3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lelaki yang Mengendap-endap di Kamar Kos Putri

Ni Putu Putri Budiastini by Ni Putu Putri Budiastini
March 14, 2020
in Cerpen
Lelaki yang Mengendap-endap di Kamar Kos Putri

Cerpen: Putri Budiastini

Malam itu, tak ada suara. Terlihat lampu bohlam kuning, itulah satu-satunya penerangan di depan gerbang kontrakan. Cahayanya yang sedikit redup membuat suasana terasa lebih hening dari sebelumnya. Ditambah lagi, terdengar suara kucing liar melahirkan yang mengejutkan dan memecah keheningan menjadi seram bagiku.

Mataku seketika melirik jam dinding di kamar kos. Ternyata hampir tengah malam dan aku masih terjaga mengerjakkan tugas kampus.

Kemudian terdengar bunyi kreotan pintu kamar sebelah, ternyata ibu kos yang mau keluar ke kamar kecil di sudut yang temaram. Mataku serasa seperti lampu bohlam di pintu gerbang itu. Tiba-tiba kasurku serasa memanggil, terlihat empuk dan nyaman sekali. Tanpa pikir panjang, aku bergegas menyelesaikkan tugasku.

“Huh, akhirnya selesai juga. Bantal, guling, dan kasurku tercinta, aku datang!”  Aku bergegas menuju kasur, sambil mematikan lampu kamar.

Tiba-tiba terdengar teriakan di luar.

“Hei, tunggu…. Hei, siapa kau? Tunggu. Kenapa di sini?” Itu teriakan ibu kos.

Mata yang awalnya kututup kurang dari lima menit sudah kubuka lagi dengan rasa terkejut dan cepat-cepat keluar kamar. Ibu kos terlihat panik dan berlarian mondar-mandir depan kamarnya. Aku pun menghampirinya dengan jantung yang hampir copot.

“Bu, ada apa? Kenapa berteriak malam-malam begini?”

“Itu dia ada disini, ke sana. Hei, di ke sana, dia ke sana!” teriak ibu kos dengan panic dan terbata-bata, dan ngos-ngosan.

“Siapa, Bu? Tidak ada siapa-siapa di sini,” sahutku sambil sigap melihat sekitar dan benar memang tidak ada siapapun.

“Itu tadi ibu lihat ada laki-laki yang masuk ke kontrakan pakai jaket hitam, terus ibu hampiri hendak bertanya, eh laki-laki itu menghilang entah ke mana perginya. Ibu hendak masuk kamar terasa ada bayangan hitam pergi ke gerbang depan dan ibu teriakin gak ada balasan,” tutur ibu kos.

“Ya, kalau begitu kita cari sekitaran sini yuk, Bu. Takutnya orang jahat,” sahutku kembali menawarkan diri.

Sudah hampir subuh aku dan ibu kos menggeledah seluruh tempat sampai ke kamar-kamar yang kosong, tapi hasilnya tetap saja tidak ada siapa. Setelah sekian lama, kami pun memutuskan untuk tidur saja.

Dering alarm berisik sekali. Hanya tiga jam waktu tidurku. Sungguh lelah untuk bangun setelah kejadian kemarin malam. Tapi apa daya, aku harus segera bergegas ke kampus. Ketika aku membuka pintu kamar, banyak anak kos berkumpul di depan kamar ibu kos. Aku yang penasaran ikut nimbrung juga, tapi nyatanya ibu kos menceritakan kejadian kemarin malam dan memperketat aturan bahwa setiap orang yang keluar masuk kontrakan harus mengunci pintu gerbang. Aku yang merasa ibu kos hanya berkhayal saja, segera pergi ke kampus dan cukup mengetahui peraturan barunya.

Kejadian malam itu membuat suasana kos terasa tambah hening dan makin seram saja. Tak ada lagi anak kontrakan yang berbincang-bincang sampai larut malam. Banyak serba-serbi tentang sosok lelaki itu. Banyak perspektif yang muncul. Jangan-jangan ia tahanan polisi yang kabur, jangan-jangan ia orang cabul, pedofil, jangan-jangan ia memang benar hantu gentayangan. Semua praduga itu memunculkan keresahan selama satu minggu ini. Keberadaan lelaki tak dikenal itu benar-benar menyeret rasa penasaranku akan siapa sebenarnya lelaki itu.

Beberapa anak kos juga pernah melihat laki-laki dengan sosok yang sama keluar masuk kontrakan di malam hari. Tapi mereka tidak seberani ibu kos yang teriak-teriak dan mengejar laki-laki itu langsung. Mereka hanya menceritakan rasa takut mereka dan lebih memilih untuk mengurung diri di kamar masing-masing. Sementara aku belum pernah sedikitpun melihat sosok itu. Mungkin karena sebagian hariku, kuhabiskan di kampus saja.

Pagi pun telah berganti seperti biasanya. Jam tanganku menunjukkan pukul 01.00 Wita, karena tuntutan kampus aku pulang selarut itu. Tentunya gerbang kos sudah terkunci. Ketika sampai di depan gerbang, untuk pertama kalinya aku lihat sosok laki-laki yang diceritakan itu. Entah itu laki-laki yang sama atau berbeda, aku tidak tahu. Mataku tak berani berkedip, suhu tubuhnku naik turun. Tangan ini gemetaran mengrogoh kantong, mencari-cari kunci untuk membuka gerbang, lalu, turun dan kubuka gembok itu. Aku hanya berpikir, kenapa ia diam di depan gerbang jam segini. Aneh rasanya jika seorang laki-laki parkir di depan kontrakan khusus putri dan kenapa saya merasa dipandangi terus.

Tanpa bertanya, aku pun bergegas masuk memakirkan kendaraanku. Tidak lupa juga mengunci pintu gerbang kembali. Namun, ada kejanggalan. Ketika aku hendak mengunci pintu gerbang kembali, sosok laki-laki itu menghilang. Aku hanya berpikir positif saja dan menuju ke kamarku. Mungkin saja ia memang sudah pergi.

“Hei, kau lagi. Diam di sana. Manusia atau setan? Diam. Woii…!” terdengar ibu kos kembali teriak-teriak.

“Eh iya, Bu, saya manusia kok,” terdengar suara laki-laki itu menjawab. Aku kaget dan langsung keluar kamar.            

“Adek siapa ya? Subuh-subuh gini sudah berkunjung, mau cari siapa?”

“Saya mau cari Intan, Bu. Dia dari daerah kampung saya, sudah sebulan ia kabur dari rumah dan saya dapat kabar ia tinggal di sini!”

“Intan? Yang namanya Intan tidak ada di sini., mungkin kamu salah orang!”

“Ini alamatnya, Bu.” Lelaki itu menyodorkan kertas dengan alamat Intan yang dicari.

“Waduh, Nak, ini alamatnya Jalan Rose No.50 di Gang 9. Ini Gang 6, Nak.” Seketika aku hanya bisa menahan tawa.

“Lah, jadi minggu-minggu ini saya salah memantau tempat, Bu? Ya ampun kenapa saya salah, tidak mungkin saya salah melihat nomor gang,” jawab laki-laki itu dengan tak percaya.

“Lah ini memang kenyataannya, Gang 6.” Ibu kos mulai kesal.

“Ya sudah, Bu, mohon maaf saya telah mengganggu subuh-subuh begini”

“Iya, Nak, tidak apa!” kata ibu kos senyum, padahal dalam hatinya bercampur aduk, antara lega dan kesal.

Aku pun kesal dan terganggu juga. Sempat-sempatnya juga aku ikut takut dengan lelaki ini.

Laki-laki itu pun pergi dan tidak kembali lagi meneror kontrakan kami. Laki-laki itu kemudian pergi mencari alamat yang benar. Ia tampak masih kebingungan atas kesalahan menemukan alamat. Aku yang didorong rasa penasaran, mengikutinya sampai depan gang. Saya lihat ia bertanya pada orang yang lewat .

“Bang maaf, ini benar Gang 9 kan?” katanya sambil menunjuk nomor gang.

“Oh, walah, ini pakunya copot. Maaf ya, Mas, ini Gang 6 bukan Gang 9. Saya lupa memperbaikinya!”

“Yahh, ternyata benar salah. Makasi, Bang!” Lelaki itu menepuk jidat dan bergegas mencari alamat yang benar. [T]

*Cerpen ini hasil workshop penulisan cerpen sehari dalam acara Mahima March March March, 14 Maret 2020 di Rumah Belajar Komunitas Mahima.

Tags: Cerpen
Share13TweetSendShareSend
Previous Post

Malam Minggu Bersama “Upacara Terakhir” GM Sukawidana di Jatijagat Kampung Puisi

Next Post

Kepala Daerah Bebal & Wabah — Ramalan Albert Camus

Ni Putu Putri Budiastini

Ni Putu Putri Budiastini

Mahasiswi PGSD Universitas Pendidikan Ganesha Angkatan 2019

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Kepala Daerah Bebal & Wabah — Ramalan Albert Camus

Kepala Daerah Bebal & Wabah — Ramalan Albert Camus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co