24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lelaki yang Mengendap-endap di Kamar Kos Putri

Ni Putu Putri Budiastini by Ni Putu Putri Budiastini
March 14, 2020
in Cerpen
Lelaki yang Mengendap-endap di Kamar Kos Putri

Cerpen: Putri Budiastini

Malam itu, tak ada suara. Terlihat lampu bohlam kuning, itulah satu-satunya penerangan di depan gerbang kontrakan. Cahayanya yang sedikit redup membuat suasana terasa lebih hening dari sebelumnya. Ditambah lagi, terdengar suara kucing liar melahirkan yang mengejutkan dan memecah keheningan menjadi seram bagiku.

Mataku seketika melirik jam dinding di kamar kos. Ternyata hampir tengah malam dan aku masih terjaga mengerjakkan tugas kampus.

Kemudian terdengar bunyi kreotan pintu kamar sebelah, ternyata ibu kos yang mau keluar ke kamar kecil di sudut yang temaram. Mataku serasa seperti lampu bohlam di pintu gerbang itu. Tiba-tiba kasurku serasa memanggil, terlihat empuk dan nyaman sekali. Tanpa pikir panjang, aku bergegas menyelesaikkan tugasku.

“Huh, akhirnya selesai juga. Bantal, guling, dan kasurku tercinta, aku datang!”  Aku bergegas menuju kasur, sambil mematikan lampu kamar.

Tiba-tiba terdengar teriakan di luar.

“Hei, tunggu…. Hei, siapa kau? Tunggu. Kenapa di sini?” Itu teriakan ibu kos.

Mata yang awalnya kututup kurang dari lima menit sudah kubuka lagi dengan rasa terkejut dan cepat-cepat keluar kamar. Ibu kos terlihat panik dan berlarian mondar-mandir depan kamarnya. Aku pun menghampirinya dengan jantung yang hampir copot.

“Bu, ada apa? Kenapa berteriak malam-malam begini?”

“Itu dia ada disini, ke sana. Hei, di ke sana, dia ke sana!” teriak ibu kos dengan panic dan terbata-bata, dan ngos-ngosan.

“Siapa, Bu? Tidak ada siapa-siapa di sini,” sahutku sambil sigap melihat sekitar dan benar memang tidak ada siapapun.

“Itu tadi ibu lihat ada laki-laki yang masuk ke kontrakan pakai jaket hitam, terus ibu hampiri hendak bertanya, eh laki-laki itu menghilang entah ke mana perginya. Ibu hendak masuk kamar terasa ada bayangan hitam pergi ke gerbang depan dan ibu teriakin gak ada balasan,” tutur ibu kos.

“Ya, kalau begitu kita cari sekitaran sini yuk, Bu. Takutnya orang jahat,” sahutku kembali menawarkan diri.

Sudah hampir subuh aku dan ibu kos menggeledah seluruh tempat sampai ke kamar-kamar yang kosong, tapi hasilnya tetap saja tidak ada siapa. Setelah sekian lama, kami pun memutuskan untuk tidur saja.

Dering alarm berisik sekali. Hanya tiga jam waktu tidurku. Sungguh lelah untuk bangun setelah kejadian kemarin malam. Tapi apa daya, aku harus segera bergegas ke kampus. Ketika aku membuka pintu kamar, banyak anak kos berkumpul di depan kamar ibu kos. Aku yang penasaran ikut nimbrung juga, tapi nyatanya ibu kos menceritakan kejadian kemarin malam dan memperketat aturan bahwa setiap orang yang keluar masuk kontrakan harus mengunci pintu gerbang. Aku yang merasa ibu kos hanya berkhayal saja, segera pergi ke kampus dan cukup mengetahui peraturan barunya.

Kejadian malam itu membuat suasana kos terasa tambah hening dan makin seram saja. Tak ada lagi anak kontrakan yang berbincang-bincang sampai larut malam. Banyak serba-serbi tentang sosok lelaki itu. Banyak perspektif yang muncul. Jangan-jangan ia tahanan polisi yang kabur, jangan-jangan ia orang cabul, pedofil, jangan-jangan ia memang benar hantu gentayangan. Semua praduga itu memunculkan keresahan selama satu minggu ini. Keberadaan lelaki tak dikenal itu benar-benar menyeret rasa penasaranku akan siapa sebenarnya lelaki itu.

Beberapa anak kos juga pernah melihat laki-laki dengan sosok yang sama keluar masuk kontrakan di malam hari. Tapi mereka tidak seberani ibu kos yang teriak-teriak dan mengejar laki-laki itu langsung. Mereka hanya menceritakan rasa takut mereka dan lebih memilih untuk mengurung diri di kamar masing-masing. Sementara aku belum pernah sedikitpun melihat sosok itu. Mungkin karena sebagian hariku, kuhabiskan di kampus saja.

Pagi pun telah berganti seperti biasanya. Jam tanganku menunjukkan pukul 01.00 Wita, karena tuntutan kampus aku pulang selarut itu. Tentunya gerbang kos sudah terkunci. Ketika sampai di depan gerbang, untuk pertama kalinya aku lihat sosok laki-laki yang diceritakan itu. Entah itu laki-laki yang sama atau berbeda, aku tidak tahu. Mataku tak berani berkedip, suhu tubuhnku naik turun. Tangan ini gemetaran mengrogoh kantong, mencari-cari kunci untuk membuka gerbang, lalu, turun dan kubuka gembok itu. Aku hanya berpikir, kenapa ia diam di depan gerbang jam segini. Aneh rasanya jika seorang laki-laki parkir di depan kontrakan khusus putri dan kenapa saya merasa dipandangi terus.

Tanpa bertanya, aku pun bergegas masuk memakirkan kendaraanku. Tidak lupa juga mengunci pintu gerbang kembali. Namun, ada kejanggalan. Ketika aku hendak mengunci pintu gerbang kembali, sosok laki-laki itu menghilang. Aku hanya berpikir positif saja dan menuju ke kamarku. Mungkin saja ia memang sudah pergi.

“Hei, kau lagi. Diam di sana. Manusia atau setan? Diam. Woii…!” terdengar ibu kos kembali teriak-teriak.

“Eh iya, Bu, saya manusia kok,” terdengar suara laki-laki itu menjawab. Aku kaget dan langsung keluar kamar.            

“Adek siapa ya? Subuh-subuh gini sudah berkunjung, mau cari siapa?”

“Saya mau cari Intan, Bu. Dia dari daerah kampung saya, sudah sebulan ia kabur dari rumah dan saya dapat kabar ia tinggal di sini!”

“Intan? Yang namanya Intan tidak ada di sini., mungkin kamu salah orang!”

“Ini alamatnya, Bu.” Lelaki itu menyodorkan kertas dengan alamat Intan yang dicari.

“Waduh, Nak, ini alamatnya Jalan Rose No.50 di Gang 9. Ini Gang 6, Nak.” Seketika aku hanya bisa menahan tawa.

“Lah, jadi minggu-minggu ini saya salah memantau tempat, Bu? Ya ampun kenapa saya salah, tidak mungkin saya salah melihat nomor gang,” jawab laki-laki itu dengan tak percaya.

“Lah ini memang kenyataannya, Gang 6.” Ibu kos mulai kesal.

“Ya sudah, Bu, mohon maaf saya telah mengganggu subuh-subuh begini”

“Iya, Nak, tidak apa!” kata ibu kos senyum, padahal dalam hatinya bercampur aduk, antara lega dan kesal.

Aku pun kesal dan terganggu juga. Sempat-sempatnya juga aku ikut takut dengan lelaki ini.

Laki-laki itu pun pergi dan tidak kembali lagi meneror kontrakan kami. Laki-laki itu kemudian pergi mencari alamat yang benar. Ia tampak masih kebingungan atas kesalahan menemukan alamat. Aku yang didorong rasa penasaran, mengikutinya sampai depan gang. Saya lihat ia bertanya pada orang yang lewat .

“Bang maaf, ini benar Gang 9 kan?” katanya sambil menunjuk nomor gang.

“Oh, walah, ini pakunya copot. Maaf ya, Mas, ini Gang 6 bukan Gang 9. Saya lupa memperbaikinya!”

“Yahh, ternyata benar salah. Makasi, Bang!” Lelaki itu menepuk jidat dan bergegas mencari alamat yang benar. [T]

*Cerpen ini hasil workshop penulisan cerpen sehari dalam acara Mahima March March March, 14 Maret 2020 di Rumah Belajar Komunitas Mahima.

Tags: Cerpen
Share13TweetSendShareSend
Previous Post

Malam Minggu Bersama “Upacara Terakhir” GM Sukawidana di Jatijagat Kampung Puisi

Next Post

Kepala Daerah Bebal & Wabah — Ramalan Albert Camus

Ni Putu Putri Budiastini

Ni Putu Putri Budiastini

Mahasiswi PGSD Universitas Pendidikan Ganesha Angkatan 2019

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Kepala Daerah Bebal & Wabah — Ramalan Albert Camus

Kepala Daerah Bebal & Wabah — Ramalan Albert Camus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co