23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Empat Hari Pertama yang Penuh Kejutan | Catatan dari Philadelphia [2]

Luh Putu Anggreny by Luh Putu Anggreny
June 28, 2023
in Tualang
Empat Hari Pertama yang Penuh Kejutan | Catatan dari Philadelphia [2]

Berpose bersama teman-teman dari negara lain yang ikut program di Temple University, Philadelphia | Foto: Dok Anggreny

HARI PERTAMA hingga hari keempat, hari singkat yang sangat melekat di hati. Sejak pertama menginjakkan kaki di Philadelphia, kami (Indonesian cohort) masih merasa ini mimpi.

Sejak kapan kami sampai di benua yang berbeda dengan benua tempat kami lahir dan besar? Kami seakan tiba-tiba saja berada pada waktu dan suasana sangat jauh berbeda dari yang kami alami seperti biasanya.

Hari pertama kami hanya melakukan makan malam bersama, sembari menunggu delegasi negara yang belum sampai. Itulah hari pertama kami mencoba makanan dengan menu baru yang bukan menu Indonesia. Terkejut. Itulah hal pertama yang saya dan teman-teman Indonesia rasakan.

“Kok gini rasanya,” ucap Yusuf.

“Aneh,” sambung Farah.

Ya, kurang lebih itulah ekspresi kami ketika pertama kali mencoba makanan di luar ekspektasi kami.

Terasa banyak merica, asin, sangat aneh di lidah kami. Tapi mau bagaimana lagi, hanya itu makanan yang tersedia untuk makan malam perdana.

Bersama teman-teman yang ikut program di Temple University | Foto: Dok Anggreny

Pengalaman yang benar-benar luar biasa. Ternyata hari pertama saja kami sudah mendapatkan culture shock.  Makanan yang berbeda, cuaca yang seharusnya panas namun dingin bahkan hujan.

Yang paling membuat kami terkejut adalah: Jam 8 malam matahari, di langit masih bersinar terang. Dan fenomena matahari tenggelam, sunset baru kami temukan pukul 9 malam.

***

Menuju pagi hari besoknya saya terbangun pukul 4 pagi. Dan benar saja. Matahari sudah mulai bersinar terang.  Benar-benar malam yang sangat singkat. 

Di samping itu, bangun pagi bersama beberapa teman kamar kami yang berasal dari timur tengah pun membuat kami merasakan culture shock lainnya. Mereka terbiasa bangun pukul 8 atau pukul 9 pagi.

Sementara sangat berbeda dengan budaya di Indonesia yang kebanyakan akan bangun pada pukul 6 atau pukul 7 pagi. Contoh saja di keluarga saya sendiri, ibu saya bangun pada pukul 5 pagi dan langsung siap-siap untuk memasak.

Ternyata begitu banyak perbedaan yang kami rasakan.

Namun ada hal sungguh berkesan yang kami temukan. Warga setempat di sekitaran universitas sangat taat lalu lintas. Mereka akan tetap membiarkan pejalan kaki menyeberang terlebih dulu walaupun lampu lalu-lintas untuk pengendara sudah menyaloa hijau.

Selain itu teknologi mereka yang benar-benar canggih membuat saya kagum. Kereta api bawah tanah, pengairan tanaman dari bawah sedemikian rupa, dan masih banyak lagi  Dengan hanya menggunakan satu kartu saja sudah bisa mengakses sebagian besar transportasi di sini. Jadi, sangat modern.

Bangunan-bangunan kampus pun beberapa bagian terlihat sangat unik. Seperti kastil-kastil di kerajaan, megah dan terlihat mewah. Orang di sini pun terlihat tidak peduli, mereka cenderung cuek dan bekerja sendiri. Namun bahayanya, karena daerah ini melegalkan senjata, jadi harus tetap waspada dan tidak merespon orang yang tidak dikenal.

***

Berlanjut pada pembelajaran hari pertama. Kami mendapatkan orientasi kampus mengenai Temple University, tempat kami belajar. Di mana titik titik amannya dan ternyata banyak sekali telepon darurat yang tersedia di sekitaran kampus. Mereka benar-benar menjamin keselamatan dan kenyamanan mahasiswanya.

Kemudian pembelajaran hari kedua, kami mengunjungi museum. Di sana kami mendapat penjelasan mengenai sosok William Penn. Yang ternyata merupakan pendiri dari Pennsylvania.

Kami belajar | Foto: Dok Anggreny

Disamping itu kami juga mempelajari tentang George Fox, yang merupakan pendiri dari Kaum Quaker. Ah, saya jadi ingat dengan Quaker oatmeal yang terkenal itu, mungkin saja sama pendirinya sehingga namanya pun sama, Hahaha.

Kami juga diajak mengunjungi gereja, dimana merupakan gereja bersejarah yang ada di Philadelphia.

Berlanjut hari ketiga dan keempat, aktivitas kami disibukkan dengan workshop pluralisme dan leadership, juga action plan yang akan kami rencanakan ke depannya setelah program yang kami ikuti ini selesai.

Aktivitas pembelajaran yang singkat, namun melekat. Dan banyak waktu kosong untuk kami eksplor lebih jauh mengenai tempat kami berada.

Sore hari kami diajak wisata ke City Hall. Tempat itu bisa dibilang alun-alun kota, dimana ada banyak tempat bersejarah disana. Terutamanya saja, patung William Penn yang berada di atas gedung yang sangat tinggi.

Pertama kalinya juga saya merasakan sensasi naik kereta di bawah tanah. Kemudian berkeliling menuju Chinatown. Mencoba Hot Pot, bersama teman-teman seharga 330$ yang kalau di Indonesia bisa untuk membeli satu buah ponsel keluaran terbaru.

Luar biasa sekali pengalaman ini.

Hari Sabtu dan Minggu kami libur. Namun kami isi dengan aktivitas olahraga atau sekedar berkeliling untuk melihat kampus dan tempat berfoto ria. Ternyata waktu berjalan, tidak terasa kami sudah menghabiskan satu minggu di tempat ini.

Pernah suatu malam saya dan teman saya merindukan rumah. Rindu masakan Indonesia, dan orang-orang nya yang ramah. Hingga kami sampai pada pemikiran, mengapa orang-orang Indonesia yang tinggal di luar negeri bisa berlama-lama.

Kami yang baru satu minggu saja terasa sudah bertahun-tahun lamanya. Ah, saya jadi ingat kata Tuk Dalang di animasi Upin Ipin. “Walaupun negara orang lain hujan uang, dan negara sendiri hujan batu. Memang lebih baik di negara sendiri”.

Ya, saya baru merasakan ini, culture shock yang beberapa kali membuat saya ingin cepat pulang.

Foto: Dok Anggreny

Namun, meski rindu kampung halaman, kami tetap semangat untuk belajar di negeri ini. Kami tentu tak akan mau menyia-nyiakan kesempatan. Culture shock adalah hal biasa, dan hanya orang-orang yang punya keinginan belajar-lah yang bisa melewati culture shock dengan tenang.

Soal kuliner? Ah, saya tentu harus belajar membiasakan lidah. Dalam ilmu komunikasi (ilmu yang saya pelajari di STAHN Mpu Kuturan Singaraja), saya belajar komunikasi lintas budaya, dan tentu di dalamnya ada juga komunikasi kuliner, komunikasi menggunakan lidah dan indra pengecap.

Satu minggu adaptasi, kami benar-benar mencoba membiasakan diri. Ya semoga saja, tetap bisa bermimpi untuk di sini, namun juga tak lupa dengan tanah air yang kami miliki. [T]

Mulailah Perjalanan Penuh Emosi  | Catatan dari Philadelphia [1]
Diskon Hotel dan Jaket Baru | Terima Kasih, Pemerintah Jepang
Jepang, Aku Kembali! Tadaimaaa | Ini Cerita Awal Tentang Kota Atami
London: Riuh Wisatawan dan Atmosfer Diskusi | Catatan dari Inggris [3]
Tags: Amerika SerikatPendidikanPhiladelphiaSTAHN Mpu Kuturan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Biografi [Bukan] Malin Kundang

Next Post

Dinding Bandara: Saksi Pelukan Paling Tulus Daripada Altar Pernikahan

Luh Putu Anggreny

Luh Putu Anggreny

Penikmat kata dan halaman-halaman sunyi. Menyukai menulis dan membaca, serta hal-hal kecil yang sering terlewat. Sejak lama jatuh cinta pada senja—karena dari sanalah ia belajar bahwa keindahan sering datang bersama kefanaan. Dapat dijumpai di Instagram: @pt.anggreny_

Related Posts

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails
Next Post
Dinding Bandara: Saksi Pelukan Paling Tulus Daripada Altar Pernikahan

Dinding Bandara: Saksi Pelukan Paling Tulus Daripada Altar Pernikahan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co