24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tarawih, Sepakbola dan Cinta – Cerita Bulan Ramadan di Kampung

Muhammad Fathur Rozi by Muhammad Fathur Rozi
May 16, 2019
in Esai
Tarawih, Sepakbola dan Cinta – Cerita Bulan Ramadan di Kampung

Ilustrasi foto: Bukalapak

Di antara bulan selama dalam jangka satu tahun, ada bulan yang berbeda dari yang lain. Ya sebut saja bulan Ramadan, bulan suci umat Islam, bulan yang dinantikan khususnya saya sendiri sebagai mahasiswa dan anak rantau. Sudah hampir tiga tahun saya tidak menikmati puasa bersama keluarga di kampung. Sebuah rasa rindu sudah menggerayang dalam diri. Entahlah, apakah Ramadan tahun ini akan pulang.

“Aduh saya kok malah curhat ya?” hehe…Ada beberapa catatan kecil dalam serba-serbi Ramadan.

Tarawih dan Sepak Bola

Selain beribadah puasa salah satu yang spesial saat Ramadan adalah salat tarawih.Kalau salat tarawih mah hukumnya sunah, tapi sunah yang diutamakan karena tepat bulan Ramadan.

Maka dari itu, dikerjakan ataupun tidak, boleh-boleh saja. Tapi, uniknya mereka datang juga ke musala, langgar atau masjid. Semangatnya luar biasa entah mereka datang hanya mencari kue atau apalah saya juga kurang tahu. Tapi yang perlu ditekankan dalam salat tarawih analoginya ya seperti sepak bola.

Yang pertama, salat tarawih pas awal bulan puasa, aduh..sangat banyak yang berdatangan baik yang muda, tua, sampai anak-anak pun juga datang. Kalau di kampung-kampung saya perhatikan makmumnya sampai tarawihnya di luar musala karena di dalam sudah tidak muat lagi.

Mereka menghamparkan karpet besar dan salatlah mereka di sana. Tapi, maklum juga, namanya juga masih semangat pas awal tarawih. Lihatlah pas di pertengahan 15 hari tarawih, masih syukur kalau ada makmum satu saf. Kadang-kadang tarawih cuma bermakmum lima orang.

Nah, pas jelang penutupan alias bulan puasa hampir usai, mereka berbondong-bondong datang lagi, musala kembali penuh dengan jamaah tarawih seperti sedia kala waktu salat tarawih pertama.

“Pak ke mana saja kok baru nongol lagi tarawih?” Saya tanya.

“Hahaha iya, Cong, udah mau penutupan, ini final!” Laki-laki paruh baya itu menjawab

Hal yang demikian saya perhatikan mirip seperti sepak bola, khususnya pertandingan Piala Dunia yang diadakan 4 tahun sekali. Mari kita lihat suporter sepak bola, aduh… ketika pas pembukaan Piala Dunia meriahnya bukan main alias penuh di tribun penonton sampai sebagian dari mereka menonton bola di luar stadion melihat dari layar, itu di lokasi stadion tuan rumah.

Lalu bagaimana suporter di kampung-kampung? Sama saja! Pas awal-awal mah nonton bareng di beberapa tempat seperti pos kamling, kadang juga disediakan oleh Pak RT dan Pak Kades. Kondisinya sama, pas pembukaan piala dunia, kebetulan juga tuan rumah biasanya main kali pertama. Aduh yang nonton penuh sampai berderet ke pinggir-pinggir jalan.

Tapi jelang di pertengahan sudah mulai berkurang para penonton, entah malas atau karena bukan jagoannya tidak main. Nah, pas semi final sudah mulai agak banyak, apa lagi final. Aduh..lagi-lagi penuh seperti sedia kala.

Tarawih dan Cinta

“Bukan Siapa Yang Datang Paling Awal, Tapi Siapa Yang Tetap Bertahan Hingga Akhir”

Ini khusus yang bukan para jomlo.

Kalimat tentang cinta di atas kerap kali dilontarkan oleh anak muda yang sedang menjalin cinta. Ya memang begitu dalam sebuah hubungan. Ketika seseorang memiliki pasangan hidup mereka berdua juga tidak lepas melihat masa lalu mereka, atau ia pernah dekat dengan siapa. Tapi, itu bukan masalah.Yang paling utama adalah bagaimana mereka berdua menjalankan hidupnya dengan sesuatu yang baru.

Percuma bagi mereka yang datang melabuh pertama pada hati si pria atau wanita, toh ujung-ujungnya akan pergi. Tapi, walau datang tidak di awal tapi yang terpenting adalah ia bejuang dan bertahan hingga akhir menuju pelaminan.

Nah, begitu juga salat tarawih.Tidak peduli siapa mau datang sejak awal toh nanti ujung-ujungnya tidak sampai usai menuntaskan beberapa rakaat salat. Tapi, yang terpenting adalah siapa mereka yang mengikuti rakaat demi rakaat hingga tarawih usai. Nah begitulah korelasi antara cinta dan tarawih. Belajarlah cinta sebagaimana orang melaksanakan salat tarawih.

Tarawih dan Hal-hal yang Menggelikan

Ada-ada saja cerita di balik tarawih. Kalau saya piki-pikir tarawih itu ringan tapi juga ada saja hal yang menggelikan, kadang juga menjengkelkan, pas melaksanakan salat.

Bagaimana tidak, wong yang ikut tarawih anak kecil juga dibawa ke musala alasannya supaya anak belajar dari sejak kecil ada pula karena di rumah lagi tidak ada orang, jadinya dibawa ikut ke musala. Yah, mau bagaimana lagi tarawih kan juga hanya dilakukan 1 bulan dalam setahun.

Saya tidak menyalahkan mereka yang bergurau hingga ramai saat salah tarawih berlangsung karena dulu saya pernah begitu.

Hal yang membuat saya geli ketika anak-anak yang suka menyeret sarung hingga keadaan sarung yang diseret miring hampir jatuh, untungnya pakai celana pendek jadinya tidak kelihatan bagian dalamnya. Aduh… anak-anak yang menyeret malah terkekeh-kekeh tertawa di belakang. Mau digampar tidak mungkin karena mereka juga belum balig.

Ditambah lagi ada suara anak kecil di ruangan sebelah (tempat tarawih bagian wanita) ramainya bukan main sampai ada yang menangis. Setelah tarawih pun bergantian nyerocos yaitu ibu-ibu yang suka ngerumpi.   

Ada pula ketika melantunkan kata “Amin”, parahnya anak-anak bukan malah berkata “Amin” tapi mereka mengujarkan “Abit” itu kalau bahasa Madura artinya “lama”. Jadinya campur aduk antara “Amin” dan “Abit” sehingga sebagaian kaum tua ada sebagian tidak khusuk hingga membatalkan salatnya.

Lebih parahnya lagi anak-anak mengucapkan “Amin” sebelum imam selesai membaca surat Al-Fatihah jadinya agak rancu dan sebagian kaum tua tertawa tipis. Selain itu setelah membaca surat Al-Fatihah dilanjutkan membaca surah-surah pendek. Eh…malah anak-anak mengatakan “Amin” lagi.

Yang membuat geli terkadang tidak hanya anak-anak belum balig, tapi udah dewasa juga menggelikan. Pernah terjadi dialog seperti ini.

“Nanti malam mau tarawih di mana Cong?” tanya orang itu

“Ya seperti biasanya di musala sebelah, oh iya kamu kok tidak tarawih kemarin malam?” Jawabku sembari bertanya

“Aduh malas, soalnya kemarin malam saya tahu kalau di musala si A cuma dikasih krupuk, saya ke musala si B aja, lumayan dikasih semangka sama dodol” jawab orang itu.

“Oh iya kalau nanti malam musala si A dikasih apa ya?” ia bertanya

Nah itulah yang bikin geli, kadang jengkel juga.

Begitulah serba-serbi bulan Ramadan di kampung. Yang menjadi tanya saya sampai saat ini adalah benarkah selama bulan puasa tidak ada setan, dedemit, pocong, kuntilanak, tuyul milenium, atau hantu nenek gayung? Entahlah…saya juga tidak bisa memastikan. [T]

Tags: IslamkampungMuslimRamadhan
Share16TweetSendShareSend
Previous Post

Ingatan Yang Coba Kita Lupakan

Next Post

PKB Buleleng dan Buleleng Expo 2019: “Ngetnik” dan “Nginter”

Muhammad Fathur Rozi

Muhammad Fathur Rozi

Alumni mahasiswa PBSI–Undiksha. Kini menjadi guru dan mahasiswa magister aktif di Universitas Nurul Jadid Paiton. Facebook: El-Fathur Rozi. Gmail: rozi8917@gmail.com

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Belajar Menawar Harga-harga di Pasar Tradisional

PKB Buleleng dan Buleleng Expo 2019: "Ngetnik" dan "Nginter"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co