, mengapa orang-orang Indonesia yang tinggal di luar negeri bisa berlama-lama.

Kami yang baru satu minggu saja terasa sudah bertahun-tahun lamanya. Ah, saya jadi ingat kata Tuk Dalang di animasi Upin Ipin. “Walaupun negara orang lain hujan uang, dan negara sendiri hujan batu. Memang lebih baik di negara sendiri”.

Ya, saya baru merasakan ini, culture shock yang beberapa kali membuat saya ingin cepat pulang.

Foto: Dok Anggreny

Namun, meski rindu kampung halaman, kami tetap semangat untuk belajar di negeri ini. Kami tentu tak akan mau menyia-nyiakan kesempatan. Culture shock adalah hal biasa, dan hanya orang-orang yang punya keinginan belajar-lah yang bisa melewati culture shock dengan tenang.

Soal kuliner? Ah, saya tentu harus belajar membiasakan lidah. Dalam ilmu komunikasi (ilmu yang saya pelajari di STAHN Mpu Kuturan Singaraja), saya belajar komunikasi lintas budaya, dan tentu di dalamnya ada juga komunikasi kuliner, komunikasi menggunakan lidah dan indra pengecap.

Satu minggu adaptasi, kami benar-benar mencoba membiasakan diri. Ya semoga saja, tetap bisa bermimpi untuk di sini, namun juga tak lupa dengan tanah air yang kami miliki. [T]

Mulailah Perjalanan Penuh Emosi  | Catatan dari Philadelphia [1]
Diskon Hotel dan Jaket Baru | Terima Kasih, Pemerintah Jepang
Jepang, Aku Kembali! Tadaimaaa | Ini Cerita Awal Tentang Kota Atami
London: Riuh Wisatawan dan Atmosfer Diskusi | Catatan dari Inggris [3]
Tags: Amerika SerikatPendidikanPhiladelphiaSTAHN Mpu Kuturan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Biografi [Bukan] Malin Kundang

Next Post

Dinding Bandara: Saksi Pelukan Paling Tulus Daripada Altar Pernikahan

Luh Putu Anggreny

Luh Putu Anggreny

Penikmat kata dan halaman-halaman sunyi. Menyukai menulis dan membaca, serta hal-hal kecil yang sering terlewat. Sejak lama jatuh cinta pada senja—karena dari sanalah ia belajar bahwa keindahan sering datang bersama kefanaan. Dapat dijumpai di Instagram: @pt.anggreny_

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails
Next Post
Dinding Bandara: Saksi Pelukan Paling Tulus Daripada Altar Pernikahan

Dinding Bandara: Saksi Pelukan Paling Tulus Daripada Altar Pernikahan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co