2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

BEMBENG, TAKSU YANG TENGET || Bagian kedua dari tiga tulisan

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
December 15, 2020
in Khas
BEMBENG, TAKSU YANG TENGET || Bagian kedua dari tiga tulisan

Warga Banjar Gelulung Sukawati Gianyar di Tukad Bembeng [Foto=foto Sukaya Sukawati]

PENGANTAR:

Tukad Bembeng di kawasan Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar, Bali merupakan salah satu sungai yang sudah puluhan tahun terlupakan. Sejak masuknya air PDAM ke desa tersebut pada tahun 1980 sungai ini seperti tidak lagi dibutuhkan, terkucil di halaman belakang  desa, tak tersentuh.  Hal itu membuat kondisinya sangat menyedihkan, kumuh, liar, rusak dan dangkal karena ditunggangi sampah yang meruah.  Namun, sejak beberapa bulan lalu muncul antusiasme dalam jiwa anak muda banjar ini.  Merasa sedih melihat kondisi sungai, mereka memutuskan untuk memperbaiki keadaan.  Di bawah koordinator I Putu Dwipayana yang juga Ketua Sekaa Taruna Dharma Sentana Banjar Gelulung, para pemuda yang tergabung dalam organisasi Gepala atau Gelulung Pecinta Alam mulai bergotong royong setiap hari Minggu, sekaligus mengisi waktu di tengah pandemi, untuk memulihkan kelestarian Tukad Bembeng (Redaksi).

Warga Banjar Gelulung, Sukawati Gianyar, gotong royong memulihkan kelestarian Tukad Bembeng

______

BEMBENG itu bukan tukad biasa. Tidak main-main, Bembeng adalah tali taksu, penghubung dan pengikat desa-desa tua di sepanjang alirannya sebagai entitas penjaga spirit Bali.

Ibarat sabuk, hulu Tukad Bembeng yang ada di Ubud adalah gesper, disimbolkan dengan keberadaan Pura Gunung Raung di Taro, sedangkan hilirnya yang berakhir di Cengcengan, Sukawati, berupa campuhan dng Tukad Wos itu, laksana ujung sabuk.

Bila campuhan Cengcengan dihidupkan sebagai satu simpul spiritual, ditanam panca datu, sebagai Pura Campuhan Cengcengan, secara niskala ini akan terhubung dengan pura di hulu sungai. Itu melambangkan pertemuan dua kutub taksu, antara hulu dengan hilir, luan-teben, positif-negatif, kaja-kelod, seperti ujung sabuk yang terpasang pada gespernya dan nemugelang.

Pertemuan spirit hulu dengan hilir ini akan memancarkan spiral taksu yang terus bergerak, berputar, mengalir bak tarian kosmis Siwanataraja. Spirit taksu alami tersebut akan memberi energi luar biasa yang tanpa jeda bagi komunitas dan lingkungan di radius Tukad Bembeng.

Orang-orang yang tumbuh di sepanjang aliran Bembeng bukanlah kebetulan belaka mukim di sana. Mereka orang-orang terpilih, secara genetis dianugerahi beragam bakat dan spirit yang kuat sebagai penerima taksu yang tenget tukad ini.

Ini adalah japamala. Bembeng ibarat tali, sedangkan wilayah, desa, komunitas di sekitarnya sebagai biji-biji genitri. Bembeng dan lingkungannya adalah rangkaian gelang genitri maya yang memutar taksu satyam, siwam, sundaram.

Wilayah yang terhubung oleh garis Tukad Bembeng, di antaranya Ubud, Tebesaya atau Padangtegal, Peliatan, Pengosekan, Mas, Lodtunduh, Silungan, Batuan, Puaya, Sukawati atau Banjar Gelulung adalah rumah bagi orang-orang istimewa dengan bakat spesial, karakter spesial, spirit spesial. Mereka entitas yang berbeda dibandingkan orang kebanyakan.

Mereka para seniman kehidupan yang tumbuh dari generasi ke generasi bersama spirit yang mengalir alami dari Tukad Bembeng. Mereka mengerti itu dan seharusnya dapat menghayatinya dengan baik.

Bila eksistensi Bembeng terganggu maka aliran taksu pun terganggu dan mempengaruhi harmoni kehidupan.

Di luar itu, Bembeng ibarat seorang ibu yang penuh kasih. Ibu yang memberi dan merawat. Itu sebabnya orang Gelulung selalu memandang Bembeng dengan takzim.

“Kita berhutang banyak pada Bembeng. Sebagian energi hidup yang mengaliri jiwa raga kita adalah datang dari tukad ini.” kata Nyoman Arjana Putra, warga Gelulung yang juga seorang guru.

Secara alami, wilayah Bembeng-nya Gelulung mulai dari tikungan di pojok barat carik Gagalan, terus ke “bulakan” tempat sungai memecah diri jadi dua, satunya ke Penga dan satu lagi ke batan Celagi, lalu kedua cabang ini menyatu lagi di lubuk Paluh. Ya, inilah yang secara alami dianggap sebagai kawasan Bembeng dari Banjar Gelulung.

Selepas Paluh, Bembeng lanjut ke hilir yang galib disebut Tukad Bangka yang merupakan wilayah Banjar Dlodtangluk dan Banjar Tebuana hingga berakhir di Cengcengan.

Bembeng-nya Gelulung memang tidak panjang namun inilah bagian terindah dari lanskap Tukad Bembeng dan mudah diakses.

Di sini tempat ia memecah diri jadi dua aliran, yang secara gaib menjadikan dirinya tukad yang bukan saja elok tapi juga mengandung mistik. Ia tenget namun tidak menggertak.  Ia syahdu tetapi tetap dalam aura alaminya yg kuno dan misterius.

“Bembeng itu seperti ibu yg berwibawa namun hatinya penuh welas asih.” kata Ketut Gde Suaryadala, seorang palingsir banjar yang juga pejabat di Pemkot Denpasar.

Sejak dulu, Bembeng adalah tempat bagi warga menggantungkan sebagian hidupnya. Bila ada yang menikah, ritual mandinya akan dilakukan di sini. Bembeng jadi salah satu saksi bagi warga yang berikar membangun mahligai rumah tangga.

Ibu-ibu yang sebel karena habis melahirkan akan pergi menyucikan diri ke Bembeng dengan membawa sarana tiyuk puntul misi bawang sebagai pasikepan. Setelah beberapa kali ‘malukat’, mandi, keramas, berendam, mencuci pakaian atau kainnya sendiri, mereka akan merasa suci kembali dan kondisinya pulih dengan cepat, seakan tukad Bembeng telah menyerap dan menghanyutkan perasaan sebel mereka.

Bembeng yang menyediakan pasir terbaik dan batu koral untuk warga yang membuat bangunan rumah atau tempat suci.

Bembeng menyediakan air untuk kebutuhan hidup sehari-hari, untuk mandi, cuci maupun masak, juga buat hewan ternak.

Dulu, air minum warga berasal dari tukad ini, walau harus disaring dulu dengan topo atau gerombong kecil agar jadi air anakan yang layak minum. Toponya dibuat oleh Nang Retig dengan menggunakan batu padas terbaik yang diambil dari dinding Tukad Bembeng untuk menghasilkan air minum yang segar dan sejuk.

Sebagian sarana untuk upacara adat seperti buah2an dan daun-daunan tertentu, juga ikan, yuyu, udang dan binatang air lainnya juga diperoleh dari tukad ini.

“Bembemg adalah taman bermain yang paling lengkap bagi anak-anak Gelulung di masa lalu. Dia yang mengajari kami berbagai keterampilan survival,” kata Ketut Gde Suatyadala, “Bembeng yang mengajari kami berenang, menyelam, menangkap ikan dengan tangan kosong atao ngogo, membikin air minum dengan cara membuat suwukan di pasir, memancing, nyau, nyuluh ikan pada malam hari,” sambungnya.

Tukad Bembeng adalah tempat belajar bagi anak-anak setempat untuk bersahabat dengan alam, belajar mengenal beragam nama pohon, tanaman obat, tanaman upakara, belajar memanjat pohon mencari mangga atau juwet. Mengenali jenis daun-daun tertentu yang bisa dijadikan sayur unik, seperti don tabia bun, don bulunboon atau lainnya. Di Bembeng pula mereka belajar membaca perangai alam, misalnya mengenali tanda-tanda bakal ada air bah datang dari hulu.

Tukad Bembeng, Sukawati, Gianyar


Menurut Suaryadala, Bembeng memiliki tanah legit terbaik yang dulu sering dipakai anak-anak berlatih membuat seni kerajinan tangan untuk mengasah kreatifitas seni yang menghaluskan jiwa.

“Di sini kami belajar berinteraksi dengan binatang liar yang berbahaya seperti ular, dan sejak dini melatih adrenalin dengan terjun ke air dari tebing tinggi sambil mandi,” cerita Nyoman Arjana Putra.

Menurut Arjana, hingga tahun 1980 setiap anak dari Banjar Gelulung pasti punya ikatan emosi yang erat dengan Tukad Bembeng sebab mereka tumbuh di sini.

Dan tentu saja Bembeng memiliki gaibnya yang tenget. Inilah yang  dianggap menjaga dan merawat aura kesucian Bembeng. Sangat banyak kisah datang dari alam gaibnya dan sebagian warga banjar pernah mengalami dan berinteraksi dengan Si Penjaga Bembeng itu.

“Tapi saya tak berniat membabar cerita atau pengalaman tentang gaib Bembeng tersebut. Biarlah itu tetap sebagai kisah tenget yang samar-samar menggema di pangkung hati kita masing-masing.  Tak ada yg perlu diperjelas. Tak juga untuk ditakuti. Kami hanya perlu tetap menjaga rasa hormat pada Bembeng sebagaimana menghormati ibu yang telah memberikan banyak hal dalam hidup kami,” bisik Ketut Gde Suaryadala [T][***]

BACA JUGA:

  • BEMBENG YANG NGEMBENG || Bagian pertama dari tiga tulisan
  • BEMBENG, DARI SIGAR KE TUKAD BANGKA || Bagian terakhir dari tiga tulisan

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kedudukan Perempuan

Next Post

Mengapa Tamba-Ipat (Bisa) Menang Pada Pilkada Jembrana? || Winasa Effect? Ah…

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Mengapa Tamba-Ipat (Bisa) Menang Pada Pilkada Jembrana? || Winasa Effect? Ah…

Mengapa Tamba-Ipat (Bisa) Menang Pada Pilkada Jembrana? || Winasa Effect? Ah…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co