2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Idulfitri : Kuburkan Benci Bangkitkan Simpati

Suradi Al Karim by Suradi Al Karim
March 25, 2025
in Esai
Ramadhan Sepanjang Masa

Suradi

SULIT dibohongi, catatan harian selama berpuasa penuh dengan nuansa permusuhan, kebencian, kedengkian, dan kecurigaan. Persahabatan, kejujuran, kesabaran, dan kepercayaan, nyaris tak terdengar.

Kenapa bulan puasa orang-orang cepat sekali marah? Baku pukul, baku caci menjadi berita sehari-hari. Tiada hari tanpa kekerasan, buruh marah kepada majikan, majikan marah kepada buruh. Bawahan marah pada atasan, atasan marah pada bawahan. Pemukiman marah pada pendatang, pendatang marah pada pemukiman. Daerah marah pada pusat, eh, ternyata pusat juga punya stok marah dan kekerasan dan penindasan makin  banyak.

Pemaksaan kehendak menjadi lumrah. Padahal pemaksaan kehendak adalah eufemisme dari perkosaan dan perampokan di siang bolong. Sebab pada saat kita memaksakan kehendak kepada orang lain, maka pada saat yang sama ada kehendak orang lain yang kita rampas. Hak kita dipaksakan pada orang lain, otomatis sebagian hak orang lain secara paksa kita ambil. Paling tidak hak orang lain untuk tidak dipaksa. Tesis ini agaknya tidak sulit dipahami.

Memang, tidak semua orang tahu, bahwa orang lain juga punya hak yang sama dengan kita. Ada yang tidak tahu bahwa dia tidak tahu, tapi ada juga yang pura-pura tidak tahu. Bukankah manusia adalah Homo sapiens makhluk si pemikir, bukan homo homini lupus– manusia yang satu serigala bagi manusia yang lainnya.

Jadi, ke mana gerangan perginya persahabatan, kejujuran, kebaikan, dan kesabaran itu? “Ke mana perginya hati, ke mana hilangnya rasa,”. Betulkah kita tergolong bangsa pemberang yang suka perang mulut ( baca: rakyat ktritik dibilang kampungan) ke mana bangsa yang penuh dengan sopan santun dan murah senyum itu? Ataukah karena selama ini, kita pandai menyembunyikan “belang”?

Sekarang setelah “tiada lagi ilalang tempat berlindung”, belangnya kelihatan dan kita kehilangan kearifan, karena kaget dengan perubahan keadaan. Betulkah kata orang tokoh bangsa dan petinggi negeri kita tidak cukup memiliki kecerdasan emosional? Setidaknya ada empat jenis kambing hitam atau barangkali lebih enak disebut dalil-dalil pembenaran terhadap sikap pemberang masyarakat ini, sebagaimana sering diungkapkan oleh para pengamat.

Pertama, ekonomi Indonesia sedang digerogoti penyakit. Ini masalah hidup mati keluarga (baca: penyakit yang paling  jelas dan nyata terlihat adalah PHK yang marajalela), sementara lapangan kerja baru yang dijanjikan pemerintah tak ada wujdunya.

Kedua, katanya sih,  itu akibat kebebasan yang terkekang selama Orde Baru. Dulu orang tidak boleh mengkritik, kalu mengkritik ditangkap. Aspirasi tersumbat, demokrasi tidak jalan, tidak ada keterbukaan. Itu dosa keturunan. Sekarang, setelah sumbatnya dibuka orang ramai-ramai “merapel” kemarahan. Artinya, semakian banyak pengangguran baru atau korban PHK yang bingung  harus mencari kerja di mana lagi. Di saat yang bersamaan , negara bersikukuh membantu para perwira tinggi non-job mendapartkan pekerjaan melalui revisi UU TNI.

Ketiga, kita kan berada dalam masa transisi peradaban, semacam akulturasi. Kita sudah hampir terbiasa dengan kebudayaan feodalistik. Aturan mainnya, bos tidak bisa melakukan kesalahan ( the boss can do no wrong ). Padahal yang namanya manusia bisa berbuat salah kapan saja, tidak ada yang abadi. Jadi ibarat pertandingan, hasil yang sudah ada, dianulir, dan kembali harus dihitung ulang : 0-0. Peraturan baru permainan pun diterapkan. Pemain yang tadinya sudah unggul tentu merasa kesal, sedangkan pemain yang tadinya sudah hampir putus asa, berjingkrak-jingkrak, euphoria. Dengan aturan main baru, ritme permainan menjadi rusak dan perasaan jengkel kepada keadaan tumbuh dengan subur. Tidak hanya di kalangan pemain, “boneknya” juga ikut-ikutan jengkel.

Keempat, kambing hitamnya adalah provokator. Provokator inilah, konon yang menyemaikan kebencian, menyuburkan dendam, menghasut, dan mengadu domba. Masalah yang kecil dibesar-besarkan, buhul ( baca: ikatan pada tali atau benang) yang sudah kokoh diungkai. Provokator laksana musang berbulu ayam atau ayam berbulu musang, sama saja. Musang berbulu ayam atau ayam berbulu musang untuk menipu lawan. Ayam berbulu musang berarti penyamaran untuk menipu kawan. Kawan lari ketakutan, makanan yang tinggal disantap sendiri. Akibatnya tumbuh rasa curiga.

***

Dalam masyarakat yang sedang mengalami turbulensi di Melenium ke-3 Masehi ini, orang hampir kehilangan kepercayaan diri dan hampir menyerah pada keadaan. Kelompok orang-orang seperti ini akan menjadi mudah tersinggung, marah dan bertindak melewati batas-batas kewajaran. Nafsu adalah akar dari semua masalah yang menimbulkan permusuhan, kedengkian, kebencian, dendam, dan sebagainya. Permusuhan pangkal dari segala keburukan dan kejahatan. Sikap permusuhan akan menjerumuskan diri sendiri ke dalam kehancuran peradaban. Orang yang selalu bermusuhan, hatinya selalu tergoda untuk menjatuhkan lawannya agar dirinya selalu dipandang sebagai pemenang. Energinya habis untuk itu.

Apa yang dikatakan oleh Richard Nixon, Presiden Amerika (1969-1974) agaknya benar, “Ingatlah bahwa orang lain bisa saja membenci Anda, tetapi kalau Anda meladeni dengan balas membenci mereka, Anda merusakkan diri Anda sendiri.” Kata orang bijak, membenci orang lain adalah laksana membakar rumah kita sendiri untuk mengusir seekor tikus.

Disahkan RUU TNI berarti ibaranya pemerintah  sudah terang-terangan memerangi rakyatnya sendiri. Pemerintah itu sudah tidak sembunyi sembunyi lagi, sudah  mengambil hak rakyat, menindas, hanya untuk menguntungkan  golongan-golongan mereka. Singkat kata, Revisi UU TNI menjadi UU TNI oleh DPR, maka apa yang terjadi pada masa Orde Baru secara perlahan akan terulang.

Selain daripada itu, perputaran uang Lebaran lesu, tanggal 31 Maret 2025 Lebaran Idulfitri. Namun, perputaran uang saat momen libur Lebaran  justru diproyeksi merosost, pasar saham ambyar, rupiah melemah, inilah kejadian pahit yang dilami oleh rakyat Indonesia ( baca : bukan penguasa, pejabat dan pemrintah serta pengusaha). Lagi-lagi  alih-alih Koalisi Masyarakat Sipil menyampaikan keprihatinan atas pengiriman “Kepala Babi” kepada wartawan Tempo,  Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi justru menyatakan bahwa kepala babi tersebut sebaiknya “dimasak” saja. Terlepas dari sikap dan posisi media  untuk kritis terhadap situasi yang ada, ungkapan yang menyepelekan teror ini mengusik hak rasa aman sesorang tidak hanya jurnalis (baca: cermin lemahnya komitmen pemerintah terhadap kebebasan sipil). Artinya, bangsa ini masih doyan dengan praktik purba yang mestinya sudah harus ditinggalkan. Dan praktik intimidasi sperti ini harus segera diusut.

Sebulan lamanya kita berperang melawan hawa nafsu itu dan saat kita merayakan Idulfitri pekan ini, de facto kita telah keluar sebagai pemenang. Mestinya catatan harian yang penuh dengan noda-noda hitam itu sudah habis dibakar. Namun catatan harian itu kan catatan imajiner yang ada dalam hati setiap insan. Secara horizontal barangkali dapat dibuat tolok ukur, tetapi secara vertikal? Kata orang, dalam laut dapat diduga, dalam hati siapa tahu?

Namun, untuk apa menduga-duga, lebih baik kita mulai melangkah ke depan dengan berpikir positif : kuburkan kebencian dan bangkitkan simpati. Mari bersalam-salaman. Idulfitri adalah kemenangan kita semua, di sini menang, di sana menang. Selamat Idulfitri 2025 M/1446 H, mohon maaf lahir dan batin! [T]

Penulis: Suradi Al  Karim
Editor:Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Ramadhan Sepanjang Masa
Sabar, “Password” Ramadhan
Marhaban Ya Ramadhan dan Madrasah Ramadhan
Tags: bulan puasaIslamRamadan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Langkah Sederhana Mengubah Kekotoran Politik

Next Post

Sutjidra-Supriatna, Pemimpin Buleleng yang Senantiasa Berbaur dengan Warga Muslim di Bulan Ramadan

Suradi Al Karim

Suradi Al Karim

Penasihat MD KAHMI Banyumas Raya, Penasihat DPC Peradi Purwokerto, Fungsionaris BPPH MPC PP Kab. Banyumas dan LBH AP PDM Kab. Banyumas, serta Wakil Ketua Bidang Organisasi dan Hukum KONI Kab. Banyumas.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Sutjidra-Supriatna, Pemimpin Buleleng yang Senantiasa Berbaur dengan Warga Muslim di Bulan Ramadan

Sutjidra-Supriatna, Pemimpin Buleleng yang Senantiasa Berbaur dengan Warga Muslim di Bulan Ramadan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co