2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

London: Riuh Wisatawan dan Atmosfer Diskusi | Catatan dari Inggris [3]

Shinta Prastyanti by Shinta Prastyanti
June 12, 2023
in Esai
London: Riuh Wisatawan dan Atmosfer Diskusi | Catatan dari Inggris [3]

Wisatawan memadati kota London | Dokumentasi Pribadi

BAGI SEBAGIAN ORANG, bisa mengikuti training di luar negeri adalah hal yang biasa. Mungkin karena memang aktif mencari peluang ataupun kemudahan yang diperolehnya dari institusinya karena beberapa faktor. Ada juga yang mengatakan, “….ahhhh…itu kan cuma sebuah keberuntungan saja”.

Keberuntungan bisa jadi menjadi salah satu faktor yang turut berkontribusi. Namun bagi saya keberuntungan adalah tahap terakhir setelah melalui usaha yang sangat panjang dan berliku. Apalagi bisa memperoleh kesempatan berpartisipasi dalam training yang dilaksanakan oleh the British Academy, yang sangat bergengsi di Eropa. Menempatkan keberuntungan pada posisi pertama sepertinya hanya sebuh mimpi saja untuk bisa dapat award tersebut.

Keterbatasan dalam banyak hal, karena hanya mengandalkan semangat untuk berusaha; saya mulai merintis jejaring dengan professor-profesor di luar negeri sejak delapan tahun yang lalu. Dari beberapa professor tersebut tampaknya professor saya sekaranglah yang paling memiliki “chemistry” sehingga kami intens dalam berkomunikasi melalui email yang pada akhirnya mengantarkan saya sampai Leeds dan London. Meski sejujurnya pada waktu itu saya “tidak terlalu berani  berharap”  untuk mendapatkan award ini karena seleksinya yang sangat ketat.

Agak berbeda dengan training-training yang saya ketahui di Indonesia, training yang diadakan di London selama 3 hari ini memang benar-benar diikuti oleh peserta dari berbagai negara di dunia. Rata-rata hanya 1-2 saja peserta yang berasal dari negara yang sama dari sekitar 30 peserta yang berpartisipasi. Kebetulan dari Indonesia cuma saya saja. Background  keilmuannya pun berbeda-beda. Prosentase antara perempuan dan laki-laki juga relatif sama karena memang semboyannya adalah equality and equity.

                                                            ***

Sejak proses pendaftaran hingga semua fasilitas, seperti hotel, venue acara, resources, dan sebagainya sudah tersedia dengan lengkap sampai kegiatan selesai. Bahkan pengeluaran untuk transport dari dan ke London serta makan selama di London pun (kecuali breakfast karena sudah disediakan di hotel) bisa di-reimburst.

Akomodasi yang disediakan juga bukan murahan, tapi hotel bintang 4 yang berlokasi di jantungnya kota London sehingga sangat dekat ke mana-mana. Trafalgar Square, Buckingham Palace, Picadilly Square, sungai Thames, London Eye, dan beberapa stasiun bawah tanah hanya dalam jangkauan berjalan kaki.

Saya tidak akan mungkin mampu menginap di hotel tersebut kalau harus membayar sendiri. Kalau dilihat di websitenya, kamar yang saya tempati dibanderol 180 poundsterling atau hampir 3,4 juta rupiah per malam. Nominal tersebut kemungkinan masih ditambah dengan pajak yang entah berapa. Wajar juga sih karena letaknya yang sangat strategis.

Bahkan jika kita minta agar kamar tidak usah dibersihkan (dengan memasang pemberitahuan di pegangan pintu kamar) kita akan mendapatkan voucher sebesar tujuh poundsterling. Lumayan juga ya. Sayangnya saya dan beberapa teman lainnya baru mengetahuinya di malam saat paginya kami harus check out.

Sudut kota London yang begitu rapi dan bersih | Foto: Dokumentasi Pribadi

Sebenarnya jarak dari hotel ke tempat pelatihan tidak terlalu jauh. Tapi karena ramainya wisatawan dari seluruh penjuru dunia yang tumpah ruah dan kota London yang belokannya super banyak, membuat hampir semua peserta kesasar dalam perjalanan ke lokasi training.

Durasi normal sebenarnya kurang lebih hanya 20 menit dengan berjalan kaki dari hotel melalui tempat-tempat wisata yang ekonik. Ibaratnya kalau “cuma” Trafalgar Square dan Sungai Thames serta London Eye sih udah kami lewati setiap saat. Tapi karena berputar-putar (padahal ada juga teman yang sudah selalu melihat map di handphone) maka satu jam kami baru sampai lokasi.

Meskipun demikian, daya tarik kota London yang dipenuhi bangunan-bangunan bersejarah dengan arsitektur yang luar biasa di sepanjang mata memandang, maka meski kesasar, tapi tetap bisa cuci mata. Seperti kesasar membawa nikmat.

Kalau diamati tampaknya ada yang berbeda dengan Trafalgar Square. Beberapa waktu yang lalu ketika saya ke sana Trafalgar Square dipenuhi oleh burung-burung merpati yang luar biasa banyak. Tampaknya pemandangan tersebut sudah jauh berbeda karena sekarang wisatawanlah yang justru riuh memadati tempat tersebut. Burung merpati hanya tinggal terlihat 1-2 saja, entah pada ke mana mereka. Mungkin mencari tempat yang lebih nyaman karena “tergusur” oleh manusia.

                                                                        ***

Leadership Training yang dibuka dengan gala dinner dilaksanakan satu hari sebelumnya dari jam 18.00-21.30 GMT di kantor the Britsh Academy. Jangan dibayangkan yang namanya gala dinner itu bakal dapat nemuin makanan yang berlimpah dengan aneka pilihan sampai kita kebingungan mau pilih yang mana. Gala dinner ternyata seperti welcoming party, kenalan dengan seluruh peserta dan instruktur sambil sedikit-sedikit disampaikan materi dan apa yang akan dipelajari selama training.

Menu yang disajikanpun ya standar bule; hanya beberapa kudapan dan  minuman. Entah bagaimana mereka mengartikan istilah “gala”. Ataukah mungkin kita yang terbiasa menterjemahkan gala dengan pemahaman atas sesuatu yang serba wow.., entahlah.

Panitia training yang diikuti sekitar 30 peserta dari berbagai negara di dunia ini pun juga tidak banyak. Sepertinya hanya dua orang plus dua instruktur. Dengan personal yang sangat terbatas mereka dapat menghandle kegiatan dengan lancar sejak pendaftaran hingga penutupan. Bayangkan jika di negara kita. Bisa-bisa jumlah panitia melebihi jumlah peserta karena menjadi panitia akan mendapatkan benefit tersendiri.

Training berlangsung dari jam 09.15-15.30 GMT di lokasi yang berbeda dengan gala dinner, yakni di the Royal Society, gedung yang super indah. Apalagi atapnya….wah…benar-benar seperti di kerajaan. Belum lagi lukisan-lukisan megah di sepanjang dinding yang tentu tampak sangat bernilai.

Begitu masuk ruangan mata kami semua langsung tertuju pada atap gedung dan deretan lukisan yang memang tidak mungkin untuk tidak dikagumi. Betapa senangnya mendapatkan kesempatan melihat mahakarya di depan mata secara langsung. Ahhhh…..nikmat apa lagi yang belum saya terima.

                                                                        ***

Materi pelatihan di hari pertama yang disampaikan terkait konsep bagaimana menjadi seorang leader dalam sebuah proyek penelitian. Pemahaman tentang kepemimpinan yang efektif, dimensi dan manajemen kepemimpinan, menjadi pemimpin dan manajer yang kreatif, dan sebagainya menjadi titik fokus pada hari itu.

Pada hari kedua mulai mengerucut pada bagaimana mempengaruhi dan melakukan negosiasi, cara menghadapi tantangan dan hambatan, self-leadership, dan sebagainya. Setiap sesi rata-rata berdurasi 45 menit dengan pemaparan secara bergantian dari kedua instruktur. Semua materi juga langsung bisa diunduh di website. Sedikit pemahaman tentang komunikasi persuasif ternyata sangat membantu dalam memahami materi pelatihan. Mungkin inilah yang disebut keberuntungan.

Dalam pelaksanaannya tentu saja kami tidak hanya sekedar mendengarkan penyampaian materi dari instruktur. Diskusi dalam kelompok-kelompok kecil (kadang berlima, kadang cuma berdua) dilaksanakan secara intens sehingga menantang setiap peserta untuk menyampaikan gagasan serta pengalamannya.

Setelah itu barulah hasil dari diskusi masing-masing kelompok kecil tersebut disampaikan ke seluruh peserta. Pada suatu sesi setiap kelompok mendapatkan satu gambar tentang leadership style, kemudian setiap peserta melihat leadership style yang ada di kelompok lain. Dari situ peserta mendiskusikan dengan pasangannya leadership style yang mana yang paling ideal menurut kami dan mengapa kami memilihnya.

Wisatawan memadati kota London | Foto: Dokumentasi Pribadi

Atmosfer diskusi menjadi sangat menarik karena setiap peserta memiliki background yang berbeda, baik dalam hal keilmuan maupun negara asal. Dengan kemampuan bahasa Inggris yang biasa-biasa saja membuat saya harus bekerja keras untuk memahami apa yang disampaikan oleh peserta lain dengan aksen bahasa Inggris yang beragam.  Duh…, benar-benar saya harus membuka telinga lebar-lebar ketika mereka sedang berbicara.

 Berbeda dengan saya, kebanyakan mereka menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari. Jika tidak, mereka sudah tinggal di Inggris setidaknya dua tahun.  Meskipun demikian kami tetap saling menghargai kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Perbedaan latar belakang budaya dan dasar keilmuan tidak menghalangi kami untuk cepat saling mengenal dan akrab satu sama lain karena hampir setiap diskusi kami berganti-ganti pasangan/ kelompok. Memang tujuan dari training ini selain belajar tentang leadership juga untuk memperluas jaringan diantara sesama peserta.

                                                            ***

Satu hal yang menjadi “topik utama” setiap kali training selesai dan kami dalam perjalanan kembali ke hotel adalah kami semua merasa masih kelaparan meski setiap hari disediakan lunch oleh panitia. Bagaimana tidak, menu lunch sangat tidak memadai (setidaknya karena tidak terbiasa dengan menu tersebut), sehingga dalam perjalanan pulang ke hotel ataupun malamnya kami ramai-ramai mencari makan untuk menebus makan siang yang tidak memenuhi “standar” kami. Bahasa gaulnya makan siang cuma sekedar numpang lewat saja, alias sama sekali tidak ada efek.  

Meskipun demikian training yang berdurasi tiga hari tersebut sangat membekas di hati dan pikiran kami semua peserta. Pengalaman luar biasa yang dapat menjadi jembatan kami untuk lebih percaya diri dalam melangkah ke depan berbekal pengetahuan baru serta jaringan-jaringan kerjasama dengan teman-teman dari berbagai negara. Sebuah aset sangat berharga yang tidak dapat dikuantifikasi dengan uang. Setidaknya mimpi-mimpi sudah mulai bermunculan di benak setiap peserta.

Dari segi penyelenggaraan event, memang dibutuhkan kemampuan manajemen komunikasi yang memadai untuk bisa mengeloa sebuah aktifitas yang melibatkan berbagai stakeholder dengan bermacam-macam latar belakang. Tidak hanya bagaimana membuat materi/ pesan tersampaikan kepada peserta, namun juga bagaimana membuat semua pihak yang terlibat menjadi nyaman dan merasa terhubung satu sama lain.

 Simpul-simpul yang tadinya tidak terbayangkan untuk terhubung kini terbuka luas kesempatan untuk mengaitkannya, bahkan mengikatnya menjadi lebih erat. Yah…perjuangan untuk mencapai London langsung terbayar lunas. Terimakasih the British Academy. Terimakasih Ogo, Fernanda, Deona, Niki, Mike, Majid, Steve, Olofumi, dan lain-lain atas tiga hari yang luar biasa…. See you next month guys!!!! [T]

  • BACA JUGA:
Persepsi Lintas Budaya yang Sering Keliru | Catatan dari Inggris [1]
Komunikasi sebagai Kunci Interaksi Lintas Budaya | Catatan dari Inggris [2]

                                                      

Tags: InggriskomunikasiLondonPendidikanperjalanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mantra ke Danau Paisu Pok, Wisata Alam Nan Indah di Sulawesi Tengah

Next Post

Raden Akria Buana, Kades Senaru di Lombok yang Sukses Kembangkan Wisata Desa 

Shinta Prastyanti

Shinta Prastyanti

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Raden Akria Buana, Kades Senaru di Lombok yang Sukses Kembangkan Wisata Desa 

Raden Akria Buana, Kades Senaru di Lombok yang Sukses Kembangkan Wisata Desa 

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co