26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

PENJARA: Penyempurnaan Jiwa dan Raga

Dewa Rhadea by Dewa Rhadea
May 30, 2025
in Esai
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Dewa Rhadea

DALAM percakapan sehari-hari, kata “penjara” seringkali menghadirkan kesan kelam. Bagi sebagian besar masyarakat, penjara identik dengan hukuman, penderitaan, dan keterasingan. Ia dianggap sebagai tempat terakhir bagi mereka yang menyimpang dari norma hukum dan sosial. Namun, dari balik tembok yang penuh stigma itu, saya menemukan makna lain yang lebih dalam.

Selama kurang lebih dua tahun menjadi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP), saya menyaksikan dan mengalami sendiri bahwa penjara tidak selalu tentang keterpurukan ─ ia bisa menjadi ruang transformasi yang nyata. Dalam perenungan yang terus berkembang, saya memaknai kata PENJARA sebagai akronim dari Penyempurnaan Jiwa dan Raga. Sebuah tempat yang, jika dijalani dengan kesadaran dan kekuatan dari dalam diri, justru membuka jalan menuju kemerdekaan batin yang sejati.

Dari Hukuman Menuju Pembinaan

Pada tanggal 5 Juli 1963 istilah “Pemasyarakatan” pertama kali diperkenalkan melalui pidato “Pohon Beringin Pengayoman” oleh Bapak Sahardjo, SH., dalam penganugerahan gelar Doctor Honoris Causa oleh Universitas Indonesia.

Sistem pemasyarakatan yang dimaksud di bawah “Pohon Beringin Pengayoman” tersebut, tidak hanya ingin membalas kesalahan dengan sanksi, tetapi juga memberikan kesempatan kepada individu untuk merefleksi diri, menyadari kesalahan, dan memperbaiki perilaku. Ini menandai perubahan paradigma yang signifikan: dari penjara sebagai alat balas dendam negara, menjadi ruang edukasi dan pembinaan kemanusiaan. Hal ini selaras dengan semangat dan jati diri bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Peneguhan pemasyarakatan sebagai Sistem dideklarasikan sebagai pengganti Sistem Kepenjaraan pada tanggal 27 April 1964 dalam Konferensi Jawatan Kepenjaraan yang dilaksanakan di Lembang, Bandung. Kemudian, konsep ini dilegalkan melalui Undang-Undang (UU) Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, yang mencerminkan transformasi sistem peradilan pidana. UU ini menjadi landasan bagi pelaksanaan Sistem Pemasyarakatan yang lebih baik dan mantap. Terakhir, Sekretariat Kabinet Republik Indonesia telah mencabut UU Nomor 12 Tahun 1995 dan mengesahkan UU Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan. 

Dalam konteks ini, kerangka berpikir yang baru harus menempatkan penjara sebagai sarana pengembangan diri yang utuh ─ baik dari sisi mental, emosional, spiritual, maupun fisik.

Penyempurnaan Jiwa: Menemukan Kembali Makna Diri

Di balik jeruji besi, banyak WBP justru menemukan ruang hening yang tak pernah mereka miliki sebelumnya. Dalam keheningan itulah proses kontemplasi terjadi. Kesadaran akan kesalahan masa lalu, penyesalan, hingga semangat untuk berubah, tumbuh perlahan namun pasti.

Program-program seperti konseling psikologis, pendampingan rohani, pelatihan kesadaran diri (self-awareness), dan rehabilitasi perilaku menjadi bagian penting dari proses ini. Jiwa yang pernah terluka, marah, atau tersesat, secara bertahap dibimbing untuk pulih dan kuat kembali.

Namun semua proses itu hanya dapat berhasil jika ada kekuatan dari dalam diri. Tak ada program pembinaan yang benar-benar berhasil tanpa kehendak pribadi untuk berubah. Penyempurnaan jiwa tidak bisa dipaksakan dari luar; ia harus lahir dari kemauan kuat seseorang untuk berdamai dengan masa lalu dan menyusun masa depan yang lebih sehat secara batiniah.

Penyempurnaan Raga: Menjadi Pribadi yang Mandiri dan Terampil

Selain dimensi spiritual dan emosional, aspek fisik dan keterampilan juga tidak kalah penting. Raga yang sehat dan produktif menjadi fondasi untuk kehidupan yang lebih baik setelah masa tahanan berakhir. Oleh karena itu, lembaga pemasyarakatan kini menyediakan sarana lebih untuk dapat berolahraga disamping berbagai pelatihan keterampilan seperti menjahit, pertukangan, pertanian, teknologi informasi, hingga kewirausahaan.

Tidak sedikit WBP yang, setelah keluar dari penjara, mampu membuka usaha mandiri, menjadi pelatih keterampilan, bahkan aktif dalam kegiatan sosial di masyarakat. Namun, lagi-lagi, semua ini bergantung pada tekad pribadi. Latihan bisa disediakan, tapi keberhasilan memetik hasilnya sangat bergantung pada daya juang dan ketekunan individu itu sendiri. Penyempurnaan raga, sebagaimana jiwa, juga menuntut kekuatan dari dalam: kesabaran, kedisiplinan, dan kemauan untuk belajar.

Paradoks Kebebasan: Banyak yang Terpenjara di Dunia Bebas

Ironisnya, di luar tembok penjara, banyak orang yang secara fisik bebas, namun sesungguhnya hidup dalam “penjara batin”. Mereka mungkin tidak dibatasi oleh jeruji besi, tetapi terkurung dalam sikap egois, dendam, ketamakan, kesombongan, atau kecanduan yang merusak diri sendiri maupun orang lain.

Ada yang terpenjara dalam gaya hidup konsumtif dan ambisi duniawi tanpa arah. Ada yang terbelenggu oleh kebencian, luka masa lalu, atau rasa iri yang tak pernah selesai. Bahkan ada pula yang hidup dengan topeng kemunafikan, terjebak dalam kepalsuan sosial demi pencitraan.

Kebebasan sejati bukanlah soal bergerak tanpa batas, melainkan soal kemampuan mengendalikan diri, bertumbuh, dan menjalani hidup dengan kesadaran dan makna. Dalam hal ini, banyak WBP yang justru lebih “merdeka” dibandingkan mereka yang hidup bebas namun tanpa kendali atau arah hidup.

Di sinilah letak peran kekuatan pribadi. Seseorang yang kuat jiwanya akan mampu mengatasi penjara batin, meski ia berada dalam tembok penjara fisik. Sebaliknya, orang yang lemah jiwanya bisa terpenjara seumur hidup dalam kebebasan semu.

Tanggung Jawab Bersama: Masyarakat dan Kesempatan Kedua

Namun, proses perubahan ini tidak cukup hanya dilakukan di dalam tembok penjara. Ia harus mendapat dukungan penuh dari masyarakat. Stigma sosial terhadap mantan WBP sering kali menjadi hambatan besar dalam proses reintegrasi. Diskriminasi, penolakan, hingga pengucilan sosial bisa menggagalkan semua proses rehabilitasi yang telah dilakukan selama bertahun-tahun.

Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk ikut serta dalam menciptakan lingkungan yang ramah dan inklusif bagi mereka yang ingin berubah. Kita perlu menanamkan pemahaman bahwa kesalahan adalah bagian dari kemanusiaan, dan setiap orang layak mendapat kesempatan kedua.

Penjara sebagai Harapan, Bukan Akhir

Bila dilihat dalam kerangka besar, penjara bukanlah ujung dari kehidupan. Ia justru bisa menjadi titik balik, tempat di mana seseorang mulai menyusun kembali hidupnya. Ketika sistem pemasyarakatan dijalankan dengan sepenuh hati, dan masyarakat bersedia membuka diri, maka penjara dapat bertransformasi menjadi ruang penyempurnaan jiwa dan raga.

Namun, sebagus apa pun lingkungan dan dukungan yang tersedia, perubahan hanya akan terjadi jika kekuatan untuk berubah datang dari dalam diri sendiri. Inilah kunci utamanya. Penyempurnaan sejati lahir dari keberanian seseorang untuk jujur terhadap dirinya sendiri, untuk mengampuni masa lalu, dan untuk menghidupi masa depan dengan penuh kesadaran.

Mari Kita Ubah Cara Pandang

Mari kita yakini bahwa dalam setiap insan, seburuk apa pun kesalahannya, selalu ada potensi untuk berubah. Dan di dalam penjara, dengan segala tantangan dan pembinaannya, dapat menjadi titik awal dari perubahan itu.

Sementara di luar penjara, marilah kita juga memeriksa diri: jangan-jangan kita sendiri tengah hidup dalam penjara yang tak kasatmata. Karena pada akhirnya, kunci dari kebebasan sejati bukan di luar sana, melainkan di dalam diri kita sendiri. [T]

Penulis: Dewa Rhadea
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Usaha Asyik Narapidana Lapas Singaraja: Ada Cuci Motor, Coffee Shop, dan Barbershop
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Green Skills: Komponen Kritis untuk Pembangunan Berkelanjutan
Tags: lembaga pemasyarakatanPendidikanpenjara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Punia Digital”: Dari Kotak Kayu ke Kode QR

Next Post

Menjawab Stigmatisasi Masa Aksi Kurang Baca

Dewa Rhadea

Dewa Rhadea

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
Bersama dalam Fitri dan Nyepi: Romansa Toleransi di Tengah Problematika Bangsa

Menjawab Stigmatisasi Masa Aksi Kurang Baca

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co