14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Matinya Kritisme: Ancaman Nyata Bali Hari Ini

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
January 27, 2022
in Ulasan
Matinya Kritisme: Ancaman Nyata Bali Hari Ini

Buku "Bali, Pandemi, Refleksi, Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisisme Komunitas"

  • Ulasan Buku “Bali, Pandemi, Refleksi, Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas“

Sejak I Ngurah Suryawan mengunggah satu postingan di akun sosial medianya tentang buku terbarunya, saya memutuskan harus membacanya. Sejauh ini, saya sudah membaca dua bukunya; Mencari Bali yang Berubah (2018) dan Saru Gremeng Bali, Sepilihan Esai Kritik Kebudayaan (2020)—juga membaca esai-esainya yang banyak dimuat oleh media-media di Bali. Buku yang terbit pada November 2021 ini ia beri judul “Bali, Pandemi, Refleksi, Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”. Desain sampul khas dari Gus Dark juga semakin membuat buku ini menarik untuk dibaca. Jadi, mari mulai pembahasannya.

Pasca pandemi Covid-19 menghantam, Bali seolah kehilangan pijakan. Pariwisata yang menjadi sumber pangupa jiwa sebagian besar masyarakat Bali mati. Tidak ada lagi riuh wisatawan menghiasi Bali. Bali kehilangan lebih dari 50% sumber penghasilannya. Wajar saja ekonomi Bali terseok-seok, banyak pekerja kehilangan mata pencahariannya—utamanya di sektor pariwisata. Kamar hotel didominasi oleh kamar kosong, pemilik vila sibuk banting harga, pemilik jasa transportasi mulai bingung cari cara bayar cicilan, hingga banyak proyek penunjang pariwisata mangkrak karena kehabisan modal. Bali layaknya kembang yang kehabisan sari untuk dihisap lebah, dan akhirnya ditinggalkan.

Wabah yang sering ditulis gering agung oleh I Ngurah Suryawan telah memberi pelajaran untuk masyarakat Bali—khususnya yang bergantung pada sektor pariwisata, meski kini semua sektor telah terintegrasi dengan pariwisata. Itulah konsekuensi menjadikan pariwisata sebagai panglima ekonomi. Pariwisata merupakan sebuah industri yang sangat rentang, ada 2 hal yang harus dijaga jika ingin industri ini dapat berumur panjang; keamanan dan kenyamanan.

Pertanyaannya, siapa yang bisa menjamin keamanan dan kenyamanan wisatawan di tengah situasi yang serba tidak pasti akibat Covid-19, apalagi kini begitu banyak varian dengan tingkat risiko yang juga berbeda-beda—membuat persoalan kesehatan semakin pelik. Oleh karenanya, sinergi pemerintah dengan seluruh pengampu kepentingan sangat penting di tengah situasi seperti sekarang ini. Pariwisata di Bali nampaknya memberikan efek samping yang rumit untuk diselesaikan dalam waktu singkat. Dampak-dampak yang diberikan oleh pariwisata inilah yang coba disampaikan oleh I Ngurah Suryawan dalam buku ini—tentu untuk mengajak kita agar lebih awas terhadap dampaknya.

Bali Manis Tanpa (dengan) Pemanis Buatan

Pemanis buatan merupakan bahan yang digunakan untuk memberikan rasa manis kepada suatu makanan, atau lainnya sehingga menimbulkan cita rasa yang berbeda dan lebih menarik dari biasanya. Penggunaan pemanis buatan tentu bukannya tanpa efek samping, banyak pemanis buatan memberi kerugian—khususnya kesehatan. Analogi tersebut sepertinya cukup tepat untuk menggambarkan kondisi Bali dewasa ini.

Dalam konteks hari ini, pemanis buatan tersebut dapat diidentikkan dengan pariwisata. Menjadi panglima ekonomi menjadikan pariwisata sangat dielu-elukan masyarakat Bali hingga hari ini. Sekolah pariwisata dari swasta sampai negeri, desa sampai kota berdiri bak jamur di musim penghujan. Seluruh pelosok berlomba-lomba untuk bersolek guna terlihat cantik dan menarik di mata wisatawan—sampai-sampai merubah bentang alam pun dilakukan untuk mendatangkan gemerincing dollar. Tentu rasanya begitu manis, tapi manis berlebih memiliki efek samping yang tidak terkira.

“Kini, budaya dan agama adalah sebuah modal, ‘barang’, ‘hak milik kebudayaan’ yang dimiliki orang Bali untuk dijual dalam bungkus pariwisata. Dalam kemasan investasi, pembangunan infrastruktur dan industrialisasi, pariwisata ditampilkan ‘manis dan manusiawi’ untuk kesejahteraan masyarakatnya.” (hal. 3).

Kini pembatas antara budaya, agama, dan pariwisata hanya garis tipis yang bisa dihapus kapan saja. Buat masyarakat Bali kini budaya, agama dan pariwisata menjadi modal krusial untuk menggerakkan hidup masyarakat Bali. Pariwisata membuat masyarakat Bali nyaman dalam dekapan mimpi, tertidur pulas dan abai dengan situasi sekitar—fokus untuk mencari gemerincing dollar agar bungut paon tetap menyala.Kemasan “pariwisata budaya” menggiring masyarakat Bali menyisipkan unsur pariwisata di setiap ruang-ruang kebudayan dan agama. Pemanis buatan telah menjadi candu, berbagai upaya pun dilakukan untuk mengabdi pada pariwisata yang telah mendatangkan gemerincing dollar, sekaligus meminggirkan dan menjadikan bidang-bidang lain sangat kecil bagaikan remah-remah wafer di kaleng Khong Guan.

Pemanis buatan yang disebut “gincu” oleh I Ngurah Suryawan diibaratkan sebagai upaya-upaya berlebih yang dilakukan untuk mempercantik diri, tentu bertujuan mendatangkan lebih banyak wisatawan. Karena semakin banyak wisatawan yang datang, semakin banyak dollar yang datang, semakin banyak pula masyarakat (baca: investor) yang menikmati keuntungannya.

Investasi kini menjadi penting. Tanpa modal-modal fantastis dari investor, Bali akan kesulitan memenuhi ambisinya untuk meningkatkan jumlah wisatawan yang datang ke Pulau Seribu Pura—kalau kata I Ngurah Suryawan Pulau Sejuta Ruko. Lewat investasi, Bali mempercantik diri. Lewat investasi pula masyarakat Bali kehilangan tanah untuk menghaturkan ayah yang disebabkan kepemilikan tanah berpindah ke tangan investor. Tanah yang dijual dijadikan hotel, vila, spa, restoran, dan sebagainya. Lalu si pemilik usaha memperkerjakan orang lokal, dan orang lokal tersebut akan dengan bangga menyebut dirinya bekerja di hotel A, vila B, restoran C. Miris bukan?

Kebanggaan tersebut kini tak lagi dimiliki. Pandemi Covid-19 berhasil memporak-porandakan segala harapan dan impian. Hantaman ini memberi dampak begitu dasyat bagi industri pariwisata. Akhirnya yang terjadi, hotel A tutup, villa B menjual asetnya, restoran C merumahkan karyawannya. Alhasil, Bali yang menggantungkan sebagian hidupnya di pariwisata pun terhuyung dan jatuh. Kuta, Ubud, Tanah Lot, dan destinasi-destinasi kelas dunia lainnya pun jatuh—tak ada wisatawan berkunjung. Efek samping yang menyakitkan, untuk keuntungan yang tidak seberapa.

Kelindan Agama dan Budaya di dalam Kebijakan Publik di Bali

Munculnya pandemi covid-19 melahirkan kebingungan di tataran pengambil kebijakan. Siapa sangka persoalan serunyam ini melanda dunia? Bahkan tidak ada yang berpengalaman untuk menghadapi sebuah pandemi, termasuk Bali di dalamnya.

“Wabah dengan demikian tidak hanya memiliki dampak dari segi kesehatan, tetapi juga mampu mengubah tatanan sosial masyarakat hingga memusnahkan suatu peradaban.” (hal. 34).

Covid-19 menjelma menjadi muasal krisis multi dimensi. Segala aspek tak luput terdampak wabah yang berasal dari Wuhan, China ini. Sebagai daerah yang laku masyarakatnya kental dengan nilai-nilai agama dan budaya, riuh ritual dan berbagai festival budaya pun dipaksa menepi. Tidak ada lagi ritual dengan rangkaian acara yang membutuhkan waktu lama, melibatkan orang banyak, dan menghabiskan dana begitu besar. Semua dibuat serba minimalis—yang penting substansi katanya. Pawai Ogoh-Ogoh tidak dilakukan atas nama kepentingan bersama—terhindar dari covid-19.

Pada titik ini saya menarik nafas panjang, nyatanya segala riuh ritual yang kerap kali dilaksanakan masyarakat Bali bisa terlaksana dengan penuh kesederhanaan. Tentu ini menjadi angin segar bagi masyarakat Bali yang sedang berada di persimpangan. Kenapa saya katakan manusia Bali berada di persimpangan? Satu sisi manusia Bali harus beradaptasi dengan berbagai kemajuan (sifatnya begitu logis) agar tidak tertinggal karena persaingan yang begitu ketat. Sisi lainnya manusia Bali masih bergantung (baca: sangat percaya) dengan hal-hal di luar nalar, yeng erat kaitannya dengan ritual. Mendapatkan fakta bahwa ritual yang mulanya dilaksanakan dengan begitu megah kini dilaksanakan secara sederhana, tentu sedikit membuka mata masyarakat Bali bahwa nyatanya pelaksanaan ritual tidak sekaku yang dikira sebelum-sebelumnya.

“Kita berorientasi pada yang tinggi, di masa depan. Yang sedang kita bangun adalah peradaban batin dan tenaga dalam. Kita yang hidup di dan oleh dunia, malu berurusan dengan duniawi. Peradaban tinggi ini, menyebabkan kita lebih mampu berkomunikasi dengan penghuni alam atas sana daripada dengan manusia, binatang, dan tumbuhan. Dengan sesame manusia kita sering gagal.” (hal. 39).

Di atas adalah usaha I Ngurah Suryawan mengutip pernyataan IBM Dharma Palguna dalam salah satu esainya yang berjudul “Nyejer Pejati dan Politik Ritual”. Peranan ritual di tengah masyarakat Bali yang tengah berada di persimpangan masih sangat penting. Segala hal tentu tak luput dari sentuhan ritual, tak terkecuali pandemi Covid-19. Kali ini Pemerintah Provinsi Bali bersama Majelis Desa Adat (MDA) Bali, dan Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali sangat gencar mengeluarkan himbauan agar masyarakat Bali tak henti-hentinya menghaturkan sesajen dan doa di merajan masing-masing dan memohon agar wabah ini segera berlalu.

Nyatanya hari ini pandemi covid-19 masih membayangi kehidupan. Lantas, apakah sesajen dan doa-doa masyarakat Bali yang dilakukan berdasarkan arahan penguasa wilayah tidak terkabul? Dalam hal ini menurut saya himbauan untuk menghaturkan sesajen dalam hal ini adalah pejati dan nasi wong-wongan adalah sebuah kegagalan. Pemerintah lupa kalau ritual harus didasari atas niat yang tulus, dan yang terpenting lagi adalah diimbangi dengan aksi nyata—langkah-langkah strategis penanganan pandemi covid-19 dari hulu ke hilir.

Niat tulus tampak samar mengingat begitu banyak masyarakat yang ngedumel di sosial media, “dadi betek baan himbauan dogen?” (memang bisa kenyang lewat himbauan saja?), kurang lebih begitu masyarakat Bali menumpahkan kekesalannya. Himbauan yang dilayangkan pun tidak diimbangi dengan aksi nyata yang dapat mengcover seluruh lapisan masyarakat yang rentan terhadap dampak yang diakibatkan oleh pandemi. Dalam esai yang berjudul “Gering, Ritual, dan Titik Balik Pariwisata” I Ngurah Suryawan menyebutkan bahwa segala macam wabah haruslah berorientasi pada korban—mengutamakan keselamatan dan kesehatan manusia, bukannya memberikan stimulus pada sektor pariwisata. Menurut saya ini penting karena manusia Bali lah perawat dan penjaga budaya yang “dijual” demi kepentingan pariwisata, gemerincing dollar, hiruk pikuk sudut-sudut destinasi wisata. Membiarkan manusia Bali terkapar dan mati, sama saja mematikan budaya.

Satu lagi hal krusial yang dihadirkan penguasa wilayah Bali baik secara administrasi, adat dan agama. Menjadikan ritual sebagai bahan untuk melahirkan kebijakan publik dengan harapan tidak ada yang mempertanyakan kebijakan tersebut, perlahan tapi pasti akan mendegradasi kualitas dari ritual tersebut—kasus serupa bisa dilihat dari tradisi dan budaya yang mulanya sakral perlahan dicarikan cara agar bisa dijual demi kepentingan pariwisata. Mungkinkah ini yang diharapkan oleh masyarakat Bali? Saya harap sih tidak.

Reorganisasi Ruang: Kesempatan yang Tidak Datang Dua Kali

Pandemi covid-19 harus diakui tidak hanya memberi hantaman luar biasa menyakitkan, tetapi juga memberi kita kesempatan untuk menarik nafas lebih panjang dari sebelumnya. Sebelum pandemi, nafas kita terengah-engah mengejar ambisi, pikiran dan tenaga difokuskan untuk menarik sebanyak-banyaknya investor ke Bali tanpa menimbang lebih jauh ketahanan lingkungan hingga sosial budaya yang dimiliki Bali.

Pariwisata benar-benar membutakan seluruh komponen di Bali. Mulai dari jajaran pemerintah, sampai ke masyarakat paling bawah. Benar-benar memuja pariwisata sebagai satu-satunya jalan yang dapat merubah nasib mereka. Pembangunan penunjang pariwisata gencar dilakukan, masyarakat mendadak banting setir untuk menjadi pelaku pariwisata.

“Menyeruaknya bisnis pariwisata di Nusa Penida meninggalkan situasi kegetiran masa pandemi. Jika sebelumnya Serawan (2019) melukiskan bahwa rompok-rompok sebagai ruang agraris sudah disulap menjadi bungalow dan restoran sebagai bukti kemajuan, kini, momen kemajua (pariwisata) tersebut sepi litig, sunyi senyap.” (hal. 11).

Nusa Penida tampak menjadi studi kasus yang sering diajukan oleh I Ngurah Suryawan dalam esai-esainya. Salah satu esainya dalam buku “Saru Gremeng Bali, Sepilihan Esai Kritik Kebudayaan” juga mengangkat tren pariwisata di Nusa Penida. Saya ingin mengelaborasikan apa yang sudah disampaikan I Ngurah Suryawan dalam esainya.

Saya sendiri memandang bahwa pariwisata benar-benar menyajikan proses yang instan dalam memperoleh keuntungan yang bisa membuat setiap orang ngiler akan jumlahnya. Sepenuturan sahabat saya yang tinggal di Nusa Penida, bahwa masyarakat di sana bisa membawa pulang uang dengan range Rp. 500.000 s.d Rp. 1.000.000. Bayangkan, dengan jumlah uang yang sebegitu besar, kecil kemungkinan masyarakat sekitar bertahan dengan profesi lamanya dan pasti memiliki kecenderungan untuk beralih ke pariwisata.

Benar kalau pariwisata adalah sektor yang dapat mendatangkan gemerincing dollar dalam waktu singkat. Tapi patut disadari pula bahwa tidak semua daerah dapat beradaptasi dengan sektor ini. Tidak semua daerah pula dapat memaksakan diri untuk bergantung pada pariwisata. Semestinya pemerintah daerah di tingkat I maupun II di Bali sudah memahami hal tersebut, setiap pemimpin mesti paham akan potensi daerahnya. Hal ini juga harus diikuti dengan partisipasi publik dalam mempertimbangkan potensi mana yang akan digarap. Memaksakan pariwisata di semua daerah yang ada di Bali sama saja menggiring Bali pada titik kehancuran.

Pandemi menjadi momentum untuk melakukan reorganisasi ruang. Setiap daerah mesti menonjolkan potensi terbesarnya, mengingat selama ini berbagai potensi yang ada terkubur oleh gemerlapnya pariwisata. Reorganisasi ruang yang dimaksud adalah bagaimana merancang grand design dalam upaya untuk mengelompokan berbagai sektor di masing-masing ruang khusus. Misal: satu daerah yang difokuskan untuk pertanian, satu lagi difokuskan untuk sektor industry, dan lainnya difokuskan untuk sektor pariwisata. Namun, tantangan dari hal tersebut adalah bagaimana mengintegrasikan satu sektor dengan sektor lainnya agar tercipta kesejahteraan bersama, tanpa meninggalkan kecemburuan antara daerah satu dengan daerah lain. Reorganisasi ruang ini penting untuk menghindari Bali makin tenggelam akibat rayuan gombal pariwisata.

Jargon “jaen hidup di Bali” hari ini tampak tidak relevan lagi. Karena pandemi, juga karena ketergantungan Bali dengan pariwisata menyebabkan Bali terkapar tak berdaya. Apa yang dipaparkan I Ngurah Suryawan dalam esainya yang terkumpul dalam “Bali, Pandemi, Refleksi, Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas” ini saya tangkap sebagai pemantik kesadaran yang ditujukan kepada masyarakat Bali di tengah bombardir narasi-narasi yang seolah memposisikan diri baik-baik saja.

Penting juga diperhatikan bahwa kehadiran pemerintah di tengah masyarakat tidak hanya soal fisiknya saja, tapi juga soal kebijakan. I Ngurah Suryawan berhasil menguraikan secara spesifik berbagai persoalan Bali yang tak banyak disadari oleh masyarakat umumnya. Sudut pandang yang dipilih pun sangat berisiko di tengah kooptasi satu rezim yang begitu mengakar. Namun menurut saya, I Ngurah Suryawan seharusnya dapat memberi insight di luar sisi kelam yang sudah disuguhkan. Memberi jalan keluar yang objektif secara akademis untuk berbagai persoalan Bali, mengingat banyak akademisi yang menggadaikan pengetahuan mereka hanya untuk melegitimasi berbagai kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Kalau bukan I Ngurah Suryawan, siapa lagi? Hehehe [T]

Tags: baliBukuresensi buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Atraktif dan Unik | Pameran TA Tiga Mahasiswa Prodi Seni Murni FSRD ISI Denpasar di Maha Art Gallery

Next Post

Rindik Karya Gede Eriawan, Dibuat di Desa Perbukitan, Dipasarkan di Australia

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Rindik Karya Gede Eriawan, Dibuat di Desa Perbukitan, Dipasarkan  di Australia

Rindik Karya Gede Eriawan, Dibuat di Desa Perbukitan, Dipasarkan di Australia

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co