3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Biografi [Bukan] Malin Kundang

Angga Wijaya by Angga Wijaya
June 28, 2023
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

“Angga, ibu telah mengirim uang untuk bulan ini. Bagaimana kabarmu? Jaga diri baik-baik di Denpasar. Belajar yang rajin, jangan nakal,” ujar ibu angkat saya dengan suara lembut dan tenang, melalui telepon lama di ashram tempat saya tinggal dan menetap selama empat tahun.

“Isi uang: Rp.30.000.-
Only to you.
Nanda Angga Wijaya
Denpasar.” – Bapak menitipkan uang pada saya, melalui kakak atau keluarga yang saat itu kembali ke Denpasar, dari Negara, Jembrana.

Anak muda itu tertegun. Dia merindukan sesekali kata berbeda; “kapan pulang?” Ia ingin sesekali pulang, di kota ramai, juga sibuk–tugas kuliah banyak, sementara ia belum punya komputer sendiri, di ashram ada kawan yang punya, namun ia malu meminjam, tak enakan, harga dirinya tak cukup untuk berani menyapa kawan satu rumah, padahal mereka biasa saja dan sangat mengizinkan jika komputer itu dipakai bersama-sama.

Pemuda idealis itu lebih suka menyendiri di kamar, bersama buku-buku, terbang di awang-awang, kurang sering bergaul–ia lebih mirip seniman dan pertapa. Kuliahnya belum selesai, sering mengulang mata kuliah karena buruk, suka mengkritik para dosen hingga mereka menganggapnya angkuh, arogan, penuh ego, merasa hebat telah banyak membaca buku-buku lalu banyak menyalahkan orang-orang di sekitarnya…

“Kini saya sadari, kedua orang tua angkat yang saya anggap mereka malaikat, saya kerap merindukannya, ibu dan bapak, ah, mereka orang tua Bali yang meskipun telah memiliki lima anak, masih mau juga pada usia yang hampir senja mengasuh bayi prematur dengan perawatan ekstra, setelah lahir dari ibu kandung oleh karena kondisi mental dan keadaan kurang baik meskipun ia wanita pengusaha–punya banyak anak dari laki-laki Bali yang agak bohemian–penyuka puisi dan musik, agak gagal menuruti mimpi menjadi seniman karena kakek ingin ia dan keluarga besar menghidupi diri dari bisnis keluarga sejak lama–menjual hasil bumi ke luar kota dan pulau. Keluarga kaya-raya dan terpandang.

Dari itu semua, malaikat saya ingin saya bisa mengubah jalan hidup lewat sekolah. Mereka berani bertaruh ekonomi karena saya dianggap mampu dan cerdas. Lama sekali saya sering menjadi juara kelas juga lomba-lomba sekolah—menjadi pemimpin kelas, dekat dan disayangi kepala sekolah juga guru-guru, menjadi “juru kunci” dalam dua pengertian–karena belum ada penjaga sekolah, setiap pagi saya membuka pintu sekolah, datang lebih awal, penuhi tugas, lalu pulang ke rumah yang berdekatan dengan sekolah, mandi, berdandan, lalu kembali ke sekolah dengan senang hati, menyapa kawan-kawan dengan senyum manis–mereka sangat menyukai saya.

Siang hari, saat murid-murid pulang, saya masih berada di sekolah, memastikan juga semua kawan sudah pulang–tak ada yang tertinggal–tas, pensil, penggaris, rautan alat tulis, juga buku atau sobekan kertas.

Semua bagi saya sekarang, pada usia yang jauh berlalu–menjelang empat puluh tahun, menjadi penulis dan wartawan juga guru jurnalistik yang mulai “terkenal”, itu semua adalah “meditasi” yang lama dan tidak singkat. Kita semua akan bagus jika menganggap apa yang pernah kita jalani adalah sebuah latihan, termasuk juga ujian seperti ujian sekolah–jika Anda lulus dengan nilai baik, Anda bisa melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi, mendapat hadiah dari orang tua tersayang, kertas penghargaan dari sekolah, juga salam perpisahan yang mengharu-biru, ketika misalnya saat berada di sekolah baru kita tidak bertemu lagi dengan kawan atau guru yang melanjutkan tugas, cita-cita mereka sebagai pembelajar dan pendidik.

Soal tidak pulang, baru saya sadari: dulu, di negeri ini, menjadi hal yang biasa jika mereka mengirim anaknya bersekolah di luar daerah–desa atau kota lain, agar ia belajar sesuatu yang baru, menghirup udara kota lain dengan tata cara hidup dan kehidupan yang berlainan dengan tempat asal. Merantau–budaya Nusantara yang hebat, cerdas, juga penting sekali kini dilakukan lagi untuk anak-anak kita.

Bukan untuk menjadi seperti cerita lama dari pulau terkenal: Malin Kundang. Dia sangat tidak tahu diri–setelah berhasil dari orang tua yang mengirimnya merantau di wilayah lain, doa dan keringat sia-sia, ia lupa diri setelah mempersunting gadis idaman, menikah, punya anak–lalu….menjadi sombong karena kaya.

Suatu hari, ibunya merasa gelisah, anaknya lama tidak mengirim kabar, beliau takut jika ada kejadian buruk menimpa buah hatinya. Maka, dengan pakaian sederhana dan bekal seadanya, ibu itu berangkat ke kota, mencari alamat anaknya, di saat ketika mereka bertemu:

“Malin…anakku, kemana saja kamu? ibu mencarimu ke mana-mana. Kamu apa dan bagaimana sekarang?”

Malin terdiam. Saat itu dia telah menjadi orang sukses, punya pekerjaan bagus, banyak orang yang ia ajak bekerja–di mata mereka, Malin adalah orang dermawan.

“Siapa Ibu tua ini? Aku tidak mengenalnya!suruh dia pergi dari hadapanku!” Malin berkata dengan suara keras di hadapan banyak orang yang menyaksikan itu.

“Malin…aku ibumu. Mengapa kamu berkata itu….? Ibu Malin mulai terisak. Tangisnya membasahi siang yang makin terasa terik. Sementara karena jauh menempuh jarak, ia belum sempat makan. Tenggorokannya dari tadi kering. Ia haus.

“Aku tidak punya ibu seperti kamu! Kamu itu tua, kotor, kumal, jelek. Pergi kamu dari sini, pergi sekarang!….”

Langit menyaksikan itu semua. Hati ibu begitu hancur, ketika anak yang pernah ia besarkan, juga lahir dari rahimnya, kini tidak mengakuinya sebagai ibu. Dia diam, bangkit dari tanah tempat ia bersimpuh dan menangis. Air matanya tumpah ke pipi yang renta. Ia hapus dengan rasa tegar.

Tiba-tiba bumi bergetar. Suara terdengar begitu menggelegar. Banyak orang panik, takut terjadi bencana. Mereka lari ke sana ke sini.

“MALIN KUNDANG TIBA-TIBA TERIAK, TUBUHNYA TERASA KAKU. DIA TAKUT SEKALI. AIR MATA KETAKUTAN KELUAR DARI MATANYA. DARI KAKI TUBUHNYA MENGERAS, KE ATAS, HINGGA SAMPAI AKHIRNYA SEMUA BAGIAN DIRINYA MENJADI BATU. IA RUBUH. TELUNGKUP DI TANAH SEPERTI MINTA AMPUN. NAMUN SEMUANYA BEGITU AMAT TERLAMBAT.”

Suara kembali terdengar. Kini mirip lagu yang amat merdu…halus, lembut:

“Malin Kundang anak durhaka…”
“Malin Kundang menjadi batu…”

Lagu itu kini masih terus terdengar. Dari para orang tua yang terus bertutur, agar anak tidak menjadi lupa diri, terlebih lagi ketika saat mengenal pasangan, menikah, bekerja, menjadi berhasil, kemudian lupa jasa dan budi-baik orang tua. Menjadi orang jahat dan durjana. Melupakan jasa, budi-baik, pengorbanan, cinta-kasih dari orang tua yang membesarkan anaknya dengan penuh harapan.


[Terima Kasih, Bapak. Suaramu kala malam hingga aku tertidur, lembut sekali terasa. Ceritamu membuat aku kini sama denganmu–guru, penulis, dan mungkin juga akan menjadi pendongeng hebat sepertimu. Matur Suksma. [T]

Denpasar, 27 Juni 2023, 10:15 WITA

  • BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA
Di Sanur, Belajar Bangkit dari Lansia Bali
Dalam Diam, Orang Bali Bekerja
Telenovela
Tags: balicerita rakyatrenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Putu Bagus Sastra, Pelukis Cilik Itu Meraih Medali Emas Porsenijar Bali 2023

Next Post

Empat Hari Pertama yang Penuh Kejutan | Catatan dari Philadelphia [2]

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Empat Hari Pertama yang Penuh Kejutan | Catatan dari Philadelphia [2]

Empat Hari Pertama yang Penuh Kejutan | Catatan dari Philadelphia [2]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co