13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sulaman Sejarah dan Alam dalam Peed Aya Duta Buleleng untuk PKB 2025

Komang Puja Savitri by Komang Puja Savitri
May 28, 2025
in Panggung
Sulaman Sejarah dan Alam dalam Peed Aya Duta Buleleng untuk PKB 2025

LANGIT Singaraja masih menitikkan gerimis, Selasa 27 Mei 2025, ketika seniman-seniman muda itu mempersiapkan garapan seni untuk ditampilkan pada pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB), Juni mendatang. Basah yang memeluk Kampus Menjangan, Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Mpu Kuturan tak sedikit pun melunturkan gelegak semangat para seniman muda itu untuk terus bergerak.

Di tengah gerimis yang menari, denyut nadi para penari dan penabuh justru kian membara. Mereka sedang mematangkan diri dalam acara pembinaan Peed Aya (Pawai) Duta Kabupaten Buleleng untuk PKB. Mereka, di bawah pembinaan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, bersiap tampil memukau, di hadapan Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Bajra Sandhi, pada pembukaan PKB mendatang.

Pawai ini digarap STAHN Mpu Kuturan Singaraja dengan melibatkan sekitar 300 seniman mahasiswa. I Putu Ardiyasa bertindak sebagai pemimpin produksi, dan dalam penggarapannya peed aya itu ia terinspirasi dari kesenian khas daerah yang akarnya terinspirasi dari Pura Panca Sila atau Pura Gambur Negara Anglayang di Kubutambahan.

”Garapan ini sejatinya berangkat dari visi besar STAHN Mpu Kuturan untuk menggaungkan kembali spirit Mpu Kuturan yang mempersatukan Bali,” kata Ardiyasa.

I Putu Ardiyasa, Pimpinan Produksi. Sumber foto: MKTV

Ardiyasa mengatakan ia melihat Buleleng sebagai sebuah entitas yang sarat akan pluralitas, dengan jejak pabean-pabean kuno yang masih diwarisi. ”Dan eks Pelabuhan Buleleng menjadi muara gagasan, mengingat sejarahnya sebagai cikal bakal pelabuhan di Pulau Dewata,” ujar Ardi dengan nada bersemangat.

Buleleng merupakan kota multi etnis karena menjadi pintu masuk utama ke Pulau Dewata. Kesenian khas Buleleng tidak hanya terinspirasi dari kesenian Bali, tetapi juga merangkul berbagai kesenian etnis lain yang ada di sana. Salah satunya yaitu Burdah, yang akarnya berasal dari kisah perjalanan Panji Sakti saat memimpin pasukannya dari Blambangan.

Ketut Muhammad Suharto, Ketua Sekaa Burdah Burak Pegayaman, menjelaskan pawai tersebut akan menampilkan pencak blebet, sebuah seni pencak rotan yang menjadi wujud nyata akulturasi budaya masyarakat Bali dengan ajaran Islam.

Ia menyebutkan, seni ini telah berkembang dan hidup di tengah masyarakat selama ratusan tahun silam, diiringi oleh lagu pukulan rebana asli Desa Pegayaman.

”Jadi rebana itu asli dibuat oleh orang Pegayaman, terbuat dari bungkil kelapa, dengan kulit kambing atau sapi sebagai membrannya,” terangnya.

Gajah untuk Panji Sakti | Sumber foto: MKTV

Kala Raja Buleleng Panji Sakti meraih kemenangan, kata  Ardi, ia dianugerahi gajah dan pasukan. Pasukan inilah yang kemudian mendiami Pegayaman dan mewariskan kesenian burdah. ”Inilah fragmen sejarah yang akan kami hidupkan,” kata Ardi.

Tak hanya burdah, akan ada atraksi barongsai sebagai penanda jejak peradaban Tionghoa. Ada pula Janger Menyali, refleksi pertemuan budaya Bali dan Belanda, serta boneka gendong dari Desa Les, sebuah ekspresi yang awalnya kontemporer kini telah menyatu dengan tradisi.

Semua ini akan dinarasikan dengan kehadiran dua sosok patih simbolik, Ki Dosot dan Ki Dumpyung, penasihat bijak Panji Sakti, dengan Keris Ki Mundaran sebagai personifikasi keagungannya.

“Inilah sajian perdana kami, kesenian khas daerah,” tandas Ardi.

Kemudian, tiga garapan tematik dijanjikan akan menyita sanubari. Yang pertama, tari kreasi pedeengan Buleleng, yang akan dibalut tabuh barungan angklung don pitu khas Buleleng. Deeng Buleleng ini dipergunakan khusus saat upacara ngaben utama pada rentetan acara pebaktian keluarga dimana semua keluarga yang masih dalam satu trah wajib memberikan penghormatan terakhir kepada tetua yang diaben.

Ngaturang bungan eeeng artinya jika keluarga bersangkutan mendapatkan pemeras (biasanya setara cucu, cicit, kompyang) mereka wajib ngaturang atau ngejot dengan ada sepasang deeng kepada keluarga yang melaksanakan upacara ngaben.

“Judul Bungan Deeng sendiri terinspirasi dari Bunga Natah. Jegeg-jegeg natah atau di keluarga itu menampilkan payas yang sempurna dengan keelokan dikeluarkan dalam ritual Pedeengan,” ungkap Ardi.

Garapan tematik kedua bertajuk teatrikal bandung rangki. Mengisahkan praktik sakral panen getah aren/jaka (ngalih nira/nuwakin) dan pembuatangula aren khas Pedawa di Rumah Adat Bandung Rangki. Masyarakat Pedawa menganggap nira sangat penting dan memiliki pantangan untuk tidak berbicara atau menyapa saat membawanya ke rumah adat, karena melanggar kepercayaan ini dapat membuat pohon aren marah dan berhenti mengeluarkan getah.

“Mereka juga tidak berani menebang pohon aren yang masih produktif,” tutur Ardi.

Ciri khas rumah adat Bandung Rangki menggunakan arsitektur bangunan yang mebandung bersilang antara api atau dapur dengan air atau gentong, serta kamar tidur orang tua dan anak. Rumah ini berfungsi lengkap sebagai dapur, hunian, aktivitas keseharian, dan aktivitas ritual seperti dewa yadnya, butha yadnya, manusa yadnya, dan pitra yadnya.

Lebih dari sekadar bangunan, Bandung Rangki merepresentasikan masyarakat Pedawa terhadap menghargai pelestarian dan keberlanjutan alam.

”Kami membuat replika rumah bandung rangki dengan material bangunan yang hanya menggunakan bahan alami yaitu bambu dan kayu yang tumbuh subur dan berlimpah di Desa Pedawa,” ucap Ardi.

Untuk menciptakan suasana khas Desa Pedawa, pertunjukan ini menggunakan barunganmadya yang terinspirasi dari pola-pola gamelangongduwe, diimplementasikan dalam gamelangenderbatelblelengan. Suasana sakral diperkuat dengan sentuhan sasendonan atau vokal yang meniru cengkok vokal kakidungan sakral dari Desa Pedawa.

Garapan terakhir yaitu Agra Bhuwana Raksa. Agra itu adalah hulu, Bhuwana itu adalah bumi atau jagat, Raksa itu adalah menjaga. ”Jadi kami ingin spiritnya adalah menjaga peradaban hulu gitu,” ucapnya.

Menjaga peradaban hulu. Kenapa hulu?

Selain pesisir, hulu juga menjadi penting untuk dijaga karena hulu pusat kehidupan. Selain ada air, di sana ada pohon-pohon juga yang harus lindungi karena manusia setiap hari menghirup nafas dari udara yang segar yang datang dari pohon-pohon.

”Kita setiap hari juga membutuhkan air yang tentu datang dari sumbernya dari hulu juga dan peradaban hulu ini kita jaga melalui ada sebuah ritual yang namanya Saba Malunin,” imbuhnya.

Saba Malunin itu sudah menjadi warisan budaya tak benda tingkat Kabupaten Buleleng sudah ditetapkan oleh Kabupaten Buleleng melalui Dinas Kebudayaan. Saba Malunin ditujukan kepada Hyang Bhatara Lingsir. Atau dalam Bahasa Pedawa disebut tegteg, tegteg Ring Pawongan, Palemahan lan Parahyangan. Sebuah tradisi kuno yang diwariskan hingga saat ini oleh masyarakat Pedawa sebagai bentuk laku penjaga peradaban hulu hingga tercapai Jagat Krti.

”Berbagai macam rangkaian-rangkaian bahkan ada rejang yang terdiri dari 26 rejang mungkin lebih. Kemudian ada ada tari baris juga di dalamnya,” tuturnya.

Masyarakat Pedawa menjalankan ritual Saba Malunin bukan sekadar sebagai upacara, melainkan sebagai perilaku hidup sehari-hari. Ritus ini sangat bergantung pada sarana utama seperti tuak, beras, dan ketan, yang semuanya berasal langsung dari alam Pedawa. Tanpa hasil alam tersebut, mereka tidak dapat melangsungkan upacara. Berbeda dengan praktik modern yang bisa membeli kebutuhan upacara, masyarakat Pedawa mutlak bergantung pada ketersediaan alam untuk ritual mereka.

Hal ini menunjukkan ikatan mendalam dan spesial masyarakat Pedawa dengan alamnya, termasuk sumber daya air. Desa Pedawa memiliki belasan mata air, dan keberadaannya melambangkan kelengkapan tirta (air suci) bagi mereka.

”Perkiraan mereka punya 16 sumber mata air, sumber air ini melambangkan jangkep (lengkap) untuk nunas tirta (air suci) ini. Jika sumber air bermasalah, itu menandakan adanya ketidakberesan di desa,” paparnya.

Pertunjukan ini juga akan menampilkan tiga tokoh utama dari struktur Dulu Desa di Pedawa. Dulu disebut juga Paduluan dimaknai sebagai orang yang sudah mencapai jenjang Tingkat atas yang disucikan dan dihormati posisinya di desa. Dulu desa terdiri Dane Nawan, Dane Manis, Dane Paing, Dane Wage, Dane kliwon, dan Dane Baan.

”Namun dalam karya hanya di pakai 3 simbol saja dan Prajuru adat atau Kelian Desa, Jro Balian Desa dan Dulu Desa,” papar Ardi.

Tiga tokoh perwakilan Dulu Desa di Pedawa. Di sebelah kanan Kelian Desa, di tengah adalah Jro Balian Desa, dan sebelah kiri Dulu Desa | Sumber foto: MKTV

Usai latihan, Komang Tri Eri Gunawan, mahasiswa semester 8 Pendidikan Agama Hindu (PAH) yang memerankan Kelian Desa, mengaku keikutsertaannya dalam Peed Aya ini menjadi penawar dahaga jiwa di tengah kesibukannya merampungkan skripsi.

“Jujur, ini semacam healing, bisa sejenak berpaling sedikit dari gempuran skripsi,” ucapnya sembari mengusap peluh.

Penari Bebalunan | Sumber foto: Dinda

Putu Swadinda Cistaswari, mahasiswi semester 6 dari program studi yang sama, yang akan menarikan Bebalunan — banten balun akronim dari banten Lungguh, sebuah sesajen yang dibuat di pura oleh Perempuan (krama ngarep) dan langsung di haturkan saat itu juga. Ia pun tak bisa menutupi rasa bungahnya saat mendapatkan peran itu.

“Ini pengalaman pertama yang sangat berkesan. Proses latihan, bertemu teman-teman baru dari berbagai prodi dan angkatan, semuanya seru. Kami berjuang bersama agar bisa menampilkan yang terbaik di PKB,” ujar Dinda, sapaan karibnya.

Namun, secara etika banten balun tidak boleh di replika, sehingga garapan ini melakukan kreasi bentuk banten dan termasuk gerak tari yang sesuai dengan suasana religius, namun tanpa mengurangi maknanya.

Penabuh kendang Bandung Rangki | Sumber foto: MKTV

Gede Lanang Prasetya, penabuh kendang untuk garapan Bandung Rangki, mahasiswa semester 6 Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu (PSBKH), menganggap ini sebagai pengalaman yang tak ternilai.

”Kegiatan ini bukan sekadar wadah unjuk kreativitas, tapi juga mempererat solidaritas dan rasa cinta terhadap warisan budaya Bali. Semangat kebersamaan sangat kental terasa,” ungkapnya. Ia berharap, keterlibatan ini dapat memantik gairah generasi muda untuk terus berkreasi dan melestarikan seni budaya.

Kendati hujan belum juga beranjak dari langit Buleleng, semangat para duta seni ini justru kian menyala, siap mempersembahkan yang terbaik dari Gumi Den Bukit untuk Bali. [T]

Penulis: Komang Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

  • BACA JUGA:
Pesta Kesenian Bali 2025 Memberi Tempat Bagi Seni Budaya Desa-desa Kuno
Ketiadaan Wayang Legendaris di Pesta Kesenian Bali: Sebuah Kekosongan dalam Pelestarian Budaya
Prof Bandem: Kembalikan Pakem Seni Tradisi pada Pesta Kesenian Bali 2025
Made Kranca Melangkah Bersama Gong Legendaris Jagaraga Menuju Pesta Kesenian Bali 2024
Tags: bulelengkesenian balipeed ayaPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2025STAHN Mpu Kuturan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Karya-karya ‘Eka Warna’ Dollar Astawa

Next Post

Sunyi yang Melawan dan Hal-hal yang Kita Bayangkan tentang Hidup : Film “All We Imagine as Light”

Komang Puja Savitri

Komang Puja Savitri

Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
0
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

Read moreDetails

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
0
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
0
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

Read moreDetails

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
0
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

Read moreDetails

‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 10, 2026
0
‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

MALAM itu nyaris tak terdengar suara selain desir angin dan dialog yang mengalun dari layar. Puluhan pasang mata tertuju ke...

Read moreDetails

Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

SORE itu, suasana sakral menyelimuti Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis (9/7/2026). Nada-nada yang terdengar sederhana, tetapi kokoh...

Read moreDetails

Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
July 9, 2026
0
Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA lampu panggung perlahan menyala, alunan suling tradisional Korea dengan ujung tiup pipih terdengar lirih. Di atas panggung, para penari...

Read moreDetails

Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh...

Read moreDetails

Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 4, 2026
0
Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti...

Read moreDetails

Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

by Nyoman Budarsana
July 3, 2026
0
Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian...

Read moreDetails
Next Post
Sunyi yang Melawan dan Hal-hal yang Kita Bayangkan tentang Hidup : Film “All We Imagine as Light”

Sunyi yang Melawan dan Hal-hal yang Kita Bayangkan tentang Hidup : Film “All We Imagine as Light”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co