3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kepala Daerah Bebal & Wabah — Ramalan Albert Camus

Sugi Lanus by Sugi Lanus
March 14, 2020
in Esai
Kepala Daerah Bebal & Wabah — Ramalan Albert Camus

Percayakah Anda pada Pemerintah Daerah dalam menghadapi penyakit menular?

Bagi yang membaca dengan baik karya-karya ALBERT CAMUS pasti tidak pernah percaya kalau Pemerintah Daerah bisa cekatan dan siaga menghadapi epidemi alias penyakit menular.

Albert Camus merumuskannya dengan sangat baik dalam novelnya yang monumental: SAMPAR (dalam bahasa Perancis: La Peste) yang terbit tahun 1947.

Pemerintah Daerah tidak berani ambil sikap dan tidak punya ketegasan dalam mengambil keputusan, padahal ini sangat mendesak dalam penyelamatan masyarakat dalam menghadapi penularan penyakit yang tidak diketahui obat dan pola penularannya masih berkembang dan berubah, dengan sangat cepat.

Telah terbukti ada yang meninggal karena penyakit menular melanda kota, tapi pemerintah daerah masih tidak bergerak.

Hal ini dinyatakan dalam bagian percakapan Dokter Rieux:

”Saya tidak mengerti sama sekali,” Richard mengaku, “sudah ada dua yang meninggal, satu dalam waktu empat puluh delapan jam, lainnya dalam jangka waktu tiga hari. Pasien yang kedua menunjukkan tanda-tanda akan sembuh ketika saya tinggalkan pagi itu.”

”Kabari saya jika ada kasus lain,” kata Rieux.

Dia menelepon beberapa dokter lain. Hasilnya, dia ketahui bahwa sekitar dua puluhan kasus yang sama telah terjadi pada hari-hari terakhir. Hampir semuanya mengakibatkan kematian. Karena Richard menjabat sebagai Ketua Ikatan Dokter di Oran, Rieux minta karantina bagi pasien- pasien baru.

”Saya tidak dapat melakukannya,” kata Richard, “harus ada keputusan Pemerintah Daerah. Lagi pula, siapa yang memberitahu Anda bahwa ada risiko penularan?”

”Tidak ada yang memberitahu. Tetapi gejala-gejalanya mengkhawatirkan.”

Dokter kebingungan dengan menunggu sikap Pemerintah Daerah di Oran, yang menjadi setting terjadinya wabah mematikan dalam novel ALBERT CAMUS.

Dokter tidak bisa menyembuhkan. Tugasnya hanya melakukan pengecekan dan siapa saja yang tertular dikarantina.

Sebuah kota tenang berubah menjadi mencekam. Dokter Rieux (tokoh utama) dalam usahanya yang keras untuk meyakinkan Pemerintah Daerah hampir putus asa menghadapi epidemi yang bergerak cepat seperti melahap seisi kota. Sebagai seorang dokter, Rieux perasaannya mencekam menghadapi situasi, tapi ia berjuang untuk bisa berbuat melakukan kewajibannya. Tidak ada dokter yang bisa melakukan usaha dalam menyembuhkan penyakit menular ini, mereka hanya mendiagnosa dan memutuskan untuk menulis perintah karantina. Para perawat bekerja dalam ketakutan tertular, berada di garda depan dengan resiko penularan sangat tinggi.

Dalam situasi tersebut, masih saja Pemerintah Daerah bermain kucing-kucingan.

Komisi Kesehatan dipanggil ke kantor Pemerintah Daerah atas usul Dokter Rieux.

”Memang benar penduduk khawatir,” Dokter Richard mengakui, “tetapi omong kosong terlalu membesar-besarkan segalanya. Kepala Pemerintah Daerah mengatakan kepada saya: ambillah tindakan secepatnya kalau Anda menghendakinya. Tetapi jangan menarik perhatian! Apalagi pejabat itu yakin bahwa ini tidak serius.”

Pemerintah Daerah Kota Oran — yang menjadi lokasi novel SAMPAR —  sekalipun telah berjatuhan korban masih menggangap ini tidak serius.

Semuanya menyebabkan kematian dalam waktu 48 jam. Apakah Dokter Richard mau bertanggung-jawab untuk memastikan bahwa epidemi akan berhenti tanpa tindakan preventif yang ketat?

Richard bimbang, menatap wajah Rieux, katanya,

”Katakanlah dengan sesungguhnya pikiran Anda! Apakah Anda pasti bahwa ini sampar?”

”Anda salah melihat masalahnya. Ini bukan soal kosa kata. Ini soal waktu.”

”Menurut pendapat Anda,” kata Kepala Pemerintah Daerah, “meskipun seandainya ini bukan sampar, tindakan-tindakan preventif ketat yang diperuntukkan masa epidemi sampar seharusnya diberlakukan.”

”Kalau Anda mendesak saya harus mempunyai ‘pendapat’, ya, memang begitulah!”

Dokter-dokter berunding, akhirnya Richard berkata,

”Jadi kita harus bertanggung jawab bertindak seolah-olah penyakit…”

Perdebatan dan memilih kosa kata, justifikasi untuk melakukan tindakan Kepala Pemerintahan Daerah berjalan alot, menghabiskan waktu seperti abai tidak memikir kecepatan penularan di luar sana. Lebih sibuk memilih kosa kata dan telah kehilangan banyak waktu dalam urusan rapat-rapat memilih kosa kata yang menurut Dokter Rieux tidak sebuah sikap plin-plan Kepala Pemerintahan Daerah yang lamban.

Ada bagian dari kesaksian Dokter Rieux menunjukkan ketidakseriusan Pemerintahan Daerah:

Hari kemudiannya, bagaimanapun juga Rieux melihat kertas-kertas selebaran atas perintah kilat Pemerintah Daerah, ditempelkan di sudut-sudut kota paling jauh.

Dari selebaran ini sukar dibuktikan bahwa pihak berwenang menghadapi situasi dengan kesungguhan. Tindakan-tindakan tidak ketat. Rupanya mereka menghindari kepanikan penduduk Oran. Memang pendahuluan surat keputusan itu mengumumkan bahwa beberapa kasus demam berbahaya yang belum dapat dikatakan risiko penularannya, telah muncul di kawasan Oran. Kasus-kasus ini tidak cukup berciri sehingga benar-benar mengkhawatirkan, dan dalam suasana ini, diharap penduduk tenang.

Dialog kejengkelan Dokter Rieux pada Kepala Pemerintahan Daerah muncul dalam percakapan ini:

”Ya,” sahut Kepala Daerah, “saya mengetahui angka- angka itu. Memang mengkhawatirkan.”

”Lebih dari mengkhawatirkan! Angka-angka itu jelas sekali membuktikan bahwa memang ada epidemi.”

”Saya akan minta instruksi dari pusat.”

Castel turut mendengarkan percakapan itu, melihat Rieux meletakkan kembali teleponnya.

”Perintah dari pusat!” kata Rieux jengkel, “yang diperlukan adalah kreatif dalam menanggapi keadaan secepatnya.”

Di kepala Kepala Pemerintahan Daerah angka-angka menjadi pertimbangan. Sepertinya nyawa manusia telah menjadi angka. Memikirkan kosa kata menghabiskan waktu banyak, demi bagian penting pidato politiknya.

Novel Sampar ini dengan sangat cermat memotret bagaimana Pemerintah Daerah, di mana-mana sama saja, senantiasa berkilah: “Menunggu instruksi dari pusat”. Kalimat kilah cuci tangan ini terus diucapkan sekalipun dalam kebencanaan yang mengancam sebuah kota.

Dalam berbagai kesempatan Dokter Rieux harus menjelaskan bahwa sebagai dokter dia perlu berkoordinasi secara cepat dan sistematis dalam penanganan epidemi dengan pemerintah. Apalagi sebagai dokter sekalipun ia tidak bisa memastikan secara pasti seseorang terpapar atau terjangkiti atau tidak.

Tiada alat kedokteran di daerah Oran yang tersedia dalam mendiagnose. Nol besar. Ia hanya bisa mendikteksi dengan berbekal termometer pengukur suhu.

”Percayalah bahwa saya mengerti keadaan Anda,” akhirnya Rieux berkata, “tapi cara berpikir Anda keliru. Saya tidak dapat membuat surat keterangan karena kenyataannya saya tidak tahu apakah Anda terkena penyakit itu atau tidak. Dan lagi, seandainya betul Anda tidak sakit, saya tidak dapat memastikan, pada detik Anda keluar dari tempat praktek saya dan masuk ke kantor Pemerintah Daerah, Anda tidak terkena penularan. Dan meskipun ….”

Dalam percakapan lain ia mengingatkan bahwa pekerjaanya sebagai dokter beresiko kematian. Pengabdiannya harus ditebus dengan kematian.

”Percayalah bahwa usul Anda ini saya terima dengan senang hati! Saya memerlukan bantuan, lebih-lebih dalam pekerjaan ini. Saya tanggung agar gagasan ini diterima oleh Pemerintah Daerah. Apalagi di waktu ini mereka tidak punya pilihan! Tapi ….”

Rieux berhenti berbicara, tampak berpikir, kemudian meneruskan,

”Tetapi Anda pasti tahu, bahwa pekerjaan ini bisa menyebabkan kematian. Bagaimanapun juga saya harus mengi- ngatkan Anda. Apakah Anda telah memikirkannya baik-baik?”

Akhirnya Kota Oran ditutup.

Digambarkan suasana kota Oran yang ditutup:

Di dalam kota sendiri, Pemerintah telah memikirkan mengucilkan daerah-daerah tertentu yang sangat parah. Dari sana, yang diperbolehkan keluar hanyalah orang-orang yang bertugas penting. Penghuni di sana terpaksa menganggap tindakan itu sebagai satu gangguan yang khusus ditujukan kepada mereka. Akibatnya, mereka berpikir bahwa penduduk daerah lain adalah orang yang bebas. Sebaliknya, penduduk yang tinggal di pinggiran, di waktu-waktu kesusahan merasa terhibur jika membayangkan orang tengah kota kurang bebas daripada mereka. “Masih ada yang lebih terkurung daripada saya” adalah kalimat yang meringkaskan satu-satunya kemungkinan berharap.

Lalu banyak muncul kerusuhan akibat situasi kota yang sangat absurd. Masyarakat lebih memilih membakar kota daripada pemberantasan kuman yang dipercaya menjadi penyebab epidemi.

Kira-kira pada waktu itu pulalah terjadi banyak kebakaran terutama di daerah rekreasi di pintu kota sebelah barat. Informasi mengatakan bahwa itu adalah orang-orang yang kehilangan akal karena kesedihan dan kemalangan, sepulang dari karantina lalu membakar rumah mereka dengan maksud memusnahkan kuman-kuman sampar. Sukar sekali memberantas perbuatan itu. Padahal, disebabkan oleh angin keras, pembakaran yang sering terjadi itu selalu membahayakan seluruh daerah. Setelah pemberian penyuluhan bahwa pemberantasan kuman yang dilaksanakan pihak berwenang di rumah-rumah guna menghindari risiko penularan ternyata tidak dipedulikan penduduk, dikeluarkanlah keputusan hukuman sangat berat bagi pembakar-pembakar yang tidak sadar itu.

Masyarakat tidak lagi mendapat pasokan pangan tapi terkurung di kotanya. Masyarakat tergesa berebutan mencari kebutuhan pokok. Kota makin chaos:

Ini disebabkan oleh kesukaran pengadaan bahan pokok. Semakin hari semakin gawat. Maka muncullah spekulasi. Bahan-bahan kebutuhan pokok ditawarkan dengan harga setinggi langit. Oleh sebab itu keluarga-keluarga miskin mengalami hidup sangat merana, sedangkan keluarga-keluarga kaya hampir tidak kekurangan sesuatu pun. Dan sampar, yang dengan politik kerjanya tidak membeda-bedakan serta seharusnya membuat semua penduduk berkedudukan sama, kini memberi akibat kebalikannya. Berkat permainan egoisme yang normal pada manusia, sampar membuat hati penduduk lebih peka terhadap ketidakadilan.

Di tengah epidemi yang melanda, si kaya akan bisa bertahan, si miskin akan tambah merana. Kesenjangan kehidupan sosial akan menganga dalam sebuah masyarakat yang dilanda epidemi.

Albert Camus dengan sangat aneh menulis kalimat bahwa ada kesamamerataan dalam situasi epidemi. Apa? Kematian?

Tentu saja masih ada kesamarataan dalam kematian, padahal tak seorang pun menghendaki kematian. Dalam keadaan seperti itu, si miskin yang kelaparan semakin berpikir ke arah kota-kota dan desa-desa tetangga, di mana ada kehidupan bebas dan makanan tidak mahal. Karena Pemerintah Daerah tidak bisa menyediakan bahan makanan secukupnya, penduduk memperhitungkan, meskipun disertai nalar yang tidak sehat, bahwa seharusnyalah mereka diperbolehkan meninggalkan kota Oran. Pendapat itu dinyatakan dalam rumusan tertulis di dinding kota: “roti atau udara bebas!”

Kelambanan Pemerintah Daerah menjadi perhatian besar pemikir besar Perancis ini, Albert Camus. Bahwa dalam menghadapi perluasan epidemi atau penyakit menular letaknya pada kelambanan Pemerintah Daerah.

Novel yang ditulis peraih hadiah Nobel ini adalah pelajaran besar dalam menghadapi epidemi. Bagaimana penundaaan keputusan dan kelambanan Pemerintah Daerah berisiko menjadi kasus pembiaran penularan yang semakin buruk dan beresiko menghabiskan nyawa warga kota.[T]

Tags: kesehatanpemerintahanpenyakitviruswabah
Share11TweetSendShareSend
Previous Post

Lelaki yang Mengendap-endap di Kamar Kos Putri

Next Post

Penakluk Dunia, Bernama Corona

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Saat Raga Sakit, Biarkan Pikiran Tetap Sehat –Cerita Tentang Pasien Cuci Darah

Penakluk Dunia, Bernama Corona

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co