6 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

BEMBENG, TAKSU YANG TENGET || Bagian kedua dari tiga tulisan

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
December 15, 2020
in Khas
BEMBENG, TAKSU YANG TENGET || Bagian kedua dari tiga tulisan

Warga Banjar Gelulung Sukawati Gianyar di Tukad Bembeng [Foto=foto Sukaya Sukawati]

PENGANTAR:

Tukad Bembeng di kawasan Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar, Bali merupakan salah satu sungai yang sudah puluhan tahun terlupakan. Sejak masuknya air PDAM ke desa tersebut pada tahun 1980 sungai ini seperti tidak lagi dibutuhkan, terkucil di halaman belakang  desa, tak tersentuh.  Hal itu membuat kondisinya sangat menyedihkan, kumuh, liar, rusak dan dangkal karena ditunggangi sampah yang meruah.  Namun, sejak beberapa bulan lalu muncul antusiasme dalam jiwa anak muda banjar ini.  Merasa sedih melihat kondisi sungai, mereka memutuskan untuk memperbaiki keadaan.  Di bawah koordinator I Putu Dwipayana yang juga Ketua Sekaa Taruna Dharma Sentana Banjar Gelulung, para pemuda yang tergabung dalam organisasi Gepala atau Gelulung Pecinta Alam mulai bergotong royong setiap hari Minggu, sekaligus mengisi waktu di tengah pandemi, untuk memulihkan kelestarian Tukad Bembeng (Redaksi).

Warga Banjar Gelulung, Sukawati Gianyar, gotong royong memulihkan kelestarian Tukad Bembeng

______

BEMBENG itu bukan tukad biasa. Tidak main-main, Bembeng adalah tali taksu, penghubung dan pengikat desa-desa tua di sepanjang alirannya sebagai entitas penjaga spirit Bali.

Ibarat sabuk, hulu Tukad Bembeng yang ada di Ubud adalah gesper, disimbolkan dengan keberadaan Pura Gunung Raung di Taro, sedangkan hilirnya yang berakhir di Cengcengan, Sukawati, berupa campuhan dng Tukad Wos itu, laksana ujung sabuk.

Bila campuhan Cengcengan dihidupkan sebagai satu simpul spiritual, ditanam panca datu, sebagai Pura Campuhan Cengcengan, secara niskala ini akan terhubung dengan pura di hulu sungai. Itu melambangkan pertemuan dua kutub taksu, antara hulu dengan hilir, luan-teben, positif-negatif, kaja-kelod, seperti ujung sabuk yang terpasang pada gespernya dan nemugelang.

Pertemuan spirit hulu dengan hilir ini akan memancarkan spiral taksu yang terus bergerak, berputar, mengalir bak tarian kosmis Siwanataraja. Spirit taksu alami tersebut akan memberi energi luar biasa yang tanpa jeda bagi komunitas dan lingkungan di radius Tukad Bembeng.

Orang-orang yang tumbuh di sepanjang aliran Bembeng bukanlah kebetulan belaka mukim di sana. Mereka orang-orang terpilih, secara genetis dianugerahi beragam bakat dan spirit yang kuat sebagai penerima taksu yang tenget tukad ini.

Ini adalah japamala. Bembeng ibarat tali, sedangkan wilayah, desa, komunitas di sekitarnya sebagai biji-biji genitri. Bembeng dan lingkungannya adalah rangkaian gelang genitri maya yang memutar taksu satyam, siwam, sundaram.

Wilayah yang terhubung oleh garis Tukad Bembeng, di antaranya Ubud, Tebesaya atau Padangtegal, Peliatan, Pengosekan, Mas, Lodtunduh, Silungan, Batuan, Puaya, Sukawati atau Banjar Gelulung adalah rumah bagi orang-orang istimewa dengan bakat spesial, karakter spesial, spirit spesial. Mereka entitas yang berbeda dibandingkan orang kebanyakan.

Mereka para seniman kehidupan yang tumbuh dari generasi ke generasi bersama spirit yang mengalir alami dari Tukad Bembeng. Mereka mengerti itu dan seharusnya dapat menghayatinya dengan baik.

Bila eksistensi Bembeng terganggu maka aliran taksu pun terganggu dan mempengaruhi harmoni kehidupan.

Di luar itu, Bembeng ibarat seorang ibu yang penuh kasih. Ibu yang memberi dan merawat. Itu sebabnya orang Gelulung selalu memandang Bembeng dengan takzim.

“Kita berhutang banyak pada Bembeng. Sebagian energi hidup yang mengaliri jiwa raga kita adalah datang dari tukad ini.” kata Nyoman Arjana Putra, warga Gelulung yang juga seorang guru.

Secara alami, wilayah Bembeng-nya Gelulung mulai dari tikungan di pojok barat carik Gagalan, terus ke “bulakan” tempat sungai memecah diri jadi dua, satunya ke Penga dan satu lagi ke batan Celagi, lalu kedua cabang ini menyatu lagi di lubuk Paluh. Ya, inilah yang secara alami dianggap sebagai kawasan Bembeng dari Banjar Gelulung.

Selepas Paluh, Bembeng lanjut ke hilir yang galib disebut Tukad Bangka yang merupakan wilayah Banjar Dlodtangluk dan Banjar Tebuana hingga berakhir di Cengcengan.

Bembeng-nya Gelulung memang tidak panjang namun inilah bagian terindah dari lanskap Tukad Bembeng dan mudah diakses.

Di sini tempat ia memecah diri jadi dua aliran, yang secara gaib menjadikan dirinya tukad yang bukan saja elok tapi juga mengandung mistik. Ia tenget namun tidak menggertak.  Ia syahdu tetapi tetap dalam aura alaminya yg kuno dan misterius.

“Bembeng itu seperti ibu yg berwibawa namun hatinya penuh welas asih.” kata Ketut Gde Suaryadala, seorang palingsir banjar yang juga pejabat di Pemkot Denpasar.

Sejak dulu, Bembeng adalah tempat bagi warga menggantungkan sebagian hidupnya. Bila ada yang menikah, ritual mandinya akan dilakukan di sini. Bembeng jadi salah satu saksi bagi warga yang berikar membangun mahligai rumah tangga.

Ibu-ibu yang sebel karena habis melahirkan akan pergi menyucikan diri ke Bembeng dengan membawa sarana tiyuk puntul misi bawang sebagai pasikepan. Setelah beberapa kali ‘malukat’, mandi, keramas, berendam, mencuci pakaian atau kainnya sendiri, mereka akan merasa suci kembali dan kondisinya pulih dengan cepat, seakan tukad Bembeng telah menyerap dan menghanyutkan perasaan sebel mereka.

Bembeng yang menyediakan pasir terbaik dan batu koral untuk warga yang membuat bangunan rumah atau tempat suci.

Bembeng menyediakan air untuk kebutuhan hidup sehari-hari, untuk mandi, cuci maupun masak, juga buat hewan ternak.

Dulu, air minum warga berasal dari tukad ini, walau harus disaring dulu dengan topo atau gerombong kecil agar jadi air anakan yang layak minum. Toponya dibuat oleh Nang Retig dengan menggunakan batu padas terbaik yang diambil dari dinding Tukad Bembeng untuk menghasilkan air minum yang segar dan sejuk.

Sebagian sarana untuk upacara adat seperti buah2an dan daun-daunan tertentu, juga ikan, yuyu, udang dan binatang air lainnya juga diperoleh dari tukad ini.

“Bembemg adalah taman bermain yang paling lengkap bagi anak-anak Gelulung di masa lalu. Dia yang mengajari kami berbagai keterampilan survival,” kata Ketut Gde Suatyadala, “Bembeng yang mengajari kami berenang, menyelam, menangkap ikan dengan tangan kosong atao ngogo, membikin air minum dengan cara membuat suwukan di pasir, memancing, nyau, nyuluh ikan pada malam hari,” sambungnya.

Tukad Bembeng adalah tempat belajar bagi anak-anak setempat untuk bersahabat dengan alam, belajar mengenal beragam nama pohon, tanaman obat, tanaman upakara, belajar memanjat pohon mencari mangga atau juwet. Mengenali jenis daun-daun tertentu yang bisa dijadikan sayur unik, seperti don tabia bun, don bulunboon atau lainnya. Di Bembeng pula mereka belajar membaca perangai alam, misalnya mengenali tanda-tanda bakal ada air bah datang dari hulu.

Tukad Bembeng, Sukawati, Gianyar


Menurut Suaryadala, Bembeng memiliki tanah legit terbaik yang dulu sering dipakai anak-anak berlatih membuat seni kerajinan tangan untuk mengasah kreatifitas seni yang menghaluskan jiwa.

“Di sini kami belajar berinteraksi dengan binatang liar yang berbahaya seperti ular, dan sejak dini melatih adrenalin dengan terjun ke air dari tebing tinggi sambil mandi,” cerita Nyoman Arjana Putra.

Menurut Arjana, hingga tahun 1980 setiap anak dari Banjar Gelulung pasti punya ikatan emosi yang erat dengan Tukad Bembeng sebab mereka tumbuh di sini.

Dan tentu saja Bembeng memiliki gaibnya yang tenget. Inilah yang  dianggap menjaga dan merawat aura kesucian Bembeng. Sangat banyak kisah datang dari alam gaibnya dan sebagian warga banjar pernah mengalami dan berinteraksi dengan Si Penjaga Bembeng itu.

“Tapi saya tak berniat membabar cerita atau pengalaman tentang gaib Bembeng tersebut. Biarlah itu tetap sebagai kisah tenget yang samar-samar menggema di pangkung hati kita masing-masing.  Tak ada yg perlu diperjelas. Tak juga untuk ditakuti. Kami hanya perlu tetap menjaga rasa hormat pada Bembeng sebagaimana menghormati ibu yang telah memberikan banyak hal dalam hidup kami,” bisik Ketut Gde Suaryadala [T][***]

BACA JUGA:

  • BEMBENG YANG NGEMBENG || Bagian pertama dari tiga tulisan
  • BEMBENG, DARI SIGAR KE TUKAD BANGKA || Bagian terakhir dari tiga tulisan

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kedudukan Perempuan

Next Post

Mengapa Tamba-Ipat (Bisa) Menang Pada Pilkada Jembrana? || Winasa Effect? Ah…

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails
Next Post
Mengapa Tamba-Ipat (Bisa) Menang Pada Pilkada Jembrana? || Winasa Effect? Ah…

Mengapa Tamba-Ipat (Bisa) Menang Pada Pilkada Jembrana? || Winasa Effect? Ah…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Monyet Cerdik dan Babi Hutan | Dongeng dari Jepang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika
Bahasa

Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika

PERNAHKAH Anda mendengar orang mengatakansepakat seribu persen? Saya sendiri kerap mendengar pejabat, figur publik, atau teman sendiri berteriak sepakat seribu...

by I Made Sudiana
May 5, 2026
Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri
Esai

Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri

- Sebuah Refleksi tentang Komodifikasi Kesunyian dan Pergeseran Makna Ruang Sakral BALI kini tengah menjual sesuatu yang paling mahal di...

by Nur Kamilia
May 5, 2026
Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur
Budaya

Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur

DESA Adat Batur melaksanakan upacara ngruwak sebagai langkah awal pembangunan Cihna (tanda) Titik Nol Batur Let (pusat permukiman Desa Adat...

by Nyoman Budarsana
May 4, 2026
Aoroville: Kota Eksperimental
Esai

Aoroville: Kota Eksperimental

Pertemuan yang Mengubah Arah: Mirra Alfassa dan Sri Aurobindo Ada pertemuan-pertemuan dalam sejarah yang tidak sekadar mempertemukan dua individu, tetapi...

by Agung Sudarsa
May 4, 2026
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh
Persona

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas
Panggung

Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas

“Ogoh-ogoh itu bukan lagi kesenian musiman. Tetapi kesenian yang dikerjakan sepanjang masa.” Kalimat pembuka itu meluncur dari Dr. I Made...

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
Antara Proses dan Hasil: Cara Pemain Menentukan Nilai Akun di Valorant
Gaya

Antara Proses dan Hasil: Cara Pemain Menentukan Nilai Akun di Valorant

TIDAK semua pemain menikmati perjalanan yang sama dalam game. Ada yang menghargai setiap tahap perkembangan, ada juga yang lebih fokus...

by tatkala
May 4, 2026
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan
Ulas Rupa

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

by Made Chandra
May 4, 2026
Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial
Esai

Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial

SAYA perlu memulai tulisan ini dengan satu catatan kecil. Saya meminjam sebuah gagasan dari Pramoedya Ananta Toer, bukan sebagai hiasan...

by Angga Wijaya
May 4, 2026
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari
Cerpen

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

by Kadek Windari
May 4, 2026
Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo
Puisi

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan...

by Kim Young Soo
May 3, 2026
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja
Khas

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

by Gading Ganesha
May 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co