3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Celepuk | Cerpen Arnata Pakangraras

Arnata Pakangraras by Arnata Pakangraras
September 17, 2022
in Cerpen
Celepuk | Cerpen Arnata Pakangraras

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dari karya Satia Guna dan foto pameran mahasiswa seni rupa Undiksha

Angin aroma jerami kering berhembus dari selatan. Seekor capung merah terbang rendah, hinggap di dahan ciplukan. Bayang-bayang daun menaunginya dari terik. Melayang lincah, kawanan sriti bermanuver memburu anak belalang. Ada yang lolos, menyingkir ke sisi lain. Beberapa bernasib nahas, pasrah dalam lingkar rantai kehidupan.

Pada sebatang bambu lengkung, pindekan berputar. Cepat seperti langkah tergesa-gesa namun sesekali lambat tersendat. Pindekan, kincir angin tradisional yang terbuat dari bambu itu sebagian bilahnya lapuk.  Menghitam oleh lumut kering. Di atasnya sepotong kain kusam berkibar-kibar.

Putu Dirga, seorang remaja kurus, berkaos oblong karikatur kodok, sontak berlari. Gerakannya gesit melompati parit, memintas hamparan melon madu yang baru tumbuh. Pematang sempit berkelok bisa saja menyebabkan terpeleset. Bonggol perdu bekas dibabat petani, mungkin saja melukai kaki yang hanya bersandal jepit butut. Ia tak peduli, terus berlari bahkan semakin kencang.

Napas masih tersengal-sengal ketika ia berhenti. Membungkukkan badan, kedua tangan memegang lutut. Keringat di kening menetes ke ujung kaki. Memulihkan tenaga, ditariknya napas dalam dan dihembuskan perlahan. Menyapu sekeliling dengan pandangan.

Gemericik air terdengar jelas dari Yeh Unda yang membelah persawahan di sekitarnya. Sungai yang tak pernah kering sepanjang tahun, berhulu di Telaga Waja. Memanjang puluhan kilometer menuju hilir di desa Kusamba dan bermuara ke laut Selat Badung.

Batu-batu besar sisa erupsi Gunung Agung tahun 1963, tersebar acak. Beberapa ditumbuhi lumut menyibak arus air. Di batu lempeng, seorang pemancing mengamati ujung joran. Entah, sudah berapa lama ia menunggu, berharap seekor udang menyambut umpan mata kail.  Kepulan asap kretek dari mulutnya pecah di udara.

Di bantaran sungai, di antara rumpun pisang kepok, sebatang pohon nangka tumbuh ringkih. Sarang tawon liar, bulat lonjong, menggayut di salah satu dahan. Berjarak tidak jauh, pohon kelapa lengkung menjulang. Batang berkulit kasar mempertegas tuanya pohon.

 “Aku ingat, ini pohonnya, pohon kelapa yang sama!” Putu Dirga membatin.

Sambil mendongak, tangan kiri bertumpu pada batang pohon. Sebuah layangan tersangkut di pelepah dengan kenur melilit tangkai bungsil. Ujung kenur menjuntai beberapa meter ke bawah dimainkan angin. Begitu berartikah layangan itu sehingga tadi dikejarnya sekuat tenaga?

Kini, ia terus memandangi layangan itu seakan tak rela kehilangan. Sebelumnya, layangan itu adalah milik orang lain yang putus dan tersangkut di pohon kelapa. Pemilik  membiarkan begitu saja tanpa upaya mencari. Mungkin enggan atau nyalinya ciut melihat tingginya pohon.

Setelah dimiliki oleh Putu Dirga, layangan justru hanya terpajang di dinding kamar persis di sebelah foto hitam putih ayahnya. Tidak berniat menerbangkan meski angin sedang bagus-bagusnya. Beberapa teman sebaya menyambangi ke rumah, mengajak bahkan membujuk tapi sia-sia. 

Setiap malam, ia membersihkan layangan dengan kemoceng bulu ayam. Bila mungkin tak sebutir pun debu dibiarkan menempel. Sebatang dupa selalu ia nyalakan lalu menaruhnya di lantai. Sekuntum kamboja merah disematkan pada layangan. Entah, apa maksudnya. Mengusap lembut, menyapa, mengajak bicara layaknya teman. Ketika lelah, dengan pandangan mengarah ke layangan, ia berbaring hingga perlahan matanya mengatup. Pulas.

Hari Minggu, siang menjelang sore. Langit cerah. Aneka bentuk dan warna layangan yang mengudara terlihat dari halaman rumah. Sambil mengunyah gula merah, bibirnya komat-kamit menghitung. Diulanginya sekali lagi dengan bantuan jari tangan dan manggut-manggut saat menutup jari ke sepuluh.

Seusai menandaskan segelas air putih, ia bergegas ke persawahan terdekat. Tidak jelas, apa yang telah mengubah jalan pikirannya. Dengan layangan di punggung, ia melangkah santai di badan jalan. Tak pelak beberapa pemotor membunyikan klakson, menegur agar menepi.

Seolah tak mendengar, ia terus berjalan, kini sambil bernyanyi. ‘Angkihan Baan Nyilih’, sebuah lagu pop Bali-nya Widi Widiana terdengar sumbang. Sesekali kakinya menendang kerikil yang ditemui di jalan. Atau memungutnya, melempari anjing liar yang kebetulan melintas. Bila anjing sudah menggongong apalagi menyalak maka ia pun bertepuk tangan. Ya, bertepuk tangan!

Memilih tempat agak teduh, ia mulai menerbangkan layangan. Mengulur, menarik dan mengulur lagi agar melambung tinggi.  Bergeser dari satu posisi ke posisi lain, menyiasati arah angin. Asyik sekali menarik ulur kenur dalam jepitan ibu jari dan telunjuk. Ke mana pun layangan meliuk, matanya awas mengikuti. Sesekali pandangannya beralih ke layangan lain yang terlebih dahulu mengudara. Ada senyum mengembang di bibir ketika angin mengurai rambutnya yang lurus dan belum sempat dicukur.

Kemudian, beberapa langkah, ia bergerak ke depan mengikuti sebuah tarikan. Buru-buru digulungnya kenur ketika menyadari ada yang tak beres. Layangan singit, kehilangan keseimbangan. Dicoba mengulur tapi terlambat. Layangan putus!  Angin terlalu kencang atau kenurnya getas, ia tak sempat memikirkan kecuali berlari, mengejar.

Dalam kebingungan, pangkal batang kelapa dipukulnya dengan sisa gulungan kenur. Bunyi benturan bekas kaleng susu terdengar. Bagaimana agar layangan kembali? Minta tolong kepada siapa? Menggaruk-garuk kepala, ia terduduk di gundukan tanah memunggungi pohon. Keletihan tak bisa disembunyikan. Berselonjor kaki, kedua betis dipencet mirip gerakan pijat. Tangan kanan beralih mencabut-cabut rumput teki di dekatnya, melemparkan ke sembarang arah. Mata berkaca-kaca, tatapannya gamang. Sementara, suara perkutut manggung sayup terbawa angin.

“Bapa,(1) ke sini, cepat!”

Teriakan Putu Dirga, membuyarkan keseriusan Ketut Kartala memilah rumput. Pria berperawakan jangkung merapikan caping di kepala, melangkah mendekat. Selain sebagai petani penggarap, rutinitas Ketut Kartala adalah mengarit untuk pakan sepasang sapi piaraan yang sesungguhnya milik seorang tetangga yang dipercayakan kepadanya.  Sedangkan Putu Dirga, anak tunggalnya, sekadar membantu. Keranjang di punggungnya tak selalu penuh berisi rumput namun selalu dimaklumi.   

 “Ada apa? Ular lagi?” Tebak ayahnya. Adalah hal biasa ketika mereka mengarit ada saja ular tanah atau ular hijau yang melintas. Namun, tetap saja mengagetkan.

 “Bukan, layangan itu!”  sambil menunjuk ke atas pohon kelapa.

 “Aduh, tinggi sekali, galah pasti tak sampai.” Suaranya agak parau. Sudah seminggu batuk menahunnya kumat. Persediaan rumput yang menipislah memaksanya pergi mengarit.

 “Panjat saja, Bapa!”

Putu Dirga, sudah lama ingin memiliki layangan tiga dimensi. Pernah ia berharap, orang tuanya membelikan sebagai hadiah kelulusannya dari Sekolah Dasar. Ia pun berencana pamer dan membayangkan satu per satu temannya berdecak kagum. Sayang, semuanya tidak terjadi. Keinginan yang tak pernah ia utarakan itu, dilupakannya bersusah payah.

Tapi harapan serupa nadi, terus berdenyut, tak pernah benar-benar mati. Ya, kapan lagi, ini kesempatan emas! Sebuah layangan kedis celepuk(2) nyata di hadapannya. Meskipun berada di ketinggian, ia melihat jelas. Gradasi warna biru berteknik airbrush padu pada bentangan sayap dan ekor. Arsiran kuning pada bulu-bulunya memberi aksentuasi manis. Dua bulatan mata cerah serta sepasang kaki mencengkeram menambah kesan dinamis.

 “Lupakan saja. Layanganmu ‘kan ada dua di rumah”, sembari menyentuh pundak anaknya.

 “Tapi tak sebagus itu”, ia membandingkan dengan bete-bete, layangan sederhana berbentuk segi empat miliknya.

Ketut Kartala bergeming. Dalam hati mengakui, layangan kedis celepuk itu memang bagus. Harganya niscaya mahal. Sejujurnya, bila diminta untuk membeli, ia tak sanggup.  

 “Ayo, dipanjat saja. Bapa pasti bisa!”

Ketut Kartala masih bergeming. Ada keraguan di wajahnya. Sejatinya, memanjat pohon hal mudah baginya apalagi pohon kelapa, ia piawai! Dengan tali tambang serupa angka delapan di pergelangan kaki, panjatannya cepat. Tanpa bantuan tali pun ia sanggup. Kedua telapak kaki seolah lengket, menempel kuat pada batang pohon. Warga sekitar lumrah minta tolong kepadanya dan selalu ia tak punya alasan untuk menolak.

Ketrampilan memanjat adalah hal langka saat ini. Atas jasanya ia memperoleh imbalan. Tentu saja tak sepadan dengan resiko keselamatannya. Ia tak khawatir, tak pernah berpikir sejauh itu. Memetik kelapa, kadang dibarengi dengan mencari janur. Terutama menjelang hari raya keagamaan atau upacara adat pernikahan. Janur dibutuhkan untuk cangkang ketupat, canang sesaji, penjor (3) atau hiasan lainnya.

Buk! Seekor perkutut jatuh di depan Putu Dirga tak lama berselang setelah terdengar bunyi letusan senapan angin di kejauhan. Terkejut, spontan bangkit mengucek-ucek mata. Kelelahan rupanya telah menidurkannya di bawah pohon kelapa, beberapa saat lalu. Perkutut nahas masih menggelepar, berlumur darah saat dipungut. Beberapa helai bulu sayap terlepas.

Dalam genggaman, ia merasakan detik demi detik gerakan burung itu melemah hingga lunglai tak berdaya. Dengan menyibak bulunya, ia menemukan satu peluru timah terbenam di dada kiri.

Darah tercium anyir. Kedua tangan Putu Dirga tengadah dengan jemari merenggang. Melihat darah memenuhi sela-sela kuku, ia gelisah. Tangan mulai gemetar. Keringat dingin membulir di kening. Pintu ingatannya ada yang menggedor-gedor, mendobrak hingga menganga. Penyesalan menyeruak masuk, tumpang tindih. Semakin rapat ia menutup, semakin perih umpatan menghunjam gendang telinga. Kesalahan seakan ditumpahkan begitu saja di atas kepalanya. Alih-alih membela diri, ia memilih diam.

Tak secuil pun keberanian tersisa untuk menatap wajah ibunya saat itu. Keteduhan yang biasa ia temukan lenyap seketika. Bibir ibunya bergetar, menunjuk-nunjuk hidungnya!  Kemarahan, kekecewaan dan kesedihan bergesek kencang hingga ibunya limbung berkali-kali.

Putu Dirga tersudut, batinnya terguncang. Ia sesenggukan. Menangis, menangis dan menangis.  Di pangkuannyalah, dua bulan lalu, Ketut Kartala menghembuskan napas terakhir. Pelepah kelapa kering dan sebuah layangan kedis celepuk ikut tergeletak di samping tubuh ayahnya. [T]                                                                                

Keterangan :

  1. Bapa : sebutan ayah dalam bahasa Bali
  2. Kedis celepuk : burung hantu.
  3. Penjor : sebatang bambu lengkung berhias janur, buah dan umbi-umbian.

_____

  • BACA cerpen lain atau karya-karya lain dari Arnata Pakangraras
  • Palus Bukit Jambul | Cerpen Gde Aryantha Soethama
    Pohon Pedang Kayu | Cerpen Made Adnyana Ole
    Keris | Cerpen Mas Ruscitadewi
    Tags: Cerpen
    ShareTweetSendShareSend
    Previous Post

    “Mencintai Munir” Adalah Peduli Terhadap HAM

    Next Post

    Puisi-puisi GM Sukawidana | Pulang ke Ubud, Sajak Tanah Ibu

    Arnata Pakangraras

    Arnata Pakangraras

    Lahir di Gianyar 24 Februari 1967. Saat SMA puisi-puisinya tersebar di halaman apresiasi sekaligus ikut “kompetisi puisi” yang disuh Umbu Landu Paranggi di Bali Post Minggu. Kini tinggal di Jakarta

    Related Posts

    Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

    by Ayu Ugie Pratiwi
    May 31, 2026
    0
    Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

    DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

    Read moreDetails

    Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

    by Hidayatul Ulum
    May 30, 2026
    0
    Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

    PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

    Read moreDetails

    Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

    by Aksara Caramellia
    May 29, 2026
    0
    Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

    JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

    Read moreDetails

    Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

    by Pitrus Puspito
    May 24, 2026
    0
    Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

    Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

    Read moreDetails

    Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

    by Luh Aninditha Wiralaba
    May 23, 2026
    0
    Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

    PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

    Read moreDetails

    Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

    by Dody Widianto
    May 22, 2026
    0
    Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

    RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

    Read moreDetails

    Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

    by Dede Putra Wiguna
    May 10, 2026
    0
    Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

    DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

    Read moreDetails

    Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

    by Ahmad Sihabudin
    May 10, 2026
    0
    Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

    PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

    Read moreDetails

    Puting Beliung | Cerpen Supartika

    by I Putu Supartika
    May 9, 2026
    0
    Puting Beliung | Cerpen Supartika

    Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

    Read moreDetails

    Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

    by Kadek Windari
    May 4, 2026
    0
    Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

    “Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

    Read moreDetails
    Next Post
    Puisi-puisi GM Sukawidana | Pulang ke Ubud, Sajak Tanah Ibu

    Puisi-puisi GM Sukawidana | Pulang ke Ubud, Sajak Tanah Ibu

    Please login to join discussion

    Ads

    POPULER

    • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

      Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

      22 shares
      Share 22 Tweet 0
    • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

      0 shares
      Share 0 Tweet 0

    ARTIKEL TERKINI

    ‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
    Khas

    ‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

    BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

    by Abdi Jaya Prawira
    June 3, 2026
    ‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
    Esai

    ‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

    JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

    by Eril Paizi
    June 2, 2026
    Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
    Persona

    Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

    SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

    by Dede Putra Wiguna
    June 2, 2026
    Ke Pacet Mereka Kembali
    Tualang

    Ke Pacet Mereka Kembali

    DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

    by Jaswanto
    June 2, 2026
    (Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
    Esai

    ‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

    BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

    by Early NHS
    June 2, 2026
    Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
    Panggung

    Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

    PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

    by Dede Putra Wiguna
    June 2, 2026
    (Tidak Ada) Literasi Digital
    Esai

    (Tidak Ada) Literasi Digital

    LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

    by I Wayan Artika
    June 2, 2026
    Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
    Ulas Rupa

    Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

    Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

    by Made Chandra
    June 2, 2026
    PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
    Ekonomi

    PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

    Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

    by Nyoman Budarsana
    June 1, 2026
    ’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
    Ulas Musik

    ’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

    LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

    by Ahmad Sihabudin
    June 1, 2026
    Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
    Khas

    Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

    by Putu Agus Eka Pradnyana
    June 1, 2026
    Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
    Ulas Film

    Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

    SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

    by Satria Aditya
    June 1, 2026

    TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

    • Penulis
    • Tentang & Redaksi
    • Kirim Naskah
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Desclaimer

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In
    No Result
    View All Result
    • Beranda
    • Feature
      • Khas
      • Tualang
      • Persona
      • Historia
      • Milenial
      • Kuliner
      • Pop
      • Gaya
      • Pameran
      • Panggung
    • Berita
      • Ekonomi
      • Pariwisata
      • Pemerintahan
      • Budaya
      • Hiburan
      • Politik
      • Hukum
      • Kesehatan
      • Olahraga
      • Pendidikan
      • Pertanian
      • Lingkungan
      • Liputan Khusus
    • Kritik & Opini
      • Esai
      • Opini
      • Ulas Buku
      • Ulas Film
      • Ulas Rupa
      • Ulas Pentas
      • Kritik Sastra
      • Kritik Seni
      • Bahasa
      • Ulas Musik
    • Fiksi
      • Cerpen
      • Puisi
      • Dongeng
    • English Column
      • Essay
      • Fiction
      • Poetry
      • Features
    • Penulis
    • Buku
      • Buku Mahima
      • Buku Tatkala

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co