26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Langkah Sederhana Mengubah Kekotoran Politik

Mansurni Abadi by Mansurni Abadi
March 25, 2025
in Esai
Bersama dalam Fitri dan Nyepi: Romansa Toleransi di Tengah Problematika Bangsa

Mansurni Abadi

KITA yang mengutuki politik, di satu sisi pasti masih menyisakan sedikit percaya jika dari yang politik itulah yang kita harapkan mampu mengubah kondisi bangsa yang kita anggap sudah sedemikian buruknya ini. Bukankah kehidupan sendiri adalah permainan politis, apalagi jika kita maknai politik sebagaimana Harold D. Lasswelldan A. Kaplan tentang politik yang berkutat pada siapa  yang mendapatkan apa, kapan dan bagaimana? Maka sejatinya kita selalu bermain-main dengan yang politik hingga napas terhenti.

Jadi ketika kita berimaji sembari bertindak dan meyakini bahwa apa yang kita lakukan hari ini mampu membuat Indonesia lebih baik, bukankah itu juga laku dari politik. Politik itu paradoks, kita seringkali membayangkanya dari sisi yang idealis tapi sejatinya politik itu menempatkan kita pada pola pikir, pendirian, bahkan laku yang menerima in-between karena politik itu seni tentang banyak kemungkinan.

Oleh karena itu di banyak litelatur dan omon-omon politik, kita semua harus berusaha mencari tahu strategi politik apa yang paling tepat untuk mengubah keadaan atau minimal mendekati keadaan yang kita sama-sama inginkan. Jadi dalam politik, posisi abu-abu terkadang lebih sering tampak ketimbang memilih yang hitam atau yang putih. Tentu saja masalah ini akan bertentangan dengan etika yang hanya ada dua pilihan antara yang etis atau yang tidak etis. Tapi mau bagaimana lagi, selama kebermanfaatan dapat dihadirkan mendekati optimal, dan yang rusak tidak menjadi total meskipun in-between, harus kita terima.

Tapi untuk mengubah politik harus dimulai dari mana?

Yang pertama kali kita perlu lakukan adalah sadar terhadap yang politik, dalam konteks ini, sadar artinya berperan aktif sebagai warga negara untuk membangun iklim politik yang sehat  melalui rasionalisasi politik. Jurgen Habermas dalam Toward a Rational Society menekankan bahwa rasionalisasi politik bertujuan untuk meningkatkan wacana kritis yang mendorong mayoritas menjadi critical mass—massa yang berpikir kritis dan bertindak secara mandiri. Untuk mencapainya, Habermas menekankan pentingnya pendekatan dari bawah—rasionalisasi yang berkembang secara organik di kalangan masyarakat akar rumput tanpa paksaan atau arahan dari atas.

Jika kita lelah dengan politik yang berbalut citra, dijebak oleh seremonial ritus pemilihan 5 tahunan, dan diperkuat dengan pengkultusan terhadap seseorang hanya karena pidatonya menggelegar dan tampilan merakyat, maka kita harus mulai memikirkan sesuatu yang rasional.   Rasional artinya kita paham terhadap apa yang penting dan bagaimana yang penting itu dapat dicapai dengan basis penilaian yang kuat terhadap siapa yang dianggap mampu untuk mencapai apa yang kita sama-sama inginkan itu. Jangan terjebak pada tampilan luar apalagi trah keturunan, karena semua itu hanyalah ilusi dangkal.

Politik yang penuh ilusi, kalau menurut Farish M. Noor, seorang intelektual Singapura, pada akhirnya menyempitkan visi dan misi politik menjadi despotik, esensi menjadi ilusi, demokrasi menjadi oligarki, dan perubahan hanya sekadar hantaman tanpa substansi.

Yang kedua, ciptakan nuansa, menurut pendapat saya, masalah terbesar dalam politik (sebagian besar karena hasutan media) adalah bahwa *sering kali tidak ada ruang untuk nuansa atau jalan tengah yang dapat diterima.* Sebaliknya, *subjek yang kompleks dipecah menjadi ekstrem hitam dan putih yang sederhana, dan individu didorong untuk memilih salah satu dari ekstrem ini* dan *dengan keras menolak siapa pun yang bersekutu dengan yang lain.*

Meskipun banyak yang cenderung melakukan itu di usia muda, _pada akhirnya kita perlahan-lahan menyadari bahwa pihak lain sering kali memiliki poin-poin yang sangat valid,_ dan bahwa beberapa pihak telah menyesatkan kita dengan bersikeras bahwa pihak lain sepenuhnya salah.

Pada gilirannya, _kita sekarang percaya bahwa untuk hampir semua isu yang memecah belah yang telah berlangsung lama, biasanya _ada alasan mengapa kedua belah pihak benar, dan satu-satunya cara untuk keluar  dari dilema  dengan menekankan perspektif bernuansa yang mempertimbangkan keduanya.

Sayangnya, proses politik melatih anggota masing-masing pihak untuk tidak hanya menyerang mereka yang berseberangan, tetapi juga mereka yang menyajikan perspektif yang bernuansa (karena lebih sulit untuk dipahami secara mental). Selain hal ini sangat disayangkan (karena membuat kita terpecah belah dan mencegah masalah kritis terpecahkan), hal ini sering kali disengaja, karena perdebatan sering kali dibingkai sehingga suatu poin yang dapat disetujui semua orang yang mendasari masalah yang sedang dihadapi (misalnya, bahwa masalah tersebut pada akhirnya merupakan hasil dari praktik predator dari kelas elit) tidak pernah masuk dalam diskusi.

Sejak dulu, kita mendengar ungkapan _”politik adalah seni tentang kemungkinan”_oleh karena itu menyelesaikan sesuatu memerlukan kemampuan untuk bekerja secara cerdas dengan pihak lain guna menemukan kompromi yang dapat diterima oleh mereka. Sebaliknya, pemikiran dogmatis dan tidak adanya toleransi terhadap sudut pandang yang berlawanan biasanya mengarah pada tidak adanya penyelesaian,_ atau *apa yang telah dilakukan dengan cepat terhapus begitu angin politik berubah. Oleh karena itu, kita semua berusaha mencari tahu strategi politik apa yang paling tepat untuk mengubah keadaan secara permanen.

Yang ketiga, terapkan Do It Yourself (DIY), Jadi, konsep “Do It By Yourself”  itu intinya mendorong kita buat bisa mandiri dan mengatasi masalah sendiri tanpa harus selalu mengikuti perintah  apalagi menunggu datangnya bantuan . Dengan begitu, kita tidak cuma jadi kreatif, tapi juga bisa langsung langsung merespon dan sadar terhadap masalah.

Kalau kita mempunyai mindset “Do It By Yourself”  akan terbangun cara hidup yang horizontal, di mana semua orang punya suara yang sama dan tak ada yang dianggap lebih tinggi. Jadi, dengan pola pikir dan laku seperti ini kita  bakal merasa lebih bebas, bisa saling dukung, dan akhirnya menciptakan komunitas yang asik dan bebas dari dominasi sistem yang bikin pusing.

Dalam konteks  politik, jika Do It Yourself (DIY) diterapkan, artinya kita menyadari jika transformasi politik bukan sekadar tanggung jawab elit, melainkan tugas setiap individu. Demokrasi sejati tumbuh dari inisiatif pribadi dan kolektif, bukan dari intervensi struktural semata.

Kita bisa memulai dari hal-hal sederhana: menciptakan ruang diskusi yang bebas dan jujur, menggunakan media sosial untuk menyebarkan gagasan kritis, serta membangun komunitas yang sadar akan hak dan kewajiban politiknya. Dengan cara ini, politik tidak lagi menjadi permainan eksklusif para elit, melainkan gerakan bersama yang berangkat dari kesadaran dan aksi nyata setiap individu.

Keterlibatan aktif dalam proses demokrasi, baik dalam pemilihan umum, advokasi kebijakan, maupun gerakan sosial termasuk protes didalamnya, adalah bentuk nyata dari semangat DIY dalam politik. Dengan komitmen pada prinsip kebenaran dan keadilan, kita dapat meretas kebiadaban politik dan menggantinya dengan politik yang lebih substansial dan bermakna. Lakukan ketiga langkah sederhana secara konsisten, sebagai individu dan kolektif, dan mungkin saja jika Tuhan merestui, carut-marut bangsa akan sedikit terbenahi atau malah terbenahi seutuhnya. [T]

Penulis: Mansurni Abadi
Editor:Adnyana Ole

Dramaturgi Politik Gas Melon
Bali Dalam Politik: Pola Kampanye Semu Calon Pejabat Publik Dilihat Dari Perspektif Dramaturgi Erving Goffman
‘Adat Dunia Balas Berbalas, Adat Hidup Tolong Menolong’ dalam konteks Geopolitik Kontemporer
Tags: Politik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di “Bali Berkisah”, Mendengar Proses Kreatif Henry Manampiring Menulis “Sajaksel” dan “50 to 20”

Next Post

Idulfitri : Kuburkan Benci Bangkitkan Simpati

Mansurni Abadi

Mansurni Abadi

Mantan pengurus divisi riset Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia 2021-2022 dan pengurus divisi riset Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Malaysia 2021-2023, Saat ini berkerja sebagai relasi publik di NGO SMT di Malaysia

Related Posts

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails
Next Post
Ramadhan Sepanjang Masa

Idulfitri : Kuburkan Benci Bangkitkan Simpati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co