5 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

PENJARA: Penyempurnaan Jiwa dan Raga

Dewa Rhadea by Dewa Rhadea
May 30, 2025
in Esai
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Dewa Rhadea

DALAM percakapan sehari-hari, kata “penjara” seringkali menghadirkan kesan kelam. Bagi sebagian besar masyarakat, penjara identik dengan hukuman, penderitaan, dan keterasingan. Ia dianggap sebagai tempat terakhir bagi mereka yang menyimpang dari norma hukum dan sosial. Namun, dari balik tembok yang penuh stigma itu, saya menemukan makna lain yang lebih dalam.

Selama kurang lebih dua tahun menjadi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP), saya menyaksikan dan mengalami sendiri bahwa penjara tidak selalu tentang keterpurukan ─ ia bisa menjadi ruang transformasi yang nyata. Dalam perenungan yang terus berkembang, saya memaknai kata PENJARA sebagai akronim dari Penyempurnaan Jiwa dan Raga. Sebuah tempat yang, jika dijalani dengan kesadaran dan kekuatan dari dalam diri, justru membuka jalan menuju kemerdekaan batin yang sejati.

Dari Hukuman Menuju Pembinaan

Pada tanggal 5 Juli 1963 istilah “Pemasyarakatan” pertama kali diperkenalkan melalui pidato “Pohon Beringin Pengayoman” oleh Bapak Sahardjo, SH., dalam penganugerahan gelar Doctor Honoris Causa oleh Universitas Indonesia.

Sistem pemasyarakatan yang dimaksud di bawah “Pohon Beringin Pengayoman” tersebut, tidak hanya ingin membalas kesalahan dengan sanksi, tetapi juga memberikan kesempatan kepada individu untuk merefleksi diri, menyadari kesalahan, dan memperbaiki perilaku. Ini menandai perubahan paradigma yang signifikan: dari penjara sebagai alat balas dendam negara, menjadi ruang edukasi dan pembinaan kemanusiaan. Hal ini selaras dengan semangat dan jati diri bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Peneguhan pemasyarakatan sebagai Sistem dideklarasikan sebagai pengganti Sistem Kepenjaraan pada tanggal 27 April 1964 dalam Konferensi Jawatan Kepenjaraan yang dilaksanakan di Lembang, Bandung. Kemudian, konsep ini dilegalkan melalui Undang-Undang (UU) Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, yang mencerminkan transformasi sistem peradilan pidana. UU ini menjadi landasan bagi pelaksanaan Sistem Pemasyarakatan yang lebih baik dan mantap. Terakhir, Sekretariat Kabinet Republik Indonesia telah mencabut UU Nomor 12 Tahun 1995 dan mengesahkan UU Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan. 

Dalam konteks ini, kerangka berpikir yang baru harus menempatkan penjara sebagai sarana pengembangan diri yang utuh ─ baik dari sisi mental, emosional, spiritual, maupun fisik.

Penyempurnaan Jiwa: Menemukan Kembali Makna Diri

Di balik jeruji besi, banyak WBP justru menemukan ruang hening yang tak pernah mereka miliki sebelumnya. Dalam keheningan itulah proses kontemplasi terjadi. Kesadaran akan kesalahan masa lalu, penyesalan, hingga semangat untuk berubah, tumbuh perlahan namun pasti.

Program-program seperti konseling psikologis, pendampingan rohani, pelatihan kesadaran diri (self-awareness), dan rehabilitasi perilaku menjadi bagian penting dari proses ini. Jiwa yang pernah terluka, marah, atau tersesat, secara bertahap dibimbing untuk pulih dan kuat kembali.

Namun semua proses itu hanya dapat berhasil jika ada kekuatan dari dalam diri. Tak ada program pembinaan yang benar-benar berhasil tanpa kehendak pribadi untuk berubah. Penyempurnaan jiwa tidak bisa dipaksakan dari luar; ia harus lahir dari kemauan kuat seseorang untuk berdamai dengan masa lalu dan menyusun masa depan yang lebih sehat secara batiniah.

Penyempurnaan Raga: Menjadi Pribadi yang Mandiri dan Terampil

Selain dimensi spiritual dan emosional, aspek fisik dan keterampilan juga tidak kalah penting. Raga yang sehat dan produktif menjadi fondasi untuk kehidupan yang lebih baik setelah masa tahanan berakhir. Oleh karena itu, lembaga pemasyarakatan kini menyediakan sarana lebih untuk dapat berolahraga disamping berbagai pelatihan keterampilan seperti menjahit, pertukangan, pertanian, teknologi informasi, hingga kewirausahaan.

Tidak sedikit WBP yang, setelah keluar dari penjara, mampu membuka usaha mandiri, menjadi pelatih keterampilan, bahkan aktif dalam kegiatan sosial di masyarakat. Namun, lagi-lagi, semua ini bergantung pada tekad pribadi. Latihan bisa disediakan, tapi keberhasilan memetik hasilnya sangat bergantung pada daya juang dan ketekunan individu itu sendiri. Penyempurnaan raga, sebagaimana jiwa, juga menuntut kekuatan dari dalam: kesabaran, kedisiplinan, dan kemauan untuk belajar.

Paradoks Kebebasan: Banyak yang Terpenjara di Dunia Bebas

Ironisnya, di luar tembok penjara, banyak orang yang secara fisik bebas, namun sesungguhnya hidup dalam “penjara batin”. Mereka mungkin tidak dibatasi oleh jeruji besi, tetapi terkurung dalam sikap egois, dendam, ketamakan, kesombongan, atau kecanduan yang merusak diri sendiri maupun orang lain.

Ada yang terpenjara dalam gaya hidup konsumtif dan ambisi duniawi tanpa arah. Ada yang terbelenggu oleh kebencian, luka masa lalu, atau rasa iri yang tak pernah selesai. Bahkan ada pula yang hidup dengan topeng kemunafikan, terjebak dalam kepalsuan sosial demi pencitraan.

Kebebasan sejati bukanlah soal bergerak tanpa batas, melainkan soal kemampuan mengendalikan diri, bertumbuh, dan menjalani hidup dengan kesadaran dan makna. Dalam hal ini, banyak WBP yang justru lebih “merdeka” dibandingkan mereka yang hidup bebas namun tanpa kendali atau arah hidup.

Di sinilah letak peran kekuatan pribadi. Seseorang yang kuat jiwanya akan mampu mengatasi penjara batin, meski ia berada dalam tembok penjara fisik. Sebaliknya, orang yang lemah jiwanya bisa terpenjara seumur hidup dalam kebebasan semu.

Tanggung Jawab Bersama: Masyarakat dan Kesempatan Kedua

Namun, proses perubahan ini tidak cukup hanya dilakukan di dalam tembok penjara. Ia harus mendapat dukungan penuh dari masyarakat. Stigma sosial terhadap mantan WBP sering kali menjadi hambatan besar dalam proses reintegrasi. Diskriminasi, penolakan, hingga pengucilan sosial bisa menggagalkan semua proses rehabilitasi yang telah dilakukan selama bertahun-tahun.

Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk ikut serta dalam menciptakan lingkungan yang ramah dan inklusif bagi mereka yang ingin berubah. Kita perlu menanamkan pemahaman bahwa kesalahan adalah bagian dari kemanusiaan, dan setiap orang layak mendapat kesempatan kedua.

Penjara sebagai Harapan, Bukan Akhir

Bila dilihat dalam kerangka besar, penjara bukanlah ujung dari kehidupan. Ia justru bisa menjadi titik balik, tempat di mana seseorang mulai menyusun kembali hidupnya. Ketika sistem pemasyarakatan dijalankan dengan sepenuh hati, dan masyarakat bersedia membuka diri, maka penjara dapat bertransformasi menjadi ruang penyempurnaan jiwa dan raga.

Namun, sebagus apa pun lingkungan dan dukungan yang tersedia, perubahan hanya akan terjadi jika kekuatan untuk berubah datang dari dalam diri sendiri. Inilah kunci utamanya. Penyempurnaan sejati lahir dari keberanian seseorang untuk jujur terhadap dirinya sendiri, untuk mengampuni masa lalu, dan untuk menghidupi masa depan dengan penuh kesadaran.

Mari Kita Ubah Cara Pandang

Mari kita yakini bahwa dalam setiap insan, seburuk apa pun kesalahannya, selalu ada potensi untuk berubah. Dan di dalam penjara, dengan segala tantangan dan pembinaannya, dapat menjadi titik awal dari perubahan itu.

Sementara di luar penjara, marilah kita juga memeriksa diri: jangan-jangan kita sendiri tengah hidup dalam penjara yang tak kasatmata. Karena pada akhirnya, kunci dari kebebasan sejati bukan di luar sana, melainkan di dalam diri kita sendiri. [T]

Penulis: Dewa Rhadea
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Usaha Asyik Narapidana Lapas Singaraja: Ada Cuci Motor, Coffee Shop, dan Barbershop
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Green Skills: Komponen Kritis untuk Pembangunan Berkelanjutan
Tags: lembaga pemasyarakatanPendidikanpenjara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Punia Digital”: Dari Kotak Kayu ke Kode QR

Next Post

Menjawab Stigmatisasi Masa Aksi Kurang Baca

Dewa Rhadea

Dewa Rhadea

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails
Next Post
Bersama dalam Fitri dan Nyepi: Romansa Toleransi di Tengah Problematika Bangsa

Menjawab Stigmatisasi Masa Aksi Kurang Baca

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin
Khas

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co