2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjawab Stigmatisasi Masa Aksi Kurang Baca

Mansurni Abadi by Mansurni Abadi
May 30, 2025
in Esai
Bersama dalam Fitri dan Nyepi: Romansa Toleransi di Tengah Problematika Bangsa

Mansurni Abadi

SEBELUM memulai pembahasan lebih jauh, marilah kita sejenak mencurahkan doa sembari mengenang kembali rangkaian kebiadaban yang terjadi pada masa-masa Reformasi, terutama Tragedi Trisakti yang baru saja kita peringati pada 12 Mei lalu, beserta tragedi-tragedi lain yang menyertainya. Pada masa itu, telah terjadi penghilangan paksa, pembantaian, penembakan, pemerkosaan, dan pembakaran—semuanya merupakan kekerasan struktural, manifestasi dari arogansi kekuasaan yang enggan tumbang.

Meskipun kebiadaban itu terekam jelas dalam sejarah dan menjadi trauma yang belum sembuh, penyelesaiannya justru bernasib serupa dengan tragedi-tragedi kemanusiaan lainnya: terabaikan dan terus-menerus menjadi bualan kosong para penguasa. Lebih menyakitkan lagi, sebagian dari mereka yang kini berkuasa justru merupakan artefak hidup dari rezim yang dulu ditumbangkan.

Dalam situasi demikian, satu-satunya jalan yang masih bisa memberi harapan—di luar penyelesaian yang adil—adalah dengan terus merawat ingatan dan kemuakan terhadap tragedi-tragedi kemanusiaan. Upaya ini telah kita saksikan dalam bentuk Aksi Kamisan, yang secara konsisten dihelat oleh para penyintas dan mereka yang bersolidaritas. Setiap Kamis, mereka berdiri di depan Istana, dan juga di ruang-ruang publik penting di berbagai daerah, untuk memastikan tragedi itu tidak membeku dalam kenangan, melainkan tetap hidup dalam ruang publik sebagai bentuk perlawanan terhadap lupa.

Dalam konteks demokrasi, Aksi Kamisan merupakan bentuk nyata dari hak untuk berserikat, berekspresi, dan menyampaikan pendapat. Jika kita masih memaknai demokrasi sebagai kekuasaan rakyat, maka ketiga hak tersebut harus terus dijaga dan dijalankan. Apabila penguasa memiliki panggung megah untuk mengoperasikan penindasan secara sistemik dan epistemik melalui berbagai intrik, maka rakyat pun berhak memiliki panggung serupa untuk membongkar segala bentuk ketidakadilan—salah satunya melalui aksi massa.

Aksi massa, baik sebagai diksi maupun praktik, memang kerap tidak disukai oleh penguasa. Namun, aksi massa adalah manifestasi hak rakyat dalam lanskap demokrasi, dan ia akan terus hadir selama penguasa tidak bekerja berdasarkan nurani. Tan Malaka menyatakan bahwa aksi massa dapat berupa protes, boikot, dan mogok. Dalam perspektif anarkisme, aksi massa bahkan dapat mencakup sabotase, insureksi terorganisir, dan okupasi ruang. Bahkan, kekuasaan pun bisa menggunakan aksi massa, dengan menciptakan kerumunan untuk menciptakan polarisasi dan konflik.

Namun, ketika aksi massa bergulir di ruang publik, tidak semua orang bersikap mendukung. Perbedaan pendapat adalah hal lumrah dalam demokrasi, asalkan masih dalam koridor yang etis. Persoalan muncul ketika ketidaksetujuan terhadap aksi dibalut dengan upaya pembentukan opini negatif melalui stigmatisasi. Aksi massa kerap dicap sebagai ancaman keamanan, seolah-olah selalu berpotensi menciptakan kekacauan. Padahal, stigma ini kerap mengabaikan represivitas aparat terhadap massa aksi.

Ada pula stigma bahwa aksi digerakkan oleh pihak-pihak tertentu, dan bahwa peserta aksi bukan berasal dari masyarakat setempat. Stigma semacam ini mereduksi moral dan etika solidaritas, seolah-olah keberpihakan hanya sah jika berbasis kedekatan geografis. Dari sisi ekonomi, massa aksi sering dituduh sebagai bayaran, yang bergerak hanya demi konsumsi dan uang transportasi. Tuduhan ini merendahkan integritas mereka sebagai warga negara yang menyuarakan keresahan. Sementara dari sisi intelektualitas—yang menjadi pokok sorotan tulisan ini—aksi massa sering digambarkan sebagai kerumunan orang yang bodoh dan kurang membaca.

Stigmatisasi intelektual ini adalah bentuk kekerasan simbolik yang menafikan kapasitas berpikir rakyat. Membaca atau tidak membaca seharusnya bukan ukuran utama dalam menentukan sah tidaknya seseorang untuk terlibat dalam aksi. Dalam sistem demokrasi, aksi adalah hak semua warga negara, terlebih ketika nilai, prinsip, dan ruang hidup mereka diganggu oleh penindasan. Tuduhan bahwa massa aksi tidak membaca sering kali datang dari arogansi intelektual yang merasa paling tahu, dan secara tersirat ingin memonopoli kebenaran.

Faktanya, tak sedikit aksi massa yang pro terhadap kekuasaan justru sangat jauh dari budaya literasi. Banyak di antara mereka bahkan tidak memahami substansi tuntutan yang mereka serukan. Kita bisa mengingat bagaimana massa aksi yang mendukung RUU TNI atau usulan perpanjangan masa jabatan presiden gagal menjelaskan argumen mereka ketika ditanya, bahkan lebih memilih menghindar.

Meski demikian, mereka pun tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Gerakan tandingan yang pro kekuasaan sering kali dibentuk secara instan, dengan prinsip “yang penting massa terkumpul”, tanpa konsolidasi mendalam. Oleh karena itu, kita sebagai sesama rakyat tidak boleh saling menghakimi.

Soal “membaca”, seharusnya tidak dimaknai semata-mata sebagai aktivitas membaca buku atau kajian ilmiah yang berat. Literasi dalam gerakan justru banyak terjadi melalui ruang-ruang penyadaran, seperti konsolidasi, diskusi, agitasi, dan perjumpaan yang membentuk pemahaman kolektif. Dalam dinamika aksi, hasil kajian kerap disampaikan dengan cara yang disesuaikan dengan situasi dan kapasitas anggota, agar setiap individu paham akan apa yang sedang mereka perjuangkan.

Membaca secara tekstual memang membutuhkan waktu dan ruang yang ideal. Tetapi dalam konteks aksi massa, yang sering bergerak secara responsif terhadap momentum, membaca dapat dilakukan melalui berbagai metode yang interaktif dan komunikatif. Yang terpenting adalah dorongan untuk memahami dan bergerak, bukan sekadar kemampuan menyerap teks secara akademik.

Maka, menghakimi massa aksi atas dasar “kurang membaca” adalah bentuk kekerasan intelektual yang menutup kemungkinan solidaritas dan justru memperkuat dominasi epistemik dari kelas penguasa. [T]

Penulis: Mansurni Abadi
Editor:Adnyana Ole

Bersama dalam Fitri dan Nyepi: Romansa Toleransi di Tengah Problematika Bangsa
Merayakan Moderasi di Tengah Dinamika Intoleransi
Langkah Sederhana Mengubah Kekotoran Politik
Tags: aksi massaLiterasiReformasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

PENJARA: Penyempurnaan Jiwa dan Raga

Next Post

Melahirkan Guru, Melahirkan Peradaban: Catatan di Masa Kolonial

Mansurni Abadi

Mansurni Abadi

Mantan pengurus divisi riset Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia 2021-2022 dan pengurus divisi riset Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Malaysia 2021-2023, Saat ini berkerja sebagai relasi publik di NGO SMT di Malaysia

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Mengemas Masa Silam: Tantangan Pembelajaran Sejarah bagi Generasi Muda

Melahirkan Guru, Melahirkan Peradaban: Catatan di Masa Kolonial

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co