14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dinding Bandara: Saksi Pelukan Paling Tulus Daripada Altar Pernikahan

Musti Ariantini by Musti Ariantini
June 28, 2023
in Esai
Dinding Bandara: Saksi Pelukan Paling Tulus Daripada Altar Pernikahan

Ilustrasi diolah dari Canva

Barangkali benar adanya, dinding bandara lebih banyak menyaksikan pelukan paling tulus ketimbang altar pernikahan.

TEPAT TANGGAL 20 Juni 2023, untuk pertama kalinnya saya menapakan kaki di bandara, tepatnya Bandara Ngurah Rai, Bali, untuk mengantarkan seseorang menjemput mimpi di negeri Paman Sam.

Pagi itu kami berangkat menuju Bandara Ngurah Rai dari Singaraja yang jaraknya kurang lebih 95 km. Kami melewati lika-liku jalan Gitgit yang telah banyak terjamah pembangunan.

Perasaan gelisah, takut, haru, sedih bercampur menjadi satu mengiringi perjalanan kami. Bahkan, riuhnya kendaraan dan bunyi klakson yang tak pernah henti seakan tak mampu mengalihkan perasaan tersebut.

Sesekali percakapan-percakapan kecil hadir untuk sekadar mengusir ilusi-ilusi buruk yang menghinggapi pikiran, hingga sedikit ketenangan menelusup dari sela-sela tawa kecil kami.

Namun, hal tersebut tak berlangsung lama, ketika plang bandara tampak dijangkauan mata, perasaan sesak seakan menghimpit lagi. Bulir keringat yang timbul dari sela-sela jari seakan membekukan telapak tangan. Kepala berdengung riuh dengan kata “perpisahan”.

***

Mobil berhenti di zona drop off terminal keberangkatan, terlihat banyak orang mendorong koper menuju lobby bandara, entah bersama keluarga, kerabat atau mungkin kekasih dengan berbagai ekspresi di wajah mereka.

Langkah-langkah kecil saya pijakan menelusuri dinginnya lantai bandara penerbangan internasional itu, sembari menghitung detik demi detik waktu yang saya miliki untuk sekadar menggenggam tangannya dan mencium wangi tubuhnya yang khas.

Di lobby bandara terpasang banyak petunjuk dengan berbagai bahasa yang cukup membingungkan, ditulis dengan bahasa maupun huruf asing—barangkali diperuntukan untuk mereka-mereka yang membutuhkan informasi keberangkatan.

Orang berlalu lalang sembari menyeret koper di tangan dan tas-tas besar di punggungnya, bercengkrama dengan berbagai bahasa—wajar saja, mengingat ini bandar udara internasional.

Dengan saksama saya perhatikan orang-orang yang berlalu-lalang di lobby bandara; ada yang bergerombol ramai-ramai bersama keluarga—barangkali mereka juga mengantarkan orang terkasih—; ada yang hanya berdua; ada pula yang sendirian mengasingkan diri dari keramaian. Mata mereka sembab, barangkali perasaan mereka sama dengan saya, atau mungkin euphoria bandara keberangkatan memang seperti itu?

Pandangan saya terkunci pada sepasang kekasih (dari fisiknya terlihat seperti orang Barat) yang sedang merayakan perpisahan dengan adegan pelukan hangat dan kecupan manis di kening.

Bibir mereka tersenyum namun sayang, cairan bening menyembul dari balik mata mereka. Salah satu dari mereka memasuki ruang administrasi penerbangan sembari menggeret koper, sedang yang lain berdiri mematung.

Seketika saya teringat salah satu adegan iconic dalam film “Ada Apa Dengan Cinta” pada saat Cinta mengejar Rangga yang sebentar lagi akan boarding menuju New York. Pada adegan dramatis itu, dengan tergesa, Cinta menyatakan perasaannya yang sebenarnya kepada Rangga.

Cinta dan Rangga melakukan adegan perpisahan persis seperti yang dilakukan oleh sepasang kekasih di depan saya; pelukan hangat, ciuman ditambah secarik puisi. Perpisahan yang dikemas dengan romantisme. Dan ya, saat ini saya di sini, dengan kondisi yang sama namun sayang adegannya yang sedikit berbeda.

***

Ketika melihat dia memasuki ruang administrasi dengan koper yang digeret di samping kanannya dan tas hitam tersampir di punggungnya, langkah kakinya tidak terlalu cepat pun tidak terlalu lambat. Lamat-lamat punggungnya menjauh, hilang dari pandangan mata.

Tanpa sadar, cairan hangat menggumpul di pelupuk mata, dengan tergesa saya edarkan pandangan, memandangi dinding-dinding kokoh—yang telah menyaksikan ribuan pelukan tulus manusia (sekali lagi, barangkali pelukan-pelukan pada altar pernikahan tidak setulus pelukan yang terjadi di bandara)—dan langit-langit bandara dengan desain mewahnya yang telah mendengar beribu doa paling tulus ketimbang rumah-rumah ibadah manapun.

Beberapa kali saya mendengar kata “perpisahan paling khusyuk terjadi di bandara”, dulu, dan beberapa kali pula saya menampik ungkapan tersebut. Namun kini saya percaya.

saya tidak pernah membenci bandara, hanya saja tidak menyukai suasana perpisahan yang terjadi di sana. Namun, bukankah hidup juga berjalan secara demikian? Perpisahan dan pertemuan datang bergantian.

Kenapa hanya merayakan pertemuan? Bukankah sebelum pertemuan kita harus berjumpa dengan perpisahan terlebih dahulu? Dan, bukankah perpisahan juga layak di rayakan?

Pada akhirnya, saya hanya bisa bergumam, berkelanalah sejauh mungkin dan pulanglah ketika waktunya telah tiba. Berjanjilah untuk segera pulang bersama setumpuk cerita dan sekantong penuh rindu.[T]

Andai Aku Punya Pintu ke Mana Saja
Memaknai Kehilangan

Sebuah Awal, Bagaimana Jika Semua Tidak Baik-baik Saja?
Tags: bandaraceritacintacinta kasihkisah nyatarindu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Empat Hari Pertama yang Penuh Kejutan | Catatan dari Philadelphia [2]

Next Post

Tari dan Tabuh Khas Buleleng Getarkan Panggung Ksirarnawa

Musti Ariantini

Musti Ariantini

Admin tatkala.co

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Tari dan Tabuh Khas Buleleng Getarkan Panggung Ksirarnawa

Tari dan Tabuh Khas Buleleng Getarkan Panggung Ksirarnawa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co