23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kepala Daerah Bebal & Wabah — Ramalan Albert Camus

Sugi Lanus by Sugi Lanus
March 14, 2020
in Esai
Kepala Daerah Bebal & Wabah — Ramalan Albert Camus

Percayakah Anda pada Pemerintah Daerah dalam menghadapi penyakit menular?

Bagi yang membaca dengan baik karya-karya ALBERT CAMUS pasti tidak pernah percaya kalau Pemerintah Daerah bisa cekatan dan siaga menghadapi epidemi alias penyakit menular.

Albert Camus merumuskannya dengan sangat baik dalam novelnya yang monumental: SAMPAR (dalam bahasa Perancis: La Peste) yang terbit tahun 1947.

Pemerintah Daerah tidak berani ambil sikap dan tidak punya ketegasan dalam mengambil keputusan, padahal ini sangat mendesak dalam penyelamatan masyarakat dalam menghadapi penularan penyakit yang tidak diketahui obat dan pola penularannya masih berkembang dan berubah, dengan sangat cepat.

Telah terbukti ada yang meninggal karena penyakit menular melanda kota, tapi pemerintah daerah masih tidak bergerak.

Hal ini dinyatakan dalam bagian percakapan Dokter Rieux:

”Saya tidak mengerti sama sekali,” Richard mengaku, “sudah ada dua yang meninggal, satu dalam waktu empat puluh delapan jam, lainnya dalam jangka waktu tiga hari. Pasien yang kedua menunjukkan tanda-tanda akan sembuh ketika saya tinggalkan pagi itu.”

”Kabari saya jika ada kasus lain,” kata Rieux.

Dia menelepon beberapa dokter lain. Hasilnya, dia ketahui bahwa sekitar dua puluhan kasus yang sama telah terjadi pada hari-hari terakhir. Hampir semuanya mengakibatkan kematian. Karena Richard menjabat sebagai Ketua Ikatan Dokter di Oran, Rieux minta karantina bagi pasien- pasien baru.

”Saya tidak dapat melakukannya,” kata Richard, “harus ada keputusan Pemerintah Daerah. Lagi pula, siapa yang memberitahu Anda bahwa ada risiko penularan?”

”Tidak ada yang memberitahu. Tetapi gejala-gejalanya mengkhawatirkan.”

Dokter kebingungan dengan menunggu sikap Pemerintah Daerah di Oran, yang menjadi setting terjadinya wabah mematikan dalam novel ALBERT CAMUS.

Dokter tidak bisa menyembuhkan. Tugasnya hanya melakukan pengecekan dan siapa saja yang tertular dikarantina.

Sebuah kota tenang berubah menjadi mencekam. Dokter Rieux (tokoh utama) dalam usahanya yang keras untuk meyakinkan Pemerintah Daerah hampir putus asa menghadapi epidemi yang bergerak cepat seperti melahap seisi kota. Sebagai seorang dokter, Rieux perasaannya mencekam menghadapi situasi, tapi ia berjuang untuk bisa berbuat melakukan kewajibannya. Tidak ada dokter yang bisa melakukan usaha dalam menyembuhkan penyakit menular ini, mereka hanya mendiagnosa dan memutuskan untuk menulis perintah karantina. Para perawat bekerja dalam ketakutan tertular, berada di garda depan dengan resiko penularan sangat tinggi.

Dalam situasi tersebut, masih saja Pemerintah Daerah bermain kucing-kucingan.

Komisi Kesehatan dipanggil ke kantor Pemerintah Daerah atas usul Dokter Rieux.

”Memang benar penduduk khawatir,” Dokter Richard mengakui, “tetapi omong kosong terlalu membesar-besarkan segalanya. Kepala Pemerintah Daerah mengatakan kepada saya: ambillah tindakan secepatnya kalau Anda menghendakinya. Tetapi jangan menarik perhatian! Apalagi pejabat itu yakin bahwa ini tidak serius.”

Pemerintah Daerah Kota Oran — yang menjadi lokasi novel SAMPAR —  sekalipun telah berjatuhan korban masih menggangap ini tidak serius.

Semuanya menyebabkan kematian dalam waktu 48 jam. Apakah Dokter Richard mau bertanggung-jawab untuk memastikan bahwa epidemi akan berhenti tanpa tindakan preventif yang ketat?

Richard bimbang, menatap wajah Rieux, katanya,

”Katakanlah dengan sesungguhnya pikiran Anda! Apakah Anda pasti bahwa ini sampar?”

”Anda salah melihat masalahnya. Ini bukan soal kosa kata. Ini soal waktu.”

”Menurut pendapat Anda,” kata Kepala Pemerintah Daerah, “meskipun seandainya ini bukan sampar, tindakan-tindakan preventif ketat yang diperuntukkan masa epidemi sampar seharusnya diberlakukan.”

”Kalau Anda mendesak saya harus mempunyai ‘pendapat’, ya, memang begitulah!”

Dokter-dokter berunding, akhirnya Richard berkata,

”Jadi kita harus bertanggung jawab bertindak seolah-olah penyakit…”

Perdebatan dan memilih kosa kata, justifikasi untuk melakukan tindakan Kepala Pemerintahan Daerah berjalan alot, menghabiskan waktu seperti abai tidak memikir kecepatan penularan di luar sana. Lebih sibuk memilih kosa kata dan telah kehilangan banyak waktu dalam urusan rapat-rapat memilih kosa kata yang menurut Dokter Rieux tidak sebuah sikap plin-plan Kepala Pemerintahan Daerah yang lamban.

Ada bagian dari kesaksian Dokter Rieux menunjukkan ketidakseriusan Pemerintahan Daerah:

Hari kemudiannya, bagaimanapun juga Rieux melihat kertas-kertas selebaran atas perintah kilat Pemerintah Daerah, ditempelkan di sudut-sudut kota paling jauh.

Dari selebaran ini sukar dibuktikan bahwa pihak berwenang menghadapi situasi dengan kesungguhan. Tindakan-tindakan tidak ketat. Rupanya mereka menghindari kepanikan penduduk Oran. Memang pendahuluan surat keputusan itu mengumumkan bahwa beberapa kasus demam berbahaya yang belum dapat dikatakan risiko penularannya, telah muncul di kawasan Oran. Kasus-kasus ini tidak cukup berciri sehingga benar-benar mengkhawatirkan, dan dalam suasana ini, diharap penduduk tenang.

Dialog kejengkelan Dokter Rieux pada Kepala Pemerintahan Daerah muncul dalam percakapan ini:

”Ya,” sahut Kepala Daerah, “saya mengetahui angka- angka itu. Memang mengkhawatirkan.”

”Lebih dari mengkhawatirkan! Angka-angka itu jelas sekali membuktikan bahwa memang ada epidemi.”

”Saya akan minta instruksi dari pusat.”

Castel turut mendengarkan percakapan itu, melihat Rieux meletakkan kembali teleponnya.

”Perintah dari pusat!” kata Rieux jengkel, “yang diperlukan adalah kreatif dalam menanggapi keadaan secepatnya.”

Di kepala Kepala Pemerintahan Daerah angka-angka menjadi pertimbangan. Sepertinya nyawa manusia telah menjadi angka. Memikirkan kosa kata menghabiskan waktu banyak, demi bagian penting pidato politiknya.

Novel Sampar ini dengan sangat cermat memotret bagaimana Pemerintah Daerah, di mana-mana sama saja, senantiasa berkilah: “Menunggu instruksi dari pusat”. Kalimat kilah cuci tangan ini terus diucapkan sekalipun dalam kebencanaan yang mengancam sebuah kota.

Dalam berbagai kesempatan Dokter Rieux harus menjelaskan bahwa sebagai dokter dia perlu berkoordinasi secara cepat dan sistematis dalam penanganan epidemi dengan pemerintah. Apalagi sebagai dokter sekalipun ia tidak bisa memastikan secara pasti seseorang terpapar atau terjangkiti atau tidak.

Tiada alat kedokteran di daerah Oran yang tersedia dalam mendiagnose. Nol besar. Ia hanya bisa mendikteksi dengan berbekal termometer pengukur suhu.

”Percayalah bahwa saya mengerti keadaan Anda,” akhirnya Rieux berkata, “tapi cara berpikir Anda keliru. Saya tidak dapat membuat surat keterangan karena kenyataannya saya tidak tahu apakah Anda terkena penyakit itu atau tidak. Dan lagi, seandainya betul Anda tidak sakit, saya tidak dapat memastikan, pada detik Anda keluar dari tempat praktek saya dan masuk ke kantor Pemerintah Daerah, Anda tidak terkena penularan. Dan meskipun ….”

Dalam percakapan lain ia mengingatkan bahwa pekerjaanya sebagai dokter beresiko kematian. Pengabdiannya harus ditebus dengan kematian.

”Percayalah bahwa usul Anda ini saya terima dengan senang hati! Saya memerlukan bantuan, lebih-lebih dalam pekerjaan ini. Saya tanggung agar gagasan ini diterima oleh Pemerintah Daerah. Apalagi di waktu ini mereka tidak punya pilihan! Tapi ….”

Rieux berhenti berbicara, tampak berpikir, kemudian meneruskan,

”Tetapi Anda pasti tahu, bahwa pekerjaan ini bisa menyebabkan kematian. Bagaimanapun juga saya harus mengi- ngatkan Anda. Apakah Anda telah memikirkannya baik-baik?”

Akhirnya Kota Oran ditutup.

Digambarkan suasana kota Oran yang ditutup:

Di dalam kota sendiri, Pemerintah telah memikirkan mengucilkan daerah-daerah tertentu yang sangat parah. Dari sana, yang diperbolehkan keluar hanyalah orang-orang yang bertugas penting. Penghuni di sana terpaksa menganggap tindakan itu sebagai satu gangguan yang khusus ditujukan kepada mereka. Akibatnya, mereka berpikir bahwa penduduk daerah lain adalah orang yang bebas. Sebaliknya, penduduk yang tinggal di pinggiran, di waktu-waktu kesusahan merasa terhibur jika membayangkan orang tengah kota kurang bebas daripada mereka. “Masih ada yang lebih terkurung daripada saya” adalah kalimat yang meringkaskan satu-satunya kemungkinan berharap.

Lalu banyak muncul kerusuhan akibat situasi kota yang sangat absurd. Masyarakat lebih memilih membakar kota daripada pemberantasan kuman yang dipercaya menjadi penyebab epidemi.

Kira-kira pada waktu itu pulalah terjadi banyak kebakaran terutama di daerah rekreasi di pintu kota sebelah barat. Informasi mengatakan bahwa itu adalah orang-orang yang kehilangan akal karena kesedihan dan kemalangan, sepulang dari karantina lalu membakar rumah mereka dengan maksud memusnahkan kuman-kuman sampar. Sukar sekali memberantas perbuatan itu. Padahal, disebabkan oleh angin keras, pembakaran yang sering terjadi itu selalu membahayakan seluruh daerah. Setelah pemberian penyuluhan bahwa pemberantasan kuman yang dilaksanakan pihak berwenang di rumah-rumah guna menghindari risiko penularan ternyata tidak dipedulikan penduduk, dikeluarkanlah keputusan hukuman sangat berat bagi pembakar-pembakar yang tidak sadar itu.

Masyarakat tidak lagi mendapat pasokan pangan tapi terkurung di kotanya. Masyarakat tergesa berebutan mencari kebutuhan pokok. Kota makin chaos:

Ini disebabkan oleh kesukaran pengadaan bahan pokok. Semakin hari semakin gawat. Maka muncullah spekulasi. Bahan-bahan kebutuhan pokok ditawarkan dengan harga setinggi langit. Oleh sebab itu keluarga-keluarga miskin mengalami hidup sangat merana, sedangkan keluarga-keluarga kaya hampir tidak kekurangan sesuatu pun. Dan sampar, yang dengan politik kerjanya tidak membeda-bedakan serta seharusnya membuat semua penduduk berkedudukan sama, kini memberi akibat kebalikannya. Berkat permainan egoisme yang normal pada manusia, sampar membuat hati penduduk lebih peka terhadap ketidakadilan.

Di tengah epidemi yang melanda, si kaya akan bisa bertahan, si miskin akan tambah merana. Kesenjangan kehidupan sosial akan menganga dalam sebuah masyarakat yang dilanda epidemi.

Albert Camus dengan sangat aneh menulis kalimat bahwa ada kesamamerataan dalam situasi epidemi. Apa? Kematian?

Tentu saja masih ada kesamarataan dalam kematian, padahal tak seorang pun menghendaki kematian. Dalam keadaan seperti itu, si miskin yang kelaparan semakin berpikir ke arah kota-kota dan desa-desa tetangga, di mana ada kehidupan bebas dan makanan tidak mahal. Karena Pemerintah Daerah tidak bisa menyediakan bahan makanan secukupnya, penduduk memperhitungkan, meskipun disertai nalar yang tidak sehat, bahwa seharusnyalah mereka diperbolehkan meninggalkan kota Oran. Pendapat itu dinyatakan dalam rumusan tertulis di dinding kota: “roti atau udara bebas!”

Kelambanan Pemerintah Daerah menjadi perhatian besar pemikir besar Perancis ini, Albert Camus. Bahwa dalam menghadapi perluasan epidemi atau penyakit menular letaknya pada kelambanan Pemerintah Daerah.

Novel yang ditulis peraih hadiah Nobel ini adalah pelajaran besar dalam menghadapi epidemi. Bagaimana penundaaan keputusan dan kelambanan Pemerintah Daerah berisiko menjadi kasus pembiaran penularan yang semakin buruk dan beresiko menghabiskan nyawa warga kota.[T]

Tags: kesehatanpemerintahanpenyakitviruswabah
Share11TweetSendShareSend
Previous Post

Lelaki yang Mengendap-endap di Kamar Kos Putri

Next Post

Penakluk Dunia, Bernama Corona

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
Saat Raga Sakit, Biarkan Pikiran Tetap Sehat –Cerita Tentang Pasien Cuci Darah

Penakluk Dunia, Bernama Corona

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co