23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tarawih, Sepakbola dan Cinta – Cerita Bulan Ramadan di Kampung

Muhammad Fathur Rozi by Muhammad Fathur Rozi
May 16, 2019
in Esai
Tarawih, Sepakbola dan Cinta – Cerita Bulan Ramadan di Kampung

Ilustrasi foto: Bukalapak

Di antara bulan selama dalam jangka satu tahun, ada bulan yang berbeda dari yang lain. Ya sebut saja bulan Ramadan, bulan suci umat Islam, bulan yang dinantikan khususnya saya sendiri sebagai mahasiswa dan anak rantau. Sudah hampir tiga tahun saya tidak menikmati puasa bersama keluarga di kampung. Sebuah rasa rindu sudah menggerayang dalam diri. Entahlah, apakah Ramadan tahun ini akan pulang.

“Aduh saya kok malah curhat ya?” hehe…Ada beberapa catatan kecil dalam serba-serbi Ramadan.

Tarawih dan Sepak Bola

Selain beribadah puasa salah satu yang spesial saat Ramadan adalah salat tarawih.Kalau salat tarawih mah hukumnya sunah, tapi sunah yang diutamakan karena tepat bulan Ramadan.

Maka dari itu, dikerjakan ataupun tidak, boleh-boleh saja. Tapi, uniknya mereka datang juga ke musala, langgar atau masjid. Semangatnya luar biasa entah mereka datang hanya mencari kue atau apalah saya juga kurang tahu. Tapi yang perlu ditekankan dalam salat tarawih analoginya ya seperti sepak bola.

Yang pertama, salat tarawih pas awal bulan puasa, aduh..sangat banyak yang berdatangan baik yang muda, tua, sampai anak-anak pun juga datang. Kalau di kampung-kampung saya perhatikan makmumnya sampai tarawihnya di luar musala karena di dalam sudah tidak muat lagi.

Mereka menghamparkan karpet besar dan salatlah mereka di sana. Tapi, maklum juga, namanya juga masih semangat pas awal tarawih. Lihatlah pas di pertengahan 15 hari tarawih, masih syukur kalau ada makmum satu saf. Kadang-kadang tarawih cuma bermakmum lima orang.

Nah, pas jelang penutupan alias bulan puasa hampir usai, mereka berbondong-bondong datang lagi, musala kembali penuh dengan jamaah tarawih seperti sedia kala waktu salat tarawih pertama.

“Pak ke mana saja kok baru nongol lagi tarawih?” Saya tanya.

“Hahaha iya, Cong, udah mau penutupan, ini final!” Laki-laki paruh baya itu menjawab

Hal yang demikian saya perhatikan mirip seperti sepak bola, khususnya pertandingan Piala Dunia yang diadakan 4 tahun sekali. Mari kita lihat suporter sepak bola, aduh… ketika pas pembukaan Piala Dunia meriahnya bukan main alias penuh di tribun penonton sampai sebagian dari mereka menonton bola di luar stadion melihat dari layar, itu di lokasi stadion tuan rumah.

Lalu bagaimana suporter di kampung-kampung? Sama saja! Pas awal-awal mah nonton bareng di beberapa tempat seperti pos kamling, kadang juga disediakan oleh Pak RT dan Pak Kades. Kondisinya sama, pas pembukaan piala dunia, kebetulan juga tuan rumah biasanya main kali pertama. Aduh yang nonton penuh sampai berderet ke pinggir-pinggir jalan.

Tapi jelang di pertengahan sudah mulai berkurang para penonton, entah malas atau karena bukan jagoannya tidak main. Nah, pas semi final sudah mulai agak banyak, apa lagi final. Aduh..lagi-lagi penuh seperti sedia kala.

Tarawih dan Cinta

“Bukan Siapa Yang Datang Paling Awal, Tapi Siapa Yang Tetap Bertahan Hingga Akhir”

Ini khusus yang bukan para jomlo.

Kalimat tentang cinta di atas kerap kali dilontarkan oleh anak muda yang sedang menjalin cinta. Ya memang begitu dalam sebuah hubungan. Ketika seseorang memiliki pasangan hidup mereka berdua juga tidak lepas melihat masa lalu mereka, atau ia pernah dekat dengan siapa. Tapi, itu bukan masalah.Yang paling utama adalah bagaimana mereka berdua menjalankan hidupnya dengan sesuatu yang baru.

Percuma bagi mereka yang datang melabuh pertama pada hati si pria atau wanita, toh ujung-ujungnya akan pergi. Tapi, walau datang tidak di awal tapi yang terpenting adalah ia bejuang dan bertahan hingga akhir menuju pelaminan.

Nah, begitu juga salat tarawih.Tidak peduli siapa mau datang sejak awal toh nanti ujung-ujungnya tidak sampai usai menuntaskan beberapa rakaat salat. Tapi, yang terpenting adalah siapa mereka yang mengikuti rakaat demi rakaat hingga tarawih usai. Nah begitulah korelasi antara cinta dan tarawih. Belajarlah cinta sebagaimana orang melaksanakan salat tarawih.

Tarawih dan Hal-hal yang Menggelikan

Ada-ada saja cerita di balik tarawih. Kalau saya piki-pikir tarawih itu ringan tapi juga ada saja hal yang menggelikan, kadang juga menjengkelkan, pas melaksanakan salat.

Bagaimana tidak, wong yang ikut tarawih anak kecil juga dibawa ke musala alasannya supaya anak belajar dari sejak kecil ada pula karena di rumah lagi tidak ada orang, jadinya dibawa ikut ke musala. Yah, mau bagaimana lagi tarawih kan juga hanya dilakukan 1 bulan dalam setahun.

Saya tidak menyalahkan mereka yang bergurau hingga ramai saat salah tarawih berlangsung karena dulu saya pernah begitu.

Hal yang membuat saya geli ketika anak-anak yang suka menyeret sarung hingga keadaan sarung yang diseret miring hampir jatuh, untungnya pakai celana pendek jadinya tidak kelihatan bagian dalamnya. Aduh… anak-anak yang menyeret malah terkekeh-kekeh tertawa di belakang. Mau digampar tidak mungkin karena mereka juga belum balig.

Ditambah lagi ada suara anak kecil di ruangan sebelah (tempat tarawih bagian wanita) ramainya bukan main sampai ada yang menangis. Setelah tarawih pun bergantian nyerocos yaitu ibu-ibu yang suka ngerumpi.   

Ada pula ketika melantunkan kata “Amin”, parahnya anak-anak bukan malah berkata “Amin” tapi mereka mengujarkan “Abit” itu kalau bahasa Madura artinya “lama”. Jadinya campur aduk antara “Amin” dan “Abit” sehingga sebagaian kaum tua ada sebagian tidak khusuk hingga membatalkan salatnya.

Lebih parahnya lagi anak-anak mengucapkan “Amin” sebelum imam selesai membaca surat Al-Fatihah jadinya agak rancu dan sebagian kaum tua tertawa tipis. Selain itu setelah membaca surat Al-Fatihah dilanjutkan membaca surah-surah pendek. Eh…malah anak-anak mengatakan “Amin” lagi.

Yang membuat geli terkadang tidak hanya anak-anak belum balig, tapi udah dewasa juga menggelikan. Pernah terjadi dialog seperti ini.

“Nanti malam mau tarawih di mana Cong?” tanya orang itu

“Ya seperti biasanya di musala sebelah, oh iya kamu kok tidak tarawih kemarin malam?” Jawabku sembari bertanya

“Aduh malas, soalnya kemarin malam saya tahu kalau di musala si A cuma dikasih krupuk, saya ke musala si B aja, lumayan dikasih semangka sama dodol” jawab orang itu.

“Oh iya kalau nanti malam musala si A dikasih apa ya?” ia bertanya

Nah itulah yang bikin geli, kadang jengkel juga.

Begitulah serba-serbi bulan Ramadan di kampung. Yang menjadi tanya saya sampai saat ini adalah benarkah selama bulan puasa tidak ada setan, dedemit, pocong, kuntilanak, tuyul milenium, atau hantu nenek gayung? Entahlah…saya juga tidak bisa memastikan. [T]

Tags: IslamkampungMuslimRamadhan
Share16TweetSendShareSend
Previous Post

Ingatan Yang Coba Kita Lupakan

Next Post

PKB Buleleng dan Buleleng Expo 2019: “Ngetnik” dan “Nginter”

Muhammad Fathur Rozi

Muhammad Fathur Rozi

Alumni mahasiswa PBSI–Undiksha. Kini menjadi guru dan mahasiswa magister aktif di Universitas Nurul Jadid Paiton. Facebook: El-Fathur Rozi. Gmail: rozi8917@gmail.com

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Menawar Harga-harga di Pasar Tradisional

PKB Buleleng dan Buleleng Expo 2019: "Ngetnik" dan "Nginter"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co