12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dinding Bandara: Saksi Pelukan Paling Tulus Daripada Altar Pernikahan

Musti Ariantini by Musti Ariantini
June 28, 2023
in Esai
Dinding Bandara: Saksi Pelukan Paling Tulus Daripada Altar Pernikahan

Ilustrasi diolah dari Canva

Barangkali benar adanya, dinding bandara lebih banyak menyaksikan pelukan paling tulus ketimbang altar pernikahan.

TEPAT TANGGAL 20 Juni 2023, untuk pertama kalinnya saya menapakan kaki di bandara, tepatnya Bandara Ngurah Rai, Bali, untuk mengantarkan seseorang menjemput mimpi di negeri Paman Sam.

Pagi itu kami berangkat menuju Bandara Ngurah Rai dari Singaraja yang jaraknya kurang lebih 95 km. Kami melewati lika-liku jalan Gitgit yang telah banyak terjamah pembangunan.

Perasaan gelisah, takut, haru, sedih bercampur menjadi satu mengiringi perjalanan kami. Bahkan, riuhnya kendaraan dan bunyi klakson yang tak pernah henti seakan tak mampu mengalihkan perasaan tersebut.

Sesekali percakapan-percakapan kecil hadir untuk sekadar mengusir ilusi-ilusi buruk yang menghinggapi pikiran, hingga sedikit ketenangan menelusup dari sela-sela tawa kecil kami.

Namun, hal tersebut tak berlangsung lama, ketika plang bandara tampak dijangkauan mata, perasaan sesak seakan menghimpit lagi. Bulir keringat yang timbul dari sela-sela jari seakan membekukan telapak tangan. Kepala berdengung riuh dengan kata “perpisahan”.

***

Mobil berhenti di zona drop off terminal keberangkatan, terlihat banyak orang mendorong koper menuju lobby bandara, entah bersama keluarga, kerabat atau mungkin kekasih dengan berbagai ekspresi di wajah mereka.

Langkah-langkah kecil saya pijakan menelusuri dinginnya lantai bandara penerbangan internasional itu, sembari menghitung detik demi detik waktu yang saya miliki untuk sekadar menggenggam tangannya dan mencium wangi tubuhnya yang khas.

Di lobby bandara terpasang banyak petunjuk dengan berbagai bahasa yang cukup membingungkan, ditulis dengan bahasa maupun huruf asing—barangkali diperuntukan untuk mereka-mereka yang membutuhkan informasi keberangkatan.

Orang berlalu lalang sembari menyeret koper di tangan dan tas-tas besar di punggungnya, bercengkrama dengan berbagai bahasa—wajar saja, mengingat ini bandar udara internasional.

Dengan saksama saya perhatikan orang-orang yang berlalu-lalang di lobby bandara; ada yang bergerombol ramai-ramai bersama keluarga—barangkali mereka juga mengantarkan orang terkasih—; ada yang hanya berdua; ada pula yang sendirian mengasingkan diri dari keramaian. Mata mereka sembab, barangkali perasaan mereka sama dengan saya, atau mungkin euphoria bandara keberangkatan memang seperti itu?

Pandangan saya terkunci pada sepasang kekasih (dari fisiknya terlihat seperti orang Barat) yang sedang merayakan perpisahan dengan adegan pelukan hangat dan kecupan manis di kening.

Bibir mereka tersenyum namun sayang, cairan bening menyembul dari balik mata mereka. Salah satu dari mereka memasuki ruang administrasi penerbangan sembari menggeret koper, sedang yang lain berdiri mematung.

Seketika saya teringat salah satu adegan iconic dalam film “Ada Apa Dengan Cinta” pada saat Cinta mengejar Rangga yang sebentar lagi akan boarding menuju New York. Pada adegan dramatis itu, dengan tergesa, Cinta menyatakan perasaannya yang sebenarnya kepada Rangga.

Cinta dan Rangga melakukan adegan perpisahan persis seperti yang dilakukan oleh sepasang kekasih di depan saya; pelukan hangat, ciuman ditambah secarik puisi. Perpisahan yang dikemas dengan romantisme. Dan ya, saat ini saya di sini, dengan kondisi yang sama namun sayang adegannya yang sedikit berbeda.

***

Ketika melihat dia memasuki ruang administrasi dengan koper yang digeret di samping kanannya dan tas hitam tersampir di punggungnya, langkah kakinya tidak terlalu cepat pun tidak terlalu lambat. Lamat-lamat punggungnya menjauh, hilang dari pandangan mata.

Tanpa sadar, cairan hangat menggumpul di pelupuk mata, dengan tergesa saya edarkan pandangan, memandangi dinding-dinding kokoh—yang telah menyaksikan ribuan pelukan tulus manusia (sekali lagi, barangkali pelukan-pelukan pada altar pernikahan tidak setulus pelukan yang terjadi di bandara)—dan langit-langit bandara dengan desain mewahnya yang telah mendengar beribu doa paling tulus ketimbang rumah-rumah ibadah manapun.

Beberapa kali saya mendengar kata “perpisahan paling khusyuk terjadi di bandara”, dulu, dan beberapa kali pula saya menampik ungkapan tersebut. Namun kini saya percaya.

saya tidak pernah membenci bandara, hanya saja tidak menyukai suasana perpisahan yang terjadi di sana. Namun, bukankah hidup juga berjalan secara demikian? Perpisahan dan pertemuan datang bergantian.

Kenapa hanya merayakan pertemuan? Bukankah sebelum pertemuan kita harus berjumpa dengan perpisahan terlebih dahulu? Dan, bukankah perpisahan juga layak di rayakan?

Pada akhirnya, saya hanya bisa bergumam, berkelanalah sejauh mungkin dan pulanglah ketika waktunya telah tiba. Berjanjilah untuk segera pulang bersama setumpuk cerita dan sekantong penuh rindu.[T]

Andai Aku Punya Pintu ke Mana Saja
Memaknai Kehilangan

Sebuah Awal, Bagaimana Jika Semua Tidak Baik-baik Saja?
Tags: bandaraceritacintacinta kasihkisah nyatarindu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Empat Hari Pertama yang Penuh Kejutan | Catatan dari Philadelphia [2]

Next Post

Tari dan Tabuh Khas Buleleng Getarkan Panggung Ksirarnawa

Musti Ariantini

Musti Ariantini

Admin tatkala.co

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Tari dan Tabuh Khas Buleleng Getarkan Panggung Ksirarnawa

Tari dan Tabuh Khas Buleleng Getarkan Panggung Ksirarnawa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co