14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kepala Daerah Bebal & Wabah — Ramalan Albert Camus

Sugi Lanus by Sugi Lanus
March 14, 2020
in Esai
Kepala Daerah Bebal & Wabah — Ramalan Albert Camus

Percayakah Anda pada Pemerintah Daerah dalam menghadapi penyakit menular?

Bagi yang membaca dengan baik karya-karya ALBERT CAMUS pasti tidak pernah percaya kalau Pemerintah Daerah bisa cekatan dan siaga menghadapi epidemi alias penyakit menular.

Albert Camus merumuskannya dengan sangat baik dalam novelnya yang monumental: SAMPAR (dalam bahasa Perancis: La Peste) yang terbit tahun 1947.

Pemerintah Daerah tidak berani ambil sikap dan tidak punya ketegasan dalam mengambil keputusan, padahal ini sangat mendesak dalam penyelamatan masyarakat dalam menghadapi penularan penyakit yang tidak diketahui obat dan pola penularannya masih berkembang dan berubah, dengan sangat cepat.

Telah terbukti ada yang meninggal karena penyakit menular melanda kota, tapi pemerintah daerah masih tidak bergerak.

Hal ini dinyatakan dalam bagian percakapan Dokter Rieux:

”Saya tidak mengerti sama sekali,” Richard mengaku, “sudah ada dua yang meninggal, satu dalam waktu empat puluh delapan jam, lainnya dalam jangka waktu tiga hari. Pasien yang kedua menunjukkan tanda-tanda akan sembuh ketika saya tinggalkan pagi itu.”

”Kabari saya jika ada kasus lain,” kata Rieux.

Dia menelepon beberapa dokter lain. Hasilnya, dia ketahui bahwa sekitar dua puluhan kasus yang sama telah terjadi pada hari-hari terakhir. Hampir semuanya mengakibatkan kematian. Karena Richard menjabat sebagai Ketua Ikatan Dokter di Oran, Rieux minta karantina bagi pasien- pasien baru.

”Saya tidak dapat melakukannya,” kata Richard, “harus ada keputusan Pemerintah Daerah. Lagi pula, siapa yang memberitahu Anda bahwa ada risiko penularan?”

”Tidak ada yang memberitahu. Tetapi gejala-gejalanya mengkhawatirkan.”

Dokter kebingungan dengan menunggu sikap Pemerintah Daerah di Oran, yang menjadi setting terjadinya wabah mematikan dalam novel ALBERT CAMUS.

Dokter tidak bisa menyembuhkan. Tugasnya hanya melakukan pengecekan dan siapa saja yang tertular dikarantina.

Sebuah kota tenang berubah menjadi mencekam. Dokter Rieux (tokoh utama) dalam usahanya yang keras untuk meyakinkan Pemerintah Daerah hampir putus asa menghadapi epidemi yang bergerak cepat seperti melahap seisi kota. Sebagai seorang dokter, Rieux perasaannya mencekam menghadapi situasi, tapi ia berjuang untuk bisa berbuat melakukan kewajibannya. Tidak ada dokter yang bisa melakukan usaha dalam menyembuhkan penyakit menular ini, mereka hanya mendiagnosa dan memutuskan untuk menulis perintah karantina. Para perawat bekerja dalam ketakutan tertular, berada di garda depan dengan resiko penularan sangat tinggi.

Dalam situasi tersebut, masih saja Pemerintah Daerah bermain kucing-kucingan.

Komisi Kesehatan dipanggil ke kantor Pemerintah Daerah atas usul Dokter Rieux.

”Memang benar penduduk khawatir,” Dokter Richard mengakui, “tetapi omong kosong terlalu membesar-besarkan segalanya. Kepala Pemerintah Daerah mengatakan kepada saya: ambillah tindakan secepatnya kalau Anda menghendakinya. Tetapi jangan menarik perhatian! Apalagi pejabat itu yakin bahwa ini tidak serius.”

Pemerintah Daerah Kota Oran — yang menjadi lokasi novel SAMPAR —  sekalipun telah berjatuhan korban masih menggangap ini tidak serius.

Semuanya menyebabkan kematian dalam waktu 48 jam. Apakah Dokter Richard mau bertanggung-jawab untuk memastikan bahwa epidemi akan berhenti tanpa tindakan preventif yang ketat?

Richard bimbang, menatap wajah Rieux, katanya,

”Katakanlah dengan sesungguhnya pikiran Anda! Apakah Anda pasti bahwa ini sampar?”

”Anda salah melihat masalahnya. Ini bukan soal kosa kata. Ini soal waktu.”

”Menurut pendapat Anda,” kata Kepala Pemerintah Daerah, “meskipun seandainya ini bukan sampar, tindakan-tindakan preventif ketat yang diperuntukkan masa epidemi sampar seharusnya diberlakukan.”

”Kalau Anda mendesak saya harus mempunyai ‘pendapat’, ya, memang begitulah!”

Dokter-dokter berunding, akhirnya Richard berkata,

”Jadi kita harus bertanggung jawab bertindak seolah-olah penyakit…”

Perdebatan dan memilih kosa kata, justifikasi untuk melakukan tindakan Kepala Pemerintahan Daerah berjalan alot, menghabiskan waktu seperti abai tidak memikir kecepatan penularan di luar sana. Lebih sibuk memilih kosa kata dan telah kehilangan banyak waktu dalam urusan rapat-rapat memilih kosa kata yang menurut Dokter Rieux tidak sebuah sikap plin-plan Kepala Pemerintahan Daerah yang lamban.

Ada bagian dari kesaksian Dokter Rieux menunjukkan ketidakseriusan Pemerintahan Daerah:

Hari kemudiannya, bagaimanapun juga Rieux melihat kertas-kertas selebaran atas perintah kilat Pemerintah Daerah, ditempelkan di sudut-sudut kota paling jauh.

Dari selebaran ini sukar dibuktikan bahwa pihak berwenang menghadapi situasi dengan kesungguhan. Tindakan-tindakan tidak ketat. Rupanya mereka menghindari kepanikan penduduk Oran. Memang pendahuluan surat keputusan itu mengumumkan bahwa beberapa kasus demam berbahaya yang belum dapat dikatakan risiko penularannya, telah muncul di kawasan Oran. Kasus-kasus ini tidak cukup berciri sehingga benar-benar mengkhawatirkan, dan dalam suasana ini, diharap penduduk tenang.

Dialog kejengkelan Dokter Rieux pada Kepala Pemerintahan Daerah muncul dalam percakapan ini:

”Ya,” sahut Kepala Daerah, “saya mengetahui angka- angka itu. Memang mengkhawatirkan.”

”Lebih dari mengkhawatirkan! Angka-angka itu jelas sekali membuktikan bahwa memang ada epidemi.”

”Saya akan minta instruksi dari pusat.”

Castel turut mendengarkan percakapan itu, melihat Rieux meletakkan kembali teleponnya.

”Perintah dari pusat!” kata Rieux jengkel, “yang diperlukan adalah kreatif dalam menanggapi keadaan secepatnya.”

Di kepala Kepala Pemerintahan Daerah angka-angka menjadi pertimbangan. Sepertinya nyawa manusia telah menjadi angka. Memikirkan kosa kata menghabiskan waktu banyak, demi bagian penting pidato politiknya.

Novel Sampar ini dengan sangat cermat memotret bagaimana Pemerintah Daerah, di mana-mana sama saja, senantiasa berkilah: “Menunggu instruksi dari pusat”. Kalimat kilah cuci tangan ini terus diucapkan sekalipun dalam kebencanaan yang mengancam sebuah kota.

Dalam berbagai kesempatan Dokter Rieux harus menjelaskan bahwa sebagai dokter dia perlu berkoordinasi secara cepat dan sistematis dalam penanganan epidemi dengan pemerintah. Apalagi sebagai dokter sekalipun ia tidak bisa memastikan secara pasti seseorang terpapar atau terjangkiti atau tidak.

Tiada alat kedokteran di daerah Oran yang tersedia dalam mendiagnose. Nol besar. Ia hanya bisa mendikteksi dengan berbekal termometer pengukur suhu.

”Percayalah bahwa saya mengerti keadaan Anda,” akhirnya Rieux berkata, “tapi cara berpikir Anda keliru. Saya tidak dapat membuat surat keterangan karena kenyataannya saya tidak tahu apakah Anda terkena penyakit itu atau tidak. Dan lagi, seandainya betul Anda tidak sakit, saya tidak dapat memastikan, pada detik Anda keluar dari tempat praktek saya dan masuk ke kantor Pemerintah Daerah, Anda tidak terkena penularan. Dan meskipun ….”

Dalam percakapan lain ia mengingatkan bahwa pekerjaanya sebagai dokter beresiko kematian. Pengabdiannya harus ditebus dengan kematian.

”Percayalah bahwa usul Anda ini saya terima dengan senang hati! Saya memerlukan bantuan, lebih-lebih dalam pekerjaan ini. Saya tanggung agar gagasan ini diterima oleh Pemerintah Daerah. Apalagi di waktu ini mereka tidak punya pilihan! Tapi ….”

Rieux berhenti berbicara, tampak berpikir, kemudian meneruskan,

”Tetapi Anda pasti tahu, bahwa pekerjaan ini bisa menyebabkan kematian. Bagaimanapun juga saya harus mengi- ngatkan Anda. Apakah Anda telah memikirkannya baik-baik?”

Akhirnya Kota Oran ditutup.

Digambarkan suasana kota Oran yang ditutup:

Di dalam kota sendiri, Pemerintah telah memikirkan mengucilkan daerah-daerah tertentu yang sangat parah. Dari sana, yang diperbolehkan keluar hanyalah orang-orang yang bertugas penting. Penghuni di sana terpaksa menganggap tindakan itu sebagai satu gangguan yang khusus ditujukan kepada mereka. Akibatnya, mereka berpikir bahwa penduduk daerah lain adalah orang yang bebas. Sebaliknya, penduduk yang tinggal di pinggiran, di waktu-waktu kesusahan merasa terhibur jika membayangkan orang tengah kota kurang bebas daripada mereka. “Masih ada yang lebih terkurung daripada saya” adalah kalimat yang meringkaskan satu-satunya kemungkinan berharap.

Lalu banyak muncul kerusuhan akibat situasi kota yang sangat absurd. Masyarakat lebih memilih membakar kota daripada pemberantasan kuman yang dipercaya menjadi penyebab epidemi.

Kira-kira pada waktu itu pulalah terjadi banyak kebakaran terutama di daerah rekreasi di pintu kota sebelah barat. Informasi mengatakan bahwa itu adalah orang-orang yang kehilangan akal karena kesedihan dan kemalangan, sepulang dari karantina lalu membakar rumah mereka dengan maksud memusnahkan kuman-kuman sampar. Sukar sekali memberantas perbuatan itu. Padahal, disebabkan oleh angin keras, pembakaran yang sering terjadi itu selalu membahayakan seluruh daerah. Setelah pemberian penyuluhan bahwa pemberantasan kuman yang dilaksanakan pihak berwenang di rumah-rumah guna menghindari risiko penularan ternyata tidak dipedulikan penduduk, dikeluarkanlah keputusan hukuman sangat berat bagi pembakar-pembakar yang tidak sadar itu.

Masyarakat tidak lagi mendapat pasokan pangan tapi terkurung di kotanya. Masyarakat tergesa berebutan mencari kebutuhan pokok. Kota makin chaos:

Ini disebabkan oleh kesukaran pengadaan bahan pokok. Semakin hari semakin gawat. Maka muncullah spekulasi. Bahan-bahan kebutuhan pokok ditawarkan dengan harga setinggi langit. Oleh sebab itu keluarga-keluarga miskin mengalami hidup sangat merana, sedangkan keluarga-keluarga kaya hampir tidak kekurangan sesuatu pun. Dan sampar, yang dengan politik kerjanya tidak membeda-bedakan serta seharusnya membuat semua penduduk berkedudukan sama, kini memberi akibat kebalikannya. Berkat permainan egoisme yang normal pada manusia, sampar membuat hati penduduk lebih peka terhadap ketidakadilan.

Di tengah epidemi yang melanda, si kaya akan bisa bertahan, si miskin akan tambah merana. Kesenjangan kehidupan sosial akan menganga dalam sebuah masyarakat yang dilanda epidemi.

Albert Camus dengan sangat aneh menulis kalimat bahwa ada kesamamerataan dalam situasi epidemi. Apa? Kematian?

Tentu saja masih ada kesamarataan dalam kematian, padahal tak seorang pun menghendaki kematian. Dalam keadaan seperti itu, si miskin yang kelaparan semakin berpikir ke arah kota-kota dan desa-desa tetangga, di mana ada kehidupan bebas dan makanan tidak mahal. Karena Pemerintah Daerah tidak bisa menyediakan bahan makanan secukupnya, penduduk memperhitungkan, meskipun disertai nalar yang tidak sehat, bahwa seharusnyalah mereka diperbolehkan meninggalkan kota Oran. Pendapat itu dinyatakan dalam rumusan tertulis di dinding kota: “roti atau udara bebas!”

Kelambanan Pemerintah Daerah menjadi perhatian besar pemikir besar Perancis ini, Albert Camus. Bahwa dalam menghadapi perluasan epidemi atau penyakit menular letaknya pada kelambanan Pemerintah Daerah.

Novel yang ditulis peraih hadiah Nobel ini adalah pelajaran besar dalam menghadapi epidemi. Bagaimana penundaaan keputusan dan kelambanan Pemerintah Daerah berisiko menjadi kasus pembiaran penularan yang semakin buruk dan beresiko menghabiskan nyawa warga kota.[T]

Tags: kesehatanpemerintahanpenyakitviruswabah
Share11TweetSendShareSend
Previous Post

Lelaki yang Mengendap-endap di Kamar Kos Putri

Next Post

Penakluk Dunia, Bernama Corona

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Saat Raga Sakit, Biarkan Pikiran Tetap Sehat –Cerita Tentang Pasien Cuci Darah

Penakluk Dunia, Bernama Corona

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co