2 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

I Kadek Adhi Dwipayana by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
in Kritik Sastra
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian kegiatan praktik mengajar yang dilakukan oleh mahasiswa dalam program Asistensi Mengajar. Dalam ruang kelas, dua kelompok siswa diminta membaca cerpen Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar karya I Nyoman Rasta Sindhu oleh mahasiswa magang.

Cerpen yang mengangkat persoalan relasi sosial dan tradisi masyarakat Bali ini ternyata tidak menghasilkan keseragaman pemaknaan. Pembacaan terhadap cerpen tersebut justru memunculkan perdebatan sengit mengenai siapa sesungguhnya yang menjadi korban, Gung De Lila yang tersisih karena pilihannya menikahi Sulastri atau tokoh ayah yang dianggap terbelenggu oleh tanggung jawab mempertahankan tradisi puri.

Kelompok siswa pertama memilki pandangan bahwa Gung De Lila dan Sulastri sebagai representasi individu yang mengalami intimidasi akibat dominasi tradisi. Tokoh ayah direpresentasikan sebagai kekuasaan kultural yang berusaha mempertahankan hierarki sosial dalam lingkungan puri. Keputusan tokoh ayah yang menolak perkawinan tidak sederajat antara Gung De Lila dengan Sulastri memperlihatkan tradisi dapat menjadi instrumen untuk mengendalikan pilihan personal seseorang. Gung De Lila akhirnya tersisih dari lingkungan keluarga puri karena mempertahankan pilihan untuk menikahi perempuan yang dicintainya.

Namun, tersisihnya Gung De Lila tidak serta-merta membuatnya menjadi sosok yang lemah. Ia justru memperlihatkan perlawanan terhadap otoritas keluarga dengan menjadikan pengalaman masa lalunya sebagai kekuatan untuk mengambil keputusan. Bahkan, ketika ayahnya meninggal dunia, Gung De Lila lebih memilih tidak menghadiri pemakamannya. Sikap tersebut dapat dibaca sebagai bentuk penolakan terhadap rekonsiliasi yang dianggap tidak mampu menghapus luka akibat perlakuan masa lalu. Dalam perspektif kelompok pertama, Gung De Lila bukan sekadar korban tradisi, melainkan individu yang berusaha mempertahankan otonomi dirinya di tengah tekanan kekuasaan kultural.

Pembacaan kelompok kedua justru menghasilkan perspektif yang berbeda. Mereka tidak serta-merta menempatkan tokoh ayah sebagai representasi kekuasaan yang menindas. Tokoh ayah dipandang sebagai individu yang berada dalam situasi dilematis antara mempertahankan warisan tradisi puri dan menerima keputusan anaknya untuk menikahi perempuan yang dianggap tidak sederajat. Tindakan tokoh ayah bukan semata-mata bentuk intimidasi, melainkan ekspresi tanggung jawab moral terhadap nilai-nilai tradisi yang diwariskan oleh para pendahulunya.

Bahkan, tokoh ayah dapat dipahami sebagai korban dari tradisi yang harus dijaganya sendiri. Ia berada dalam posisi yang tidak mudah, menerima keputusan Gung De Lila berarti berhadapan dengan nilai-nilai sosial yang selama ini menjadi fondasi kehidupan keluarga puri, sedangkan mempertahankan tradisi berarti berisiko kehilangan hubungan dengan anaknya. Ketika kemudian muncul keinginan untuk melakukan rekonsiliasi, Gung De Lila justru menolaknya. Perspektif dari kelompok kedua, tokoh ayah bukan hanya penjaga tradisi, tetapi juga individu yang mengalami keterbatasan dalam menentukan pilihan hidupnya sendiri.

Menariknya, kedua kelompok membaca cerpen yang sama, mengikuti rangkaian peristiwa yang sama, dan berhadapan dengan tokoh-tokoh yang sama, tetapi menghasilkan kesimpulan yang berbeda. Kelompok pertama melihat Gung De Lila sebagai korban hegemoni tradisi. Sedangkan, kelompok kedua justru memandang tokoh ayah sebagai korban dari tanggung jawab kultural yang diwariskan kepadanya. Perbedaan ini bukan sekadar variasi jawaban dalam kegiatan membaca teks sastra. Terdapat benturan perspektif dari dua kubu mahasiswa tentang tradisi, kekuasaan, dan kebebasan.

Mengapa satu teks dapat melahirkan tafsir yang berbeda? Jawabannya terletak pada karakteristik pembaca itu sendiri. Membaca teks sastra bukan aktivitas yang sepenuhnya netral. Robert Jauss menjelaskan bahwa pembaca tidak pernah berhadapan dengan karya sastra tanpa bekal pemahaman. Setiap pembaca memiliki horizon harapan, yaitu cakrawala pemahaman yang terbentuk dari pengalaman membaca sebelumnya. Cakrawala ini yang menjadi landasan bagi pembaca dalam menafsirkan sebuah teks sastra. Teks sastra selalu menyediakan ruang-ruang kosong yang perlu dilengkapi oleh pembaca melalui aktivitas interpretasi. Wolfgang Iser melalui konsep implied reader menjelaskan bahwa pembaca harus menghubungkan antarelemen cerita agar mampu mengisi ruang kosong tersebut, meskipun tetap menghasilkan beragam respons.

Louise Rosenblatt juga memiliki pandangan yang serupa melalui transactional theory. Rosenblatt menjelaskan bahwa karya sastra bukan sekadar objek yang maknanya sudah selesai di dalam teks. Karya sastra menjadi suatu peristiwa pemaknaan ketika pembaca bertransaksi dengan teks. Pembaca membawa pengetahuan maupun asosiasi personal untuk membangun makna. Dalam proses tersebut, makna muncul melalui perjumpaan dinamis antara sumber daya yang dimiliki pembaca dan petunjuk yang disediakan teks. Perspektif ini menjelaskan bahwa dua orang pembaca jika dihadapankan dengan cerita yang sama dapat memberikan respons yang berbeda.

Seluruh latar belakang menjadi bagian dari proses produksi makna ketika pembaca berinteraksi dengan karya sastra. Setiap pembaca hadir dengan membawa latar belakang pengetahuan, pengalaman hidup, maupun pandangan ideologis yang turut membentuk cara memahami sebuah teks sastra. Perbedaan konteks dan latar belakang budaya, dapat memengaruhi cara pembaca menilai tindakan tokoh dalam sebuah teks. Pembaca yang memahami tradisi puri sebagai sistem nilai yang perlu dipertahankan dapat memaklumi tindakan tokoh ayah sebagai bentuk tanggung jawab kultural. Sebaliknya, pembaca yang menempatkan kebebasan individu sebagai nilai utama akan melihat tindakan ayah sebagai bentuk dominasi tradisi.

Pengalaman hidup individu dan ideologi juga memiliki pengaruh besar terhadap proses interpretasi. Pembaca yang pernah mengalami pembatasan pilihan oleh keluarga akan bersimpati kepada Gung De Lila. Demikian sebaliknya, pembaca yang memiliki pengalaman kuat tentang tanggung jawab menjaga kehormatan keluarga lebih mampu memahami posisi tokoh ayah. Pandangan ideologis juga dapat melahirkan perbedaan interpretasi. Perspektif kritis seorang pembaca terhadap hierarki sosial, akan mengarahkan keberpihakan pada persoalan marginalisasi Gung De Lila dan Sulastri. Sementara itu, pembaca yang lebih menekankan keteraturan sosial akan memberikan perhatian lebih besar terhadap dilema yang dihadapi tokoh ayah. Perbedaan ideologis tersebut membuat pembaca tidak selalu melihat persoalan teks sastra dari sudut pandang yang sama.

Faktor-faktor tersebut memperlihatkan bahwa produksi makna dalam pembacaan sastra sangat berkaitan dengan perjumpaan antara teks dan dunia pengetahuan pembaca. Pluralitas pemaknaan bukanlah sesuatu yang menyimpang dari hakikat pembacaan sastra. Perbedaan tafsir merupakan konsekuensi dari keberagaman pengalaman dan perspektif manusia.

Pandangan Roland Barthes dalam esainya berjudul The Death of the Author mengungkapkan bahwa ketika sebuah karya telah dipublikasikan, pengarang tidak lagi menjadi satu-satunya otoritas yang menentukan makna. Teks telah memasuki ruang pembacaan yang memberikan otoritas penuh kepada pembaca membangun interpretasinya sendiri. Pandangan ini juga beririsan dengan gagasan Wimsatt dan Beardsley mengenai The Intentional Fallacy, yakni niatan pengarang tidak dapat dijadikan satu-satunya norma untuk menentukan arti sebuah karya teks sastra.

Pembaca memiliki ruang yang luas untuk memproduksi makna tanpa harus selalu mengonfirmasi interpretasinya kepada pengarang. Akan tetapi, kebebasan tersebut bukan berarti setiap tafsir dapat dibenarkan tanpa argumentasi. Interpretasi tetap harus memiliki landasan pada unsur-unsur tekstual dan konteks yang relevan. Pembaca perlu menunjukkan bukti yang mendasari pendapatnya serta mempertimbangkan kemungkinan adanya perspektif lain.

Persoalan bentrok tafsir tidak harus diharamkan justru menjadi temuan penting dalam pembelajaran membaca teks sastra. Perbedaan pemaknaan tidak mesti buru-buru untuk diselesaikan dengan menghadirkan satu jawaban yang dianggap paling benar. Dalam ruang kelas, perbedaan tersebut harus disambut dengan tepat oleh guru, yakni dijadikan kesempatan untuk siswa saling menguji perspektif. Mengapa Gung De Lila dianggap sebagai korban? Bukti tekstual apa yang memperlihatkan dominasi tokoh ayah? Dapatkah seseorang menjadi pelaku dominasi sekaligus korban dari sistem tradisi yang dipertahankannya? Pertanyaan-pertanyaan kritis semacam itu sesungguhnya mampu mendorong siswa melampaui pemahaman literal terhadap cerita. Siswa perlu digiring untuk berani mengungkapkan asumsi yang mendasari interpretasinya.

Bentrok tafsir tidak mesti dipandang sebagai gangguan dalam proses pembelajaran membaca teks sastra. Benturan itulah yang justru membuat siswa memperoleh kesempatan untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis. Mereka akan belajar bahwa pendapat pribadi bukanlah kebenaran yang mutlak dan tidak dapat diganggu gugat. Sebuah interpretasi harus terbuka terhadap pertanyaan, sanggahan, dan kemungkinan revisi ketika berhadapan dengan bukti yang lebih kuat. Kualitas berpikir kritis justru terlihat dari kemampuan siswa membangun argumentasi ketika dihadapkan dengan perspektif yang berlawanan.

Inilah salah satu keistimewaan membaca teks sastra dalam ruang kelas. Siswa tidak selalu harus belajar untuk mencapai kesepakatan tentang siapa yang benar dan salah dalam menafsirkan teks sastra. Siswa justru diajak memahami bahwa satu persoalan dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Dalam cerpen Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar, Gung De Lila dapat dibaca sebagai korban dominasi tradisi, sementara tokoh ayah dapat dipahami sebagai individu yang terperangkap dalam tanggung jawab mempertahankan tradisi. Kedua perspektif tersebut membuka ruang untuk memahami persoalan kultural secara lebih mendalam.

Keberhasilan membaca teks sastra tidak semestinya diukur dari keseragaman tafsir para pembaca. Keberhasilan itu justru terlihat ketika pembaca mampu mempertahankan interpretasinya dengan argumentasi yang kuat dan tidak ragu meninjau kembali pemahamannya sendiri. Membaca sastra bukan semata tentang persoalan menemukan makna di balik kata-kata, melainkan juga tentang belajar memahami mengapa orang lain dapat menemukan makna yang berbeda dari teks yang sama. Ketika pembaca mulai berselisih dalam memaknai sebuah karya sastra, pada titik itulah kenikmatan membaca mencapai klimaksnya. [T]

Tags: CerpenI Nyoman Rasta Sindhusastrasastrawan bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Next Post

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

I Kadek Adhi Dwipayana

I Kadek Adhi Dwipayana

Dosen di Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Related Posts

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
0
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

by Andre Syahreza
September 4, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
September 2, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
August 30, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

by Andre Syahreza
August 26, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

Read moreDetails

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
0
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

Read moreDetails
Next Post
Poem by Sugi Lanus | Yamuna

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co