13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

London: Riuh Wisatawan dan Atmosfer Diskusi | Catatan dari Inggris [3]

Shinta Prastyanti by Shinta Prastyanti
June 12, 2023
in Esai
London: Riuh Wisatawan dan Atmosfer Diskusi | Catatan dari Inggris [3]

Wisatawan memadati kota London | Dokumentasi Pribadi

BAGI SEBAGIAN ORANG, bisa mengikuti training di luar negeri adalah hal yang biasa. Mungkin karena memang aktif mencari peluang ataupun kemudahan yang diperolehnya dari institusinya karena beberapa faktor. Ada juga yang mengatakan, “….ahhhh…itu kan cuma sebuah keberuntungan saja”.

Keberuntungan bisa jadi menjadi salah satu faktor yang turut berkontribusi. Namun bagi saya keberuntungan adalah tahap terakhir setelah melalui usaha yang sangat panjang dan berliku. Apalagi bisa memperoleh kesempatan berpartisipasi dalam training yang dilaksanakan oleh the British Academy, yang sangat bergengsi di Eropa. Menempatkan keberuntungan pada posisi pertama sepertinya hanya sebuh mimpi saja untuk bisa dapat award tersebut.

Keterbatasan dalam banyak hal, karena hanya mengandalkan semangat untuk berusaha; saya mulai merintis jejaring dengan professor-profesor di luar negeri sejak delapan tahun yang lalu. Dari beberapa professor tersebut tampaknya professor saya sekaranglah yang paling memiliki “chemistry” sehingga kami intens dalam berkomunikasi melalui email yang pada akhirnya mengantarkan saya sampai Leeds dan London. Meski sejujurnya pada waktu itu saya “tidak terlalu berani  berharap”  untuk mendapatkan award ini karena seleksinya yang sangat ketat.

Agak berbeda dengan training-training yang saya ketahui di Indonesia, training yang diadakan di London selama 3 hari ini memang benar-benar diikuti oleh peserta dari berbagai negara di dunia. Rata-rata hanya 1-2 saja peserta yang berasal dari negara yang sama dari sekitar 30 peserta yang berpartisipasi. Kebetulan dari Indonesia cuma saya saja. Background  keilmuannya pun berbeda-beda. Prosentase antara perempuan dan laki-laki juga relatif sama karena memang semboyannya adalah equality and equity.

                                                            ***

Sejak proses pendaftaran hingga semua fasilitas, seperti hotel, venue acara, resources, dan sebagainya sudah tersedia dengan lengkap sampai kegiatan selesai. Bahkan pengeluaran untuk transport dari dan ke London serta makan selama di London pun (kecuali breakfast karena sudah disediakan di hotel) bisa di-reimburst.

Akomodasi yang disediakan juga bukan murahan, tapi hotel bintang 4 yang berlokasi di jantungnya kota London sehingga sangat dekat ke mana-mana. Trafalgar Square, Buckingham Palace, Picadilly Square, sungai Thames, London Eye, dan beberapa stasiun bawah tanah hanya dalam jangkauan berjalan kaki.

Saya tidak akan mungkin mampu menginap di hotel tersebut kalau harus membayar sendiri. Kalau dilihat di websitenya, kamar yang saya tempati dibanderol 180 poundsterling atau hampir 3,4 juta rupiah per malam. Nominal tersebut kemungkinan masih ditambah dengan pajak yang entah berapa. Wajar juga sih karena letaknya yang sangat strategis.

Bahkan jika kita minta agar kamar tidak usah dibersihkan (dengan memasang pemberitahuan di pegangan pintu kamar) kita akan mendapatkan voucher sebesar tujuh poundsterling. Lumayan juga ya. Sayangnya saya dan beberapa teman lainnya baru mengetahuinya di malam saat paginya kami harus check out.

Sudut kota London yang begitu rapi dan bersih | Foto: Dokumentasi Pribadi

Sebenarnya jarak dari hotel ke tempat pelatihan tidak terlalu jauh. Tapi karena ramainya wisatawan dari seluruh penjuru dunia yang tumpah ruah dan kota London yang belokannya super banyak, membuat hampir semua peserta kesasar dalam perjalanan ke lokasi training.

Durasi normal sebenarnya kurang lebih hanya 20 menit dengan berjalan kaki dari hotel melalui tempat-tempat wisata yang ekonik. Ibaratnya kalau “cuma” Trafalgar Square dan Sungai Thames serta London Eye sih udah kami lewati setiap saat. Tapi karena berputar-putar (padahal ada juga teman yang sudah selalu melihat map di handphone) maka satu jam kami baru sampai lokasi.

Meskipun demikian, daya tarik kota London yang dipenuhi bangunan-bangunan bersejarah dengan arsitektur yang luar biasa di sepanjang mata memandang, maka meski kesasar, tapi tetap bisa cuci mata. Seperti kesasar membawa nikmat.

Kalau diamati tampaknya ada yang berbeda dengan Trafalgar Square. Beberapa waktu yang lalu ketika saya ke sana Trafalgar Square dipenuhi oleh burung-burung merpati yang luar biasa banyak. Tampaknya pemandangan tersebut sudah jauh berbeda karena sekarang wisatawanlah yang justru riuh memadati tempat tersebut. Burung merpati hanya tinggal terlihat 1-2 saja, entah pada ke mana mereka. Mungkin mencari tempat yang lebih nyaman karena “tergusur” oleh manusia.

                                                                        ***

Leadership Training yang dibuka dengan gala dinner dilaksanakan satu hari sebelumnya dari jam 18.00-21.30 GMT di kantor the Britsh Academy. Jangan dibayangkan yang namanya gala dinner itu bakal dapat nemuin makanan yang berlimpah dengan aneka pilihan sampai kita kebingungan mau pilih yang mana. Gala dinner ternyata seperti welcoming party, kenalan dengan seluruh peserta dan instruktur sambil sedikit-sedikit disampaikan materi dan apa yang akan dipelajari selama training.

Menu yang disajikanpun ya standar bule; hanya beberapa kudapan dan  minuman. Entah bagaimana mereka mengartikan istilah “gala”. Ataukah mungkin kita yang terbiasa menterjemahkan gala dengan pemahaman atas sesuatu yang serba wow.., entahlah.

Panitia training yang diikuti sekitar 30 peserta dari berbagai negara di dunia ini pun juga tidak banyak. Sepertinya hanya dua orang plus dua instruktur. Dengan personal yang sangat terbatas mereka dapat menghandle kegiatan dengan lancar sejak pendaftaran hingga penutupan. Bayangkan jika di negara kita. Bisa-bisa jumlah panitia melebihi jumlah peserta karena menjadi panitia akan mendapatkan benefit tersendiri.

Training berlangsung dari jam 09.15-15.30 GMT di lokasi yang berbeda dengan gala dinner, yakni di the Royal Society, gedung yang super indah. Apalagi atapnya….wah…benar-benar seperti di kerajaan. Belum lagi lukisan-lukisan megah di sepanjang dinding yang tentu tampak sangat bernilai.

Begitu masuk ruangan mata kami semua langsung tertuju pada atap gedung dan deretan lukisan yang memang tidak mungkin untuk tidak dikagumi. Betapa senangnya mendapatkan kesempatan melihat mahakarya di depan mata secara langsung. Ahhhh…..nikmat apa lagi yang belum saya terima.

                                                                        ***

Materi pelatihan di hari pertama yang disampaikan terkait konsep bagaimana menjadi seorang leader dalam sebuah proyek penelitian. Pemahaman tentang kepemimpinan yang efektif, dimensi dan manajemen kepemimpinan, menjadi pemimpin dan manajer yang kreatif, dan sebagainya menjadi titik fokus pada hari itu.

Pada hari kedua mulai mengerucut pada bagaimana mempengaruhi dan melakukan negosiasi, cara menghadapi tantangan dan hambatan, self-leadership, dan sebagainya. Setiap sesi rata-rata berdurasi 45 menit dengan pemaparan secara bergantian dari kedua instruktur. Semua materi juga langsung bisa diunduh di website. Sedikit pemahaman tentang komunikasi persuasif ternyata sangat membantu dalam memahami materi pelatihan. Mungkin inilah yang disebut keberuntungan.

Dalam pelaksanaannya tentu saja kami tidak hanya sekedar mendengarkan penyampaian materi dari instruktur. Diskusi dalam kelompok-kelompok kecil (kadang berlima, kadang cuma berdua) dilaksanakan secara intens sehingga menantang setiap peserta untuk menyampaikan gagasan serta pengalamannya.

Setelah itu barulah hasil dari diskusi masing-masing kelompok kecil tersebut disampaikan ke seluruh peserta. Pada suatu sesi setiap kelompok mendapatkan satu gambar tentang leadership style, kemudian setiap peserta melihat leadership style yang ada di kelompok lain. Dari situ peserta mendiskusikan dengan pasangannya leadership style yang mana yang paling ideal menurut kami dan mengapa kami memilihnya.

Wisatawan memadati kota London | Foto: Dokumentasi Pribadi

Atmosfer diskusi menjadi sangat menarik karena setiap peserta memiliki background yang berbeda, baik dalam hal keilmuan maupun negara asal. Dengan kemampuan bahasa Inggris yang biasa-biasa saja membuat saya harus bekerja keras untuk memahami apa yang disampaikan oleh peserta lain dengan aksen bahasa Inggris yang beragam.  Duh…, benar-benar saya harus membuka telinga lebar-lebar ketika mereka sedang berbicara.

 Berbeda dengan saya, kebanyakan mereka menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari. Jika tidak, mereka sudah tinggal di Inggris setidaknya dua tahun.  Meskipun demikian kami tetap saling menghargai kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Perbedaan latar belakang budaya dan dasar keilmuan tidak menghalangi kami untuk cepat saling mengenal dan akrab satu sama lain karena hampir setiap diskusi kami berganti-ganti pasangan/ kelompok. Memang tujuan dari training ini selain belajar tentang leadership juga untuk memperluas jaringan diantara sesama peserta.

                                                            ***

Satu hal yang menjadi “topik utama” setiap kali training selesai dan kami dalam perjalanan kembali ke hotel adalah kami semua merasa masih kelaparan meski setiap hari disediakan lunch oleh panitia. Bagaimana tidak, menu lunch sangat tidak memadai (setidaknya karena tidak terbiasa dengan menu tersebut), sehingga dalam perjalanan pulang ke hotel ataupun malamnya kami ramai-ramai mencari makan untuk menebus makan siang yang tidak memenuhi “standar” kami. Bahasa gaulnya makan siang cuma sekedar numpang lewat saja, alias sama sekali tidak ada efek.  

Meskipun demikian training yang berdurasi tiga hari tersebut sangat membekas di hati dan pikiran kami semua peserta. Pengalaman luar biasa yang dapat menjadi jembatan kami untuk lebih percaya diri dalam melangkah ke depan berbekal pengetahuan baru serta jaringan-jaringan kerjasama dengan teman-teman dari berbagai negara. Sebuah aset sangat berharga yang tidak dapat dikuantifikasi dengan uang. Setidaknya mimpi-mimpi sudah mulai bermunculan di benak setiap peserta.

Dari segi penyelenggaraan event, memang dibutuhkan kemampuan manajemen komunikasi yang memadai untuk bisa mengeloa sebuah aktifitas yang melibatkan berbagai stakeholder dengan bermacam-macam latar belakang. Tidak hanya bagaimana membuat materi/ pesan tersampaikan kepada peserta, namun juga bagaimana membuat semua pihak yang terlibat menjadi nyaman dan merasa terhubung satu sama lain.

 Simpul-simpul yang tadinya tidak terbayangkan untuk terhubung kini terbuka luas kesempatan untuk mengaitkannya, bahkan mengikatnya menjadi lebih erat. Yah…perjuangan untuk mencapai London langsung terbayar lunas. Terimakasih the British Academy. Terimakasih Ogo, Fernanda, Deona, Niki, Mike, Majid, Steve, Olofumi, dan lain-lain atas tiga hari yang luar biasa…. See you next month guys!!!! [T]

  • BACA JUGA:
Persepsi Lintas Budaya yang Sering Keliru | Catatan dari Inggris [1]
Komunikasi sebagai Kunci Interaksi Lintas Budaya | Catatan dari Inggris [2]

                                                      

Tags: InggriskomunikasiLondonPendidikanperjalanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mantra ke Danau Paisu Pok, Wisata Alam Nan Indah di Sulawesi Tengah

Next Post

Raden Akria Buana, Kades Senaru di Lombok yang Sukses Kembangkan Wisata Desa 

Shinta Prastyanti

Shinta Prastyanti

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah.

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Raden Akria Buana, Kades Senaru di Lombok yang Sukses Kembangkan Wisata Desa 

Raden Akria Buana, Kades Senaru di Lombok yang Sukses Kembangkan Wisata Desa 

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co