24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Generasi Santuy, Deadliner, dan Dampak Buruknya

Kadek Sri Widiastuti by Kadek Sri Widiastuti
April 15, 2023
in Esai
Generasi Santuy, Deadliner, dan Dampak Buruknya

Ilustrasi tatkala.co | Kadek Sri Widiastuti

APA YANG akan kawan-kawan lakukan, ketika mempunyai deadline tugas atau pekerjaan, yang bisa dikatakan, waktunya masih lama atau tidak mepet? Mungkin, sebagian orang akan mengerjakannya dengan sistem dicicil sedari awal.

Tapi, tak jarang pula ada beberapa orang yang mengerjakannya dengan sistem kebut semalam. Dan tentu, hal itu dilakukan dengan alasan yang beragam.

Hal ini kerap kita lihat dan temui di lingkungan kampus. Ketika dosen pengampu mata kuliah memberikan tugas kepada mahasiswanya dengan deadline yang masih bisa dikerjakan seminggu bahkan dua minggu sebelumnya, misalnya, alih-alih mengerjakannya segera, para mahasiswa justru lebih sering mengerjakannya sehari sebelum deadline tugas tersebut dikumpulkan.

Lantas, julukan apa yang cocok untuk mahasiswa yang seperti itu?

“Deadliner”. Mungkin kata itu cocok bagi mahasiswa yang memiliki kebiasaan mengerjakan tugas ketika tenggat penyelesaiannya sudah sangat dekat. Menunda-nunda waktu untuk mengerjakannya merupakan hal yang sudah biasa.

Mahasiswa deadliner itu juga sering disebut “Generasi Santuy”.

Ya, sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita tentang generasi santuy. Istilah “santuy” yang sering digunakan oleh kaum milenial itu merupakan plesetan dari kata “santai”. Generasi santuy memang cenderung diasosiasikan kepada orang-orang yang sering merasa mageran dan suka menunda-nunda pekerjaan.

Jadi, memang benar, jika mahasiswa yang sering menunda pekerjaan atau tugas dan mengerjakannya sehari sebelum tenggat waktu yang diberikan, masuk dalam golongan Generasi Santuy.

***

Kata santuy, jika disearching di KBBI, sampai mati pun tidak akan kita jumpai. Namun, kata ini sangat populer di kalangan anak muda.

Dan dalam kaitannya dengan pekerjaan atau tugas, generasi santuy memiliki prinsipnya sendiri: “Jika bisa besok, kenapa harus sekarang?” Kalimat ini sering saya dengar di tengah percakapan bersama teman-teman di kampus.

Jika mahasiswa produktif memiliki kegiatan terstruktur (terjadwal dengan baik), menghabiskan waktunya dengan hal-hal positif, dan mengerjakan tugas lebih awal, maka sebaliknya, mahasiswa yang tergolong dalam generasi santuy akan menerapkan sistem kebut semalam dengan menunggu hingga H-1 deadline tugas dikumpulkan.

Dulu, ketika masih duduk di bangku sekolah menengah kejuruan, saya memiliki seorang teman dekat yang juga kebetulan sering menerapkan sistem santai dalam hidupnya.

Ya, begitulah, ketika guru kami memberikan tugas, ia mengerjakannya ketika mendekati deadline tugas itu dikumpulkan. Bahkan, lebih parahnya, pernah suatu hari ia mengerjakan tugas setengah jam sebelum tugas itu dikumpul.

Dan begini ceritanya:

Saat itu, di pagi hari sebelum mata pelajaran matematika dimulai, saya baru saja memasuki ruangan kelas yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat parkir sekolah. Alih-alih menemukan suasana kelas yang tenang, malah sebaliknya, kelas itu ributnya minta ampun.

Suara riuh itu datang dari teman-teman—termasuk teman dekat saya—yang mengerjakan tugas dengan deadline yang mepet. Layaknya orang yang sedang berjualan dan menjajakan barangnya di pasar, mereka begitu ribut, ramai, dan heboh.

Tak terkecuali teman saya. Ia mulai menanyakan jawaban-jawaban dari tugas yang di berikan guru kami hingga meminta hasil pekerjaan rumah yang telah saya buat dua hari sebelumnya—dan itu tentu sangat menyebalkan.

Tapi, karena saat itu pikiran saya masih stuck pada rasa solidaritas pertemanan yang tinggi. Sehingga, bagaimana lagi, toh juga teman dekat. Akhirnya, dengan rasa persahabatan, saya sharing jawaban-jawaban dari tugas itu.

Namun, kadang, kalau sudah seperti itu, karena merasa tidak nyaman dengan suasana kelas yang riuh dan ramai, biasanya saya membuat alasan untuk pergi ke kantin agar bisa menghindari kebisingan. Huh, damai sekali rasanya ketika saya bisa keluar dari ruangan yang penuh dengan hiruk-pikuk “orang-orang aneh” itu.

Sialnya, hal seperti itu terjadi berulang kali. Setiap paginya, di hari efektif sejam atau setengah jam sebelum mata pelajaran dimulai, ada saja teman-teman yang baru mengerjakan tugas rumahnya. Dengan alasan malas, mageran, sibuk main smartphone dan kalimat klise lainnya yang sering saya dengar, sering mereka lontarkan.

***

Awal tahun 2020, ketika untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di kampus, saya membayangkan banyak mahasiswa berprestasi dan mungkin akan bertemu—dan bisa dekat—dengan teman-teman baru yang tidak menganut sistem kebut semalam.

Tetapi, seperti yang dikatakan banyak orang, ekspektasi tidak selamanya selaras dengan realita yang terjadi. Benar saja, alih-alih bertemu dengan mereka yang rajin mengerjakan tugas lebih awal, justru saya kembali—dan banyak—bertemu dengan mereka yang mengulur-ulur waktu atau yang mempunyai sistem last minute dalam mengerjakan tugas-tugasnya.

Tentu, hal ini akan berakibat buruk bagi diri sendiri. Khususnya bagi para mahasiswa. Bagaimana tidak, waktu yang seharusnya dimanfaatkan untuk lebih banyak mencari sesuatu yang bermanfaat dan mulai menambah pengalaman, malah digunakan untuk bermalas-malasan atau sekadar scrolling sosial media.

Pada akhirnya, ketika deadline tugas sudah menunggu, mereka akan mulai begadang untuk mengerjakannya, dari malam hingga pagi hari. Dan perlu diketahui, begadang itu tak baik bagi kesehatan tubuh. Begadang dapat berpengaruh pada kesehatan mental dan stress yang dipicu oleh pola tidur yang tidak baik.

Hal ini tentu bukan hanya sekadar pernyataan yang digunakan untuk mengintimidasi orang-orang, akan tetapi sudah dibuktikan melalui penelitian. Cary dan Pei melakukannya dalam “Sleep practies of University students living in residence” pada tahun 2017.

Kebiasaan begadang mengerjakan tugas ini, jika diteruskan, lama-kelamaan juga akan menjadi sebuah kebiasaan yang buruk—karena mempengaruhi waktu tidur yang seharusnya 8 jam dalam sehari bisa kurang dari itu.

Selain berakibat tugas tidak selesai dengan hasil yang kurang bagus, juga tentu akan timbul masalah kesehatan pada tubuh pula.

Jadi, bagaimana teman-teman. Apakah membiasakan diri menjadi santai dalam mengerjakan tugas itu masih pantas kita pertahankan?[T]

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Sedang menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Penggemar Boys Love Series Thailand, Apakah Salah?
Gabut Berkedok Self Healing dan Saran untuk Mengatasinya
Pantai, Tempat Berkumpulnya Orang-orang Stress
Tags: esaigenerasi mudaGenerasi Zaman Now
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Sunyi Kembali ke Sunyi: Membaca Sajak-sajak IBG Parwita

Next Post

Ayah, Sosok yang Saya Kagumi

Kadek Sri Widiastuti

Kadek Sri Widiastuti

Lahir di Singaraja, tahun 2002. Saat ini sedang menempuh pendidikan di STAH N Mpu Kuturan Singaraja, Program Studi Ilmu Komunikasi

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Ayah, Sosok yang Saya Kagumi

Ayah, Sosok yang Saya Kagumi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co