2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melahirkan Guru, Melahirkan Peradaban: Catatan di Masa Kolonial

Pandu Adithama Wisnuputra by Pandu Adithama Wisnuputra
May 30, 2025
in Esai
Mengemas Masa Silam: Tantangan Pembelajaran Sejarah bagi Generasi Muda

Pandu Adithama Wisnuputra

Prolog

Melalui pendidikan, seseorang berkesempatan untuk mengembangkan kompetensi dirinya. Pendidikan menjadi sarana untuk mendapatkan pengetahuan sekaligus mengasah keterampilan bahkan sikap mental sebagai bekal dalam kehidupan. Semua adalah proses yang terstruktur pada karakteristik manusia yang kompeten, unggul, berdaya saing serta bermanfaat.  

Salah satu faktor yang memiliki peran sangat penting adalah guru sebagai pendidik para murid yang siap belajar. Sehebat apa pun fasilitas yang ada, seluar biasa kurikulum yang disediakan serta model dan sistem belajarnya, namun tanpa dikelola oleh guru yang mumpuni, akan terasa sia-sia.

Mengapa demikian? Karena guru hadir untuk ‘mengasah’ dan ‘memanusiakan’ manusia, yakni anak-anak peserta didiknya.  Mendidik hakikatnya adalah mengajarkan pengetahuan, membimbing kecakapan, sekaligus mengarahkan pada nilai-nilai yang semestinya dimiliki.   Dalam konteks Indonesia, keberadaan dan peranan guru sesungguhnya tidaklah dimulai dari saat bangsa ini menyatakan diri lepas dari belenggu penjajahan pada 17 Agustus 1945. Jauh dalam rentang waktu sebelumnya, kehadiran dan sosok guru sudah mendapatkan perhatian tersendiri. Seperti apa dan bagaimana proses ‘mencetak’ guru di masa silam, khususnya di era kolonial? Berikut kisahnya!

Sekolah, Kursus dan Magang: Tiga Jalan Menjadi Guru

Menjadi guru pada masa Hindia Belanda memiliki kisah unik tersendiri, terutama untuk kaum pribumi. Pasca kebijakan politik etis mulai tahun 1901, terdapat upaya pemerintah kolonial untuk meningkatkan jumlah sekolah bagi kaum pribumi, meskipun secara kualitas, akan sangat bervariasi tergantung dari etnisitas, kedudukan, kekayaan dan kefasihan dalam menggunakan Bahasa Belanda. Akibat dari bertambahnya jumlah sekolah adalah meningkatnya kebutuhan akan guru, di mana  untuk itu, maka pemerintah kolonial membuat sekolah serta kursus pendidikan guru kaum pribumi yang disesuaikan dengan tipe sekolahnya – khususnya pendidikan tingkat dasar – yakni sekolah berpengantar bahasa Belanda dan bahasa Melayu atau lokal suatu daerah.

Mengutip dari Kurniawati dan Santosa (2023) serta Nurhakim, Pramuharam, dan Birsyada (2025), maka seseorang menjadi guru di era kolonial Belanda dapat melalui tiga jenis bentuk pendidikan, yakni sekolah, kursus atau magang, yang masing-masingnya memiliki persyaratan bagi calon pesertanya, sekaligus kewenangan yang melekat setelah mengikuti pendidikan tersebut.

Untuk jalur sekolah, terdapat dua jenis, yakni Normaalschool dan Kweekschool. Sekolah yang disebut pertama memiliki masa tempuh belajar selama empat tahun yang mempersyaratkan siswanya adalah lulusan vervolgschool atau tweede inlandschool yang berbahasa pengantar bahasa daerah namun juga diberikan bahasa Belanda. Setelah lulus dari sekolah ini, yang bersangkutan dapat mengajar di kelas tertinggi dari sekolah dasar berbahasa pengantar non-Belanda, Volkschool.    

Sedangkan Kweekschool, merupakan sekolah pendidikan guru berbahasa pengantar Belanda, dengan masa tempuh empat tahun ditambah tiga tahun di Hogere Kweekschool (HKS) bagi mereka yang berprestasi tinggi di tingkatan Kweekschool. Sekolah ini hanya menerima lulusan HIS atau Hollandsch Inlandsch School, di mana lulusannya dapat mengajar di HIS.  Kekhususan lain dari HKS adalah hanya terdapat dua di Hindia Belanda! Yakni di Purworejo, Jawa Tengah – yang kini menjadi Kompleks SMA Negeri 7 Purworejo – dan di Bandung, Jawa Barat, yang pemanfaatannya menjadi Komplek Kepolisian Kota Besar Bandung.

Untuk jalur kursus, dikenal sebagai  CVO atau Cursus voor Volksschool Onderwijzers yang asal pesertanya adalah mereka yang berasal dari vervolgschool atau sekolah lanjutan dari sekolah desa atau volkschool. Kursus ini menggunakan pengantar bahasa daerah, ditempuh selama dua tahun, dan lulusannya akan bekerja sebagai guru bantu di sekolah-sekolah desa. Sedangkan untuk jalur magang, pesertanya sama dengan CVO, yakni berasal dari vervolgschool, mereka akan magang mengajar di sekolah desa di bawah pengawasan mantri guru atau kepala sekolah, di mana pada masa akhir magang, mereka akan diuji oleh penilik sekolah atau Schoolopziener untuk dinyatakan lulus tidaknya, sebelum mereka menjadi seorang guru bantu di sekolah desa.

Ketiga jalur pendidikan guru pribumi – sekolah, kursus, dan magang – memberikan efek besar terhadap banyak aspek. Mereka yang lulusan sekolah memiliki kompetensi yang relatif lebih tinggi dibandingkan yang melalui model kursus. Terlebih lulusan Kweekschool di mana lulusannya tidak saja berfokus pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung tetapi juga keilmuan lain, seperti ilmu ukur, ilmu bumi, ilmu alam, sejarah. Bahkan untuk HKS, mereka secara khusus ditekankan untuk menguasai bahasa Belanda sebagai bagian dari kompetensi pedagogiknya. Sosok guru yang tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan melainkan juga kemampuan dalam mendidik, menempatkannya sebagai pribadi yang diakui dan dihargai secara sosial dan kultural di masyarakat.

Epilog

Terlepas dari adanya kepentingan atau agenda tersembunyi yang dimiliki pemerintah kolonial, keberadaan guru mulai di tingkat sekolah desa hingga sekolah berbahasa pengantar Belanda, maka guru telah menjadi bagian dari motor perubahan sosial bagi kaum pribumi. Bersekolah berarti kesempatan untuk memperbaiki kualitas kehidupan dan kesejahteraan, meski tetap menghadapi situasi diskriminasi kolonial secara struktural.

Bersekolah menjadi pembuka jendela pengetahuan serta kesadaran bagi anak-anak negeri jajahan, bahwa mereka adalah ‘warga kelas dua’ di negerinya sendiri. Guru telah memberikan pemantik ide dan gagasan yang memerdekakan siswa dari keterbelakangan dan ketidaktahuan, melalui ilmu pengetahuan yang mencerahkan pandangan mereka terhadap dunia. [T]

Penulis: Pandu Adithama Wisnuputra
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Pendidikan di Era Kolonial, Sebuah Catatan Perenungan
Perempuan dalam Catatan Sejarah: Merawat Kenangan, Menjaga Rasa Kebangsaan
Mengemas Masa Silam: Tantangan Pembelajaran Sejarah bagi Generasi Muda
Tags: guruPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menjawab Stigmatisasi Masa Aksi Kurang Baca

Next Post

Perayaan Penuh Kelezatan di Ubud Food Festival 2025

Pandu Adithama Wisnuputra

Pandu Adithama Wisnuputra

Mahasiswa Program Sarjana Ilmu Sejarah, Universitas Padjadjaran, Bandung

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Perayaan Penuh Kelezatan di Ubud Food Festival 2025

Perayaan Penuh Kelezatan di Ubud Food Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co