13 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Salam Konor dari Nusa Penida, Sebuah Alarm Autokritik

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
February 25, 2020
in Opini
Salam Konor dari Nusa Penida, Sebuah Alarm Autokritik

Konor (kiri) Dieksplor dalam Video (Youtube). Sumber foto:pokelagu.com

“Bangka Eda!” Itulah kalimat identik yang diucapkan oleh Konor setiap melihat orang-orang yang lewat. Kalimat ini bermakna kurang lebih “Mampus Kau!” Semacam kalimat makian dan sangat kasar. Namun, tidak demikian halnya dengan Konor. Pemuda lapuk ini justru tidak pernah merasa berdosa melontarkan kalimat tersebut dalam situasi apapun. Entah dengan orang desa/ kota, orang yang dikenal maupun tak dikenal, orang miskin/ kaya, pejabat atau orang biasa–entah di pasar, pelabuhan, jalan raya, tempat tajen, dan lain sebagainya. Pokoknya ia akan selalu menyapa dengan kalimat makian tersebut, plus gesture dan muka yang ekspresif.

Anehnya, tidak ada satu pun orang tersinggung ketika dimaki seperti itu. Ya, maklumlah. Masyarakat NP mengenalnya sebagai orang yang kurang waras. Namun, tidak ada yang persis tahu profil Konor sesungguhnya. Hingga sekarang, lelaki ini masih saja misterius. Misterius daerah asalnya, keluarganya, tempat tinggalnya, dan lain sebagainya.

Akan tetapi, jangan tanya eksistensinya. Ia bisa saja muncul kapan dan di mana saja. Tiba-tiba ia muncul di pasar. Sebentar kemudian, nongol di pelabuhan, di banjar dan acara seremonial adat/ keagamaan di suatu tempat. Bahkan, sering pula terperangkap di emper-emper toko yang sunyi (tutup).

Hingga kini, tidak banyak yang berubah dari sosok Konor. Secara fisik, ia identik dengan tubuh tinggi tegap, kulit hitam, berkumis, dengan pakaian lusuh, kucel dan dekil. Kondisi yang lumrah, sama seperti orang kurang waras pada umumnya. Namun yang membedakan Konor ialah sapaan yang latah yaitu “Bangka Eda!” Ujaran ini menjadi ikonis yang begitu populer di kalangan masyarakat NP.

Saking identiknya, masyarakat NP menyebut ujaran latah “Bangka Eda!” itu sebagai pemilik sah dari Konor. Kalangan milenial NP mengkategorikannya sebagai semacam salam. Salam khas dari Konor. Lucunya, belakangan salam ini justru merasuki berbagai kalangan di NP, seperti anak-anak, remaja dan orang tua. Mereka yang normal malah latah (ikut-ikutan) menggunakan Salam Konor untuk berbagai kepentingan. Kok, bisa?

Salam Konor, Sebuah Autokritik

Sesungguhnya, ujaran “Bangka Eda!” sudah biasa digunakan oleh masyarakat NP. Namun, konteksnya dalam percakapan yang akrab. Artinya, kedua belah pihak (penutur-pendengar) sudah saling mengenal.

Hakikinya, ujaran tersebut digunakan untuk tujuan mengkritik. Misalnya, mengkritik lawan bicara yang isi tuturnya kurang baik, seperti mengandung unsur kebohongan (hoaks), arogansi, dan terjerumus tindakan negatif. Jadi, kalau penutur (pembicara) mengumbar kebohongan, arogansi, dan tindakan (termasuk pikiran, perkataan) yang menyimpang dari norma—maka lawan bicara pasti meresponnya dengan ujaran “Bangka Eda!” Ujaran ini kurang lebih seperti “catatan koreksi” atas isi pembicaraan yang kurang baik. Targetnya, si pembicara tidak mengulangi lagi. Atau untuk selanjutnya, si pembicara diharapkan lebih baik dalam berpikir, berbicara, dan berbuat.

Di samping itu, ujaran “Bangka Eda!” juga digunakan untuk kepentingan memotivasi teman bicara. Misalnya, ketika teman tidak cakap melakukan sesuatu, hasil karyanya kurang bagus, dan ekonominya kurang bagus—maka ujaran “Bangka Eda!” akan memecah percakapan. Namun ingat, konteksnya dengan teman yang sudah akrab. Realisasi ujaran itu memang seolah-olah mengejek/ membully, tapi suasananya bercanda dan santai.

Ujaran “Bangka Eda!” juga digunakan untuk mengutuk orang lain yang berpikir, berkata dan berbuat melanggar etika dan norma yang berlaku. Misalnya, ada sopir ugalan-ugalan di jalan dan mengancam keselamatan pengendara lain, maka sopir itu akan mendapat makian “Bangka Eda!” Maknanya kurang lebih “Semoga kamu mengalami celaka”. Jika sang sopir mulat sarira, makian itu sebetulnya “alarm kesadaran” agar tidak lagi melakukan hal yang sama (ugal-ugalan).

Ketika Salam Konor populer dan viral di dunia maya, penggunaan “Bangka Eda!” kian berkurang. Masyarakat lebih memilih kalimat “Baang Ia Salam Konor!” Maknanya kurang lebih “Kasi dia Salam Konor!” Maksudnya sama dengan “Bangka Eda!”

Bahkan, semenjak Salam Konor booming, pemanfaatannya kian bertambah luas. Sasarannya tidak lagi pada personal saja, tetapi mengarah ke organisasi (lembaga/ instansi) dan pemerintahan. Ketika aparatur desa pakraman, desa dinas, camat, dan pemda Klungkung dianggap kurang (maaf) becus kinerjanya—masyarakat cukup berkomentar “Kasi Dia/ Mereka Salam Konor!” Komentar yang sangat simpel, bukan? Namun, penuh makna.

Karena itulah, ketika listrik sering mengalami kematian di NP, masyarakat latah berkomentar “Kasi Ia (baca: Mereka) Salam Konor!” Kata ganti ia atau mereka sifatnya fleksibel (menyesesuaikan). Kalau soal kasus listrik, maka ia atau mereka mengacu pada instansi PLN Klungkung. Begitu juga, ketika air PAM mengalami kematian serius, masyarakat NP ramai-ramai kerasukan Salam Konor, baik di dunia nyata dan terlebih lagi di dunia maya.

Tidak hanya hujan Salam Konor, medsos juga diramaikan dengan gambar/ foto-foto Konor, tanpa kata atau kalimat. Para netizen cukup menampilkan fotonya saja dan dianggap mewakili esensi Salam Konor. Saking populernya, beberapa masyarakat NP merekam Konor lewat video lalu diunggah di dunia maya. Tujuannya, sebagai lelucon, olok-olokan, dan hiburan semata. Bahkan, beberapa youtuber asal NP pernah mengeksploitasinya dalam video (berbagai versi) yang bertajuk “Salam Konor”.

Fenomena Konor memang cukup unik. Bagaimana tidak? Jarang terjadi, ada ujaran orang tidak waras dikutip dan malah dijadikan ikon sebagai kritik (oleh orang waras). Saya tidak tahu, ini fenomena apa namanya? Apakah ini bisa disebut sebagai Konor Effect? Entahlah. Mungkin akan menjadi lucu rasanya jika orang kurang waras dianggap memiliki pengaruh cukup besar. Apa kata dunia?

Konor mungkin sebuah perkecualian. Ia mampu membuktikan dirinya sebagai tren berujar bagi banyak orang di NP. Lalu, apa istimewanya Salam Konor itu sehingga mampu mempengaruhi orang banyak?

Pertama, Salam Konor merupakan bentuk penghalusan maksud/ pesan. Bayangkan kalau kita mengkritik (menghujat) seorang atau organisasi dengan ujaran “Bangka Eda!” Kedengarannya sangat kasar dan pedas. Apalagi kepada orang (organisasi) yang tidak akrab dengan kita. Sebaliknya, cukup katakan dengan “Kasi Ia (Mereka) Salam Konor!” Ini mungkin kedengaran lebih sopan dan tidak vulgar.

Kedua, Salam Konor merupakan kritik yang simpel. Salam ini pendek dan dapat digunakan oleh berbagai kalangan tanpa pandang bulu. Entah anak kecil, remaja, dan dewasa dari berbagai latar belakang.

Ketiga, Salam Konor memiliki maksud/ pesan yang fleksibel. Salam ini dapat digunakan dalam berbagai bidang atau ranah. Ia dapat dimasukkan dalam berbagai konteks kasus dan mampu mewakili pelaku kritik, maksud kritik, serta sasaran yang dikritik. Panjang pendeknya kritik yang ingin disampaikan oleh individu, semua dapat diakomodir dengan ujaran singkat “Kasi Dia/ Mereka Salam Konor!”

Keempat, Salam Konor bermakna ambigu (ganda). Penggunaan Salam Konor berpeluang besar menimbulkan ambiguitas maksud. Jika ada pejabat (misalnya) marah atau tersinggung terkena Salam Konor, maka pengguna Salam Konor cukup berdalih “Ah, toh itu salam dari orang yang kurang waras”. Buat apa tersingung dengan kutipan ujaran orang kurang waras? Ya, nggak?

Namun, jika ada orang atau organisasi menanggapi Salam Konor itu sebagai sebuah kritik atas kelemahan, kekeliruan, dan kesalahan yang dilakukan—tentu orang atau organisasi tersebut akan menjadikannya cermin untuk berbuat lebih baik (optimal) ke depannya. Efek inilah yang sebetulnya disasar dari pengguna Salam Konor.

Lalu, bagaimana dengan orang (organisasi) yang masa bodoh dengan Salam Konor? Tidak masalah. Ini sah-sah saja. Namun, tidak menutup kemungkinan Anda malah akan menerima Salam Konor yang lebih masif dari publik. Mau “dikonori”? Eh, diberi Salam Konor maksudnya. [T]

Tags: baliNusa Penida
Share156TweetSendShareSend
Previous Post

Gaguritan

Next Post

Debat Mabasa Bali: Keras, Tangkas, Kadang Lucu, Tapi Ini Bukan ILC

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails
Next Post
Debat Mabasa Bali: Keras, Tangkas, Kadang Lucu, Tapi Ini Bukan ILC

Debat Mabasa Bali: Keras, Tangkas, Kadang Lucu, Tapi Ini Bukan ILC

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co