24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kepala Daerah Bebal & Wabah — Ramalan Albert Camus

Sugi Lanus by Sugi Lanus
March 14, 2020
in Esai
Kepala Daerah Bebal & Wabah — Ramalan Albert Camus

Percayakah Anda pada Pemerintah Daerah dalam menghadapi penyakit menular?

Bagi yang membaca dengan baik karya-karya ALBERT CAMUS pasti tidak pernah percaya kalau Pemerintah Daerah bisa cekatan dan siaga menghadapi epidemi alias penyakit menular.

Albert Camus merumuskannya dengan sangat baik dalam novelnya yang monumental: SAMPAR (dalam bahasa Perancis: La Peste) yang terbit tahun 1947.

Pemerintah Daerah tidak berani ambil sikap dan tidak punya ketegasan dalam mengambil keputusan, padahal ini sangat mendesak dalam penyelamatan masyarakat dalam menghadapi penularan penyakit yang tidak diketahui obat dan pola penularannya masih berkembang dan berubah, dengan sangat cepat.

Telah terbukti ada yang meninggal karena penyakit menular melanda kota, tapi pemerintah daerah masih tidak bergerak.

Hal ini dinyatakan dalam bagian percakapan Dokter Rieux:

”Saya tidak mengerti sama sekali,” Richard mengaku, “sudah ada dua yang meninggal, satu dalam waktu empat puluh delapan jam, lainnya dalam jangka waktu tiga hari. Pasien yang kedua menunjukkan tanda-tanda akan sembuh ketika saya tinggalkan pagi itu.”

”Kabari saya jika ada kasus lain,” kata Rieux.

Dia menelepon beberapa dokter lain. Hasilnya, dia ketahui bahwa sekitar dua puluhan kasus yang sama telah terjadi pada hari-hari terakhir. Hampir semuanya mengakibatkan kematian. Karena Richard menjabat sebagai Ketua Ikatan Dokter di Oran, Rieux minta karantina bagi pasien- pasien baru.

”Saya tidak dapat melakukannya,” kata Richard, “harus ada keputusan Pemerintah Daerah. Lagi pula, siapa yang memberitahu Anda bahwa ada risiko penularan?”

”Tidak ada yang memberitahu. Tetapi gejala-gejalanya mengkhawatirkan.”

Dokter kebingungan dengan menunggu sikap Pemerintah Daerah di Oran, yang menjadi setting terjadinya wabah mematikan dalam novel ALBERT CAMUS.

Dokter tidak bisa menyembuhkan. Tugasnya hanya melakukan pengecekan dan siapa saja yang tertular dikarantina.

Sebuah kota tenang berubah menjadi mencekam. Dokter Rieux (tokoh utama) dalam usahanya yang keras untuk meyakinkan Pemerintah Daerah hampir putus asa menghadapi epidemi yang bergerak cepat seperti melahap seisi kota. Sebagai seorang dokter, Rieux perasaannya mencekam menghadapi situasi, tapi ia berjuang untuk bisa berbuat melakukan kewajibannya. Tidak ada dokter yang bisa melakukan usaha dalam menyembuhkan penyakit menular ini, mereka hanya mendiagnosa dan memutuskan untuk menulis perintah karantina. Para perawat bekerja dalam ketakutan tertular, berada di garda depan dengan resiko penularan sangat tinggi.

Dalam situasi tersebut, masih saja Pemerintah Daerah bermain kucing-kucingan.

Komisi Kesehatan dipanggil ke kantor Pemerintah Daerah atas usul Dokter Rieux.

”Memang benar penduduk khawatir,” Dokter Richard mengakui, “tetapi omong kosong terlalu membesar-besarkan segalanya. Kepala Pemerintah Daerah mengatakan kepada saya: ambillah tindakan secepatnya kalau Anda menghendakinya. Tetapi jangan menarik perhatian! Apalagi pejabat itu yakin bahwa ini tidak serius.”

Pemerintah Daerah Kota Oran — yang menjadi lokasi novel SAMPAR —  sekalipun telah berjatuhan korban masih menggangap ini tidak serius.

Semuanya menyebabkan kematian dalam waktu 48 jam. Apakah Dokter Richard mau bertanggung-jawab untuk memastikan bahwa epidemi akan berhenti tanpa tindakan preventif yang ketat?

Richard bimbang, menatap wajah Rieux, katanya,

”Katakanlah dengan sesungguhnya pikiran Anda! Apakah Anda pasti bahwa ini sampar?”

”Anda salah melihat masalahnya. Ini bukan soal kosa kata. Ini soal waktu.”

”Menurut pendapat Anda,” kata Kepala Pemerintah Daerah, “meskipun seandainya ini bukan sampar, tindakan-tindakan preventif ketat yang diperuntukkan masa epidemi sampar seharusnya diberlakukan.”

”Kalau Anda mendesak saya harus mempunyai ‘pendapat’, ya, memang begitulah!”

Dokter-dokter berunding, akhirnya Richard berkata,

”Jadi kita harus bertanggung jawab bertindak seolah-olah penyakit…”

Perdebatan dan memilih kosa kata, justifikasi untuk melakukan tindakan Kepala Pemerintahan Daerah berjalan alot, menghabiskan waktu seperti abai tidak memikir kecepatan penularan di luar sana. Lebih sibuk memilih kosa kata dan telah kehilangan banyak waktu dalam urusan rapat-rapat memilih kosa kata yang menurut Dokter Rieux tidak sebuah sikap plin-plan Kepala Pemerintahan Daerah yang lamban.

Ada bagian dari kesaksian Dokter Rieux menunjukkan ketidakseriusan Pemerintahan Daerah:

Hari kemudiannya, bagaimanapun juga Rieux melihat kertas-kertas selebaran atas perintah kilat Pemerintah Daerah, ditempelkan di sudut-sudut kota paling jauh.

Dari selebaran ini sukar dibuktikan bahwa pihak berwenang menghadapi situasi dengan kesungguhan. Tindakan-tindakan tidak ketat. Rupanya mereka menghindari kepanikan penduduk Oran. Memang pendahuluan surat keputusan itu mengumumkan bahwa beberapa kasus demam berbahaya yang belum dapat dikatakan risiko penularannya, telah muncul di kawasan Oran. Kasus-kasus ini tidak cukup berciri sehingga benar-benar mengkhawatirkan, dan dalam suasana ini, diharap penduduk tenang.

Dialog kejengkelan Dokter Rieux pada Kepala Pemerintahan Daerah muncul dalam percakapan ini:

”Ya,” sahut Kepala Daerah, “saya mengetahui angka- angka itu. Memang mengkhawatirkan.”

”Lebih dari mengkhawatirkan! Angka-angka itu jelas sekali membuktikan bahwa memang ada epidemi.”

”Saya akan minta instruksi dari pusat.”

Castel turut mendengarkan percakapan itu, melihat Rieux meletakkan kembali teleponnya.

”Perintah dari pusat!” kata Rieux jengkel, “yang diperlukan adalah kreatif dalam menanggapi keadaan secepatnya.”

Di kepala Kepala Pemerintahan Daerah angka-angka menjadi pertimbangan. Sepertinya nyawa manusia telah menjadi angka. Memikirkan kosa kata menghabiskan waktu banyak, demi bagian penting pidato politiknya.

Novel Sampar ini dengan sangat cermat memotret bagaimana Pemerintah Daerah, di mana-mana sama saja, senantiasa berkilah: “Menunggu instruksi dari pusat”. Kalimat kilah cuci tangan ini terus diucapkan sekalipun dalam kebencanaan yang mengancam sebuah kota.

Dalam berbagai kesempatan Dokter Rieux harus menjelaskan bahwa sebagai dokter dia perlu berkoordinasi secara cepat dan sistematis dalam penanganan epidemi dengan pemerintah. Apalagi sebagai dokter sekalipun ia tidak bisa memastikan secara pasti seseorang terpapar atau terjangkiti atau tidak.

Tiada alat kedokteran di daerah Oran yang tersedia dalam mendiagnose. Nol besar. Ia hanya bisa mendikteksi dengan berbekal termometer pengukur suhu.

”Percayalah bahwa saya mengerti keadaan Anda,” akhirnya Rieux berkata, “tapi cara berpikir Anda keliru. Saya tidak dapat membuat surat keterangan karena kenyataannya saya tidak tahu apakah Anda terkena penyakit itu atau tidak. Dan lagi, seandainya betul Anda tidak sakit, saya tidak dapat memastikan, pada detik Anda keluar dari tempat praktek saya dan masuk ke kantor Pemerintah Daerah, Anda tidak terkena penularan. Dan meskipun ….”

Dalam percakapan lain ia mengingatkan bahwa pekerjaanya sebagai dokter beresiko kematian. Pengabdiannya harus ditebus dengan kematian.

”Percayalah bahwa usul Anda ini saya terima dengan senang hati! Saya memerlukan bantuan, lebih-lebih dalam pekerjaan ini. Saya tanggung agar gagasan ini diterima oleh Pemerintah Daerah. Apalagi di waktu ini mereka tidak punya pilihan! Tapi ….”

Rieux berhenti berbicara, tampak berpikir, kemudian meneruskan,

”Tetapi Anda pasti tahu, bahwa pekerjaan ini bisa menyebabkan kematian. Bagaimanapun juga saya harus mengi- ngatkan Anda. Apakah Anda telah memikirkannya baik-baik?”

Akhirnya Kota Oran ditutup.

Digambarkan suasana kota Oran yang ditutup:

Di dalam kota sendiri, Pemerintah telah memikirkan mengucilkan daerah-daerah tertentu yang sangat parah. Dari sana, yang diperbolehkan keluar hanyalah orang-orang yang bertugas penting. Penghuni di sana terpaksa menganggap tindakan itu sebagai satu gangguan yang khusus ditujukan kepada mereka. Akibatnya, mereka berpikir bahwa penduduk daerah lain adalah orang yang bebas. Sebaliknya, penduduk yang tinggal di pinggiran, di waktu-waktu kesusahan merasa terhibur jika membayangkan orang tengah kota kurang bebas daripada mereka. “Masih ada yang lebih terkurung daripada saya” adalah kalimat yang meringkaskan satu-satunya kemungkinan berharap.

Lalu banyak muncul kerusuhan akibat situasi kota yang sangat absurd. Masyarakat lebih memilih membakar kota daripada pemberantasan kuman yang dipercaya menjadi penyebab epidemi.

Kira-kira pada waktu itu pulalah terjadi banyak kebakaran terutama di daerah rekreasi di pintu kota sebelah barat. Informasi mengatakan bahwa itu adalah orang-orang yang kehilangan akal karena kesedihan dan kemalangan, sepulang dari karantina lalu membakar rumah mereka dengan maksud memusnahkan kuman-kuman sampar. Sukar sekali memberantas perbuatan itu. Padahal, disebabkan oleh angin keras, pembakaran yang sering terjadi itu selalu membahayakan seluruh daerah. Setelah pemberian penyuluhan bahwa pemberantasan kuman yang dilaksanakan pihak berwenang di rumah-rumah guna menghindari risiko penularan ternyata tidak dipedulikan penduduk, dikeluarkanlah keputusan hukuman sangat berat bagi pembakar-pembakar yang tidak sadar itu.

Masyarakat tidak lagi mendapat pasokan pangan tapi terkurung di kotanya. Masyarakat tergesa berebutan mencari kebutuhan pokok. Kota makin chaos:

Ini disebabkan oleh kesukaran pengadaan bahan pokok. Semakin hari semakin gawat. Maka muncullah spekulasi. Bahan-bahan kebutuhan pokok ditawarkan dengan harga setinggi langit. Oleh sebab itu keluarga-keluarga miskin mengalami hidup sangat merana, sedangkan keluarga-keluarga kaya hampir tidak kekurangan sesuatu pun. Dan sampar, yang dengan politik kerjanya tidak membeda-bedakan serta seharusnya membuat semua penduduk berkedudukan sama, kini memberi akibat kebalikannya. Berkat permainan egoisme yang normal pada manusia, sampar membuat hati penduduk lebih peka terhadap ketidakadilan.

Di tengah epidemi yang melanda, si kaya akan bisa bertahan, si miskin akan tambah merana. Kesenjangan kehidupan sosial akan menganga dalam sebuah masyarakat yang dilanda epidemi.

Albert Camus dengan sangat aneh menulis kalimat bahwa ada kesamamerataan dalam situasi epidemi. Apa? Kematian?

Tentu saja masih ada kesamarataan dalam kematian, padahal tak seorang pun menghendaki kematian. Dalam keadaan seperti itu, si miskin yang kelaparan semakin berpikir ke arah kota-kota dan desa-desa tetangga, di mana ada kehidupan bebas dan makanan tidak mahal. Karena Pemerintah Daerah tidak bisa menyediakan bahan makanan secukupnya, penduduk memperhitungkan, meskipun disertai nalar yang tidak sehat, bahwa seharusnyalah mereka diperbolehkan meninggalkan kota Oran. Pendapat itu dinyatakan dalam rumusan tertulis di dinding kota: “roti atau udara bebas!”

Kelambanan Pemerintah Daerah menjadi perhatian besar pemikir besar Perancis ini, Albert Camus. Bahwa dalam menghadapi perluasan epidemi atau penyakit menular letaknya pada kelambanan Pemerintah Daerah.

Novel yang ditulis peraih hadiah Nobel ini adalah pelajaran besar dalam menghadapi epidemi. Bagaimana penundaaan keputusan dan kelambanan Pemerintah Daerah berisiko menjadi kasus pembiaran penularan yang semakin buruk dan beresiko menghabiskan nyawa warga kota.[T]

Tags: kesehatanpemerintahanpenyakitviruswabah
Share11TweetSendShareSend
Previous Post

Lelaki yang Mengendap-endap di Kamar Kos Putri

Next Post

Penakluk Dunia, Bernama Corona

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Saat Raga Sakit, Biarkan Pikiran Tetap Sehat –Cerita Tentang Pasien Cuci Darah

Penakluk Dunia, Bernama Corona

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co