6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kerauhan Zaman Now dan Kesehatan Jiwa

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
August 28, 2020
in Esai
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Ilustrasi tatkala.co | Nana Partha

Sejak dulu kita ketahui bahwa kerauhan menjadi sebuah tradisi, bagian dari ritual keagamaan dalam masyarakat Hindu Bali. Hal ini menarik minat para wisatawan bahkan ilmuwan dari luar negeri untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada saat kerauhan dalam bingkai ritual keagamaan di Bali.

Akhir-akhir ini di Bali banyak sekali fenomena kerauhan yang makin unik, tidak biasa dan beragam yang diekspos di media sosial. Ada yang menganggap hal ini sebuah kemajuan, tapi tidak sedikit juga yang menganggap ini justru hal yang meboya, atau keluar dari esensi sebuah ritual. Kerauhan zaman now ini tak jarang menimbulkan gesekan sosial di masyarakat. Saya tidak akan mengulasnya dari sudut agama karena tidak mempunyai latar belakang akan hal itu. Saya ingin menyoroti apakah ada kaitan antara kesehatan mental dengan fenomena kerauhan zaman now.

Sebenarnya, fenomena kerauhan sebagai bagian dari ritual dan tradisi budaya Bali sudah menarik perhatian ilmuwan kesehatan mental di luar negeri, bahkan pada tahun 1972 sudah ada artikel jurnal ilmiah yakni American Journal of Psychiatry yang menyinggung tentang kerauhan. Kerauhan atau ketedunan adalah bagaimana seseorang dimasuki oleh kekuatan dewa, Bhatara atau roh tergantung dari apa yang dimunculkan saat kerauhan.

Saat kerauhan terjadi kesadaran seseorang berubah, bahkan ada yang disebut sebagai nadi yang mana perubahan kesadaran masih bisa terkontrol. Ada pandangan terowongan atau tunnel vision dan ia cukup bisa mengendalikan diri. Pada keadaan ini seseorang mempunyai kekuatan melebihi dari keadaan sadar dimana mempunyai kekuatan yang lebih kuat, persepsi sensasi di panca indranya meningkat sehingga menjadi kebal, tak merasakan panas oleh api maupun terlukai oleh senjata.

Pada proses ini sebagai bagian dari ritual tentu saja ia memiliki manfaat bagi umat di mana mereka bisa melihat sifat Maha Besar Tuhan yakni tidak terbakar oleh api, tidak terlukai oleh senjata dan sebagainya. Dan diharapkan bisa meningkatkan kepercayaan dan keimanan umat terhadap kebesaran Tuhan. Kerauhan seperti ini jelas bukanlah sebuah gangguan kesehatan mental karena hanya terjadi sewaktu-waktu, hanya saat itu saja. Setelah selesai kerahuan pada sebuah ritual orang tersebut mampu untuk kembali bekerja, berkumpul kembali dengan keluarga dan tidak terjadi penurunan kualitas hidup.

Kerauhan sebagai bagian dari ritual ini hanya dialami di waktu-waktu tertentu dan tempat tertentu, misalnya saat ritual dan ada pada orang tertentu dalam hal ini mempunyai keadaan bisa, patut lan dadi. Hal ini tentu memancing keingintahuan banyak ilmuwan tentang apa yang terjadi saat kerauhan. Di sebuah jurnal ilmiah terdapat laporan penelitian yang dilakukan oleh Kawai N dan Honda M, peneliti asal Jepang di Bali yang menggunakan alat pendeteksi gelombang otak untuk membandingkan dan menemukan perbedaan antara orang yang kerauhan dan yang tidak.

Ternyata pada orang yang mengalami kerauhan memang terjadi perubahan gelombang otak bahkan setelah selesai kerauhan pun, beberapa menit kemudian, gelombang alfa dan theta-nya masih cukup tinggi. Jadi memang ada sesuatu yang terjadi di dalam otaknya, dan itu sementara saja an setelah itu tidak ada perubahan dalam kualitas hidupnya, tidak ada hendaya atau disabilitas sesudahnya. Belakangan ini, kata-kata kerauhan banyak sekali muncul di media massa untuk hal-hal yang tidak terkait dengan ritual keagamaan. Kalau kita lihat di kliping koran ada seorang pemuda “kerauhan” meminta sepeda motor Mio. Ada juga yang saat “kerauhan” menusuk kakeknya dan meminta rumah segera diselesaikan.

Menurut saya penggunaan kata-kata kerauhan ini tidak pada tempatnya dan membuat kerauhan menjadi sesuatu yang remeh. Kita tentu tahu, hal-hal di atas bukanlah bagian dari kerauhan karena tidak terkait dengan ritual tertentu dan tidak terjadi pada orang yang bisa, patut lan dadi. Patut dipertanyakan, apakah hal-hal ini sebagai kerauhan “tipe kedua” yaitu pura-pura kerauhan. Saya tidak akan banyak membahas hal ini dan segera beranjak pada kerauhan “tipe ketiga” yaitu keadaan dimana seseorang merasa yakin dirinya kerauhan padahal tidak. Pada keadaan ini ada latar belakang isu atau masalah kesehatan mental yang terjadi pada seseorang, misalnya ketidakmampuan mengekspresikan luapan emosi atau perasaan maupun permasalahan yang dialami.

Juga tentang riwayat kekerasan yang mungkin saja bisa terjadi tetapi sulit diungkapkan seseorang entah karena kondisi yang tidak memungkinkan atau situasi yang membelenggu dirinya. Ada beberapa gangguan mental yang berhubungan dan mirip seperti kerauhan yaitu gangguan konversi. Pada gangguan ini terjadi penurunan persepsi sensorik atau panca indera. Jadi sangat sulit dibedakan dengan kerauhan yang merupakan bagian dari ritual. Tetapi sebenarnya ada dasar masalah, ada latar belakang psikologis yang terganggu. Ada juga beberapa gejala yang mirip dengan hal ini, misalnya pada orang yang mengalami gangguan bipolar. Ketika berada pada tahaop manic dia merasa luar biasa, energinya berlebihan, banyak pikiran yang datang dan ramai di dalam otaknya tetapi tidak ada yang bisa dilakukan.

_____

BACA ESAI KESEHATAN JIWA LAINNYA:

  • Benci, Benar-benar Cinta
  • Mengelola Kemarahan di Masa Pandemi Nyaris Resesi
  • Berhenti Membicarakan Pandemi
  • Pendidikan Anak Terbaik di Masa Pandemi
  • Kecanduan di Masa Pandemi
  • TikTok Syndrome di Masa Pandemi
  • Orang Dengan Gangguan Jiwa, Siapa Bilang Kebal Corona?
  • Ingin Hilang Ingatan
  • Pandemi dan Gangguan Kecemasan Gelombang Kedua
  • Revolusi Tidur
  • Memaafkan 6000
  • Memaknai Kata “Terserah” Dari Kacamata Kesehatan Jiwa
  • Sakit Maag Lama dan Sulit Tidur, Bisa Jadi Psikosomatis
  • Pandemi, Belajar Mendengar dari Sang Kresna
  • Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

____

Beberapa bisa saja muncul gejala seperti kerauhan. Ada juga yang sifatnya gangguan mental berat di mana ada perubahan isi pikir yang salah dan aneh, bisa jadi soal keagamaan, bisa jadi soal kebesaran atau rasa curiga tetapi berlangsung secara kontinyu. Pada kondisi seperti ini orang bisa mengalami gejala seperti kerauhan, tapi hingga berjam-jam dan berhari-hari tanpa bisa kembali lagi. Hati-hati, pada kondisi ini tentu membutuhkan penanganan atau terapi. Semua hal ini perlu dicermati untuk kemudian bisa mendapatkan penanganan. Saya menulis artikel ini bukan untuk menunjuk-nunjuk atau menghakimi seseorang; “Oh ini kerauhan, oh ini bukan kerauhan“  dan sebagainya. Tulisan ini adalah refleksi pada diri kita. Ketika kita belum bisa, patut, dan dadi dan mempunyai problem dalam kehidupan yang tidak mampu kita selesaikan, maka hal-hal ini secara bawah sadar bisa muncul sebagai sebuah fenomena seperti kerauhan.

Padahal ternyata itu merupakan bagian dari masalah psikologis kita. Kalau itu yang terjadi, maka sebaiknya segeralah mengenali diri, memahami diri. Apabila hal ini terjadi pada orang-orang terdekat kita, dukung mereka untuk mendapatkan pemeriksaan atau konsultasi sehingga kualitas hidup kita nantinya kembali baik. Ketika kita sudah merasa jernih kembali dan punya kualitas   hidup yang baik, keinginan untuk ngayah muncul dalam diri kita dan makin teguh. Tanpa proses kerauhan pun kita nantinya bisa berlatih, bisa meneguhkan diri melewati proses rmenjadi bagian pengayah ritual di Bali.

Dari ini semua saya ingin fenomena-fenomena kerauhan zaman now bisa dijernihkan dengan baik, sehingga tidak jatuh pada proses yang orang Bali bilang meboya, hanya untuk menarik perhatian atau mendapatkan follower yang banyak di media sosial dan sebagainya. Apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini latar belakang psikologis banyak orang secara umum menurun, karena berbagai masalah apakah itu masalah ekonomi, kesehatan, dan sebagainya. Penting sekali untuk berlatih terus untuk menghadapi masalah kita dengan baik secara sadar sehingga tidak perlu semua hal kita selesaikan di bawah sadar. Mudah-mudahan kita semua berada dalam dalam keadaan mantap jiwa dan raga.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

[Kabar Minikino]: S-Express 2020 Indonesia dengan Deskripsi Audio Beri Akses Bagi Tuna Netra

Next Post

Pada Malam-malam Pandemi, Anak-anak Mewarnai Langit

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

Psikiater di Klinik Utama Sudirman Medical Center (SMC) Denpasar, Founder Rumah Berdaya, Pegiat kesehatan jiwa di Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali dan Komunitas Teman Baik

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Pada Malam-malam Pandemi, Anak-anak Mewarnai Langit

Pada Malam-malam Pandemi, Anak-anak Mewarnai Langit

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co