14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Sunyi Kembali ke Sunyi: Membaca Sajak-sajak IBG Parwita

I Made Sujaya by I Made Sujaya
April 15, 2023
in Kritik Sastra
Dari Sunyi Kembali ke Sunyi: Membaca Sajak-sajak IBG Parwita

Sampul buku puisi "Luka Purnama" karya IBG Parwita

PADA MULANYA ADALAH SUNYI. Lalu ombak menampar tepian. Bulan perlahan merambat naik dan cahayanya berpendar di permukaan air laut. Perahu-perahu berdatangan hendak bersandar di dermaga.

Dalam keheningan malam, si aku lirik bercakap-cakap, dengan diri, di kedalaman batin, menemukan kesejatiannya sebagai manusia. Malam makin tenggelam, pelan-pelan menelan wajah bulan. Gemuruh ombak kian meredup hingga yang terdengar hanya kecipak. Laut makin surut, langit juga makin letih. Dan, sunyi kembali, senyap membekap lagi.

Kesan itu terasa kuat saat membaca sajak-sajak Ida Bagus Gde Parwita dalam buku kumpulan puisi Luka Purnama (Prasasti, 2020). Sebuah lukisan alam yang bening dan teduh dengan kesunyian menjadi kubu sekaligus yang diburu. Semacam fragmen semesta: berawal dari sunyi lalu berakhir pula dengan sunyi.

Kendati tidak seluruhnya, sebagian besar sajak IBG Parwita dalam Luka Purnama dibangun dengan pola ungkap semacam itu. Larik atau bait awal sajak-sajaknya dimulai dengan citra kesunyian yang kuat lalu diakhiri juga dengan imaji kesunyian yang liat.

Membaca bait pertama, pembaca seolah-olah dituntun memasuki suasana sunyi yang dalam (“tepian sunyi” dan “gemuruh sunyi”). Di bait-bait akhir, pembaca juga kembali dilepas dengan kesunyian yang pekat. Parwita melukiskannya sebagai “sunyi makin berlabuh ke dasar hati”.

Sosok IBG Parwita

Sebelum menyelami sajak-sajaknya, ada baiknya mengenal sosok sang penyair, Ida Bagus Gde Parwita. Penyair ini dilahirkan di Desa Tihingan, Klungkung, 19 November 1960.

Sajak-sajak karya penyair yang juga guru ini mulai menghiasi media massa di Bali pada tahun 1982. Bakat kepenyairannya diasah “kampus kehidupan puisi” asuhan penyair Umbu Landu Paranggi di Bali Post Minggu.

Selain menulis dalam bahasa Indonesia, IBG Parwita juga menulis dalam bahasa Bali. Buku kumpulan puisi berbahasa Bali karyanya terhimpun dalam buku Wayang (Buku Arti, 2009) dan mengantarkannya menerima penghargaan Widya Pataka dari Gubernur Bali.

IBG Parwita dikenal sebagai salah seorang penyair lirik yang kuat di Bali. Penyair ini menunjukkan kecintaan yang kuat kepada alam dan kearifan lokal Bali, terutama di tanah kelahirannya di Klungkung. Bersama I Wayan Suartha, IBG Parwita kerap dianggap sebagai dua penyair penting dari tanah Klungkung.

Sastrawan Gde Aryantha Soethama menyebut keduanya sebagai duo penyair Klungkung yang saling melengkapi dan bisa bertukar posisi. Keduanya mengeksplorasi objek yang sama dengan gaya ungkap yang tak jauh beda sebagai sajak-sajak renungan dan bening.

108 sajak dalam rentang 37 Tahun

Luka Purnama menghimpun 108 sajak IBG Parwita dari periode 1983—2020. Hal yang menarik, buku antologi puisi ini diberi pengantar oleh Umbu Landu Paranggi.

Sangat jarang Umbu memberikan pengantar sebuah buku antologi puisi karya “murid-muridnya”, terlebih lagi sebuah antologi tunggal. Ini menunjukkan Umbu memiliki perhatian kepada kepenyairan seorang Parwita.

Kesunyian menjadi semacam kata kunci dalam sajak-sajak IBG Parwita. Sajak-sajak dalam buku Luka Purnama menunjukkan kesuntukan penyairnya bergelut dengan sepi.

Dari 108 sajak, 17 di antaranya menggunakan kata sunyi, sepi, dan nyepi sebagai judul. Ada ratusan kata sepi dengan segala variannya, seperti sunyi, senyap, hening, lengang, dan bisu, yang terserak di hampir semua sajak serta puluhan idiom yang bermakna serupa terselip di antara larik-larik puisinya.

Larik-larik puisinya dimulai dengan sunyi, lalu diakhiri juga dengan sunyi. Perhatikan sajak “Bayang Diri” (Parwita, 2020: 36) dan “Percakapan Malam” (Parwita, 2009: 58) berikut ini.

Bayang Diri

Gemuruh sunyi
menyiasati perbatasan
saat hening lautan
mengekalkan bayang bayang

perahu perahu bersandar
di dinding dermaga
menunggu lelap matahari
dalam mimpi sendiri

isyarat itu belum jua tiba
hanya gerimis menyimpan rindu
menyisakan bayang diri

perjalanan panjang matahari
tak sanggup melingkup langit
hanya sunyi gerhana
mengalir ke dasar hati

Percakapan Malam

Cahaya bintang menghilang perlahan
sunyi merambat makin jauh
diantara lorong langit

gerimis jatuh menerpa daun daun
ombak berlari mengusap tepian
bayang bayang makin luruh
dalam kegelapan sinar bulan

percakapan kita makin larut
bersama kerlip cahaya di laut
ataukah perahu nelayan yang terdampar
di batas cakrawala

Gelisah lautan melukis bayang diri
kerinduan para petualang
tak pernah berhenti
mengikut waktu menakar kesunyian

Bayang bayang yang tersisa
menghilang perlahan
sunyi makin berlabuh
ke dasar hati

Tihingan, 09022011

Dua sajak tersebut memperlihatkan bagaimana pola ungkap yang cenderung sama: dimulai dan diakhiri dengan gambaraan suasana sunyi.

Pola ungkap “dari sunyi kembali ke sunyi” mengingatkan kepada sajak “Hampa” karya Chairil Anwar atau sajak-sajak periode awal Acep Zamzam Noor, seperti sajak “Patenggeng” dan “Di Masjid Salman”. Namun, pola ungkap semacam itu tampak sebagai kecenderungan dalam sebagian besar sajak-sajak Parwita sehingga bolehlah dianggap sebagai ciri khasnya.

Sunyi sebagai sarang dan tualang

Eksplorasi terhadap kesunyian tentu bukan hal baru dalam dunia puisi Indonesia, terlebih dalam sastra tradisional Bali. Sunyi dan sepi kerap kali menginspirasi penyair dalam menulis sajak-sajaknya.

Dunia soliter tidak hanya tersembunyi sebagai proses kreatif penyair, tetapi kerap dihadirkan secara tematik dalam sajak. Menulis sajak bukan semata perjalanan dalam sunyi, tetapi juga menuju sunyi. Sebuah pembebasan dari berbagai belenggu hidup.

Kesunyian bagi penyair Parwita bukan semata-mata suasana, lebih dari sekadar latar. Kesunyian adalah sarang sekaligus tualang untuk mencari diri.

Kesunyian atau keheningan adalah rahim, muasal sajak-sajaknya dilahirkan, seperti dinyatakan dalam sajak “Mencari Diri”, “dalam perjalanan mencari diri/ puisi terlahir dari puncak keheningan/lalu mengusik daun-daun/sebelum hilang/bersama kesenyapan//. Betapa pun “dalam keheningan sesaat”, tetap “kutulis sajak-sajakku” (Lagu Perbatasan).

Mengapa penyair begitu terobsesi dengan kesunyian? Jawaban itu diberikan penyair dalam sajak “Borobudur”: hanya kesunyian yang menyimpan kenangan/memahatkan nyanyian/pada deretan patung patung/yang selalu terjaga/sepanjang musim/”. Dalam sajak “Penyerahan”, Parwita juga menulis, “kesunyian berlabuh/ mengekalkan setiap bayangan/ sebelum terlelap/ diperbatasan//. Kesunyian menjadi sesuatu yang intim bagi penyair, karena di situlah dia bisa kembali pada masa lalunya.

Namun, kesunyian bukan saja bermakna sebagai ruang personal, tetapi juga ruang interpersonal, tempat bercakap dan berbagi. “Kesunyian ini/adalah sungai peradaban/tempat kita bercakap dan berbagi//” (Batu Kelotok 2).

Parwita merupakan penyair yang lahir dan besar dalam tradisi Bali. Selain menulis dalam bahasa Indonesia, Parwita juga menulis dalam bahasa Bali. Dia pembaca suntuk teks-teks sastra tradisional Bali, seperti kakawin, kidung, maupun geguritan.

Teks-teks sastra tradisional Bali memberi perhatian penting pada penjelajahan dunia sunyi (sunya). Bahkan ada teks yang secara khusus mendedahkan misteri jalan sunyi, yakni kakawin Dharma Sunya yang disebut-sebut sebagai teks penting dalam tradisi kependetaan di Bali. Latar belakang semacam itu tampaknya sedikit banyak berpengaruh terhadap proses kreatif Parwita dalam melahirkan sajak-sajaknya.

Dalam tradisi Bali, sunyi atau kosong tidak dimaknai sebagai sesuatu yang hampa atau tidak berisi apa-apa. Sunyi justru puncak keriuhan, sedangkan kosong sejatinya keadaan penuh utuh.

Karena itu, bagi Parwita, menulis sajak laksana sebuah perburuan, “perburuan sunyi” yang membuatnya terbenam dalam percakapan yang riuh dengan diri, semacam “percakapan sunyi” untuk “mencari diri”, nun di kedalaman batin.

Mungkin bagi banyak orang kesunyian terasa begitu menyiksa, tapi bagi penyair kesunyian sejatinya karunia. Daya pikat sunyi bagi penyair serupa daya pikat bulan purnama di malam hari. Malam selalu identik dengan kegelapan, tapi justru di situlah keindahan semesta hadir yang mewujud dalam cahaya purnama.

Walau terkadang, dalam perburuan keindahan purnama itu, penyair kerap dibekap rasa sedih, perih, bahkan sakit yang dalam. Keindahan purnama tak mudah direbut hingga penyair makin terbenam dalam rindu yang dalam. Seperti pungguk merindukan bulan. Dan bayang-bayang purnama menyisakan luka.

Tampaknya itulah yang dimaksud pengarang sebagai “luka purnama” yang kemudian dipilih sebagai judul antologi ini. “Luka purnama” bukanlah judul sajak, bahkan tidak ada sajaknya yang mengandung metafora atau ungkapan “luka purnama”. Lazimnya, para penyair memilih salah satu judul sajak sebagai judul antologi. Parwita boleh jadi mencoba merumuskan perjuangannya melahirkan sajak-sajaknya itu sebagai sebuah “luka purnama” di hati pungguk.

Pembaca mungkin merasakan kuatnya karakteristik puisi lirik dalam sajak-sajak Parwita. Dalam puisi lirik, terpancar luapan batin penyair berpadu dengan segala endapan pengalaman dan suasana hati penyair, terutama melalui pantulan lukisan alam dan suasana di sekelilingnya. Itu pula sebabnya, puisi lirik kerap diidentikkan dengan puisi suasana.

Bening dan bersahaja

Dalam sajak-sajaknya, seperti catatan Umbu Landu Paranggi dalam pengantar buku ini, Parwita melukiskan suasana alam dan hatinya dengan bening. Kebeningan itu dibangun oleh kebersahajaan, baik dalam struktur maupun pilihan kata yang digunakan.

Penyair sepertinya tak berambisi melakukan eksperimen, baik secara estetik, linguistik, maupun tematik. Larik-lariknya cenderung sebagai kalimat yang utuh dan kata-kata yang digunakan tak jauh dari keseharian.

Penyair juga tak begitu tertarik mendedahkan problematika sosial atau filsafat yang agung, tetapi lebih banyak mengajak pembacanya menghikmati lukisan alam sebagai wahana merenungkan diri di tengah gemuruh gejolak hidup dan kehidupan. Tema-tema yang digarap seputar “dunia dalam” dan seringkali hal-hal yang terasa biasa-biasa saja.

Namun, seperti seorang pejalan yang sesekali menikung, begitu juga Parwita dalam sajak-sajaknya. Ada kalanya ia tergelitik untuk menyelusup keluar dari “dunia dalam”, menanggapi wacana di sekelilingnya.

Sajak “Pengaduan Laut Benoa” menyiratkan reaksi Parwita terhadap wacana reklamasi Teluk Benoa yang riuh rendah menghiasi diskusi publik di Bali sejak akhir tahun 2012. Namun, jangan berharap menemukan gugatan dalam sajak ini.

Melalui sajaknya, Parwita memilih mengajak pembacanya menghikmati perih dan pedih Laut Benoa dalam bait yang begitu menyentuh: “luka lautan menusuk bumi/ mengering berhari-hari ditengah pasir pesisir/ biru samudera mengadukannya/ dalam pelukan sinar bulan//”.

Begitulah Parwita yang selalu mengandalkan dunia soliternya, bahkan untuk menunjukkan sikap solidernya. Hal ini mengingatkan kepada sajak-sajak awal Abdul Hadi WM yang disebut sastrawan sekaligus kritikus Sapardi Djoko Damono sebagai luapan perasaan-perasaan kecil sehari-hari.

Tapi, Abdul Hadi cermat melukiskan perasaan-perasaan kecil itu sehingga tidak menjelma sebagai kecengengan. Sajak-sajak Abdul Hadi seolah mengingatkan pembacanya sebagai manusia yang memiliki perasaan-perasaan kecil yang kerap terabaikan di tengah tumpukan rutinitas hidup.

Namun, pembaca sastra Indonesia tentu tak dapat melupakan, bagaimana kesediaan merawat perasaan-perasaan kecil itu mengantarkan Abdul Hadi kepada sajak-sajak yang kuat karena sublimasi yang kental dan mengkristal. Baca saja sajak “Tuhan Kita Begitu Dekat”, salah satu sajak penting yang memperkuat kepeloporan Abdul Hadi dalam gerakan “puisi sufi”.

Parwita tampaknya merendah seperti tercemin dalam larik-larik ini: “sajak-sajakku sunyi, dingin tak berdarah” atau “sajak-sajakku hanyalah daun-daun layu”. Tapi, jika tetap bersedia dan bersetia terus menggali, bukan tidak mungkin jalan kepenyairannya makin terbuka. [T]

Pertanyaan-pertanyaan Tak Berjawab tentang Bali dalam Sajak-sajak GM Sukawidana
Ngurah Parsua dan Karyanya: Prosa yang Reflektif, Puisi yang Jernih
Linieritas Peristiwa Teks dan Pengalaman Individu | Membaca Persoalan Klasik dalam Cerpen “Pura Subak” Karya DN Sarjana
Tags: kritik sastrakumpulan puisiPuisisastrasastrawansastrawan bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Kadek Desi Nurani | Sujud-Sujud Pagi Ulian

Next Post

Generasi Santuy, Deadliner, dan Dampak Buruknya

I Made Sujaya

I Made Sujaya

Wartawan, sastrawan, dosen. Pengelola balisaja.com

Related Posts

Apa Keunggulan Novel ‘Lampah Sang Pragina’ Hingga Raih Hadiah Sastra Rancage 2026?

by I Nyoman Darma Putra
February 2, 2026
0
Apa Keunggulan Novel ‘Lampah Sang Pragina’ Hingga Raih Hadiah Sastra Rancage 2026?

NOVEL Lampah Sang Pragina (Perjalanan Sang Penari) karya Ketut Sugiartha ditetapkan menerima Hadiah Sastra Rancage 2026 untuk sastra Bali. Menurut...

Read moreDetails

Puitika Ruang Sitor Situmorang

by Isnan Waluyo
November 9, 2025
0
Puitika Ruang Sitor Situmorang

RUANG menjadi titik keberangkatan sekaligus penanda akhir perjalanan panjang kepenyairan Sitor Situmorang (1994-2014). Puisi berjudul “Pasar Senen” bukan hanya puisi...

Read moreDetails

Kelam Jiwa Georg Trakl – Puisi, Trauma, Skizofrenia

by Angga Wijaya
September 13, 2025
0
Kelam Jiwa Georg Trakl – Puisi, Trauma, Skizofrenia

MEMBACA sajak-sajak Georg Trakl seperti memasuki lorong jiwa yang tak berujung. Lahir pada 3 Februari 1887 di Salzburg, Austria, Trakl...

Read moreDetails

“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

by I Wayan Artika
July 21, 2025
0
“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

NOVEL Tarian Bumi telah memasuki usia tiga dekade. Awalnya terbit di Magelang di Indonesia Tera. Lalu dan selanjutnya terbit di...

Read moreDetails

Kalau “Geguritan” bisa Dijadikan Novel, Bukankah Novel bisa Diadaptasi jadi “Geguritan”?

by I Nyoman Darma Putra
July 19, 2025
0
Kalau “Geguritan” bisa Dijadikan Novel, Bukankah Novel bisa Diadaptasi jadi “Geguritan”?

Jika geguritan atau kidung Bali bisa digubah menjadi novel, mengapa tidak menggubah novel menjadi geguritan atau kidung? Ide itu tiba-tiba...

Read moreDetails

“Kraspoekoel”, Alam Gaib dan Labuwangi

by Wicaksono Adi
July 18, 2025
0
“Kraspoekoel”, Alam Gaib dan Labuwangi

Kawan yang baik, Beberapa waktu yang lalu engkau bertanya, ”Selain Max Havelaar karya Multatuli, adakah karya sastra zaman kolonial lainnya...

Read moreDetails

Mengkaji Puisi Picasso : Tekstualisasi Karya Rupa Pablo Picasso

by Hartanto
May 18, 2025
0
Mengkaji Puisi Picasso : Tekstualisasi Karya Rupa Pablo Picasso

SELAMA ini, kita mengenal Pablo Picasso sebagai pelukis dan pematung. Sepertinya, tidak banyak yang tahu kalau dia juga menulis puisi....

Read moreDetails

Mengenang Joko Pinurbo [2-Tamat]: Sore Hari Bersama Sang Penyair

by Wicaksono Adi
May 4, 2025
0
Mengenang Joko Pinurbo [2-Tamat]: Sore Hari Bersama Sang Penyair

PADA suatu sore yang muram saya berbincang sambil minum teh dengan Joko Pinurbo di teras rumahnya. Entah bagaimana tiba-tiba dia...

Read moreDetails

Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang

by Wicaksono Adi
May 4, 2025
0
Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang

SYAHDAN dua puluh satu tahun silam, pada tahun 2004, Dewan Kesenian Jakarta membuat acara bertajuk “Cakrawala Sastra Indonesia”. Selain pentas...

Read moreDetails

Benarkah Puisi “Pagar Bambu dan Pasar yang Bergejolak” Membawa Pembaca “Sampai ke Seberang”?

by Fani Yudistira
April 23, 2025
0
Benarkah Puisi “Pagar Bambu dan Pasar yang Bergejolak” Membawa Pembaca “Sampai ke Seberang”?

PADA pukul 21.47, Rabu 16 April 2025, pengumuman juara LCP (Lomba Cipta Puisi) Piala Kebangsaan bertema Pagar Laut diumumkan. Dalam...

Read moreDetails
Next Post
Generasi Santuy, Deadliner, dan Dampak Buruknya

Generasi Santuy, Deadliner, dan Dampak Buruknya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co