31 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Diskusi Buku “Nawa Sena” : Percumbuan Estetik Sastrawan dan Perupa yang Tak Saling Meniadakan

I Made Sujaya by I Made Sujaya
June 24, 2023
in Ulas Buku
Dari Diskusi Buku “Nawa Sena” : Percumbuan Estetik Sastrawan dan Perupa yang Tak Saling Meniadakan

Dari Diskusi Buku “Nawa Sena” | Foto: Ist

KOLABORASI SASTRAWAN dan perupa tampaknya sedang menghangat di Bali. Setelah kerja sama kreatif antara perupa Made Gunawan dan penyair Sahadewa, lalu respons penyair-perupa Nyoman Wirata terhadap sajak-sajak penyair Pos Budaya, disusul respons penyair Wayan Jengki Sunarta terhadap karya seni instalasi Ketut Putrayasa, kini muncul kolaborasi perupa Wayan Sujana Suklu dan Mas Ruscitadewi.

Hal yang menarik, jika kolaborasi sebelumnya antara karya seni lukis dan puisi, kolaborasi Suklu-Mas Ruscitadewi antara seni lukis dan novelet. Bahkan, kolaborasi ini berlangsung ulang-alik: lukisan Sujana Suklu direspons dengan novelet oleh Mas Ruscitadewi, lalu teks novel Mas Ruscitadewi kembali direspons dengan karya rupa.

Karya kolaborasi itu diterbitkan dalam bentuk buku berjudul Nawa Sena. Jumat, 23 Juni 2023, buku itu didiskusikan di kantor Kompas, Renon, Denpasar. Dalam diskusi yang dibuka Rektor ISI Denpasar, I Wayan “Kun” Adnyana dan dipandu I Wayan Juniarta itu hadir lima narasumber sebagai pembahas, yakni pakar hukum yang juga budayawan Bali, I Dewa Gede Palguna; guru besar sastra Universitas Udayana, I Nyoman Darma Putra; akademisi dari Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, I Made Sujaya; akademisi dari Universitas Hindu Indonesia, I Gusti Agung Paramita; serta pendiri Sawidji Art Gallery, Dian Dewi Reich.

Diskusi itu, menurut pemilik Bali Mangsi Foundation yang menjadi penerbit buku Nawa Sena, Hartanto, bertujuan menyiapkan epilog yang akan dimasukkan dalam buku.

Nawa Sena, begitu judul yang diberikan untuk kerja bersama kedua seniman berbeda wahana itu. Pada mulanya, Lawang Nawa Sena merupakan tajuk yang digunakan Suklu untuk menandai konsep dan narasi pembuatan relief di area Yowana Mandala, bencingah Pura Besakih. Lawang berarti pintu gerbang. Nawa Sena diambil dari nama dua tokoh imajiner sebagai representasi dualitas yang bertentangan tetapi sekaligus saling membutuhkan.

Isi buku Nawa Sena | Foto: Ist

Menurut Sujana Suklu, plot dan sekuens Nawa Sena menggunakan bahasa rupa tradisi, sedangkan narasinya mengisahkan kehidupan manusia Bali dengan budayanya. Kisah yang dihadirkan layaknya multiverse nawa dan sena yang bersimulakra dari masa Bali Kuno, Bali masa kini, dan Bali masa depan.

“Perubahan plot tiga zaman tidak implisit pada motif, hanya perubahan kostum sebagai penanda. Reka cerita semacam ini memberi kebebasan membangun plot, multi matra, bersifat ekletik, naratif, sekaligus multitafsir,” jelas Suklu.

Suklu menguraikan kata nawasena berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti ‘masa depan yang cerah, memilii karakter ekspresif, mudah bergaul, nyeni, mudah bicara, menikmati hidup’. Nawa dapat diartikan sebagai tujuan sedangkan sena diartikan kilatan cahaya. Proses dan tujuan ekuivalen sebagai satu kesatuan, saling membutuhkan dan mengimajinasikan.

Dalam literasi masa lampau, imbuh Suklu, nawa berarti Sembilan dan sena tokoh pewayangan. Kata nawasena disatukan atau dipisahkan bermakna luas, imajinatif terologis, sekaligus filosofis.  

Karya rupa Lawang Nawa Sena Suklu direspons sastrawan Mas Ruscitadewi ke dalam bentuk novelet. Karena itu, terjadi alih wahana dari visual ke verbal, dari rupa ke kata. Suklu menyebut itu sebagai medium exchange practice atau intermingle, sementara Mas Ruscitadewi menyebut sebagai lango. Hartanto yang menjadi “mak comblang” kolaborasi ini menyebutnya sebagai “senyawa” kreativitas, saling “alih media”.

“Tidak hanya berhenti pada respons sastrawan Mas Ruscitadewi ke dalam novelet atas karya rupa Sujana Suklu, tapi setelah menjadi novelet, Suklu kembali meresponnya dalam bentuk karya rupa. Jadi, ini ulang alik dari rupa ke kata lalu ke rupa lagi,” beber Hartanto.

Hal itu pula, imbuh Hartanto, menjadi keistimewaan kolaborasi Sujana Suklu-Mas Ruscitadewi. Keistimewaan lain, jika biasanya lukisan direspons dengan puisi, kini karya rupa direspons dengan novelet.

“Kalau lukisan direspons puisi kan sudah biasa. Nah, Suklu mintanya bukan puisi. Saya langsung teringat Mas Ruscitadewi untuk merespons. Jadilah novelet Nawa Sena,” tutur Hartanto.

Mas Ruscitadewi juga tampaknya senang merespons karya rupa Suklu. Konsep dualitas dan bentangan Bali masa lalu, masa kini, dan masa depan sejalan dengan minat kreatifnya.

Sebelumnya, doktor filsafat agama Hindu di IHDN Denpasar (kini UHN IGB Sugriawa) ini memang pernah mengadakan penelitian mengenai konsep dualitas dalam teologi kuno masyarakat Bali, yaitu lingga-yoni. Karena itu, tidak butuh waktu lama bagi mantan wartawan Bali Post ini menyelesaikan novelet Nawa Sena.

“Nawa Sena ini sesungguhnya kan juga berangkat dari konsep lingga-yoni. Karena sudah lama mempelajarinya, saya lebih mudah untuk masuk ke dalam karya Suklu,” kata Mas Ruscitadewi.

Buku Nawa Sena | Foto: Ist

I Nyoman Darma Putra mengungkapkan alih wahana dari seni rupa ke seni sastra sudah muncul sejak lama dan sering terjadi. Karya-karya seni rupa tradisional Bali umumnya sebagai respons terhadap karya sastra tradisional, khususnya wiracarita Mahabharata dan Ramayana.

Demikian juga dalam seni pertunjukan. Dalam sastra modern, sudah biasa muncul film yang diangkat dari novel, begitu juga sebaliknya, setelah filmnya laris lalu dinovelkan. Karena itu, relasi antara karya rupa dan karya sastra seringkali diidentikkan dengan hubungan antara ayam dan telor, entah siapa yang duluan. Hal ini seringkali dianggap sebagai lingkaran setan.

“Tapi, saya berpandangan, itu tak usah diperdebatkan. Justru itu merupakan lingkaran jenius karena memperkaya kemungkinan dalam dunia kesenian kita,” kata Darma Putra.

Menurut Darma Putra, dalam Nawa Sena, Suklu dan Mas menyajikan talennya masing-masing. Suklu menyajikan lukisan-lukisan abstrak yang dahsyat, Mas Rus menjadikan lukisan itu sumber inspirasi menulis novelet dengan isi dan bahasa yang sangat kuat.

Darma Putra menggambarkan kolaborasi Suklu dan Mas Ruscitadewi sebagai pasatmian. Ini istilah bahasa Sansekerta dan Jawa Kuno, satmya yang berarti ‘satu dalam hakikat’ atau menjadi satu, dipersatukan. Dilihat dari isi dan spiritnya, lukisan Suklu dan tulisan Mas Rus telah menyatukan zat-zat atau sifat dasarnya seperti disimbolkan pertemuan tokoh Nawa dan Sena.

I Gusti Agung Paramita juga menilai Nawa Sena sebagai pertemuan estetik dua insan yang diawali oleh kesepakatan: sepakat untuk tidak saling meniadakan, sepakat untuk tidak saling mengalahkan, dan sepakat untuk membangun dunia estetiknya masing-masing. Dia menggambarkan relasi Nawa Sena dengan mengutip istilah Jawa Kuno, yakni surup sumurup, saling memasuki. Nawa menjadi Sena, Sena berpotensi menjadi Nawa.

Meski berangkat dari karya rupa Sujana Suklu, novelet Mas Ruscitadewi masih tetap bisa dinikmati sebagai karya mandiri. Dalam merespons karya rupa Sujana Suklu, Mas Ruscitadewi tidak memindahkan begitu saja bentuk visual menjadi verbal, tetapi melibatkan kerja interpretasi yang sangat dipengaruhi oleh wawasan dan pengalaman puitiknya sebagai sastrawan.

Boleh jadi, seseorang yang awalnya menikmati lukisan Sujana Suklu memunculkan imajinsasi yang berbeda setelah membaca novelet karya Mas Ruscitadewi. Hal ini erat kaitannya dengan karakter rupa dan kata yang membebaskan sekaligus memenjarakan. Hal itu menunjukkan, walaupun dikatakan merespons karya rupa, novelet Mas Ruscitadewi tetap bisa dibaca sebagai karya mandiri.

Hal itu dibuktikan oleh Dewa Palguna. Dia mengaku awalnya tak tahu jika novelet itu sebagai hasil kerja kolaborasi dengan perupa Sujana Suklu. “Saya awalnya dikirimi naskah noveletnya saja. Jadi, walau berangkat dari karya rupa, novelet Nawa Sena yang dikerjakan Mas Ruscitadewi dapat dibaca sebagai karya mandiri,” kata Palguna.

Palguna menilai dalam Nawa Sena, kedua seniman saling menggugat eksistensi mereka masing-masing sekaligus menghadirkan kediriannya. Melalui simbolisasi tokoh Nawa dan Sena, Palguna menemukan karya itu sebagai sebuah guguatan walaupun pada ujungnya memberikan harapan seperti dicerminkan oleh tokoh Pradnya yang merupakan anak dari pertemuan Nawa dan Sena.

Jika para narasumber lain menyoroti dimensi seni pada karya kedua seniman, Dian Dewi Reich menyoroti pada aspek proses penggarapan hingga akhirnya buku itu didiskusikan sebagai sebuah seni juga. Menurutnya, meski disebut “sangat Bali”, Nawa Sena juga sangat unversal.

Rektor ISI Denpasar, I Wayan ”Kun” Adnyana saat membuka diskusi menyatakan kerja bersama atau interaksi antara perupa dan sastrawan sebagai upaya menggali dan memahami kehidupan, yang penuh puitika dan penuh saling sapa.

”Fiksi sastra dan diksi rupa yang dikembangkan Sujana Suklu dan Mas Ruscitadewi mengajak kita untuk memaknai kehidupan dengan berbagai sudut pandang,” kata Kun Adnyana. [T]

Semarapura Rumah Sejarah: Membaca Klungkung dalam Sajak
Lagu Rindu untuk Ibu: Membaca Sajak-sajak I Wayan Suartha
Dari Sunyi Kembali ke Sunyi: Membaca Sajak-sajak IBG Parwita
Tags: Mas RuscitadewisastraSastra IndonesiaSeni RupaWayan Sujana Suklu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membangun Jiwa Kewirausahaan Siswa Sejak Dini

Next Post

Bukan Liyan, Lebur Tiada Jarak:  Faisal Baraas dalam Leak

I Made Sujaya

I Made Sujaya

Wartawan, sastrawan, dosen. Pengelola balisaja.com

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails
Next Post
Bukan Liyan, Lebur Tiada Jarak:  Faisal Baraas dalam Leak

Bukan Liyan, Lebur Tiada Jarak:  Faisal Baraas dalam Leak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan
Esai

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Di Ruang Tunggu Kehidupan

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak
Khas

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co