4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Salam Konor dari Nusa Penida, Sebuah Alarm Autokritik

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
February 25, 2020
in Opini
Salam Konor dari Nusa Penida, Sebuah Alarm Autokritik

Konor (kiri) Dieksplor dalam Video (Youtube). Sumber foto:pokelagu.com

“Bangka Eda!” Itulah kalimat identik yang diucapkan oleh Konor setiap melihat orang-orang yang lewat. Kalimat ini bermakna kurang lebih “Mampus Kau!” Semacam kalimat makian dan sangat kasar. Namun, tidak demikian halnya dengan Konor. Pemuda lapuk ini justru tidak pernah merasa berdosa melontarkan kalimat tersebut dalam situasi apapun. Entah dengan orang desa/ kota, orang yang dikenal maupun tak dikenal, orang miskin/ kaya, pejabat atau orang biasa–entah di pasar, pelabuhan, jalan raya, tempat tajen, dan lain sebagainya. Pokoknya ia akan selalu menyapa dengan kalimat makian tersebut, plus gesture dan muka yang ekspresif.

Anehnya, tidak ada satu pun orang tersinggung ketika dimaki seperti itu. Ya, maklumlah. Masyarakat NP mengenalnya sebagai orang yang kurang waras. Namun, tidak ada yang persis tahu profil Konor sesungguhnya. Hingga sekarang, lelaki ini masih saja misterius. Misterius daerah asalnya, keluarganya, tempat tinggalnya, dan lain sebagainya.

Akan tetapi, jangan tanya eksistensinya. Ia bisa saja muncul kapan dan di mana saja. Tiba-tiba ia muncul di pasar. Sebentar kemudian, nongol di pelabuhan, di banjar dan acara seremonial adat/ keagamaan di suatu tempat. Bahkan, sering pula terperangkap di emper-emper toko yang sunyi (tutup).

Hingga kini, tidak banyak yang berubah dari sosok Konor. Secara fisik, ia identik dengan tubuh tinggi tegap, kulit hitam, berkumis, dengan pakaian lusuh, kucel dan dekil. Kondisi yang lumrah, sama seperti orang kurang waras pada umumnya. Namun yang membedakan Konor ialah sapaan yang latah yaitu “Bangka Eda!” Ujaran ini menjadi ikonis yang begitu populer di kalangan masyarakat NP.

Saking identiknya, masyarakat NP menyebut ujaran latah “Bangka Eda!” itu sebagai pemilik sah dari Konor. Kalangan milenial NP mengkategorikannya sebagai semacam salam. Salam khas dari Konor. Lucunya, belakangan salam ini justru merasuki berbagai kalangan di NP, seperti anak-anak, remaja dan orang tua. Mereka yang normal malah latah (ikut-ikutan) menggunakan Salam Konor untuk berbagai kepentingan. Kok, bisa?

Salam Konor, Sebuah Autokritik

Sesungguhnya, ujaran “Bangka Eda!” sudah biasa digunakan oleh masyarakat NP. Namun, konteksnya dalam percakapan yang akrab. Artinya, kedua belah pihak (penutur-pendengar) sudah saling mengenal.

Hakikinya, ujaran tersebut digunakan untuk tujuan mengkritik. Misalnya, mengkritik lawan bicara yang isi tuturnya kurang baik, seperti mengandung unsur kebohongan (hoaks), arogansi, dan terjerumus tindakan negatif. Jadi, kalau penutur (pembicara) mengumbar kebohongan, arogansi, dan tindakan (termasuk pikiran, perkataan) yang menyimpang dari norma—maka lawan bicara pasti meresponnya dengan ujaran “Bangka Eda!” Ujaran ini kurang lebih seperti “catatan koreksi” atas isi pembicaraan yang kurang baik. Targetnya, si pembicara tidak mengulangi lagi. Atau untuk selanjutnya, si pembicara diharapkan lebih baik dalam berpikir, berbicara, dan berbuat.

Di samping itu, ujaran “Bangka Eda!” juga digunakan untuk kepentingan memotivasi teman bicara. Misalnya, ketika teman tidak cakap melakukan sesuatu, hasil karyanya kurang bagus, dan ekonominya kurang bagus—maka ujaran “Bangka Eda!” akan memecah percakapan. Namun ingat, konteksnya dengan teman yang sudah akrab. Realisasi ujaran itu memang seolah-olah mengejek/ membully, tapi suasananya bercanda dan santai.

Ujaran “Bangka Eda!” juga digunakan untuk mengutuk orang lain yang berpikir, berkata dan berbuat melanggar etika dan norma yang berlaku. Misalnya, ada sopir ugalan-ugalan di jalan dan mengancam keselamatan pengendara lain, maka sopir itu akan mendapat makian “Bangka Eda!” Maknanya kurang lebih “Semoga kamu mengalami celaka”. Jika sang sopir mulat sarira, makian itu sebetulnya “alarm kesadaran” agar tidak lagi melakukan hal yang sama (ugal-ugalan).

Ketika Salam Konor populer dan viral di dunia maya, penggunaan “Bangka Eda!” kian berkurang. Masyarakat lebih memilih kalimat “Baang Ia Salam Konor!” Maknanya kurang lebih “Kasi dia Salam Konor!” Maksudnya sama dengan “Bangka Eda!”

Bahkan, semenjak Salam Konor booming, pemanfaatannya kian bertambah luas. Sasarannya tidak lagi pada personal saja, tetapi mengarah ke organisasi (lembaga/ instansi) dan pemerintahan. Ketika aparatur desa pakraman, desa dinas, camat, dan pemda Klungkung dianggap kurang (maaf) becus kinerjanya—masyarakat cukup berkomentar “Kasi Dia/ Mereka Salam Konor!” Komentar yang sangat simpel, bukan? Namun, penuh makna.

Karena itulah, ketika listrik sering mengalami kematian di NP, masyarakat latah berkomentar “Kasi Ia (baca: Mereka) Salam Konor!” Kata ganti ia atau mereka sifatnya fleksibel (menyesesuaikan). Kalau soal kasus listrik, maka ia atau mereka mengacu pada instansi PLN Klungkung. Begitu juga, ketika air PAM mengalami kematian serius, masyarakat NP ramai-ramai kerasukan Salam Konor, baik di dunia nyata dan terlebih lagi di dunia maya.

Tidak hanya hujan Salam Konor, medsos juga diramaikan dengan gambar/ foto-foto Konor, tanpa kata atau kalimat. Para netizen cukup menampilkan fotonya saja dan dianggap mewakili esensi Salam Konor. Saking populernya, beberapa masyarakat NP merekam Konor lewat video lalu diunggah di dunia maya. Tujuannya, sebagai lelucon, olok-olokan, dan hiburan semata. Bahkan, beberapa youtuber asal NP pernah mengeksploitasinya dalam video (berbagai versi) yang bertajuk “Salam Konor”.

Fenomena Konor memang cukup unik. Bagaimana tidak? Jarang terjadi, ada ujaran orang tidak waras dikutip dan malah dijadikan ikon sebagai kritik (oleh orang waras). Saya tidak tahu, ini fenomena apa namanya? Apakah ini bisa disebut sebagai Konor Effect? Entahlah. Mungkin akan menjadi lucu rasanya jika orang kurang waras dianggap memiliki pengaruh cukup besar. Apa kata dunia?

Konor mungkin sebuah perkecualian. Ia mampu membuktikan dirinya sebagai tren berujar bagi banyak orang di NP. Lalu, apa istimewanya Salam Konor itu sehingga mampu mempengaruhi orang banyak?

Pertama, Salam Konor merupakan bentuk penghalusan maksud/ pesan. Bayangkan kalau kita mengkritik (menghujat) seorang atau organisasi dengan ujaran “Bangka Eda!” Kedengarannya sangat kasar dan pedas. Apalagi kepada orang (organisasi) yang tidak akrab dengan kita. Sebaliknya, cukup katakan dengan “Kasi Ia (Mereka) Salam Konor!” Ini mungkin kedengaran lebih sopan dan tidak vulgar.

Kedua, Salam Konor merupakan kritik yang simpel. Salam ini pendek dan dapat digunakan oleh berbagai kalangan tanpa pandang bulu. Entah anak kecil, remaja, dan dewasa dari berbagai latar belakang.

Ketiga, Salam Konor memiliki maksud/ pesan yang fleksibel. Salam ini dapat digunakan dalam berbagai bidang atau ranah. Ia dapat dimasukkan dalam berbagai konteks kasus dan mampu mewakili pelaku kritik, maksud kritik, serta sasaran yang dikritik. Panjang pendeknya kritik yang ingin disampaikan oleh individu, semua dapat diakomodir dengan ujaran singkat “Kasi Dia/ Mereka Salam Konor!”

Keempat, Salam Konor bermakna ambigu (ganda). Penggunaan Salam Konor berpeluang besar menimbulkan ambiguitas maksud. Jika ada pejabat (misalnya) marah atau tersinggung terkena Salam Konor, maka pengguna Salam Konor cukup berdalih “Ah, toh itu salam dari orang yang kurang waras”. Buat apa tersingung dengan kutipan ujaran orang kurang waras? Ya, nggak?

Namun, jika ada orang atau organisasi menanggapi Salam Konor itu sebagai sebuah kritik atas kelemahan, kekeliruan, dan kesalahan yang dilakukan—tentu orang atau organisasi tersebut akan menjadikannya cermin untuk berbuat lebih baik (optimal) ke depannya. Efek inilah yang sebetulnya disasar dari pengguna Salam Konor.

Lalu, bagaimana dengan orang (organisasi) yang masa bodoh dengan Salam Konor? Tidak masalah. Ini sah-sah saja. Namun, tidak menutup kemungkinan Anda malah akan menerima Salam Konor yang lebih masif dari publik. Mau “dikonori”? Eh, diberi Salam Konor maksudnya. [T]

Tags: baliNusa Penida
Share156TweetSendShareSend
Previous Post

Gaguritan

Next Post

Debat Mabasa Bali: Keras, Tangkas, Kadang Lucu, Tapi Ini Bukan ILC

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

Read moreDetails

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

Read moreDetails

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan...

Read moreDetails

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

Read moreDetails

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

Read moreDetails

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails
Next Post
Debat Mabasa Bali: Keras, Tangkas, Kadang Lucu, Tapi Ini Bukan ILC

Debat Mabasa Bali: Keras, Tangkas, Kadang Lucu, Tapi Ini Bukan ILC

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co