24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

London: Riuh Wisatawan dan Atmosfer Diskusi | Catatan dari Inggris [3]

Shinta Prastyanti by Shinta Prastyanti
June 12, 2023
in Esai
London: Riuh Wisatawan dan Atmosfer Diskusi | Catatan dari Inggris [3]

Wisatawan memadati kota London | Dokumentasi Pribadi

BAGI SEBAGIAN ORANG, bisa mengikuti training di luar negeri adalah hal yang biasa. Mungkin karena memang aktif mencari peluang ataupun kemudahan yang diperolehnya dari institusinya karena beberapa faktor. Ada juga yang mengatakan, “….ahhhh…itu kan cuma sebuah keberuntungan saja”.

Keberuntungan bisa jadi menjadi salah satu faktor yang turut berkontribusi. Namun bagi saya keberuntungan adalah tahap terakhir setelah melalui usaha yang sangat panjang dan berliku. Apalagi bisa memperoleh kesempatan berpartisipasi dalam training yang dilaksanakan oleh the British Academy, yang sangat bergengsi di Eropa. Menempatkan keberuntungan pada posisi pertama sepertinya hanya sebuh mimpi saja untuk bisa dapat award tersebut.

Keterbatasan dalam banyak hal, karena hanya mengandalkan semangat untuk berusaha; saya mulai merintis jejaring dengan professor-profesor di luar negeri sejak delapan tahun yang lalu. Dari beberapa professor tersebut tampaknya professor saya sekaranglah yang paling memiliki “chemistry” sehingga kami intens dalam berkomunikasi melalui email yang pada akhirnya mengantarkan saya sampai Leeds dan London. Meski sejujurnya pada waktu itu saya “tidak terlalu berani  berharap”  untuk mendapatkan award ini karena seleksinya yang sangat ketat.

Agak berbeda dengan training-training yang saya ketahui di Indonesia, training yang diadakan di London selama 3 hari ini memang benar-benar diikuti oleh peserta dari berbagai negara di dunia. Rata-rata hanya 1-2 saja peserta yang berasal dari negara yang sama dari sekitar 30 peserta yang berpartisipasi. Kebetulan dari Indonesia cuma saya saja. Background  keilmuannya pun berbeda-beda. Prosentase antara perempuan dan laki-laki juga relatif sama karena memang semboyannya adalah equality and equity.

                                                            ***

Sejak proses pendaftaran hingga semua fasilitas, seperti hotel, venue acara, resources, dan sebagainya sudah tersedia dengan lengkap sampai kegiatan selesai. Bahkan pengeluaran untuk transport dari dan ke London serta makan selama di London pun (kecuali breakfast karena sudah disediakan di hotel) bisa di-reimburst.

Akomodasi yang disediakan juga bukan murahan, tapi hotel bintang 4 yang berlokasi di jantungnya kota London sehingga sangat dekat ke mana-mana. Trafalgar Square, Buckingham Palace, Picadilly Square, sungai Thames, London Eye, dan beberapa stasiun bawah tanah hanya dalam jangkauan berjalan kaki.

Saya tidak akan mungkin mampu menginap di hotel tersebut kalau harus membayar sendiri. Kalau dilihat di websitenya, kamar yang saya tempati dibanderol 180 poundsterling atau hampir 3,4 juta rupiah per malam. Nominal tersebut kemungkinan masih ditambah dengan pajak yang entah berapa. Wajar juga sih karena letaknya yang sangat strategis.

Bahkan jika kita minta agar kamar tidak usah dibersihkan (dengan memasang pemberitahuan di pegangan pintu kamar) kita akan mendapatkan voucher sebesar tujuh poundsterling. Lumayan juga ya. Sayangnya saya dan beberapa teman lainnya baru mengetahuinya di malam saat paginya kami harus check out.

Sudut kota London yang begitu rapi dan bersih | Foto: Dokumentasi Pribadi

Sebenarnya jarak dari hotel ke tempat pelatihan tidak terlalu jauh. Tapi karena ramainya wisatawan dari seluruh penjuru dunia yang tumpah ruah dan kota London yang belokannya super banyak, membuat hampir semua peserta kesasar dalam perjalanan ke lokasi training.

Durasi normal sebenarnya kurang lebih hanya 20 menit dengan berjalan kaki dari hotel melalui tempat-tempat wisata yang ekonik. Ibaratnya kalau “cuma” Trafalgar Square dan Sungai Thames serta London Eye sih udah kami lewati setiap saat. Tapi karena berputar-putar (padahal ada juga teman yang sudah selalu melihat map di handphone) maka satu jam kami baru sampai lokasi.

Meskipun demikian, daya tarik kota London yang dipenuhi bangunan-bangunan bersejarah dengan arsitektur yang luar biasa di sepanjang mata memandang, maka meski kesasar, tapi tetap bisa cuci mata. Seperti kesasar membawa nikmat.

Kalau diamati tampaknya ada yang berbeda dengan Trafalgar Square. Beberapa waktu yang lalu ketika saya ke sana Trafalgar Square dipenuhi oleh burung-burung merpati yang luar biasa banyak. Tampaknya pemandangan tersebut sudah jauh berbeda karena sekarang wisatawanlah yang justru riuh memadati tempat tersebut. Burung merpati hanya tinggal terlihat 1-2 saja, entah pada ke mana mereka. Mungkin mencari tempat yang lebih nyaman karena “tergusur” oleh manusia.

                                                                        ***

Leadership Training yang dibuka dengan gala dinner dilaksanakan satu hari sebelumnya dari jam 18.00-21.30 GMT di kantor the Britsh Academy. Jangan dibayangkan yang namanya gala dinner itu bakal dapat nemuin makanan yang berlimpah dengan aneka pilihan sampai kita kebingungan mau pilih yang mana. Gala dinner ternyata seperti welcoming party, kenalan dengan seluruh peserta dan instruktur sambil sedikit-sedikit disampaikan materi dan apa yang akan dipelajari selama training.

Menu yang disajikanpun ya standar bule; hanya beberapa kudapan dan  minuman. Entah bagaimana mereka mengartikan istilah “gala”. Ataukah mungkin kita yang terbiasa menterjemahkan gala dengan pemahaman atas sesuatu yang serba wow.., entahlah.

Panitia training yang diikuti sekitar 30 peserta dari berbagai negara di dunia ini pun juga tidak banyak. Sepertinya hanya dua orang plus dua instruktur. Dengan personal yang sangat terbatas mereka dapat menghandle kegiatan dengan lancar sejak pendaftaran hingga penutupan. Bayangkan jika di negara kita. Bisa-bisa jumlah panitia melebihi jumlah peserta karena menjadi panitia akan mendapatkan benefit tersendiri.

Training berlangsung dari jam 09.15-15.30 GMT di lokasi yang berbeda dengan gala dinner, yakni di the Royal Society, gedung yang super indah. Apalagi atapnya….wah…benar-benar seperti di kerajaan. Belum lagi lukisan-lukisan megah di sepanjang dinding yang tentu tampak sangat bernilai.

Begitu masuk ruangan mata kami semua langsung tertuju pada atap gedung dan deretan lukisan yang memang tidak mungkin untuk tidak dikagumi. Betapa senangnya mendapatkan kesempatan melihat mahakarya di depan mata secara langsung. Ahhhh…..nikmat apa lagi yang belum saya terima.

                                                                        ***

Materi pelatihan di hari pertama yang disampaikan terkait konsep bagaimana menjadi seorang leader dalam sebuah proyek penelitian. Pemahaman tentang kepemimpinan yang efektif, dimensi dan manajemen kepemimpinan, menjadi pemimpin dan manajer yang kreatif, dan sebagainya menjadi titik fokus pada hari itu.

Pada hari kedua mulai mengerucut pada bagaimana mempengaruhi dan melakukan negosiasi, cara menghadapi tantangan dan hambatan, self-leadership, dan sebagainya. Setiap sesi rata-rata berdurasi 45 menit dengan pemaparan secara bergantian dari kedua instruktur. Semua materi juga langsung bisa diunduh di website. Sedikit pemahaman tentang komunikasi persuasif ternyata sangat membantu dalam memahami materi pelatihan. Mungkin inilah yang disebut keberuntungan.

Dalam pelaksanaannya tentu saja kami tidak hanya sekedar mendengarkan penyampaian materi dari instruktur. Diskusi dalam kelompok-kelompok kecil (kadang berlima, kadang cuma berdua) dilaksanakan secara intens sehingga menantang setiap peserta untuk menyampaikan gagasan serta pengalamannya.

Setelah itu barulah hasil dari diskusi masing-masing kelompok kecil tersebut disampaikan ke seluruh peserta. Pada suatu sesi setiap kelompok mendapatkan satu gambar tentang leadership style, kemudian setiap peserta melihat leadership style yang ada di kelompok lain. Dari situ peserta mendiskusikan dengan pasangannya leadership style yang mana yang paling ideal menurut kami dan mengapa kami memilihnya.

Wisatawan memadati kota London | Foto: Dokumentasi Pribadi

Atmosfer diskusi menjadi sangat menarik karena setiap peserta memiliki background yang berbeda, baik dalam hal keilmuan maupun negara asal. Dengan kemampuan bahasa Inggris yang biasa-biasa saja membuat saya harus bekerja keras untuk memahami apa yang disampaikan oleh peserta lain dengan aksen bahasa Inggris yang beragam.  Duh…, benar-benar saya harus membuka telinga lebar-lebar ketika mereka sedang berbicara.

 Berbeda dengan saya, kebanyakan mereka menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari. Jika tidak, mereka sudah tinggal di Inggris setidaknya dua tahun.  Meskipun demikian kami tetap saling menghargai kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Perbedaan latar belakang budaya dan dasar keilmuan tidak menghalangi kami untuk cepat saling mengenal dan akrab satu sama lain karena hampir setiap diskusi kami berganti-ganti pasangan/ kelompok. Memang tujuan dari training ini selain belajar tentang leadership juga untuk memperluas jaringan diantara sesama peserta.

                                                            ***

Satu hal yang menjadi “topik utama” setiap kali training selesai dan kami dalam perjalanan kembali ke hotel adalah kami semua merasa masih kelaparan meski setiap hari disediakan lunch oleh panitia. Bagaimana tidak, menu lunch sangat tidak memadai (setidaknya karena tidak terbiasa dengan menu tersebut), sehingga dalam perjalanan pulang ke hotel ataupun malamnya kami ramai-ramai mencari makan untuk menebus makan siang yang tidak memenuhi “standar” kami. Bahasa gaulnya makan siang cuma sekedar numpang lewat saja, alias sama sekali tidak ada efek.  

Meskipun demikian training yang berdurasi tiga hari tersebut sangat membekas di hati dan pikiran kami semua peserta. Pengalaman luar biasa yang dapat menjadi jembatan kami untuk lebih percaya diri dalam melangkah ke depan berbekal pengetahuan baru serta jaringan-jaringan kerjasama dengan teman-teman dari berbagai negara. Sebuah aset sangat berharga yang tidak dapat dikuantifikasi dengan uang. Setidaknya mimpi-mimpi sudah mulai bermunculan di benak setiap peserta.

Dari segi penyelenggaraan event, memang dibutuhkan kemampuan manajemen komunikasi yang memadai untuk bisa mengeloa sebuah aktifitas yang melibatkan berbagai stakeholder dengan bermacam-macam latar belakang. Tidak hanya bagaimana membuat materi/ pesan tersampaikan kepada peserta, namun juga bagaimana membuat semua pihak yang terlibat menjadi nyaman dan merasa terhubung satu sama lain.

 Simpul-simpul yang tadinya tidak terbayangkan untuk terhubung kini terbuka luas kesempatan untuk mengaitkannya, bahkan mengikatnya menjadi lebih erat. Yah…perjuangan untuk mencapai London langsung terbayar lunas. Terimakasih the British Academy. Terimakasih Ogo, Fernanda, Deona, Niki, Mike, Majid, Steve, Olofumi, dan lain-lain atas tiga hari yang luar biasa…. See you next month guys!!!! [T]

  • BACA JUGA:
Persepsi Lintas Budaya yang Sering Keliru | Catatan dari Inggris [1]
Komunikasi sebagai Kunci Interaksi Lintas Budaya | Catatan dari Inggris [2]

                                                      

Tags: InggriskomunikasiLondonPendidikanperjalanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mantra ke Danau Paisu Pok, Wisata Alam Nan Indah di Sulawesi Tengah

Next Post

Raden Akria Buana, Kades Senaru di Lombok yang Sukses Kembangkan Wisata Desa 

Shinta Prastyanti

Shinta Prastyanti

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah.

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Raden Akria Buana, Kades Senaru di Lombok yang Sukses Kembangkan Wisata Desa 

Raden Akria Buana, Kades Senaru di Lombok yang Sukses Kembangkan Wisata Desa 

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co