3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Sonhaji Abdullah | Adiós

Son Lomri by Son Lomri
May 17, 2025
in Puisi
Puisi-puisi Sonhaji Abdullah | Adiós

Sonhaji Abdullah

Adiós

Yang diterima laut tadi sore;
Seseorang memandangi kapal berlayar. Dan,
Perempuan di salah satu kapal itu melambaikan
tangan ke pria di dermaga.

“Adiós!” katanya.

“Adiós!” sekali lagi kata perempuan itu.

Terbang burung burung camar pulang ke sarangnya
hendak bermalam

Tetapi lelaki itu masih tetap terdiam memandangi laut
Memandang kapal itu semakin jauh-pergi berlayar
melintas pulau pulau

Jiwa pria itu begitu biru membayang di laut ketika
segaris lagi malam akan tiba

Aku tak tahu siapa di atas kapal melambaikan tangannya
ia berambut hitam kecoklatan bermata coklat bening

Aku tak tahu siapa membalas pandang dengan mata hati
di dermaga begitu sedih pandangnya

Yang jelas,
Diterima laut tadi sore; satu perempuan yang semakin jauh
dibawa kapal berlayar. Dan seorang pria bernasib malang
memandanginya hingga malam.

April 2025

Dua Remaja Peminta di Bawah Kapal

Kusuguhkan cerita di dermaga,
di bawah kapal

Dua remaja tamatan sekolah menengah pertama
membuka bajunya menunjukkan kering kulit tubuh
mereka kurus kurus

Bangsa ini sudah kendor

Tapi mereka tak takut mati—sambil pake kolor,
Nyalinya sudah diawetkan garam tinggal di pesisir

“Lemparkan uang kepadaku! Lemparkan,” suara mereka terdengar
sebelum akan melompat itu ke laut.

Salah satu penumpang di atas kapal
tengah bersender mendengar itu,
Lalu ia melempar uangnya beberapa rebu menghibur diri

Melompatlah dua remaja itu sangat segera,
Berenang mereka ke sisi tubuh kapal saling berebut

Seorang mendapat uang berenang
Satu orang lagi meraih angin pergi ke tepi

Ia pergi ke rantai berkarat jangkar kapal kemudian
bergelantungan.

“Ini atraksi baru. Satu loncatan dari rantai jangkar!” teriaknya.
“Lagi uang dilempar. Lagi. Ayo!” keras suara basah asin
tenggorokannya menyeret orang-orang di atas kapal untuk
iba dalam 30 menit terakhir kapal akan berangkat.

Seorang yang lain merogoh uang dari dompetnya lagi,
Kemudian melemparkannya seperti tadi.

Segera lelaki itu melompat ke laut dari jangkar kapal,

Sambil berenang wajahnya mendongak ke atas disisakan leher-kepala
Seperti tangan menengadah di darat

Ke sisi kapal dekat dermaga,
Empat rebu melayang terbang seperti doa lelaki itu;
Ditangkapnya seperti kupu-kupu.

Banyuwangi, April 2025

Kucing di Hari Paskah

/I/

Lelaki dengan rambut putih dan wajah dikerutkan usia itu,
Berjalan agak membungkuk. Dan ia berbaju kemeja siang ini.

Dan siang ini,
Ia tak tega jika kucingnya terlindas mati dengan darah merebah
di jalan depan rumahnya

Lantas ia menangkap dan memeluk kucingnya dengan segera
ketika si kucing berhasil lolos dari
Motor kebut-kebutan.

Dipeluknya hangat,
Di pelukannya kucing itu selamat.

/II/

Lalu,
Diciuminya berkali-kali si kucing dalam pelukan

Ia sangat sayang kucing itu

Seorang anak, cucunya, datang
Menghampiri si tua itu mau bertanya
Di mana si kucing sembunyi dari main kejaran

Setelah saling berdekatan
Si tua itu menoleh membagi cintanya

Mereka tanpa bercakap apa-apa ketika itu,
hanya matanya yang bercakap sambil mulut mengulum senyum.

Tangan si anak mengelus perut setelah senyum basa-basi
Melihat kucing aman saja. Dan,
Mata mereka semakin bercakap-cakap
Seolah ada pesan sulit dikatakan

Si kucing yang tidak jadi mati
ikut juga ia menoleh ke mereka
Lalu ia mengeong seakan mengerti apa
yang dipercakapkan oleh mata manusia.

Tidak lama itu mereka satu sama lain saling menatap.
Saling melempar pesan tak mudah dimengerti;

Mata kucing.
Mata manusia.
Mata hati manusia dan kucing
—sarat makna.

/III/

Kemudian,
Dari arah timur sepulang dari gereja
Seorang perempuan datang menghampiri.

Bagi mereka perempuan itu asing.

Ia mengenakan gaun biru muda bermotif bunga.
Selain wangi ia datang pula membawa bingkisan
Makanan macam-macam.

Tangan perempuan itu menyodorkan bingkisan itu ke anak
yang sibuk memeluk perutnya sendiri dengan mata sayu.

“Selamat Paskah,” katanya sambil melempar senyum.

Lelaki tua dan si cucunya itu tersenyum terkecuali
si kucing mengeong. Suaranya halus.
Sehalus sutra dan seputih salju turunnya ia pembawa rezeki.

Barangkali Tuhan mendengar mengeongnya si kucing,
Mendengar perut lapar si anak dan, melihat jiwa si tua itu
yang tulus menjadi juru selamat kucingnya setiap hari.

Ini Hari Paskah,

Pertolongan tak terduga sebagaimana hari-hari setelahnya
dosa disucikan atau budak dibebaskan dari kutukan Mesir
ribuan tahun lalu.

Perempuan itu pergi setelah berpamitan,
Langkahnya diiringi kasih yang tak terucap
dari sorot mata mereka tulus berterima kasih.

“Tuhan memberkati. Tuhan memberkati.” kata Si Tua itu
sambil melihat langit mengelus kucing.

Bali, 2025.

Tissue

ini tissue, Nona.

aku beli
di sela
pengamen
bernyanyi di lampu merah

dan ini aku mengemis di sampingmu,

“tenang sedikit,
mari dikusut apa yang muram dari hidup.”

Bali, 2025

Kau Pergi Tanpa Menoleh

Di satu jalan utama
Kota Singaraja yang gerimis

di trotoar kiri jalannya aku,
masih terjaga.

Dan,
ke arah selatan, Denpasar itu
kau baru saja melewatiku
bersama bapak dan ibundamu
di dalam mobil. dan,
dalam batinku yang meracau basah;

Aku,
Mencintaimu
Aku Mencintaimu

Sementara di ujung gapura selamat tinggal kota ini,
dalam terakhir ucapan “Aku..”
kau terus melaju pergi…
tanpa menoleh—percaya
jika lanjutannya masih sama;

“..mencintaimu
Aku Mencintaimu..”

Singaraja, November 2024

Menengok Diri di Cermin

Menampakkan apa yang tersisa malam malam
Apa yang masih tersisa itu dariku setelah sore

“Cermin menampakkan kesakitanku yang samar samar.”
Di antara darah mengalir dan tulang
Tempat mengerang maut dibukanya
Dipantulkan cermin mautku di lantai.

Malang, April 2025

Ke Langit Aku Ingin

ketika itu maut
tak lagi rahasia, Ibu.
dan kesunyian
sudah tak lagi mendapat tempat

saling beradu merias diri lebih genting
tanpa tahu hidup yang mengerikan
adalah membawa busuk!

dan itu melebihi
sakitnya sekarat mati tanpa cinta
yang dikubur di tubuh sendiri hidup hidup

dalam keadaan tertunduk
orang-orang membawa kepalanya.
tubuhnya. tanpa sesal keluar rumah
atau melompati jendela.

O, aku takut ibu
aku takut seperti itu
dan ingin aku pergi saja jauh dari pada membangkai

pergi ke langit tanpa tubuh terus bersemayam
di bintang-bintang

Ibu. O, lihat aku bercahaya…

Bali, 2025

Dalam Cinta, Bu

Selalu takut aku jatuh cinta. Jatuh cinta rasanya asin.
Tenggelam pada cinta, seperti tenggelam pada laut biru.
Aku tidak bisa berenang. Aku takut mati di kedalaman.

Dalam hidup, Bu. Aku selalu takut jatuh cinta.
Jatuh cinta baunya anyir. Aku takut membusuk
Robek kulit berdarah daging kropos tulang.

Aku selalu takut remuk tubuh melayang jiwa tak bertubuh.
Dan di jalanan di luar rumah yang jauh kita,
Cinta selalu menakutkan, Bu. Aku menggigil.
Aku biru selimut harganya mahal. Pertolongan harganya mahal.
Semua harus dibayar. Semua berbayar pada pertukaran indah pada mata.

Hanya cinta ibu yang murah,
—tapi sulit dibayar.

Sebab itu,
Darah dan tulang
Seluruh rangka tubuh dan jiwa—

“Nyawa sebagai pelunasan satu-satunya!”

Tiada lagi,
Tiada lagi.

Malang, April 2025

*

Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole


[][] Klik untuk BACA puisi-puisi lain

Puisi-puisi Sonhaji Abdullah | Menyesap Manis Perih Hidup
Puisi-puisi Muhammad Rifan Prianto | Setelah Membaca 100 Soneta Cinta Pablo Neruda
Puisi-puisi Gimien Artekjursi | Tanamlah Musim dalam Jiwamu
Puisi-puisi Muhammad Hadriansyah | Hutan Kabut, Kumbang Koksi
Puisi-puisi Novita Dina | Stasiun Kata-kata
Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rasa yang Tidak Pernah Usai

Next Post

“Study Tour”, Bukan Remah-Remah dalam Pariwisata

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
0
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

“Study Tour”, Bukan Remah-Remah dalam Pariwisata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co