12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Idulfitri : Kuburkan Benci Bangkitkan Simpati

Suradi Al Karim by Suradi Al Karim
March 25, 2025
in Esai
Ramadhan Sepanjang Masa

Suradi

SULIT dibohongi, catatan harian selama berpuasa penuh dengan nuansa permusuhan, kebencian, kedengkian, dan kecurigaan. Persahabatan, kejujuran, kesabaran, dan kepercayaan, nyaris tak terdengar.

Kenapa bulan puasa orang-orang cepat sekali marah? Baku pukul, baku caci menjadi berita sehari-hari. Tiada hari tanpa kekerasan, buruh marah kepada majikan, majikan marah kepada buruh. Bawahan marah pada atasan, atasan marah pada bawahan. Pemukiman marah pada pendatang, pendatang marah pada pemukiman. Daerah marah pada pusat, eh, ternyata pusat juga punya stok marah dan kekerasan dan penindasan makin  banyak.

Pemaksaan kehendak menjadi lumrah. Padahal pemaksaan kehendak adalah eufemisme dari perkosaan dan perampokan di siang bolong. Sebab pada saat kita memaksakan kehendak kepada orang lain, maka pada saat yang sama ada kehendak orang lain yang kita rampas. Hak kita dipaksakan pada orang lain, otomatis sebagian hak orang lain secara paksa kita ambil. Paling tidak hak orang lain untuk tidak dipaksa. Tesis ini agaknya tidak sulit dipahami.

Memang, tidak semua orang tahu, bahwa orang lain juga punya hak yang sama dengan kita. Ada yang tidak tahu bahwa dia tidak tahu, tapi ada juga yang pura-pura tidak tahu. Bukankah manusia adalah Homo sapiens makhluk si pemikir, bukan homo homini lupus– manusia yang satu serigala bagi manusia yang lainnya.

Jadi, ke mana gerangan perginya persahabatan, kejujuran, kebaikan, dan kesabaran itu? “Ke mana perginya hati, ke mana hilangnya rasa,”. Betulkah kita tergolong bangsa pemberang yang suka perang mulut ( baca: rakyat ktritik dibilang kampungan) ke mana bangsa yang penuh dengan sopan santun dan murah senyum itu? Ataukah karena selama ini, kita pandai menyembunyikan “belang”?

Sekarang setelah “tiada lagi ilalang tempat berlindung”, belangnya kelihatan dan kita kehilangan kearifan, karena kaget dengan perubahan keadaan. Betulkah kata orang tokoh bangsa dan petinggi negeri kita tidak cukup memiliki kecerdasan emosional? Setidaknya ada empat jenis kambing hitam atau barangkali lebih enak disebut dalil-dalil pembenaran terhadap sikap pemberang masyarakat ini, sebagaimana sering diungkapkan oleh para pengamat.

Pertama, ekonomi Indonesia sedang digerogoti penyakit. Ini masalah hidup mati keluarga (baca: penyakit yang paling  jelas dan nyata terlihat adalah PHK yang marajalela), sementara lapangan kerja baru yang dijanjikan pemerintah tak ada wujdunya.

Kedua, katanya sih,  itu akibat kebebasan yang terkekang selama Orde Baru. Dulu orang tidak boleh mengkritik, kalu mengkritik ditangkap. Aspirasi tersumbat, demokrasi tidak jalan, tidak ada keterbukaan. Itu dosa keturunan. Sekarang, setelah sumbatnya dibuka orang ramai-ramai “merapel” kemarahan. Artinya, semakian banyak pengangguran baru atau korban PHK yang bingung  harus mencari kerja di mana lagi. Di saat yang bersamaan , negara bersikukuh membantu para perwira tinggi non-job mendapartkan pekerjaan melalui revisi UU TNI.

Ketiga, kita kan berada dalam masa transisi peradaban, semacam akulturasi. Kita sudah hampir terbiasa dengan kebudayaan feodalistik. Aturan mainnya, bos tidak bisa melakukan kesalahan ( the boss can do no wrong ). Padahal yang namanya manusia bisa berbuat salah kapan saja, tidak ada yang abadi. Jadi ibarat pertandingan, hasil yang sudah ada, dianulir, dan kembali harus dihitung ulang : 0-0. Peraturan baru permainan pun diterapkan. Pemain yang tadinya sudah unggul tentu merasa kesal, sedangkan pemain yang tadinya sudah hampir putus asa, berjingkrak-jingkrak, euphoria. Dengan aturan main baru, ritme permainan menjadi rusak dan perasaan jengkel kepada keadaan tumbuh dengan subur. Tidak hanya di kalangan pemain, “boneknya” juga ikut-ikutan jengkel.

Keempat, kambing hitamnya adalah provokator. Provokator inilah, konon yang menyemaikan kebencian, menyuburkan dendam, menghasut, dan mengadu domba. Masalah yang kecil dibesar-besarkan, buhul ( baca: ikatan pada tali atau benang) yang sudah kokoh diungkai. Provokator laksana musang berbulu ayam atau ayam berbulu musang, sama saja. Musang berbulu ayam atau ayam berbulu musang untuk menipu lawan. Ayam berbulu musang berarti penyamaran untuk menipu kawan. Kawan lari ketakutan, makanan yang tinggal disantap sendiri. Akibatnya tumbuh rasa curiga.

***

Dalam masyarakat yang sedang mengalami turbulensi di Melenium ke-3 Masehi ini, orang hampir kehilangan kepercayaan diri dan hampir menyerah pada keadaan. Kelompok orang-orang seperti ini akan menjadi mudah tersinggung, marah dan bertindak melewati batas-batas kewajaran. Nafsu adalah akar dari semua masalah yang menimbulkan permusuhan, kedengkian, kebencian, dendam, dan sebagainya. Permusuhan pangkal dari segala keburukan dan kejahatan. Sikap permusuhan akan menjerumuskan diri sendiri ke dalam kehancuran peradaban. Orang yang selalu bermusuhan, hatinya selalu tergoda untuk menjatuhkan lawannya agar dirinya selalu dipandang sebagai pemenang. Energinya habis untuk itu.

Apa yang dikatakan oleh Richard Nixon, Presiden Amerika (1969-1974) agaknya benar, “Ingatlah bahwa orang lain bisa saja membenci Anda, tetapi kalau Anda meladeni dengan balas membenci mereka, Anda merusakkan diri Anda sendiri.” Kata orang bijak, membenci orang lain adalah laksana membakar rumah kita sendiri untuk mengusir seekor tikus.

Disahkan RUU TNI berarti ibaranya pemerintah  sudah terang-terangan memerangi rakyatnya sendiri. Pemerintah itu sudah tidak sembunyi sembunyi lagi, sudah  mengambil hak rakyat, menindas, hanya untuk menguntungkan  golongan-golongan mereka. Singkat kata, Revisi UU TNI menjadi UU TNI oleh DPR, maka apa yang terjadi pada masa Orde Baru secara perlahan akan terulang.

Selain daripada itu, perputaran uang Lebaran lesu, tanggal 31 Maret 2025 Lebaran Idulfitri. Namun, perputaran uang saat momen libur Lebaran  justru diproyeksi merosost, pasar saham ambyar, rupiah melemah, inilah kejadian pahit yang dilami oleh rakyat Indonesia ( baca : bukan penguasa, pejabat dan pemrintah serta pengusaha). Lagi-lagi  alih-alih Koalisi Masyarakat Sipil menyampaikan keprihatinan atas pengiriman “Kepala Babi” kepada wartawan Tempo,  Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi justru menyatakan bahwa kepala babi tersebut sebaiknya “dimasak” saja. Terlepas dari sikap dan posisi media  untuk kritis terhadap situasi yang ada, ungkapan yang menyepelekan teror ini mengusik hak rasa aman sesorang tidak hanya jurnalis (baca: cermin lemahnya komitmen pemerintah terhadap kebebasan sipil). Artinya, bangsa ini masih doyan dengan praktik purba yang mestinya sudah harus ditinggalkan. Dan praktik intimidasi sperti ini harus segera diusut.

Sebulan lamanya kita berperang melawan hawa nafsu itu dan saat kita merayakan Idulfitri pekan ini, de facto kita telah keluar sebagai pemenang. Mestinya catatan harian yang penuh dengan noda-noda hitam itu sudah habis dibakar. Namun catatan harian itu kan catatan imajiner yang ada dalam hati setiap insan. Secara horizontal barangkali dapat dibuat tolok ukur, tetapi secara vertikal? Kata orang, dalam laut dapat diduga, dalam hati siapa tahu?

Namun, untuk apa menduga-duga, lebih baik kita mulai melangkah ke depan dengan berpikir positif : kuburkan kebencian dan bangkitkan simpati. Mari bersalam-salaman. Idulfitri adalah kemenangan kita semua, di sini menang, di sana menang. Selamat Idulfitri 2025 M/1446 H, mohon maaf lahir dan batin! [T]

Penulis: Suradi Al  Karim
Editor:Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Ramadhan Sepanjang Masa
Sabar, “Password” Ramadhan
Marhaban Ya Ramadhan dan Madrasah Ramadhan
Tags: bulan puasaIslamRamadan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Langkah Sederhana Mengubah Kekotoran Politik

Next Post

Sutjidra-Supriatna, Pemimpin Buleleng yang Senantiasa Berbaur dengan Warga Muslim di Bulan Ramadan

Suradi Al Karim

Suradi Al Karim

Penasihat MD KAHMI Banyumas Raya, Penasihat DPC Peradi Purwokerto, Fungsionaris BPPH MPC PP Kab. Banyumas dan LBH AP PDM Kab. Banyumas, serta Wakil Ketua Bidang Organisasi dan Hukum KONI Kab. Banyumas.

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Sutjidra-Supriatna, Pemimpin Buleleng yang Senantiasa Berbaur dengan Warga Muslim di Bulan Ramadan

Sutjidra-Supriatna, Pemimpin Buleleng yang Senantiasa Berbaur dengan Warga Muslim di Bulan Ramadan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co