23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jepang, Aku Kembali! Tadaimaaa | Ini Cerita Awal Tentang Kota Atami

Riris Sanjaya by Riris Sanjaya
June 27, 2022
in Khas
Jepang, Aku Kembali! Tadaimaaa | Ini Cerita Awal Tentang Kota Atami

Setelah bekerja selama 2 tahun 3 bulan di Niseko, Hokkaido, Jepang, akhirnya keluarga dan saya memutuskan agar diri saya kembali melanjutkan karir di Jepang. Kali ini di lain prefektur, tepatnya di Shizuoka, Kota Atami. Kota tepi laut, yang panasnya hampir sama dengan Bali, hanya saja Bali tak punya musim gugur dan musim dingin. 

Pulang ke Bali selama satu bulan seusai bekerja di Niseko kemudian kembali ke Jepang, membuat saya masih terbawa-bawa suasana di rumah. Masih ingin lebih lama merasakan kehangatan bersama keluarga. Maka itu, di sini saya menolak kesepian. Saya menyibukkan diri dengan kursus omotenashi (hospitality), meningkatkan kemampuan korespondensi, serta mengumpulkan informasi tentang Atami. 

Tiba! Stasiun Atami | Foto: Riris Sanjaya

Ini shopping street di sebelah stasiun Atami. Tapi sayangnya toko-toko sudah tutup ketika saya sampai. | Foto: Riris Sanjaya

Akhirnya melihat motor di Jepang, hihiii | Foto: Riris Sanjaya

Saya tiba di Kota Atami 1 minggu lebih awal dari hari pertama bekerja. Saya ingin meng-explore daerah sekitar, terutama objek wisata dan sarana transportasi yang tersedia di Atami. Kali ini, saya berusaha menjalani hari-hari mengikuti pola orang lokal.

Saya akhirnya sudah punya sim-card jepang, dan pertama kalinya mengurus kartu identitas ke shiyakusho (balai kota) tanpa ditemani. Kali ini saya satu-satunya orang Indonesia di perusahaan saya bekerja. Dan rekan-rekan kerja pun tidak cakap berbicara bahasa Inggris seperti di Niseko yang pegawainya campuran dari berbagai negara meskipun tetap didominasi warga Jepang.

Terbayang kan betapa saya ingin ngopi sambil ngerumpi dengan teman-teman berbahasa Indonesia? Setidaknya, dalam bahasa Inggris.

Ini pemandangan dari salah satu sudut lantai paling atas hotel | Foto: Riris Sanjaya

Hotel tempat saya bekerja kali ini adalah 100 % perusahaan Jepang. Saya sudah nervous semenjak lulus interview karena akan full berbahasa Jepang. Termasuk baca dan tulis huruf kanji, yang saya sudah tidak ingat lagi.

Sistemnya baru, seragamnya baru, rekan-rekan kerja baru, semuanya baru. Semuanya sesuai dengan film-film dan drama-drama jepang yang pernah saya tonton. Semuanya jelas, teratur, dan disiplin. Untuk orang yang asalnya dari Indonesia, saya harus benar-benar ubah pola pikir dan kebiasaan. Paham kan maksudnya ya? Hahaaa…

Ini adalah Atami Castle, foto yang saya ambil langsung dari jendela kamar saya. Bagus ya! | Foto: Riris Sanjaya

*****

Di Atami inilah saya jelas melihat hal yang pernah terkabar di media, adanya permasalahan gap antara generasi usia dini dan usia lanjut. Dominan penduduk di sini adalah para kakek dan nenek dan paruh baya. Atau, apa hanya karena saya tidak pergi ke daerah yang banyak anak mudanya? 

Kepala auto-pusing melihat jadwal busnya, belum paham rute yang mana ke mana | Foto: Riris Sanjaya

Ketika saya pergi jalan-jalan ke daerah dekat stasiun kereta, kecuali Sabtu dan Minggu, yang ada hanya para paman dan bibi pemilik kedai dan para pembelinya. Tapi jangan salah, tampilannya tidak seperti yang diduga. Mereka sunguh awet muda. Atami akan ramai oleh para pasangan muda-mudi ketika akhir pekan atau liburan musim panas. Terutama saat malam kembang api yang diselenggarakan pemerintah kota. 

Saat pergi ke sebuah kissaten (kedai kopi) yang terlihat cantik dari luar, di dalamnya penuh dengan para nenek. Beruntung saya ke sana. Yukiko-san, pemiliknya yang sekaligus penyaji kopinya sangat ramah dan baik hati. Para nenek lainnya pun melibatkan saya dalam obrolan mereka. Saya bahkan mendapat banyak petuah untuk bertahan di negeri orang, untuk menjadi nyaman di Atami. Senangnya. 

Atami terkenal akan seafoodnya karena kota tepi laut | Foto: Riris Sanjaya

Segaaaaarrr semuaaa | Foto: Riris Sanjaya

Lain hari saya mencoba pergi ke yakitori-ya (kedai sate) yang juga menyuguhkan minuman beralkohol. Di sini sate adalah peneman minum. Saya pesan segelas bir, dan segelas air putih dengan es batu. Tempatnya sangat sempit, menunya semua ditulis dalam huruf kanji di atas papan-papan kayu yang ditata di atas tembok.

Saya pura-pura membaca dan asal tunjuk saja menu satenya hahhaaaa…. Kemudian setelah saya yang adalah tamu pertama, sekitar pukul 5 sore mulailah para tamu lain berdatangan. Lagi-lagi, 2 orang kakek, dan 1 orang nenek. Sudah tua semua.

Kami seketika menjadi akrab dan bercengkrama seakan sudah kenal lama dan berusia sama. Entah saya yang menjadi tua atau mereka yang berjiwa muda.

Ini adalah Yukiko-san, pemilik Kedai Kopi Kuronbo.| Foto: Riris Sanjaya

Sayang fotonya terlambat, beberapa nenek lainnya sudah pulang duluan | Foto: Riris Sanjaya

Setelah saya perhatikan, tamu-tamu yang datang menginap ke hotel pun separuhnya adalah kakek dan nenek. Mungkin karena Atami terkenal akan ofuro onsen (pemandian air panas) yang disukai para lansia, berbeda dengan Niseko yang adalah area terkenal untuk skiing dan snowboarding. Bahkan sering juga ada kunjungan makan siang dari nenek-nenek yang tinggal di panti jompo sekitar.

Pertanyaan saya dalam hati, apakah karena penduduknya dominan adalah lansia, atau saya yang berjiwa nenek ini suka pergi ke tempat-tempat yang sama? Di mana-mana lansia. Herannya, aktivitas para lansia d isini sungguh berbeda dengan di asal saya. Mereka berdandan dan punya waktu khusus untuk bercengkrama. 

Yeaaayy! Makan abalone sebagai streetfood 😂 | Foto: Riris Sanjaya

Ini kedai satenya, sungguh sempit kan? Makanannya disajikan menggunakan papan kayu panjang dari tempat kokinya berdiri! | Foto: Riris Sanjaya

Begitulah kesan awal saya tinggal di Atami. Meskipun sudah pernah tinggal selama 2 tahun di Jepang, tetapi karena berbeda pulau, sepertinya akan ada banyak kisah yang menarik ke depannya. Atami Shizuoka, saya ijin tinggal di sini ya. [T]

_____

BACA KABAR LAIN DARI JEPANG BERSAMA PENULIS RIRIS SANJAYA

Tags: JepangPariwisataperjalananRiris Sanjaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Yang Tumbuh Pada Tanah Tubuh | Catatan Proses Latihan Metode Suzuki Untuk Pelatihan Aktor di Indonesia

Next Post

Jejak I Dewa Kompiang Pasek Sebagai Juru Suling Gambuh Gaya Batuan

Riris Sanjaya

Riris Sanjaya

Lahir di Singaraja, kini bekerja di Jepang

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Jejak I Dewa Kompiang Pasek Sebagai Juru Suling Gambuh Gaya Batuan

Jejak I Dewa Kompiang Pasek Sebagai Juru Suling Gambuh Gaya Batuan

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co