5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Semarapura Rumah Sejarah: Membaca Klungkung dalam Sajak

I Made Sujaya by I Made Sujaya
April 28, 2023
in Kritik Sastra
Semarapura Rumah Sejarah: Membaca Klungkung dalam Sajak

Buku-buku sastra yang ditulis sastrawan Klungkung | Foto: Made Sujaya

KLUNGKUNG HINGGA KINI cenderung dikenal sebagai daerah luas wilayahnya paling kecil dan jumlah penduduknya paling sedikit di antara delapan kabupaten atau kota di Bali. Warga Klungkung biasa memelesetkan daerahnya dengan sebutan aklingkungan yang bermakna wilayah Klungkung bisa dijangkau dalam waktu yang singkat karena tidak begitu luas.

Namun, kabupaten yang memiliki 21 pulau kecil ini punya makna penting bagi Bali. Klungkung mencatatkan goresan sejarah masa lalu dengan peranan yang amat penting dalam dinamika sejarah dan kebudayaan Bali. Klungkung tempo dulu merupakan pusat pemerintahan sekaligus pusat kebudayaan Bali. Mulai dari zaman Gelgel hingga zaman Smarapura, Klungkung senantiasa menjadi orientasi kultural maupun pusat batin masyarakat dan tanah Bali. Klungkung juga menjadi kerajaan terakhir yang takluk di tangan Belanda.

Orang-orang Bali yang menelusuri asal muasal keluarganya, biasanya akan bertemu dengan kegemilangan Klungkung di masa lalu. Ini tampaknya yang dilukiskan Wayan Jengki Sunarta sebagai “sejatinya bapa/ dari mana kau bermula” dalam sajak “Semarapura” yang dikutip di awal esai ini.

Kota Para Penyair

Tak hanya dalam konteks sejarah, Klungkung juga mencatatkan jejak penting dalam dunia sastra. Budayawan dari Klungkung, Wayan Westa dalam sebuah esainya di Bali Post Minggu, Minggu, 22 Oktober 1995 yang berjudul “Klungkung: Kota Bagi Pemuja Keindahan” menyebut Klungkung sebagai kota bagi para cerdik pandai, penyair, pendamba keindahan. Westa merunutnya dari aspek penamaan kota: ‘kung’ dan ‘smara’ yang dalam teks-teks tradisi dimaknai sebagai cinta atau keindahan. Demikian juga nama Swecapura atau Swecalinggarsapura bermakna sebagai kota yang memberikan kebahagiaan.

Secara historis pun, Klungkung melahirkan sejumlah pangawi penting Bali. Pada zaman Gelgel lahir pengawi Mpu Nirartha, Ki Dauh Bale Agung, Hyang Angsoka, Pangeran Telaga, Ida Bukcabe, Ki Pande Bhasa, dan Pandya Agra Wetan. Di era Klungkung muncul nama-nama seperti Dewa Agung Istri Kanya, Pedanda Gede Rai dan Anak Agung Pemeregan.

Klungkung terus menjadi rahim yang melahirkan para pengarang era sastra Bali modern dan sastra Indonesia. Beberapa di antaranya, I Ketut Rida, IDK Raka Kusuma, I Wayan Suartha, Ida Bagus Gde Parwita, Ketut Sumarta, Agung Bawantara, Herry Wijaya, Gde Artawan, Rai Sulastra, Nyoman Mastra, Nengah Wardi, Ngakan Made Kasub Sidan, Made Sarjana, Nyoman Pasek Sugiadnyana, Ketut Aryawan Kenceng, termasuk Wayan Westa sendiri. Belakangan muncul sastrawan muda asal Klungkung, antara lain Komang Adnyana, Ni Made Purnamasari, Mira Antigone, Juli Sastrawan, Carma Citrawati, I Gede Gita Purnama, dan Made Suar Timuhun. Belum lagi sejumlah pengarang luar Klungkung yang kemudian menetap atau menjadi warga Klungkung, seperti IBW Widiasa Keniten, IB Pawanasuta, I Gede Sarjana Putra, Luh Suwita Utami, dan Ari Dwijayanthi.

Klungkung juga menjadi “ladang garapan” yang tiada habis digali sebagai tema karya-karya mereka. Terbukti, banyak sajak dan prosa yang bertema atau berlatar Klungkung. Novel berbahasa Bali, Sunari maupun cerpen-cerpen dalam buku Lawar Goak karya I Ketut Rida berlatar desa pesisir Kusamba, Klungkung. Demikian juga novel Senja di Candidasa karya Gde Aryantha Soethama juga mengambil latar sejumlah tempat di Klungkung.

Bahkan, dalam genre puisi, sudah ada tiga buku kumpulan puisi tentang Klungkung yang terbit, yakni Pupute Tan Sida Puput (puisi Bali, 2001), Klungkung: Tanah Tua, Tanah Cinta (2016), dan yang terbaru Di Altar Catus Patta (2022). Para penyair di Bali umumnya punya sajak tentang Klungkung. Seperti ditulis Nyoman Wirata dalam sajak “Klungkung, Aku Tak Pernah Kehilangan Puisi”: “Aku tak pernah kehilangan puisi di sini/ sebab/ Sejarah padi, bukit ilalang, pintu bearpit lawing, gunung dan bunga padma/ Mengalir di alur air Unda. Air yang mengunda/”

Di era semaraknya apresiasi sastra Bali Post Minggu, saban bulan April yang berkaitan dengan peringatan Puputan Klungkung, sang penjaga gawang, Umbu Landu Paranggi menyediakan ruang khusus bagi penyair dari Klungkung atau karya-karya penyair lain yang bertema Klungkung. Umbu juga memberi perlakuan yang sama kepada kabupaten-kabupaten lain di Bali saban hari jadi kota atau kabupaten itu. Misalnya, Denpasar saban bulan Februari, Singaraja saban bulan Maret, Gianyar setiap bulan April atau Bangli tiap kali bulan Mei.  

Kejayaan Masa Silam

Sebagian besar sajak-sajak bertema Klungkung yang ditulis penyair Bali merupakan sajak kontemplatif yang melihat dan memperlakukan Klungkung tidak semata sebagai latar tetapi sebagai media perenungan untuk memaknai kesejatian diri. Citra yang kuat terpancar dalam sajak-sajak tentang Klungkung menunjukkan kecenderungan mengenai kejayaan masa silamnya. Di mata penyair, baik yang berasal dari Bali maupun dari luar Bali, Klungkung tidak bisa dilepaskan dari sejarah masa silam. Kecenderungan itu tidak hanya terlihat dalam sajak-sajak lama tentang Klungkung, namun juga sajak-sajak baru seperti dalam buku Klungkung: Tanah Tua, Tanah Cinta maupun Di Altar Catus Patta.

Penyair I Wayan Suartha tampaknya paling suntuk menulis Klungkung, kota kelahirannya. Dari 78 sajak dalam buku kumpulan puisinya yang terbiut tahun 2020, Buku Harian Ibu Belum Selesai, sedikitnya ada 18 sajak yang menggunakan Klungkung dan tempat-tempat di wilayah Klungkung sebagai judul, seperti Kali Unda, Pantai Klotok, Kusamba, Karangdadi, Tihingan, dan Sengkiding. Sejumlah sajaknya yang lain pun merupakan pemaknaan tentang sejarah Klungkung. Hal ini seolah menegaskan Suartha sebagai penyair Klungkung.

Suartha memaknai Klungkung sebagai “rumah”, tempat para penghuninya berasal sekaligus kembali. “Mata itu matahari seluruh mata/ dari hulu kali yang jauh/ dusun dusun ketakjuban/ mengalir aksara ning aksara/ semesta kecil semesta agung/ hanyut-hanyut ke dasar getaran/ tumpah lewat matamata pisau/ sepanjang asal usul/ pantai yang segar/ melayangkan/ asmara pemberontakan pernah tertulis/ tragedi ketulusan belapati/kekawin tarian langit mengisi/ angkasa jiwaraya/ dihembus angin tanah ini/ masuklah/”.

Sajak berjudul “Rumah Klungkung” ini merupakan sajak yang cukup berhasil merangkum dinamika Klungkung yang amat panjang dan berliku itu. “…asmara pemberontakan pernah tertulis/ tragedi ketulusan belapati/ kekawin tarian langit mengisi angkasa jiwaraya/”.

Penyair Klungkung lain yang juga banyak menulis sajak tentang Klungkung, yakni IDK Raka Kusuma dan IBG Parwita.   Dalam sajak berjudul “Perempatan Klungkung” yang dipersembahkan kepada Bupati Klungkung, Cok. Ngurah, Raka Kusuma menunjukkan kematangannya dalam metafora dan simbolisasi. “inilah perempatan penuh warna/ menjulangkan empat jalan cahaya/ satu jalan lurus ke ibu kota langit/ penuh pohon cahaya jernih/satu jalan lurus ke ibu kota matahari/penuh pohon cahaya warna-warni/ satu jalan lurus ke ibu kota bulan/ penuh pohon cahaya berkilauan/ satu jalan lurus ke ibu kota bintang/penuh pohon cahaya berkelip-kelip

Perempatan di pusat kota Smarapura yang dikenal sebagai Perempatan Klungkung memang memiliki arti penting bagi masyarakat Klungkung. Perempatan Klungkung tidak saja merepresentasikan konsep persimpangan empat dalam konsep tata ruang Bali, tetapi lebih dari itu sebagai jalan spiritual. Dalam pemaknaan Raka Kusuma keempat jalan itu bermuara ke tempat dengan pohon-pohon penuh cahaya yang bisa dimaknai sebagai tempat penuh kebahagiaan, penuh keindahan.

Raka Kusuma merupakan penyair kelahiran Klungkung yang kini tinggal dan berkarya di Karangasem. Meski berjarak dengan kota kelahirannya, Raka Kusuma banyak menulis sajak tentang Klungkung. Malah, sajak-sajak bertema Klungkung itu ditulis ketika Raka Kusuma sudah tidak tinggal di Klungkung lagi. Raka Kusuma memilih mencumbu bau harum tanah kelahirannya dalam sajak. Ini terungkap dalam sajak “Kepada laut Klotok” : ” …di pantaimu akan kubangun menara sajak/ ditimpa langitpun tetap tegak!”.

Bayang-bayang masa lalu juga terekam kuat dalam sajak IBG Parwita berjudul “Kertha Gosa”. Parwitha yang meraih penghargaan Widya Pataka tahun 2009 untuk buku kumpulan puisi Bali modern, Wayang, memulai bait pertama sajaknya seperti ini: ”Gerimis senja/ mengantar perjalanan waktu/ saat sunyi memeluk pelataran kotaku/ lalu bersandar bayang-bayang/ melepas masa silam/”. Sajak ini diakhiri dengan bait yang sangat kental menunjukkan betapa romantisme masa lalu amat kuat menyelimuti batin penyairnya. “/Adakah kau ingat/ tetesan keringat/ dan denyut masa silam/ saat selempang diteriakkan/ sebelum sunyi tengadah diderai air mata//”.

Nada dan suasana serupa juga masih terasa dalam sajak-sajak terbaru Parwita yang termuat dalam antologi bersama penyair Klungkung, Di Altar Catus Patta. Sajaknya “Tarian Penghabisan” melukiskan tragik kejatuhan Semarapura dalam perang Puputan Klungkung, 28 April 1908.

Tak hanya penyair Bali kelahiran Klungkung yang dikuasai oleh bayang-bayang masa lalu ketika menulis Klungkung dalam sajak. Penyair Bali lainnya juga tak bisa berpaling dari citra kejayaan masa silam Klungkung. Peristiwa sejarah yang menarik perhatian para penyair itu, selain Puputan Klungkung, yakni heroisme seorang pejuang perempuan Klungkung, Dewa Agung Istri Kanya dalam Perang Kusamba, 24—25 Mei 1849. Dalam sajaknya berjudul “Di Kusamba Aku Terkenang Sejarah”, Sunarta menulis; “di kusamba/ aku terkenang sebuah sejarah/ aksara-aksara jiwa yang melabuhkan/ keheningan masa lampau/ hingga kemaksiatan masa kini/ pada lembaran-lembaran pantai bergaram/ olahan keringat hingga campuran darah/ para laskar yang pralaya/ meruwat bumi bali/”.

Seperti halnya penyair Bali kelahiran Klungkung, Sunarta juga memaknai Klungkung secara estetis. Klungkung dipandang sebagai tempat yang penuh dengan energi keindahan sekaligus juga rumah sejarah, tempat orang Bali merunut sejarah leluhurnya seperti terekam dalam sajak “Semarapura”.

 Jika penyair Bali tak mampu melepaskan diri dari bayang-bayang kejayaan masa silam Klungkung saat menulis sajak-sajak bertema Klungkung, begitu pula dengan penyair dari luar Bali.

Sajak bertema Klungkung karya penyair luar Bali yang mengungkap citra Klungkung dengan kejayaan masa silamnya yakni sajak berjudul “Klungkung” karya Mansur Samin. “Kejayaan silam/ kikis dari sunyimu/sisa petikan harum sejarah/”.

Sajak “Klungkung” karya Acep Zamzam Noer juga tak luput dari persoalan yang sama. Cerita keperwiraan pejuang perempuan asal Klungkung, Dewa Agung Istri Kanya tampaknya memantik hati Acep. Kisah heroik itu kemudian dipadupadankan dengan pemaknaannya mengenai Klungkung sebagai kota keindahan, kota cinta.

Rusli A Malem, penyair kelahiran Lhok Nibong, Aceh Timur menulis sajak “Goa Lawah”. Sajak ini memotret keunikan Pura Goa Lawah dengan goa yang dipenuhi kelelawar. Rusli merekam Pura Goa Lawah yang menjadi tempat masyarakat Hindu Bali menggelar salah satu bagian prosesi ritual penting dari upacara penyucian roh.

Suara Kritis

Sajak-sajak tentang Klungkung tampaknya minim suara-suara kritis dalam konteks kekinian. Persoalan yang kini dihadapi Klungkung dan masyarakatnya tampaknya belum menarik perhatian para penyair.

Kondisi ini sebetulnya bisa dimaklumi. Sebagai kabupaten terkecil, persoalan yang dihadapi Klungkung memang tidak sekompleks dan sekuat persoalan yang dihadapi Denpasar atau Buleleng misalnya. Paling tidak persoalan-persoalan itu tidak sampai menyita perhatian yang teramat besar.

Namun, adakah Klungkung akan senantiasa ditulis dalam sisi kejayaan masa silamnya semata? Adakah kekinian Klungkung kurang menarik untuk ditulis?

Menarik membaca sajak tentang Klungkung yang ditulis penyair GM Sukawidana. Sajaknya yang berjudul “Peladang Garam Pesisir Kusamba”  memang masih dipengaruhi kisah kejayaan masa silam Klungkung. Namun, dia menggunakannya untuk menebar kesadaran untuk melindungi tanah dan pesisir Bali di Klungkung. GM Sukawidana memang intens dan konsisten menyuarakan kian tergusurnya tanah serta pesisir Bali. Melalui potret petani garam Kusamba yang kian menyusut jumlahnya dan lahan-lahan mereka juga makin menyempit, GM Sukawidana mengingatkan tentang pentingnya semangat puputan untuk melawan para pemodal rakus lahan.

“kau harus ingat/ pesisir ini telah mewariskan darah puputan/ jika nanti pada cupak tanah datang menggusur/ akankah kau menyerahkan begitu saja!”

Suara cemas GM Sukawidana mengingatkan kepada dinamika mutakhir yang tengah terjadi di Klungkung. Industri turisme juga merambah ke Klungkung. Pulau Nusa Penida dan sekitarnya bahkan digadang-dagang sebagai destinasi andalan Klungkung dengan menu utama wisata bahari. Ketika pariwisata makin merangsek, kerap kali disertai dengan alih fungsi dan alih kepemilikan lahan yang dahsyat.

Yang teranyar, Klungkung sedang dipoles dengan pembangunan Pusat Kebudayaan Bali di bekas lahan galian C. Pembangunan megaproyek ini bahkan mengguratkan catatan hitam dalam bidang lingkungan, terutama pengerukan bukit-bukit di kawasan Kecamatan Dawan dan sekitarnya.

Tugas puisi atau sastra yang utama memang bukan semata-mata merekam dinamika mutakhir yang terjadi. Namun, sastra juga punya kewajiban kemanusiaan untuk terlibat dan menyuarakan mereka yang tertindas maupun yang tidak mampu bersuara. Bukankah sastra senantiasa pula diikhtiarkan untuk menggedor pintu-pintu kesadaran dan kepekaan pada perubahan yang tengah terjadi? [T]

BACA juga PUISI, CERPEN, DAN ESAI-ESAI SASTRA tentang KLUNGKUNG

Sajak-sajak I Wayan Suartha | Kusanegara Kusamba
Sajak-sajak IBG Parwita | Kerta Ghosa: Aksara yang Terjaga
Perempuan di Bawah Rembulan | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Lagu Rindu untuk Ibu: Membaca Sajak-sajak I Wayan Suartha
Dari Sunyi Kembali ke Sunyi: Membaca Sajak-sajak IBG Parwita
Tags: CerpenKlungkungPuisisastraSastra IndonesiaSemarapura
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perempuan di Bawah Rembulan | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Next Post

Istirahat Bukan Hanya Perihal Rebahan dan Tidur Saja

I Made Sujaya

I Made Sujaya

Wartawan, sastrawan, dosen. Pengelola balisaja.com

Related Posts

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

by Andre Syahreza
September 4, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
September 2, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
August 30, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

by Andre Syahreza
August 26, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

Read moreDetails

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
0
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA tahun 1999, Seno Gumira Ajidarma menerbitkan kumpulan essay Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Judulnya adalah pernyataan sekaligus pengakuan,...

Read moreDetails
Next Post
Istirahat Bukan Hanya Perihal Rebahan dan Tidur Saja

Istirahat Bukan Hanya Perihal Rebahan dan Tidur Saja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co