2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

BEMBENG, DARI SIGAR KE TUKAD BANGKA || Bagian terakhir dari tiga tulisan

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
December 15, 2020
in Khas
BEMBENG, DARI SIGAR KE TUKAD BANGKA || Bagian terakhir dari tiga tulisan

Warga Banjar Gelulung Sukawati Gianyar di Tukad Bembeng [Foto=foto Sukaya Sukawati]

PENGANTAR:

Tukad Bembeng di kawasan Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar, Bali merupakan salah satu sungai yang sudah puluhan tahun terlupakan. Sejak masuknya air PDAM ke desa tersebut pada tahun 1980 sungai ini seperti tidak lagi dibutuhkan, terkucil di halaman belakang  desa, tak tersentuh.  Hal itu membuat kondisinya sangat menyedihkan, kumuh, liar, rusak dan dangkal karena ditunggangi sampah yang meruah.  Namun, sejak beberapa bulan lalu muncul antusiasme dalam jiwa anak muda banjar ini.  Merasa sedih melihat kondisi sungai, mereka memutuskan untuk memperbaiki keadaan.  Di bawah koordinator I Putu Dwipayana yang juga Ketua Sekaa Taruna Dharma Sentana Banjar Gelulung, para pemuda yang tergabung dalam organisasi Gepala atau Gelulung Pecinta Alam mulai bergotong royong setiap hari Minggu, sekaligus mengisi waktu di tengah pandemi, untuk memulihkan kelestarian Tukad Bembeng (Redaksi).

Tukad Bembeng, Gelulung, Sukawati

___

MENURUT cerita orang-orang tua, Tukad Bembeng itu tidak hanya tenget tapi juga memiliki kesucian secara niskala. Banyak cerita dari masa lalu menguatkan hal ini.

“Almarhum Pekak Mangku pernah bilang, dahulu hingga tahun 70-an, kesucian Tukad Bembeng sangat terasa auranya,” kata Made Sarjana sewaktu kami ngobrol di tengah aktifitas bersih2 Tukad Bembeng, hari Minggu. Hanya saja, kesucian Bembeng tidak terekspos di masyarakat, terutama di kalangan warga Banjar Gelulung, sebab perhatian warga kala itu hanya fokus pada kehidupan bertani, dan pemanfaatan tukad ini pun hanya berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari. “Tapi potensi kesuciannya tetap ada karena sifatnya alamiah,” sambung Made Sarjana.

Dulu, sejumlah orang tua memang mengatakan Tukad Bembeng memiliki kekuatan suci walaupun hanya lewat cerita sepintas lalu sebagai obrolan pengisi waktu senggang di warung kopi.

Jika benar demikian, mungkin Bembeng bisa diangggap sebagai tungabhadra, yakni sumber kesucian yang mengalir tanpa batas. Tunga itu artinya tak terbatas, sedangkan bhadra, kesucian. Namun kesucian Bembeng itu sifatnya tersembunyi, halus, samar-samar, sehingga tidak mudah dipahami orang awam.

“Tidak setiap orang bisa melihat dan merasakan kesucian Bembeng. Hanya orang-orang tertentu saja yang tahu,” kata Made Sarjana menirukan cerita orang tua dulu.

Menurut Sarjana, sebagai orang awam, dirinya tidak dapat menggambarkan dengan lugas apa yang dimaksud kesucian Bembeng tersebut. Ia hanya menerka-nerka saja berdasarkan ingatan pada cerita orang-orang tua.

Kabar tentang kesucian Bembeng ini juga dibenarkan oleh Ketut Gde Suaryadala. Dia masih ingat cerita di masa kecilnya yang beredar di kalangan terbatas bahwa dahulu banyak orang dari luar desa, seperti para penekun ilmu kebatinan, pergi ke Bembeng pada malam-malam tertentu, meskipun tidak ada yang tahu ritual apa yang mereka kerjakan di Bembeng karena semuanya berlangsung secara rahasia, diam-diam dan silib di tengah kegelapan malam. Mungkin mereka ngeregepan, malukat, menyepi, “nyeraya”, mencari berkah, atau lainnya.

“Tabe pakulun, kalau tidak salah, Nang Tut Mindring  pernah bilang, orang-orang yang pergi ke Bembeng itu adalah para penekun ilmu kebatinan, ilmu putih, calon sulinggih atau semacam itu,” ujar Suaryadala.

Nyoman Dwipa, yang berprofesi sebagai guru, ikut menguatkan cerita ini, katanya, “Nanang saya pernah bilang, pada tahun 70-an sering ada orang dari jauh datang malam-malam melakukan ritual di Tukad Bembeng, ada Cokorda dari Ubud, ada juga balian dari daerah Blahbatuh. Mungkin mereka melukat atau mencari taksu di sini.”

Lalu bagaimana bentuk kesucian Tukad Bembeng itu, bagaimana cara orang-orang memanfaatkan kecuciannya?

Made Sarjana menuturkan, petala Pekak Cekol pernah bilang kalau Tegal Kisid itu punya nama lain yakni Tegal Sigar. Selama ini disebut Tegal Kisid semata untuk kemudahan komunikasi karena tegalan ini memang milik I Kisid. Sekarang pemiliknya telah berganti sehingga tidak pas lagi dinamakan Tegal Kisid.

“Mungkin sekarang waktunya kita memakai nama aslinya, yaitu Tegal Sigar,” kata Made Sarjana.

Sigar artinya siag, pecah, retak. Tegal ini seperti delta di tengah sungai. Diduga di bawah tegal ini ada struktur atau lapisan batu besar yang sejak masa kuno menghalangi aliran air sungai sehingga secara alami sungai membuat aliran baru ke sisi kiri dan kanannya seperti adanya sekarang.

Pecahnya aliran sungai ini yang disebut dengan sigar atau siag, membentuk cagak, menjadi dua aliran, yang ke barat melewati Penga, yang ke timur melalui Batan Gatep atau Batan Celagi. Kedua aliran ini kemudian bertemu lagi di ujung selatan tegal, yang disebut Paluh. Setelah Paluh, terus ke hilir yang dikenal dengan nama Tukad Bangka atau sungai mati.

Delta yang memecah sungai ini kemudian dikenal dengan Tegal Sigar. Namun nama ini terlupakan karena orang-orang lebih akrab menyebutnya dengan nama Tegal Kisid yang mengacu kepada nama pemilik tanah tegal ini, yakni I Kisid.

Menurut penerawangan beberapa orang, konon terpisahnya aliran sungai inilah yang membangkitkan samacam energi, kekuatan, atau aura kesucian Bembeng secara niskala.

Sepintas, Tukad Bembeng dengan dua alirannya ini diibaratkan tubuh dengan tiga nadi utama, yang dalam yoga dikenal dengan istilah Sushumna, Ida, dan Pingala.
Aliran utama Bembeng dianggap Sushumna, aliran yang ke kiri atau Batan Celagi sebagai Ida, sedangkan yang ke kanan atau ke Penga adalah Pingala.

Dalam yoga, ketiga nadi itu merupakan saluran energi prana utama dalam tubuh yang pengaruhnya sangat besar bagi kehidupan, baik fisik maupun spiritual.

Ketiga nadi dari Tukad Bembeng ini dianggap semacam saluran prana yang secara filosofis mengalirkan vitalitas kesucian sebagai produk dari “yoga semesta” atau alam.

Jro Gde Kacut, seorang yang dikenal cukup lama malang-melintang dan lalu-lalang di dunia spiritual, mengatakan ada sejumlah titik yang merupakan orbital energi kesucian dari Bembeng itu.

Warga Banjar Gelulung, Sukawati Gianyar, gotong royong memulihkan kelestarian Tukad Bembeng


Menurut penerawangan Jro Gde Kacut, titik-titik tersebut antara lain ada tepat di sibakan aliran sungai, di utara Tegal Sigar. Titik berikutnya di wilayah barat tegal, yakni di Penga, juga di timur tegal atau sekitar Batan Celagi. Terakhir ada di Paluh, di selatan tegal. 

“Di empat titik tersebut saya lihat pancaran energi sakralnya cukup cemerlang, meskipun relatif masih tertidur, barangkali karena belum banyak dimanfaatkan dan dieksplorasi,” katanya.

Melihat bentuk energi Bembeng yang demikian, menurut Made Sarjana itu sangat bagus untuk aktifitas spiritual yang berkaitan dengan pencerahan rohani, kesehatan fisik, kesuburan atau meraih kebahagiaan.

Energi Sushumna, Ida, dan pingala  Bembeng ini adalah tungabhadra atau kekuatan suci yang mengalir tanpa batas, yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan hidup.

Melalui teknik interaksi atau aktivitas tertentu, energi suci tersebut akan dapat membantu memperbaiki, memurnikan, atau menyelaraskan energi tubuh kita untuk tujuan pencerahan lahir-batin.

“Kalau diperhatikan, orang-orang tua dulu yang intens berinteraksi dengan Bembeng, rata-rata kualitas kesehatan mereka sangat baik. Saya percaya itu karena pengaruh energi Bembeng,” ujar Made Sarjana.

Penamaan bagian-bagian dari Tukad Bembeng, seperti Sigar, Penga, Paluh, Tukad Bangka, dan lainnya itu sesungguhnya menyiratkan potensi kesucian yang dimiliki sungai ini.

Paluh, misalnya, menurut Sarjana kata itu bentukan dari “paan iluh” atau “paha perempuan”. Ini mengasosiasikan yoni, bagian dari lingga, sebagai simbol kemakmuran, kesuburan, keindahan, kesejahteraan, dsb.

Begitu juga dengan Tukad Bangka atau sungai mati, sepintas itu seperti berkesan buruk, tapi sebenarnya tidak demkian. Dalam konteks kesucian Bembeng,  Tukad Bangka itu secara spiritual bermakna sebagai jalan mencapai moksa, atau moksartham jagadhita ya ca iti dharma, yakni mencapai kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat.

“Jadi manfaat energi Bembeng bagi kita adalah di Sigar sebagai trigger pencerah rohani atau pikiran. Penga dan Batan Celagi untuk menyelaraskan energi positif dan negatif lahir-batin kita,  di Paluh kita menghayati keindahan atau kemuliaan hidup. Dan itu semua adalah jalan untuk mencapai moksa yang disimbolkan dengan nama Tukad Bangka. Begitu kira-kira,” tutup Made Sarjana. [T][***]

BACA JUGA:

  • BEMBENG YANG NGEMBENG || Bagian pertama dari tiga tulisan
  • BEMBENG, TAKSU YANG TENGET || Bagian kedua dari tiga tulisan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Beda-Beda Proses Menciptakan Puisi || Catatan Workshop Siar-Siur Kalangan

Next Post

Apakah Masih Mungkin Mengalahkan PDI Perjuangan di Tabanan?

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Apakah Masih Mungkin Mengalahkan PDI Perjuangan di Tabanan?

Apakah Masih Mungkin Mengalahkan PDI Perjuangan di Tabanan?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co