13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Mencintai Munir” Adalah Peduli Terhadap HAM

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
September 17, 2022
in Ulas Buku
“Mencintai Munir” Adalah Peduli Terhadap HAM

Suciwati bersama saya (penulis) dan buku Mencintai Munir

Hasil autopsi itu menjelaskan dengan gamblang bahwa kematianmu akibat arsenik! Jelas di bagian atas laporan: Death by arsenic poisoning.

Itu sebuah kalimat pada halaman 295 yang dibacakan oleh salah satu peserta dalam acara peluncuran buku “Mencintai Munir” karya Suciwati. Kalimat itu membuat saya bergidik ngeri.

Saya tak bisa membayangkan betapa remuknya hati keluarga dan kerabat saat menerima kenyataan bahwa Munir kehilangan nyawa karena diracun. Racun yang bisa membunuh dua gajah dewasa sekaligus.

Suatu hal yang keji. Dan, herannya, kasus ini masih dibiarkan mengambang begitu saja—mengambang oleh negara.

Pertemuan dengan Suciwati

Keikutsertaan saya dalam diskusi Kwitangologi Vol. 09 yang diselenggarakan KontraS, benar-benar membuka ruang diskusi lain untuk saya sendiri.

Diskusi itu bertempat di Dia.Lo.Gue di daerah Kemang, Jakarta Selatan, Rabu 14 September 2022. Saat itu KontraS bekerja sama dengan Museum Hak Asasi Manusia Munir dan Imparsial menyelenggarakan peluncuran buku berjudul “Mencintai Munir” yang ditulis langsung oleh Suciwati—Istri Munir.

Pertemuan pertama saya dengan Suciwati terjadi saat Museum Hak Asasi Munir  menyelenggarakan pembacaan hasil kerja dari Tim Pencari Fakta Kematian Munir beberapa waktu lalu. Saat itu saya diminta untuk menjadi notulen. Usman Hamid juga hadir pada kegiatan itu.

Suciwati (nomor dua dari kiri) bersama para pembicara dalam diskusi buku Mencintai Munir yang diselenggarakan KontraS di Jakarta | Foto: Teddy

Pada kesempatan itu, jujur, saya tidak sempat berbincang dengan Mbak Suci. Jadi kesempatan kedua ini harus saya manfaatkan. Setidaknya saya harus sempat mengucapkan selamat dan memintanya membubuhkan tanda tangan dalam buku “Mencintai Munir” yang sudah ada di tangan saya.

Peluncuran buku “Mencintai Munir” yang terdiri dari xii + 372 halaman ini dihadiri langsung oleh Mbak Suci. Buku ini dibahas oleh dua orang, Fatia Maulidiyanti (Koordinator KontraS) dan Lukman Hakim S. (Menteri Agama RI Periode 2014-2019).

Dalam diskusi ini juga hadir beberapa tokoh, seperti: Ibu Sumarsih (Ibu dari Benardinus Realino Norma Irawan yang tewas saat tragedi Semanggi I), Usman Hamid (Direktur Eksekutif Amnesty Indonesia), Haris Azhar (Direktur Lokataru), Bivitri Susanti (Salah satu pendiri PSHK).

Tokoh-tokoh itu biasanya hanya saya lihat dari layar kaca, kini saya bisa lihat secara langsung. Mimpi apa ya saya kemarin, hahaha.

Perjalanan “Mencintai Munir”

Emosional. Satu kata itu saya rasa bisa mewakili proses penulisan buku “Mencintai Munir”, setidaknya itu yang saya tangkap dari penjelasan Mbak Suci dalam diskusi peluncuran bukunya.

Bahkan di beberapa momen Mbak Suci mengatakan ia harus meninggalkan laptopnya dan harus memulihkan diri agar siap menulis kembali. Tentu sangatlah berat bagi Mbak Suci.

Saat saya coba membaca sekilas bagian pertama, saya mengetahui bahwa Mbak Suci menulis dengan melibatkan seluruh perasaannya yang bertujuan agar pembaca juga merasa tak berjarak dengan Munir.

Menyampaikan aktivitas Munir semasa hidup menjadi misi utama Mbak Suci dalam buku ini. Meluruskan berbagai berita miring soal Munir juga menjadi tugas buku yang ditulis Mbak Suci.

“Sering kali Munir dikatakan sebagai Antek Asing, bahkan KontraS sempat diserang gara-gara isu itu. Tapi semua itu tidak benar, Munir itu sangat mencintai Indonesia,” tegas Mbak Suci.

Ya saya pun berpikiran demikian, mengingat Munir berangkat dari aktivis mahasiswa yang saya pikir kesehariannya tak pernah luput membicarakan soal kelangsungan bangsa dan negara.

Tidak jauh berbeda dengan Mbak Suci. Fatia Maulidiyanti sebagai Koordinator KontraS hingga tahun 2023 ini mengungkapkan meski sekali pun belum pernah berjumpa dengan Munir, tapi seorang Munir telah menjadi patron dalam menjalankan tugas selamaa di KontraS.

Dalam penyampaian Fatia, saya memperoleh hal-hal menarik. Sejak masa kecil, nama Munir dan KontraS tidaklah asing bagi Fatia—meski hal yang didengarnya adalah hal-hal negatif. Bahkan orangtuanya pun mempercayai bahwa Munir dan KontraS adalah bagian dari antek asing yang merusak jalannya kehidupan bangsa Indonesia.

Namun narasi-narasi negatif tersebut justru mendekatkan Fatia dengan KontraS, bahkan menjadi Koordinator hari ini.

Menginjak 18 tahun kematian Munir, KontraS mendorong Komnas HAM untuk menjadikan kasus kematian Munir menjadi pelanggaran HAM berat. Saat ini pun Komnas HAM disebut sudah membuat tim khusus yang hanya memiliki waktu dua bulan untuk bekerja.

Meski dianggap terlambat, tapi pihak KontraS mengajak semua pihak untuk mengawal hal ini, apa lagi masa jabatan Komisioner Komnas HAM periode ini hampir habis.

BACA JUGA:

  • Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta
  • Matinya Kritisme: Ancaman Nyata Bali Hari Ini

Sebagai salah satu orang dekat Munir, Lukman Hakim Saifuddin yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama RI menyebutkan bahwa sosok Munir adalah sosok yang komplit sebagai aktivis HAM. Kesederhanaan menjadi hal yang paling melekat dalam diri Munir.

Tahun 2000 Munir mendapatkan penghargaan dari luar negeri dengan hadiah uang sebesar Rp 500 juta. Hadiah tersebut justru seluruhnya ia serahkan ke KontraS. Menurut Munir, semua hal yang berkaitan dengan pekerjaannya sudah disediakan oleh kantor.

Wah kalau saya jadi Munir sudah saya ambil hadiah itu untuk keperluan keluarga,. Tapi sudah jelas Munir beda dengan saya. Hehe.

Melanjutkan Jalan Perjuangan Munir

Nyawa seorang Munir—seseorang yang dikenal oleh banyak orang, seseorang yang punya banyak teman yang dianggap sebagai orang dekat dan berpengaruh di negeri ini—ssaja bisa dihilangkan dengan mudah dan kasusnya pun tak jelas hingga sekarang. Bagaimana dengan saya yang tidak masuk kriteria di atas?

Kurang lebih pikiran tersebut terbersit dalam kepala saya selama peluncuran buku “Mencintai Munir”.

Masihkah kita bisa abai terhadap pelanggaran HAM yang hampir setiap hari terjadi? Mirisnya lagi pelanggaran tersebut dilakukan oleh tangan-tangan kuasa atas nama stabilitas negara (geleng-geleng kepala).

Meski saya belum membaca buku ini secara lengkap, tapi secara garis besar saya sepakat dengan perjuangan Munir. Memperjuangkan HAM warga negara Indonesia menjadi kewajiban orang-orang yang memiliki pengetahuan lebih soal HAM.

Peluncuran buku “Mencintai Munir” | Foto: Teddy

Saya kira Indonesia masih memiliki banyak dosa masa lalu yang belum ditebus hingga hari ini. Gerakan 30 September, penghilangan paksa aktivis medio 1997-1998, Semanggi I dan II, dan pembunuhan Munir menjadi beberapa pelanggaran HAM yang dibiarkan oleh negara.

Apakah negara mengharapkan warganya lupa bahwa bangsa ini memiliki masa lalu yang gelap? Mungkin saja.

Tapi saya pikir warga Indonesia tidak semudah itu melupakan dosa-dosa berat itu. Jangankan melupakan dosa-dosa berat semacam itu, hutang Rp 5.000 saja pasti ingat. Atau mungkin negara pura-pura lupa? Biasanya kan orang punya hutang itu pasti lupa kalau dirinya punya hutang. Hahaha.

Saya anjurkan teman-teman membaca buku ini, dan mari setelahnya kita menulis kembali isi dari “Mencintai Munir” akan pesannya dapat terbaca oleh banyak orang di Indonesia.

Sekali lagi saya ucapkan selamat buat Mbak Suci atas buku “Mencintai Munir” semoga siapa pun yang membaca buku ini ikut merasakan perjuangan Munir, getirnya perasaan Mbak Suci saat ditinggalkan, dan yang pasti adalah pembaca dapat mencintai sosok Munir. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis Teddy Chrisprimanata Putra
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta
Cerpen “Sumur” Eka Kurniawan | Air Dengan Segala Persoalan yang Ditimbulkan
Memikirkan Kembali Tradisi, Adat Istiadat dan Budaya Bali dalam “Wanita Amerika Dibunuh di Ubud”
Tags: BukuKontraSMunirUlasan Buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Koreografi Pijat dan Pencarian Gede Agus Krisna Dwipayana dalam Tubuh Tari Tradisi

Next Post

Celepuk | Cerpen Arnata Pakangraras

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails
Next Post
Celepuk | Cerpen Arnata Pakangraras

Celepuk | Cerpen Arnata Pakangraras

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co