24 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Langkah Sederhana Mengubah Kekotoran Politik

Mansurni Abadi by Mansurni Abadi
March 25, 2025
in Esai
Bersama dalam Fitri dan Nyepi: Romansa Toleransi di Tengah Problematika Bangsa

Mansurni Abadi

KITA yang mengutuki politik, di satu sisi pasti masih menyisakan sedikit percaya jika dari yang politik itulah yang kita harapkan mampu mengubah kondisi bangsa yang kita anggap sudah sedemikian buruknya ini. Bukankah kehidupan sendiri adalah permainan politis, apalagi jika kita maknai politik sebagaimana Harold D. Lasswelldan A. Kaplan tentang politik yang berkutat pada siapa  yang mendapatkan apa, kapan dan bagaimana? Maka sejatinya kita selalu bermain-main dengan yang politik hingga napas terhenti.

Jadi ketika kita berimaji sembari bertindak dan meyakini bahwa apa yang kita lakukan hari ini mampu membuat Indonesia lebih baik, bukankah itu juga laku dari politik. Politik itu paradoks, kita seringkali membayangkanya dari sisi yang idealis tapi sejatinya politik itu menempatkan kita pada pola pikir, pendirian, bahkan laku yang menerima in-between karena politik itu seni tentang banyak kemungkinan.

Oleh karena itu di banyak litelatur dan omon-omon politik, kita semua harus berusaha mencari tahu strategi politik apa yang paling tepat untuk mengubah keadaan atau minimal mendekati keadaan yang kita sama-sama inginkan. Jadi dalam politik, posisi abu-abu terkadang lebih sering tampak ketimbang memilih yang hitam atau yang putih. Tentu saja masalah ini akan bertentangan dengan etika yang hanya ada dua pilihan antara yang etis atau yang tidak etis. Tapi mau bagaimana lagi, selama kebermanfaatan dapat dihadirkan mendekati optimal, dan yang rusak tidak menjadi total meskipun in-between, harus kita terima.

Tapi untuk mengubah politik harus dimulai dari mana?

Yang pertama kali kita perlu lakukan adalah sadar terhadap yang politik, dalam konteks ini, sadar artinya berperan aktif sebagai warga negara untuk membangun iklim politik yang sehat  melalui rasionalisasi politik. Jurgen Habermas dalam Toward a Rational Society menekankan bahwa rasionalisasi politik bertujuan untuk meningkatkan wacana kritis yang mendorong mayoritas menjadi critical mass—massa yang berpikir kritis dan bertindak secara mandiri. Untuk mencapainya, Habermas menekankan pentingnya pendekatan dari bawah—rasionalisasi yang berkembang secara organik di kalangan masyarakat akar rumput tanpa paksaan atau arahan dari atas.

Jika kita lelah dengan politik yang berbalut citra, dijebak oleh seremonial ritus pemilihan 5 tahunan, dan diperkuat dengan pengkultusan terhadap seseorang hanya karena pidatonya menggelegar dan tampilan merakyat, maka kita harus mulai memikirkan sesuatu yang rasional.   Rasional artinya kita paham terhadap apa yang penting dan bagaimana yang penting itu dapat dicapai dengan basis penilaian yang kuat terhadap siapa yang dianggap mampu untuk mencapai apa yang kita sama-sama inginkan itu. Jangan terjebak pada tampilan luar apalagi trah keturunan, karena semua itu hanyalah ilusi dangkal.

Politik yang penuh ilusi, kalau menurut Farish M. Noor, seorang intelektual Singapura, pada akhirnya menyempitkan visi dan misi politik menjadi despotik, esensi menjadi ilusi, demokrasi menjadi oligarki, dan perubahan hanya sekadar hantaman tanpa substansi.

Yang kedua, ciptakan nuansa, menurut pendapat saya, masalah terbesar dalam politik (sebagian besar karena hasutan media) adalah bahwa *sering kali tidak ada ruang untuk nuansa atau jalan tengah yang dapat diterima.* Sebaliknya, *subjek yang kompleks dipecah menjadi ekstrem hitam dan putih yang sederhana, dan individu didorong untuk memilih salah satu dari ekstrem ini* dan *dengan keras menolak siapa pun yang bersekutu dengan yang lain.*

Meskipun banyak yang cenderung melakukan itu di usia muda, _pada akhirnya kita perlahan-lahan menyadari bahwa pihak lain sering kali memiliki poin-poin yang sangat valid,_ dan bahwa beberapa pihak telah menyesatkan kita dengan bersikeras bahwa pihak lain sepenuhnya salah.

Pada gilirannya, _kita sekarang percaya bahwa untuk hampir semua isu yang memecah belah yang telah berlangsung lama, biasanya _ada alasan mengapa kedua belah pihak benar, dan satu-satunya cara untuk keluar  dari dilema  dengan menekankan perspektif bernuansa yang mempertimbangkan keduanya.

Sayangnya, proses politik melatih anggota masing-masing pihak untuk tidak hanya menyerang mereka yang berseberangan, tetapi juga mereka yang menyajikan perspektif yang bernuansa (karena lebih sulit untuk dipahami secara mental). Selain hal ini sangat disayangkan (karena membuat kita terpecah belah dan mencegah masalah kritis terpecahkan), hal ini sering kali disengaja, karena perdebatan sering kali dibingkai sehingga suatu poin yang dapat disetujui semua orang yang mendasari masalah yang sedang dihadapi (misalnya, bahwa masalah tersebut pada akhirnya merupakan hasil dari praktik predator dari kelas elit) tidak pernah masuk dalam diskusi.

Sejak dulu, kita mendengar ungkapan _”politik adalah seni tentang kemungkinan”_oleh karena itu menyelesaikan sesuatu memerlukan kemampuan untuk bekerja secara cerdas dengan pihak lain guna menemukan kompromi yang dapat diterima oleh mereka. Sebaliknya, pemikiran dogmatis dan tidak adanya toleransi terhadap sudut pandang yang berlawanan biasanya mengarah pada tidak adanya penyelesaian,_ atau *apa yang telah dilakukan dengan cepat terhapus begitu angin politik berubah. Oleh karena itu, kita semua berusaha mencari tahu strategi politik apa yang paling tepat untuk mengubah keadaan secara permanen.

Yang ketiga, terapkan Do It Yourself (DIY), Jadi, konsep “Do It By Yourself”  itu intinya mendorong kita buat bisa mandiri dan mengatasi masalah sendiri tanpa harus selalu mengikuti perintah  apalagi menunggu datangnya bantuan . Dengan begitu, kita tidak cuma jadi kreatif, tapi juga bisa langsung langsung merespon dan sadar terhadap masalah.

Kalau kita mempunyai mindset “Do It By Yourself”  akan terbangun cara hidup yang horizontal, di mana semua orang punya suara yang sama dan tak ada yang dianggap lebih tinggi. Jadi, dengan pola pikir dan laku seperti ini kita  bakal merasa lebih bebas, bisa saling dukung, dan akhirnya menciptakan komunitas yang asik dan bebas dari dominasi sistem yang bikin pusing.

Dalam konteks  politik, jika Do It Yourself (DIY) diterapkan, artinya kita menyadari jika transformasi politik bukan sekadar tanggung jawab elit, melainkan tugas setiap individu. Demokrasi sejati tumbuh dari inisiatif pribadi dan kolektif, bukan dari intervensi struktural semata.

Kita bisa memulai dari hal-hal sederhana: menciptakan ruang diskusi yang bebas dan jujur, menggunakan media sosial untuk menyebarkan gagasan kritis, serta membangun komunitas yang sadar akan hak dan kewajiban politiknya. Dengan cara ini, politik tidak lagi menjadi permainan eksklusif para elit, melainkan gerakan bersama yang berangkat dari kesadaran dan aksi nyata setiap individu.

Keterlibatan aktif dalam proses demokrasi, baik dalam pemilihan umum, advokasi kebijakan, maupun gerakan sosial termasuk protes didalamnya, adalah bentuk nyata dari semangat DIY dalam politik. Dengan komitmen pada prinsip kebenaran dan keadilan, kita dapat meretas kebiadaban politik dan menggantinya dengan politik yang lebih substansial dan bermakna. Lakukan ketiga langkah sederhana secara konsisten, sebagai individu dan kolektif, dan mungkin saja jika Tuhan merestui, carut-marut bangsa akan sedikit terbenahi atau malah terbenahi seutuhnya. [T]

Penulis: Mansurni Abadi
Editor:Adnyana Ole

Dramaturgi Politik Gas Melon
Bali Dalam Politik: Pola Kampanye Semu Calon Pejabat Publik Dilihat Dari Perspektif Dramaturgi Erving Goffman
‘Adat Dunia Balas Berbalas, Adat Hidup Tolong Menolong’ dalam konteks Geopolitik Kontemporer
Tags: Politik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di “Bali Berkisah”, Mendengar Proses Kreatif Henry Manampiring Menulis “Sajaksel” dan “50 to 20”

Next Post

Idulfitri : Kuburkan Benci Bangkitkan Simpati

Mansurni Abadi

Mansurni Abadi

Mantan pengurus divisi riset Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia 2021-2022 dan pengurus divisi riset Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Malaysia 2021-2023, Saat ini berkerja sebagai relasi publik di NGO SMT di Malaysia

Related Posts

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails
Next Post
Ramadhan Sepanjang Masa

Idulfitri : Kuburkan Benci Bangkitkan Simpati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif
Ulas Rupa

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

by Emi Suy
September 23, 2026
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga
Esai

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati
Esai

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

by Angga Wijaya
September 22, 2026
Guci Nasib di Titik Nol Kota
Ulas Rupa

Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

by I Wayan Westa
September 22, 2026
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co