15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sabar, “Password” Ramadhan

Suradi Al Karim by Suradi Al Karim
March 10, 2025
in Esai
Korelasi PKPU 13 Tahun 2024 dengan Kotak Kosong

Suradi Al Karim

PEMBACA yang budiman, sesunguhnya kita telah sampai pada hari ke- 10 (sepuluh) dari bulan penuh berkah ini. Bulan Ramadhan terbagi dalam tiga fase, ketiganya adalah sepuluh hari pertama yang penuh rahmat, sepuluh hari kedua yang penuh ampunan, dan sepuluh hari ketiga dengan jaminan terbebas dari neraka. “Awal bulan Ramadhan adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, sedangkan akhirnya adalah terbebas dari api neraka” (HR. Al-Baihaqi).

Dalam bulan Ramadhan ini, Antum pernah tidak menggunakan waktu sekitar lima menit saja dalam sehari untuk bermenung melakukan introspeksi, atau mencoba mencerna kejadian demi kejadian yang masuk memori Antum hari itu? Kalau belum, cobalah lakukan di bulan Ramadhan ini. Barangkali ada manfaatnya.

Dari mulai memasuki bulan Ramadhan kali ini bangsa kita sedang dihadapkan pada sebuah kenyataan pahit, kesabaran anak bangsa sedang bermasalah (baca : degradasi moral),PHK massal terjadi.  Sritex bangkrut, namun empunya tetap tajir, korupsi menggunung, tapi koruptor tetap kaya, laut dipagar, yang punya tetap dirangkul, semua virusnya berkembang dengan subur. Fenomena apa ini?

Kesabaran seakan menjadi barang yang amat langka. Atau karena stoknya memang terbatas dan sekarang sudah habis? Mudah-mudahan tidak. Orang sabar itu kan dikasihi oleh Allah Tuhan Yang Maha Kuasa. Menurut pendapat para ulama, sabar adalah salah satu akhlak yang mulia, yang menghalangi munculnya tindakan tidak terpuji. Sabar adalah salah satu kekuatan jiwa dan dengannya segala urusan menjadi baik dan lancar.

Adalah  Al-Junaid bin Muhammad, Ulama dan Sufi terkenal dari abad ke-9 Masehi lahir di Irak, membuat sebuah perumpamaan,  hakikat sabar adalah laksana meneguk sesuatu yang pahit tanpa perlu merengut. Berarti mudah diucapkan, tetapi sulit untuk dilaksanakan. Walaupun demikian bisa dilaksanakan kalau kita mau melaksanakannya.

Jiwa adalah kendaraan seorang hamba dan dengannya ia berjalan menuju surga atau neraka, kebaikan atau keburukan. Sedang sabar bagi jiwa adalah kendali. Jika kendali hilang, maka jiwa kehilangan arah, seperti kapal patah kemudi, senantiasa  terombang-ambing dan ini merupakan makanan empuk para provokatot yang sekarang memang sedang marajalela di NKRI.

Dalam jiwa terdapat dua kekuatan, yaitu kekuatan mendorong dan kekuatan menolak. Maka hakekat sabar ialah mengarahkan kekuatan yang mendorong kepada apa yang bermanfaat baginya dan mengarahkan kekuatan penolak dari apa yang merugikannya. Ungkapan bijak seorang filsuf dan penulis Amerika  Serikat E.H. Chapin (1814-1880) sangat relevan untuk direnungkan, “tidak pernah jiwa manusia tampil begitu kuat seperti saat mereka mengurungkan balas dendam dan berani memaafkan”.

***

Semakin kita sabar, semakin dapat menerima hidup ini apa adanya, bukan memaksakan hidup ini persis seperti yang kita kehendaki. Antara harapan dan kenyataan tidak selalu sama (baca : tiada materi visi-misi kampanye, tapi kemudian muncul ada program baru setelah jadi pimpinan). Manusia hanya bisa merencanakan, keputusan di tangan Allah SWT. Dalam konteks ini, sebuah musibah sebagaimana pun kecilnya adalah merupakan ujian bagi kesabaran ( baca : apa yang terjadi terkini di Negeri ini ujian bagi pimpinan yang sepertinya hanya omon-omom di panggung).

 Di tengah perubahan masyarakat yang berlangsung cepat dewasa ini tanpa tingkat kesabaran yang tinggi pastilah membuat kita sangat frustrasi. Orang akan mudah marah, jengkel, terganggu, merasa tidak didudukkan pada tempatnya, dilecehkan, dan merasa disakiti. Kesabaran menambahkan suatu dimensi ketentraman dan rasa menerima dalam hidup kita.

Kesabaran juga mengharuskan kita melihat ketidakbersalahan pada diri orang lain dan memahami ketidaksempurnaan sesama manusia. Bila prinsip tersebut disadari dengan ikhlas, kita akan menjadi orang yang lebih sabar dan tenang. Dan dengan cara yang aneh, mulai menikmati saat-saat yang biasanya akan membuat kita frustrasi.

Meminjam kata bijak OG Mandino, seorang filsuf dan penulis Amarika Serikat (1923-1996), agaknya menarik untuk disimak, “ Kesabaran adalah kekuasaan. Pergunakanlah untuk memupuk semangat, meredakan kemarahan, meredam angkara murka, mengubur rasa iri, menekan kesombongan, menahan lidah, mengekang tangan, sampai tiba waktunya Anda memanen seluruh hasilnya. Berjuang meraih harta tanpa kesabaran justru akan mengamblaskan milik yang sudah ada. Berani tanpa disertai kesabaran akan membunuh Anda”.

Dalam konsep Barat, kesabaran dapat dilatih. Caranya, mulailah mengatakan pada diri Anda, “Oke, selama lima menit berikut ini aku akan membuat diriku tidak merasa terganggu oleh apa pun dan oleh siapa pun. Aku akan sabar.” Lakukan itu setiap hari dan Anda akan terkejut melihat hasilnya, ternyata Anda bisa. Coba bayangkan bila temponya diperpanjang menjadi sepuluh menit, satu jam, atau satu hari.

Umat Islam punya “password” tersendiri untuk melatih kesabaran, yaitu melalui puasa Ramadhan. Sekali setahun umat Islam diberi kesempatan untuk berkontemplasi, merenung, mengevaluasi apa yang telah dilakukan dan apa yang telah diperoleh. Bulan Ramadhan merupakan kesempatan emas bagi seorang muslim untuk menambah kebaikan dan mengurangi sebab-sebab timbulnya keburukan.

Pintu-pintu kebaikan dan pintu surga terbentang lebar. Sementara pintu-pintu neraka tertutup rapat dan setan-setan terbelenggu (dipenjara). Selama puasa Ramadhan opsi kebaikan memang tersedia amat banyak sedangkan opsi keburukan sangat sedikit dan terbatas. Artinya, cukup banyak tersedia ruang untuk berbuat kebajikan. Sesungguhnya bahagia orang yang menggunakan kesempatan ini dan memilih opsi yang tepat. Diakandung maksud, jangan memilih opsi Lansia  baru berbuat kebajikan.

Puasa yang baik adalah jika bukan hanya sekedar puasa menahan haus dan lapar serta puasa menahan nafsu syahwat. Tetapi lidah, mata, telinga, dan semua anggota badan harus ikut berpuasa. Kedua matamu, begitu sering diajarkan ustad, harus berpuasa memandang hal-hal yang haram. Lidahmu harus berpuasa dari dusta, caci-maki, dan adu domba.

Kalau sebulan lamanya kita berpuasa dan terlatih sabar, maka kebiasaaan ini akan berpengaruh pada perilaku hari-hari berikutnya setelah Ramadhan. Kebaikan dan keburukan sebenarnya bermula dari kebiasaan. Manusia kadangkala kurang memiliki kecerdasan emosional sehingga terdorong untuk melakukan hal-hal yang tidak pantas dan konyol.

Untung ada kesabaran sebagai kendali untuk menghalanginya. Pertempuran sering meletus di antara keduanya dan medan pertempuran adalah hati seorang hamba.  Wallahu a’lam bishawab! [T]

Penulis: Suradi Al  Karim
Editor:Adnyana Ole

Marhaban Ya Ramadhan dan Madrasah Ramadhan
Tarawih, Sepakbola dan Cinta – Cerita Bulan Ramadan di Kampung
Puisi-puisi Yahya Umar #Ramadan, Perjalanan Ruhani
Nyapar: Tradisi dan Kearifan Lokal Desa Pengastulan
Tags: bulan puasaIslamMuslimRamadanRamadhan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ngusaba Kadasa Pura Ulun Danu Batur:  Puncaknya, 12 April 2025, “Masineb” Tepat Umanis Galungan

Next Post

Bali Menjadi Subjek, Bukan Objek

Suradi Al Karim

Suradi Al Karim

Penasihat MD KAHMI Banyumas Raya, Penasihat DPC Peradi Purwokerto, Fungsionaris BPPH MPC PP Kab. Banyumas dan LBH AP PDM Kab. Banyumas, serta Wakil Ketua Bidang Organisasi dan Hukum KONI Kab. Banyumas.

Related Posts

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

Read moreDetails

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails
Next Post
Bali Menjadi Subjek, Bukan Objek

Bali Menjadi Subjek, Bukan Objek

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co