13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

BEMBENG, DARI SIGAR KE TUKAD BANGKA || Bagian terakhir dari tiga tulisan

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
December 15, 2020
in Khas
BEMBENG, DARI SIGAR KE TUKAD BANGKA || Bagian terakhir dari tiga tulisan

Warga Banjar Gelulung Sukawati Gianyar di Tukad Bembeng [Foto=foto Sukaya Sukawati]

PENGANTAR:

Tukad Bembeng di kawasan Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar, Bali merupakan salah satu sungai yang sudah puluhan tahun terlupakan. Sejak masuknya air PDAM ke desa tersebut pada tahun 1980 sungai ini seperti tidak lagi dibutuhkan, terkucil di halaman belakang  desa, tak tersentuh.  Hal itu membuat kondisinya sangat menyedihkan, kumuh, liar, rusak dan dangkal karena ditunggangi sampah yang meruah.  Namun, sejak beberapa bulan lalu muncul antusiasme dalam jiwa anak muda banjar ini.  Merasa sedih melihat kondisi sungai, mereka memutuskan untuk memperbaiki keadaan.  Di bawah koordinator I Putu Dwipayana yang juga Ketua Sekaa Taruna Dharma Sentana Banjar Gelulung, para pemuda yang tergabung dalam organisasi Gepala atau Gelulung Pecinta Alam mulai bergotong royong setiap hari Minggu, sekaligus mengisi waktu di tengah pandemi, untuk memulihkan kelestarian Tukad Bembeng (Redaksi).

Tukad Bembeng, Gelulung, Sukawati

___

MENURUT cerita orang-orang tua, Tukad Bembeng itu tidak hanya tenget tapi juga memiliki kesucian secara niskala. Banyak cerita dari masa lalu menguatkan hal ini.

“Almarhum Pekak Mangku pernah bilang, dahulu hingga tahun 70-an, kesucian Tukad Bembeng sangat terasa auranya,” kata Made Sarjana sewaktu kami ngobrol di tengah aktifitas bersih2 Tukad Bembeng, hari Minggu. Hanya saja, kesucian Bembeng tidak terekspos di masyarakat, terutama di kalangan warga Banjar Gelulung, sebab perhatian warga kala itu hanya fokus pada kehidupan bertani, dan pemanfaatan tukad ini pun hanya berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari. “Tapi potensi kesuciannya tetap ada karena sifatnya alamiah,” sambung Made Sarjana.

Dulu, sejumlah orang tua memang mengatakan Tukad Bembeng memiliki kekuatan suci walaupun hanya lewat cerita sepintas lalu sebagai obrolan pengisi waktu senggang di warung kopi.

Jika benar demikian, mungkin Bembeng bisa diangggap sebagai tungabhadra, yakni sumber kesucian yang mengalir tanpa batas. Tunga itu artinya tak terbatas, sedangkan bhadra, kesucian. Namun kesucian Bembeng itu sifatnya tersembunyi, halus, samar-samar, sehingga tidak mudah dipahami orang awam.

“Tidak setiap orang bisa melihat dan merasakan kesucian Bembeng. Hanya orang-orang tertentu saja yang tahu,” kata Made Sarjana menirukan cerita orang tua dulu.

Menurut Sarjana, sebagai orang awam, dirinya tidak dapat menggambarkan dengan lugas apa yang dimaksud kesucian Bembeng tersebut. Ia hanya menerka-nerka saja berdasarkan ingatan pada cerita orang-orang tua.

Kabar tentang kesucian Bembeng ini juga dibenarkan oleh Ketut Gde Suaryadala. Dia masih ingat cerita di masa kecilnya yang beredar di kalangan terbatas bahwa dahulu banyak orang dari luar desa, seperti para penekun ilmu kebatinan, pergi ke Bembeng pada malam-malam tertentu, meskipun tidak ada yang tahu ritual apa yang mereka kerjakan di Bembeng karena semuanya berlangsung secara rahasia, diam-diam dan silib di tengah kegelapan malam. Mungkin mereka ngeregepan, malukat, menyepi, “nyeraya”, mencari berkah, atau lainnya.

“Tabe pakulun, kalau tidak salah, Nang Tut Mindring  pernah bilang, orang-orang yang pergi ke Bembeng itu adalah para penekun ilmu kebatinan, ilmu putih, calon sulinggih atau semacam itu,” ujar Suaryadala.

Nyoman Dwipa, yang berprofesi sebagai guru, ikut menguatkan cerita ini, katanya, “Nanang saya pernah bilang, pada tahun 70-an sering ada orang dari jauh datang malam-malam melakukan ritual di Tukad Bembeng, ada Cokorda dari Ubud, ada juga balian dari daerah Blahbatuh. Mungkin mereka melukat atau mencari taksu di sini.”

Lalu bagaimana bentuk kesucian Tukad Bembeng itu, bagaimana cara orang-orang memanfaatkan kecuciannya?

Made Sarjana menuturkan, petala Pekak Cekol pernah bilang kalau Tegal Kisid itu punya nama lain yakni Tegal Sigar. Selama ini disebut Tegal Kisid semata untuk kemudahan komunikasi karena tegalan ini memang milik I Kisid. Sekarang pemiliknya telah berganti sehingga tidak pas lagi dinamakan Tegal Kisid.

“Mungkin sekarang waktunya kita memakai nama aslinya, yaitu Tegal Sigar,” kata Made Sarjana.

Sigar artinya siag, pecah, retak. Tegal ini seperti delta di tengah sungai. Diduga di bawah tegal ini ada struktur atau lapisan batu besar yang sejak masa kuno menghalangi aliran air sungai sehingga secara alami sungai membuat aliran baru ke sisi kiri dan kanannya seperti adanya sekarang.

Pecahnya aliran sungai ini yang disebut dengan sigar atau siag, membentuk cagak, menjadi dua aliran, yang ke barat melewati Penga, yang ke timur melalui Batan Gatep atau Batan Celagi. Kedua aliran ini kemudian bertemu lagi di ujung selatan tegal, yang disebut Paluh. Setelah Paluh, terus ke hilir yang dikenal dengan nama Tukad Bangka atau sungai mati.

Delta yang memecah sungai ini kemudian dikenal dengan Tegal Sigar. Namun nama ini terlupakan karena orang-orang lebih akrab menyebutnya dengan nama Tegal Kisid yang mengacu kepada nama pemilik tanah tegal ini, yakni I Kisid.

Menurut penerawangan beberapa orang, konon terpisahnya aliran sungai inilah yang membangkitkan samacam energi, kekuatan, atau aura kesucian Bembeng secara niskala.

Sepintas, Tukad Bembeng dengan dua alirannya ini diibaratkan tubuh dengan tiga nadi utama, yang dalam yoga dikenal dengan istilah Sushumna, Ida, dan Pingala.
Aliran utama Bembeng dianggap Sushumna, aliran yang ke kiri atau Batan Celagi sebagai Ida, sedangkan yang ke kanan atau ke Penga adalah Pingala.

Dalam yoga, ketiga nadi itu merupakan saluran energi prana utama dalam tubuh yang pengaruhnya sangat besar bagi kehidupan, baik fisik maupun spiritual.

Ketiga nadi dari Tukad Bembeng ini dianggap semacam saluran prana yang secara filosofis mengalirkan vitalitas kesucian sebagai produk dari “yoga semesta” atau alam.

Jro Gde Kacut, seorang yang dikenal cukup lama malang-melintang dan lalu-lalang di dunia spiritual, mengatakan ada sejumlah titik yang merupakan orbital energi kesucian dari Bembeng itu.

Warga Banjar Gelulung, Sukawati Gianyar, gotong royong memulihkan kelestarian Tukad Bembeng


Menurut penerawangan Jro Gde Kacut, titik-titik tersebut antara lain ada tepat di sibakan aliran sungai, di utara Tegal Sigar. Titik berikutnya di wilayah barat tegal, yakni di Penga, juga di timur tegal atau sekitar Batan Celagi. Terakhir ada di Paluh, di selatan tegal. 

“Di empat titik tersebut saya lihat pancaran energi sakralnya cukup cemerlang, meskipun relatif masih tertidur, barangkali karena belum banyak dimanfaatkan dan dieksplorasi,” katanya.

Melihat bentuk energi Bembeng yang demikian, menurut Made Sarjana itu sangat bagus untuk aktifitas spiritual yang berkaitan dengan pencerahan rohani, kesehatan fisik, kesuburan atau meraih kebahagiaan.

Energi Sushumna, Ida, dan pingala  Bembeng ini adalah tungabhadra atau kekuatan suci yang mengalir tanpa batas, yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan hidup.

Melalui teknik interaksi atau aktivitas tertentu, energi suci tersebut akan dapat membantu memperbaiki, memurnikan, atau menyelaraskan energi tubuh kita untuk tujuan pencerahan lahir-batin.

“Kalau diperhatikan, orang-orang tua dulu yang intens berinteraksi dengan Bembeng, rata-rata kualitas kesehatan mereka sangat baik. Saya percaya itu karena pengaruh energi Bembeng,” ujar Made Sarjana.

Penamaan bagian-bagian dari Tukad Bembeng, seperti Sigar, Penga, Paluh, Tukad Bangka, dan lainnya itu sesungguhnya menyiratkan potensi kesucian yang dimiliki sungai ini.

Paluh, misalnya, menurut Sarjana kata itu bentukan dari “paan iluh” atau “paha perempuan”. Ini mengasosiasikan yoni, bagian dari lingga, sebagai simbol kemakmuran, kesuburan, keindahan, kesejahteraan, dsb.

Begitu juga dengan Tukad Bangka atau sungai mati, sepintas itu seperti berkesan buruk, tapi sebenarnya tidak demkian. Dalam konteks kesucian Bembeng,  Tukad Bangka itu secara spiritual bermakna sebagai jalan mencapai moksa, atau moksartham jagadhita ya ca iti dharma, yakni mencapai kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat.

“Jadi manfaat energi Bembeng bagi kita adalah di Sigar sebagai trigger pencerah rohani atau pikiran. Penga dan Batan Celagi untuk menyelaraskan energi positif dan negatif lahir-batin kita,  di Paluh kita menghayati keindahan atau kemuliaan hidup. Dan itu semua adalah jalan untuk mencapai moksa yang disimbolkan dengan nama Tukad Bangka. Begitu kira-kira,” tutup Made Sarjana. [T][***]

BACA JUGA:

  • BEMBENG YANG NGEMBENG || Bagian pertama dari tiga tulisan
  • BEMBENG, TAKSU YANG TENGET || Bagian kedua dari tiga tulisan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Beda-Beda Proses Menciptakan Puisi || Catatan Workshop Siar-Siur Kalangan

Next Post

Apakah Masih Mungkin Mengalahkan PDI Perjuangan di Tabanan?

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

Read moreDetails
Next Post
Apakah Masih Mungkin Mengalahkan PDI Perjuangan di Tabanan?

Apakah Masih Mungkin Mengalahkan PDI Perjuangan di Tabanan?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co