14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Langkah Sederhana Mengubah Kekotoran Politik

Mansurni Abadi by Mansurni Abadi
March 25, 2025
in Esai
Bersama dalam Fitri dan Nyepi: Romansa Toleransi di Tengah Problematika Bangsa

Mansurni Abadi

KITA yang mengutuki politik, di satu sisi pasti masih menyisakan sedikit percaya jika dari yang politik itulah yang kita harapkan mampu mengubah kondisi bangsa yang kita anggap sudah sedemikian buruknya ini. Bukankah kehidupan sendiri adalah permainan politis, apalagi jika kita maknai politik sebagaimana Harold D. Lasswelldan A. Kaplan tentang politik yang berkutat pada siapa  yang mendapatkan apa, kapan dan bagaimana? Maka sejatinya kita selalu bermain-main dengan yang politik hingga napas terhenti.

Jadi ketika kita berimaji sembari bertindak dan meyakini bahwa apa yang kita lakukan hari ini mampu membuat Indonesia lebih baik, bukankah itu juga laku dari politik. Politik itu paradoks, kita seringkali membayangkanya dari sisi yang idealis tapi sejatinya politik itu menempatkan kita pada pola pikir, pendirian, bahkan laku yang menerima in-between karena politik itu seni tentang banyak kemungkinan.

Oleh karena itu di banyak litelatur dan omon-omon politik, kita semua harus berusaha mencari tahu strategi politik apa yang paling tepat untuk mengubah keadaan atau minimal mendekati keadaan yang kita sama-sama inginkan. Jadi dalam politik, posisi abu-abu terkadang lebih sering tampak ketimbang memilih yang hitam atau yang putih. Tentu saja masalah ini akan bertentangan dengan etika yang hanya ada dua pilihan antara yang etis atau yang tidak etis. Tapi mau bagaimana lagi, selama kebermanfaatan dapat dihadirkan mendekati optimal, dan yang rusak tidak menjadi total meskipun in-between, harus kita terima.

Tapi untuk mengubah politik harus dimulai dari mana?

Yang pertama kali kita perlu lakukan adalah sadar terhadap yang politik, dalam konteks ini, sadar artinya berperan aktif sebagai warga negara untuk membangun iklim politik yang sehat  melalui rasionalisasi politik. Jurgen Habermas dalam Toward a Rational Society menekankan bahwa rasionalisasi politik bertujuan untuk meningkatkan wacana kritis yang mendorong mayoritas menjadi critical mass—massa yang berpikir kritis dan bertindak secara mandiri. Untuk mencapainya, Habermas menekankan pentingnya pendekatan dari bawah—rasionalisasi yang berkembang secara organik di kalangan masyarakat akar rumput tanpa paksaan atau arahan dari atas.

Jika kita lelah dengan politik yang berbalut citra, dijebak oleh seremonial ritus pemilihan 5 tahunan, dan diperkuat dengan pengkultusan terhadap seseorang hanya karena pidatonya menggelegar dan tampilan merakyat, maka kita harus mulai memikirkan sesuatu yang rasional.   Rasional artinya kita paham terhadap apa yang penting dan bagaimana yang penting itu dapat dicapai dengan basis penilaian yang kuat terhadap siapa yang dianggap mampu untuk mencapai apa yang kita sama-sama inginkan itu. Jangan terjebak pada tampilan luar apalagi trah keturunan, karena semua itu hanyalah ilusi dangkal.

Politik yang penuh ilusi, kalau menurut Farish M. Noor, seorang intelektual Singapura, pada akhirnya menyempitkan visi dan misi politik menjadi despotik, esensi menjadi ilusi, demokrasi menjadi oligarki, dan perubahan hanya sekadar hantaman tanpa substansi.

Yang kedua, ciptakan nuansa, menurut pendapat saya, masalah terbesar dalam politik (sebagian besar karena hasutan media) adalah bahwa *sering kali tidak ada ruang untuk nuansa atau jalan tengah yang dapat diterima.* Sebaliknya, *subjek yang kompleks dipecah menjadi ekstrem hitam dan putih yang sederhana, dan individu didorong untuk memilih salah satu dari ekstrem ini* dan *dengan keras menolak siapa pun yang bersekutu dengan yang lain.*

Meskipun banyak yang cenderung melakukan itu di usia muda, _pada akhirnya kita perlahan-lahan menyadari bahwa pihak lain sering kali memiliki poin-poin yang sangat valid,_ dan bahwa beberapa pihak telah menyesatkan kita dengan bersikeras bahwa pihak lain sepenuhnya salah.

Pada gilirannya, _kita sekarang percaya bahwa untuk hampir semua isu yang memecah belah yang telah berlangsung lama, biasanya _ada alasan mengapa kedua belah pihak benar, dan satu-satunya cara untuk keluar  dari dilema  dengan menekankan perspektif bernuansa yang mempertimbangkan keduanya.

Sayangnya, proses politik melatih anggota masing-masing pihak untuk tidak hanya menyerang mereka yang berseberangan, tetapi juga mereka yang menyajikan perspektif yang bernuansa (karena lebih sulit untuk dipahami secara mental). Selain hal ini sangat disayangkan (karena membuat kita terpecah belah dan mencegah masalah kritis terpecahkan), hal ini sering kali disengaja, karena perdebatan sering kali dibingkai sehingga suatu poin yang dapat disetujui semua orang yang mendasari masalah yang sedang dihadapi (misalnya, bahwa masalah tersebut pada akhirnya merupakan hasil dari praktik predator dari kelas elit) tidak pernah masuk dalam diskusi.

Sejak dulu, kita mendengar ungkapan _”politik adalah seni tentang kemungkinan”_oleh karena itu menyelesaikan sesuatu memerlukan kemampuan untuk bekerja secara cerdas dengan pihak lain guna menemukan kompromi yang dapat diterima oleh mereka. Sebaliknya, pemikiran dogmatis dan tidak adanya toleransi terhadap sudut pandang yang berlawanan biasanya mengarah pada tidak adanya penyelesaian,_ atau *apa yang telah dilakukan dengan cepat terhapus begitu angin politik berubah. Oleh karena itu, kita semua berusaha mencari tahu strategi politik apa yang paling tepat untuk mengubah keadaan secara permanen.

Yang ketiga, terapkan Do It Yourself (DIY), Jadi, konsep “Do It By Yourself”  itu intinya mendorong kita buat bisa mandiri dan mengatasi masalah sendiri tanpa harus selalu mengikuti perintah  apalagi menunggu datangnya bantuan . Dengan begitu, kita tidak cuma jadi kreatif, tapi juga bisa langsung langsung merespon dan sadar terhadap masalah.

Kalau kita mempunyai mindset “Do It By Yourself”  akan terbangun cara hidup yang horizontal, di mana semua orang punya suara yang sama dan tak ada yang dianggap lebih tinggi. Jadi, dengan pola pikir dan laku seperti ini kita  bakal merasa lebih bebas, bisa saling dukung, dan akhirnya menciptakan komunitas yang asik dan bebas dari dominasi sistem yang bikin pusing.

Dalam konteks  politik, jika Do It Yourself (DIY) diterapkan, artinya kita menyadari jika transformasi politik bukan sekadar tanggung jawab elit, melainkan tugas setiap individu. Demokrasi sejati tumbuh dari inisiatif pribadi dan kolektif, bukan dari intervensi struktural semata.

Kita bisa memulai dari hal-hal sederhana: menciptakan ruang diskusi yang bebas dan jujur, menggunakan media sosial untuk menyebarkan gagasan kritis, serta membangun komunitas yang sadar akan hak dan kewajiban politiknya. Dengan cara ini, politik tidak lagi menjadi permainan eksklusif para elit, melainkan gerakan bersama yang berangkat dari kesadaran dan aksi nyata setiap individu.

Keterlibatan aktif dalam proses demokrasi, baik dalam pemilihan umum, advokasi kebijakan, maupun gerakan sosial termasuk protes didalamnya, adalah bentuk nyata dari semangat DIY dalam politik. Dengan komitmen pada prinsip kebenaran dan keadilan, kita dapat meretas kebiadaban politik dan menggantinya dengan politik yang lebih substansial dan bermakna. Lakukan ketiga langkah sederhana secara konsisten, sebagai individu dan kolektif, dan mungkin saja jika Tuhan merestui, carut-marut bangsa akan sedikit terbenahi atau malah terbenahi seutuhnya. [T]

Penulis: Mansurni Abadi
Editor:Adnyana Ole

Dramaturgi Politik Gas Melon
Bali Dalam Politik: Pola Kampanye Semu Calon Pejabat Publik Dilihat Dari Perspektif Dramaturgi Erving Goffman
‘Adat Dunia Balas Berbalas, Adat Hidup Tolong Menolong’ dalam konteks Geopolitik Kontemporer
Tags: Politik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di “Bali Berkisah”, Mendengar Proses Kreatif Henry Manampiring Menulis “Sajaksel” dan “50 to 20”

Next Post

Idulfitri : Kuburkan Benci Bangkitkan Simpati

Mansurni Abadi

Mansurni Abadi

Mantan pengurus divisi riset Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia 2021-2022 dan pengurus divisi riset Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Malaysia 2021-2023, Saat ini berkerja sebagai relasi publik di NGO SMT di Malaysia

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Ramadhan Sepanjang Masa

Idulfitri : Kuburkan Benci Bangkitkan Simpati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co