2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengapa Tamba-Ipat (Bisa) Menang Pada Pilkada Jembrana? || Winasa Effect? Ah…

Eka Prasetya by Eka Prasetya
December 15, 2020
in Opini
Mengapa Tamba-Ipat (Bisa) Menang Pada Pilkada Jembrana? || Winasa Effect? Ah…

Ilustrasi diolah dari sumber Google dan tatkala.co

PASANGAN Calon Bupati dan Wakil Bupati Jembrana, I Nengah Tamba dan I Gede Ngurah Patriana Krisna, secara mengejutkan memenangkan Pemilihan Bupati (Pilbup) Jembrana 2020. Berdasar data sementara di KPU,  Tamba-Ipat memperoleh 78.017 suara atau 52 persen, sementara Kembang-Sugiasa mendapat 72.001 suara atau 48 persen. Data itu dihitung dari  521 TPS dari 640 TPS yang ada di Jembrana. Meski hitungan itu belum 100 persen, namun kemenangan Tamba-Ipat tampaknya tinggal disahkan saja.

Kemenangan itu memang mengejutkan, karena berdasarkan hitung-hitungan di atas kertas, semestinya pasangan Made Kembang Hartawan dan I Ketut Sugiasa yang memenangkan kontestasi.

Mari kita bicarakan pasangan Made Kembang Hartawan dan I Ketut Sugiasa terlebih dulu. Pasangan yang kerap disebut sebagai Paket Bangsa ini, merupakan politisi moncer.

Made Kembang Hartawan merupakan politisi asal Desa Pangyangan. Ia sempat menjabat sebagai Ketua DPRD Jembrana selama dua periode. Yakni pada periode 2004-2009 dan periode 2009-2014. Pada 2010, ia maju sebagai calon Wakil Bupati Jembrana, mendampingi I Putu Artha. Kembang kemudian menduduki kursi Wakil Bupati Jembrana sejak 2010 hingga 2020.

Sementara pendampingnya adalah I Ketut Sugiasa. Sugiasa merupakan politisi yang benar-benar berangkat dari nol. Ketokohan Sugiasa sangat dikenal. Pada periode 2009-2014 ia akhirnya berhasil masuk ke gedung dewan di Jalan Surapati, Jembrana.

Selanjutnya pada 2010, ia menggantikan posisi Kembang Hartawan sebagai Ketua DPRD Jembrana. Sugiasa terus mempertahankan posisi tersebut hingga tahun 2019. Pada Pemilu 2019 ia maju ke DPRD Bali dan berhasil merebut satu kursi di sana.

Selain itu paket ini juga didukung oleh partai yang dominan di parlemen. Paket Bangsa diusung oleh PDI Perjuangan dan Partai Hanura. PDI Perjuangan menguasai 18 kursi, sementara Partai Hanura menguasai 1 kursi di DPRD Jembrana. Belasan kursi itu setara 62.123 suara yang diperoleh pada Pemilu 2019 lalu.

Berbeda dengan pasangan I Nengah Tamba dan I Gede Ngurah Patriana Krisna. I Nengah Tamba merupakan politisi yang baru saja keok pada Pemilu 2019 lalu. Ia gagal mempertahankan kursinya di DPRD Bali. Sementara Patriana Krisna hanya tokoh independen. Patriana lebih banyak beraktivitas di Kota Kediri, sehingga secara popularitas kurang begitu dikenal. Jabatannya pun hanya setingkat kepala seksi (kasi). Ditambah lagi Patriana Krisna sempat kalah pada kontestasi Pilkada Jembrana pada tahun 2010 lalu.

Dari hitung-hitungan politik, pasangan yang kerap disebut Paket Tepat ini memang didukung oleh banyak partai. Tercatat ada 5 partai parlemen yang mengusung paket ini. Masing-masing Partai Demokrat, Partai Gerindra, Partai Golkar, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Namun partai-partai ini bukan partai dominan di parlemen. Mereka hanya menguasai 16 kursi. Meski mengumpulkan 16 kursi, mereka hanya mengumpulkan 33.082 suara pada Pemilu 2019 lalu.

Saya sendiri termasuk orang yang optimistis paket Bangsa akan melenggang sebagai pemenang kontestasi dengan relative mudah. Hitung-hitungan di atas kertas, Paket Bangsa sudah demikian dominan.

Mereka merupakan pasangan petahana yang bisa memanfaatkan dana hibah, bansos, maupun program-program pemerintahan untuk mempromosikan agenda politik yang akan mereka songsong. Pasangan ini juga memiliki kuasa menyisipkan agenda politik maupun pesan politik terselubung pada aparatur sipil serta aparatur pemerintahan di Kabupaten Jembrana.

Pun saat sesi debat pasangan calon, saya melihat paket Bangsa begitu dominan. Mereka sangat menguasai persoalan yang ditanyakan. Pasangan ini juga memiliki mesin partai yang sangat solid serta relawan yang loyal. Banyak rekan-rekan saya yang secara sukarela bergabung menjadi relawan. Tentu sangat mengejutkan bila kemudian paket ini dikabarkan kalah pada ajang kontestasi Pilbup Jembrana.

Winasa Effect

Diakui atau tidak, ketokohan Winasa sangat memengaruhi proses kontestasi di Jembrana. Meski Winasa mendekam di Rutan Negara, tapi foto-fotonya selalu muncul pada alat peraga kampanye pasangan Tepat. Sosok Winasa juga melekat dengan Patriana Krisna. Karena Winasa dan Patriana adalah ayah-anak.

Dulu saat Winasa berkuasa, masyarakat Jembrana begitu dimanjakan dengan berbagai layanan publik. Administrasi kependudukan gratis, SPP gratis, pengobatan gratis, sampai pemberian beasiswa bagi mahasiswa yang ber-KTP Jembrana.

Belakangan proses layanan kesehatan di Jembrana dirasa tak semudah dulu, ketika Jaminan Kesehatan Jembrana (JKJ) diterapkan oleh Winasa. Tidak pula semudah saat masih ada Jaminan Kesehatan Bali Mandara (JKBM).

Dulu masyarakat miskin cukup bawa kartu, datang ke dokter atau puskesmas terdekat, sudah dapat pelayanan. Ke rumah sakit pun tak masalah. Karena tetap gratis. Hal serupa juga terjadi pada era JKBM.

Sejak dua tahun terakhir, prosedur pelayanan kesehatan dirasa terlalu birokratis. Masyarakat harus berobat pada fasilitas kesehatan tingkat pertama lebih dulu, seperti puskesmas. Bisa juga ke praktik dokter pribadi, sepanjang dokter itu menerima BPJS. Bagaimana bila ingin langsung ke rumah sakit? Di sini letak masalahnya. Masyarakat harus mencari rujukan, dan ini dirasa sangat birokratis.

Akhirnya muncul nostalgia-nostalgia terkait program pada masa Winasa. Paket Tepat diharapkan bisa mewujudkan nostalgia tersebut. Apalagi pasangan ini membawa jargon-jargon Winasa, serta menghadirkan foto Winasa dalam APK.

Selain itu masalah hukum yang membelit Winasa juga memicu simpati tersendiri. Untuk diketahui, Winasa kini sudah mendekam di Rutan Negara untuk ketiga kalinya. Pertama tersangkut korupsi pengadaan mesin pupuk kompos, kedua terjerat beasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Teknologi Jembrana (STITNA) dan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Jembrana, terakhir tersandung korupsi perjalanan dinas.

Nah saat Winasa dijebloskan untuk ketiga kalinya, mulai muncul sikap kritis dari masyarakat. Mereka memandang ada “agenda tertentu” di balik kasus tersebut. Sehingga muncul sikap simpati dari masyarakat. Bila tidak bisa mengembalikan Winasa duduk sebagai penguasa, setidaknya sang putra mahkota bisa menjadi penguasa Jembrana.

Tapi perlu diingat, Patriana Krisna bukan I Gede Winasa. Posisinya pun hanya wakil bupati. Jadi tidak punya kuasa sebesar bupati. Selain itu setiap pemimpin punya gaya dan caranya sendiri. Berharap Patriana Krisna bisa memimpin seperti Winasa, tentu sebuah harapan yang berlebihan.

Menggarap Suara Minoritas

Jembrana merupakan daerah yang heterogen. Mengacu data statistik yang diterbitkan Pemerintah Kabupaten Jembrana, pada tahun 2016 lalu tercatat ada 322.256 orang penduduk. Dari ratusan penduduk itu, sebanyak 71,7 persen merupakan umat Hindu, 25,8 persen umat muslim, dan 2,5 persen lainnya pemeluk keyakinan lain.

Kondisi yang heterogen itu digarap serius oleh tim Patriana Krisna. Sejak beberapa tahun terakhir, di Jembrana terjadi polarisasi. Terutama sejak ada penyebutan istilah “dauh tukad” dan “dangin tukad”. Bagi minoritas, istilah-istilah itu dirasa sangat menyakitkan.

Di sisi lain Ipat sadar betul bahwa suara minoritas harus digarap. Ada potensi suara sekitar 80 ribu jiwa yang harus digarap secara serius. Apabila masyarakat minoritas ini bisa satu suara mendukung paket Tepat, tentu menjadi amunisi yang bagus.

Ipat juga memahami bagaimana bersikap sebagai minoritas. Sebab ia pernah berada di posisi itu, tatkala berkarir sebagai birokrat di Kota Kediri. Pendekatan minoritas dengan minoritas, menjadi jalan yang ampuh untuk meraup suara.

Ditambah lagi Ipat besar dan lama berkarir di Provinsi Jawa Timur. Ia dekat dengan kultur masyarakat muslim di wilayah Jawa Timur. Umat muslim Jembrana pun sangat dekat dengan kultur muslim di Jawa Timur. Mereka merasa nyaman dengan pendekatan yang dilakukan oleh Ipat.

Hal ini pun diakui oleh beberapa kawan dan keluarga saya yang punya hak pilih di Jembrana.

Pendekatan Kelompok Rantau

Komunitas perantau merupakan potensi suara yang harus digarap maksimal. Barangkali tak kurang dari 20 persen penduduk Jembrana, memilih merantau di Denpasar dan Badung. Ditambah lagi sebagian besar perantau merupakan generasi 1990-an. Mereka merasakan masa-masa keemasan Winasa.

Para milenial yang dulunya kesulitan mendapat akses pendidikan, bisa menyelesaikan pendidikannya hingga bangku SMA. Tak sedikit yang melanjutkan kuliah, dengan berbekal beasiswa dari Pemkab Jembrana. Ada pula yang merasakan kemudahan akses biaya kesehatan.

Rasa-rasa nostalgia ini digarap oleh tim pemenangan Tepat. Mereka menggarap suara perantau secara senyap. Pergerakannya mirip dengan sistem promosi Multi Level Marketing (MLM). Pendekatan dilakukan lebih personal. Romantisme, nostalgia, dan glorifikasi masa-masa Winasa menjadi produk andalan.

Tidak mengherankan bila perantau kini berbondong-bondong pulang kampung untuk menyalurkan hak pilih mereka. Beberapa kawan saya bahkan membuat status di media sosial, yang arahnya berpihak pada pasangan Tepat. Seperti “saatnya balas budi”, “dulu saya dibantu, sekarang waktunya saya membantu”, bahkan ada yang membuat status lebih frontal seperti “kembali jaya” yang mengarah pada jargon paket tepat.

Buktinya angka partisipasi pada Pilbup Jembrana kali ini termasuk paling tinggi. Tingkat golput pada Pilbup tahun ini hanya 23 persen. Berbeda saat Pilbup 2015 lalu, yang tingkat golput-nya mencapai 37 persen.

Pandemi

Masa pandemi rupanya menguntungkan paket Tepat. Masa pandemi juga menggembosi perolehan suara paket Bangsa. Hal ini berkaitan dengan distribusi bantuan pada masa pandemi.

Saat pandemi, para politisi Jakarta tampil di televisi dan menyatakan bahwa bantuan akan disalurkan pada seluruh “masyarakat yang terdampak pandemi”. Tapi saat aturan terbit, bantuan hanya disalurkan pada “masyarakat miskin yang terdampak pandemi”.

Tentu saja ini menjadi polemik di masyarakat. Warga yang merasa ekonominya terdampak pandemi, turut menagih bantuan. Sementara aturan hukum memungkinkan. Masyarakat memandang paket Bangsa sebagai representasi politisi yang sedang berkuasa, tidak tepat janji. Lebih frontal lagi, paket ini diduga menyalurkan bantuan pada kelompok-kelompok tertentu. Sehingga tidak merata dan tidak tepat sasaran. Ini jelas sangat merugikan paket Bangsa.

Survey

Hasil survey seringkali membuat terlena. Berbagai survey, baik survey internal maupun publik, memposisikan paket Bangsa sebagai pemenang. Hal ini membuat tim menjadi terlena. Merasa sudah di atas angin.

Sebaliknya paket Tepat yang diposisikan sebagai pasangan yang akan kalah, menjadikan hasil survey itu sebagai pecut. Mereka bekerja lebih keras, lebih giat, dalam senyap. Sehingga berhasil membalikkan keadaan pada hari-hari terakhir.

Kini pasangan Tepat sudah hampir pasti menjadi pemenang Pibup Jembrana. Hanya perlu menanti rapat pleno rekapitulasi KPU Jembrana dan pleno penetapan. Paket Bangsa pun dipastikan tak akan melayangkan gugatan ke Mahkamah Konstitusi. Karena selisih suara lebih dari 2 persen.

Setelah dilantik sebagai pemimpin nanti, tugas berat menanti pasangan Tamba-Ipat. Karena mereka dituntut merealisasikan janji-janji kampanye. Serta dituntut mengembalikan kejayaan Jembrana, seperti yang mereka usung sebagai jargon kampanye. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BEMBENG, TAKSU YANG TENGET || Bagian kedua dari tiga tulisan

Next Post

Hapuskan Stereotype “Rajin” Pada Orang yang Gemar Membaca

Eka Prasetya

Eka Prasetya

Menjadi wartawan sejak SMA. Suka menulis berita kisah di dunia olahraga dan kebudayaan. Tinggal di Singaraja, indekost di Denpasar

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
Hapuskan Stereotype “Rajin” Pada Orang yang Gemar Membaca

Hapuskan Stereotype “Rajin” Pada Orang yang Gemar Membaca

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co