3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Salam Konor dari Nusa Penida, Sebuah Alarm Autokritik

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
February 25, 2020
in Opini
Salam Konor dari Nusa Penida, Sebuah Alarm Autokritik

Konor (kiri) Dieksplor dalam Video (Youtube). Sumber foto:pokelagu.com

“Bangka Eda!” Itulah kalimat identik yang diucapkan oleh Konor setiap melihat orang-orang yang lewat. Kalimat ini bermakna kurang lebih “Mampus Kau!” Semacam kalimat makian dan sangat kasar. Namun, tidak demikian halnya dengan Konor. Pemuda lapuk ini justru tidak pernah merasa berdosa melontarkan kalimat tersebut dalam situasi apapun. Entah dengan orang desa/ kota, orang yang dikenal maupun tak dikenal, orang miskin/ kaya, pejabat atau orang biasa–entah di pasar, pelabuhan, jalan raya, tempat tajen, dan lain sebagainya. Pokoknya ia akan selalu menyapa dengan kalimat makian tersebut, plus gesture dan muka yang ekspresif.

Anehnya, tidak ada satu pun orang tersinggung ketika dimaki seperti itu. Ya, maklumlah. Masyarakat NP mengenalnya sebagai orang yang kurang waras. Namun, tidak ada yang persis tahu profil Konor sesungguhnya. Hingga sekarang, lelaki ini masih saja misterius. Misterius daerah asalnya, keluarganya, tempat tinggalnya, dan lain sebagainya.

Akan tetapi, jangan tanya eksistensinya. Ia bisa saja muncul kapan dan di mana saja. Tiba-tiba ia muncul di pasar. Sebentar kemudian, nongol di pelabuhan, di banjar dan acara seremonial adat/ keagamaan di suatu tempat. Bahkan, sering pula terperangkap di emper-emper toko yang sunyi (tutup).

Hingga kini, tidak banyak yang berubah dari sosok Konor. Secara fisik, ia identik dengan tubuh tinggi tegap, kulit hitam, berkumis, dengan pakaian lusuh, kucel dan dekil. Kondisi yang lumrah, sama seperti orang kurang waras pada umumnya. Namun yang membedakan Konor ialah sapaan yang latah yaitu “Bangka Eda!” Ujaran ini menjadi ikonis yang begitu populer di kalangan masyarakat NP.

Saking identiknya, masyarakat NP menyebut ujaran latah “Bangka Eda!” itu sebagai pemilik sah dari Konor. Kalangan milenial NP mengkategorikannya sebagai semacam salam. Salam khas dari Konor. Lucunya, belakangan salam ini justru merasuki berbagai kalangan di NP, seperti anak-anak, remaja dan orang tua. Mereka yang normal malah latah (ikut-ikutan) menggunakan Salam Konor untuk berbagai kepentingan. Kok, bisa?

Salam Konor, Sebuah Autokritik

Sesungguhnya, ujaran “Bangka Eda!” sudah biasa digunakan oleh masyarakat NP. Namun, konteksnya dalam percakapan yang akrab. Artinya, kedua belah pihak (penutur-pendengar) sudah saling mengenal.

Hakikinya, ujaran tersebut digunakan untuk tujuan mengkritik. Misalnya, mengkritik lawan bicara yang isi tuturnya kurang baik, seperti mengandung unsur kebohongan (hoaks), arogansi, dan terjerumus tindakan negatif. Jadi, kalau penutur (pembicara) mengumbar kebohongan, arogansi, dan tindakan (termasuk pikiran, perkataan) yang menyimpang dari norma—maka lawan bicara pasti meresponnya dengan ujaran “Bangka Eda!” Ujaran ini kurang lebih seperti “catatan koreksi” atas isi pembicaraan yang kurang baik. Targetnya, si pembicara tidak mengulangi lagi. Atau untuk selanjutnya, si pembicara diharapkan lebih baik dalam berpikir, berbicara, dan berbuat.

Di samping itu, ujaran “Bangka Eda!” juga digunakan untuk kepentingan memotivasi teman bicara. Misalnya, ketika teman tidak cakap melakukan sesuatu, hasil karyanya kurang bagus, dan ekonominya kurang bagus—maka ujaran “Bangka Eda!” akan memecah percakapan. Namun ingat, konteksnya dengan teman yang sudah akrab. Realisasi ujaran itu memang seolah-olah mengejek/ membully, tapi suasananya bercanda dan santai.

Ujaran “Bangka Eda!” juga digunakan untuk mengutuk orang lain yang berpikir, berkata dan berbuat melanggar etika dan norma yang berlaku. Misalnya, ada sopir ugalan-ugalan di jalan dan mengancam keselamatan pengendara lain, maka sopir itu akan mendapat makian “Bangka Eda!” Maknanya kurang lebih “Semoga kamu mengalami celaka”. Jika sang sopir mulat sarira, makian itu sebetulnya “alarm kesadaran” agar tidak lagi melakukan hal yang sama (ugal-ugalan).

Ketika Salam Konor populer dan viral di dunia maya, penggunaan “Bangka Eda!” kian berkurang. Masyarakat lebih memilih kalimat “Baang Ia Salam Konor!” Maknanya kurang lebih “Kasi dia Salam Konor!” Maksudnya sama dengan “Bangka Eda!”

Bahkan, semenjak Salam Konor booming, pemanfaatannya kian bertambah luas. Sasarannya tidak lagi pada personal saja, tetapi mengarah ke organisasi (lembaga/ instansi) dan pemerintahan. Ketika aparatur desa pakraman, desa dinas, camat, dan pemda Klungkung dianggap kurang (maaf) becus kinerjanya—masyarakat cukup berkomentar “Kasi Dia/ Mereka Salam Konor!” Komentar yang sangat simpel, bukan? Namun, penuh makna.

Karena itulah, ketika listrik sering mengalami kematian di NP, masyarakat latah berkomentar “Kasi Ia (baca: Mereka) Salam Konor!” Kata ganti ia atau mereka sifatnya fleksibel (menyesesuaikan). Kalau soal kasus listrik, maka ia atau mereka mengacu pada instansi PLN Klungkung. Begitu juga, ketika air PAM mengalami kematian serius, masyarakat NP ramai-ramai kerasukan Salam Konor, baik di dunia nyata dan terlebih lagi di dunia maya.

Tidak hanya hujan Salam Konor, medsos juga diramaikan dengan gambar/ foto-foto Konor, tanpa kata atau kalimat. Para netizen cukup menampilkan fotonya saja dan dianggap mewakili esensi Salam Konor. Saking populernya, beberapa masyarakat NP merekam Konor lewat video lalu diunggah di dunia maya. Tujuannya, sebagai lelucon, olok-olokan, dan hiburan semata. Bahkan, beberapa youtuber asal NP pernah mengeksploitasinya dalam video (berbagai versi) yang bertajuk “Salam Konor”.

Fenomena Konor memang cukup unik. Bagaimana tidak? Jarang terjadi, ada ujaran orang tidak waras dikutip dan malah dijadikan ikon sebagai kritik (oleh orang waras). Saya tidak tahu, ini fenomena apa namanya? Apakah ini bisa disebut sebagai Konor Effect? Entahlah. Mungkin akan menjadi lucu rasanya jika orang kurang waras dianggap memiliki pengaruh cukup besar. Apa kata dunia?

Konor mungkin sebuah perkecualian. Ia mampu membuktikan dirinya sebagai tren berujar bagi banyak orang di NP. Lalu, apa istimewanya Salam Konor itu sehingga mampu mempengaruhi orang banyak?

Pertama, Salam Konor merupakan bentuk penghalusan maksud/ pesan. Bayangkan kalau kita mengkritik (menghujat) seorang atau organisasi dengan ujaran “Bangka Eda!” Kedengarannya sangat kasar dan pedas. Apalagi kepada orang (organisasi) yang tidak akrab dengan kita. Sebaliknya, cukup katakan dengan “Kasi Ia (Mereka) Salam Konor!” Ini mungkin kedengaran lebih sopan dan tidak vulgar.

Kedua, Salam Konor merupakan kritik yang simpel. Salam ini pendek dan dapat digunakan oleh berbagai kalangan tanpa pandang bulu. Entah anak kecil, remaja, dan dewasa dari berbagai latar belakang.

Ketiga, Salam Konor memiliki maksud/ pesan yang fleksibel. Salam ini dapat digunakan dalam berbagai bidang atau ranah. Ia dapat dimasukkan dalam berbagai konteks kasus dan mampu mewakili pelaku kritik, maksud kritik, serta sasaran yang dikritik. Panjang pendeknya kritik yang ingin disampaikan oleh individu, semua dapat diakomodir dengan ujaran singkat “Kasi Dia/ Mereka Salam Konor!”

Keempat, Salam Konor bermakna ambigu (ganda). Penggunaan Salam Konor berpeluang besar menimbulkan ambiguitas maksud. Jika ada pejabat (misalnya) marah atau tersinggung terkena Salam Konor, maka pengguna Salam Konor cukup berdalih “Ah, toh itu salam dari orang yang kurang waras”. Buat apa tersingung dengan kutipan ujaran orang kurang waras? Ya, nggak?

Namun, jika ada orang atau organisasi menanggapi Salam Konor itu sebagai sebuah kritik atas kelemahan, kekeliruan, dan kesalahan yang dilakukan—tentu orang atau organisasi tersebut akan menjadikannya cermin untuk berbuat lebih baik (optimal) ke depannya. Efek inilah yang sebetulnya disasar dari pengguna Salam Konor.

Lalu, bagaimana dengan orang (organisasi) yang masa bodoh dengan Salam Konor? Tidak masalah. Ini sah-sah saja. Namun, tidak menutup kemungkinan Anda malah akan menerima Salam Konor yang lebih masif dari publik. Mau “dikonori”? Eh, diberi Salam Konor maksudnya. [T]

Tags: baliNusa Penida
Share156TweetSendShareSend
Previous Post

Gaguritan

Next Post

Debat Mabasa Bali: Keras, Tangkas, Kadang Lucu, Tapi Ini Bukan ILC

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
Debat Mabasa Bali: Keras, Tangkas, Kadang Lucu, Tapi Ini Bukan ILC

Debat Mabasa Bali: Keras, Tangkas, Kadang Lucu, Tapi Ini Bukan ILC

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co