25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Politik Patronase, Kegagalan Mencipta Pemilih Mandiri – Catatan Jelang Pilkada

I Made Indah Gunawan Saputra by I Made Indah Gunawan Saputra
February 7, 2018
in Opini
Politik Patronase, Kegagalan Mencipta Pemilih Mandiri – Catatan Jelang Pilkada

TAHUN 2018 bangsa Indonesia memiliki gawe yang besar: Pilkada serentak. Total ada 171 daerah melaksanakan pemilihan pemimpin daerah, sebanyak 17 pemilihan gubernur, 39 pemilihan walikota, dan 115 pemilihan bupati.

Di Bali ada pilkada gubernur dan 2 pilkada kabupaten, yakni di Kabupaten Gianyar dan Klungkung. Tahapannya telah berjalan, yakni pendaftaran pasangan calon, verifikasi paslon, dan 12  Februari dilanjutkan dengan penetapan paslon dan undian nomer urut. Sungguh tahapan-tahapan yang mendebarkan dan penuh euforia bagi pasangan calon maupun pendukungnya. Tahapan selanjutnya tak kalah mendebarkan dan seru, yakni kampanye dan pencomblosan.

Demokrasi sebagai sarana memilih pemimpin, adalah suatu metode yang dianggap ideal karena melibatkan partisipasi masyarakat, yang dalam pelaksanaanya didasarkan pada prinsip egaliter atau persamaan, kebebasan memilih dan berpendapat, penghormatan kepada hak asasi manusia, dan menjunjung tinggi supremasi hukum.

Inilah cita-cita yang dianggap ideal membentuk suatu masyarakat yang bermartabat, tempat segala gagasan dan pemikiran disandingkan dan didebatkan,untuk suatu kemaslahatan orang banyak. Demokrasilah yang menjadi pembeda masyarakat manusia dengan masyarakat binatang atau masyarakat barbar.

Namun sayang dalam pelaksanaanya masih banyak yang belum menyadari hal itu, dan menganggap pemilu atau pilkada hanya sebagai alat merebut kekuasaan, lalu kemudian dengan kekuasaan itu ia bisa berbuat sesuka hati. Politik patronase dan klientalisme  adalah salah satu dari sekian paradok  dalam demokrasi seperti itu.

Patronase, menurut James Scott ( 1977, ahli politik dan antropolog), adalah suatu jalinan hubungan antara dua belah pihak yang tidak setara, terutama dalam penguasaan sumber daya alam dan ekonomi. Ada pihak sebagai patron yang dominan dan pihak lain sebagai klien sebagai subordinat yang memberi pengabdian, loyalitas, ketaatan dan dukungan kepada pihak sang patron.

Politik patronase umunya berkembang dalam masyarakat adat, atau masyarakat yang pendidikan politiknya rendah. Patronase berasal dari kata patron yang berarti yang memiliki kuasa dan wewenang, dan klien sebagai pengikut atau pelanggan sebagai objek dari patron di atas. Dalam hubungan antara patron dan klien, ada hubungan yang saling menguntungkan. Patron memerlukan dukungan agar dapat berkuasa dan di pihak lain sang klien diprioritaskan untuk mendapatkan pekerjaan, proyek, atau dana hibah dan bantuan.

Hubungan patron klien, sang klien tak melulu orang yang lemah, namun bisa juga seorang pengusaha kaya, yang mengharapakan bisnisnya berjalan mulus, melalui keluarnya ijin tertentu atau fasilitas usaha tertentu. Atau klien bisa juga seorang birokrat yang mampu menggerakkan kekuatan birokrasi untuk diarahkan pada seorang calon pemimpin tertentu, dengan imbalan jabatan yang strategis.

Dalam hubungan itu tidak ada transparansi. Semua dilakukan di bawah tangan dan sembunyi-sembunyi, serta hanya menguntungakan perseorangan atau kelompok. Dalam hubungan itu, potensial muncul politik dinasti yang berakar pada hubungan kedekatan, serta munculnya penyelewengan uang negara dan anggaran belanja daerah, yang berujung lahirnya perilaku korupsi, kolusi dan nepotisme, suatu hal yang sebenarnya diperangi ketika munculnya gagasan  awal melaksanakan pemilu langsung  pada masa reformasi.

Civil Society Sebagai Tempat Bersemainya Demokrasi

Demokrasi dan civil society memiliki keterkaitan yang kuat bagaikan dua sisi uang koin, saling menopang. Tanpa kekuatan civil society jangan harapkan adanya demokrasi, begitu juga sebaliknya. Civiel society diartikan sebagai masyarakat yang bertolak belakang atau kontraposisi dengan otoriterisme, sistem meliterisme, dan sentralistik. Pendek kata, civil society adalah ciri masyarakat yang beradab.

Ada tiga hal utama yang digunakan untuk merumuskan konsep civil society yang beradab itu, yakni demokrasi, masyarakat sipil yang mandiri, dan kesopanan. Kualitas etika dan kesopanan yang dimiliki oleh masyarakat, terwujud dalam bentuk toleransi, keterbukaan, dan kebebasan bertanggung jawab. Semakin terbuka dan mau menerima pandangan, pendapat, dan perbedaan, maka semakin tinggi kualitas civilitasnya.

Jadi demokrasi tidak hanya tercermin dari kesuksesan melakukan prosudural tahapan pemilu, meningkatnya jumlah partisipasi masyarakat, dan terjaganya keamanan, namun lebih jauh mampu menjalankan demokrasi substansial, yakni persemaian dalam “rumah“ civil society (Nurcholish Madjid, 1999).

Cara menyemai demokrasi antara lain dengan membangun institusi seperti LSM, organisasi sosial, organisasi agama, kelompok kepentingan, partai oposisi, termasuk komnas HAM dan ombudsman.

Melalui civil society yang bermartabat seperti itu, dan dengan pendidikan politik yang baik, akan muncul pemilih-pemilih yang mandiri, cerdas, dan rasional. Pilihan-pilihan politik dilakukan dengan sadar, dan pertimbangan-pertimbangan yang baik, tanpa terjebak pada sikap patronase, dan menjadi pengikut buta.

Sebenarnya di masa pemilihan seperti inilah, organisasi masyarakat, khususnya yang ada di Bali, mengoptimalkan perjuangan politiknya, dan melakukan bargainning, yang mana tujuannya agar mampu ikut menentukan jalannya pemerintahan dan mempengaruhi kebijakan publik. Perjuangan politik itu bisa terwujud dalam sebuah kontrak politik, yang menguraikan kesepakatan-kesepakatan yang dituju.

Inilah beda antara perjuangan politik dan politik patronase. Tanpa adanya civil society yang kuat, yang diwujudkandalam perjuangan dan kegigihan, niscaya isu-isu fundamental masyarakat akan tenggelam dalam hiruk pikuk slogan bahasa politik, dan janji-janji semata, atau terkubur dalam uang hasil money politik yang sementara.

Ada pelajaran yang penting mengenai  hal ini pada Pilkata DKI yang keras beberapa waktu lalu. Terlepas dari isu SARA dan intoleransi yang marak, ada sebuah inspirasi kegigihan perjuangan politik. Adalah seorang Rasdullah yang berasal dari masyarakat akar rumput Jakarta, yang konsisten dan gigih memperjuangkan eksistensi kaumnya. Rasdullah adalah penarik becak yang tergabung dalam organisasi SEBAJA, Serikat Becak Jakarta.

Pada tahun 2002, Rasdullah mengikrarkan diri maju sebagai calon Gubernur Jakarta. Tindakannya ini sebagai bentuk “tamparan” kepada partai politik, politisi, dan masyarakat Jakarta yang dianggap tak mampu menghadirkan calon pemimpin yang berkualitas, dan tak  mampu mengakomodir kepentingan kelompok akar rumput, khususnya penarik becak.

Menjelang Pilpres 2009 Rasdullah bersama Jaringan Rakyat Miskin Kota mendatangi Jusuf Kalla, dan mengajukan sebuah konsep kontrak politik. Namun konsep politik itu ditolak mentah-mentah, karena berisi legalisasi becak

Seperti tak kehabisan energi, pada tahun 2012, menjelang Pilkada DKI putaran kedua, Sebaja, bersama Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK), Komunitas Juang Perempuan (KJP), dan Urban Poor Consortium (UPC), mendatangi pasangan calon gubernur DKI, Jokowi-Ahok, untuk sebuah kontrak politik. Namun naas pada tahun 2016, ia dan teman-temanya kena garuk satpol PP DKI yang mengadakan operasi becak. Ia berkirim surat terbuka kepada presiden Joko Widodo. Surat terbukanya itu ia tulis tangan, namun beredar luas di medsos, dan mendapat simpati banyak warga net.

Di awal tahun 2018 senyum sumringah Rasdullah kembali meramaikan DKI, becak kembali boleh beroperasi secara terbatas di Jakarta melalui pengaturan konsep rencana tindak komunitas yang dikeluarkan Gunernur DKI yang baru.

Demikianlah konsistensi perjuangan seorang penarik becak sanggup memberi inspirasi, dan teladan dalam berdemokrasi. Sebuah contoh perjuangan kolektif, yang dilakukan oleh kelompok akar rumput dalam mempertahankan eksistensinya.

Sewajarnaya sebagai masyarakat yang beradab, masyarakat Bali, diharapkan mampu melakukan perjuangan-perjuangan politik yang lebih elegan, dan bermartabat. Dengan mengedepankan kecerdasan dan rasionalitas, melihat gagasan dan ide, dan tidak terjebak pada bentuk patronase atau karena rasa takut.

Kinilah saatnya civil society yang ada di Bali, baik kelompok petani, seniman, budayawan, maupun pekerja ekonomi mikro, dan buruh pariwisata, bersatu dan memperjuangkanya aspirasinya kepada calon yang dipercaya. Karena dalam demokrasi, berlaku hukum, siapa yang bekerja ia yang menuai hasil, siapa yang berjuang ia akan mendapatkan buah perjuangannya.

Tanpa hadirnya kesadaran akan perjuangan, demokrasi hanyalah suatu prosudural 5 tahunan, tanpa memberi perubahan berarti. Tanpa hadirnya pemilih yang mandiri dan cerdas, dipastikan pendidikan politik telah gagal, dan politik patronase-klientalisme kembali berkuasa.

Selamat berdemokrasi! (T)

Tags: PilkadaPilkada BaliPolitik
Share31TweetSendShareSend
Previous Post

Bintang Itu Kekasihku

Next Post

Tak Habis Pikir, Kenapa Teman Saya ini Sibuk-sibuk Raih Doktor?

I Made Indah Gunawan Saputra

I Made Indah Gunawan Saputra

Penulis adalah seorang wirausahawan asal Jembrana, Bali, tinggal di Kuta Selatan, Badung, Bali. Alumnus Program Studi Sosiologi, Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (FHISIP) Universitas Terbuka

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Tak Habis Pikir, Kenapa Teman Saya ini Sibuk-sibuk Raih Doktor?

Tak Habis Pikir, Kenapa Teman Saya ini Sibuk-sibuk Raih Doktor?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co